Go Blonde! Go Papapirang!

Dulu pas SMA, gue pernah nonton film yang judulnya 'Bucket List' dan sangat terinspirasi dengan ceritanya. Oleh karena itulah, gue pun membuat bucket list untuk hidup gue sendiri dan ingin melakukannya sebelum gue mati. Well, nggak pernah sih sebenarnya diniatin buat 'besok harus ini, lusa harus ini'. Bucket list versi gue semacem yang 'ya kalo sempat ayok kalo nggak yaudah'.

Kkk. Bucket list ala ala.

Waktu 'Wolf' dirilis tahun lalu, gue sangat terinspirasi dengan rambut pirang-nya Baekhyun. Wekekek. Itu pertama kalinya dia tampil dengan rambut pirang dan "Wah, bagus juga ya!" Ya iya bagus karena itu Baekhyun. Dengan tidak ada niatan untuk menyama-nyamakan diri kayak Baekhyun, gue pun berpikiran untuk punya rambut pirang juga.

Tentu saja buat kebanyakan orang Indonesia, di-pirangin akan terlihat aneh. Terlebih kalau misalnya kalian tinggal di Lombok/Mataram/lebih spesifik lagi kampung gue. Wiiiihhh.... Bisa jadi bulan-bulanan. Hahaha

Orang-orang di kampung gue dulu selalu ngatain orang lain yang juga tinggal di kampung yang sama, kalau misalnya mereka warnain rambut. Entah apakah dibilang 'gawah' itu term lain untuk 'kampungan' (emang pada dasarnya kan kita tinggal dikampung ya kalo ngewarnain rambut malah dibilang lebih kampungan dari orang kampung itu sendiri), atau mungkin paling keren dibilang 'anak pantai'.

Disebut 'anak pantai' karena biasanya orang-orang yang tinggal di daerah pesisir punya warna rambut berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kawasan kota. Anak-anak daerah pesisir terekspos sinar matahari lebih sering sehingga membuat warna rambut mereka berubah dan kulit mereka terbakar. Cool. Kayak bule.
*
*
Tapi warna rambut mereka nggak pirang karena kebanyakan berjemur. Melainkan agak kemerahan. Dan tren-nya dulu tuh bukan nge-blonde rambut, tapi emang ngasih efek merah-merah. Pas SMP dan SMA, temen-temen gue pada seneng warnain rambut semu-semu merah gitu. Apalagi kalo dijemur di bawah matahari kesannya jadi syabang-syabang.

Gue sendiri sebenarnya bukan tipe orang yang suka melawan peraturan ketika sekolah. Buat gue, sekolah itu justru tempat yang paling menakutkan dan penuh ancaman. Haha. Gue orangnya emang nggak pedean dan suka minder. Mungkin karena efek sering diejek-ejek kali ya jaman dulu. Akhirnya hal-hal yang sedikit beresiko atau yang punya banyak resiko akan gue jauhi.

Dengan kata lain, gue adalah orang yang cupu.

Iya itu bertahan sepanjang SMP dan SMA. Hal paling gaul yang gue lakukan ketika SMP adalah pake celana di bawah lutut (yang mana peraturannya di sekolah saat itu nggak boleh celana pendek SMP cowok di bawah lutut tapi harus di atas lutut sedikit atau pas di lutut. Sementara cewek gak boleh di atas lutut dan gak boleh rok rimpel). Hal yang paling gaul lainnya yang gue lakukan ketika SMP adalah pake sneakers yang lehernya pendek. Yang mana itu terlarang di sekolah gue.

Ketika lulus-lulusan SMP, gue sempat pengen warnain rambut. Jelang masuk SMA waktu itu yaudah mumpung libur panjang kenapa nggak warnain rambut aja nih kan banyak waktu luang?

Oke. Dengan modal kurang dari sepuluh ribu gue pun membeli Sasha. Merek pewarna rambut paling eksis seantero jagat raya berkat tipuan kamera iklan Cinta Laura yang rambutnya berubah-ubah warna di setiap kibasan.

