KaosKakiBau ke New York [Part 3]: Sholat Subuh di Qatar

*
Sebagai penduduk asli Lombok, gue tumbuh dan besar dengan berbagai cerita-cerita dan kepercayaan lokal yang sebenarnya enggak masuk akal, tapi terjadi. Mau dibilang enggak sengaja atau kebetulan sebenarnya bisa aja, tapi sekali lagi enggak ada yang enggak sengaja atau kebetulan di dunia ini. Semua pasti terjadi karena maksud tertentu kan.

Apa lo masih percaya kalau EXO dan Super Junior kebetulan aja dari SM dan nasib member Tiongkok mereka kebetulan aja sama dengan Hangeng?

Di antara kepercayaan-kepercayaan yang tidak masuk akal seperti misalnya di baju anak baru lahir harus diberi "jimat" berupa bawang merah yang ditusuk ke peniti untuk menghalau makhluk halus yang suka goda-godain anak bayi, ada sebuah kepercayaan yang juga berhubungan dengan anak bayi, tapi ini lebih ke ari-ari mereka.

Konon katanya, apa yang akan terjadi pada si anak di masa depan mereka berhubungan erat dengan apa yang orangtua si anak lakukan dengan ari-ari tersebut.

Kalau ari-ari si anak ditanam di rumah, maka anak itu bisa jadi akan tetap tinggal di rumah itu sampai dia dewasa dan berkeluarga. Kalau ari-ari si anak dimakan oleh binatang malam seperti sebut saja anjing (dan memang di daerah tempat tinggal gue kalau malem sering ada anjing berkeliaran cari makan) maka bisa jadi dia akan jadi orang yang sensitif terhadap hal-hal gaib dan supranatural (and in someways kasar dan galak). Kalau ari-ari anak itu dihanyutkan ke laut, maka bisa jadi nanti si anak bakalan berkelana dan merantau.

Percaya tidak percaya, hal itu terjadi pada gue dan dua kakak gue.

Kakak gue yang pertama (perempuan) adalah contoh dari anak yang ari-arinya ditanam di rumah. Sekarang dia sudah berkeluarga dengan dua anak dan tinggal di rumah gue di Lombok. Kakak gue yang kedua (laki-laki) adalah contoh dari anak yang ari-arinya dimakan anjing dan dia memang sangat sensitif dengan dunia-dunia gaib (dia bisa liat setan, komunikasi dengan hantu dan segala drama dunia gaib dia pernah alami pas masa remaja). Dan ya, dia adalah orang paling galak dan cepet marah yang pernah hidup di dunia ini. Kalo ditanya gue lebih takut siapa Voldemort atau dia, gue pilih dia. Dan yang ketiga adalah gue, si anak yang ari-arinya dihanyutkan di laut.

Dan lihat ke mana si ari-ari membawa gue sekarang. Eh, akhir bulan lalu.

Setelah sekitar delapan jam berada di udara dan beberapa menit terguncang karena cuaca buruk (yang enggak terlalu parah sih sebenarnya karena pesawatnya supernyaman di kelas bisnis), gue akhirnya mendarat di Hamad International Airport, Doha, Qatar. Ini adalah pendaratan untuk transit sebelum akhirnya nanti terbang lagi ke New York.

Jari--si pramugara baik hati--memberikan ucapan selamat jalan ketika gue keluar dari pintu pesawat. Bener-bener sih nggak ada penyesalan dan juga gondok yang tersisa dari perjalanan panjang di pesawat semalam. Kayak semuanya bener-bener perfect. Ya kenapa juga harus mengeluh ketika dikasih gratisan? Semacem enggak bersyukur jatuhnya.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul empat subuh waktu Qatar. Rasanya penerbangan semalam kayak cuma empat jam karena gue berangkat dari Jakarta sekitar jam setengah satu dini hari. Perbedaan waktu antara Doha dan Jakarta enggak terlalu berasa karena sebagian besar waktu di pesawat gue habiskan dengan tidur. Mungkin karena itu juga gue nggak merasakan jetlag empat jam perbedaan waktu?

Gue sampai mendarat di Doha juga nggak bisa mendefinisikan apa itu jetlag.

