Final Destination 5: REVIEW!

Perjalanan mengerjakan tugas MPK 1 hari ini ternyata ada juga hikmahnya. Selain mungkin bisa dapet ngerjain 3 teori, tahu akhirnya kalau Mely memang suka sama Yoga, dan berakhir di nonton Final Destination 5. Awalnya sih diajak nonton sempat nolak karena hari ini hari Sabtu dan harga tiket nonton hari sabtu akan membengkak jauh dari hari biasanya. Tapi gue nggak bisa menolak tawaran menggiurkan untuk melihat film franchise yang sudah jadi favorit gue sejak SMA ini. Walaupun telat tahu ada film yang judulnya Final Destination, tapi pas SMA gue menonton seri ini dari awal dan langsung jatuh cinta. Nggak cuma sama ide ceritanya, tapi juga misteri yang sampai sekarang nggak terpecahkan sama sekali. Bukan berarti gue nonton film ini trus gue jadi sangat bahagia sekali melihat kematian seseorang loh ya, soalnya kata kakak gue gue udah mulai jadi maniak dikarenakan menganggap bahwa setiap adegan kematian di film-film ini adalah kematian yang sangat keren.

Theatrical Poster of FINAL DESTINATION 5


Sempat kepikiran bakalan kecewa nonton Final Destination 5 ini. Kenapa? Soalnya keinget pas The Final Destination (seri ke 4 dari franchise ini) gue nggak begitu semangat buat nonton. Entah apakah ini karena komentar temen gue yang bilang kalau film The Final Destination agak nyampah dengan menjual satu adegan sex yang sebenarnya nggak penting-penting banget. Tapi emang gue nggak nonton yang keempat ini dan hanya menonton sekilas, melihat bagaimana mereka mati dan apa yang menyebabkan mereka akhirnya mati.


Kalau soal cerita, pastinya seperti film-film sebelumnya, inti ceritanya sama aja. Bahwa ada seorang pemeran utama yang sedang berada di sebuah tempat yang rame dan penuh dengan orang kemudian mendapatkan semacam premonition (pengelihatan/vision/firasat) tentang apa yang akan terjadi beberapa saat setelah dia terbangun dari penglihatannya itu

Di film Final Destination 5 ini, tokoh cowoknya bernama Sam Lawton yang diperankan oleh Nicholas D'Agosto. Waktu pertama kali ini cowok muncul dan beberapa menit setelah film mulai, gue ngerasa ini cowok emang mirip sama Devon Sawa. Sebutlah bentuk wajah, ekspresi dan sedikit cara bicara. Kecuali mungkin bentuk badan yang beda karena Sawa agak kecil dan si Nicholas ini lumayan besar badannya. Tapi entah kenapa gitu ternyata kemiripan muka pemeran ini adalah ternyata sebuah clue juga.

Kalau di film pertama beberapa orang yang selamat dari kecelakaan pesawat di penerbangan 180 menuju Paris di tanggal 13 Mei 2000, trus di film kedua beberapa orang selamat dari kecelakaan beruntun di jalan tol kilometer 180 di satu tahun setelah kecelakaan pertama, trus di film ketiga (yang sampai sekarang tetep jadi favorit gue) kecelakaan terjadi di sebuah taman hiburan dimana Roller Coaster mengalami kerusakaan dan menewaskan banyak orang dan beberapa dari mereka selamat, selanjutnya di film ke empat kecelakaan terjadi di arena Nascar dan beberapa orang berhasil juga selamat dengan alasan apapun itu. Kalau di film kelima ini, kecelakaan terjadi di atas jembatan sebuah jembatan dimana jembatan yang sedang berada dalam proses rekonstruksi itu ambruk dan rombongan Sam yang ada di dalam bis kemudian jatuh ke sungai beserta bis nya kecuali Sam dan beberapa orang survivor

Awal cerita selalu begitu sejak film pertama dan kayaknya memang sudah ketebak banget kalau adegan mati-matian di awal film adalah sebuah adegan pembuka yang menjadi sangat penting untuk menentukan siapa yang akan mati di tengah film nanti. Karena sudah lima film, jadi adegan pertama ini menjadi tidak terlalu mengejutkan karena kita yang sudah mengikuti film ini dari awal akan berkomentar, "Ah ini pasti penglihatannya..." itu yang bikin jadi kurang greget seperti halnya saat kita menonton film pertama dari seri ini. Cuma serunya adalah efek visual ketika setiap orang mati itu yang membuat kita nggak akan sekedar teriak, tapi juga sekaligus merinding. Oke mungkin di film pertama adegan kematian di pengelihatan Alex nggak begitu digambarkan dengan jelas dan detail karena hanya mengikuti arah ledakan dan semua kebakar api di pesawat. Tapi di mulai film kedua, semua visualisasi kematian digambarkan dengan jelas. Nggak terkecuali di film ini. Kalau dari segi efek, gue memang lebih suka efek visual di film ini karena terkesan lebih sempurna dan lumayan natural. Faktor tahun produksi juga kali ya, jadi beberapa efek yang awalnya keliatan sangat sederhana di film sebelumnya kemudian disempurnakan.

