KaosKakiBau ke New York [Part 1]: Visa Oh... Visa

*
Buat orang yang hidup di kota kecil selama 17 tahun dan kemudian pindah ke kota besar, gue bisa dibilang kampungan dengan berbagai kemewahan dunia yang dimiliki oleh kota besar. Gue masih inget banget ekspresi kagum ketika pertama kali sampai Depok (kota besar juga bukan, Depok?) tahun 2009 dulu pas pertama kali kuliah di UI dan melewati jalan Margonda dan Margo City.

"Wih... Ini mall besar banget ya!"

Padahal itu baru Margo City. Gue nggak tahu aja kalau ternyata masih ada yang namanya Grand Indonesia, dan di tahun 2012 ke atas di bangun Kota Kasablanka, Gandaria City dan Lotte Shopping Avenue. Di Mataram, Lombok, selama gue hidup di sana dari lahir sampai SMA, cuma ada satu mall yang beroperasi. Dan Mall ini nggak jauh beda sama ITC dan mirip-mirip Depok Town Square.

Enggak ada keren-kerennya.

Setelah empat tahun tinggal di Depok dan sekarang resmi dua setengah tahun menjadi "Jakartarian", gue tidak pernah merasa berubah menjadi sosok yang kekinian dan anak kota. Penampilan gue aja sebenarnya nggak mendukung untuk disebut anak kota. Dan kalau lo melihat jauh ke lubuk hati gue yang paling dalam (halah) gue masih anak kampung yang tetap amazed ngeliat kota besar. Ajak aja gue ke Bandung maka gue akan berurai air mata padahal cuma ke Masjid Agung semata.

(Minta banget diajak?)

Itulah kenapa ketika gue tiba-tiba dapat tugas kerja tiga hari dua malam di New York, gue masih deg-degan. Ini bukan Jakarta, bukan juga Bandung. Tapi ini New York!

Mungkin enggak banyak yang tahu kalau gue kerja di salah satu media online di Jakarta (ya, nggak penting juga sih sebenarnya orang-orang tahu gue kerja di mana) tapi di postingan ini, sepertinya informasi mengenai ini penting hihihi karena ya tanpa kerjaan ini gue nggak akan bisa melakukan perjalanan gue dari Jakarta ke New York.

Jadi, begini ceritanya...

Sebagai orang yang bekerja di desk KPop, gue sangat menanti-nantikan masa di mana kantor akan mengirim gue buat liputan ke Korea. Siapa sih yang nggak pengen ke Korea? Maksud gue dalam konteks lo sebagai fans KPop (mau fans lama atau fans baru, gue sih fans lama banget) pasti lo pengen mengunjungi negara tersebut buat apa istilahnya "naik haji". Tapi selama hampir dua setengah tahun bekerja di sini, kesempatan itu belum juga datang.

Ya namanya rejeki sih ya. Kita akan dapat apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Memang sih, selama gue ngefans KPop gue cuma pengen doang ke Korea, nggak yang butuh-butuh banget. Kalau ngeliat beberapa orang temen gue yang udah ke sana rasanya iri banget. Bahkan ada salah satu temen gue sempat masuk ke backstage-nya MBC (karena ada relasi dengan PD-nya MBC) dan bisa foto sama EXO 12 member! Gimana coba lo nggak iri?

Perjalanan ke Korea ini sepertinya memang menunggu waktu yang tepat sih menurut gue. Karena gue sendiri nggak pernah berusaha untuk menabung supaya bisa ke sana. "Bukan prioritas," kalau mengutip kata salah satu member grup dance cover favorit gue dalam sebuah chat LINE-nya suatu hari. Karena nggak pernah berusaha buat nabung itulah gue mengharap dapat gratisan. Dan kesempatan untuk dapat gratisan tentu saja tidak bisa dipaksakan. Sekali lagi, menunggu waktu yang tepat.

