Gue Abis Nonton The Professor and The Madman



Di tengah euforia comeback NCT 2020 di suatu hari Senin gue punya satu PR yang harus diselesaikan: nonton film yang judulnya The Professor and The Madman. Film ini jadi salah satu film yang akan dibahas di Podcast Penonton Bayaran yang sedang gue jalankan sekarang bersama tim dan sebagai produser yang baik (WKWKWKWKKWKW) gue juga harus nonton dong jadi gue tahu dua host andalan gue sedang membicarakan apa. Anyway, please do support our podcast, Podcast Penonton Bayaran, yang bisa kalian dengerin di Spotify.

Kebetulan di hari Senin ini gue libur dan setelah aksi spazzing NCT 2020 dan lagu barunya PENTAGON (Daisy bagus banget guys!), gue pun akhirnya buka Mola TV di web browser, dan mulai nonton The Professor and The Madman. Salah satu film eksklusif yang tayang di Mola TV sebagai bagian dari Mola Movie Exclusive. Kalau lo follow gue di Twitter atau di Instagram atau baca blog gue sejak lama mungkin lo tahu kalau film-film berlatar masa lalu tuh bukan selera gue banget. But hey, gak ada salahnya mencoba hal baru. Kalau gue bisa menikmati beberapa period themed movie yang gue tonton di Mola TV sepanjang beberapa bulan terakhir, kenapa gue nggak bisa menikmati yang satu ini?

Dan ternyata emang yang ini, The Professor and The Madman, sangat menarik guys. Ya memang sih ini di situs-situs review gitu skornya terbilang biasa aja. Tapi gue tipe yang nggak terlalu berpatokan dengan situs review sebelum gue tonton sendiri untuk membuktikannya. Serius sih tapi setengah film ini menurut gue sangat membuat gue fokus bahkan nggak mau terdistraksi sama handphone.

Cerita berawal dari sebuah adegan seru yang menceritakan soal The Madman.


Dia adalah Dr. William Chester Minor (diperankan oleh Sean Penn). Seorang dokter militer yang mengalami trauma dan merasa dikejar-kejar oleh seseorang yang dia bilang sedang memburu dan ingin membunuhnya. Suatu malam di sebuah lorong jalanan di London, Inggris dia melihat satu orang yang dia kira adalah pelakunya. Dia menembak orang itu sampai mati tapi ternyata dia salah orang. Akhirnya Dr. William Chester Minor diadili tapi tidak dipenjara tapi dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dianggap orang gila.

Kalau gue liat sih sebenarnya mungkin dia nggak gila tapi karena traumanya sudah sangat mendalam banget gitu, kayak kita ditampilkan banyak adegan pas perang juga yang dia melihat orang kesakitan, diamputasi, darah, dan segala macam, membuat pikirannya kacau.

Suatu hari seorang petugas mengalami kecelakaan dan kakinya tertusuk pagar. Semua tentu saja panik dan nggak tahu harus gimana. Akhirnya Dr. William Chester Minor dengan segala kemampuannya mengamputasi kaki orang itu dan menyelamatkan hidupnya. Di situlah dia kemudian mulai dapat “keringanan” dan pihak rumah sakit jiwa berusaha memberikan fasilitas yang lebih baik untuk dirinya.

Di sisi lain, di Oxford, ada James Murray (diperankan oleh Mel Gibson). Seorang profesor otodidak yang belajar banyak sekali hal (YA IYALAH DIA PROFESOR) tapi dia mengaku nggak pernah menempuh pendidikan formal. Dia berhenti sekolah di usia 14 tahun untuk bekerja dan bertahan hidup. Tapi sekarang hidupnya sudah sangat berkecukupan dengan otak yang encer, dedikasi, istri yang setia, dan anak-anak yang juga menyenangkan. Suatu hari dia diwawancarai oleh Oxford University Press, yang sedang berusaha buat membuat sebuah buku alias kamus yang sekarang kita kenal sebagai Oxford English Dictionary. Saking banyaknya kata dalam Bahasa Inggris, mereka nggak sanggup mendokumentasikan semuanya menjadi satu buku yang bisa dijadikan rujukan oleh semua negara yang bicara Bahasa Inggris. Sampai akhirnya James Murray memberikan sebuah solusi yang mereka sebut dengan “solusi demokratis”.


James Murray bersumpah dia akan menyelesaikan buku ini karena udah passion banget ya kan. Dia pun akhirnya membuat sebuah sayembara dengan menyebarkan ke seluruh penjuru negeri bahwa semua orang yang tertarik dan mau berkontribusi dalam pembuatan buku kamus ini bisa jadi sukarelawan dengan menuliskan kata-kata yang mereka gunakan sehari-hari. Pokoknya semua orang bisa berkontribusi dalam pembuatan kamus ini sehingga dokumentasi kata per kata bisa lebih beragam gitu. Dan ya dimulailah itu penyusunan satu per satu kata dalam kamus dimulai dari huruf A.

