Bertemu Si ‘Orange Marmalade’

Sumber foto: dramabeans.com - copyright Seok Woo
*
Tips untuk bisa tahan lama di tempat kerja itu sebenarnya gampang: yang pertama lo harus suka dulu sama pekerjaannya. Yang kedua, lo harus punya temen yang setidaknya mengerti dengan pekerjaan lo itu, jadi bisa sharing. Last but not least, lo juga harus punya temen yang sehobi sama lo.

Gue nggak ngomongin soal sepak bola. Di antara jutaan manusia yang ada di dunia ini mungkin gue adalah salah satu dari cowok yang nggak ngerti sama sekali dengan olahraga itu. Olahraganya, ataupun apa yang terjadi di dalam dunianya. Buat beberapa orang mungkin hal ini terasa memalukan. Tapi gue lebih memilih untuk malu karena tidak menjalankan syariat agama daripada malu karena nggak ngerti sepak bola.

Uhuk. Syariat agama... Rukun Iman aja lupa.

Bentar gue inget-inget dulu...  Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi dan Rasul, Hari Kiamat, Qada & Qadar.

Alhamdulillah... bisa membuktikan kalau gue lulus SD.

Anyway. Sudah dua tahun lebih gue bekerja di tempat gue sekarang. Menyenangkan? Iya sangat menyenangkan. Nggak cuma karena lingkungan kerjanya enak dan orang-orangnya sangat menerima lo apa adanya (Insya Allah) meskipun salah satu gigi lo palsu (kayak gue misalnya - kisah selengkapnya di sini), tapi juga karena lo punya temen yang kalo diajak ngobrol soal sesuatu itu nyambung.

Lalu... “Apakah yang dapat menyatukan kita?”

“SALAH SATUNYA DENGAN MUSIK!”

wkwkwkwkwkwkkwkw

KPop adalah jawaban dari pertanyaan dan pernyataan ini. LOL I’m gonna say dangdut just like the song, but the fact is that nggak semua modern people love this genre. Kecuali lo hidup di kampung yang bahkan di masjid-nya pun puter lagu dangdut dan tinggal di antara orang-orang yang mendengarkan dangdut na cheorom.

Tiga dari temen kantor gue ngerti Kpop dan bisa diajak ngobrol soal itu. Dua di antaranya lebih ke musik, satu lagi lebih ke drama. Dan belakangan yang satu lagi ini, namanya Agnes, lagi suka banget baca webtoon.

Sebagai orang yang sudah lama bergelut di dunia kelam bernama Kpop, tentu saja gue akrab dengan istilah webtoon. Bahkan sebelum LINE secara resmi memperkenalkan dan mempromosikan besar-besaran mengenai aplikasi ini, gue sudah ngeh kalo di Korea Selatan itu webtoon sangat digemari. Seperti biasa, Indonesia selalu mendapat tempias dari apa yang tenar di Korea Selatan.

Kecuali IU.

KENAPA SIH INDONESIA TUH GAK BANYAK YANG SUKA IU MEANWHILE DI KOREA IU TUH KAYAK KESAYANGAN BANGET?!

(blame it on Eunhyuk)

(or just simply blame IU’s tweet on 2013 lol)

Tapi ya, meskipun gue sudah lama tahu webtoon, gue baru mulai baca-baca dan ngeh bagaimana mendapatkannya (terima kasih atas para uploader dan translator) beberapa bulan terakhir inilah. LINE WEBTOON ini sangat membantu memfasilitasi orang-orang yang emang suka banget baca komik, dan nggak mau menyia-nyiakan uangnya untuk beli komik berbentuk buku. Walaupun emang sih nggak semua komik web ada bukunya. Ya justru itu yang membuatnya menarik.

Singkat kata Agnes jadi suka baca Webtoon. Karena di kantor dia adalah orang yang bergelut di bidang seni dan publikasi, webtoon juga salah satu ranahnya. Selain ngobrolin gimana serunya Seo In Guk dan Park Bo Geum di episode terbaru ‘I Remember You’, kadang-kadang kita juga ngobrolin soal webtoon yang bagus dan sedang banyak dibaca belakangan ini apa.

