Hobi Ngomong Sendiri dan Sama Benda Mati

*
Siapa di antara kalian yang hobi ngomong sendiri?

Siapa di antara kalian yang kalau sedang diam, kepala kalian nggak bisa ikut-ikutan ‘diam’ dan kosong tapi selalu berisik dengan pikiran-pikiran random yang datang entah dari mana, entah dari zaman apa, entah dari sudut mana, menyerang tanpa henti sampai pada tahap kalian mengeluarkan ekspresi dalam bentuk senyuman, tertawa, atau bahkan mengumpat tiba-tiba?

Misalnya pas lo lagi random jalan sama temen cewek lo yang niatnya lo pengen jadiin pacar, tapi tiba-tiba lo inget sebuah adegan di drama Korea yang gemesin banget, terus lo random ketawa sendiri dan berujung ditinggalin sama si cewek untuk selamanya.

Atau ketika lo lagi duduk ngetik berita di kantor, tiba-tiba aja lo kepikiran sama kekesalan lo terhadap seseorang yang enggak ngebales KakaoTalk lo dan kemudian lo tiba-tiba ngomong kenceng, “YAUDAH SIH GAUSAH DIPIKIRIN KAYAK YANG PENTING AJA!”

Kalau ada yang kayak gitu, chingu, kita sama. KITA SAMA! ARE YOU ME?!

(Gue sebelumnya pernah posting soal ‘Ngomong Sendiri’ di Facebook. Sekilas soal isi postingan ini bisa dibaca versi lebih pendeknya di sini)

Gue dari kecil punya kebiasaan ngomong sendiri. Belum sampai tahap yang gue punya teman khayalan, tapi gue biasa ngomong sendiri. Gue ngomong dengan apapun yang ada di sekitar gue. Biasanya gue akan bicara dengan buku harian.

Xixixi iya, sampai di usia seperti sekarang ini gue masih punya buku harian yang terkunci dengan indah di sebuah sudut di kamar gue. Bahkan blog ini sebenarnya juga salah satu bagian dari buku harian itu tapi dalam versi yang berbeda. Tapi buku harian ini belakangan dicuekin. Alasannya, mungkin karena menulis dengan tangan bukan lagi hal yang mudah dilakukan buat orang yang kesehariannya lebih akrab dengan keyboard laptop.

Selain dengan buku harian, gue juga biasanya ngomong sama handphone, laptop, dan beberapa benda lainnya yang sering gue bawa ataupun ada di kamar gue. Makanya itu gue selalu memberikan nama ke benda-benda ini supaya gampang kalau misalnya mau ngomong tuh refer ke siapa. Walaupun sebenarnya yang tahu juga cuma gue.

Dulu gue punya handphone Blackberry Gemini yang gue kasih nama Mario. Nama ini akhirnya gue hidupkan menjadi sosok seorang laki-laki misterius di sebuah cerpen yang gue tulis beberapa tahun yang lalu (judulnya 'Accidentally You' bisa dibaca di sini).

Pernah juga gue punya handphone LG yang gue kasih nama Luigi. Simple-nya sih ini saudaranya Mario jadi supaya nyambung aja. Lagipula LG ke Luigi juga deket jadi ya disambung-sambungin aja (profil singkat Luigi). Terus gue punya Samsung Galaxy Mini yang gue kasih nama Sammy – ini Samsung pertama yang pernah gue punya. Sammy diambil dari kata Samsung.

Kemudian gue ganti ke Samsung Galaxy Wonder yang gue kasih nama Wonnie – Wonder ke Wonnie kan deket yah? Wonnie akhirnya gue kasih ke kakak gue buat dijadikan bahan eksperimen.

Handphone gue yang sekarang sebenarnya belom ada nama resminya. Tapi bisalah dia dipanggil Suho karena gue kemaren sempat endorse salah satu online shop yang memproduksi hardcase dan gue dikasih yang gambarnya Suho. Karena gue bias Suho jadi yaudah nyambung aja. Walaupun kesannya alay tapi yaudah, emang pada kenyataannya gue alay.

Laptop gue yang pertama namanya Eci. Mereknya dulu Acer dan laptop ini adalah bekas kakak cowok gue yang akhirnya rusak di tangan gue. Setelah Eci gue ganti lagi dengan Acer yang lain namanya Ciera. Ciera juga rusak di tangan gue hanya dalam waktu dua tahun sejak gue beli.

