Damn This One-Sided Love



Gue… lagi bingung. Walaupun ‘bingung’ kayaknya terlalu menyederhanakan perasaan gue sekarang. Gue terlalu banyak ngomongin soal ini dan gue janji (ke siapa pun yang baca tulisan ini dan mulai merasa ‘lu apa banget deh Ron’, tapi yang paling penting ke diri gue sendiri) ini akan jadi terakhir kalinya gue bahas soal topik yang sama seperti yang gue tulis di dua postingan sebelumnya.

Setelah semua kejadian-kejadian itu (match, chat, ketemu, baper, ditolak, baper, down, baper, sakit, nangis, baper, nangis, nangis, numb) gue memutuskan untuk ngajak dia ketemu lagi. Oke, ini mungkin bisa jadi usaha gue buat ‘bunuh diri’ karena, kalau dipikir-pikir, ngapain juga gue ketemu lagi sama orang yang jelas-jelas mengganggu pikiran gue selama ini? Yang jelas-jelas nggak suka sama gue dan jelas-jelas bilang itu di depan muka gue. Tapi for the sake of YOLO dan fucking living the moment, gue chat dia dan ngajak ketemu. Dalihnya belajar. Jadi dia kerja di salah satu agensi dan jago ngurusin sosmed, jadi gue pikir gue bisa tanya-tanya a few questions karena gue lagi tertarik masuk ke ranah itu.

Tenang aja, itu cuma dalih.

While yes, I really wanted to know more about that topic, it was just an excuse for me so I can meet this person.

“Lo beneran nggak belajar dari pengalaman ya?”

Gue bilang gitu ke diri gue sendiri. Karena ya, ini bukan pertama kalinya hal serupa terjadi. Bukan pertama kalinya gue ditolak oleh orang yang gue suka dan mereka bilang ‘tapi nggak apa-apa kok kita temenan aja’ jadi kita bisa ketemuan every now and then. Tapi itu pun nggak menyelesaikan masalah karena gue yang udah keduluan baper dan susah untuk kemudian set boundaries ketika ketemu orang yang bersangkutan. Gimana caranya nggak gemeter dan jatuh cinta ketika lo ada di depan orang yang lo suka dan lo udah confess tapi lo ditolak lalu di bilang mending temenan aja tapi lo nggak bisa? Gue nggak tahu jawabannya. Tapi gue jadi jago akting sekarang.

Malam itu kita cari tempat ngopi deket sini, deket tempat tinggal gue dan deket tempat tinggal dia. Dalih gue buat belajar tersampaikan. Keinginan gue buat ngobrol sama dia pun tersampaikan. Meski di awal, beberapa jam sebelum kita ketemu, dia sempat mempertanyakan ajakan gue itu.

“Lo nggak apa-apa ketemu gue?”

Gue dengan percaya dirinya bilang ‘nggak apa-apa’. Gue nggak tahu kenapa gue bisa sepede itu padahal jelas-jelas (LAGI) gue tidak baik-baik saja.

Tapi ya, gue jadi jago akting. Malam itu terlepas dari ada banyaknya perasaan dan keinginan gue untuk masuk ke topik soal perasaan, gue berusaha untuk kabur dari situ dan dia pun berusaha untuk nggak masuk ke ranah itu karena again dia nggak punya rasa apa-apa sama gue. Yang ada di pikiran gue hanya mencari closure, dan gue tahu kalau keputusan ini akan gue sesali nantinya.

Sebenarnya closure itu adalah ketika dia nolak gue. Gue nggak tahu apa lagi closure yang gue cari. Dan setelah pertemuan malam itu, gue seperti menyesali segala keputusan yang gue buat selama beberapa bulan terakhir. Kalau gue tahu gue akan ada dalam pikiran-pikiran depresif kayak gini setelah ketemu dengan orang yang gue kenal dari internet, mending gue nggak usah ketemu sama dia; mending gue nggak install Bumble waktu itu; dan gue harusnya bisa lebih jago membentengi diri gue dari perasaan-perasaan yang menggebu-gebu ini.

Am I that lonely?