Yang jelas, setibanya di bandara gue langsung nyalain hape dan langsung cari internet. Ketika hape gue aktif, kartu XL yang gue pake langsung menerima SMS dari operator yang memberitahukan tarif roaming dan nomor KBRI di Qatar. Gue lupa apakah kartu 3 yang gue pake juga melakukan hal yang sama atau tidak atau justru enggak ada sinyal sama sekali.

Wifi di Hamad International Airport enggak bisa dibilang mengecewakan. Walaupun enggak bisa juga sih dibilang memuaskan karena setiap belok sedikit langsung blank. Tapi sekali lagi karena ini fasilitas gratisan gak usah terlalu banyak menuntutlah. Lagipula kan nyalain hape juga paling cuma buat update Path dan Instagram. Bukan buat ngabarin pacar kalo lo sudah mendarat dengan selamat, Ron.

Padahal pacar juga nggak punya.
*

*
Update "Wake up in Doha." di Path cukup membuat gue gemeteran. Karena dingin. Dan karena sedikit enggak percaya juga kalau ternyata si ari-ari ini hanyut sampai sejauh ini. Masih ada sekitar empat jam sebelum pesawat lepas landas ke JFK, New York. Masih ada sekitar tiga setengah jam untuk ngalay di sekitaran airport sama di Lounge. Lumayanlah.

Setelah dapat wifi gue cek waktu sholat di Doha dulu karena walaupun sudah jam empat subuh takutnya malah subuhnya jam enam atau setengah enam gitu kan. Tapi pas gue cek ternyata nggak jauh beda sama Jakarta. Subuhnya jam setengah limaan. Ya pas deh gue mendarat langsung sholat subuh. Abis itu bisa bebas ngalay.

Gue menarik satu troli barang dari barisan troli yang tertata rapi di salah satu sudut airport, menaruh ransel Bonjour--yang udah buluk yang gue beli dua tahun lalu dan belom bisa ganti karena duitnya kebanyakan dipake karaoke--yang terasa lebih berat karena laptop, dompet kecil complimentary dari Qatar Airways dan piyama yang enggak kepake.

Turun dari eskalator kedatangan (setelah pengecekan) gue langsung disambut dengan pusat Hamad International Airport yang mewah banget. Bahkan ini lebih mewah dari bandara Changi yang tahun lalu gue puji sebagai bandara mewah. Di atas langit masih ada langit ya emang. Nggak boleh makanya takabur.

Persis di tengah-tengah bandara mewah itu duduk sebuah boneka beruang (apa mungkin ini hewan lain?) kuning besar yang kayaknya jadi maskot bandara ini. Gue enggak tahu kenapa gue nggak kepikiran buat selfie di situ sementara orang-orang yang tadi turun pesawat sama gue kayak langsung gilir-giliran berdiri di depan itu dan foto-foto. Mungkin karena kepala gue udah ingin cepet-cepet ke mushola terus makan di lounge. Dan tiba-tiba aja gue kebelet pipis.
*
*
Gue langsung menuju meja informasi dan tanya musola terdekat ada di mana. Mungkin karena efek bandara ini yang luas jadi posisi mushola terdekat pun kayaknya jauh yah. Nggak heran kalo ada juga mobil indoor yang ngiter-ngiter di sana dan bisa ditumpangi gratisan. Kalo harus jalan bisa gempor juga. Tapi karena gue emang basic-nya orang yang suka jalan yaudah mending sekalian liat-liat aja.

Musholanya ada di belakang salah satu gate keberangkatan. Dari luar memang keliatannya kayak kecil banget. Tapi pas masuk ternyata lumayan. Enggak yang mewah-mewah banget sih, tapi lumayan. Yang penting sebenarnya bukan mewah ya, yang penting bersih.

Baru masuk ke pintu depan aja udah langsung disapa pake salam sama cleaning service-nya. Pas liat tempat wudhu-nya gue langsung yang "WHOA DAEBAK!" karena enggak bisa memuji dengan bahasa Arab jadi pake bahasa Korea aja. Padahal sebenarnya enggak yang se-daebak itu. Tapi karena di situlah pertama kalinya gue melihat tempat wudhu dengan kursi. Hehe.

Penasaran pengen nyoba kan jadinya.

