KaosKakiBau ke New York [Part 2]: Makan, Makan, Makan!

*
Enggak pernah kebayang sebelumnya untuk bisa melakukan perjalanan jauh ke New York dalam rangka kerjaan. Selama dua tahun lebih kerja di tempat yang sekarang, dikirim ke Singapura saja sudah Alhamdulillah. Men, siapa sih yang enggak mau ke luar negeri gratisan?!

Memang sih buat kerja, bukan liburan. Tapi kesempatan emas nggak datang dua kali! Setelah pekerjaan selesai kan berarti bisa sekalian liburan. Hidup seadil itu kok. Tuhan se-Bijaksana itu kok.

Kesempatan untuk terbang ke luar negeri gratisan itu tentu aja enggak datang tiap hari. Pernah kepikiran untuk jalan-jalan ke luar negeri dengan ongkos sendiri, tetapi ujung-ujungnya selalu jadi beban. Gue bukan tipikal orang yang rela buat ngabisin uang untuk liburan sebenarnya. Bahkan untuk beli baju aja gue masih mikir-mikir. Di Indonesia, liburan gue yang paling jauh ya Lombok. Pulang kampung. Kalo enggak ya paling gue kabur ke Bandung.

Hehehe. I'm in love with the city. Bandung I mean... too many memories. #baper

Gue juga tipikal orang yang enggak terlalu doyan menghabiskan uang untuk beli makanan. Kadang-kadang memang iya, gue akan beli makanan yang lucu-lucu dengan harga fantastis demi untuk mengikuti pergaulan. Kata orang sih biar hits. Ada banyak tempat makan baru di Jakarta yang menyajikan menu-menu kreatif. Menggiurkan buat di-Instagram. Padahal rasanya sebenarnya B aja.

Biasa aja maksudnya.

Karena itulah gue nggak berhenti mengucap syukur ketika gue akhirnya dikasih kesempatan untuk ke New York ini. Gue jadi bisa mencicipi berbagai jenis makanan yang enggak pernah gue makan sebelumnya. Soalnya, gue terbang dengan Business Class.

BUSINESS CLASS!

Buat anak kampung seperti gue, ini adalah pencapaian luar biasa. Waktu gue dikasih tiket sama penyelenggara acara (namanya Mbak Galih dan mbak Debora) via email, gue sempat bengong lama banget. Lama banget sampai-sampai matahari yang baru terbit tiba-tiba saja sudah terbenam (okelebay) karena gue sama sekali nggak paham sama tulisan yang ada di tiket itu kecuali tulisan Business Class-nya. Buset.... ke New York aja udah kayak mimpi jadi nyata, mana lagi naik pesawat kelas bisnis, gimana nggak mimpi jadi nyata dua kali.

Tapi sebenarnya mimpi naik business class gak pernah muncul di kepala sih.

"Perjalanan ke sana capek banget Ron! 20 jam lebih di pesawat itu yang bikin males," kata temen gue yang sebelumnya pernah liputan juga ke Amerika. "Ngatasin jetlag-nya ketika lo baru mendarat terus langsung kerja itu juga agak-agak bikin bete," lanjut dia.

First of all, gue nggak pernah ngerasain jetlag karena perjalanan dengan pesawat paling lama yang pernah gue lakukan adalah 2 jam setengah dari Jakarta ke Lombok (dan sebaliknya). Perbedaan waktu juga cuma satu jam jadi pasti enggak juga berasa jetlag. Ini kemudian membuat gue penasaran seperti apa jetlag itu. Gue berharap merasakannya ketika sampai New York nanti.

Tapi kemudian teman gue itu melanjutkan, kalau terbang 20 jam dia kemaren naik kelas ekonomi. Ketika dia denger gue naik kelas bisnis, dia jadi yang kayak, "Oh yaudah berarti enak lah santai banget bisa tidur." gitu. Sama sekali enggak kebayang. Soalnya gue cuma modal naik Lion Air ekonomi yang tempat duduknya nggak kalah sempit dari tempat duduk di metro mini 75 jurusan Pasar Minggu - Blok M. Wah ada banyak pengalaman baru di perjalanan ini berarti ya? Batin gue.