Suatu hari kantor gue dapat undangan liputan ke Taiwan. Salah satu band Indonesia akan konser di sana. Entah berseloroh atau emang serius, bos gue tiba-tiba aja bilang kalau gue yang akan berangkat.

"Taiwan banget nih?" kata gue dalam hati. Iya, negara ini asing sih buat gue. Tapi gue sempat bergelut dengan Mandarin Pop beberapa tahun lalu jadi nggak yang terlalu bodoh-bodoh bangetlah soal Taiwan. Toh juga kerjaannya ngeliput artis Indonesia. Means, gue masih bisalah ketemu rekan senegara.

Tapi beberapa hari setelah bos gue ngomong gitu tiba-tiba rencana gue berjalan-jalan mencari makanan halal di Taiwan yang sudah muncul di kepala langsung buyar ketika bos gue yang lain menunjuk temen gue yang satu lagi buat berangkat ke sana. Ya, memang itu hak-nya temen gue ini sebenarnya karena gue anak KPop dan dia yang megang desk musik.

Batal deh gue ke Taiwan.

Tapi enggak berselang lama setelah itu, sebuah email undangan untuk berangkat ke New York tiba-tiba aja masuk ke inbox. Gue langsung berseri-seri. Baca emailnya aja udah berseri-seri. Padahal saat itu gue belum tentu juga berangkat.

Bos gue sekitar dua minggu sebelum email undangan ke New York ini masuk ke inbox baru aja balik dari Amerika. Dua minggu sebelum balik dari Amerika itu dia juga sempat ke Amerika untuk liputan juga. Kalau bingung sama kalimat sebelumnya abaikan saja. Jadi ketika email ke New York masuk, dia pass dan membiarkan orang lain aja yang berangkat.

Gue deg-degan. Dalam hati gue sudah teriak-teriak. "GUE AJA PLIS GUE AJA! BOLEH NGGAK GUE AJA!" Tapi kenyataannya gue hanya senyum-senyum sendiri sambil sok-sok sibuk ngertik dan pake headset, padahal nggak ada musik yang keputer. Sementara bos gue lagi diskusi siapa yang kira-kira bisa berangkat. Gue pun nguping.

Ketika nama gue keluar sebagai kandidat dan dikonfirmasi lagi ke atasan, gue makin deg-degan. Parah sih. Kayak lo udah tahu nama lo bakalan menang lotere yang hadiahnya bisa jalan-jalan ke Phuket sama Suho, Baekhyun dan IU lalu makan cumi-cumi bakar bersama di pinggir pantai, dan tinggal nunggu keputusan dewan juri aja. Gue nggak mau berharap apapun karena berharap berarti siap kecewa. Tapi ketika hasilnya keluar.

"Yaudah, Ron aja yang berangkat."

Rasanya mau nangis buah zaitun.

Undangan ini datang dari Discovery Networks International. Singkatnya mereka lagi mau mempromosikan tiga season baru acara mereka yang akan tayang di Indonesia lewat channel TLC. Tugas gue adalah datang untuk meliput ke lokasi syuting beberapa acara tersebut, mewawancarai talent dan bintang dari acara-acara itu dan juga melakukan beberapa kegiatan lain yang akan diberitahukan belakangan. Ya bagaimana sih kerjaan jurnalis. Nggak jauh-jauh dari mengamati dan menulis pokoknya.

Ketika kepastian dari atasan sudah di tangan, berikutnya adalah hal yang susah-susah-gampang: bikin Visa. Karena gue sudah punya paspor sejak lama, sekarang tinggal bagaimana meyakinkan staf Kedutaan Besar Amerika tempat ngurus visa ini supaya meloloskan gue buat bisa datang ke Amerika.

Ini pertama kalinya gue ngurus Visa yang berarti gue sama sekali enggak tahu menahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipersiapkan, apa saja yang boleh dan tidak boleh dan juga hal-hal yang berhubungan dengan Visa Amerika. Karena katanya Visa Amerika susah-susah-gampang untuk didapatkan. Beberapa yang lain bilang kalau Visa ini bisa didapatkan tergantung dari staf yang mewawancarai kita di hari H.

