Berjuang untuk Teen! Yeah!

Kemaren (Rabu, 14 Juli 2010) akhirnya gue bisa kumpul-kumpul lagi sama anak-anak the bocokz di rumah Ayu. Hmmm... sudah lama rasanya tidak bersama lagi dengan formasi lengkap. Kalau gue nggak salah inget, udah satu tahun. Waktu Ayu pulang semester kemaren, gue nggak ketemu dia. Sekarang baru ketemu lagi. Pengen balik masa-masa SMA deh, biar bisa bareng terus. Ini foto hari ini dan selalu gue yang paling tampan :P




Back to the main topic for this post.


Bertepatan juga dengan hari di mata foto di atas diambil, gue merasakan yang namanya kegilaan yang nggak wajar. Hahahaha... Ini berhubungan sama cerpen gue yang dimuat di Majalah Teen edisi 223/th XVII/Minggu Kedua Juli 2010.


Hari Jumat tanggal 9 Juli 2010, sekitar jam lima sore, ponsel gue berdering dengan ringtone Super Junior Bonamana :p Sore itu gue lagi becandain ponakan gue yang baru 3 bulan. Pas gue lihat ponsel gue, gue kaget soalnya itu nomor baru dan diawali dengan angka 021. Nomor telepon Jakarta. Gue langsung mikir, mungkin salah seorang temen gue yang nanya kabar atau sekedar minta kejelasan tentang sesuatu. Tetapi ternyata gue salah...


"Halo...?" kata gue ragu-ragu menjawab telepon itu. Soalnya memang biasanya kalau gue nerima telepon dari nomor baru gue selalu begitu.


"Halo selamat siang. Benar ini nomor telepon Ronzzy Kevin?" tanya orang itu. Laki-laki.


"Iya, mas. Bener. Ada apa ya?"


"Selamat sore mas, kami dari sekretariat majalah Teen."


"Oh iya, ada apa ya mas?"


"Kami mau menginformasikan bahwa cerpen mas yang judulnya Om Inulku Tersayang sudah masuk waiting list kami dan akan dimuat di edisi berikutnya."


"Oh ya? Masa sih?"


"Benar, mas. Sebelumnya saya mau tanya dulu, apakah cerpen tersebut sudah pernah di publikasikan?"


"Belum mas. Belum pernah. Saya cuma kirim satu kali dan itupun cuma ke Teen aja. Wah, tapi itu cerpen udah lama sekali saya kirimnya mas. Sudah lebih dari dua tahun yang lalu."


"Iya mas. Kalau begitu cerpen mas sudah masuk waiting list dan akan dimuat di edisi berikutnya."


"Oh, oke. Sip mas. Terima kasih infonya ya!"


"Baik, mas. Mungkin begitu saja. Terima kasih. Selamat sore."


"Sore..."


Setelah telepon gue tutup, gue langsung teriak-teriak gajebo sampe ponakan gue ilfil punya om kayak gue. Gue nari-nari dan joget-joget Bonamana dipadu dengan Gee di kamar ponakan gue itu. Kakak gue langsung heran ngeliat gue dan langsung nyaranin gue ke dokter jiwa (lebay...)


Dia tanya gue kenapa dan gue kasi tahulah dia semuanya. Apa yang orang itu bilang di telpon.


"Kalau udah masuk waiting list berarti itu udah pasti bakalan diterbitin kan?" tanya gue ke kakak gue. Semua yang tadi mas-mas Teen omongin di telepon buyar.


"Iyalah. Tinggal kamu tunggu aja."


"Gila ya. Udah dua tahun, kirain nggak bakalan ada jawaban."


"Beruntunglah kamu baru dua tahun, orang aja ngirim berkali-kali jarang bisa di muat. Bagus tuh buat jadi batu loncatan."


"Emang gue mau loncat kemana?"


Gue diem, kakak gue pingsan karena gue jayus.


Berita tentang cerpen gue yang dimuat itu nggak tersebar ke mana-mana karena gue belum yakin apakah itu akan dimuat di edisi minggu depan atau dua minggu lagi. Tetapi setelah gue menerima telepon dari nomor yang sama (yang akhirnya gue simpan di kontak ponsel gue dengan nama: Majalah Teen), gue baru yakin kalau cerpen gue yang gue tulis pas gue kelas dua SMA itu yang judulnya Om Inulku Tersayang bakalan dimuat di majalah Teen terbaru.


