KaosKakiBau ke New York [Part 6]: Pergi Pulang New Jersey - New York

Sama aja kayak Jakarta, New York di hari Senin pagi juga macet. Lebih-lebih lagi ruas jalan di kota ini sempit jadi kalo udah macet ya begitulah. Nggak bergerak. Enggak heran kalau orang-orang lebih milih naik Subway buat ke tempat kerja. I mean, come on, kalo nggak jalan di kota ini kayaknya belom sah jadi New York-er. Hahahaha

Di beberapa bagian kota juga gue perhatiin ada banyak gedung-gedung yang sengaja di bangun sebagai tempat parkir. Kalo gue pernah mengeluh soal ongkos parkir di Jakarta yang mahal, ternyata ongkos parkir di New York lebih mahal. Iyalah! Dolar!

Setelah sarapan dan nggak sengaja ketemu Scott di restauran hotel, gue buru-buru beresin barang-barang untuk persiapan liputan. Hari ini (lebih ke hari itu sih kayaknya ya, Senin, 28 September 2015) tujuan liputan pertama kami ke Carlo's Cake Factory yang ada di New Jersey. Waktu pertama kali denger kata New Jersey mungkin yang langsung kebayang di kepala gue adalah Ailee. Karena setiap kali ngetik berita Ailee pasti gue selipin kota tempat tinggalnya dulu itu.

Ke New Jersey kita naik bus yang disediain sama Discovery Networks International. Yes. Kesampaian juga akhirnya naik bus kota walaupun tujuannya bukan keliling New York. Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting bisa ngerasain aja gimana rasanya naik bus di negara lain setelah selama ini mentok dengan Kopaja 602 dan MetroMini 75.

Busnya lucu. Kayak bus sekolah yang di film-film. Di dalamnya cukup mewah juga dengan televisi dan sebagainya. Di kursi bagian depan malah ada meja yang melingkar terus di setiap pegangan kursinya ada lubang buat naruh gelas kopi. Ngomong-ngomong soal kopi, pagi ini gue kayak minum banyak banget kopi mengingat gue tidak tidur dengan benar semalam. Menghindari ngantuk. Untung sepanjang perjalanan ke New Jersey, Gayle ngajakin ngobrol terus. Gue jadi seneng.

Secara nggak sengaja dalam perjalanan ke Carlo's Cake Factory itu, Gayle nanya Facebook, Twitter dan Instagram gue apa. Gue agak malu sebenarnya ngasih tahu ke dia soalnya akan ada banyak hal yang harus gue jelaskan.

"Loh kenapa Ron Kevin? Kenapa Twitter-nya Ronzzy Kevin?"

Ini bagian paling sulit. Nama gue bukan Kevin. Gue mungut nama itu sejak 2009 dan gue nggak ngerti kenapa sekarang gue nggak bisa lepas dari nama itu. Kalo kata temen-temen gue di Geng Gila EXO, nama Ronzzy Kevin sudah kayak brand tersendiri. Makanya setiap kali gue berniat ganti username di Twitter, mereka selalu marah-marah.

"Udah okelah Ronzzy Kevin! Gausah alay!"

Padahal sebenarnya ini udah nama teralay gue.

Gue mau ngejelasin ke Gayle kenapa gue pake nama Ronzzy Kevin. Tapi karena terlalu panjang, akhirnya gue singkat saja. "Itu kayak nickname gue di media sosial gitu loh. Ronzzy itu kayak semacem lucu aja," padahal sebenarnya penjelasannya enggak gitu.

Ronzzy itu diambil dari kata Ron dan Zzy (HUEK) (YA MENURUT LO). Ron itu nama belakang gue dan panggilan gue sejak SMP (sebelumnya dipanggilnya bukan Ron. Pas SD dipanggil Mikael), sementara 'Zzy' itu... hmm... setelah gue pikir-pikir mungkin terinspirasi dari kata 'Frenzy' yang artinya 'kegilaan'. Semacem image gila yang muncul di media sosial dari seorang Ron. Sementara Kevin itu... suka aja.

*

WAKAKAKAKAKAKAKKA INI SEBENARNYA KEPIKIRAN PAS GUE NGETIK AJA. SEBELUMNYA PENJELASANNYA NGGAK KAYAK GINI.

