Semester 7 [PART 5]: Bring The (fan)Boys Out!

Fanboy. Hmmm... Istilah ini jujur aja baru gue kenal ketika gue juga mengenal istilah fangirl. Kapan tepatnya? Kapan lagi kalau bukan ketika K-Pop sudah menggerayangi setiap sel otak gue. Kira-kira sekitar tahun 2009 ini baru jadi sebuah identitas buat gue tentunya karena beberapa orang yang gue kenal selalu menyebut diri mereka sebagai fangirl dari grup A ataupun fangirl dari grup B. Saat itu gue masih tergolong baru mengenal K-Pop jadi belom banyak tahu soal grup lain selain Super Junior. Jadilah, ketika orang menyebut diri mereka fangirl Super Junior karena mereka wanita, berarti gue juga bisa menyebut diri gue lawan kata dari fangirl tersebut: FANBOY.
*
*
Fanboy terdiri dari dua kata, Fan dan Boy. Fan berarti kipas angin dan Boy berarti anak laki-laki. Jadi bisa disimpulkan bahwa definisi fanboy adalah:

(1) Anak laki-laki yang menyukai kipas angin. Bisa jadi karena memang itu kipas angin bermakna sangat penting (seperti misalnya pemberian pacar, mantan pacar, orang tua, nenek atau kakek dan sebagainya), bisa jadi juga karena memang kipas angin itu adalah benda yang selalu bersamanya selama ini. Kemanapun dia pergi dia akan pergi dengan kipas anginnya. Kemanapun melangkah dia akan melangkah bersama kipas anginnya. Agak serem sih yang kedua kalo misalnya beneran ada kipas angin bisa jalan. Ambil contoh gue misalnya, di Depok ini kalau lo hidup tanpa kipas angin, bisa dipastikan lo akan merasakan apa yang disebut Kurt Hummel ketika jadi korban bully di Glee season 2: "life a living hell".  

Kalo lo hidup tanpa kipas angin maka lo akan merasakan hidup seperti hal-nya di neraka. Lo akan di bully oleh udara panas yang membunuh. Terlebih lagi kalau lo tinggal di kosan yang bahkan lo nggak bisa liat cahaya matahari dan angin hanya bisa masuk dari jendela dan pintu yang terbuka (masalahnya kalo panas kan kadang-kadang orang suka nggak kontrol kelakuan, ya lo bayangin aja kalo lagi panas trus tiba-tiba gue butuh meninggalkan segala atribut penutup aurat dan pintu serta jendela dalam kondisi terbuka). Oleh karena itu gue bisa disebut sebagai fanboy karena gue sangat menyukai kipas angin gue. Bahkan dalam tahap ini mungkin kalo gue bisa bikin ini kipas angin beranak pinak biar jadi banyak, udah gue hamilin kali saking pengennya kamar biar adem dengan banyak kipas. To be honest, kipas angin ini bukan pemberian pacar, gebetan, atau orang tua atau nenek atau kakek tapi kipas angin ini gue beli di Hypermart Detos dengan harga 75 ribu. Merek-nya SeKai (well you know what I'm talking about) dan cuma bisa menghembuskan angin ke satu arah saja. Gue lebih milih hidup tanpa kekasih ketimbang hidup tanpa kipas angin ini (di kosan).

Nah definisi fanboy (2) Anak laki-laki penjual kipas angin. Pasti kalian semua pernah nonton filmnya Hillary Duff sama Chad Michael Murray yang judulnya A Cinderella Story kan? Nah disitu si Sam (Hillary Duff) kan kerja di sebuah Diner gitu trus si antagonis ceweknya manggil dia "Diner Girl" atau "Anak Perempuan yang Bekerja di Diner". Nah yaudah sama, fanboy berarti anak laki-laki yang menjual kipas. Lebih spesifik mungkin berjualannya bisa sambil keliling kampung pake mobil pick up dan pake pengeras suara teriak "Kipas Kipas Kipas." semacem itu atau misalnya kalau lagi ada konser maka dia akan ada di lokasi konser dan jualan kipas bergambar artis yang sedang konser itu. Kurang lebih seperti itu.