Orange Marmalade adalah salah satunya.
*

sumber foto: sanbaekki.wordpress.com
*
Awalnya gue sendiri tahu soal Orange Marmalade ini dari drama sih. Jadi prosesnya terbalik. Kalo di Korea mungkin orang tahunya webtoon dulu, gue malah tahunya drama-nya dulu. Jadi suatu hari gue yang sangat rajin banget buka Soompi ini menemukan berita kalo KBS akan memproduksi drama baru soal vampir. Kalo biasanya vampir pemeran utamanya cowok, kali ini vampirnya cewek. Dan yang lebih seru lagi, pemeran utama ceweknya idol.

Okelah. Sebenarnya nggak usah berekspektasi tinggi dari drama yang diperankan idol. Biasanya ratingnya jatoh. Tapi pas liat cast-nya kok kayaknya seru. Seolhyun, Yeo Jin Goo, Lee Jonghyun. Oh oke, mungkin jadi salah satu drama yang bisa ditonton dan diikuti, pikir gue.

Dari situlah gue tahu kalau Orange Marmalade ini dari webtoon dan belakangan memang banyak berseliweran di timeline LINE soal webtoon-webtoon ini. Akhirnya gue download-lah itu aplikasi dan mulai baca Orange Marmalade sebelum dramanya keluar.

Episode-episode pertama di webtoon menyenangkan sih. Tapi terlalu bertele-tele kalau menurut gue. Entah apakah memang karena webtoon tuh style-nya kayak gitu, atau memang ceritanya yang bertele-tele. Tapi selanjutnya okelah bisa dinikmati.

Gue baca sekitar 40-an episode sebelum akhirnya gue stop dan dramanya mulai tayang. Pas nonton dramanya episode 1 (dengan terbayang-bayang apa yang terjadi di webtoon tentunya) gue cukup puas. Adegan-adegan yang gue bayangin tergambar dengan cukup baik. Yang lebih gue suka dari episode 1 Orange Marmalade versi drama adalah ‘tek-tok’ antara adegan satu dan yang lainnya enak dan nggak membosankan kayak 10 episode pertama webtoon.

Oke dari situ akhirnya gue sama Agnes mulai bahas-bahas soal Orange Marmalade ini. Mulai dari dramanya kayak gimana dan apa bedanya sama webtoon. Dan katanya memang dramanya sangat berbeda karena tiba-tiba kembali ke ‘zaman penjajahan’ dan gue sendiri belom sampai situ jadinya yaudah gue cuekin aja. Belom gue tonton sampe abis walapun sudah donlot semua episodenya.

Suatu hari Agnes ngabarin gue satu berita yang sangat menyenangkan.

“Ron, Seok Woo, si weebtonist-nya Orange Marmalade mau ke Jakarta nih!”

“HAH YANG BENER GUE MAU NES!”

Kata ‘gue mau’ di kantor gue berarti “tolong ajak gue kalau lo mau ketemuan sama dia karena gue juga mau ketemu dia” atau “kasih lah gue tiket gratis kalau ada” dan semacamnya.

“Nanti ya gue tanya dulu kapan bisa ketemunya,” kata Agnes.

Dan bener aja beberapa minggu kemudian dia ngabarin lagi kalau dia sudah dapat jadwal buat ketemu sama Seok Woo. Dia dan teman-teman yang ada di ranah pekerjaan kami. SENENG!
*
*
Karena ini berhubungan dengan Korea, gue punya alasan untuk ikut Agnes (karena biasanya kan nggak bisa, Agnes sendiri lebih ke art dan buku-buku). Terlebih karena Seok Woo adalah webtoonist yang komiknya diangkat jadi drama Korea. Itu sudah jadi alasan yang kuat buat gue untuk ikut dan ketemu sama si Seok Woo ini.

Singkat kata Seok Woo akan jadi salah satu panelis di Pop Con 2015, Jumat 7 Agustus 2015 sampai hari Minggu tanggal 9 Agustus besok. Nah, gue ngintilin Agnes deh tuh buat ketemuan sama si Seok Woo. Gue udah punya beberapa pertanyaan di kepala yang pengen banget gue bahas sama orang ini.