Gayle pun memutuskan untuk menambahkan gue ke teman Facebook dia lalu mem-follow Twitter dan Instagram gue. Kalo udah ruang lingkup profesional gini yang ngikutin media sosial maka sudahlah gue akan hancur. Gayle nggak tahu aja gue nge-tweet kayak gimana. HURUF BESAR SEMUA. k4d4n6 p4k3 b4h454 4n3h. Sometime juga using bahasa yang igeon chorom. Huff. Sekarang gue mengerti kenapa orang butuh yang namanya personal account dan spazzing account.

Sementara buat gue, ranah personal gue dan ranah spazzing adalah hal yang sama. LOL

"Followers lo banyak juga ya?" kata Gayle ketika liat Twitter dan Instagram.

"Well... yeah, I'm kinda popular, you know," tolong jambak gue.

Untungnya Gayle nggak muntah berlian. Padahal lumayan kalo misalnya beneran kan bisa extent di New York sampai tahun baru.

Gayle kemudian juga ngeliat salah satu postingan gue di Times Square malemnya dan di situ gue tulis caption 'Alay'. Oke. Makin riweuh aja hidup gue ketika dia nyanya apa itu alay. HOW CAN I DESCRIBE ALAY IN ENGLISH?!

"Hmm... its an acronym actually. Alay stands for Anak Layangan. We called a kid who like flying kite and playing under the sun until their skin burnt and their hair color changed. Thats the original Alay. But nowadays the word meaning has changed to someone who attend music show on TV and get paid for making noises,"

Semoga itu menjelaskan.

"They get paid? The audience?"

"In my country, yes,"

Mau ketawa. Gimana dong. Gue nggak bisa bohong. Tapi beruntung obrolan itu hanya bertahan beberapa menit saja karena nggak lama setelah itu kita sampai di New Jersey, di depan Carlo's Cake Factory.

Oke, sepanjang perjalanan ke NJ pemandangannya bener-bener menyenangkan. Nggak terlalu banyak gedung tinggi kayak di New York dan Manhattan. Tapi di sini bangunannya lebih klasik dan otentik. Warna-warnanya juga cerah-cerah. Sayangnya nggak bisa banyak foto karena dari dalam bus nge-blur terus fotonya.

Turun dari bus, pekerjaan dimulai. Gue sudah standby dengan sound recorder di handphone, pulpen dan notes. Ala-ala jurnalis beneran gitu deh pokoknya. Padahal sih yang dicatet sebenarnya enggak ada. Ujung-ujungnya hanya mengandalkan foto, ingatan dan suara di rekaman sebagai bahan tulisan. Tapi gue cukup jago mendeskripsikan suasana, tbh. #gak

Pintu masuk pabrik kue ini kecil banget. Nggak banget sih sebenarnya. Ya standar pintu masuk ke Money Changer di Jakarta lah. Di depannya tapi parkir mobil-mobil sport mewah gitu. Gils... mudah-mudahan itu doorprize. Pas pintunya dibuka, ada suara gemerincing yang menyambut. Nggak cuma itu aja, aroma khas kue yang masih panas dan baru selesai dipanggang langsung menyerbu masih ke lubang hidung.

ZZUUUNGGGGG!!!!!!!

YA ALLAH LAPER!!!
*
*
Awalnya gue pikir itu setelah masuk kita langsung sampai ke dapurnya. Tapi ternyata enggak. Itu baru ruang tamu kantor dari pabrik kue ini. Pabriknya sendiri ada di bagian agak ke belakang. Sementara sebelum ke sana kita diajak tur dulu ke ruang kerja Buddy Valastro, si Cake Boss. Ya seperti namanya, ruangan kerja itu memang keliatan punya bos banget. Rapi dan tertata. Isinya kayak piagam penghargaan dan piala-piala yang berhasil dia dapatkan dari jadi seorang pembuat kue profesional.

Di dinding-dinding ruangan kantor ada foto-foto keluarga dan foto-foto orangtuanya. Ada TV besar juga yang katanya dia tonton kalo lagi bosen. Tentu saja ada laptop dan yang lain-lain. Mungkin dia sempat nyebutin ada kamar mandi juga di situ tapi gue nggak begitu perhatian karena terlalu fokus ngeliatin foto-foto yang ada di dinding.