Gue dulu suka banget sama warna biru. Jadi yaudah mari kita warnai rambut dengan warna biru.

Modal Sasha dan sikat gigi, gue pun meminta bantuan sepupu gue untuk ngewarnain rambut gue. Entah apakah kalian akrab dengan mewarnai rambut dengan sikat gigi? Jadi itu buat pengganti kuas kalo di salon-salon. Rambutnya disikat dari akar ke ujung.

Itu pertama kalinya gue melakukan hal yang agak-agak ekstrem untuk ukuran anak cupu. Tapi sayangnya, setelah itu proses pewarnaan selesai, alih-alih warna biru rambut gue malah jadi kuning. Entah ini salah Sasha atau salah sikat giginya yang kebanyakan jigong. Ketika daftar SMA, rambut gue adalah yang paling pertama dikomentari oleh guru yang ada di loket pendaftaran.

"Yusron, nanti kalo udah masuk sekolah rambutnya jangan kuning lagi ya," begitu kata Bu Wartini, guru Bahasa Indonesia di SMA gue.

Dengan malu-malu gue melipir dan gegulingan sampai rumah.

Sepanjang SMA nggak ada lagi yang namanya nakal-nakalan ngewarnain rambut. Tiga tahun SMA beneran alim. Rajin pake peci ke sekolah sambil bersepeda.

Tapi bohong yang bagian pake peci. Yang sepeda sih bener.

Masuk kuliah, gue dihadapkan dengan berbagai macam orang baru yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari situlah gue banyak belajar bagaimana tipe-tipe orang, bagaimana orang-orang disekitar gue berani jadi diri sendiri. Nggak pernah takut buat melakukan hal-hal beresiko dan hal-hal yang mungkin menurut orang lain 'big no' tapi mereka 'hell yeah i'll do it'.

Berangkat dari situ, walaupun mungkin dari sudut pandang yang salah, di sebuah liburan kuliah gue pun memutuskan sesuatu yang radikal (halah). Gue berangkat ke tukang potong rambut yang nggak jauh dari rumah gue, tanpa pake helm (niatnya biar abis potong bisa langsung pamer sama semua orang sepanjang jalan) dan berniat buat potong rambut super ekstrem.

"Mas, saya mau potong kayak gini loh mas," gue mencoba menjelaskan. Mas-nya diam mendengarkan. "Mas tau Gogon gak?"

"Oh mas mau jadi Gogon?"

"Bukan gitu juga sih sebenarnya. Tapi mas tau Gogon gak?"

"Tau,"

"Nah, Gogon kan rambutnya cuma ada di tengah doang tuh ya?"

"Iya. Kayaknya,"

"Nah iya pokoknya gitu. Saya mau potong kayak Gogon, tapi, yang disisain bukan di tengahnya doang. Tapi di bagian kanan. Jadi semua rambut saya yang di bagian kiri mas abisin aja tapi nggak sampe plontos. Trus yang dibagian kanan disisain sampai belakang,"

"I-----iya mas yakin?"

"Udah gausah ragu-ragu. Itu alat cukurnya langsung aja sret sret sret trus abisin," kata gue. Entah sejak kapan suara alat cukur rambut 'sret sret sret'.

Mas-masnya terlihat ragu-ragu karena mungkin dalam pikiran dia baru pertama kali nemu orang yang potong rambut tapi disisain di bagian kanan doang. Tapi toh dia lakukan juga. Dan ketika sudah selesai gue ngakak geli.

"Makasih mas," kemudian gue bayar sepuluh ribu dan pulang.

Sampai di rumah, nyokap antara yang percaya dan tidak percaya. Antara yang mau ngomel sama ketawa. Tapi yah, begitulah. Nggak jelek-jelek amat sih sebenarnya. Cuma emang aneh karena sebelumnya di sekitaran situ, di kampung itu, nggak pernah ada orang yang melakukan ini.