Nggak bisa dipungkiri kalo istilah fanboy ini semakin ngetrend ketika orang-orang sudah mengenal K-Pop. Padahal kalau misalnya mau dipikir (yang mau aja, yang nggak mau nggak dipaksa buat mikir--Jujur gue aja sebenarnya heran apakah gue masih bisa mikir atau nggak tapi mlah nyuruh-nyuruh orang buat mikir) diulang ya. Kalo mau dipikir, istilah fanboy ini seharusnya sudah digunakan sejak lama ketika Soneta Grup sudah terbentuk oleh Bang Haji Rhoma Irama. Tapi ya mungkin karena pada saat itu nggak ngetrend aja istilah ini jadi nggak dipake. Padahal ketika Bang Haji Rhoma Irama tur keliling Indonesia dengan Soneta Grup-nya ada berapa laki-laki yang nonton dia manggung? BANYAK. LEBIH BANYAK DARIPADA WANITANYA. Sejak saat itu harusnya istilah ini sudah digunakan. Bahkan sampai saat ini jumlah fans Rhoma Irama yang berjenis kelamin laki-laki bisa lebih banyak dibandingkan yang berjenis kelamin perempuan. Apalagi yang fanatik. Merekalah fanboy. Fanboy Rhoma Irama. Heran aja kenapa mereka nggak pernah menyebut diri mereka seperti itu.

Kasus lain misalnya, dulu pas masih SMP, orang-orang pada gila banget sama Peterpan. Sampai-sampai ada temen gue, cowok ngefans banget sama Ariel dan Peterpan waktu itu. Dia beli semua CD-nya, kalo ada dagang poster di depan sekolah dia beli posternya, kalo ada adegan nyanyi di depan kelas setiap pelajaran Bahasa Indonesia (Oke, lo harus tau guru bahasa Indonesia gue sangat suka menyuruh kami untuk nyanyi di depan kelas. Sampai kelas 3 SMP oke sip dunia emang keren banget jaman itu) dia akan maju dan menyanyikan lagu Peterpan plus suara sengau Nazriel Irham (bener gak namanya Ariel itu?). Dia adalah fans cowok Peterpan yang paling freak yang gue kenal. Tapi waktu itu dia nggak pernah sama sekali menyebut dirinya sebagai fanboy Peterpan. Hanya Fans Peterpan. Atau apa yang mereka kasi nama waktu itu "Sahabat Peterpan". Sama aja kayak misalnya sekarang ada orang yang suka nonton pertandingan sepak bola trus juga ngefans sama salah satu pemain sepak bola dari klub tertentu. Kebanyakan yang nonton sepak bola kan cowok, ya mereka juga harusnya disebut fanboy dong. Fanboy Inter Milan. Fanboy Manchester United. Fanboy AC Milan. Iyadong. Kalau mau lebih spesifik yaudah berarti fanboy pemain bolanya. Fanboy Park Ji Sung misalnya. Karena gue hanya tau Park Ji Sung yaudah berarti kasi contohnya Park Ji Sung aja. 

Tapi pertanyaannya, kenapa ketika dulu (dulu loh ya waktu 2009), ketika K-Pop belom seheboh sekarang, kayaknya ngaku diri jadi Fanboy itu kayak ngaku abis bunuh orang sih, kayak ngaku abis mergokin orang lagi berkelakuan 'dewasa', kayak ngaku kalo lo sebenarnya Alien yang menyamar sebagai manusia.  HAHAHAHA Susah banget buat beberapa orang (termasuk gue waktu itu) buat bilang, "Hai, gue Ron, gue fanboy Suju." Buset, kayaknya kalo misalnya berani ngomong gitu ke dunia semacem udah siap dilempar dari kehidupan ini dan sampai berjumpa di kehidupan kedua. Gue nggak ngerti, kenapa deh orang-orang terkadang suka memandang aneh kalau ada yang nyebut kata Fanboy gitu. 