Belum lagi bos gue yang kemudian memberikan insight lain yang sangat membantu. SANGAT SANGAT MEMBANTU.

"Kalau lo di business class, lo bisa nunggu di Lounge. Di sana lo bisa makan sepuasnya."

Kalimat "lo bisa makan sepuasnya" itu sudah sangat membahagiakan. Sangat-sangat membahagiakan. Dude, makan gratisan kayak di kondangan itu adalah mimpi setiap anak kos! Ekspektasi gue akan perjalanan ini akhirnya setinggi-tingginya. Kemudian gue memutar lagu Peterpan - Khayalan Tingkat Tinggi.

Pihak Discovery membeli tiket business class Qatar Airways untuk perjalanan ini. Yang berarti gue akan transit di Doha, Qatar, sebelum nanti lanjut dengan pesawat yang berbeda ke Bandara John F. Kennedy di New York. Semuanya terasa masih enggak nyata sama sekali ketika gue harus packing dengan koper tua berwarna merah yang dulu gue pakai pindah dari Lombok ke Jakarta di tahun 2009. Semua masih seperti mimpi.

(DREAMS DO COME TRUE GUYS! CINDERELLA IS NOT A BITCHY-LIAR!)

Bahkan ketika gue pesen taksi dan bilang ke sopirnya kalau gue akan terbang ke New York, rasanya kayak omongan sampah yang dibuat-buat. Ngerti kan kayak obrolan sok-sokan yang lo lakukan sama temen lo ketika lo bilang, "Eh gue semalem di KakaoTalk sama Luhan dia curhat soal album barunya gitu!"

Iya gue ngerasa nyebutin kata New York itu kayak sesampah obrolan itu.

"Jauh aja mas, kerjanya?" kata sopir taksi Blue Bird yang gue pesan malam itu.

"Iya pak. Ini pertama kali nih saya terbang jauh. Berasa alay," padahal memang alay.

Enggak berapa lama dari kosan gue ke bandara dan gue diturunin di terminal keberangkatan. Jujur aja sih sebenarnya ini gue juga enggak ngerti kalo misalnya abis dari sini gue harus ke mana. Soalnya pas liputan ke Singapura sama ke Malaysia pertengahan tahun ini dan akhir tahun lalu, gue bareng sama beberapa jurnalis yang lain jadi gue tinggal ikut aja mereka ngapain gue ikutin.

Tapi kali ini bener-bener yang sendirian. Gue harus menunjukkan kalau gue bisa dan nggak malu-maluin. Hahahaha padahal pas baru masuk ke lokasi check in aja udah malu-maluin karena nggak bisa nemuin di mana counter check in Qatar Airways. Gue jalan dari ujung A ke ujung B sampai dua kali bolak-balik. Gimana nggak kesel dan capek duluan. Belum juga sampai Lounge.

"Belom dibuka mas. Tunggu aja," kata petugas bandara ketika gue tanya. Oh tentu saja belum dibuka. Penerbangan gue aja Minggu jam 00:20 WIB. Sementara gue udah sampai bandara jam 20:00 WIB (hari Sabtu). Itu kayak kebalikannya banget jamnya.

Karena ini pengalaman pertama gue ke luar negeri jauh dan sendirian, gue juga nggak mau bermasalah dengan bagasi. Gue membawa barang-barang yang sama sekali tidak akan terdeteksi bahaya di dalam koper. Sementara ransel gue isinya cuma handphone, power bank dan segala perabotan kabel dan juga laptop sama buku Ilana Tan. Gue juga berusaha untuk memastikan sejelas-jelasnya bahwa koper gue akan sampai di New York sama kayak gue, nggak nyasar ke Rumania atau Helsinki.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on

*
"Jadi kopernya akan saya kirim langsung ke New York. Nanti di Qatar waktu transit, mas nggak perlu cari kopernya. Kopernya akan diambil di JKF ya mas," kata mbak-mbak di loket check in.