Kemudian gue beli lagi laptop kali ini ASUS dan gue kasih nama Suzy—sesederhana itu Suzy terinspirasi dari kata ASUS, SUS, SUZ, SUZY. Setelah satu tahun setengah, Suzy pun rusak dan gue ganti (kali ini gratis dari ASUS—gue akan post ceritanya lain kali karena ngeselin jadi nggak sanggup menceritakannya ulang) dan gue pun memberi laptop baru ini dengan nama Junmin.

Oh iya gue juga punya kulkas di kosan yang gue kasih nama Mikael. Sebenarnya asal katanya dari Mikail sih. Kenapa akhirnya kulkas ini dikasih nama Mikael, simpel aja, sesuai dengan tugas malaikat Mikail yang mengatur rezeki buat manusia dan menurunkan hujan, kulkas ini berguna bagaikan pemberi berkah disaat kelaparan. Pemberi rezeki dalam bentuk makanan. Pemberi hujan dalam bentuk minuman ke tubuh kurus gue yang semakin hari semakin menua ini.

Halah.
*
**
Benda-benda ini adalah yang paling sering gue ajak ngomong. Ketika Mario dulu menyebalkan misalnya, gue selalu marah-marahin dia sampai akhirnya dia bosen dan pergi dari gue (dibeli temen gue). Luigi juga gitu, dulu sering gue marah-marahin karena lemot. Lemot parah sih LG ini. Akhirnya dia juga pergi dari gue dan dipake nyokap. Sementara handphone yang sekarang jarang gue marahin karena memang memuaskan kinerjanya. Tapi dulu Eci, Ciera dan Suzy sering jadi sasaran amarah. Dan ya akhirnya dia rusak juga.

Gue pribadi punya takdir yang nggak terlalu mulus dengan barang-barang elektronik. Mungkin memang sudah garis hidup gue ya nggak awet kalau make apa-apa. Elektronik yang seharusnya bisa digunakan maksimal lima tahun, mungkin di tangan gue hanya awet dua tahun saja. Di saat benda-benda ini berada di ambang kerusakanlah atau misalnya ketika mereka menunjukkan tanda-tanda akan rusaklah tempat gue sering banget ngajakin ngobrol.

“Kamu tuh kenapa sih? Salah aku tuh apa? Kamu tuh nggak pernah aku pake buat ngapa-ngapain loh, cuma buat SMS-an doang, KakaoTalk-an doang, kenapa sih cepet banget lemotnya? Kamu mau aku jual? Nggak mau kan? Kalo nggak mau yaudah gausah betingkah makanya!” kata gue suatu hari ke Wonnie.

Dan dia pun nggak lemot lagi selama beberapa jam. Tapi abis itu lemot sampai tiga bulan berikutnya.

Atau misalnya ketika Suzy bermasalah kemaren gue sampe yang bete banget, “Ya sekarang bebas deh terserah kamu aja kalo emang kamu mau rusak yaudah rusak tapi nggak usah nyebelin dan bikin repot!”

Tapi karena gue bilang kayak gitu, kenyataannya dia malah merepotkan. Empat bulan dikacangin sama ASUS Service Center adalah pengalaman paling buruk sepanjang gue hidup dan menggunakan gadget. Gue akan ceritakan detail soal ini nanti.

Bicara dengan benda-benda yang ada di sekitar gue bukan lagi menjadi sebuah hal yang aneh. Ini sudah jadi kebiasaan. Kalau misalnya barang-barang ini hilang atau nggak ketemu, gue pasti yang, “Loh? Mana si Suho? Junmin liat Suho nggak?” sambil bongkar-bongkar kasur. Padahal Junmin juga nggak bisa jawab sama sekali. “Suho yaaaaaaaa~” sambil terus nyari. Kalo udah ketemu biasanya, “Buset, di situ ternyata. Kemana aja? Puas mainnya?”

Freak? Iya. Gue emang se-freak itu. Mungkin abis ini gue direkrut jadi member The Freaks bareng Aliando.

