KaosKakiBau ke New York [Part 7 - Habis]: It's Time To Say Goodbye!

Gue bukan tipikal orang yang suka nonton drama atau film yang happy ending. Kadang-kadang menurut gue, film yang happy ending itu klise. Dibuat seolah-olah dunia ini hanya berisi kebahagiaan. Dibuat seolah-olah semuanya akan baik-baik saja. Bagus sih, punya pola pikir seperti itu. Positif dan selalu menyenangkan. Tapi kadang-kadang ini jadi nggak realistis ketika akhirnya kita menjalani sendiri kehidupan dan merasakan berbagai macam penolakan dan kekecewaan. Walau sekecil apapun.

Gue suka nulis cerpen dan beberapa kali nulis fanfiction juga sejak kenal KPop (sila cek di sini). Menentukan ending bisa jadi adalah yang paling sulit buat gue. Mungkin gue emang masih amatir, tapi gue denger-denger bahkan penulis besar pun katanya agak sulit menentukan bagaimana ia harus mengakhiri kisah yang sudah dia bangun dengan penuh kasih sayang itu.

Maka sulit juga buat gue untuk mengakhiri cerita perjalanan ke New York ini, walaupun perjalanannya harus berakhir juga bagaimanapun. Kecuali gue tiba-tiba diadopsi sama orangtua kaya raya di New York dan diajak pindah kewarganegaraan dan disekolahkan dan bla bla bla bla.... yang akhirnya nggak mungkin kejadian.

Walaupun di beberapa kondisi gue sebenarnya lebih suka ending yang menggantung, tragis, atau mungkin open ending, tapi untuk kehidupan nyata ini, gue tentu ingin ending yang bahagia dari perjalanan gue di New York. Yah... mau nggak mau hukum alam itu terjadi. Semua yang berawal pasti akan berakhir.

Mari berbahagia!!!!

Gue bertekad untuk mengakhiri jam-jam terakhir gue di New York sebisa mungkin membahagiakan dan mengesankan. Kecuali bagian masuk toko oleh-oleh mungkin. Karena itu nggak akan gue ceritakan panjang lebar di tulisan ini, gue hanya bisa menyimpulkan bahwa membeli oleh-oleh adalah hal paling membosankan, membingungkan, menyebalkan, dan semua kata-kata negatif bisa ditulis di sini.

Hari terakhir di New York rasanya sangat aneh. Badan gue bener-bener kecapekan setelah perjalanan ke Central Park malam harinya. Mungkin ini juga karena efek kurang tidur yang sudah sangat berlebihan sejak berangkat dari Doha. Mungkin ini yang dinamakan jet lag tapi gue nggak menyadarinya. Tapi gue meyakinkan setiap sel tubuh gue agar jangan tumbang dulu. Karena masih ada sekitar 20 jam yang masih bisa dinikmati sebelum kembali ke Doha dan terbang lagi ke Jakarta.

Gue tidur cukup cepat malam itu. Padahal keinginan gue untuk begadang dan mem-posting foto-foto yang gue potret di Instagram sangat besar. Tapi karena takut dibilang spamming jadi gue simpan saja untuk di-posting late post selama sebulan ke depan (DAN ITUPUN TERJADI). Sekitar jam sebelas malam gue tidur. Pulas. Tapi sebentar banget. Gue terbangun sekitar pukul dua atau tiga pagi karena ingat gue belum setor kerjaan ke kantor.

Akhirnya gue menghabiskan sekitar satu setengah sampai dua jam di depan laptop sebangunnya gue malam itu. Mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sepanjang hari kemarin selama kunjungan di Carlo's Cake Factory, Carlo's Bake Shop, dan juga ketika wawancara langsung sama Randy Fenoli. Ada sekitar 15 artikel panjang yang harus di buat dari perjalanan 3 hari 2 malam ini. Beruntung tidak semuanya harus diselesaikan malam itu tapi bisa dicicil sampai November. Jadi gue masih bisa agak bersantai.

Setelah selesai ngetik dan mengirim email (SET SET SET WIFI HOTEL SUPERCEPET MAU NANGIS YA ALLAH), gue buru-buru mandi dan sembahyang subuh ketika sudah masuk waktunya. Karena Selasa (29/9/2015) itu adalah hari terakhir di New York yang penuh kebahagiaan ini, maka gue bertekad akan menghabiskannya dengan sebaik-baiknya. Setepar-teparnya. Sampai teler kalau bisa.