Berarti aman. Di Qatar bisa puas ngalay tanpa perlu memikirkan koper.

Setelah berhasil check in sendiri, gue yang sama sekali tidak tahu menahu soal Lounge untuk Business Class yang disebut-sebut sama bos gue kemaren berusaha buat mencari informasi ke mbak-mbak yang ada di counter check in.

"Iya jadi nanti saya print-kan undangan buat ke Lounge-nya, mas bisa tunggu di situ sampai jam keberangkatan. Gate-nya dekat sama Lounge." kata si mbak-mbak. Gue mengurungkan niat untuk bertanya soal apakah gue bisa makan sepuasnya di sana demi untuk menghindari malu.

Gue pun berjalan menuju imigrasi dan akhirnya paspor kosong gue itu distempel dengan cap baru. Lumayan buat nambah-nambah koleksi stempel kan ya. Setelah itu gue jalan ke Lounge dan....

Yah....

Gue lihat Margo City aja udah berurai air mata. Ketika gue berdiri di depan pintu masuk Lounge, gue menahan diri untuk tidak alay walaupun akhirnya gue alay juga. Foto-foto paspor dan boarding pass di depan pintu Lounge. LOL
*
*
Ternyata Business Class lounge di Jakarta ini lumayan juga. HEHEHE kenapa gue bilang lumayan? Karena ketika mendarat di Doha, gue menemukan yang lebih bikin alay lagi HEHEHE

Dari depan penampilannya memang kayak restauran gitu. Pencahayaannya redup dan nuansanya tenang. Tidak disarankan menunggu sambil nonton fancam EXO di Dome ataupun nonton cover dance kesayangan di sini. Pekikan tertahan sekecil apapun akan terdengar suaranya dan akan sangat mengganggu.

Gue masuk dan langsung cari tempat duduk. Tempat duduk pun terbagi jadi beberapa bagian. Ada bagian yang buat keluarga jadi lebih lebar dengan sofa lebih banyak, ada yang personal dengan dua kursi dan satu meja, ada yang pribadi buat ngetik dan ada colokan plus password internet di masing-masing mejanya. Gue memilih yang terakhir dengan alasan yang sudah sangat jelas.

Suasana di dalam tentu saja lebih nyaman (sejuta kali deh ya jelas) daripada ruang tunggu kelas ekonomi. Ya iyalah. Di sini internet kenceng banget, adem, kalo pipis ninggalin barang di kursi nggak bakalan takut ada yang rampok. Bisa ke kamar mandi yang nyaman juga yang setiap kali kita pipis langsung dibersihin sama petugasnya (nggak dicebokin kok tenang aja). Dan yang paling penting dari semuanya adalah BISA MAKAN SEPUASNYA!

Di hari keberangkatan itu gue sebenarnya bangun cukup siang. Sekitar jam 9-an? Oke ini sih sebenarnya itungannya masih pagi untuk hari Sabtu. Alasannya karena di hari keberangkatan itu gue harus menghadiri wisuda Dito di Balairung UI, Depok. Paginya gue nggak sempat sarapan jadi gue rapel sama makan siang. Di sana gue makan Yoshinoya. Padahal niatnya nih, seharian ini gue nggak akan makan jadi pas di Lounge nanti gue bisa mengisi perut gue sampai mencret. Tapi ternyata naik Go-Jek dari Jakarta ke Depok bikin laper juga. Dan naik Go-Jek balik dari Depok ke Jakarta bikin Yoshinoya-nya menguap juga bersama keringat. Alhasil perut gue kosong lagi ketika sampai di Lounge.

LEBARAN TIGA KALI NI PUJI DAN SYUKUR KEPADA ALLAH SWT!