Menariknya film ini menurut gue adalah bagaimana akhirnya kita jadi tahu bahwa dalam menyusun sebuah kamus pun ternyata nggak simpel. Selama ini gue sebagai orang yang selalu menggunakan aplikasi Google Translate buat menerjemahkan kata-kata atau mencari arti dari sebuah kata nggak pernah menyangka bahwa di awal proses dokumentasi kata-kata itu beserta definisi dan juga sejarah katanya, ada proses panjang yang sangat dramatis.

Di paruh pertama film kita bisa melihat bagaimana James Murray dah timnya Henry Bradley dan Charles Hall stuck dalam memberikan definisi kata Approve dan Art. Menjabarkan latar belakang sejarah dan penggunaan dua kata ini dari abad ke abad ternyata butuh waktu lama dan bener-bener bikin emosi. Sementara mungkin kita di masa ini menggunakan kata itu di berbagai kesempatan tanpa pernah memikirkan dari mana asal-usulnya atau akar katanya dan semacem itu. Gue jadi makin merasa ada banyak hal yang kita taken for granted di dunia ini termasuk ya bahasa. Jadi lewat adegan-adegan di film ini gue juga belajar.

Nah, ketika mereka sedang stuck di kata Art, di situlah Dr. William Chester Minor lalu muncul dengan cahaya terang. Dengan “kegilaannya” dia berusaha membuat dirinya sibuk dengan bekerja. Lewat sebuah buku yang dihadiahkan oleh penjaga di RSJ sebagai rasa terima kasih karena menyelamatkan nyawa salah satu dari mereka yang kejepit pagar itu, dia menemukan selebaran dari James Murray dan mulai ikut berkontribusi untuk kamus Oxford English Dictionary ini. Anyway si dokter ini orang Amerika.

Sebagai orang yang suka banget komedi romantis dan film-film fantasi (belakangan lagi doyan sama Ocean Eight dan Charlie’s Angels), film ini membuka cakrawala gue (halah) soal banyak hal. Salah satunya ya itu tadi, usaha untuk membuat sebuah buku yang akhirnya digunakan oleh semua orang di seluruh dunia dan termasuk juga gue. Sekarang mungkin kita sudah sangat bergantung dengan kamus dalam bentuk apapun tapi mungkin lebih sering online. Dan lewat film ini gue jadi sedikit banyak tahu bahwa kamus yang itu, yang selalu jadi pegangan orang-orang yang ingin belajar bahasa Inggris termasuk gue dulu pas masih sekolah, punya sejarah panjang dalam proses pembuatan dan dokumentasi kata-katanya.

Fakta bahwa film ini terinspirasi dari cerita di balik terciptanya sebuah kamus juga menarik sih. Gue jadi berharap suatu saat nanti ada film serupa tapi menceritakan soal latar belakang dan bagaimana awal terciptanya Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akan sangat menyenangkan sih menonton film itu kalau dibuat oleh sutradara berpengalaman dengan eksekusi yang oke dan diperankan oleh pemain-pemain yang berbakat yang Indonesia punya.


The Professor and The Madman nggak cuma membeberkan cerita soal perumusan kamus Oxford itu aja tapi juga secara personal kehidupan si James Murray. Bagaimana dia sebagai sosok yang nggak menempuh pendidikan formal tapi bisa jadi profesor gitu dan dia juga sosok Ayah yang sangat hangat di keluarga. Semua anak-anaknya pada akhirnya ikut berkontribusi dalam proses penciptaan kamus ini. Bisa dikatakan ada banyak orang di balik terciptanya kamus Oxford ini nggak cuma si profesor dan si orang gila. Tapi juga kurir yang mengantarkan surat-surat yang dikirimkan Dr. William Chester Minor dari RSJ ke tempat James Murray sampai tukang kayu yang membuatkan rak dokumentasi kertas-kertas yang digunakan si dokter dalam ruang RSJ-nya.

The Professor and The Madman yang disutradarai oleh Farhad Safinia ini bisa disaksikan di Mola TV dengan paket berlangganan mulai Rp 12.500 per bulan. Sekarang Mola TV juga ada paket bundling dengan HBO GO tapi harganya lebih mahal Rp 65 ribu per bulan (tapi worth it sih menurut gue karena katalog HBO GO juga cukup banyak dan serial-serial original HBO pun bisa lo tonton di dalam paket itu. Langganan Mola TV nggak terlalu ribet terutama di proses pembayarannya karena bisa pake Virtual Account dan OVO. Oh iya kalau lo suka Game of Thrones, salah satu pemerannya yaitu Natalie Dormer juga main di The Professor and The Madman sebagai istri orang yang dibunuh The Madman di bagian awal film.



Share:

0 komentar