Gue masih penasaran dengan Central Park sebenarnya. Jadi hari itu, tujuan utama gue adalah Central Park. Kerjaan di hari terakhir dimulai sekitar jam setengah 10 pagi. Itu berarti dari jam enam gue punya sekitar tiga jam untuk mengarungi jalan dari hotel ke Central Park dan kembali lagi ke hotel. Karena siangnya akan wawancara Theresa Caputo di kawasan Broadway, jadi gue pikir itu sudah terhitung jalan-jalan. Senengnya lagi, hari itu kerjaan akan selesai jam 1 siang. Means, masih bisa jalan-jalan sekitaran kota.

"Oke, hari ini pokoknya gue mau random!" kata gue. Ketika mandi gue udah kebayang akan sarapan di McDonald (oke maafin gue tapi kemanapun gue pergi kayaknya gue mentok di fast food kesukaan gue ini) dan setelah itu membawa kopi berjalan dari McDonald sampai ke Central Park. Setelah itu, biar Tuhan yang menentukan. Pas mandi gue juga inget kalau ternyata gue belum sikat gigi dari gue mendarat di New York sampai hari ini.
*
*

Jorok? Iya makasih. Gue memang jorok. I take that as a compliment.

HUEK.

Jujur aja gue sebenarnya udah kepikiran buat bawa sikat gigi sama odol dari kosan. Tapi gue pikir, "Ah, ini kan hotel di New York, masa mereka nggak prepare sikat gigi sama odol sih? Orang pas di Singapur aja lengkap kok!"

Ternyata memang nggak ada.

Ketika malam pertama di sana gue udah kepikiran buat mampir ke toko kelontong buat beli tapi gue lupa saking excited-nya sama Broadway. Alhasil pagi itu gue sempat-sempatkan mampir ke toko kelontong yang nggak jauh dari hotel gue buat beli sikat gigi, odol dan juga air mineral buat jaga-jaga kalau-kalau gue kehausan sepanjang jalan ke Central Park. Tadinya mau bawa air dari hotel tapi karena botolnya udah dipake buat cebok, jadi......

Ya begitulah.

Bersyukur pagi itu udah ada toko yang buka. Beberapa mungkin memang stay awake for 24 hours. Gue minta sikat gigi sama odol. Dia ngasih odol yang jumbo, gue minta yang agak kecil. Seneng banget liat sikat gigi mereknya Close Up di Indonesia nggak ada soalnya. Kalau odol di luar negeri biasanya Coolgate ya. Pas di Ostrali juga gitu. Sama air mineral totalnya jadi sekitar $7,5. Mau nangis kenapa beli sikat gigi aja lebih dari Rp 100 ribu.

Jalanan pagi di New York hari ini masih sama dari hari kemarin ketika gue ke Madison Square Garden. Bedanya, kalau kemaren gue ke bagian barat New York yang angka jalannya lebih besar dari lokasi gue (gue di 48 St), sekarang gue jalan ke bagian barat yang angka jalannya lebih kecil. Central Park itu sekitar 57 St sampe 60 St sekian kalo nggak salah. Ini males banget buka Google Map buat mastiin.

Toko-toko baju di kawasan Broadway masih terang benderang. Gue pikir mereka buka 24 jam taunya engga. Pas gue mau masuk gue diusir.

"YA MAS LO PIKIR AJA MASA ADA ORANG SHOPPING JAM ENAM SUBUH?! WHERE IS YOUR BRAIN?!?!" kata mas-mas yang jaga.

Atau itu hanyalah di imajinasi gue belaka.

Ya dan pagi itu gue langsung nyebrang ke McDonald terdekat yang gue temukan. Lagi-lagi di sana gue menerima penolakan. Sedih... Salah satu hal yang harus dihapuskan dari dunia ini adalah penolakan. TOLONGLAH HARGAI USAHA KAMI.

"I want chicken burger please," kata gue dengan ramah.

"No chicken burger,"

"Sorry?"

"We're not serving chicken burger,"

"Bu---aaaah, so I just can order the breakfast menu?"

"Yes."

"Yaudah deh kalo gitu paket yang ada pancake sama kopi aja ya."

That's how my morning started.

Setelah pesanan di tangan (PLASTIKNYA GEDE BANGET! DIA PIKIR GUE HAGRID KALI) gue ke atas buat makan di atas karena di bawah kayak nggak kondusif gitu karena sedang dibersihkan. Oke, pemandangan di atas ternyata juga nggak ada bedanya. Sama-sama agak berantakan karena kebanyakan kursi masih terbalik. Sementara ada beberapa orang yang kayaknya nginep di situ dan terlihat teler.