Bicara dengan benda mati mungkin memang terdengar aneh. Lalu bagaimana dengan kebiasaan bicara sendiri yang (ternyata gue baru sadar) sudah gue lakukan sejak lama?

Mungkin beberapa dari kita sering mengeluarkan komentar-komentar spontan yang sebenarnya enggak diniatin buat diucapin tapi terucap. Seperti misalnya ketika kita lagi online shopping dan melihat benda yang mungkin menarik perhatian, terus kita yang, “EH YANG INI LUCU!” dan ekspresi semacamnya.

Atau mungkin ketika sedang buka timeline Twitter terus ada yang nge-tweet foto bias kita di Kpop dan kita akan, “ANJIR ANJIR ANJIR INI KAPAN ANJIR?!?!?!” padahal niatnya enggak terucap tapi tanpa sadar kita mengatakannya dengan suara lantang.

Dalam kasus gue, bicara sendiri bukan hanya karena alasan-alasan itu. Tapi karena kadang-kadang kepala gue nggak bisa berhenti “bicara” dan “membisikkan” hal-hal yang gue sendiri enggak tahu datangnya dari lama. Kadang-kadang memang, kepala gue memaksa untuk mengingat kenangan-kenangan masa lalu yang sudah terjadi dan kemudian bikin gue jadi yang, “APAAN SIH?! NAJIS!” karena kalau dipikirin sekarang, ternyata apa yang kita lakukan di masa lalu itu sememalukan itu.

Kayak misalnya kemaren gue tiba-tiba inget adegan ketika gue dipilih jadi ketua kelas di kelas Sosiologi di kampus dan gue nulis email gue di papan tulis dengan huruf besar dan email itu masih alay. Sebut saja kayak 1n1_3ma1Lny4_r0N@yahoo.com. Dan itu gue lagi jalan di Mall dan tiba-tiba, “IH! BANGKE BANGET SIH APA BANGET SIH!!!! NAJIIISSS!!!” dengan suara keras sampai temen gue noleh dan, “HEH LO KENAPA?!” dan gue hanya menjawab dengan lambaian tangan ala Syahrini.

Enggak cuma soal apa yang sudah terjadi, tapi kadang-kadang kepala gue suka random mikirin hal-hal yang sebenarnya juga nggak terjadi. Kalo yang ini lebih ke kayak pengadeganan sebuah khayalan yang juga datang secara tiba-tiba tanpa gue sendiri ada usaha untuk membuat atau memunculkannya.

Nah, kalo yang ini biasanya gampang banget jadi bahan flashfiction atau fanfiction atau cerpen.

Kayak kemaren, gue lagi naik Gojek dari kosan ke Sarinah dan mendadak muncul adegan di kepala gue. Adegan yang terjadi antara seorang cewek dengan sosok misterius yang ada di sampingnya. Jujur nih, gue pas itu beneran monolog dengan diucapin gitu kata-katanya di belakang driver Gojek yang Alhamdulillah dia nggak denger sama sekali (atau dia denger tapi dia nggak mau tahu) (atau sebenarnya dia tahu dan dia berencana buat ceburin gue ke rawa-rawa karena dia pikir gue gila tapi keburu sampe Sarinah jadi batal):
*
Michael berjalan mengendap-endap menyembunyikan sebuah kotak di tangannya. Kotak itu sudah dipegangnya sejak pagi tadi. Diputar-putarnya di kelas dengan tidak sabar. Seperti menunggu waktu kapan dia akan menggunakannya. Kotak itu istimewa. Sepertinya Michael sudah menyiapkannya sejak beberapa hari yang lalu. Bentuknya kecil, tidak lebih besar dari ponsel Samsung keluaran terbaru. Warnanya pink dengan pita berwarna biru muda. Ada kartu berbentuk hati yang tergantung di salah satu untaian pitanya. Di dalam kartu itu mengintip tulisan yang sepertinya ditulis tangan olehnya.

Mata Michael tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di pinggir lapangan basket. Wajah gadis itu terlihat lelah dan penuh keringat. Baju olahraganya basah dan sekarang dia sedang berusaha menghabiskan satu botol air mineral yang diberikan oleh salah seorang temannya yang lain yang juga menggunakan seragam tim basket. Michael berniat memberikan kotak itu pada sang gadis. Namanya Jane.