I keep asking myself that question.

Sebagian dari diri gue akan menjawab pertanyaan itu dengan ‘ya’ tapi sebagian lagi pasti akan menggeleng dengan keras dan dengan tegas menjawab ‘gak!’. Gue nggak tahu yang mana yang ngomong jujur.

But then I ask myself again. Apakah dengan bersama dia gue yakin gue nggak akan kesepian?

Sebagian dari diri gue akan teriak ‘ya tentu saja!’ sementara sebagian lain akan ngajakin berdebat dengan bilang ‘ya belum tentu’. Meski untuk yang ini gue tahu yang paling masuk akal dan logis adalah jawaban yang kedua, tapi gue tetep aja condong pada jawaban yang pertama. Damn bucin.

GWS RON.

Gue bukan lagi orang yang mencari validasi dari orang lain. Gue hanya mencoba untuk mengikuti perasaan gue dan mengikuti apa yang pada saat itu menurut gue tepat dan cocok. Tapi seringkali keputusan yang gue ambil salah dan malah membawa gue ke pusaran anxiety.

Setelah pertemuan malam itu, dia chat gue beberapa kali besokannya. Bukan tipe chat yang membutuhkan interaksi sebenarnya. Tapi tetap aja dia chat gue dan gue adalah tipe orang yang akan berpikir “kalau orang nge-chat gue, berarti dia meluangkan waktu untuk berusaha berkomunikasi dengan gue. Kalau gue nggak balas, gue akan jadi orang yang jahat banget”. Lalu gue teringat apa yang gue katakan ke diri gue sendiri di awal tahun 2024 ini: this is gonna be my villain era.

Jadi gue memutuskan untuk nggak membalas chat itu.

Sehari.

Berhasil.

Meski gue bolak-balik buka WhatsApp dan cuma melototin itu chat tanpa melakukan apapun. Sesekali gue buka, lalu gue tutup lagi. Tulisan ‘online’ di bagian atas profil dia dimatikan jadi gue nggak tahu apakah dia sedang on WhatsApp atau enggak. Tapi siapa sih yang nggak online sekarang-sekarang ini? Mustahil rasanya ada orang di generasi ini memutuskan untuk nggak punya handphone, nggak beli paket data, atau nggak punya WhatsApp. Gue tahu dia pasti online.

“TAPI LO NGGAK PERLU JUGA BALAS CHAT ITU!” gue berusaha menahan diri.

Dua hari.

Berhasil.

Gue menghabiskan waktu dengan berolahraga dan… share Reels ke Instagram Story. Gue berusaha mengalihkan perhatian gue dengan mendengarkan lagu-lagu sedih yang walaupun gue tahu itu akan nge-drag gue jauh ke dalam lembah kegalauan dan kesedihan, tapi gue menikmatinya dengan sepenuh hati. Entah apakah Reels yang gue update ke IGStory dan semua lagu-lagu yang gue unggah itu memang gue posting untuk menarik perhatian dia (sebenernya sih enggak tapi lowkey iya) atau itu emang cara gue buat coping dari perasaan ini. Dan ketika gue merasa gue sudah berhasil nggak menjalin komunikasi dengan dia selama dua hari itu, dia balas salah satu IG Story gue.

“Are you okay? I’m worried.”

Look, I might be a little depressed and have anxiety disorder. But… what’s that SUPPOSED TO MEAN?! AND WHY?! WHY??!?! DARI SEMUA ORANG YANG ADA DI DUNIA INI, KENAPA HARUS LO YANG BALAS INSTAGRAM STORY GUE?!

APAKAH SEKARANG GUE HARUS BERSYUKUR KARENA ADA YANG PEDULI SAMA GUE?! ATAU GUE HARUS PRIHATIN KARENA TERNYATA ORANG YANG PEDULI SAMA GUE ITU ADALAH ORANG YANG SAMA DENGAN ORANG YANG BIKIN GUE MENGUNGGAH LAGU-LAGU GALAU ITU?!

Jadi gue balas.

NO I'M NOT OKAY. Kenapa harus lo yang balas sih?!”