Menjauhi hal-hal negatif, gue menyelamatkan tas selempang HBO yang gue dapatkan dari liputan di Singapura beberapa bulan lalu dan menaruhnya di depan dada. Gue cari duduk yang agak mojok dan menikmati potongan demi potongan pancake McDonald yang sama sekali tidak mengenyangkan itu.

Gue makan cepet banget by the way. Nggak sampai 10 menit, dua pancake itu abis. Sementara kopinya masih panas dan itu berarti gue harus menikmatinya sepanjang jalan ke Central Park.

Keluar dari McDonald, gue sebenarnya nggak tahu harus ke mana. Tapi, yang gue tahu adalah bahwa Central Park itu ada sekitar sembilan belas St berbeda dari hotel gue. Ya itu sekitar setengah jam lah jalan kaki.

"Pokoknya Ron lo sampe aja di 59 St atau 60 St. Kalo udah sampe sana yaudah itu Central Park deket-deket situ," kata gue bermonolog. Ya sepanjang pagi itu gue hanya bisa ngobrol sama diri gue sendiri doang.

Gue jalan lurus dari McDonald dan belok kiri, kanan, lurus lagi dan itu bener-bener random aja nggak ada sama sekali yang direncanakan. Karena gue sudah punya keyakinan kalau gue nggak akan kesasar di situ jadi selama nggak ada penjahat kayak di film-film superhero yang nyulik gue maka gue akan selamat sampai tujuan. Dan yang menarik perhatian gue pertama kali ketika gue sampai di belokan nggak lama setelah gue jalan dari McDonald adalah sebuah bangunan gereja.
*
*

Gue sangat suka arsitektur klasik dan gereja ini mengingatkan gue kayak Hogwarts. Gue langsung foto dari ujung jalan. Gue liat pintunya terbuka lebar dan di dalam lampu-lampu nyala. Wah ini ada yang mau nikahan apa gimana. Subuh-subuh bener. Kata gue dalam hati.

Ketika gue jalan di belokan yang lain, nggak jauh dari sana gue nemu gereja lain yang juga pintunya terbuka lebar. Sampai ketika gue melihat barisan polisi sedang nungguin di ujung jalan dan mengalihkan jalan pagi itu barulah gue sadar kalau mungkin pagi-pagi itu ada jadwal kebaktian atau semacamnya. Karena ketika gue lewat gereja ketiga, sama juga, lampu-lampunya nyala, banyak lilin dan juga orang-orang masuk satu per satu ke sana.

Hari itu sama sekali nggak dingin ternyata. Beda banget sama ketika pertama kali sampai dan pas gue jalan-jalan pagi kemaren. Justru hari ini terasa lebih hangat. NO. PANAS! Sekitar lima belas menit berjalan gue udah keringetan banget mana gue keluar pake baju hangat lagi. BETEK. Gue bisa merasakan punggung gue basah karena keringat dan lengan gue udah nggak nyaman karena sweater lengan panjang yang gue pake hari itu. Tapi ya mau bagaimana lagi. Perjalanan harus diteruskan.

Gue berbelok lagi di jalan yang berbeda dan tiba-tiba aja gue menemukan store brand-brand mahal kayak Prada, Gucci dan semacamnya. Bener-bener feelnya beda banget. Bahkan dari kejauhan pun, toko-toko ini terlihat sangat menarik perhatian dan turis alay seperti gue pun sangat senang melihatnya.
*
*
Gue jalan lagi, lurus terus belok lagi dan kemudian gue ngakak ketika tanpa sengaja gue sampai di depan store Tiffany & Co.

"WAKAKAKAKAKA BREAKFAST AT TIFFANY'S!" kata gue. Padahal gue sendiri nggak ngerti apa yang dimaksud dalam film itu adalah Tiffany toko perhiasan ini atau Tiffany yang lain. Atau mungkin maksudnya malah sarapan di rumah Tiffany 'SNSD'.

Nggak lucu.

Setelah melakukan proof shot di sana (yang di shot kopi McDonald-nya karena pergi sendiri jadi nggak mungkin selfie dan nggak akan terlihat artistik jadi gue nggak mengharuskan diri selfie)

(KENAPA HARUS BANGET ARTISTIK SIH)

(soalnya orientasinya udah harus buat Instagram banget)

(padahal mana ada postingan Instagram gue yang artistik)
*
*
Perjalanan pun dilanjutkan dan seharusnya itu sudah nggak jauh dari Central Park karena gue sudah jalan sekitar dua puluh menit. Mungkin hanya tinggal beberapa blok lagi.