Gue langsung buka sepatu dan naruh tas agak ke pinggir. Gue rasa sih nggak mungkin ada copet di situ jadi gue nggak ngerasa beban ninggalin Junmin di sana. Junmin itu nama laptop gue omong-omong.

Gue pun akhirnya duduk di kursi di depan keran itu. Kerannya ada di kiri dan di kanan ada batangan juga yang bentuknya mirip keran tapi bukan keran. Tapi ada yang aneh dari keran-keran ini.

"Bentar deh Ron..."

Gue ngeliat sekeliling tempat itu. Sepi banget belom ada orang yang mampir buat subuhan.

"Celaka." kata gue.

Lama gue duduk di kursi itu cuma ngeliatin keran itu doang. Lama sekali. Karena gue nggak ngerti bagaimana cara ngidupinnya. Nggak ada puterannya kayak keran-keran mushola di Jakarta.

"Masalah besar nih."

Gue akhirnya berdiri dan kembali ke belakang, ke kursi tempat buka sepatu. Mau nanya sama mas-mas cleaning service itu tapi kok rasanya kampungan sekali. Tapi emang kampungan. Tapi nggak mau dibilang kampungan. Akhirnya gue memutuskan untuk menunggu siapapun mas-mas brewokan manapun yang datang untuk sholat juga. Gue akan mengamalkan apa yang orang-orang sebut dengan Amati dan Tiru.

Karena Allah Maha Baik, akhirnya masuklah seorang brewokan ni dengan kostum gamis putih panjang gitu. Di belakangnya ada satu lagi mas-mas lain yang kayanya pegawai bandara. Dia langsung duduk di kursi wudhu itu dan CESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS. Gue nggak tahu bagaimana suara air mengalir dari keran tapi dia berhasil membuat kerannya keluar air.

"EH BENTAR DEH TADI GIMANA CARANYA?!?!" kata gue dalam hati. Kepala gue agak condong ke kiri ketika dia lagi wudhu dan pas kerannya tiba-tiba mati lagi airnya, dia nyentuh ada dua titik hitam di sebelah kiri.

ASTAGANAGAKAMPUNGAN. Ternyata cara kerja keran ini sama aja kayak keran wastafel di toilet Lotte Shopping Avenue yang pake sensor.

Goblok. Katanya S1 tapi nyalain keran aja nggak bisa loh.


*
Dengan wajah bersemu merah akhirnya gue duduk lagi di kursi wudhu itu dan menempelkan tangan gue di atas dua titik hitam yang ada di sana seperti yang dilakukan mas-mas tadi dan CESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS. Airnyapun mengalir.

ALHAMDULILLAH.

Sholat kelar sekitar jam lima lebih. Itu adegan nyalain keran bener-bener nyita waktu juga ternyata. Tapi nggak apa-apa karena lama mikir cara nyalain keran itu bikin laper. Means, kita harus ke lounge untuk makan. Siapa tahu ada cemilan lucu yang tidak pernah dimakan sebelumnya.

Perasaan lebih tenang setelah sholat. Tinggal mikirin sekarang mau ngapain sambil nunggu jam delapan. Sebenarnya pengen banget keliling-keliling di Hamad karena ini bandara kayaknya nggak akan abis-abis kalo diputerin seharian. Tapi di saat yang sama kepikiran juga sama apa yang akan gue temukan di lounge kelas bisnis di Qatar ini.

Akhirnya tur bandaranya gue maksimalkan di perjalanan dari mushola ke lounge aja. Banyak sebenarnya hal-hal menarik yang bisa diliat dan dipotret. Lumayan buat menuh-menuhin Instagram kan. Segerombolan turis dari negara lain yang heboh-heboh di sana juga seru aja kalo diikutin. Ada toko mainan yang bener-bener bikin pengen berlama-lama. Pokoknya selewatnya aja kalo bisa difoto kalo nggak yaudah cuekin aja.

Lounge untuk kelas bisnis di Hamad International Airport namanya Al Morjan Business Lounge. Berbekal petunjuk arah bandara dan boarding pass, gue pun sampai di bawah eskalator superpanjang yang dijaga oleh empat orang petugas. Dua di masing-masing eskalator.

"Hello, good morning. May I see your boarding pass?" kata salah satunya.

