Jung Yonghwa: 'One Fine Day', Paling Baper 2015

*
Belakangan ini gue nggak suka sama hal-hal yang berhubungan dengan nostalgia. Belakangan ini, masa lalu bikin gue rada-rada ketakutan. Takut, kalau-kalau nanti terjebak terus nggak bisa keluar dari jebakan itu. Yang ada cuma berbaring di tempat tidur dan berurai air mata sambil mendengarkan lagu-lagu galau.

Oke lebay.

Memang, menggali kenangan-kenangan masa lalu, dengan cara yang paling sederhana seperti membuka-buka galeri atau folder foto-foto lama di laptop itu menyenangkan. Gue pribadi adalah orang yang hobi motret. Termasuk juga hobi nyimpen foto yang gue potret, walaupun itu kebanyakan adalah foto orang lain (karena kalau gue minta orang lain yang foto, pasti hasilnya nggak sebague gue fotoin mereka) (kenyataan).

Gue punya kepercayaan bahwa nggak ada foto yang gagal ataupun foto yang jelek. Sejelek apapun foto itu pasti gue simpan. Karena suatu saat nanti, entah setahun atau dua tahun ketika gue melihatnya lagi, foto itu akan tetap jelek, tapi penuh kenangan.

Pernah kan, ngeliat foto dan tiba-tiba semua berubah jadi kayak adegan film? Suasana di sekitar lo tiba-tiba berubah jadi suasana yang persis ketika foto itu diambil? Mungkin gue kebanyakan mengkhayal, tapi memang setiap kali gue melihat foto-foto lama, gue akan merasa kembali ke suasana saat itu. Bahkan aroma spagheti saos tomat dengan ikan dori yang gue makan di Bakerzin bulan Desember lalu akan tiba-tiba tercium.

Yang paling nyebelin adalah ketika tiba-tiba lo inget aroma parfum orang yang lo ambil fotonya.

Dem. Itu adalah jebakan nostalgia paling parah!

Itulah kenapa belakangan ini gue nggak suka dengan hal-hal yang berbau nostalgia. Gue termasuk orang yang gampang tenggelam--dan terjebak nostalgia, dengan tidak ada maksud untuk mempromosikan lagu Raisa sama sekali--hanya dengan melihat sebuah foto saja.

Kenangan-kenangan yang sudah lewat itu manis memang kalau diingat-ingat. Tapi kalau kelamaan nempel di kepala, jadi masalah besar juga. Kesannya gagal move on sudah akut banget. Kalau ibarat mencret, ini sudah beleberan di lantai kamar sebelum bahkan berhasil jongkok di WC.

Iya gue masih pake WC jongkok tapi gue gak pernah sampe mencret dan beleberan di lantai kosan. FYI aja.

Kalau mau dipikir-pikir sebenarnya yang salah bukan fotonya. Tapi salah pribadi gue yang kadang-kadang sangat sensitif terhadap beberapa hal. Iya, sensitivitas ini seringkali mengganggu apalagi kalau misalnya keluar di saat yang tidak tepat.

"Sensitif banget sih kayak test pack!"

"Kok lo anaknya sensitif sih, lo manusia apa layar sentuh ASUS Zenfone!?"

Ehem.

Well. Kalau mau main salah-salahan, salahkan lingkungan tempat kita dibesarkan. Kenapa akhirnya kita bisa jadi pribadi yang sensitif sedikit banyak tentu berasal dari situ. Mungkin memang gue besar bersama test pack makanya sensitif, karena kebetulan nyokap gue bidan.

Iyain aja.

Atau, enggak.

But yeah, that was the ugly truth. Gue orangnya sesensitif itu. Mau membuktikannya? Mention aja gue di Twitter dengan kata-kata hinaan terhadap EXO. Hahaha (pelajaran buat semuanya: karena kita nggak tahu the real meaning behind somebody's tweet, jadi jangan dikomentari dengan emosi jika tidak mau malu sendiri) (oh ya gue sering malu sendiri karena terlalu emosi) (buakakaka)

Terlalu sensitif belakangan ini punya istilah lain yang lagi populer, yaitu BaPer alias Bawa Perasaan.

Baper (term.);
(1) efek dari terlalu sensitif,
(2) sebuah kondisi yang bikin seseorang mengumpat ketika dia melihat/membaca (bisa tulisan pendek, buku, film) atau mendengar sesuatu, karena tiba-tiba teringat pada pengalaman pribadinya yang sebenarnya nggak nyambung-nyambung banget sama apa yang dia lihat/dengar, tapi disambung-sambungin, kemudian memegang dada sebelah kirinya dan lalu berteriak, "BANGKE! ANJIR! BANGSAT! FAK! BERAK! (silahkan masukkan nama-nama binatang kesukaan anda)"
(3) bukan singkatan dari 'Bawa Perempuan', 'Bapak Perjaka', atau 'Bapak Peresiden'. 'Bagi-bagi Permen' boleh deh karena bikin orang seneng. Apalagi permen mahal.