Dari kejauhan Michael sudah memberikan sinyal ke salah satu teman Jane yang duduk tidak jauh darinya. Sepertinya laki-laki berponi tanggung itu sudah mengatur strategi dengan teman Jane, seorang gadis lain yang rambutnya dikuncir kuda. Setelah teman Jane menangkap sinyal Michael, ia berusaha untuk membuat Jane berdiri dan membelakangi arah kedatangan Michael nanti.

Ketua kelas 11-3 itu kini sudah berada kurang lebih satu setengah meter dari Jane. Dia mulai berjalan dengan ujung kakinya. Mendekati Jane dari belakang dengan kotak berpita itu disembunyikan belakang tubuhnya. Dengan sekali sentuhan di pundak, Jane menoleh dan dia langsung tersenyum.

Airin sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia benar-benar tahu. Dia sudah mengikuti gerak-gerik Michael beberapa bulan terakhir. Apa istilahnya? Stalker? Sebut saja seperti itu. Semua media sosial Michael dibaca Airin dengan saksama. Tidak satupun dia lewatkan. Dan beberapa bulan terakhir yang ada di Path-nya hanyalah Jane, Jane dan Jane.

“Menyebalkan!” umpat Airin tanpa sadar. Sedari tadi dia duduk kursi beton di bawah pohon di depan gymnasium. Setelah empat bulan pendekatan, akhirnya Michael memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada Jane.

“Cowok jahat!” kata Airin lagi.

Dada Airin rasanya sesak. Bukan hanya karena dia melihat sendiri adegannya (Michael baru saja memberikan kotak itu kepada Jane dan Jane terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan—“BERLEBIHAN!” umpat Airin cukup keras sampai salah satu anak yang duduk di kursi beton lain di dekat situ menoleh kepadanya) tapi juga karena Airin sudah tahu hal ini akan terjadi sejak lama.

“Tunggu saja, aku akan menjadikan kau milikku!” tulis Michael di akun Twitter pribadinya (yang terkunci dan dibuat untuk diikuti oleh teman-teman dekatnya saja) (Airin tahu ini karena secara tidak sengaja dia berhasil membajak satu akun teman Michael yang sama sekali lupa bahwa dia punya Twitter).

Sejak membaca itu, Airin merasakan kesakitan yang aneh di dadanya. Persis seperti apa yang dirasakannya ketika dia melihat Jane kemudian memeluk Michael setelah mengangguk (yang diartikan Airin sebagai tanda setuju. Ya sekarang mereka sudah resmi pacaran).

“Cih! Cewek jalang itu benar-benar!” dia mengumpat lagi.

“Menyebalkan ya?” tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki dari sebelah telinga kirinya. Udara di sekitar situ terasa panas tapi aneh.

Airin mengangguk cepat dan menjawab, “Banget!”

“Kalau aku jadi kau, aku sudah menjambak rambut cewek itu. Membenamkan wajahnya ke kloset toilet cewek dan menekan tombol flush,” kata laki-laki itu lagi.

“Itu juga yang ingin aku lakukan sejak kemarin!”

“Apakah kau pernah berpikir untuk membunuhnya? Dengan begitu kau bisa mudah mendapatkan Michael,” nada bicara laki-laki itu terdengar bercanda tetapi kata-katanya sangat serius.

“Entahlah... aku sempat berpikir akan memotong lehernya ketika dia sedang tertidur di gymnasium. Kau tahu kan dia suka sekali tidur, cewek itu maksudku... dia... tukang tidur padahal dia cewek. Tsk.” Airin meremas ujung roknya.

“Lakukan saja. Tidak perlu usaha keras. Sekali gerakan dan tidak ada lagi yang menghalangimu untuk mendapatkan Michael,” Airin tidak berpaling dari Jane dan Michael yang sekarang menerima tepuk tangan dari puluhan orang yang ada di sana. Dia juga tidak melihat bagaimana ekspresi laki-laki itu ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Tapi Airin merasa laki-laki itu mengucapkannya sambil tersenyum.

“Aku menyukai Michael sudah lama. Tapi kurasa dia juga tidak mengetahui keberadaanku. Kau tahu kan, ada jenis manusia yang diidolakan banyak orang, tapi bertingkah seolah dia bukan siapa-siapa dan dia akhirnya tidak menganggap orang lain seistimewa bagaimana orang melihatnya,” timpal Airin lemah.