Gue kasi tunjuk terus di-scan barcode-nya dan abis itu boleh naik. Sesampainya di lobi lounge nggak ada yang terlihat istimewa. Biasa aja kayak lagi di hotel mana gitu. Tapi pas udah masuk ke lounge-nya. HAHAHAHAHAHAHAHA YA ALLAH ASTAGA INI BENERAN LOUNGE BANDARA? INI BUKAN HALAMAN RUMAH RAJA YA?

Kayaknya halaman rumah raja juga pasti akan lebih mewah dari itu.

Gue berdiri lama sekali ketika gue tiba di balik dinding di belakang resepsionis lounge Al Morjan. Kalo di film ini adegannya lagi terkagum-kagum melihat sesuatu terus kamera berputar tiga ratus enam puluh derajat mengelilingi gue yang tersenyum bahagia.

Di sebelah kanan dari tempat gue berdiri itu ada tangga melingkar yang sepertinya akan membawa gue ke ruangan pesta dansa. LOL Di sebelah tangga itu ada lampu gantung besar yang melingkar dan memanjang ke bawah. Harusnya gue ke atas. Tapi karena gue pikir di atas itu restauran berbayar, jadi gue nggak ke sana. Tapi akhirnya gue naik pas pulang, akan diceritakan di bagian lain postingan tentang perjalanan ini.
*
*
Al Morjan Business Lounge terbagi jadi beberapa section yang berbeda dengan nuansa yang berbeda pula. Ada section yang konsepnya mirip ruang tamu santai, ada yang konsepnya kayak IT Room yang ada colokan dan tab yang bisa dipakai buat ngeliat jadwal penerbangan dan juga surfing internet, di tengah-tengah ruangan itu memanjang section yang ada feel business man-nya yang kalo dipake buat ngetik kerjaan kayaknya enak di situ, ada juga section buat rame-rame.

Di ujung ruangan lounge itu ada pintu dan dinding kaca yang di dalamnya juga ada ruangan lain yang konsepnya lebih family. Di sana ada bar, ada dining room, ada ruang buat main games, dan macem-macem. Oh iya, di bagian lain dari lounge juga ada smoking room, toilet, sama tempat buat mandi. Pokoknya you come here you can do everything you want and feel like home deh.

Mungkin surga tuh kayak gini kali ya. Mau ini tinggal belok, mau itu tinggal belok.

Al Morjan Business Lounge ini bener-bener sesuatu yang nggak akan bisa gue lihat setiap hari. Setiap melangkah, gue cuma bisa memuja dan memuji betapa nyamannya tempat ini. Bersyukur juga sih, dapat kesempatan menginjakkan kaki di sini. Ya apalah gue hanya sebutir jagung dari kampung.
*
*
Dan sesaat sebelum gue memilih lokasi duduk, gue baru sadar kalo di dekat gue ada kolam yang besar banget. Hmmm... baik, ini sebenarnya nggak bisa disebut kolam. Mungkin lebih pas kalo disebut kubangan air bersih yang meletup-meletup. Soalnya airnya cuma seujung jari dan memang ada yang meletup-letup gitu di banyak lokasi. Tapi karena ada ini nuansa ruangan itu jadi makin adem. Yang sedihnya adalah kubangan air gini aja bahkan lebih luas dari kamar kosan gue.
*
*
Karena merasa sudah banyak makan di pesawat, setibanya di lounge gue nggak terlalu laper. Mungkin juga rasa lapernya sudah hangus terbakar oleh semangat dan rasa senang yang tidak terkira. Karena gue tidak menemukan konter makanan berat di ruangan itu (karena nggak tahu kalo harus naik), akhirnya gue memutuskan untuk memasuki pintu kaca yang ada di ujung lounge.

Keliatannya seperti tempat yang menyajikan makanan berat. Tapi ternyata opso. Yaudah berhubung ini juga lapernya nggak menyiksa, sedikit cemilan mungkin bisa mengisi sela-sela perut.

Gue berusaha untuk mencari meja kosong yang jauh dari orang-orang. Pertama karena gue sendiri, gue nggak mau terlihat terlalu sendiri (LAH!). Kedua karena gue nggak ingin membuat mereka yang makan di sebelah meja gue terganggu dengan monolog yang sekiranya akan gue lakukan dan tidak bisa gue hindari. Ketiga karena gue nggak mau bikin mereka nggak nyaman dengan setiap jepretan kamera yang gue akan lakukan ke makanan gue. LOL

Sealay itu.