Gue memutuskan untuk melepaskan jaket merah bertuliskan huruf R yang gue pakai lalu menyampirkannya ke sandaran kursi. Supaya keliatannya kayak keren banget gitu. Ransel gue juga gue turunin dan taruh di bawah meja. Lalu dengan belagak (LOL!) gue berjalan pelan dengan gaya jalan American Next To Model ke arah meja makanan.

"Bener-bener bisa makan apa aja nih? LIKE APA AJA NIH?!" kata gue sambil ketawa-ketawa sendiri. Gue bersyukur hari itu orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing jadi nggak merhatiin sosok pendek yang mencoba terlihat tinggi dengan insoles 5 cm di dalam sepatunya yang sedang berjalan ke meja makanan.

Waduh... Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Sekali lagi, anak kosan pasti bisa mengerti bagaimana perasaan gue ngeliat makanan-makanan gratis ini.

Di meja paling panjang yang ada di ruangan itu ada makanan yang masih hangat. Dari ujung ke ujung ada nasi putih, opor ayam, ada spaghetti juga dan beberapa makanan lain yang gue nggak cek satu-satu karena kepincut duluan sama opor ayam dan spaghetti. Ini masalahnya, gue suka dua-duanya tapi dua-duanya bukanlah makanan yang bisa di mix & match-kan. Tapi karena gue nggak mau rugi (maklumin aja anaknya kampungan banget) akhirnya gue ambil dua-duanya dan memposisikan mereka bersebelahan di piring. Mengkombinasikan pasta dengan opor ayam untuk pertama kalinya.

Iya, gue emang semaruk itu. Jadi maafin aja. Dan pas gue makan ternyata rasanya nggak enak. Tapi tetep aja makanannya gue abisin.
*
*
Spaghetti-Opor selesai, waktunya makan dessert. Bagian paling menyenangkan dari makan gratis adalah ya ini, ngunyah yang manis-manis. Gue ambil beberapa yang warnanya lucu-lucu dan yang kira-kira enak di lidah. Gue ngunyah terus dan terus dan terus sampai akhirnya waktu boarding sudah dekat. Suasana hati gue kemudian berubah 180 derajat. Rasanya kayak makanan-makanan tadi mau keluar lagi saking deg-degannya.

Parah sih pas mau pesawat gue kayak gemeteran. (1) Ini pertama kalinya naik Qatar Airways, (2) Pertama kalinya bakalan terbang tengah malam ke negara yang sama sekali gue nggak ngeh keberadaannya selama ini, (3) Pertama kalinya terbang delapan jam di atas langit dan akan memasuki zona waktu yang perbedaannya lebih cepat empat sampai lima jam.

Masya Allah.

Jujur aja selain gampang laper, baper dan juga kampungan to the max, gue adalah orang yang parnoan. Parah banget parnonya. Takut aja kalau pesawat yang gue naikin itu tiba-tiba nggak mendarat di Doha tapi di Alaska. Kalau mendaratnya selamat sih nggak apa-apa. Tapi kalo mendaratnya di Samudera Atlantik.

Na'uzubillahiminzalik.

Gue pake celana pendek malam itu dan di dalam celana itu gue pake celana lain lagi yang lebih pendek dari itu karena celananya emang agak kedodoran. Gue memutuskan untuk tidak menggunakan ikat pinggang karena pengalaman pas ke Singapura dan Malaysia, setiap lewat metal detector ikat pinggang harus dicopot dan itu makan waktu. Jadi mending gue nggak usah pake sekalian. Karena pake celana pendek, otomatis bulu kaki kemana-mana. Tapi bulu kaki ternyata berguna untuk menghalau angin masuk ke kulit. Jadi agak berasa anget.

Sampai di depan pintu pesawat, gue disambut oleh mbak-mbak cantik pramugari Qatar Airways yang langsung minta diperlihatkan boarding pass untuk diberitahu lokasi tempat duduknya. Kalau biasanya gue naik ekonomi Lion Air belok kanan, kali ini beloknya ke kiri (kebetulan untuk pesawat yang ini). Deg-degan masuk ke ruangan kelas bisnis kayak apa. Pas udah di sana....

hehehe kampungannya keluar lagi.