Keputusan radikal gue nggak berenti sampai disitu. Gue pun memutuskan untuk mewarnai sisa rambut yang ada di kepala gue itu. Pirang adalah warna yang gue pilih. Karena waktu itu modalnya cuma 6 ribu doang, jadi warna blonde-nya nggak dibeli. Cukup pake bleaching doang.

Hell yeah. Jambul yang tersisa itupun akhirnya dipirangin. Dan orang yang melakukannya adalah nyokap gue sendiri :p

"Jangan kenain kulit kepalanya, sakit!"

"IYA SIH BAWEL BANGET SI JAMBUL ARMADILO!"

Sejak kapan Armadilo punya jambul.

Warna itu bertahan sampai liburan kuliah berakhir. Sebelum akhirnya gue menghitamkannya lagi dengan Sasha. Tapi karena itu bleaching, jadi hitem-nya pun nanggung. Jadinya malah merah-merah. Sampai akhirnya cukur lagi dan semuanya hilang total saat rambut yang tumbuh kembali hitam.
*

*
***

Ngewarnain rambut itu memang ternyata candu. Bikin ketagihan deh serius. Tapi karena waktu itu emang lagi nggak ada waktu dan momen yang pas, jadi nggak dilakukan dulu. Kuliah lebih penting. Apalagi image baik buat yang ngasih beasiswa di kampus. Hahaha.

Ketika masuk kerja di tempat gue yang sekarang, kebetulan salah satu temen gue di kantor suka EXO juga. Dia pasang poster EXO di meja-nya dan itu poster 'Wolf'. Ada Baekhyun yang rambut jamur pirang.

Bos gue sempat nyeletuk, "Lo kan anak KPop, warnain dong rambut lo kayak KPop-KPop gitu," katanya.

Gue enggak tahu apakah itu dia becanda atau gimana. Tapi gue bukanlah tipikal orang yang susah percaya sama omongan orang terlebih dia bos gue. Gue menanggapi itu dengan serius: bahwa di kantor ini boleh ngewarnain rambut, bahwa gue sudah dikasi lampu hijau oleh bos gue sendiri.

"Pengen sih mas, tapi belom sempat aja,"

Setahun setelah itu, momen-nya pun datang. Kebetulan juga topik ini lagi jadi bahasan yang cukup menarik di grup kakaotalk gue dan beberapa temen gue. Semua ini berawal dari sebuah malam, ketika kita nggak karokean dan nggak nonton, dua orang cewek yang ada di grup memutuskan buat cuci rambut dan creambath di salah satu salon di Blok M Plaza.

Setelah itu kita berempat kumpul, gue, Dito, Cicil dan mbak Septi. Abis itu pembicaraan serius soal rambut pun dimulai.

"Iya lo warnain deh rambut di salon yang tadi. Itu murah kalo pake debit BCA diskon 40%! Dari 250 ribu jadi berapa tuh kalo diskon?" kata Dito. Dia emang suka kompor sih. Gue juga gampang dikomporin sih.

"Hah serius? Yaudah ayok kapan gue mau deh. Gue pengen warnain rambut gue nih biru," keinget pas jaman SMP. "Biar kayak Wendy. Tapi maunya biru kayak Wendy. Bagian atasnya doang. Jadi nanti gue potong dulu, trus jambulnya biru gitu," kata gue.

Saat itu gue serius walaupun terdengar sangat tidak serius.

"Jadi nanti pas TLP, rambut gue udah berwarna. Jadi anggep aja ini buat persiapan TLP gitu," kata gue lagi.

Dan ya, kita pun menjadwalkan minggu depannya dari hari ketemuan itu buat ngewarnain rambut. Hari itu Selasa, kalau gue nggak salah inget. Gue dateng ke kantor cukup pagi buat ngejer berita sampai siang. Siangnya gue sempetin ke tukang potong rambut murahan di pinggir jalan buat beresin rambut dulu sebelum diwarnain.