Apakah memang karena dia public figure kali ya, Buddy Valastro ini orangnya ramah banget. Setelah tur kantor, dia ngajak kita mulai masuk ke pabrik kuenya. Oke ini bener-bener pabrik kue berskala besar. Di mana mixer-nya aja bisa nampung badan gue sendiri. Oven-nya bisa nampung lima badan gue sendiri. Rak-rak buat manggangnya tinggi-tinggi. Dan sebagian besar kuenya dibuat pake tangan, enggak dipotong pake mesin gitu. Yang paling ganggu sebenarnya aroma kuenya. Coklat..... vanilla.......... tepung yang dicampur gula dan telur lalu di panggang.......... hidung bahagia, perut belum tentu.

Nah kalo lo nonton Cake Boss, pasti lo akan akrab dengan pabrik kue ini karena syuting variety show itu dilakukan juga di sini. Di pabrik ini ada lagi tempat yang namanya wood warehouse. Di situ kayak gudang kayu yang digunakan buat bikin tatakan kue berbagai macam bentuk dan ukuran. Si Buddy ini pernah bikin kue segede Aligator dan replika Merlion Singapura. Nah itu rangka kuenya dibuat di sini.

Ada lagi di bagian lain pabrik kue itu gudang penyimpanan bahan mentah dan kue jadi sebelum diantar ke toko-toko. Luas banget kayak lapangan tenis. Dan ruang penyimpanan yang sudah jadi itu dinginnya minus berapa derajat Fahrenheit gitu. Pas pintunya dibuka, dinginnya langsung nembus ke celana jins gue hahahahaha kocak!
*
*
Nah, yang paling seru dari perjalanan ke pabrik kue ini sebenarnya adalah sesi menghias cupcake-nya. Kita diajak ke ruangan khusus yang memang selalu digunakan sebagai kelas menghias cupcake, salah satu program dari Carlo's Cake Factory. Ruangan itu luasnya kayak aula sekolah gue. Di setiap sisinya ada mesin-mesin yang bisa digunakan buat membantu mencampur fondant dan semacamnya. Ada rak yang berisi alat-alat pemotong dan cetakan buat fondant. Ada mesin giling buat fondant dan juga wastafel.

Kita dibekali enam cupcake dan fondant dengan warna-warna dasar seperti putih, biru, kuning dan merah. Nanti warna-warna itu bisa dicampur buat membentuk warna lain. Ya kayak gitu deh simpelnya. Sementara nunggu giliran wawancara sama Buddy, gue pun fokus menghias cupcake dan sudah punya banyak ide di kepala.
*
*
Gue memang suka nonton-nontonin tutorial masak di YouTube. Dan bikin kue. Tapi belum pernah ada yang gue praktekan. Ini pertama kalinya jadi gue bener-bener excited dan pengen serius banget gitu. Yaudah, dari jam 11 sampai jam 2 siang, enam cupcake pun berhasil gue hias dengan susah payah. Hihihi
*
*
Gayle nanya ke gue itu tulisan Korea artinya apa. Gue kasi tahu aja itu tulisan SUHO (walaupun sebenarnya gue salah sih itu hangeul-nya kurang segaris). Dia tanya lagi, SUHO itu artinya apa sih? Ya gue kan bingung. Sebenarnya nama SUHO itu sendiri bener-bener berarti Guardian atau nggak. Tapi karena Gayle juga kayaknya nggak ngeh sama itu, jadi yaudah gue bilang aja, "Iya ini SUHO member EXO, terus kayaknya sih artinya Guardian Angel gitu," #NGEK #NGOK

Setelah enam cupcake selesai dihias, kita boleh bawa pulang semuanya dengan box khusus dari Carlo's Cake Factory (Carlo's Bake Shop). Salah satu tutor yang ngajarin nulisin nama di box-nya supaya nggak ketuker sama yang lain.

Akhirnya nggak penasaran lagi gimana serunya menghias cupcake. Pengalaman pertamanya menyenangkan banget. Mana di luar negeri pula! Dah nggak bisa berhenti bersyukur aja kalo kayak gini. Gue jadi inget pengalaman pertama garden party gue juga pas di Ostrali. Ternyata orang luar negeri kalo pesta seru ya. Hahahaha

Setelah selesai di pabrik kue, kita naik bus lagi ke kawasan Hoboken, New Jersey. Kali ini tujuannya adalah toko kuenya. Namanya Carlo's Bake Shop. Popularitas toko kue ini sepertinya memang sudah luar biasa. Soalnya udah lebih dari seratus tahun nih dan juga udah terkenal lewat acara TV Cake Boss juga. Yang di Hoboken ini adalah yang original dari 100 tahun yang lalu. Otentik banget ya rasanya!