Berjalan di antara gedung-gedung tinggi di pagi hari di sisi lain kota New York masih bikin merinding. Apalagi pas gue berdiri buat foto awan kemerahan yang memberikan sinyal matahari akan terbit, ada suara kicauan burung. MASIH ADA SUARA BURUNG! Seneng banget! Tiba-tiba kebayang burungnya banyak kayak di film 'Enchanted' terus ngebantu Cinderella nyuci seprai.

Burung apa asisten rumah tangga.

Dan bener aja. Nggak berapa jauh dari situ, gue akhirnya sampai di kawasan Central Park. Sebelum nyebrang ke sana, gue memilih untuk duduk di undakan di dekat kayak taman di depan store Cartier. Gue tiba-tiba inget aja sama salah satu adegan film 'Kal Ho Na Hoo' yang juga lokasinya sering banget di Central Park.

Gue duduk merhatiin sekitar.

Di sebelah kanan ada homeless yang lagi makan roti buat sarapan dan duduk di bangku taman. Di sebelah kiri ada eksekutif berjas dan bawa tas koper kayak di film-film siap berangkat kerja. Di kanan agak ke ujung ada bangunan yang ada logo Apple-nya. Nikmat sekali pemandangan khas New York pagi ini. Gue menghabiskan kopi gue buru-buru karena rasanya udah nggak enak dan buru-buru juga buang ke tempat sampah dan nyebrang ke Central Park.
*
*
Taman di tengah kota ini luas banget. Mungkin kalau dua jam keliling nggak kelar kali. Jadi gue pagi itu hanya mengarungi sebagian kecil saja dari tamannya. Sebenarnya pengen masuk ke agak pelosok-pelosoknya tapi gue takut kesasar dan nggak bisa balik. Gue masih mau liputan siang ini jadi nggak bisa terlalu menyusahkan diri dengan kesasar.

Akhirnya gue menjadikan gedung tertinggi terdekat dari gue sebagai patokan. Kalau gue masih bisa lihat gedung itu berarti gue masih dekat dengan kota. Walaupun akhirnya gue nggak bisa menemukan pintu masuk yang gue lalui tapi keluar lewat pintu lain karena kesasar juga.

Baru sampai di sana gue sudah disambut oleh dua orang yang lagi pacaran. Sambil olahraga. Seru aja ngeliatin orang pacaran. Sementara gue pagi itu pacarannya sama kamera digital.

Gue juga disambut sama Chipmunk! ALVIN!!!! Hahaha untuk pertama kalinya gue ngeliat Chipmunk in real life dan ternyata ukurannya memang besar ya! Kayak kucing yang suka keliaran di kampung-kampung. Dan geraknya cepat banget. Jadi pas gue mau foto kaburnya juga cepet. Beruntung gue sempat mendapatkan beberapa fotonya pas dia lagi nyari makan. Dan beneran aja loh kayak di film kartun Chip & Dale, bentuk kacangnya juga identik kayak gitu. Lucu!!!!
*
*
Jalan lagi gue ketemu sama kubangan air atau apa sih ini sebenarnya danau ya. Terus ada jembatannya gitu romantis banget soalnya ada tumbuhan menjalarnya. Romantis buat gue ya kayak gitu deh. Jembatan sama tumbuhan menjalar. Di bawahnya dan di sekitarnya banyak bebek-bebek yang mukanya antagonis banget. Beberapa di antaranya adalah yang kayak di kartun Tom & Jerry yang bisa terbang ke Selatan setiap musim dingin itu. Banyak di antara mereka juga adalah bebek buruk rupa yang warna bulunya coklat jelek. Tapi tetep lucu walaupun mukanya antagonis.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Ada bebek maka ada tahi bebek. Daerah itu juga bau banget kayak kandang burung. Walaupun nggak sampai bikin mati dan harus dikasih napas buatan sih. Nggak lama di situ, gue pun kembali berjalan-jalan.

Ada banyak sekali pilihan jalan setapak di sana. Gue biasanya akan mengambil jalan yang kanan. Tapi karena gue tahu kalo semakin ke kanan gue semakin masuk ke dalam rimba, jadi gue ambil yang kiri aja supaya gue semakin dekat dengan kota.

Nggak heran sih kenapa orang-orang ke situ setiap pagi karena emang udaranya seger buat jalan-jalan dan olahraga. Anjing-anjing peliharaan orang juga seneng banget lari-larian di sana. Pohon-pohonnya juga terlihat sangat enak buat tidur-tidurdan di bawahnya lalu bermimpi bertemu dengan seekor kelinci yang bisa berbicara dan masuk ke dunia antah-berantah. Juga pas untuk berbaring bergaya pin-up girl, mengangkat sebelah kaki yang dilapisi stocking jaring-jaring kayak Zeze versi IU.