Gue jadi inget waktu awal-awal 2011 dan akhir 2010, ketika Super Junior mulai promosi SS3 dan K-Pop sudah mulai meroket, disitu gue lagi labil-labilnya soal SUJU. Sekarang juga sih. Tapi nggak selabil jaman itu. Yang namanya ngetweet, bisa sampai jam 3 pagi nggak berenti-berenti dan yang diomongin cuma SUJU. Sampai gue kenal beberapa orang fanboy yang juga ngefans SUJU di twitter. Trus beberapa dari mereka sempat mempertanyakan hal yang sama ke gue, "Lo nggak malu apa ngaku lo ngefans SUJU?" Tertawa sebentar. Kemudian berpikir, orang-orang ini juga pasti mengalami tekanan batin yang sama dengan gue pada waktu itu. HAHAHAHA Jawabannya ya simpel aja. Sampai sekarang gue selalu menjawab hal yang sama (bahkan kemaren juga ada yang pernah ngetweet ke gue, "Pernah ngerasa aneh gak sih suka sama boygrup?"). 

Jawabannya? (1) Kenapa harus aneh. Itu yang pertama. Bapak-bapak jaman dulu pernah ngerasa aneh gak sih teriak-teriakin Rhoma Irama? Mas-mas yang nonton band rock pernah ngerasa aneh gak nonton band itu dan teriak-teriakin nama personilnya? Kenapa gue nggak boleh teriak-teriakin nama member boygrup favorit gue padahal Rhoma Irama, band rock itu, Suju, EXO mereka semua sama-sama laki-laki. Kenapa kita harus membuat diri kita merasa aneh sementara orang lain kayaknya nggak peduli dan biasa aja? Kalau misalnya ada yang bilang, "Rhoma kan dangdut, jadi wajar banyak bapak-bapak yang suka karena jaman itu cuma adanya dangdut." kemudian "Band rock itu kan band yang memang lagu-lagunya cowok banget." (((diem sebentar))) Suju juga lagu-lagunya lagu cowok buat cewek. Mendewa-dewakan wanita. Trus apa bedanya.... Apa... Aneh atau nggak, sebenarnya balik lagi ke diri kita sih. Gue mencoba jujur aja ketika gue suka sama sesuatu dan gue akan mengakui itu. Mencoba untuk nggak peduli juga sama orang yang terlalu sering berkomentar terhadap kesukaan orang lain. Padahal mereka sendiri kalo dikomentarin bete.

Jawaban yang ke (2) Kenapa gue harus mempedulikan pendapat orang lain yang sebenarnya kalo dipikir-pikir penting juga nggak. Atau kadang-kadang, orang yang komentar justru kenal juga nggak sama gue. Gue suka aneh sama orang-orang yang kayak gini dan ketemu baaaaaanyak banget sama orang-orang yang kayak gitu. Contohnya pas SMP.

Waktu SMP gue adalah anak yang bener-bener tertutup. Gue pernah bilang kalo gue itu orangnya bully-able, jadi kalo siapapun yang ngeliat gue pasti bawaannya pengen menindas. Muka gue muka tertindas dan minta ditindas mungkin waktu itu. Ya gak bisa ngelawan mau apa lo kalo badan lo kecil dan lo nggak punya tenaga buat ngelawan. Pas SMA, gue punya temen juga yang kayak gitu, temen sekelas, tiga taon. Kerjaannya tiap hari komentar mulu sama apa yang gue suka dan apa yang gue kerjain. Sehari aja nggak komentar kayaknya mungkin dia sakaw. Ya kalo komentarnya baik, komentarnya sambil menghina sana sini. Yang dihina mending yang gue sukain, yang dihinanya justru gue sendiri kenapa suka sama yang gue suka. HAHAHAHAHA Aduh. Kadang-kadang manusia suka lucu.... Gue dari SD adalah fanboy Harry Potter dan beberapa orang di sekolah gue (laki-laki, FYI) semacem gimana sih kayak entah apakah mereka emang nggak kenal, nggak tau, nggak bisa baca atau gimana gitu ya. Gue juga heran, tapi kok ya mereka bisa aja gitu membuat itu sebagai bahan ejekan. Ckckck. Dan kemudian gue sadar, membuat ejekan itu memang lebih mudah daripada memuji. #mencobaNgaca