Lokasinya persis di depan balai kota gitu. Bangunan-bangunan di sekitar lokasi ini juga enak banget kalo buat foto terus di Instagram-in. Tapi sayangnya nggak sempat ke kawasan-kawasan sekitar karena harus fokus kerja. Akhirnya cuma masuk ke toko kue, liat-liat sebentar, foto-foto keramaian yang lagi antre, nyium aroma kue tanpa bisa mencicipinya (HIKS!) lalu keluar lagi dan siap kembali ke New York untuk ketemu sama Randi Fenoli.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on

*
Dari New Jersey ke New York gue baru berasa agak capek dan mengantuk. Gue berusaha untuk tidur sejenak di kursi bus tapi pemandangan di luar bener-bener sayang untuk dilewatkan. Ada kali gue tidur lima menit tapi terbangun ketika kita lagi lewat Grand Central Station. Gue lupa banget ada lokasi ini! Padahal sering denger di lagu Lady Gaga sama Beyonce. Ah yah, karena nggak sempat pun untuk mampir, akhirnya cuma motret dari bus aja ketika berenti karena macet. Next time deh ya.

Kalo next time itu ada.

Janjian sama Randi Fenoli di kantor Discovery Networks International di New York. Kantornya sih sebenarnya B aja. Tapi karena ini di pusat kota jadi nuansanya tetep enak banget gitu. Ala-ala kantor televisi sewajarnya lah. Buat yang nggak tahu Randi Fenoli (gue juga nggak tahu sebenarnya tapi sebelum liputan ini gue udah sempat nonton dan kenalan lewat Wikipedia), dia adalah salah satu fashion director di Kleinfeld Bridal. Acara yang dibawakannya itu 'Say Yes to the Dress'.

Randi orangnya menyenangkan dan baik hati. Ramah banget dan lucu. Nggak ragu-ragu buat bercanda dan cerewet. Walaupun usianya udah nggak muda lagi, tapi dia tetep ada aura awet muda. Senyumnya lebar banget dan setiap diajak ngobrol lemah gemulai menyenangkan. Kalo salaman sama dia, dia genggam tangan kita dengan dua tangan dan lama banget ditepok-tepok sambil bilang "So nice to meet you. Thank you. I know you already had very long flight," dan kayak gitu.

Dapat sambutan dari tuan rumah yang begitu ramah dan menyenangkan, ya apalah arti penerbangan berjam-jam dan rasa capek karena harus liputan dan kerja. Semuanya akan sangat dinikmati aja sih. Dan sepanjang sesi "kuliah umum" sama Randi Fenoli (dia menjelaskan beberapa gaun pengantin yang dibawanya dari Kleinfeld), gue cuma bisa diem dan ketawa aja denger dia cerita soal masa kecilnya.

Buat gue sosok Randi ini sangat inspiratif. Sebagai seorang laki-laki yang suka ngejahit dia ngejer mimpinya dari kampung petani lah istilahnya sampai ke New York dan akhirnya sukses. Meski sukses dia tetep aja ramah. Walaupun dia capek dan malam itu akan ngejer flight lagi, dia tetep berusaha buat jawab pertanyaan para jurnalis dengan ceria dan bersemangat. Merasa dihargai aja gitu. Seneng banget!

Hari itu belajar banyak banget deh dari seorang Randi Fenoli. Bagaimana dia berjuang buat mengejar mimpinya, keluar dari rumah karena ayahnya nggak ngebolehin dia jadi fashion desainer tapi kemudian dia berhasil sukses dengan usahanya sendiri, biayain kuliahnya sendiri sampai akhirnya dia berprestasi di kampus dan direkrut sama Kleinfeld buat jadi desainer dan sekarang jadi fashion director. Tapi dia masih ramah sama orang. Bener-bener deh. Salut!
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Setelah selesai wawancara dengan Randi, kerjaan kelar. Tapi tiba-tiba salah satu orang Discovery-nya ngabarin kalo bus yang seharusnya membawa kami ke hotel terjebak kemacetan. Pilihannya kalo mau pulang ke hotel tepat waktu adalah naik taksi atau subway.