"ASTAGA LUAS BANGET!"

"ASTAGA LEBIH BESAR DARI KOSAN GUE!"

"ASTAGA KURSINYA BESAR BANGET!"
*
*
"ASTAGA ADA LAYARNYA! BISA NONTON DONG YA!"

Setelah naruh barang di atas kepala

"ASTAGA RUANG PENYIMPANAN PRIBADI!"

dan duduk...

"ASTAGA KURSINYA ADA BANYAK TOMBOLNYA!"

Pas gue pencet salah satu tombolnya...

"ASTAGA SENDERANNYA BISA BERGERAK MAJU MUNDUR!"

Pas gue pencet tombol yang lainnya...

"ASTAGA KURSINYA BERUBAH JADI KASUR!"
*
*
Perasaannya campur aduk. Antara mau ketawa tapi malu. Mau senyum-senyum terus takut dikira freak. Tapi perasaannya udah amazed banget sama apa yang ada di situ. Semua yang ada di situ bikin gue nggak bisa nggak heboh. Rasanya kayak ketemu Suho di pinggir jalan, dikasi tanda tangan, abis itu pengen spazzing habis-habisan. Pengen banget spazzing karena duduk di kursi pesawat kelas bisnis yang bisa jadi kasur.

Mau nangis. Kuasa Allah.

Nggak lama setelah duduk, gue disamperin sama pramugara (oke ini pertama kalinya gue dilayani oleh seorang pramugara setelah selama ini hanya mendengar saja istilahnya). Masing-masing row tempat duduk akan dilayani oleh satu pramugara/pramugari yang bisa "disuruh-suruh" dan bisa "diperintah-perintah".

(Dialognya gue tulis dalam bahasa Indonesia aja)

"Halo bang, selamat malam, selamat datang di Qatar Airways. Terima kasih sudah mempercayakan penerbangan Anda bersama kami. Nama saya Jari (serius ini namanya Jari. Nggak kok, nggak ada kata 'Tengah' setelah namanya). Ada yang bisa saya bawakan mungkin sebelum terbang? Jus jeruk atau lemon mint?"

Sebenernya pengen bandrek sama STMJ soalnya dingin.

"Lemon-mint please," kata gue sambil tersenyum. Kemudian dia nawarin lagi apakah mau dibawain anduk anget atau anduk dingin. Tapi gue salah denger. Gue pikir itu adalah lanjutan dari pertanyaan lemon-mint. Jadi gue minta aja yang anget.

"Oke tunggu sebentar ya," katanya.

Sementara dia pergi, gue menginspeksi semua bagian dari kursi itu. Di sana ada bantal, ada selimut sama ada alas tidur. Tempat tangan yang di sebelah kanan (kebetulan seat gue yang sebelah kiri dekat lorong) ada tempat penyimpanannya. Pas di pencet, isinya botol air minum. Di bagian lain lagi ada tempat penyimpanan headphone. Nah di atas tempat tangan itu ada tas tangan kecil warna hitam. Gue pikir itu tas orang yang ketinggalan atau tas orang yang duduk di sebelah gue. Ternyata itu emang complimentary dari maskapainya.

Mau ketawa. Hampir aja itu gue mau laporin ke Jari. Kalo gue laporin ketauan kampungannya.

Pas gue buka, tas itu isinya lipbalm, parfum botol super kecil dari Giorgio Armani, kaos kaki warna hitam (nggak bau pastinya), sama penutup mata buat tidur. Lumayan buat souvenir. Karena gue nggak menggunakannya akhirnya gue langsung masukin ke tas aja. Gue keluarin benda-benda yang sekiranya akan gue butuhkan seperti hape, kamera, powerbank dan buku Ilana Tan yang gue bawa itu.
*
*
Jari kembali dengan lemon-mint yang baunya udah enak banget dan pas gue minum gue berasa pengen nangis lagi. Kemudian dia juga kembali dengan gulungan berwarna putih yang di taruh di nampan kecil.