Ada satu meja kosong di ujung. Buat dua orang. Okelah karena ini adalah perjalanan sebatang kara, gue naruh tas gue bersama Junmin di kursi yang satu, yang satu lagi jadi tempat duduk gue. Waktunya berburu makanan! (LAGI!)

Gue meninggalkan kamera, handphone, paspor, dompet dan barang-barang berharga di meja. Kayak yang udah yakin banget nggak bakalan ada copet di situ. Kemudian melakukan penyisiran dari satu konter makanan ke konter makanan yang lain.

Ruangan itu supercerah. Furnitur dan lapisan taplaknya warna putih. Dinding dan semua ornamennya juga didominasi warna putih. Di ujung dekat pintu masuk ada bar dengan berbagai jenis minuman beralkohol. Sayang sekali gue nggak bisa minum itu jadi gue skip. Di depannya ada sederet keju-keju berbagai jenis dengan daging asap yang siap dimasak. Gue juga skip bagian itu karena gue takut ada babinya. Setelah ngiter-ngiter, ternyata memang makanan yang paling pas itu sereal dan roti bakar. Ada di ujung ruangan dekat ruang untuk keluarga.

Baru dua langkah menuju ke san... gue baru inget ada satu masalah besar kalau gue makan sereal: perut gue pasti akan langsung bereaksi dan mules dan harus buang air besar segera. Sementara gue nggak mau repot-repot melakukan itu ketika dalam kondisi terburu-buru.

Dilema. Apa gue nggak usah makan aja ya?

"Tapi sayang Ron. Orang balik ke sini baru hari Rabu. Mending makan, jadi tahu rasanya gimana."

"Iya juga sih. Tapi kalo mules?"

"Hmm... berdoa aja supaya nggak mules. Lagian mau makan apa lagi coba?"

"Apa gue makan babi aja ni?"

Makin absurd. Yaudah. Berbekal Bismillahirohmanirohim, gue akhirnya tetap memutuskan makan sereal aja. Gue ambil mangkok kecil, gue isi banyak-banyak sama sereal dan susu dingin. Gue ambil juga jus buat pelengkap. Berdoa dan berusaha supaya gimana caranya perut kampung ini enggak macem-macem sebelum flight jam delapan.

Sampai di meja, langsung lahap makan serealnya sampai-sampai lupa di foto. Akhirnya baru sadar kalo ada kewajiban motret setelah makanannya abis. Karena tidak menemukan angle yang oke juga akhirnya batal difoto dan berujung pada memotret Orange Marmalade yang ngumpet malu-malu di balik serbet.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Gue bersyukur ternyata perut gue tidak sekampungan itu. Karena tiada rasa mules berlebih, itu artinya masih bisa makan cemilan!

Kelar di ruangan sereal, gue memutuskan untuk keluar dan menghampiri konter makanan lain. Gue juga butuh ngecas handphone sebelum terbang lagi. Akhirnya gue memilih untuk istirahat sebentar di ruang bergaya ruang IT yang ada tab-nya. Sambil update-update sedikitlah di sana.

Yang lucu dari lounge di Hamad ini adalah, nuansanya bener-bener tenang. Mungkin itu kenapa tangga eskalatornya tinggi banget karena kebisingan di bawah nggak terdengar sama sekali di atas. Pasti kaca-kaca yang ada di situ meredam semua suara bisingnya. Saking sepinya ni, sampai-sampai nggak ada juga pengumuman pesawat apa berangkat jam berapa. Jadi itu kalo ketiduran di sana bisa-bisa ngehek ketinggalan pesawat.

Dan itu hampir saja terjadi padaku! KESEL.

Nggak mau terbuai dengan kenikmatan kursi di ruangan yang ada tab-nya dan karena parno akan dijadikan budak seks ketika nanti batal terbang ke New York, akhirnya gue pun memutuskan untuk beres-beres dan pindah ke lokasi cemilan.