Gue sama Mbak Laila berdiskusi sebentar. Gue mau naik subway soalnya naik taksi tentu saja nggak ada bedanya sama naik bus kan pasti macet juga. Naik subway kayaknya seru karena gue belom pernah jadi gue pengen aja. Setelah meyakinkan Mbak Laila dan diapun setuju untuk naik subway, akhirnya kita semua kembali ke hotel dengan subway.

YAY! PERTAMA KALI NAIK SUBWAAAAYYYY!!!

Lokasi stasiun subway-nya sendiri nggak terlalu jauh dari kantor Discovery. Yang bikin gue kagum sama subway di New York ini adalah, nggak ada bangunan stasiunnya yang keliatan jadi nggak mengganggu pemandangan kota yang indah itu. Dan pintu masuknya juga dibuat kecil banget langsung tangga menuju ke bawah tanah gitu. Bawah tanahnya bener-bener yang bawah tanaaaaaaaaaahhhhh kayak curam banget. Kalo banjir bandang mungkin semua terendam dan mati di bawah sana.

Tapi karena di baaawaaaaaaaaaaaaaaaaaaah tanah, udaranya jadi yah, seadanya aja. Nggak heran orang-orang di situ jalannya cepet-cepet. Soalnya kayaknya mereka juga nggak tahan pengen menghirup udara segar keluar dari sana hahahahaha

Kelompok kita sekitar delapan orang sore itu naik subway ke stasiun terdekat dengan hotel. Lucunya, enggak ada yang punya kartu subway, akhirnya beli yang buat sekali pake. Dan satu kartu digesek ternyata cuma buat empat orang doang dan nggak bisa lagi, akhirnya beli lagi satu buat empat orang lainnya. Dan semua itu dilakukan oleh orang Discovery-nya. Kita mah tinggal ngikut aja. HEHEHEHE SENENG! Walaupun sebenarnya penasaran ingin melakukannya sendiri.
*
*
Subway-nya ya nggak yang bagaimana-bagaimana ya. Biasa aja sih. Nggak jauh beda sama KRL juga. Tapi ada nuansa yang seru aja karena itu di Amerika gitu. Pengapnya sama aja. AC-nya kalo lagi dingin ya dingin. Gitu.

Sepanjang hidup gue nih, gue cuma pernah naik kereta-keretaan di tiga negara doang. Australia dulu, baru Indonesia (Jakarta) terus Singapura dan Amerika. Di Australia, KRL-nya enak banget dan nyaman. Di Indonesia gue pernah merasakan kereta ekonomi yang nggak ada pintunya itu sampai yang ekspress sampai yang akhirnya ekspress dan ekonomi dihapus. Nyaman sih, kalo kosong. Di Singapura juga gue pernah naik dan anehnya, kereta di Singapura lebih enak dari di New York ini. Muahahahahaha

Tapi naik subway di New York checked!
*
*
Sesampainya di hotel, gue sama Mbak Laila kepikiran buat jalan-jalan lagi. LET'S GO MBAK! Masih banyak sisi kota New York yang harus dijelajahi dalam waktu singkat nih. Akhirnya malam itu berbekal peta yang didapatkan dari hotel, kita pun berniat pergi ke Central Park.

Wih! Di Jakarta ada sih mall namanya Central Park dan katanya terinspirasi dari yang di New York. Kan jadi penasaran sama penampilan yang di New York-nya kayak gimana. Walaupun jaraknya cukup jauh dari hotel, kita berdua membulatkan tekad untuk berjalan kaki. Gue seneng deh sama Mbak Laila karena dia nggak pernah ngeluh sama jarak yang jauh atau semacemnya.

Gue sendiri emang orang yang suka banget jalan kaki. Mungkin juga sukanya karena masalah kebiasaan. Dari SD sampai SMA gue selalu jalan kaki ke sekolah. Ada masa-masa gue naik motor sih ke sekolah, tapi gue ngerasa kayak beban gitu karena ada satu temen gue yang selalu jalan kaki dari rumah ke sekolah dan kebetulan arah pulang kita searah. Dan masalahnya dia nggak pernah mau kalo gue anter pulang naik motor. Yaudah daripada repot jadi gue putuskan untuk jalan kaki sejak kelas dua SMA sampai lulus demi bisa bareng sama temen gue ini.