Eh tapi bentar, dia ini sebenarnya cowok apa cewek sih?

“Nes, Seok Woo ini cowok apa cewek sih?”

Gue berpikir webtoonist-nya Orange Marmalade ini cewek karena pemeran utamanya kan cewek.

“Cowok, Ron,”

“Oh ajeossi-ajeossi ya pasti?”

“Nggak tahu. Kayaknya masih muda deh,”

“Oh... kakak-kakak,” kata gue lagi. Tidak bisa menggunakan kata oppa karena memang itu bukan digunakan oleh seorang cowok untuk cowok. Dan berusaha juga untuk tidak menggunakan kata hyong karena pengalaman pribadi pernah dimarahin orang Korea karena manggil dia hyong: GAK USAH SOK ARAB DEH SAMA GUE.

Iya. Lo harus seakrab itu dulu sama orang sebelum manggil dia oppa atau hyong.

Jadilah hari Jumat kemaren gue sama Agnes jalan ke Pop Con 2015. Udah nggak sabar pengen ketemu sama si Seok Woo ini. Kayak gimana sih orangnya? Ada banyak sekali orang Korea yang gue temui dan beberapa dari mereka sangat menyenangkan, meskipun beberapa juga ada yang menyebalkan. Kalau kata orang LINE-nya, si Seok Woo ini orangnya unik.

“Gimana ya gue harus ngejelasinnya, dia ini eksentrik,” katanya.

Yang kebayang di kepala ketika dia ngomong kayak gitu adalah mas-mas Korea berdandan gothic. Eyeliner tebel. Lipstik hitam. Rambut setengah pirang setengah hitam. Belah tengah terus masing-masing belahannya diberdiriin dan pake hair spray kualitas super yang keras banget kayak lem kayu. Terus dia pake baju item kayak drakula.

“Wah seru juga ya pasti,” kata gue.

Padahal sebenernya takut.

Tapi pas namanya dipanggil buat naik ke atas panggung. Lah, penampilannya tidak se-ekstentrik itu kok.

Seok Woo datang dengan dandanan khas orang Korea yang sering gue liat pas gue masih di UI: branded sneakers, kaoskaki yang hampir nggak keliatan, bulu kaki ada lah sedikit, celana pendek, t-shirt, rambut poni. Dia juga pakai kacamata yang semakin menunjukkan kalau dia ini sosok yang nerd (SOK TAU LO RON!)

Mungkin yang dimaksud mas-nya eksentrik tadi lebih ke kepribadiannya kali ya?

Oke karena hari ini adalah sesi tanya-jawab bukan sesi curhat dan mengenal dari hati ke hati, masalah kepribadian ya urusan masing-masinglah ya. Mari kita simak mas Seok Woo ini sebenarnya mau ngapain sih jauh-jauh datang dari Korea ke Pop Con 2015?

Gue tiba-tiba kepikiran sama Han Kang Woo ketika nama Seok Woo ini dipanggil. Bukan karena nama terakhirnya sama, tapi karena gue bisa manggil dia “Cakanim! Cakanim!” kayak Kang Woo. Iya ceritanya gue Kang Woo, dia Jang Jae Yeol.

Iyain aja biar cepet.

“Saya berterima kasih karena banyak yang suka sama Orange Marmalade. Berharap juga webtoon Korea yang lain banyak disukai seperti Orange Marmalade,” katanya. Formalitas. Inilah yang paling nggak gue demen dari wawancara resmi orang Korea nih. Selalu jawabnya formalitas kalo di acara-acara kayak gini.

Iya tapi itu baru pertanyaan pertama sih hahahaha

Sayangnya, di panggung Pop Con 2015 hari Jumat kemaren nggak terlalu lama si Seok Woo ini berbagi kisah soal proses kreatif dan segala macamnya soal Orange Marmalade. Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terlalu normatif(?) dan nggak menggelitik gitu. Karena nggak ada sesi tanya jawab sama penonton jadi ya telen aja mentah-mentah.

