Gue Abis Nonton Waiting For The Barbarians


Weekend kemaren agak aneh buat gue karena banyak sekali hal-hal mengejutkan yang terjadi. Bukan dalam hidup, tapi dalam cerita-cerita tayangan yang gue tonton. Beberapa series yang gue tonton berakhir dengan kadar bawang yang sangat tinggi. Pedes banget ini mata gue!!! Tapi di satu sisi ada juga tontonan yang sebenarnya agak di luar genre yang biasa gue tonton, tapi cukup memberikan sedikit warna dalam daftar panjang film-film yang sudah gue saksikan sebelumnya. Gue selalu bilang ini deh beberapa kali kalau 2020 ini adalah tahun yang aneh. Pandemi okelah kita semua mengalami. Tapi secara personal, 2020 ini gue mulai dengerin dan suka genre lagu yang nggak pernah gue coba sebelumnya kayak hip-hop ala Jessi, gue mulai dengerin lagu Thailand lagi, dan sekarang gue juga nonton sebuah film serius tapi ternyata wow bisa juga gue nikmati.

Weekend kemaren gue nonton film judulnya Waiting For The Barbarians (WFTB).

Film ini diperankan oleh beberapa aktor yang sudah gue kenal sebelumnya dari Harry Potter dan Fantastic Beasts (dan juga tentu saja dari film-film mereka yang lain). Dua pemeran utama dari Wizarding World (yang bikin gue tertarik buat nonton) adalah Robert Pattinson dan Johnny Depp. Walaupun tentu saja Robert Pattinson nggak akan terlihat seperti Cedric Diggory di sini, tapi Johnny Depp punya vibe yang kurang lebih sama kayak Grindelwald. Selain mereka berdua, ada juga Harry Melling (pemeran Dudley Dursley). Tapi “jagoan” di film ini diperankan oleh Mark Rylance.


Waiting For The Barbarians diangkat dari Novel berjudul Waiting for the Barbarians yang ditulis oleh penulis Afrika Selatan J. M. Coetzee. Novel ini dirilis tahun 1980. Filmnya sendiri berlatar di masa lalu, di sebuah perwakilan sebuah kekaisaran di perbatasan yang lokasinya di sebuah tempat di tengah gurun.

Mark Rylance memerankan seorang hakim atau Magistrate di sini. Seseorang yang dipandang dan selalu dimintai saran soal permasalahan-permasalahan masyarakat sekitar di kawasan perbatasan. Selalu pakai hati dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapkan kepadanya karena dia adalah seorang pecinta damai. Di suatu hari datanglah Colonel Joll (Johnny Depp), seorang kolonel polisi yang datang mencari tahu dan minta arahan soal kondisi di perbatasan. Colonel Joll orangnya sangat pesimis. Dia mikir kayak nggak mungkin nggak sih di perbatasan kayak gini nggak ada masalah dan adem-adem aja?

Dari situlah semuanya berawal. Kayak tadinya wilayah yang tenang-tenang aja ini jadi ribet aja nih urusan karena ada orang kayak Colonel Joll yang curiga sama semua orang. Pemantik awalnya sih ketika ada dua orang tawanan yang katanya mencuri domba. Meski mereka berusaha meyakinkan kalau mereka bukan pencuri dan hanya datang untuk mencari obat, tapi si Colonel Joll nggak percaya. Saking nggak percayanya, dua orang itu diinterogasi secara barbar justru sama dia sampai yang tua meninggal dan si anak mudanya yang juga kondisinya luka-luka gitu ditawan buat jadi mengarahkan mereka ke kawanan barbar yang diyakini Joll sedang memberontak di luar sana.


Beberapa waktu berlalu, seorang tawanan perang muncul dengan dua kaki yang patah (diperankan oleh Gana Bayarsaikhan). Di sini dia disebut The Girl. Dia pun akhirnya ditolong oleh Magistrate dan dari The Girl ini si Magistrate mendengarkan banyak sekali cerita soal kenapa dia bisa pincang dan kisah kematian Ayahnya. The Girl ditawarkan dua hal: tetap ada di perbatasan dan hidup di sana atau diantar kembali ke kawanannya. The Girl ini milih diantar pulang saja. Dari situlah konfliknya mulai muncul lagi dan muncul lagi. Dalam usahanya, Magistrate ini sempat juga ditahan oleh Officer Mandel (Robert Pattinson) dan dituduh berkhianat-lah karena sikapnya yang mau membantu para tawanan perang bahkan sampai dipenjara.


Sepanjang perjalanan film ini kita dikasih lihat bagaimana orang-orang “beradab” ini malah jadi “biadab” ya kesannya. Kayak sebenarnya orang-orang yang mereka sebut barbar itu nggak bener-bener membuat keonaran, mereka bukan orang jahat gitu lho. Karena mereka sebenarnya menjalani hidup mereka di kawasan yang mereka punya. Tapi mereka malah menerima perlakuan yang benar-benar brutal dari orang-orang yang menyebut mereka barbar.

Ada banyak visual yang mungkin bikin meringis di Waiting For The Barbarians. FYI, film ini sinematografernya adalah Chris Menges. Lo di saat yang sama juga akan sangat menikmati shot-shot yang ditampilkan. Bagaimana sebuah adegan ditampilkan tuh jadi bikin kita yang nonton bisa banget ngerasain gitu lho sampai yang gue meringis berkali-kali (dan nyebelinnya karakter Johnny Depp sama Robert Pattinson di sini ugggghhhhh). Suasana gurun yang muncul di sepanjang film ini juga kayak wow bagus banget tapi juga kayak bikin gue jadi merasa sedikit tertekan dan sangat haus membayangkan betapa panasnya pasti di situ (AHAHAHAHAHHAA).

Fakta bahwa gue streaming Waiting For The Barbarians ini adalah sesuatu yang wow banget sih. Bukan tipe film yang gue tonton sehari-hari tapi ternyata sesekali harus mencoba juga buat menyaksikan film seperti ini. Waiting For The Barbarians bisa lo tonton dengan streaming di Mola TV karena film ini eksklusif tayang di situ.

Simpel kok tampilan Mola TV dan entah kenapa gue suka gitu sama tampilan yang simpel ini karena bikin situsnya jadi cepat diaksesnya. Selain itu ada banyak pilihan tontonan juga di Mola TV. Waiting For The Barbarians ini adalah salah satu sajian bioskop exclusive Mola TV jadi lo cuma bisa nonton di sini gaes. Gue baru liat ada beberapa series Agatha Christie juga dan wow oke akan aku tonton setelah ini wahahaha. Buat nonton Waiting For The Barbarians dan tayangan lain di sini lo harus berlangganan bulanan dulu. Nggak mahal kok hanya Rp 12,500 aja dan bisa bayar pakai OVO atau Virtual Account BCA. Jadi sesimpel itu dan secepat itu juga prosesnya.



Share:

0 komentar