Gue kira siang bolong gitu bakalan sepi. Tapi ternyata ramai juga. Mana Jakarta panasnya kayak alam kubur ya. Gue pun menunggu di kursi tunggu sampai ketiduran. Ada kali setengah jam. Gue terbangun karena mimpi jatoh. Tipikal.

Setelah potong rambut, meluncurlah gue malemnya ke Blok M Plaza buat ketemuan sama Dito, Ajie dan mbak Septi. Cicil hari itu nggak ikut karena sibuk karena akhir/awal bulan.

Gue cukup deg-degan karena yang pertama ini adalah pertama kalinya gue masuk salon buat dipermak. Kedua, ini pertama kalinya gue ngewarnain rambut dengan biaya lebih dari harga Sasha. Ketiga, ini pertama kalinya gue mengambil keputusan secepat itu sementara gue bukan anak kuliahan lagi. Apa kata orang-orang kantor?

Tapi ide soal ngewarnain rambut udah sempat gue utarakan sih di kantor sebelum gue jalan hari itu. Nggak ada yang bilang nggak boleh. Jadi yaudah, ayok!

"Ini bener gak nih bayarnya diskon? Kalo 250 ribu gue nggak mau," masih peritungan.

"Ya makanya ditanya dulu," kata mbak Septi.

Kita berempat pun masuk ke sebuah salon bernama Hasami Kushi. Ini salon Jepang walaupun namanya kayak film india Kabhi Kushi Kabhie Gham. Kita pun mulai bertanya-tanya.

"Mas ini beneran diskon bla bla bla bla? Ini temen saya mau ngewarnain rambut kalo pendek segini bayarannya berapa bla bla bla bla,"

Setelah mempertimbangkan panjang rambut gue dan segala macamnya. Kita pun deal dengan harga Rp 246 ribu. Itu sudah termasuk diskon. Harganya memang seperti tidak didiskon karena proses pewarnaan memakan dua kali pengerjaan. Yaitu proses bleaching dan proses pewarnaan.

Kenapa bahasa gue jadi gini.

Intinya, cat rambutnya jadi dua macam. Jadi bayarnya dobel.

"Oke mas tapi saya mau warna biru ada gak?"

"Biru yang kayak gimana?"

Gue langsung ngeluarin hape dan nunjukkin foto Wendy. "Yang kayak gini, persis,"

"Wah kalo warna dasar gitu sih kita nggak punya mas. Tapi kita punya warna-warna lain. Coba liat dulu," akhirnya dikasih contoh rambut yang udah diwarnain gitu. Disitu ada warna Wendy sama Joy. Anak-anak sempat nyuruh buat ijo aja kayak Joy tapi gue tetep naksir Wendy.

"Kalo birunya adanya yang biru butek gitu nggak akan secerah yang kayak di foto mas," katanya.

Gue sempat bingung. "Yaudah kalo gitu mending di bleaching dulu aja nanti keputusannya saya ambil setelah proses bleaching kelar. Apakah saya mau biru atau warna lain," kata gue. Sempat kepikiran juga buat diwarnain kayak Ariel 'NOAH' yang abu-abu gitu. Tapi nggak ah. Terlalu ekstrem kayaknya.

Padahal biru juga ekstrem.

Proses bleaching ala Sasha di rumah sendiri dengan modal Rp 6 ribu dengan proses bleaching ala Hasami Kushi ternyata jauh berbeda. YA IYALAH YA HAHAHAHA. Dan prosesnya juga lebih menyakitkan. Oh ya. Bleaching itu menyakitkan.

Setelah dicuci, rambut gue langsung diolesin sama krim bleach-nya dan nunggu 30 menit sambil di steam di alat yang muter-muter di kepala. Berasa lagi di film-film science fiction. Awalnya sih nggak apa-apa, tapi belakangan jadi panas banget minta ampun.

"Ini baru bleach pertama mas. Kita masih ada dua kali lagi,"

Oh Tuhan.