Ada sofa yang mengelilingi meja putih di bawah tangga dekat kubangan air yang tadi gue lewatin. Gue ambil dua muffin, selai blueberry (!!!!!!!) dan satu cangkir teh dari meja hidangan dan gue bawa ke meja. Di situlah rasa mules mulai terasa. Kembali bermodalkan sugesti gue menghirup aroma teh hangat dan menyeruput sedikit demi sedikit sambil berharap ini mules nggak berkelanjutan.

Ada kakek-kakek di kursi di sebelah tempat duduk gue yang kayaknya merhatiin setiap gerak-gerik gue. Kan jadi nggak pede kalo mau motret makanan. Beruntung dia tidak sendiri. Tiba-tiba istrinya dateng dan mereka bicara bahasa entah apa mungkin Eropa dan membahas majalah yang ada di situ. Tapi gara-gara diliatin si kakek gue sempat ngejatuhin pisau ke meja kaca. Ya untung aja nggak apa-apa, kalo disuruh ganti rugi awak ngeri juga ini nggak bisa ganti dengan apapun kecuali cinta dan kasih sayang.

Setelah dua muffin habis, teh habis, dan diakhiri dengan ngejilatin pisau yang gue gunakan untuk mengolesi muffin dengan selai blueberry, gue siap buat berangkat ke gate keberangkatan. Sebelumnya gue nyolong satu air putih buat penetral segala macam makanan yang sudah masuk hari ini.

Sebenarnya nggak mau buru-buru pas turun dari lounge karena niatnya pengen melewati bagian lain dari bandara itu dan cuci mata. Tapi kok ada feeling kalo gue bakalan terlambat. Sekali lagi gue katakan di bandara itu nggak terdengar "TENG NONG TENG TONG, TENG TONG NENG TONG. PESAWAT TUJUAN RANCAEKEK AKAN SEGERA BERANGKAT." Sama sekali enggak ada. Kan gue jadi was-was juga. Lounge-nya terlalu tenang sampe-sampe bikin pengen lama-lama dan tidur aja di sana selamanya.

Tapi ya enggak mau kan kalo tidur di situ batal dong ke Broadway!

Makanya dengan langkah seribu bercampur deg-degan karena takut telat boarding nih gue buru-buru nyari gate yang akan membawa gue ke JFK, New York.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Setelah mencari di papan petunjuk gue harus boarding lewat gate mana, rasa deg-degan kembali menyerbu. Lebih parah ketimbang ketika berangkat dari Jakarta ke Doha semalam. Antara yang nggak sabar mau menginjakkan kaki di New York sama takut ngebayangin rasanya terbang 13 jam.  Mau jadi apa ni awak di dalam pesawat ni. Apa iya makan terus sampai begah. Pulang-pulang jadi babi beneran kegemukan.

Semua orang terlihat buru-buru saat itu. Gue pun jadi makin berasa disuruh cepat-cepat. Dan bener aja ketika sampai di gate, antrean udah panjang banget. Mana kan kalo pemeriksaan gitu suka lama. Ya buka sabuk, buka sepatu, ngeluarin laptop dan segala rupa. Dan karena ini mau masuk ke Amerika, petugasnya nanya lagi soal paspor dan visa. Belum lagi ditanya nanti hotelnya di mana dan di sana mau ngapain.

"Bisa liat itinerary-nya?" kata petugas bule yang menghadang gue setelah gue buka sepatu dan mengekspos kaos kaki hitam yang ujungnya gue lipat karena kepanjangan (gue hari itu pake celana pendek).

"Sebentar ni mas agak ribet di dalem banget soalnya," kata gue.

Gue merogoh isi tas dan mengeluarkan map berisi itinerary yang dikirimkan oleh Gayle, staf Discovery Singapura yang ngundang gue buat ke NY. Gue belum ketemu sama Gayle anyway dan akan berjumpa untuk pertama kalinya di NY nanti.

Alhamdulillah si mas ini nggak nanya macem-macem ketika gue bilang gue jurnalis dan ke sana buat kerja. Setelah itu gue dibolehkan melintasi metal detector dengan sebelumnya laptop dan perintilan elektronik terlebih dahulu dimasukkan ke dalam keranjang.

Ada kekhawatiran soal pemeriksaan software bajakan sebenarnya yang melanda gue saat itu. Tapi melihat keterburu-buruan yang terjadi, ternyata emang itu cuma hoax semata. Laptop gue mah isinya software bajakan semua. Kan takut juga kalo Junmin diambil. Nanti gue tidur sama siapa di hotel.