“Ya sekarang saatnya dia tahu bahwa kau bukanlah cewek biasa yang bisa dia abaikan. Buktikan kalau kau bisa melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya.”

Hening sejenak. Pikiran Airin dipenuhi dengan adegan-adegan seru seperti di sebuah film thriller. Bagaimana dia mengendap-endap seperti Michael tadi menuju tempat Jane berada. Bukan membawa sebuah kado melainkan pisau dengan ujung tajam yang siap menikam tenggorokan si cewek. Bagaimana kemudian Michael akan bisa didapatkannya dengan mudah karena sudah tidak ada lagi yang menghalangi. Sejauh yang Airin tahu dari pengalamannya menjadi stalker Michael, laki-laki itu tidak punya ‘cadangan’ kalau Jane misalnya menolak cintanya.

“Aku akan menunggu sampai kau mau,” tulisnya dalam sebuah kesempatan.

Airin tentu bisa saja membunuh Jane. Pikiran itu sudah ada sejak lama. Sejak pertama kali dia tahu Michael naksir anak basket itu.

Tetapi...

“Cinta itu... adalah kebahagiaan,” dia tiba-tiba teringat pada kalimat yang dibacanya dalam sebuah buku beberapa tahun lalu.

“Cinta itu adalah bahagia ketika melihat orang yang kau cintai bahagia... walaupun dia tidak bersamamu atau jadi milikmu,” kata Airin lagi.

“Cinta itu adalah mendukung orang yang kau cintai tanpa henti, tanpa berharap suatu saat dia akan membalasmu dengan cinta juga. Cinta itu.... adalah ketika kau duduk melihat orang yang kau cintai mengutarakan cintanya kepada orang yang dia cintai—dan itu bukan kau—lalu kau tersenyum karena mengingat semua pengorbanan yang ia buat sebelum ia mengutarakan perasaannya.” angin berembus pelan meniupkan ujung rambut Airin.

“Tapi semua itu tidak akan menyenangkan jika kau tidak memiliki orang yang cintai! Kau menghabiskan cewek itu, Michael akan jadi milikmu selamanya,” kata laki-laki itu lagi.

“Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika dia tahu aku hanyalah stalker aneh? Bagaimana jika kemudian dia malah membenciku ketika dia tahu aku yang menghabisi pacarnya? Bagaimana caraku untuk menutupi kejahatanku? Lalu bagaimana jika setelah kekasihnya mati, dia justru sedih dan frustrasi? Bagaimana jika dia juga memutuskan untuk mati juga? Lalu apa yang tersisa untukku?” Airin kini menautkan jari-jarinya dan meremasnya kencang.

“Cinta adalah ketika kau tidak menyakiti orang yang kau cintai dengan perbuatanmu. Cinta adalah membiarkan orang yang kau cintai merasakan kebahagiaan, meskipun kau bukan bagian dari kebahagiaan itu. Dan sebesar itu aku mencintai Michael.”

Airin menghela nafas panjang, menoleh ke kiri dan tersenyum ketika dia tidak melihat siapapun duduk di sana. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Michael dan Jane yang kini berpelukan (untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir) sebelum bangkit dari kursi beton itu dan kembali ke dalam kelas tepat sebelum lonceng pukul empat berbunyi.

 Lo mungkin mikir, “Bagaimana bisa gue monolog sepanjang di itu di belakang sopir Gojek?”

Iya, memang monolognya tidak sepanjang itu. Narasinya dibentuk belakangan ketika gue turun dari Gojek dan gue tulis di pikiran gue dulu. Tapi yang gue ucapkan di atas motor saat itu adalah setiap dialog yang diucapkan oleh Airin dan si laki-laki misterius yang muncul tiba-tiba di sebelahnya dan kemudian menghilang dengan tiba-tiba juga.

Se-random itu loh gue kalau ngomong sendiri. Tapi yang gue sukai dari ke-random-an itu adalah karena kadang-kadang (enggak selalu) bisa menghasilkan kayak gini. Cerita-cerita pendek yang nggak terlalu penting dan nggak terlalu bagus, tapi seru buat ditulis dan gue seneng aja nulisnya.