Bleach kedua itu bener-bener yang INNALILAHI. Gue nggak tahan sampai yang kipas-kipas tangan ke kepala. Di kulit kepala, itu rasanya kayak lagi berjemur di bawah terik matahari di tengah siang bolong di Pontianak. Panas banget walaupun gue sebenarnya nggak pernah ke Pontianak.

Gimana sih rasanya sauna? Gimana sih rasanya kalo lo taruh tangan lo di atas air mendidih yang lagi ada di atas kompor? Gimana kalo air itu setetes aja jatuh di kulit kepala lo? Gimana rasanya ada di depan api unggun terus baranya terbang ke kulit lo?

Sepanas itu dan prosesnya tiga kali.

"Tenang Ron. Lebih panas nanti kiamat matahari sejengkal di atas kepala," kata gue dalam hati.

Sakit. Kulit kepala rasanya kayak ditusuk-tusuk terus abis itu disiram alkohol. Trus ditusuk-tusuk lagi. Disiram lagi. Dan itu baru proses kedua. Masih ada proses ketiga katanya. Udahlah gue cuma bisa ngomel-ngomel nggak jelas. Soalnya emang panas banget. Untung malam itu salonnya sepi cuma ada kita berempat dan dua orang lain yang kayaknya gerah banget sama keberisikan kita malam itu.

"Guys laper gak sih?"

"Iya banget,"

"Beli pizza apa kita? Selasa kan buy 1 get 1 domino,"

"Boleh gak makan disini sama mas-masnya? Ntar malah belepotan?"

"BOLEH KOK," kata mas-masnya.

Mungkin dia juga laper. Akhirnya kita pun beli pizza. Dengan kondisi gue yang masih duduk di kursi dan kepala masih diorbitin sama alat steam, dua orang lainnya jalan buat beli pizza. Cukup lama sampai akhirnya kita pun pesta pizza di Hasami Kushi.

Sekitar satu setengah jam proses bleaching pun selesai di tahap ketiga. Sekarang rambut gue beneran udah kayak bulu jagung level akut. Waktunya menentukan warna. Oke, kembali bingung.

"Kalau mau diwarnain biru, jadinya nggak akan kayak yang di foto. Malah jatohnya akan jadi hitam tapi terlihat biru kalo kena cahaya. Sayang kali mas, lo udah lelah di bleach gitu tapi item-item juga warna akhirnya," kata si mas salon. Dan ini nyebelin.

"Kalau gue saran sih mending lo blonde aja. Tinggal dikasih tinta blonde nih diperkuat aja warnanya. Bagus kok,"

Gue diem. Di belakang gue udah pada teriak "UDAH RON BLONDE AJA!"

Terlalu ekstrem gak sih? Terlalu parah gak sih? Bagaimana reaksi orang-orang kantor? Gue mikir. Gue memandang cermin cukup lama. Melihat rambut gue yang sudah di bleach kayak gitu gue geli sendiri. Ah, tapi sudah sejauh ini, sudah diniatin juga. Kapan lagi bisa melakukan hal yang ekstrem kalo nggak sekarang? Udah nanggung juga.

"Kalo kulitnya agak gelap, justru rambutnya harus yang cerah mas. Jadi lebih syabang-syabang gitu," kata masnya. Ya nggak syabang-syabang juga sih dia ngomongnya.

"Yaudah mas, blonde aja,"

ASSA! Semua kayaknya antara yang geli sama seneng sama ngejek entahlah. Tapi hari itu emang mood-nya lagi seneng aja. Dan gue mau-mau aja lagi ngikutin saran si mas-masnya.

"Nanti rambutnya saya potong juga sedikit ya mas biar ngikutin model. Soalnya kalo dibiarin kayak gini berantakan," katanya.

"Gratis gak mas?" tanya gue.

"Ya bayar 35 ribu buat potongnya,"

"Kalo gitu gausah."

Hening.

"Ya masa gratis sih mas," kata mas-masnya lagi.

"Ya gimana saya males nih kalo harus ngeluarin uang lagi," mau make-over, tapi nanggung.