"Selamat pagi, dengan Ronzzy Kevin?"


"Iya mbak. Benar sekali."


"Saya dari sekretariat majalah Teen mau menginformasikan kalau cerpen mas yang judulnya Om Inulku Tersayang sudah dimuat di tabloid Teen terbaru mas."


"Beneran? Wah..."


"Iya. Saya juga sekalian mau konfirmasi nomor rekening. Mas tidak pernah melakukan perubahan kan?"

"Oh, nggak kok mbak. Masih sama."

"Kalau begitu, saya bacakan ya: 12345678910 atas nama Lala Bidadari Bank TransCorp cabang Mataram?"


"Iyap! Benar sekali mbak."


"Oke kalau begitu. Nanti honor mas akan di transfer. Terima kasih mas."


Telepon di tutup dan pagi itu gue langsung heboh lagi. Joget-joget Bonamana lagi digabung sama Gee. Semua pada nyaranin gue ke dokter jiwa lagi tapi gue cuekin aja karena gue emang udah gila sejak lahir.


Setelah pulang sholat Jumat akhirnya gue memutuskan untuk mempromosikan majalah Teen terbaru itu lewat Facebook (Facebook gue Ronzzy Kevin) dan Twitter (Twitter gue @ronzzykevin). Selain itu, gue juga mengirim sms ke semua kontak yang ada di ponsel gue. Narsis narsis deh, gue nggak peduli. Tapi semua merespon dengan baik dan memberikan selamat ke gue (makasi buat Rika, Dian, Dila, Nadya, Deja, Hardika, Aank, Mas Andre, Mas Mus, Om Maman, Mocil, Astry, Tomy, Donna, dan semua yang bales sms gue waktu itu. Saranghae~)


Masalah mulai muncul ketika Dila sms gue dan bilang kalau dia sudah beli majalahnya.


"Serius dil? Kok di mataram belum ada sih?"


"Iya aku udah dapet kok, Om. Om Inulku Tersayang kan?"


"Nama aku ditulis apa?"


"Ronzzy Kevin."


"Bener? Aduh... aku belum dapet nih. Ntar aku cari deh."


Dan akhirnya mulai hari Sabtu itu gue nyari majalah Teen ke semua pedagang majalah yang ada di Mataram. Tapi hasilnya kosong. Gue coba nyari hari Minggu, siapa tahu udah ada, tapi ternyata nggak ada juga. Senin gue berusaha buat nyari sampe mesen mama buat beliin sepulang kantor, tapi nggak ada juga. Selana juga begitu, gue mencoba buat mencari tapi nggak ada juga. Sampai akhirnya gue buka fanpage nya majalah Teen di Facebook dan ngeliar statusnya kalau majalah itu udah terbit dari hari Jumat waktu gue ditelepon sama mbak-mbak dari sekretariat itu. Dari fanpage itulah gue tahu kalau cover majalahnya adalah Edward Cullen dan Jacob Black:


 Cover ini gue dapetin dari Facebooknya Teen (itsfunto Beteen)

Gue semakin penasaran sama isinya karena kebetulan gue juga lagi nunggu-nunggu Eclipse. Tapi berhubung di Mataram belum terbit, gue kasih komen lah di status Facebooknya Teen walaupun nggak di bales.

Akhirnya setelah sekian hari gue bolak balik loper koran buat nyari majalah ini, hari Rabu sebelum maghrib gue nerima sms dari Astry adik kelas gue tersayang di SMA 5.

"Kak, aku udah beli majalahnya. Tapi aku belum baca cerpennya, he..."

Gue kaget banget. Kok bisa? Perasaan tadi sore gue cari ke mana-mana nggak ada deh.

"Iyakah? Kok bisa? Kamu dapet di mana?" gue bales sms itu.

"Di MM (Mataram Mall) lah... Emang kakak belum dapet?"

Sms itu nggak gue bales, melainkan gue langsung sholat maghrib dan ijin sama bos buat pergi sebentar ke Mall beli majalah itu. Untungnya bos ngasi ijin karena beliau juga pengen dibelikan gorengan yang kebetulan deket sama Mall tempat jualnya.