Gue makin deg-degan.

Beruntung ada banyak blog traveller yang menuliskan secara detail bagaimana cara untuk membuat Visa Amerika. Di situs kedutaan besar juga sebenarnya sudah dijelaskan dengan rinci sih. Tapi kalau dengar petunjuk dari orang yang sudah pengalaman kan rasanya lebih enak karena sudah kejadian dan nggak hanya sekedar teori. Walaupun hasilnya sebenarnya beda-beda di tiap orang.

Okelah pertama gue harus foto dulu (karena nggak boleh editan jadi bener-bener harus foto ke studio) yang background-nya putih dan harus ukuran 5 x 5, standar Visa Amerika. Yang paling bikin males ketika foto resmi gini adalah karena gue harus buka kaca mata. Mana lagi penampilan wajah harus terlihat bersih jadi gue pun mencukur kumis dan jenggot gue yang tipis dan menyenangkan ini. Ketika fotonya jadi, gue nggak mengenali diri gue sendiri.

Setelah foto kelar, gue mulai mengisi formulir secara online. Ada banyak sekali yang harus di isi dan bener-bener harus konsentrasi karena kalau salah dan kita nggak sadar bikin salah terus mereka tahu itu salah dan mengkonfirmasi kesalahan itu, bisa-bisa Visa-nya nggak boleh keluar. Ini sih sebenarnya gue aja yang parno.

Setelah berlembar-lembar formulir itu gue isi, sampailah ke lembar yang meminta untuk memasukan kode bukti pembayaran. Ups! Ternyata harus bayar dulu. Ya akhirnya gue buru-buru ke Bank Standard Chartered dan mengurus pembayaran buat Visa. Karena pas itu dollar lagi tinggi banget, gue harus bayar Rp 2,4 jutaan buat Visa ini. Alhamdulillah Visa ini juga dibayarin kantor. Cihuy!

Kelar bayar, tinggal lanjut isi formulir. Setelah itu menjadwalkan wawancara. Gue pun memilih wawancara hari Kamis dan pukul 7 pagi (ada beberapa pilihan tapi gue ambil yang paling pagi supaya enak dan yang gue baca mending pagi-pagi juga karena mood pegawainya masih enak). Gue pun naik Go-Jek ke Kedutaan Besar Amerika jam setengah enam pagi. Sampai di lokasi, antrean buat yang bikin Visa udah banyak banget.

"Emang tiap pagi aku lewat sana selalu antre sih panjang kayak nunggu sembako," kata Ajie, salah satu temen gue (yang juga kebetulan member cover dance idola gue) ketika gue cerita kalau gue bakalan ke New York ("ASTAGA TIMES SQUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARE!!!!" katanya di chat siang itu).

Lagi-lagi gue katakan gue deg-degan. Parah sih. Sampai-sampai ketika gue mau wawancara Visa ini, gue merecoki banyak sekali orang di aplikasi chat di hape gue. Ajie adalah salah satunya. Nyokap gue dan kakak-kakak gue adalah orang lain yang kayaknya nggak bisa tenang karena gue sendiri membuat mereka nggak tenang. Setiap kali chat ke kakak gue, pasti pake capslock. Kalau telepon pasti langsung yang heboh sendiri.

Gue takut nggak dapet Visa. Takut nggak jadi berangkat LOL Karena ketika email itu masuk ke inbox gue hari itu, ada feeling yang aneh yang nonjok tiba-tiba di dada sebelah kiri. Semacam keyakinan kabur kalau ini rejeki gue. Kali ini gue bisa bepergian jauh (walaupun untuk pekerjaan).