Setelah lolos pemeriksaan, ada petugas yang manggil-manggil penumpang kelas bisnis untuk bergerak lebih cepat. Duh bikin heboh. Gue pun lari dengan sepatu yang belum terpasang sempurna. Sesampainya di pintu pesawat, si pramugari malah iseng bilang, "Buruan mas, ini pesawatnya udah mau berangkat! Hampir aja ketinggalan!" tapi sambil senyum cantik gitu.

Iya gue percaya aja deh karena emang bener juga itu pesawat mau berangkat kan. Bukan mau ngetem aja di situ sampe besok kayak metro mini 75 jurusan Pasar Minggu - Blok M.

Gue akhirnya kembali ke ruangan kelas bisnis Qatar Airways yang tidak jauh berbeda dari pesawat yang membawa gue terbang dari Jakarta ke Doha. Kalo sebelumnya gue duduk di bagian kanan, kali ini gue duduk di bagian kiri. Sebelumnya gue duduk nggak di dekat jendela (tapi kursi sebelah gue kosong), kali ini gue duduk di dekat jendela dengan sebelah gue ada bapak-bapak yang selama 13 jam itu nggak melakukan komunikasi apapun dengan gue.

Dan bapak ini agak bau.

Cahaya matahari pagi di Doha benar-benar menyilaukan. Terlebih ketika pesawat sudah lepas landas. Awan-awan di langit itu bener-bener deh bikin perasaan campur aduk. Biasanya di saat seperti ini gue akan kepikiran sama banyak hal. Apakah sebelum gue berangkat tadi gue udah bersihin kamar, apakah lampu kamar mandi udah dimatiin, apakah kulkas udah aman, apakah kompor udah nggak ngalir gasnya, apakah kunci kamar udah gue bawa dan sebagainya.

Semakin siang semakin silau. Karena banyak orang di sana mau tidur (YA IYALAH 13 JAM NIH!!!) akhirnya dengan sangat terpaksa gue harus menurunkan penutup jendela. Sedih... padahal gue paling seneng tuh berkhayal bikin fanfic di kepala sambil liatin langit dan awan. Dan juga karena penerbangan itu melewati benua Eropa, gue juga pengen liat gunung-gunung tinggi di benua Eropanya. HUFFFFFFF.

Yah bukan rejeki. Lagian kelewatan juga karena gue ketiduran. Sesekali berusaha ngintip dengan menaikkan penutup jendela tapi cahaya mataharinya nonjok banget dan takut ngeganggu. Tapi pas gue angkat itu gue liat pegunungan putih... Pas gue liat peta di layar di depan gue, ternyata kita sedang terbang melewati Oslo.

Gue hanya betah sadar 3-4 jam sepanjang perjalanan itu. Sisanya gue tidur. Sambil (lagi!) makan gue nonton film kartun klasik 'Anastasia' dan mengenang masa-masa kecil saat menyaksikan Dimitri dan Anastasia naik kereta dari Rusia ke Paris. Memorable banget film ini dan lagunya enak-enak. Gue tertidur sebelum film berakhir dan bangun ketika sadar kalau gue laper. LOL
*
*
Gue nyalain lagi filmnya dan melanjutkan di bagian yang gue lewatkan saat tertidur. Manggil pramugari sesuka hati minta makanan. Sesekali gue ngintip ke layar di depan ruangan yang kali ini menampilkan peta bahwa kita sedang terbang di atas Britania Raya. Masih berjam-jam lagi sebelum mendarat di JFK.

Pikiran-pikiran tentang kerjaan pun kemudian muncul di kepala. Gue lupa kalo perjalanan ini sesungguhnya bukan liburan. Tapi kerja.

Tapi kerjaan kalo kayak gini gue sih nggak akan nolak.

Hehe.

Setelah 'Anastasia' selesai, gue goler-goleran mainin kursi yang ternyata baru gue tahu bisa jadi kursi pijet juga. Kali ini piyama dari Qatar Airways gue pakai dan baju 'Overdose' merah yang gue pakai gue taruh di tas.

Nggak sabar ngeliat Broadway setelah mendarat nanti.
*

Share:

6 komentar