Berangkatlah gue...

Dengan kecepatan lebih dari enam puluh kilometer perjam dari tempat kerja sampai Mall nggak lebih dari lima menit. Gue langsung parkir motor dan tanpa melepas helm langsung masuk ke Mall lewat pintu samping yang langsung ke jual majalahnya. Mata gue merazia semua majalah yang digantung. Nggak ada.

"Bu, Teen ada nggak?"

"Udah abis mas..."

"Hah?! Kok bisa? Yahh... padahal udah nunggu-nunggu dari kemaren! Aduh... Ya udah deh, makasi ya bu."

Akhirnya gue secepat kilat lari lagi ke parkiran, masukin kunci ke lubang kunci (ya iyalah masa iya ke lubang idung tukang parkir) dan berangkat menuju tempat yang memungkinkan untuk membeli majalah itu. Ruby adalah tujuan gue berikutnya. Ruby nggak jauh dari Mall, cuma butuh waktu dua menit untuk sampai Ruby dari Mall dan setelah say hai buat penjaga parkir di Ruby yang kebetulan gue kenal, gue parkir motor gue dan tanpa melepas helm *sekalilagi* gue langsung masuk dan langsung ke jual majalah. Sekali lagi mata gue merazia semua yang ada di etalase. Nggak ada.

"Mbak, majalah Teen nya?"

"Nggak ada mas. Coba cari di Mall?"

"Lah... ini saya baru dari Mall, di Mall juga udah abis. Aduh... Ya udah deh mbak. Makasi."

Kecewa. Gue keluar dari gedung swalayan itu dan sekali lagi tancap gas ke tujuan berikutnya.

Tujuan ketiga ini adalah (menurut pengakuan sepupu gue) agen majalah yang ada di Mataram. Namanya toko Jaya. Tadi sore gue ke toko ini sama Hulpi (yang pake jilbab ungu di foto atas) tapi nggak ada. Gue pikir mungkin setelah tadi gue pergi, distributornya dateng. Makanya gue balik lagi. Tapi nyatanya pas gue balik...

"Mas, majalah Teen?"

"Hah? Nggak ada mas."

"Masa sih? Tadi saya ke Mall udah ada kok, tapi abis. Makanya saya ke sini."

"Kayaknya kita nggak pernah jual majalah itu deh mas."

WHAT?!? KATANYA LO AGEN MAJALAH!!! GIMANA SIHHHH....

Dengan muka senyum-senyum jijik gue ngangguk aja tanda mengerti dan keluar sambil ngumpat. Gue sumpah nggak akan beli majalah di sana lagi!

Tanpa bayar parkir gue kabur dari sana dan cari loper koran yang ada di pinggir-pinggri jalan. Barangkali ada. Di sepanjang jalan Panca Usaha gue mencari dan berhenti di tiga loper koran. Tiga-tiganya nggak ada sama sekali. Yang ada malah Teen edisi minggu lalu. Giliran gue tanya yang edisi terbarunya mana, dia nggak tahu. Mbak-mbak yang aneh...

Tujuan berikutnya adalah Tijara. Tempat dulu gue sering beli majalah dan bisa dibilang jadi tempat favorit gue karena cukup update. Walaupun pas hari Senin gue kesana, penjaganya bilang ke gue kalau majalah Teen udah nggak terbit lagi. Dasar bodoh... Statement yang bodoh... Masa pedagang majalah nggak tahu... Dan benar aja, pas gue ke Tijara, toko itu tutup dengan lucunya... Jijik!

Gue mulai desprate. Udah setengah jam lebih gue ninggalin warung dan ninggalin kerjaan. Pasti bos bakalan marahin gue kalau begini. Tapi gue nggak mau buang-buang waktu. Gue takut gue nggak dapet majalah itu. Walaupun itu adalah cerpen gue, gue juga pengen baca yang sudah dimuat di majalah. Gue pengen liat ilustrasinya. Akhirnya gue terus jalan lagi buat mencari loper koran. Dan tujuan selanjutnya adalah daerah Gomong.