Tiba-tiba mbak Septi nyeletuk. "Udah mas gratisin aja, dia followers Twitter-nya banyak loh!"

Eh.

"Nah iya mas, barter aja deh. Followers saya 13 ribu loh. Saya promosiin deh salonnya di Twitter saya. Tapi potong rambutnya gratis ya?"

Mas-nya sempat bingung dan mikir sejenak. Sampai akhirnya, "Yaudah. Dipromosiin ya! Tapi jangan store yang lain. Blok M Plaza aja!"

WAKAKAKAKKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKAKA dengan begitu gue pun dapat potong rambut gratis. Ah tahu gitu dari awal aja kayak gini kan enak warnainnya gratis juga.

Proses ngewarnain blonde-nya nggak selama nge-bleaching. Cuma lima belas menit dan begitulah akhirnya rambut gue pun berubah warna. Tinggal dirapihin doang. Awalnya gue pikir kayak yang yaudah dirapihin dikit-dikit. Eh tapi itu beneran dibotakin pinggir-pinggirnya semua dan disisain pas bagian blonde-nya doang.

Kayak rambut tempelan.

"KOK GINI SIH MAS KOK JADI ANEH!" kata gue.

"Nggak aneh mas. Ini emang modelnya kayak gini. Orang keren gini,"

YA TUHAN.

Gue sendiri saat itu ngerasa nggak srek. Tapi...

"Yaudah deh udah kejadian juga nggak mungkin mau nempelin itu potongan rambut ke kepala lagi,"

Dan semua pun selesai hari itu. Semuanya seperti mimpi. LOL.

Gue nggak pernah ngebayangin diri gue bakalan berani melakukan hal-hal seperti ini. Sejauh ini mungkin ini hal yang paling ekstrem yang gue lakukan. Sampai malam itu gue tidur dan mimpi ke kantor dengan rambut baru dan jadi bahan omongan. Gue pun memutuskan untuk pakai topi sepanjang hari.

Ketika sampai kantor, semua heboh. Semuanya pengen liat. Terus abis itu? Yaudah. Nggak ada yang mempermasalahkan. Cuma ya guenya aja sih yang rada nggak pedean. Karena itu di kantor jadi gue selalu menutupi kepala gue dengan peci atau topi. Hahaha

Gue sendiri cukup puas dengan hasilnya walaupun memang terlihat agak aneh. Tapi kepuasan karena bisa mencoret satu lagi bucket list yang ada membuat gue senang tak terkira. Sebenarnya ini masalah simpel, cuma warnain rambut. Tapi melakukan hal yang sudah lama lo pengen dan lo berhasil, itu rasanya puas banget. Heheh.

Pertama kalinya gue keluar tanpa topi adalah pas 'The Lost Planet' di Jakarta kemaren. Itu pertama kalinya gue berani pamer rambut di depan orang banyak. Di depan Suho. Dan ketika gue dapet fanservice yang sangat memuaskan dari Suho, itu adalah momen dimana gue yakin kalo keputusan gue buat blonde itu tepat.

BUAKAKAKAKAKAKAKAKA

Mungkin emang sudah takdir Suho bakalan ngelirik ke kamera gue. Tapi takdir itu didukung juga oleh fanboard SURENE dan juga gue rasa faktor rambut pirang gue (GE ER) (NAJIS LO RON).

Biarin.

Dan karena itulah Papapirang pun muncul. Buat yang mungkin penasaran, kenapa sih namanya Papapirang? Itu sebenarnya gue sebelumnya pengen ngasih watermark 'That Blonde Guy' tapi panjang banget dan nggak Indonesia banget. Terus gue terjemahkan aja ke 'Pria Pirang' tapi kok agak nggak enak. Pengen yang kayak ada kepaduan di kata pertama dan kata kedua.

Pria... Suho.... Leader... Papa? PAPAPIRANG! THATS IT!