Tunggu bentar ini apa? Apakah ini risoles?

"This is your hot towel sir." katanya.

"Oalah."

"Ada lagi yang bisa saya bantu, bang?"

"Kayaknya sih nggak ada ni."

"Udah tahu belom cara pengoperasian kursinya?"

Nah bang Jari pengertian banget! Tau aja gue kampungan kan. Overall sih gue ngerti cara mengoperasikan kursinya karena tadi sebelum dia dateng gue sempat pencet-pencet. Yang gue bingung sekarang adalah, di mana meja buat makan?

"Maybe you could tell me how to ngeluarin the table," kata gue.

"Oh table-nya is over here, you tarik aja ini, nanti dia out. Kalo mau lipet, you do like this, lalu dia masuk,"

"Ooooh..."

"Yauda nanti kalau ada lagi tinggal panggil aja nama saya, Jari," dia nunjukkin nametag-nya. "Atau pencet tombol di remote control ya. Saya akan langsung datang."

Bagaikan Superman ya. Gue manggut dan dia kemudian pergi. Sementara itu gue menghabiskan lemon-mint itu dengan berbahagia lalu menggunakan hot towel-nya dengan sok ngerti. Nggak lama setelah itu Jari balik lagi kali ini nganterin menu makanan.

Gue perhatikan sebelum dia ke meja gue, ada beberapa lansia di kursi yang lain. Dia dengan sabar ngejelasin satu-satu cara pengoperasian kursi dan berbagai hal lainnya. Beda ya emang pelayanan kelas bisnis maskapai internasional sama pelayanan kelas ekonomi maskapai lokal (kecuali Garuda mungkin).

Gue buka-buka nih menu makanannya. Kata bos gue, makanan di pesawat bisa dipesen berkali-kali. Jadi ini artinya gue akan makan banyak lagi. Walaupun demikian, ekspektasi makanan di pesawat janganlah terlalu tinggi. Karena kembali lagi kepada fakta bahwa semuanya adalah makanan beku yang dihangatkan di microwave. Meski demikian, gue tetap excited.

Seperti halnya makanan di restauran bintang lima, di sini juga berlaku sistem makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup. Ada beberapa pilihan makanan pembuka tapi pas itu gue sekip aja (sebenarnya karena gue juga enggak tahu apakah itu boleh dipesen atau kita harus makan yang main course aja LOL). Gue malam itupun pesan pasta. Lagi-lagi pasta. Karena menu yang itu ada tulisan recommended jadi yaudah gue pesen yang itu aja. Makanan penutupnya kalau enggak salah malam itu kue coklat dan es krim. Sebenarnya bisa pesan dua-duanya tapi lagi-lagi karena gue nggak tahu gue pesan kue coklat aja.
*
*
Nah, minuman nih sekarang. Hihihi. Seperti halnya di pesawat yang menyediakan makanan seperti Garuda, ada banyak pilihan minuman. Mulai dari kopi dan teh, coklat panas, sampai wine. Kalau misalnya wine itu tidak beralkohol dan merupakan salah satu khamr mungkin gue akan pesan segelas dua gelas. MEN WINE ITU MAHAL DAN DI SINI BISA MINUM GRATIS! REFILL PULA! Tapi karena tentu saja kalau minum alkohol berarti solat gue nggak diterima selama 40 hari dan itu sama aja dengan kehilangan arah hidup, akhirnya gue pesan satu minuman yang terlihat seperti wine tapi alcohol free. Gue lupa namanya. Tapi penyajiannya dengan gelas tinggi yang membuat gue terlihat sangat gaya ketika memegangnya.

Mimpi aja nggak pernah ni pegang gelas kayak gini ni. Gimana dong ya.