Beberapa kali hal ini kejadian di kampus. Ketika gue sedang membicarakan Suju atau mungkin mereka melihat wallpaper laptop gue ada editan foto Siwon-Yoona (HAHAHAHAH ADUH NGAKAK--jadi ceritanya waktu itu gue lagi bikin fanfiction Siwon-Yoona dan setiap bikin fanfic gue selalu bikin posternya biar menyemangati proses kerja) mereka akan memutar mata mereka, saling lirik dengan yang lain, kemudian di belakang akan tertawa dan bicara macam-macam. Gue bukannya negative thinking sama mereka. Karena gue pernah mergokin mereka makanya gue berani bilang gini. Yah, semacem itu. Kemudian gue berpikir, kenapa banyak orang minta dihargai tapi nggak pernah mau mencoba sedikit aja menghargai orang lain. Bahkan mungkin kesukaan orang lain aja (dulu gue memang nggak suka sama SM*SH, trus sensi banget sama Cherrybelle dan semua grup yang kayaknya nyontek grup yang gue kenal, tapi kemudian gue sadar kalau itu melelahkan. Perjuangan mereka melelahkan, sama kayak artis yang gue suka, jadi kemudian sedikit-demi-sedikit gue mulai belajar menghargai. Toh mereka juga dari negara gue). Karena bosan dengan perlakuan orang-orang, akhirnya gue mulai nggak peduli. Gue tempel stiker suju di laptop gue dan gue buka di depan orang-orang yang kayaknya emang nggak suka suju, gue pake baju super show ke kampus, dan yah... pada akhirnya memang orang-orang membicarakan itu, orang-orang membahas itu, orang-orang boleh nggak suka itu, tapi orang-orang itu nggak bisa mengatur gue harus ngefans siapa harus suka sama apa dan nggak boleh suka sama apa dan nggak boleh ngefans sama siapa... dan akhirnya? Semuanya capek. Semuanya nggak akan peduli lagi. Semoga sih karena mereka kemudian mengerti. Bukan karena mereka nggak punya topik buat dibahas lagi. HAHAHAH

Poin gue adalah, ketika kita terlalu banyak atau terlalu sering memikirkan apa yang orang lain akan katakan/pikirkan tentang kita (apa yang kita sukai, bagaimana tampilan kita, apakah rambut kita bagus atau gak, apakah baju kita cukup keren atau nggak dipakai dan sebagainya) kita yang akan capek sendiri. Kita yang akan stres sendiri. Karena in the end, mereka semua sebenarnya nggak peduli. Mereka nggak peduli rambut lo kayak apa, baju lo gambar apa, lo suka sama boyband atau sama grup apa. Mereka cuma butuh bahan buat dibahas aja sama yang ada di sebelahnya, bisa jadi biar dikira keren aja karena dia nggak kayak kita. Tapi sebenarnya mereka nggak peduli. Lalu kenapa kita harus peduli? Belajar dari SM*SH yang menerima banyak sekali caci maki di awal debut mereka, belajar dari SNSD yang menerima banyak sampah bahkan dari fandom senior mereka, kemudian mereka membuktikan bahwa mereka memang kuat dan mampu bertahan.

(((BATUK)))

Kita mengenal istilah Fanboy karena kita punya Fangirl dan karena jenis kelamin keduanya berbeda makanya akhirnya dibedain. Dan bisa dibilang juga pembedaan ini akhirnya terjadi karena (menurut gue) K-Pop. Waktu jaman-jaman suka Amigos, mana ada yang nyebut gue fanboy lo fangirl. Semuanya bilang fans. Waktu jaman-jaman suka Harry Potter (gue) jarang mendengar juga ada yang membedakan gue fanboy dan lo fangirl (atau karena gue emang nggak gaul, kayaknya iya), semuanya kayaknya Harry Potter Fans. Semua kayaknya satu aja gitu. Gue nggak menyalahkan K-Pop atas pembedaan ini, nggak, justru pembedaan ini jadi menjelaskan bahwa sebenarnya yang ngefans SUJU, EXO, BIG BANG, CN BLUE itu bukan cuma cewek tapi cowok juga ada. Sama hal-nya dengan mereka yang ngefans SNSD, f(x), T-Ara, 2NE1 nggak cuma cowok aja tapi cewek juga ada. Pada akhirnya secara langsung ataupun tidak gue setuju dengan konsep fandom karena disitulah semua jadi nggak dibedain perkara lo laki atau perempuan. ELF, SONE (maaf gue harusnya nulis pake tanda heart disitu tapi gak keluar), EXO Fans, nggak dibedain apkaah mereka fanboy atau fangirl tapi tetep dipukul rata. Sama semua. We Are One gitu deh. Walaupun tetep, ketika lo mengaku fanboy sebuah grup akan ada kebanggaan tersendiri aja menurut gue terlebih lagi kalau misalnya lo anti-mainstream. Ngerti kan maksudnya apa. 