LOLS. Sederhananya, karena Suho is Papa in EXO (in my opinion) and he is Pirang and that night is my special lucky night with my new blonde hair. So Papapirang pun muncul. wekwkekekeke

But anyway, gue seneng banget di puber kedua gue ini masih bisa melakukan hal-hal yang nggak bisa gue lakukan ketika gue SMP ataupun SMA. Di saat anak-anak lain sudah lebih dulu ngewarnain rambut profesionally, gue malah modal Sasha doang dan itupun gagal.

Jangan pernah takut buat melakukan apapun yang kalian inginkan kalau punya kesempatan. Sebelum kalian nggak bisa lagi melakukannya.

Gue termasuk orang yang sangat peduli dengan omongan orang. Dulu. Karena itu gue jadi gampang minder karena berpikir bahwa apa yang gue lakukan tidak selalu dianggap keren sama orang. Tapi sekarang sih udah bodo amat. Manusia diciptakan punya mulut buat bicara dan komentar. Itu udah hak mereka buat bilang begini dan begitu.

Tapi disaat yang sama, Tuhan juga menciptakan dua telinga dan dua telapak tangan untuk menutupnya setiap kali komentar-komentar yang nggak perlu didengar terlontar dari mulut siapa saja, diucapkan oleh manusia lain. Mereka berhak ngomong apa aja, kita berhak untuk tidak mendengarkan.

"Rambut lo keliatan aneh. Freak banget,"

"Alhamdulillah masih bisa dibilang freak. Untung nggak dibilang perusak rumah tangga orang,"

Ahem.

Terlalu banyak mendengarkan omongan orang itu nggak sehat. Sama kayak terlalu banyak dengerin KPop. Lelah.
*


***

Belakangan kita sering main bareng. Kita ketemu juga sebenarnya nggak sengaja. Atau emang di sengaja? Sebenarnya ada Afif sama Cicil juga tapi mereka nggak bisa main malam itu. Salah satu hal yang gue syukuri dari KPop adalah ya temen-temen baru yang gue dapetin dari situ. Afif sebenarnya temen kuliah gue. Orang pertama yang gue kenal ketika gue menginjakkan kaki di UI. Dito temennya Afif karena sama-sama SONE dan gue kenal Dito dari Gilang yang juga temennya Afif. Kenalnya di karoke. Nggak heran sampai sekarang jeratan karoke itu nggak bisa hilang. Gue kenal Ajie dari............ ngefans. Terus gue kenalin dia ke Dito. Kemudian Afif juga kenal karena sering liat namanya ngiter di timeline Twitter dari mensyen gue dan Cel. Sementara Cicil adalah temennya kak Nuri yang gue kenal ketika mau nonton SMTOWN dan kita bertiga (gue, Nuri, Cicil) jadi geng nonton S4 waktu itu. Kemudian Cicil tahu Ajie karena.............gue spazzing terus. Akhirnya kenalan. Cicil pun kemudian kenal Dito dan Afif dari sebuah event Running Man. Sementara mbak Septi adalah temen kantor gue yang awalnya juga kita sok kenal aja karena selain satu kantor kita juga sama-sama suka KPop. Suatu malam kita ketemu di Burger King Blok M Plaza waktu gue, Dito sama Ajie mau nonton The Amazing Spiderman. Dia ketemu Ajie malam itu dan sebelumnya udah pernah gue cekokin video Anonymous dan akhirnya mereka kenal. Dito juga kenal dari situ. Sampai suatu hari di Twitter pada heboh mau nonton apa sih di Blitz gue juga lupa terus Ajie bikin grup di KakaoTalk dengan mengundang nama-nama yang ada di atas kecuali Nuri, Gilang dan Cel. Dan yah. Sampai saat ini, orang-orang inilah yang setiap hari bikin BERISIK di KakaoTalk. Sampai nama grup di hape gue juga BERISIK. Cicil kemudian gabung belakangan di grup dan kitapun hedon setiap saat. KZL. Kerjaannya kalo nggak nonton ya karaoke dan itu sebulan bisa empat sampai lima kali. HAHAHA

Share:

8 komentar