Istilah ini beberapa bulan yang lalu sering lewat di timeline Twitter gue. Hanya saja gue sama sekali nggak punya keberanian untuk bertanya pada orang yang nulis itu tweet. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk mudul-mudulin--kata lain untuk kepo--akun Twitter mereka dan menemukan artinya.

Karena disebut-sebut sebagai sosok yang mirip test pack, gue pun akhirnya punya resolusi di tahun 2015 ini: tidak baper lagi untuk selamanya.

Apakah ini mudah untuk dilakukan? Tidak. Sama sekali tidak.

Salah nggak sih sebenarnya jadi orang yang baper? NGGAK SAMA SEKALI. Baper itu SAMA SEKALI NGGAK SALAH tapi rentan jadi masalah.

Kita hidup di dunia yang penuh dengan kesalahpahaman. Apalagi buat orang-orang masa kini yang sering menilai orang lainnya cuma lewat satu atau dua kicuauan di Twitter. Buat orang-orang yang baper, baca twitter itu berasa debus kali ya. Gampaaang banget rasanya kayak ngegorok lengan sendiri. Dikit-dikit kesentil, dikit-dikit ngerasa disindir. Padahal sebenarnya belum tentu itu buat dia. Tapi, ya nggak salah mau emosi atau ngerasa kesentil. Namanya juga salah paham. Selama itu belom (mau) di klarifikasi jadi nggak salah.

Hidup kan sebenarnya simpel. Tapi kadang-kadang, ketika kita berniat untuk membuat hidup kita simpel, kita terhalang oleh perasaan orang lain.

Misalnya, kita nggak suka sama sesuatu nih. Kita kan bisa aja bilang dengan apa adanya kalau kita nggak suka. Ya, masalah selesai. Idealnya seperti itu. Cuma kadang-kadang karena manusia itu baper, kita seringkali mengikutsertakan perasaan orang lain dalam keputusan kita untuk berkata-kata dan berpendapat.

Sampai akhirnya, ketidaksukaan kita terhadap satu hal berubah jadi sebuah keterpaksaan untuk bilang suka, demi menjaga perasaan orang lain. Ya, kasus ini mungkin terjadi dalam beberapa kondisi. Mungkin juga tidak.

Di kondisi tertentu kadang-kadang capek kalau kita hidup terus memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Karena kadang-kadang (atau seringkali?) orang lain yang kita jaga perasaannya itu bahkan nggak pernah menjaga perasaan kita ketika mereka bertindak atau berkata-kata.

WTF!

Tapi yah, itulah manusia. Tapi semuanya sebenarnya nggak akan jadi sebuah masalah besar, kalau misalnya semua orang di dunia ini belajar untuk tidak baper.
*
*
Pagi itu gue lagi sangat bersemangat untuk masuk kantor karena kebetulan gue jaga pagi dan sudah harus di kantor sebelum jam 7. Gue merasa tidak ada yang bisa menghalangi gue hari itu. Bahkan hujan di pagi hari pun gue terobos demi berangkat ke kantor.

Gue keluar kamar dengan sumringah sambil tersenyum menatap sungai sebelah kosan gue seraya berjalan ke kantor. Sungai yang airnya tiba-tiba meninggi karena efek hujan, berwarna seperti susu coklat dan mengeluarkan aroma seperti kencing kuman.

Gue bahagia sekali pokoknya deh hari itu. Sampai ketika gue duduk di depan laptop dan nonton MV 'One Fine Day'-nya Yonghwa.
*

*
"BANGKE! ANJIR! BANGSAT! FAK! BERAK! (silahkan masukkan nama-nama binatang kesukaan anda)!!!!!!!!!!!!"

Inilah definisi baper sesungguhnya. Ketika mendengarkan lagu ini, semua kenangan-kenangan dan nostalgia itu muncul ke permukaan dan meledak-ledak.

Lo pasti pernah kan, berada di mode spazzing? Ketika lo lagi duduk santai baca timeline kemudian muncul foto OTP lo sedang selfie berdua misalnya? Apa yang terjadi? Teriak? Nendang-nendang meja? Nampar-nampar pipi sendiri? Banting gelas? Atau hanya sekedar memegang dada sebelah kiri lalu berteriak "BANGKE! ANJIR! BANGSAT! FAK! BERAK! (silahkan masukkan nama-nama binatang kesukaan anda)!!!!!!!!!!!!"?

Itu yang terjadi pada gue pagi itu. SYUKUR ALHAMDULILLAH belum ada orang di kantor. Tapi... sakitnya tuh......

Bangke. Padahal cuma dengerin lagu dan nonton video musiknya doang. KESEL BANGET.

MV dan lagu 'One Fine Day' adalah sebuah kombinasi yang sempurna banget menurut gue. Lagu ballad ditambah dengan video musik versi drama = mati kejang karena keracunan minyak jelantah.