Selanjutnya Seok Woo ditanya bagaimana dia mengatasi writers' block, alias kondisi ketika seorang penulis bener-bener stuck dan nggak tau lagi harus nulis apa. Buat yang suka nulis pasti bisa relate sama yang ini hahahaha.

“Kalau misalnya buntu, saya istirahat dan mengosongkan pikiran. Dengan begitu nanti otomatis bisa dapat ide-ide baru,” katanya.

Gue diem sebentar. Apakah selama ini gue sudah mencoba tips itu ya?

Oh sudah. Gue kalo buntu, akan buru-buru ke kasur dan tidur. Niatnya supaya tenang dan dapet ide sih. Tapi hasilnya malah kebangun terus udah besok pagi dan udah harus masuk kantor. Batal lagi nulis review ‘Devil’-nya Super Junior #tjurhat.

Seok Woo juga ditanya tips bagaimana menjadi seorang webtoonist dan buat mereka yang baru memulai. Jawabannya lagi-lagi normatif(?), “Mulai aja dulu. Banyak dengerin cerita atau curhatan orang lain supaya dapet ide. Jadi komikus itu menyenangkan kok,” katanya.
*
*
Nah setelah itu acara di panggung bubaran, gue ngintilin Agnes ke tempat khusus yang ada sesi ngobrol-ngobrol lain. Di sana deh gue baru bisa kenalan langsung sama Seok Woo. Ternyata orangnya sangat menyenangkan. Secara penampilan sih memang sedikit nerd, juga nampak agak pemalu. Tapi ada kesan kalau dia tahu dia ini terkenal dan karyanya disukai, yang akhirnya memberikan aura kepercayaan diri yang sangat luar biasa gitu.

Apa sih bahasa gue.

Di sesi ngobrol lebih ‘intim’ itu ada lebih banyak lagi pertanyaan yang diajukan ke Seok Woo. Yang paling bikin banyak orang penasaran sebenarnya kan darimana dia bisa dapat ide bikin dunia vampir dan kenapa bisa kepikiran untuk meng-create ‘Orange Marmalade’.

Seok Woo cerita, pas masih kecil dulu katanya dia anaknya tuh jarang bergaul. Tipikal anak yang nggak punya temen. Bukan karena orang-orang nggak suka sama dia, dia ngakunya karena dia emang agak introvert dan kurang tahu bagaimana cara mencari teman. Akhirnya dia lebih suka sendirian di kamar.

Sampai sini gue yang, “Loh kak kita sama loh, saya juga dulu gitu loh pas anak-anak,”

Karena dia suka menyendiri akhirnya yaaa hobi deh mengkhayal gitulah ya kira-kira. (sampai sini gue juga yang, “LOH KAK KITA SAMA LAGI LOH! APA JANGAN-JANGAN KITA INI ADALAH.......”) Dan karena dia suka menggambar, akhirnya dia sering banget curhat ke gambar-gambar yang lama-lama jadilah komik. (sampai sini gue menyerah. Gue gambar garis aja masih ‘fals’ gimana mau gambar komik.)

Gue jadi nangkep gimana karakter Baek Mari itu kemudian muncul. Ternyata gambaran si Baek Mari yang nggak punya temen dan dijauhi sama temen-temennya karena dia vampir dan ‘berbeda’ dari kebanyakan orang itu terinspirasi dari kisah masa kecilnya si Seok Woo sendiri yang emang susah bergaul juga.

Eh bentar.

Apa jangan-jangan sebenarnya.....

Seok Woo ini.....................................................

(menyelamatkan leher) (pakai pasmina)
*
*
Usai sesi ngobrol rame-rame itu, kelarlah ini acara, tapi gue masih penasaran pengen tahu lebih banyak soal Orange Marmalade yang drama. Karena kan sedari tadi kita lebih fokus ngebahas soal webtoon-nya. Gue juga sempat tweet apa ada yang penasaran sama drama-nya kayak gimana dari sudut pandang di webtoonist, akhirnya setelah minta izin buat ngobrol sama Seok Woo ke panitianya, dan minta tolong translator buat menambah jam kerjanya, gue bisa tanya-tanya soal apa yang mengganjal di hati gue.