Dia balas.

“Yaudah anggap aja gue nggak balas.”

Andai saja semudah itu.

Lalu dia balas lagi.

“Apapun yang terjadi don’t do something stupid, okay?

Dalam hati gue, like what? Jump from the 6th floor and die?

I’m dead already. Thank you.

***

Gue belum lama ini selesai nonton Welcome To Samdalri dan meski gue merasa dramanya biasa aja dan dragging, tapi ada episode yang gue suka banget dengan dialog-dialog dan situasi yang kena banget sama gue. Di salah satu episode, karakter-karakternya ngomongin soal one sided love

Sangdo suka banget Samdal, tapi Samdal suka Yongpil. Yongpil tahu Sangdo suka Samdal, tapi Samdal nggak tahu Sangdo suka dia. Temen mereka, Eunwoo, tahu Sangdo suka Samdal. Eunwoo bilang ke Sangdo harusnya Sangdo ngomong aja sama Samdal. Dan di situ, jawaban Sangdo adalah sesuatu yang mengganggu pikiran gue selama berhari-hari. Nggak persis kayak gini tapi kurang lebih isinya: kalau gue bilang perasaan gue ke orang itu terus dia nggak suka sama gue, bukannya itu malah jadi beban buat dia? Malah jadinya gue yang egois.

Gue nggak tahu kenapa kalimat itu sangat mengganggu. Mungkin karena gue nggak melakukannya dan bersyukur nggak melakukannya, tapi di saat yang sama gue juga dihantui oleh perasaan-perasaan cemas bahwa seharusnya gue melakukan apa yang dikatakan Sangdo dengan jangan jadi orang egois dan pendam aja perasaannya.

Selama gue ketemu sama orang ini, gue nggak pernah menyimpan sedikit pun kesukaan gue. Nggak pernah menahan excitement gue setiap kali ketemu sama dia. Semuanya gue kasih lihat. Kelihatan dengan sangat jelas. Karena menurut gue, apa gunanya YOLO dan living the moment kalau lo nggak bisa mengatakan apa yang ingin lo katakan walaupun itu hanya akan menghancurkan diri lo dan bikin lo baper sampai berhari-hari? Berminggu-minggu? Bahkan mungkin (gue curiga ini akan berlangsung) untuk waktu yang lama?

Gue nggak merasa jahat atau egois karena mengungkapkan perasaan gue dengan jujur ke orang yang gue suka. Terlepas dari apakah pada akhirnya mereka suka sama gue atau enggak ya kan itu urusan mereka. Urusan gue adalah bagaimana menangani penolakan itu kalau ditolak, dan bagaimana gue menjaga perasaan itu kalau diterima. Dua-duanya sulit, gue pernah mengalami keduanya. Bahkan ketika gue pacaran sama orang yang udah gue kejar selama 10 tahun pun, pada akhirnya kita cuma betah officially pacaran berapa bulan. Kayak… apa banget banget (maaf). Gue udah capek 10 tahun dan kebahagiaan gue cuma bertahan beberapa bulan aja. Mungkin gue yang kurang usaha? Mungkin. Untuk yang satu itu gue belum sampai memikirkannya sejauh itu karena orang ini tiba-tiba muncul dan, yah, gue menggali kuburan di dalam kuburan yang sudah gue gali. Gali-kubur-ception.

Gue tahu gue akan butuh waktu lama untuk benar-benar sembuh dari perasaan ini dan keluar dari jebakan pikiran-pikiran ini. Tapi ya selama apa pun itu gue nggak punya pilihan selain menjalaninya. Saat ini gue cuma bisa menepuk pundak sendiri dan bilang kalau gue punya cinta yang begitu besar dan gue harusnya bersyukur karena gue masih punya hati, karena siapa pun yang nantinya akan ditakdirkan menerima cinta dan hati gue yang begitu besar itu, mereka akan jadi orang yang beruntung. Gue juga mau jadi orang yang beruntung itu. Jadi yaudah gue self-love aja.

Ya gitu.

Bener.

Kan.

Kalo kata Reels mah.

***

Share:

0 komentar