Karena wawancara Visa nggak boleh bawa tas besar, akhirnya gue hanya bawa tas goodie bag sisa nonton film 'Gangster' beberapa hari yang lalu. Di dalamnya ada folder plastik berisi berkas-berkas yang sekiranya dibutuhkan dan juga dompet. Hape gue tinggal di kantor karena juga katanya saat wawancara Visa itu nggak boleh bawa hape. (Eh pas sampai di sana ternyata boleh-boleh aja bawa tas besar dan bawa hape karena ada deposit counter-nya).

Masuklah gue ke barisan orang-orang yang mengular di bawah rel kereta Stasiun Gambir itu. Salah satu bapak-bapak yang kayaknya kru kapal pesiar atau apa gitu, nyapa gue dan kita pun memulai obrolan soal Visa ini.

"Nanti kalau ditanya sama mereka pake Bahasa Inggris, jawabnya pake Bahasa Indonesia aja," kata si bapak.

HAH. APA NIH BENTAR GAK NYAMBUNG.

"O gitu?" pura-pura nyambung.

"Iya, soalnya kalau dijawab pake Bahasa Inggris, nanti bakalan ditanya macem-macem dan panjang lebar pake Bahasa Inggris. Ya kecuali emang Bahasa Inggrisnya bagus sih. Kalo enggak, mending pake Bahasa Indonesia aja," kata dia lagi.

Gue belum ngerti maksudnya tapi ketika di dalam akhirnya gue tahu kenapa: staf yang wawancara ternyata bisa Bahasa Indonesia.

MASYA ALLAH! Tahu gitu kan gue nggak perlu deg-degan sampai ngerecokin orang banyak kemaren-kemaren. Alasan kenapa gue uring-uringan sebenarnya ya ini, gue nggak yakin sama kemampuan berbahasa Inggris gue ketika wawancara Visa ini.

"Lo harus tegas dan jangan terkesan lo ngomong terbata-bata," kata bos gue menasihati. Makin deg-degan kan. Kalau tahu mereka bisa Bahasa Indonesia yaudah gue kan dari kemaren bisa tidur nyenyak.

Sekitar dua jam dari sejak kedatangan (dan ngemper di bawah rel kereta) akhirnya gue dan beberapa orang masuk ke ruang wawancara Visa. Ternyata ruangannya jauh dari bayangan gue. Gue pikir suasananya bakalan kayak wawancara kerja atau wawancara paspor. Eh ternyata kayak beli tiket KRL semata.

Ketika urutan gue dipanggil, perasaan deg-degannya sudah agak berkurang. Awalnya gue nggak yakin kan dengan kata-kata si bapak kalo bisa pake Bahasa Indonesia. Tapi pas di sana dan denger beberapa orang melakukannya, gue makin lega dan tenang. Pas gue maju yaudah gue udah tahu mau ngomong apa at least tanpa perlu berpikir dua kali untuk men-translate-nya di kepala kan.

Tapi yang bikin deg-degan lain adalah ketika satu keluarga di depan gue di wawancara. Anaknya ada di barisan di sebelah kanan gue. Bapak Ibunya ada di depan gue. Ketika Bapak dan Ibu si anak diwawancara, si anak di-hold dulu status Visa-nya karena mungkin nunggu Bapak dan Ibunya. Tapi beberapa saat setelah itu Visa si anak ditolak.

Gue ngeliatnya bener-bener yang "ANJIR INI GAK BAIK SEBAGAI TONTONAN HATI YANG LEMAH KAYAK GUE." karena keparnoan gue akan penolakan semakin menjadi-jadi.

Bapak dan Ibu si anak ditanya macem-macem soal rencana liburan mereka di Amerika. Sampai akhirnya mereka ditanyain buku tabungan dan dikasi tunjuklah saldo mereka. Tapi entah kayaknya saldonya nggak cukup atau gimana, akhirnya Visa mereka bertiga ditolak.

Sakit.... Rp 2,4 juta kali 3 melayang.