Gue nggak akan bercerita bagaimana masing-masing dari pemerannya mati di pengelihatan Sam ataupun setelah teror terjadi karena itu jelas akan sangat merusak imajinasi lo yang belom nonton. Tapi yang jelas, setiap adegan kematian terutama di awal film patut diacungi jempol. Bukan karena gue maniak loh yah dan suka ngeliat orang mati, tapi emang cara sutradara membuat naskahnya menjadi hidup sangat keren sekali. Usus kemana-mana, isi perut kemana-mana dan sebagainya itu... Kalau yang nggak suka liat darah ataupun yang sedang hamil kayaknya nggak direkomendasikan deh nonton film ini. Kecuali kalau yang lagi hamil pengen anaknya jadi dokter bedah mungkin boleh.

Lalu apa yang membuat film ini berbeda dari yang lainnya? 

Ada 2 point menurut gue, yang pertama adalah ceritanya. Kalau di film-film sebelumnya kematian satu orang ke orang lain rasanya sangat cepat sekali dengan sangat sedikit drama berbeda dengan di film ini. Proses yang satu mati kemudian yang lain diselingi dengan drama yang bikin kita jadi nggak terlalu sport jantung dalam waktu yang berdekatan. Drama yang ditawarkan cukup menarik walaupun sih agak standar, tapi untuk film pembunuhan dramanya lumayan membantu menenangkan suasana sebelum akhirnya kita akan dimanjakan dengan adegan terjun bebas dari tiang senam indah ke lantai cuma karena debu dari bubuk kalsium trus tulang patah dalam kondisi mengenaskan dengan bentuk tubuh terlipat (yang bagian ini kayaknya matinya agak janggal), trus juga badan ketusuk jarum akupuntur trus kepala kejatohan patung Buddha, trus bola mata keluar dari liang mata trus pas kelindes mobil bentuknya kayak mata ayam di pencet ibu jari sama telunjuk kita, dan kepala nyangkut di hook alat berat pabrik. Wah... bener-bener banjir darah deh!

Yang kedua adalah bahwa di film Final Destination 5 ini menawarkan sebuah cara baru untuk mencurangi kematian yang nggak pernah di lakukan di film-film sebelumnya. Kalau di film pertama kematian dicurangi dengan melakukan penyelamatan atau merusak daftar kematian yang seharusnya misalnya ketika si Clear harus mati lalu Alex menyelamatkannya dan akhirnya kematian Clear di skip dan si makhluk gaib bernama kematian ini harus membunuh target berikutnya yaitu Alex. Di Film kedua kematian bergerak terbalik dengan membunuh yang terakhir mati terlebih dahulu kemudian yang pertama tapi tetap dengan aturan yang sama, yang sudah di skip akan menikmati hidup lebih lama dan kematian akan memburu nama selanjutnya yang ada di list dan juga kematian dicurangi dengan melakukan pengorbanan oleh yang berada di akhir list untuk mengancurkan urutan kematiannya. Di film ketiga masih sama seperti film pertama, kematian dicurangi dengan menyelamatkan yang harus mati sekarang dan setelah selamat akhirnya kematian men-skip nya dan berlanjut ke urutan selanjutnya. 

Yang berbeda dari Final Destination 5 adalah bahwa seseorang yang sudah mendapat giliran kematiannya bisa hidup lebih lama dengan membunuh orang lain sebagai ganti nyawa yang akan hilang. Jadi teorinya begini, ketika misalnya A harus mati kemudian lalu dia membunuh B, maka hidup si B akan menjadi milik si A dan kematian akan melewatinya dan berlanjut ke list selanjutnya. Akhirnya dari teori ini, terjadilah sebuah konflik batin dimana ketika Peter akan mati misalnya dia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa dia bukan pembunuh dan tidak mencoba untuk membunuh orang demi hidupnya. Well walaupun pada akhirnya dia mencoba untuk membunuh Molly pacar Sam yang pada awal film hanya dia yang pada akhirnya selamat di pengelihatan Sam. Adegan percobaan pembunuhan ini juga memberikan warna baru di franchise Final Destination karena sebelumnya nggak pernah ada tuh yang namanya adegan tembak-tembakan, adegan berantem pukul-pukulan dan saling mencoba membunuh satu sama lain untuk mendapatkan kehidupan.