Lalu dikira paedofil.

Kalau aroma kota dipenuhi dengan campuran asap knalpot, sedikit kopi dan pizza, aroma Central Park mungkin gabungan antara wangi angin padang rumput di sore hari sampaikan salam gembira. ~~~Hal yang menyenangkan hati banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi~~~ Aroma tanah yang basah, dedaunan, rumput, keringet bule-bule yang gue nggak kenal, kotoran anjing dan juga bau tai burung tercium di beberapa lokasi. Tapi di beberapa lokasi lainnya tetap aroma pagi yang segar.

Karena gue jalan-jalan sendiri, jadi gue gampang mati gaya. Karena nggak bisa foto-foto dengan gaya-gaya alay tetapi terlihat kekinian seperti berbaring di rumput dengan shot dari atas lalu di-posting terbalik di Instagram misalnya, akhirnya gue hanya selfie beberapa kali dan mencari jalan pulang. Walaupun jujur aja itu beneran sempat kesasar karena kok ngikutin arah gedung tinggi malah kayaknya nggak sampe-sampe. Tapi karena kesasar jadi ngeliat banyak hal juga.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul delapan ketika gue meninggalkan Central Park dan melambaikan tangan kepada merpati-merpati yang nangkring di atas lampu jalan. Gak tahu kapan lagi bisa ke sini dan bisa merasakan kenikmatan dunia walaupun hanya sebagian kecil dari nikmat yang sudah Tuhan berikan selama 24 tahun terakhir. Gue menyempatkan diri untuk mampir ke Starbucks pagi itu buat beli kado untuk temen gue yang ulang tahun dan beli titipan tumblr buat temen gue yang anak Starbucks banget.

Gue memilih jalan kembali yang berbeda dari jalan berangkat tadi walaupun sebenarnya gue pun nggak inget tadi gue berangkat lewat jalan mana. Langit New York di pagi hari bener-bener juara. BIRU CERAH DENGAN SENTUHAN SEDIKIT AWAN BERARAK MENYENANGKAN! Gedung-gedungnya jadi semakin membuat tersenyum dan bahagia ketika tertimpa cahaya matahari pagi. Karena matahari juga belum terlalu tinggi, gue juga jalan jadi nggak panas karena terlindung gedung-gedung tinggi yang ada di sana. Mungkin itu juga salah satu yang bikin New York enak buat jalan-jalan pagi ya. Terpaan mataharinya nggak ekstrem.

Gue bahagia banget setiap pengkolan dan lampu merah gue foto karena bener-bener warna yang dihasilkan mantap banget! Gue jadi ingat teori kamera yang gue dapatkan di kampus. "Gambar terbaik akan bisa dihasilkan setelah matahari terbit sampai di bawah jam 10 karena matahari masih bersahabat." Gue udah lulus kuliah hampir tiga tahun dan baru kali ini benar-benar mengerti maksudnya.

Seeing is believing kalo kata Casper.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Gue memutuskan untuk lewat Broadway lagi sepulangnya dan mampir ke Times Square. OMG! TERNYATA TIMES SQUARE PAGI-PAGI ITU LEBIH MENYENANGKAN KETIMBANG MALAM HARI! Lebih sedikit orang dan bisa selfie-selfie alay dengan bahagia banget! Sayangnya pas gue dateng, lokasi tangga-tangga yang semalem rame banget itu lagi ditutup karena sedang dibersihkan. Bahkan lantai di Times Square masih basah ketika gue sampai di sana karena baru abis disiram dan dibersihkan.

Nyaman banget ya kota ini!

Gue duduk di undakan yang ada di sana dan memperhatikan pemandangan yang semalam bikin gue merinding. Masya Allah. Bahkan di pagi haripun lokasi ini bener-bener bikin gemeteran! Billboard-billboard digital raksasa yang memasang iklan di sana bener-bener khas banget dan memorable. Bahkan gue masih inget salah satu billboard itu memajang foto Emma Roberts, salah satu aktris kesukaan gue, dalam balutan bra dan celana dalam. MUAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHA

Udara pagi itu makin hangat dan hangat. Gue makin keringetan. Baju gue makin basah. Ini gue nggak yakin akan pake itu baju sampe siang (walaupun akhirnya gue pake juga karena barang-barang gue udah masuk koper semua untuk pulang malam ini).