Tapi pas diminum, rasanya nggak enak. Lebih enak extra jos campur susu. Ya naik pesawat boleh kelas bisnis tapi selera tetap pengkolan.
*
*
Karena perjalanan ke Qatar memakan waktu sekitar 8 jam, jadi makan pun sebenarnya bisa lo tentukan sesuai keinginan lo. Apakah lo mau makan sekarang, dua jam lagi, atau setelah lo tidur dan bangun empat atau lima jam setelah penerbangan, atau sejam sebelum mendarat. Bebas. Mereka akan menyajikannya hangat dan sesuai standar. Pantas harga tiketnya mahal. Pelayanannya emang juara banget. Dan nggak perlu khawatir soal halal atau nggak halal di makanannya (kecuali mungkin wine) karena Qatar menggunakan standar makanan muslim kok.

Makan sudah selesai, saatnya menikmati penerbangan delapan jam ke Qatar (DAN MENCOBA TIDUR DI KURSI YANG BISA JADI KASUR INI!!!!) dan bongkar-bongkar entertainment system yang ada di sana. Gue buka daftar film baratnya. Termasuk lengkap berbagai genre. Bahkan kalau lo mau nonton film India atau Arab juga ada di situ. Pas gue buka folder yang berisi film Asia, ada beberapa dari Taiwan dan juga Thailand. Ada beberapa juga dari Korea. Film-nya Chanyeol yang sama Moon Ga Young juga ada yang judulnya 'Salute D'Amor'. Pas gue play ternyat agak ada subtitle. Jadi bye aja.

Gue cek-cek beberapa film lain dan menarik juga untuk ditonton. Tapi gue masih nggak mau nonton dulu. Gue masih mau cek-cek isi yang lainnya lagi. Pas gue buka folder lagu-lagu, ada beberapa genre juga. Mulai dari ayat-ayat Al Quran sampai lagu India dan Arab ada. Pas gue cek lagu Asia yang ada cuma Mandarin. Tapi gue penasaran kalo film Korea ada masa KPop nggak ada? Gue cek lebih dalam lagi dan JENG JENG! Sub-folder KPop ada di bawah folder 'FAR EAST' dan pas gue buka isinya ada album SHINee yang 'ODD', K.Will, ALi dan beberapa artis lain yang gue nggak ngeh siapa. Tapi di bagian 'Various Artist' ada OST Producer dan juga KPop Mix. Pas gue puter KPop Mix.

"Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzjjjjjjjjjjrrrrrrrrrrrrrrr CALL ME BABY! ANAK SD MAIN TAMIYA! CALL ME BABY! PERGI TAMASYA KE BINARIA! CALL ME BABY! RAME-RAME YUK KITA BIKIN BOM BOM BOM BOM, PARAH!"

Well. Well. Gue sudah di atas angkasa tetep saja yang ini mengikuti. Apalah daya.

Gue stop lagu itu dan gue memutuskan untuk nonton 'Frozen'. LOLS Tapi karena gue sudah nonton 'Frozen' hampir 7 kali, kali ini gue memilih untuk menggunakan Bahasa Korea dan mendengarkan lagu-lagunya dalam versi Korea. SUPERFUN! Gue sudah hapal dialog yang dilontarkan Elsa dan Anna dan tanpa subtitle gue dengerin dialog versi bahasa Korea-nya ternyata oke juga. Nggak terkesan aneh aja gitu pas bagian 'Do You Wanna Build A Snowman' sama pas 'For The First Time in Forever'. Pas banget kedengerannya di kuping.

Tapi gue akhirnya nonton sampai adegan Elsa's Coronation terus gue matiin karena ngantuk dan kembali memutuskan untuk memutar KPop Mix dan tidur pas lagu 'Apple'-nya Ga In. Pas bangun gue nonton 'Cinderella'.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Sebelumnya Jari ngasih gue piyama (yang juga salah satu complimentary dari Qatar Airways) tapi karena gue nggak tahu itu apa dan baru ngeh kalo itu piyama setelah gue sampai di Qatar gue pun tidak menggunakannya.

Makan-makan malam ini belum berakhir. Lounge di Qatar masih menunggu.
*

Share:

18 komentar