CUMA, masalah gak berakhir disitu aja, ya ketika lo udah ada di satu fandom tertentu, maka lo akan semacam punya ikatan batin gitu satu sama lain dan menjadi lebih sensitif pada hal sekecil apapun, dan terjadilah fanwar. Gue misalnya, bisa aja gue bilang gue bukan ELF karena secara teknis gue nggak suka sama sikap beberapa fans yang agak berlebihan, jadi kalo ke SUJU gue cuma bilang gue fans SUJU dan gue bukan ELF. Tapi ketika ada orang yang mungkin bukan ELF atau mungkin dari fandom lain memukul rata bahwa semua ELF itu labil, ya gue juga gak suka. Jiwa gue juga tergoncang. Apalagi kalo orang yang ngomong gitu gue kenal. Masing-masing dari kita pasti akan membela fandom masing-masing kan, tapi jangan sampai pembelaan kita itu justru membuat kita secara sengaja atau tidak pada akhirnya malah menjelekkan fandom lain. Jadi kayak sama aja gitu kita yang membela sama mereka yang menghina kan. Buat gue, fanwar itu adalah neverending story, karena masing-masing punya partai masing-masing dan masing-masing pasti pengen partai-nya menang. Tapi ya disitulah indahnya perbedaan. Kalau di dunia ini cuma ada satu fandom, mana asik. Kan banyak fandom berarti diversity. Hahahaha Kuncinya sih IKHLAS AJA. Kalo mau bahas SUJU, hati-hati aja, soalnya SUJU itu 1 dari 3 topik sensitif selain Agama dan Cinta.

Belakangan ini lagi heboh dunia akhirat soal fanboy EXO yang muncul dari berbagai belahan dunia. Bener kata Afif, fangirl EXO selain ngefans EXO mereka juga ngefans sama fanboy-nya. Beberapa dari fangirl yang gue baca tweetnya secara sembunyi-sembunyi mengakui bahwa fanboy EXO yang fotonya sering keliaran di tumblr beberapa minggu belakangan ini memang tampan-tampan. Kulitnya bagus. Yah 11-12-13-14-15 sama EXO-nya lah bisa dibilang. Lalu apa kabar dengan fanboy EXO di Indonesia? Mana nih wajah-wajahnya? HAHAHAHAHAHAHAHA ADUH BATU MANA BATU. Seperti yang gue tulis di bio twitter gue, "Aku mungkin tak setampan fanboy EXO luar negeri.", maksudnya adalah bahwa ya, mereka mungkin memang tampan (menurut para fangirl) karena para fangirl tentu saja selama ini sudah terpapar dengan wajah-wajah Korean jadi kalo ada fanboy berwajah Korean dan tampan akan jadi bahan pembicaraan :p Tapi coba lihat para pria lokal yang juga fanboy ini (YANG MANA DEH MAKSUDNYA), yang mungkin mereka tidak berkulit putih tidak berambut lurus tidak suka selca, tapi bisa jadi sebenarnya mereka lebih tampan dari apa yang ada di internet. #BATUK #100HARIKEMUDIANMASIHBATUK Like what I always said, everybody can be ganteng in their own way. Kata mama aku tampan, karena aku anak yang baik, aku percaya mama, jadi aku percaya aku tampan. Kurang lebih gitu.