Di sebelah kiri gue, ada bapak-bapak lain yang juga bermasalah. Ketika diminta menunjukkan surat-surat kelengkapan, dia nggak bawa semua. Kalau yang ini sih gue udah yakin nggak bakalan lolos. Kayak nggak punya persiapan sama sekali. Awalnya gue kasian tapi lama-lama kok kesel juga. Maksud gue, kecuali lo anak Barrack Obama ya bolehlah gausah bawa persyaratan buat ke Amerika. Apa mungkin emang dia niatnya mau buang-buang uang aja Rp 2,4 juta hari itu.

Bisa jadi.

Ada lagi bapak-bapak yang Visa-nya ditolak karena memberikan keterangan yang dianggap palsu. Ini agak sedih tapi juga lucu. Jadi kan si bapak ini ditanya apakah dia sudah menikah atau belum. Dia jawab sudah menikah. Kemudian ditanya apakah dia sudah punya anak atau belum. Dia jawab belum punya anak. Tapi kayaknya sebelum dia bikin Visa, data diri istrinya pernah tercatat di Kedutaan Besar Amerika. Dan data diri istrinya ternyata bertolakbelakang dengan keterangan yang dia kasih.

"Bapak yakin belum punya anak?"

"Iya yakin lah. Saya baru satu tahun menikah soalnya,"

"Tapi di sini, istri Bapak pernah mengurus Visa dan dia bilang dia sudah punya dua anak,"

KEMUDIAN HENING.

LAMA SEKALI.

"Tapi saya belum punya anak!"

"Tapi di sini istri Anda bilang kalau dia sudah punya dua anak dan bahkan akan lahir anak ketiga. Itu sudah beberapa tahun yang lalu,"

"SAYA BARU MENIKAH SATU TAHUN!"

"Tapi di sini istri Anda bilang....."

Gue ada di belakang bapak itu dan gue nggak tahu harus ketawa atau memberikan puk-puk manja. Gimana coba perasaan lo ketika lo tahu bahwa lo bukanlah satu-satunya orang yang berhubungan dengan orang yang selama ini lo anggap sebagai kekasih....

(EH ENGGAK MAKSUD APA APA SIH KE BAPAKNYA INI BAPER AJA)

Akhirnya Visa bapak itu ditolak. Sampailah ke giliran gue.

Rasa deg-degannya udah menguar. Karena yang wawancara ini mas-mas, jadi gue berasa lebih pede. Biasanya kalo sama mbak-mbak gue lebih yang malu-malu. Gue ditanya beberapa pertanyaan seperti mau ngapain di sana, siapa yang membiayai perjalanan ini, pekerjaannya apa, berapa lama bekerja, di sana nanti akan tinggal di mana, dan beberapa detail pertanyaan yang gue lupa.

Enggak sampai tiga menit berdiri di depan loket, masnya langsung ngasih kerta putih yang berarti, "Visa Anda akan jadi dalam tiga sampai empat hari dari sekarang dan bisa di ambil di lokasi yang sudah ada di kertas ini."

KUASA ALLAH UNTUNG MASNYA NGGAK TIBA-TIBA BILANG "MAAF DI SISTEM KAMI BAPAK SUDAH PUNYA ANAK SEBELAS."

Berasa kucing.

Jadilah nih, gue berangkat ke New York.

YA ALLAH.

"Pokoknya nanti harus foto di tempat Glee nyanyi itu ya kak!" gue inget banget kata Sammy ketika gue akan berangkat.

Dan ketika gue berada di sana, gue nggak bisa berenti gemeter. Si anak kampung yang kagum liat Depok, makin nggak bisa nafas pas liat Empire State Building.

Guys, dreams really do come true.
*

Bolehlah add LINE@ KaosKakiBau dengan search (pake @) di @ecd6150l. Belum punya kartu kredit jadi masih gratisan. hihihi Thank You! Keep update!

Share:

33 komentar