Trus nih yang paling seru dari Final Destination 5 ini adalah endingnya. Kalo yang udah nonton dari film pertama pasti bakalan berekspresi kurang lebih sama kayak gue. Akan mengerti kenapa kemudian ada adegan bunuh-bunuhan, kenapa kemudian harus ada drama dan kenapa tiba-tiba si Coroner yang dulu bekerja di tempat penampungan mayat di film pertama dan kedua harus muncul lagi. Menurut gue ini adalah sebuah twist ending yang sangat menarik karena pada awalnya gue sama sekali nggak kepikiran kalau misalnya cerita di Final Destination 5 ini adalah awal dari segala cerita sebelum akhirnya penerbangan di tanggal 13 Mei 2000 itu terjadi dan pesawatnya kecelakaan dan kemudian Alex dan kawan-kawan selamat dari kecelakaan itu sampai akhirnya di tahun 2009 pembunuhan misterius oleh kematian itu berlanjut di sebuah arena Nascar. 

MANTAP!

Sama sekali nggak kebaca awalnya karena jembatan, trus juga setting kotanya sama sekali nggak menggambarkan kalau film ini bersetting tahun 2000. Eh pas akhir filmnya ternyata si Sam sama Molly berangkat ke Paris, trus ternyata juga, mereka berada di pesawat yang sama dengan Alex dan Clear dan kawan-kawan saat itu. Bahkan ada juga adegan Alex yang berantem sama temennya yang dikeluarin dari pesawat sebelum akhirnya pesawat itu lepas landas dan Sam juga Molly mati di dalamnya.

Wah...

Jadi semua perbedaan cerita mulai dari porsi drama yang lumayan banyak sampai cara memperebutkan kehidupannya jadi masuk akal banget karena film ini sebenarnya adalah awal dari 4 film sebelumnya. Dan seharusnya ini nih yang dikasi judul THE FINAL DESTINATION karena pas ending filmnya dikasi cuplikan empat film sebelumnya dengan efek yang bikin darahnya sampe nempel ke layar bioskop.

Sekali lagi MANTAP! Thriller yang di tawarkan James Wong di Final Destination 3 balik lagi! Film ini berjaya lagi!

Terlepas dari ide cerita brilian yang masih tetap sama dari Jeffrey Reddick beserta semua tokoh-tokohnya, Steven Quale berhasil membuat film ini jadi hidup dan tidak tertebak di akhir ceritanya. Tapi jangan lupa, apa yang kita tonton di layar bioskop juga adalah kerja keras editan dari Eric Sears yang bikin adegan kematiannya jadi bener-bener bikin gue pengen bejek-bejek sesuatu.

Dari opening aja efek yang ditampilkan untuk pengenalan pemain, sutradara, produser dan kru sudah oke banget banget banget dan tiga film pertama nggak pernah menampilkan opening selama itu dengan full efek darah, kaca pecah dan tengkorak yang semakin membuat suasana jadi tegang. Jadi nggak ada ruginya untuk menunggu film ini sampai credit tittle selesai karena music scoringnya juga mendukung banget. Tapi kayaknya ini akan jadi seri terakhir franchise ini deh, soalnya ending kali ini klimaks banget...

Pesan-pesan buat yang mau nonton,

Jangan bawa makanan pas nonton kalo gampang jijik. Jangan hamil besar dulu kalo mau nonton kalo emang nggak pengen anaknya nanti jadi kanibal atau semacemnya. Mending kehamilannya direncanakan dulu pake KB yang tepat dan tentunya setelah nonton ini baru hamil lebih oke. Jangan nonton sendiri kalo suka ngebahas film setelah menonton. Jangan nonton di pojokan kalo nggak berani liat darah. Film ini recommended banget buat yang suka bunuh-bunuhan! Hahahaha...




PS: Kalau nggak mau ketemu kematian, perlu banget The Cloak of Invisibility tuh. Jadi kan kematian bingung nyariin kitanya... #niatbanget #kalotakdirmaubilangapa

PS LAGI: Gue termasuk yang suka banget nonton film kayak gini dan suka berkhayal kalo tiba-tiba pas naik motor ada hujan linggis dari langit trus nusuk paling nggak kepala gue atau bahu gue gitu,  atau kalau lagi naik motor di jalan yang banyak truk nya ada truk lewat sambil bawa kayu besar trus kayunya jatuh kena muka gue, atau tiba-tiba pas di kelas Mas Wisnu gue tidur-tidur ayam dan mendapat penglihatan kalo semua yang ada di kelas itu akan mati karena teori dan gue kemudian teriak, "KITA HARUS DROP MATKUL INI! KALO NGGAK KITA SEMUA AKAN MATI!" dan semuanya hanya memandang gue dengan aneh dan Mas Wisnu saking keselnya sama gue akan melempar naga geni 212 ke kening gue.

Salam darah yang keluar dari otak yang robek akibat buku teori,

@ronzzykevin
http://kaoskakibau.tumblr.com

Share:

2 komentar