Namanya Hulpy, cewek, sekarang dia sudah nikah. HAHAHAHAHAHA ADUHHHHHHHHHHHH WHY.

Selama kuliah gue juga selalu jalan ke kampus. Jadi jalan bukanlah sebuah hal yang seharusnya dikeluhkan sih. Karena sekali lagi dengan berjalan kita bisa melihat banyak hal bahkan bisa menciptakan banyak monolog. LOLS

Perjalanan dari hotel ke Central Park sekitar 20 sampai 30 menit dengan kecepatan moderate. Gue berusaha mengimbangi kecepatan jalan Mbak Laila yang ternyata oke juga. Tapi masih sedikit lebih lambat daripada gue. Sepanjang perjalanan itu kita juga ngobrol dan gue kasih tahu ke dia kalo malam ini gue juga pengen mampir ke Rockefeller Center karena ada temen gue yang nitip mug dan cuma dijual di sana. Mbak Laila pun mengiyakan. Walaupun kita sama-sama nggak tahu arah dari Central Park ke Rockefeller itu kemana, tapi cukup berbekal peta saja sudah mendingan lah.

Waktu kita sampai di Central Park, gue agak shock. Karena ternyata lokasi ini sudah pernah gue lewati ketika gue datang dari bandara kemaren. Gue ingat ngeliat ada kereta-kereta kuda gitu sama banyak penjual bunga. Terus juga ada banyak yang seru kalo sore-sore. Ternyata malam di Central Park nggak terlalu asyik. Di bundaran yang ada tugu malaikat-malaikatnya sih banyak yang nongkrong. Tapi pas ke bagian tamannya ternyata gelap WAKWAKWAKWAKWAKWAKWA
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on

*
Gue baru sadar kalo Central Park ini kawasan konservasi yang emang mirip hutan. Ya pantesan gelap. Siapa yang mau malam-malam ke situ kecuali buat mesum kan.

Karena merasa tidak seru, jadilah kita langsung balik aja dan langsung ke Rockefeller Center. Sebelumnya Mbak Laila nawarin buat beli makan dulu. Yes, waktunya mencoba kedai makanan halal pinggir jalan yang kayaknya udah jadi salah satu makanan yang wajib dicoba di New York selain $1 pizza.

Kedai makanan halal ini sebenarnya sih sederhana aja. Kayak model foodtruck gitu dan mereka jual semacem nasi bersama salad dan daging-dagingan. Ada kambing sama ayam. Katanya sih spesial pake saos merah sama saos putih. Tapi gue nggak pake saos putih karena merasa tidak nyaman saja dengan warnanya (APA DEH). Terus akhirnya pesen deh itu nasi kebab yang ternyata bentuknya kayak nasi goreng sama sate ayam aja.

Rasanya biasa aja. Tapi kalo makannya pas lagi laper sih enak. Harganya juga cukup murah mungkin ya dibandingkan dengan kalo makan di restauran gitu. Range harganya mulai $5 sampai S7. Setelah beli, kita berdua jalan mencari arah ke Rockefeller. Pas ketemu, Alhamdulillah tokonya masih buka dan itu udah nyaris tutup karena jelang jam 9 malam. Gue masih bisa beli pesenan temen gue.

Setelah itu kita duduk-duduk di taman yang ada di sana dan makan. Porsinya ternyata guede banget. Gue sampai nyisa dan gue bawa ke hotel terus gue makan besok paginya masih enak wakwakwakwakwa.

Rockefeller Center bagus banget kalo malem. Banyak bendera-bendera dari berbagai negara gitu. Terus juga ada taman dan lampu-lampu yang seru aja buat diperhatikan. Sekali lagi karena gue lagi jalan sama mbak Laila yang kayaknya enggak terlalu fancy ke foto-foto, jadilah gue cuma foto pemandangan doang :")
*
*
Sekitar jam setengah sepuluh kita jalan pulang ke hotel dengan melewati jalan yang berbeda lagi kali ini. Selain Starbucks dan McDonald, ternyata di New York juga banyak kios-kios video porno yah. Baru sadar pas balik dari Rockefeller Center itu wkwkwkwkwkw

Malam itu rasanya capek banget dan pengen cepet tidur. Besok hari terakhir dan masih ada satu perjalanan lagi di subuh hari sebelum pulang ke Jakarta.
*

Share:

12 komentar