Poin nya adalah bahwa gue fanboy dan gue nggak peduli apa pendapat orang lain tentang kenapa gue harus memilih suka dengan grup A dan tidak grup B. Gue udah capek dengerin kata orang yang kayak gitu. Gue udah capek di kritik (tentang hal itu). Toh dengan gue suka grup A atau grup B juga mereka sebenarnya nggak dirugikan satu apapun. Makanya gue heran aja kok ya mereka itu........ah sudahlah. Mungkin jauh di lubuk hati mereka, mereka iri karena mereka nggak se-open fanboy ini, dan itu. Mungkin.

Gue pribadi gak suka sepak bola, nonton cuma piala dunia doang, tapi itu nggak menjadikan gue sebagai orang yang aneh. Ya aneh kadang-kadang kalau misalnya gue lagi sama Ryan atau Abim yang mereka berdua lagi ngomongin bola sementara gue pengen ngomongin EXO tapi mereka nggak ngerti. Tapi kalo kondisinya dibalik, toh jadinya akan sama aja. Ryan atau Abim juga akan merasa aneh kalo misalnya gue lagi ngomongin EXO sama siapa misalnya dan mereka terjebak diantara kami berdua. Kan? Sama aja. 

Kadang-kadang gue sangat ingin hidup di dunia seperti apa yang Ryan Murphy ciptakan lewat Glee. Dimana orang-orang kayaknya aman tentram akur mencintai perbedaan satu sama lain sebagai sebuah gift, kayak kata Gaga, "Born This Way" jadi harusnya emang nggak perlu dipermasalahkan. Tapi ya seperti hal-nya Glee, akan ada (tetep) orang yang nggak suka dan nggak sependapat sama kita. Namanya juga perbedaan kan. Karena perbedaan itulah kita juga hidup dan bisa jadi anak manusia.

I'm proud being a fanboy, karena tanpa gue sadari ada banyak sekali hal yang bisa gue lakukan, yang bisa gue tulis, yang bisa gue ungkapkan ketika gue sedang melakukan apa yang fangirl sebut fangirling dan karena gue fanboy jadinya fanboying. Dan suatu saat nanti, identitas inilah yang akan membuat kita, siapapun  lo, dikenal di dunia. #ciye #kokciye Amin.
*
Gue mencoba untuk selca seperti fanboy EXO luar negeri itu tapi pada kenyataannya kalau gue bergaya imut kayak gitu nanti kiamat datang lebih cepat dari biasanya. Karena gue gak punya foto bagus yang lain selain ini jadi gue pake ini aja. Jarang juga sih sebenernya ngupload foto sendiri ke blog, awkward aja rasanya. Tapi karena ngomongin fanboy jadi gapapa sekali-sekali menistakan diri sendiri gapapa, dan karena di situ pake baju SS3 dan ada Pin EXO jadi lumayan sebagai identitas. HAHAHAHAHA
*
PS: Secara kamus fan memang berarti kipas, tapi karena @bahasaeveryday pernah tweet tentang fan = kipas berarti credit goes to hensem ahjussi.

PS LAGI : Have you VOTE EXO for MAMA 2012? Vote them HERE !! Once a day with your personal account. Please don't make a fake account just SUPAYA MEREKA MENANG. Jadinya gak fair. Biarlah kita kalah tapi kalah terhormat. Oke oke :") Walaupun sebenarnya gue yakin EXO pasti menang karena EXO udah confirm akan datang di MAMA 2012 yang artinya setiap pemenang pasti datang yang artinya mereka menang. Ya gimana dong, kan lagu mereka judulnya udah MAMA :" HAHAHAHA
*
*
PS LAGI DAN LAGI: Anyway kemaren ada ide buat bikin @FanboyEXOUnited siapa mau gabung? LOL Nanti kerjaannya tiap hari upload Selca. WAKAKAKAKAK

Akhir kata, Selamat Idul Adha !!

GIRLS' GENERATION MAKE YOU FEEL THE HEAT = GIRLS' GENERATION ADALAH KOMPOR GAS




Share:

22 komentar