Dari dulu gue selalu suka MV-MV yang ada dramanya. Karena dengan begitu kita bisa lebih mudah memahami isi lagunya ketika menonton MV-nya walaupun kita sama sekali sebenarnya nggak ngerti. Itulah kenapa gue kecewa banget MV 'At Gwanghwamun'-nya Kyuhyun nggak dibikin versi drama. Padahal itu lagunya HQHDUIWQ ODWQHDGDEWUHD GYIQWUI@DUJQDQWKDWQDWQ KDHh3779xim3hr38y7e3 banget!!!!!

Gue sudah tahu kalau lagu 'One Find Day' ini akan jadi lagu ballad. Gue juga sudah tahu kalau MV-nya akan dibuat versi drama. Tapi gue nggak pernah bisa menebak efek setelah mendengarkan lagu dan menonton MV-nya jadi kayak orang stres karena kebanyakan kutu di kepalanya.

VIDEO MUSIK INI SANGAT MENINGGALKAN KESAN MENDALAM!

Dimulai dengan sebuah adegan pesta yang membuat gue berpikir "Oh, ternyata ini MV-nya bakalan berakhir bahagia. Yakin."
*
*
Kemudian masuk ke adegan Yonghwa lagi bobok-bobok siang di hari mendung, dan dia pun tenggelam dalam kenangan masa lalunya. Terjebak nostalgia. Lagi-lagi dengan tidak ada maksud untuk mempromosikan lagu Raisa untuk kedua kalinya.

Ceritanya simpel. Yonghwa datang ke sebuah pesta dan dia secara tidak sengaja bertemu dengan seorang cewek kemudian minta nomor hape. Lalu pacaran. Orang pacaran ngapain sih? Jalan-jalan, pegangan tangan, ngerusakin jualan orang di toko, cium-ciuman di tempat umum, peluk-pelukan, ya yang standar kayak gitu lah. Tipikal hubungan-hubungan manis di drama Korea yang sebenarnya di dunia nyata nggak sebegitu juga kejadiannya.

Kemudian kita kembali ke adegan pesta. Yonghwa terlihat sangat happy, bergoyang ikut irama musik di pesta tapi untung dia nggak sampai goyang dumang, apalagi goyang dribble (kalau lo belum tahu goyang dribble ini kayak gimana lo harus search di YouTube Duo Serigala), terlebih di pesta yang sama ada pacarnya.

Awalnya gue pikir memang, oh iya ini MV-nya berkelanjutan. Sampai akhirnya masuk ke menit 03:10......
*
*
"BANGKE! ANJIR! BANGSAT! FAK! BERAK! (silahkan sekali lagi masukkan nama-nama binatang kesukaan anda)!!!!!!!!!!!!"

Di saat itu juga yang muncul di kepala gue adalah lagunya Bruno Mars yang 'When I Was Your Man'

"Take you to every party 'cause all you wanted to do was dance. Now my baby's dancing, but she's dance with another man,"

Gue menyerah. Dari tengah tahun 2014 sampai awal 2015 ini, MV ini adalah yang paling bagus yang pernah gue tonton. Nggak perlu punya efek yang luar biasa. Nggak perlu mengeluarkan uang berjuta-juta dolar untuk bikin efek animasi yang ribet-ribet. Apalah artinya efek yang bagus kalau nggak meninggalkan kesan?

FNC ENTERTAINMENT, DUDE I LOVE THIS MUSIC VIDEO! Tidak berbujet jutaan dolar, tapi MV yang kayak gini yang gue suka.

Pelajaran buat SM: buatlah MV yang baper. Mumpung lagi banyak orang yang mode Baper-nya lagi on dan kenop buat off-nya lagi rusak.

Endingnya, Yonghwa akhirnya move on dan punya pacar. Tapi di sebuah eskalator ketika dia lagi jalan sama pacar barunya, dia ketemu sama mantannya yang lagi jalan sama pacar barunya juga.

Dan semuanya berakhir dengan tanda tanya.

One fine day, a day I can never go back to...
That day, that day, that day, that day, that day...


***
Baper adalah sebuah kondisi yang bikin seseorang mengumpat ketika dia melihat/membaca (bisa tulisan pendek, buku, film--video musik) atau mendengar sesuatu, karena tiba-tiba teringat pada pengalaman pribadinya yang sebenarnya nggak nyambung-nyambung banget sama apa yang dia lihat/dengar, tapi disambung-sambungin, kemudian memegang dada sebelah kirinya dan lalu berteriak, "BANGKE! ANJIR! BANGSAT! FAK! BERAK! (silahkan masukkan nama-nama binatang kesukaan anda)."

Ya. Benar. Kita nggak harus punya masa lalu yang persis sama dengan apa yang ada di dalam MV atau film untuk jadi baper. Buktinya, gue nggak pernah tuh ngeliat mantan gue ada di pesta joget sama cowok lain, tapi galau juga liat video ini.

PFT.

Yah, itu sih guenya aja yang keturunan test pack.

Padahal punya mantan pacar juga nggak.

Ppyong!

****
"Even if you forget me, I endlessly let it flow.
The memories dried up of tears, memories of us in love.
Those precious days... I still can’t forget them
."

*

Share:

21 komentar