ASTAGA! GUE LUPA KALO GUE BELUM PACKING BENER-BENER!

Akhirnya setelah beberapa jepret foto di sana gue buru-buru jalan ke hotel dengan menyempatkan diri foto-foto di setiap pengkolan gang yang gue lewati. Gue sampai di hotel sekitar setengah sembilan pagi dan masih ada sekitar satu jam buat packing dan leha-leha sebelum jalan lagi ke Broadway buat wawancara.

Barang-barang gue sudah harus rapi karena gue udah harus langsung check out pagi itu. Siang masih bisa ke hotel buat ambil barang yang dititip sambil nunggu jemputan mobil buat ke bandara sekitar jam 7 malam. Karena terburu-buru, gue pun nggak sempat memikirkan alternatif tetapi ikut apa yang disarankan oleh Gayle.
*
*
Jadilah siang itu setelah wawancara di restauran di Broadway, gue akan jalan-jalan untuk terakhir kalinya kemudian balik ke hotel dan nunggu jemputan.

Tapi gue inget satu hal. Ketika gue nyari jadwal solat di internet dua malam yang lalu, gue menemukan satu masjid yang nyelip di antara gedung-gedung tinggi yang nggak jauh dari Broadway. Nggak jauh kalo dari peta. Cuma enam atau tujuh blok. Lokasinya di 55 St di bagian Timur, sementara gue lagi ada di Times Square 48 St dan di sebelah Barat.

"Nggak jauh sih ini mbak. Apa kita mau ke sana aja? Jamak sholat baru deh cari oleh-oleh?" kata gue ke mbak Laila.

Gue seneng karena Mbak Laila orangnya baik banget dan ayo aja gitu jadi ketika gue suggest untuk ke masjid dia nggak nolak sama sekali.

"Yaudah ayo kita sholat di sana aja."

"Tapi ya nggak tahu sih ini jauhnya sebagaimana. Gimana?"

"Nggak apa-apa."

Oke. Jadi setelah kita ngobrol-ngobrol sama Theresa Caputo untuk kerjaan, kita berduapun pamit duluan untuk ke masjid dan sholat.

Pamit....

Gue lupa kalau ternyata siang itu adalah momen terakhir ketemu sama semua jurnalis yang ada di sana. Lah kenapa gue tiba-tiba aja baper banget! Walaupun gue nggak secara personal kenalan sama masing-masing mereka, tapi mereka datang ke New York dari negara sendiri dan kemudian sekedar say hi doang aja bikin gue ngerasa diterima banget di dunia ini.

Halah.

Masing-masing jurnalis yang ada di sana gue salamin satu-satu. "See you again guys, sometimes maybe," kata gue.

Terus salah satu jurnalis dari Polandia nanya, pesawat gue jam berapa. "Malam ini jam tujuh."

"Oh my God. You must be so tired. How long it takes to Indonesia once again?"

"Almost 24 hours."

"HEOL." jawabnya.


Lalu kita salaman dan kemudian berpisah. Gue baper. Gue pengen lama-lama di situ. Tapi gue nggak bisa. Gue harus sholat zuhur dan berpisah. Dengan langkah gontai dan hati berdebar, dengan posisi tangan kanan memegang dada kiri dan kepala agak pusing karena tadi cuma makan siang dengan makanan vegetarian padahal gue karnovira sejati, gue keluar dari restauran basement itu dan mengarungi sisi lain lagi dari kota New York menuju ke masjid.

Kita keluar restauran di waktu yang pas. Sekitar jam dua belas. Zuhur harusnya setengah satu atau hampir jam satu. Berarti estimasi gue ketika kita sudah sampai di masjid nanti, udah adzan. Sementara itu gue sama mbak Laila sama sekali nggak tahu persisnya posisi masjidnya di mana. Kita cuma punya peta yang di-capture dari hape-nya Gayle karena gue nggak punya internet dan itu jadi pedoman kita.

Rutenya sih gampang. Dari lokasi kita makan, belok kiri, terus belok kanan dan lurus aja sampai ketemu masjidnya. Tapi "lurus aja"-nya ini yang nggak tahu sepanjang apa. Karena itu tadi, kita nggak tahu apakah itu masjid berbentuk masjid beneran, atau gimana.

Kita sempat bingung ketika merasa sudah melewati blok yang sesuai dengan peta tapi enggak menemukan masjidnya. Sepanjang jalan itu malah kantor, toko baju, tempat makan, kantor, kantor, gedung yang lagi diperbaiki, dan.....