Pernah juga ketika gue lagi ada di Angkot 04 jurusan Depok – Pasar Minggu, gue kepikiran buat nulis satu fanfic Baekhyun-Suho-Yoon Sohee yang bener-bener kilat banget munculnya. Idenya datang ketika gue melihat seseorang lewat di depan angkot dan papasan dengan orang lain. Ceritanya kurang lebih kayak gini:
*
*
Di sana dia duduk.

Gadis itu.

Entah bagaimana caranya dia bisa ada di depan mata Baekhyun. Kereta itu penuh sesak bahkan Baekhyun sendiri tidak menyadari, kapan dia bergeser dari depan seorang nenek yang sedang menggerutu karena pemuda di depannya masih tetap duduk sementara banyak wanita yang berdiri, ke depan seorang pria berusia empat puluhan yang sepertinya sedang bersama dengan selingkuhannya (terlihat perbedaan usia seperti, er, 10 tahun?).

Mata Baekhyun tak beralih dari gadis itu. Lima belas detik pertama dia seperti tidak bernapas sama sekali. Gadis itu seperti menyedot semua oksigen yang ada di kereta itu. Dada Baekhyun seketika seperti sesak. Rasanya seperti di tekan-tekan sesuatu.

Dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat ke arah si gadis. Dia tidak peduli apakah si gadis tahu dia sedang diperhatikan. Tapi Baekhyun ingin menikmatinya. Menikmati apa yang dilihatnya. Sesekali gadis itu menyibak rambutnya yang panjang sebahu dan mengekspos lehernya yang putih bagai pualam.

Baekhyun cukup yakin dia manusia dan bukan vampir, drakula atau sejenis kelelawar liar yang berkeliaran di siang bolong seperti ini. Tapi itulah kali pertama dia merasa seperti lapar ketika melihat leher mulus itu. Lapar bercampur haus. Rasanya seperti bercampur aduk.

Baekhyun melirik ke luar jendela, peron stasiun sudah terlihat. Tiba-tiba dia merasa risau.

“Tolong jangan turun di sini!” ucapnya dalam hati.

Tentu saja dia ingin lebih lama menatap wajah cantik itu. Membiarkan imajinasinya bermain melihat bibir pink yang tiba-tiba tersenyum karena sedang membaca sesuatu di ponselnya. Baekhyun ikut tertawa pelan. Buru-buru menutup mulutnya dengan tangan ketika dia merasa pria yang sedang berselingkuh di depannya itu mulai memerhatikannya yang bertingkah aneh.

Kereta berhenti. Baekhyun semakin khawatir. Hampir seisi gerbong turun saat itu. Baekhyun bahkan sempat kehilangan keseimbangannya karena terombang-ambing penumpang yang berjalan melewatinya. Dia kehilangan fokusnya terhadap gadis itu. Semoga saja setelah ini dia masih…..

Oh Tuhan masih menyayanginya!

“Aku akan ke gereja malam ini! Tuhan tunggu aku,” teriak Baekhyun dalam hatinya.
Gadis itu masih di sana. Masih bergerak anggun dalam setiap apa yang dia lakukan (baru saja dia menyumbat telinganya dengan earpiece dan Baekhyun mengeluarkan suara seperti jeritan lemah.

Bahkan… Hanya memasang earpiece saja dia terlihat anggun. Pikirnya.

Siapa yang bisa menolak gadis mempesona seperti itu? Pikir Baekhyun. Pasti banyak orang yang berani mati untuk mendapatkannya.

Saat itulah Baekhyun merasa yakin dia siap menikah. Menikahi gadis itu. Apakah usia 21 tahun masih terlalu muda untuk menikah? Pikirnya. Dia pernah membaca beberapa kali, sesuatu tentang pernikahan usia muda yang dilakukan di beberapa negara. Dia bisa menganut aliran itu kalau dia mau. Dia mau melakukan apa saja untuk gadis itu. Bahkan menikahinya sekarang juga. Atau apapun yang jelas agar dia bisa memiliki gadis itu selamanya.

Waktu berlalu terlalu cepat. Sekitar tiga atau empat stasiun sudah terlewati dan gadis itu masih di sana. Artinya mereka akan turun di stasiun yang sama karena memang stasiun ini adalah yang terakhir.