Gue ngebut sampai-sampai hampir nabrak polisi di depan lapangan umum yang lagi ada Pasar Rakyat, dan pas belok di jalan Airlangga, gue kebut-kebutan sama mobil. Pas berenti di lampu merah, gue menang dan mobilnya tiba-tiba meledak (bohong banget). Lama berhenti di lampu merah Airlangga (karena memang terkenal lampu merah terlama) akhirnya lampu ijo nyala juga. Gue belok kanan dan mencari jual majalah yang terselip di antara pedagang gorengan, martabak dan terang bulan. Dan gue menemukannya...

Gue turun tanpa matiin mesin motor dan bilang... Bismillah...

"Ada majalah Teen?" Belum selesai gue melirik semua majalah, gue menemukannya tergantung seksi di atas seutas tali rafia. "Alhamdulilah..." Gue teriak kegirangan tapi nggak pake joget Bonamana karena di situ banyak orang dan persis di depan pos polisi. Nanti bisa-bisa gue dikira orang gila dan langsung di bawa ke RSJ. Setelah majalahnya gue bayar, gue langsung capcus buat nyari gorengan dan kembali ke tempat kerja...

Di tempat kerja, semua pada pengen baca cerpen gue dan yang pertama kali baca ada ibu bos. Setelah itu beberapa orang lain yang ikut baca sampai-sampau majalah gue yang tadinya mulus, jadi sedikit kritis. Sedih... Tapi gue sempat lihat ilustrasinya... Lucu. Cerpen gue ada di halaman 36-37 dengan background Ilustrasi warna pink keunguan, background text warna biru dengan border kuning:

Gue udah lama nulis cerpen ini, waktu itu lagi hot-hotnya Pilkada Gubernur dan kandidat jagoan gue adalah Om Inul alias K.H. TGB. Zainul Majdi yang juga jadi nama tokoh Om Inul dalam cerpen gue ini. Cumaa... ilustrasi Om n akok nggak mirip Richard Kevin yah? Hahahaha... padahal gue ngebayangin mukanya Om Inul itu Richard Kevin banget. Tapi buat tokoh Viola (baca: Va-yo-la) cukuplah untuk anak SMP. Tulisannya emang kecil-kecil banget. Nyokap gue aja sampe nggak sanggup bacanya (gue kasih beliau baca setelah gue pulang kerja) dan baru baca sampai kolom ketiga, dia bilang matanya sakit. Pasti karena cerpen gue kepanjangan, jadi nggak bisa di perbesar font-nya. Hahahaha...

Ada kebanggaan tersendiri dengan adanya cerpen ini di majalah Teen. Artinya gue udah bisa menapakkan kaki gue ke dunia penulisan. Gue emang hobi nulis cerpen dan fanfict (baru mulai) dan beberapa draft novel gue udah ada yang finish tapi tahun lalu hilang di kosan gue yang lama di colong maling. Siall... 

Gue senang banget cerpen gue ini bisa dipublikasi secara resmi. Ini adalah cerpen kanak-kanak pertama yang guebuat pas SMA. Waktu itu emang lagi melayang pikirannya jadi anak SMP. Mau nyiptain tokoh cowok, malah jadi cewek. Ya nggak apa-apa deh, yang penting di Viola eksis.

Makasi banget buat semua keluarga dan temen-temen atas dukungannya selama ini. Gue juga makasi buat yang sudah beli majalahnya, Gue doain semua yang beli majalah ini masuk surga! Aminnn... Next time gue akan kirim lagi ke Teen, semoga akan dimuat lagi yah :) Sekarang gue mau bikin cerpen buat ikutan LMCR 2010. Udah dapet idenya dari keamren-kemaren, cuma belum sempat diketik karena pulang kerja malem terus. Capek... Deadlinenya bakalan September, Insya Allah awal Agustus gue udah bisa nulis lagi. Amiin...

Sekali lagi makasii, terutama buat Richard Kevin yang sudah menginspirasi gue dalam banyak hal mengenai karakter, dan juga Bapak Gubernur NTB K.H. TGB. Zainul Majdi, saya dulu nyoblos bapak loh! Semoga bapak suka cerpen saya yah :) *ngarepdibaca*

Wassalam...

Share:

3 komentar