"EH?"

"Kenapa?"

"Itu mbak masjidnya!" kata gue cerita banget sambil nunjuk sebuah bangunan yang terlihat seperti kubah masjid.

"OH?"

Sebentar.

Awalnya gue pikir masjid di New York nggak akan seterbuka ini. SUBHANALLAH?

"Wah berarti keren banget ya ada masjid tapi mencolok gitu?"

Mbak Laila nggak komentar dan kita terus aja jalan dan menjadikan kubah masjid berwarna emas itu sebagai patokan. Alhamdulillah sudah dekat nih! Bisa solat zuhur sekaligus istirahat sejenak. Bisa cuci muka dan selonjoran juga buat sebentar aja.

Kita jalan dan jalan dan jalan dan ketika sudah dua bangunan dari lokasi berkubah itu, kita belok dan.....

"Hehe," gue ketawa malu.

"Hehe," mbak Laila ketawa malu.

Ternyata itu bukan masjid tapi Jewish Church gitu.

Dari jauh beneran kayak masjid.

Sedih.

"Yaudah mbak kita tanya aja sama yang punya halal food deket-deket sini?"

"Oh iya bener," kata mbak Laila.

Kita akhirnya jalan lagi beberapa blok dan nemu pedagang Halal Food pinggir jalan yang pake peci dan keliatannya orang Pakistan atau mana gitu deh.

"Mas, punten, ini masjid terdekat di sebelah mana deh?"

"Oh lurus aja, nomor segini segini di sebelah kanan," katanya. Gue lupa nomor berapa tapi empat ratusan.

"Oh oke mas makasih ya,"

Dan kali ini kita berhasil menemukannya. Dan ternyata di luar ekspektasi.

Ketika Jewish Church bisa semegah itu, masjid yang ditunjukkan oleh pemilik Halal Food tadi ternyata bener-bener gedung yang nyempil di antara gedung-gedung tinggi lainnya. Di lantai satu gedung itu ada toko kelontong dan lokasi sholatnya ada di lantai dua. Sementara wudhu-nya ada di lantai basement. Tempat sholat cewek ada di lantai tiga jadi gue sama mbak Laila misah.

Cuma sebelum kita masuk, ternyata itu masih belum waktu zuhur. Di depan pintu hijau gedung itu yang sama sekali nggak ada indikasi kalau itu masjid, ada tulisan dari kertas yang udah sobek-sobek kalau masjid akan dibuka setiap hari pukul 12:30 PM dan waktu-waktu solat lainnya. Di depannya ada satu orang kulit hitam (maaf) yang jaga dan tinggi banget. Ada perasaan khawatir buat masuk tapi karena mau sholat yaudah masa iya takut gitu.

Pas masuk ternyata gelap banget karena emang belum dibuka dan jam sholat belum ada. Gue wudhu di lantai basement turun tangga dari lantai dua dan itu cukup PR banget. Ternyata ada lift dan gue nggak tahu LOL Pas liat tempat wudhunya, ternyata kotor dan jorok. Sekelas WC umum di mall-mall murahan. Ngenes yah.

Tempat sholatnya juga nggak lebih bagus dari masjid di Mall Kota Kasablanka atau di Pejaten Village. Kalau mau dibandingkan sama mushola karyawan di lantai 3A di Mall Taman Anggrek, nah kayak gitu deh kira-kira.

Ternyata, jadi minoritas itu enggak enak ya. Makanya haruslah kita menghormati mereka yang minoritas karena ketika kita jadi minoritas pasti juga tertekan.

Tapi siang itu yang sholat lumayan banyak. Dari bapak-bapak sampai mas-mas ada. Dari yang pake baju biasa sampe yang pake kemeja eksekutif ada. Dari yang kulit hitam sampai yang kulit putih bukan bertampang timur tengah tapi Amerika asli ada. Dari yang buncit sampai perutnya rata juga ada. Seneng. Walaupun minoritas, tapi ada temen.

Sekitar setengah jam gue di situ dan sempat bingung apakah gue harus solat berjamaah atau nggak karena gue harus jamak-qasar mengingat gue akan melakukan perjalanan panjang malam ini. Sempat bingung juga karena ternyata pas gue udah sholat, adzan belum berkumandang. Akhirnya gue sholat dua kali. HAHAHAHAHAHAHAHA

Ya... setidaknya hari terakhir di New York dijalani dengan sebaik-baiknya dan seteguh-teguhnya iman. WKWKWKWKWKWKWKWWKKW
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Sisa dari perjalanan siang itu adalah memasuki toko demi toko souvenir. Dan empat jam gue habiskan cuma buat milih-milih barang yang pada akhirnya nggak jadi gue beli karena mahal banget. LITERALLY MAHAL BANGET!!!!!!! Keluar dari toko gue puyeng dan sempat bingung harus balik ke mana. Sementara kaki gue rasanya udah kayak dipukul-pukul palu sekarang. Sakitnya baru berasa sekarang.