Assa! Dia bisa membuntuti gadis itu seharian ini. Suho hyong pasti tidak akan terlalu mempermasalahkan kalau tiba-tiba Baekhyun membatalkan janji bertemu hari ini. Suho hyong orangnya tidak bisa marah, bukan? Pikirnya. Baiklah. Dia sudah memutuskan untuk mengikuti gadis itu kemanapun dia pergi hari ini.

Karena kereta sudah hampir kosong, Baekhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari posisi duduk tak jauh dari si gadis. Ketika stasiun terakhir sudah semakin dekat si gadis terlihat siap-siap akan turun. Baekhyun buru-buru berdiri dan berjalan ke depan pintu bersiap untuk turun terlebih dahulu agar tidak terlihat seperti membuntuti. Saat itulah ponselnya berdering dan kereta berhenti.

“Ya halo?” jawab Baekhyun. Pintu kereta terbuka. Dia bergerak turun dari kereta dan berjalan beberapa langkah.

“Kau sudah sampai?” tanya orang di ujung telepon.

“Ya hyong aku baru saja sampai.” Ah tolol dia seharusnya bilang dia membatalkan janjinya hari ini. Bukankah tadi dia sudah memikirkan hal itu? Dia menjejakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Harusnya dia membuntuti gadis cantik tadi.

BODOH!

Baekhyun menoleh ke belakang, lalu ke depan lagi. Lalu ke kiri dan ke kanan. Dia kehilangan jejak. Gadis itu tak ada di sana. Di mana-mana.

“HYONG! AISH!” teriaknya.

“KENAPA TIBA-TIBA BERTERIAK?!”

“Ah sudahlah.”

Baekhyun mematikan ponselnya dan berjalan keluar dari stasiun. Setengah berharap dia akan bertemu dengan gadis itu entah di depan stasiun atau dimanapun.

Suho tiba-tiba mengiriminya pesan bahwa dia sedang berada di sebuah kafe tak jauh dari stasiun tempatnya sekarang. Baekhyun membalasnya dengan ‘oke aku akan segera kesana’ sambil terus menggerutu.

Hyong kau memang perusak suasana. Dasar ikan teri pendek.” Baekhyun menjejalkan ponselnya ke dalam kantong celana jins-nya dan berjalan cepat keluar stasiun.

Tak ada tanda-tanda gadis itu tak ada sama sekali. Sambil merengut Baekhyun berjalan mencari kafe sesuai alamat yang diberikan Suho dan disanalah dia duduk, laki-laki pendek berkulit seputih susu dengan senyum seringai aneh.

“Kau terlihat kesal, ada apa?” tanya Suho yang membuat Baekhyun semakin sebal.

Hyong kau harus membayar semua yang aku makan hari ini,” ujar Baekhyun sambil mengenyakkan dirinya ke kursi sambil menghela napas. Suho mengernyit tidak mengerti sampai akhirnya,

“Oppa!”
“Oh, Sohee!”

“Kau sudah lama menunggu?” tanya gadis bernama Sohee itu pada Suho.

“Tidak juga.” Suho menoleh ke Baekhyun yang memejamkan matanya sambil menggerak-gerakkan bibirnya dengan aneh. “Baekhyun-ah, aku ingin mengenalkanmu pada Sohee.”

Baekhyun membuka matanya dalam gerakan malas dan berdiri (juga dengan gerakan malas) sebelum dia mematung dan terdiam.

“Dia pacarku.” Kata Suho.

“Halo, Yoon Sohee.” Sapa gadis berbibir pink, berambut indah, berleher menawan, berpenampilan anggun dan ingin dinikahi Baekhyun beberapa menit yang lalu, mengulurkan tangannya.

Salah satu kebahagiaan yang nggak bisa terungkapkan dengan kata-kata adalah ketika gue bisa menuliskan setiap pikiran-pikiran random yang muncul di kepala gue dalam sebuah cerita semacem dua cerita di atas. Tapi seringkali enggak bisa. Kenapa? Enggak tahu.