Beberapa pertanyaan soal “Kenapa Seolhyun?” “Kenapa Yeo Jin Goo?” “Kenapa cerita dramanya beda sama webtoon-nya?” “Apakah kamu ikut nulis skenarionya juga?” “Bagaimana pendapat kamu soal rating yang nggak bagus?” dan “Inspirasi Baek Mari ini darimana sebenarnya?” keluar begitu saja. Termasuk juga “Kalau bukan Seolhyun dan Yeo Jin Goo, kamu maunya siapa?” pun gue tanyakan. Dalam 7 menit, beberapa pertanyaan itu terjawab walaupun mungkin tidak sesuai harapan.

Tapi yang lucunya adalah ketika gue tanya soal Baek Mari.

“Ada nggak idol atau artis Korea yang kamu liat dan bikin kamu mikir kalau ‘Oh! Dia ini si Baek Mari!’ kayak gitu?”

Dia langsung senyum-senyum kecil. Berubah jadi senyum-senyum geli. Berubah jadi seringai. Berubah jadi ketawa lebar.

Sambil malu-malu dia jawab, “IU.”

“NA DO IU JOHAYO!” gue langsung nyamber dan dia, satu orang Korea dari LINE cowok dan satu lagi orang Korea dari WEBTOON cewek langsung ketawa. Agnes di sebelah gue langsung yang teriak kenceng “IU OOOO IU,” sementara gue masih berdiri dengan bangga bahwa ternyata tidak cuma gue yang suka IU di ruangan ini.

Yoksi, IU memang sangat disukai di Korea Selatan. HAHAHAHAHAHHA.

Setelah mendengar pengakuan Seok Woo soal IU, gue pun mendadak membayangkan IU yang jadi Baek Mari bukan Seolhyun (walaupun gue suka sih Seolhyun aktingnya sebagai Baek Mari yang bengang bengong galau sendiri pas banget). Karena pada kenyataannya webtoonist-nya aja terinspirasi dari IU gitu kan (dan fakta bahwa gue ngefans IU jadi makin bikin seneng denger pengakuan ini wakakakakaka gajelas banget deh senengnya padahal Seok Woo ini juga nggak kenal sama gue).

Obrolan kita berjalan dengan lancar tapi gue nggak bisa nulis hasil dari obrolannya wkakakaka bagian dari kerjaan jadi mesti di keep dulu sampai waktunya tiba. Tapi overall sebagai seorang webtoonist yang terkenal di beberapa negara berkat aplikasi LINE WEBTOON, Seok Woo bukan sosok yang angkuh atau jual mahal. Kalau gue bilang, dia tuh kayak cowok introvert kebanyakan yang seneng banget kalau ketemu orang banyak dan kalau berbagi cerita soal apa yang dia sukai dia akan banyak omong.

Only introvert can relate. LOL

Karena dia tidak jual mahal seperti halnya idola-idola Kpop berkulit mengkilat kayak kapur barus itu, ketika gue ajak buat selfie dia mau-mau aja. Baik hati dan tidak sombong banget lah pokoknya Mas Seok Woo ini. Ramah tamah dan berbudi luhur juga sepertinya.
*
*
Buat yang mau ketemu sama Seok Woo, dia masih di Pop Con 2015 di Jakarta Convention Center sampai tanggal 9. Hari ini, Sabtu 8 Agustus dia bakalan stay di booth-nya LINE WEBTOON. Nanti hari Minggu, 9 Agustus dia ada di booth Korean Cultural Center. Yang hari Minggu akan ada sesi fansigning. Sayangnya gue nggak bisa dateng buat minta sign dan kemaren mau minta tapi gatau sign di mana jadi yaudah bukan rejeki.

Mungkin nanti rejekinya dapat tanda tangan IU atau Suho. Amin Ya Robbal Alamin.
*

Share:

5 komentar