DAMN THIS INSOLES! WAKAKAKAKAKAKKA

Gue baru sadar kalo diakumulasi, dari pagi mungkin gue udah jalan kaki sekitar enam sampai tujuh jam. Nggak heran ketika gue sampai di hotel dan pasrah nunggu jemputan, kaki gue udah kemeng banget nggak karuan. Sakit. Banget. Dan ngantuk.

Ketika gue sedang duduk di lobby nunggu jemputan, gue ketemu lagi sama jurnalis dari Polandia yang tadi udah pamitan di restauran. Ternyata dia juga balik hari ini dan jemputannya udah dateng. Kita sempat tuker-tukeran kartu nama dan ketika dia pamit, dua langsung meluk gue yang badannya setengah badan dia yang menjulang. Dia agak membungkuk gitu dan, "See you again mate,"

Ya gue kaget karena ternyata orang Polandia kalo pamit harus pelukan ternyata (pantesan tadi pas di restauran dia peluk beberapa orang), dan karena gue hanya terbiasa dengan salaman dan senyum, gue jadi cuma nepok-nepok punggungnya aja.

"Safe flight and keep in touch ya!" kata gue.

Padahal namanya aja gue nggak inget karena ejaannya susah dibaca pas gue liat kartu namanya.

KEEP IN TOUCH KEPALAMU KEPENTOK GIGI CHANYEOL!

Sekitar jam setengah tujuh malam, mobil jemputan gue buat ke JFK pun datang. Perasaan gue campur aduk. Gue nggak mau meninggalkan hotel ini. Gue nggak mau pulang. Gue mau lebih lama lagi di New York. GUE MAU IKUT MBAK LAILA KE BROOKLYN KARENA DIA EXTEND SEMENTARA GUE GAK ADA UANG BUAT EXTEND. Gue mau tetep ada di sini dan jalan-jalan lagi. GAK MAU PULANG YA ALLAH.

Tapi pas gue inget kalo gue masih harus bayar cicilan kulkas ke Dito, gue pun meneguhkan hati bahwa gue harus kembali ke Jakarta.

Gue laper. Perjalanan ke JFK nggak tahu berapa lama dan gue bener-bener capek. Sampai-sampai gue ketiduran di mobil dan nyuekin sopir yang ngejemput gue tanpa sempat kenalan sama sekali.

Mata gue berair karena ngantuk ketika gue turun mobil dan berjalan ke loket check in. Entahlah.... kapan gue bisa datang ke sini lagi? Bahkan nabung selama dua sampai lima tahun mungkin nggak akan bisa membawa gue kembali ke sini kecuali gratisan. Apalah gue hanya seonggok perantau yang harus bayar kosan setiap bulannya dan cicilan kulkas yang belum lunas. Jangan mimpi buat ke New York kalau pake uang sendiri.

BUT DREAMS DO COME TRUE~~~!!!!

Jadi sebaiknya bermimpi untuk mendapat gratisan lagi aja kalau begitu.

AMIN.

Dan yah... setidak ingin apapun gue perjalanan ini berakhir, tetapi memang harus berakhir. Tapi sesuatu yang berakhir bukan berarti berhenti, tetapi sesuatu yang berakhir berarti awal yang baru untuk yang akan datang. Awal yang baru untuk mimpi yang baru. Awal yang baru untuk sebuah rencana baru.

Di lounge di JFK gue pun makan-makan lagi. Mengulang perjalanan berangkat waktu itu. Sampai Doha gue juga makan-makan lagi dan kali ini makan berat! LOLS Dan di pesawat pun gue makan-makan lagi. Alhamdulillah gizi tercukupi yah. Bahkan sampai sempat salah minum wine pesenan orang di sebelah gue pas di pesawat menuju Doha. LOLOLOLOL
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*

Next journey: SOUTH KOREA!

SEE YOU SOON, DOYOUNG-NIM!!!!!!!!!!!
*

[jangan lupa juga nih add LINE@ KaosKakiBau buat rame-ramein aja hihihi @ecd6150l (di search pake @ jangan lupa)]

Share:

11 komentar