Banyak ide-ide yang muncul pada akhirnya hanya berakhir dengan dialog nggak penting antara si A dan si B yang bicara lewat monolog gue. Dan anehnya, dialog si A dan si B (yang sosoknya hanya nyata di kepala gue ini) selalu muncul ketika gue sedang ada di jalan. Mostly ketika jalan kaki dari kantor ke kosan. Yang berarti sepanjang jalan itu gue akan ngomong sendiri sambil jalan.

Diliatin orang? Jangan tanya. Setiap kali gue lagi buka mulut buat ngomong dan ada yang sadar gue lagi ngomong sendiri, gue akan ketawa ngakak banget sampai kosan. Nggak paham. Tapi apakah kemudian gue merasa malu dengan hal itu? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHA SAYANGNYA ENGGAK.

Gue tahu ini terdengar aneh, tapi ini beneran terjadi. Gue memang sering bicara dengan diri gue sendiri kadang-kadang, bahkan ketika karakter-karakter fiksi di kepala gue nggak muncul, gue suka bicara dengan diri gue sendiri.

“Ron, harusnya tuh gini, bukan gitu. Harusnya lo lebih begini bukan begitu.”

Ketika misalnya gue ngetweet hal-hal yang sensitif soal EXO misalnya, gue selalu berusaha untuk baca ulang tweet-tweet gue untuk mengevaluasi apakah berlebihan atau enggak. Dalam proses ini gue bisanya yang, “Liat lagi, siapa tahu emang menyinggung,” “Iya iya bentar gue backtrack,” “Yang ini kali yang menyinggung,” “Masa sih? Bukannya biasa aja?” “Hmm bener juga, mungkin yang itu?” “Iya yang ini sih kayaknya,” “Kok bisa sampe bikin orang marah gitu loh?” “Ya mungkin simply because I mentioned Kris,” “Oh bener juga. Berarti besok-besok gausah,” “Oke.”

Dan percakapan itu benar-benar terjadi, iya.

Selain itu, biasanya pikiran-pikiran random yang berujung dengan ngomong sendiri ini juga datang menjelang tidur. Pas kecil biasanya gue selalu melakukan ini untuk membantu gue buat tidur lebih cepat. Konsepnya sama kayak lo dengerin dongeng sebelum tidur gitu. Bedanya, ini dongengnya lo karang sendiri dan lo menceritakannya sendiri di dalam kepala lo. Karakter-karakternya lo bikin sendiri, bebas, siapapun yang lo mau. Karena gue biasanya kayak gitu.

Gue akan menggabungkan berbagai macam karakter yang gue tonton di kartun televisi, telenovela, novel yang gue baca dan beberapa komik yang karakternya memang menarik. Kemudian gue bikin dunia sendiri yang sebagian besar berujung pada sebuah rumah berlantai dua yang isinya Doraemon, Sailor Moon,  salah satu karakter dari komik ‘To Be Isami’, pemeran utama ‘Amigos X Siempre’ dan beberapa personel Westlife.

Mereka ngobrol, dengan dialog yang gue buat sendiri tentu saja, sambil main Play Station—yang gue nggak pernah punya ketika gue kecil—di ruang tamu sampai gue terlelap.

Gue nggak pernah ngeles kalau misalnya orang bilang gue ‘gila’ atau freak karena gue sering ngomong sama benda mati atau bicara sendiri. Ya, bebas aja sih orang nge-judge gue, sebebas gue nge-judge orang yang lewat di depan gue dengan tindikan dan tato misalnya. Nggak ada yang bisa ngelarang otak kita untuk berpikir buruk kecuali kita sendiri. Hak orang untuk nge-judge kita, hak kita juga untuk nggak peduli dengan judgement itu.

“Berbicara kepada diri sendiri bisa merupakan hal sangat normal, dapat pula merefleksikan persoalan psikologis yang memerlukan perhatian serius. Kita sendiri yang dapat menetapkan, apakah yang terjadi pada kita merupakan hal wajar saja, atau sudah berlebihan sehingga mengindikasikan kekacauan batin yang memerlukan bantuan ahli untuk mengatasi?” demikian yang ditulis di Kompas Health Online pada 12 Juni 2011.

Mungkin gue butuh bantuan ahli. Tapi sejujurnya yang sangat gue butuhkan saat ini adalah liburan dan pulang kampung.
*


Share:

49 komentar