• Home
  • Explore Blog
    • K-Pop
    • EXO
    • Concert Experience
    • GMMTV's The Shipper Recap
    • Film
    • Self Reflection
    • My Trips!
      • New York Trip
      • Seoul Trip
      • Bangkok Trip
      • London Trip
  • Social Media
    • YouTube
    • Twitter
    • Instagram
    • Facebook
    • Email Me
  • My Podcasts
    • Podcast KEKOREAAN
    • Podcast ngedrakor!
  • NEW SERIES: 30 and Still Struggling
kaoskakibau.com - by ron
Ada nggak sih orang yang mau hidupnya mentok di satu titik dan nggak bergerak sama sekali? Pertanyaan ini muncul di kepala gue dalam manuver singkat dari tempat tidur menuju ke kamar mandi di suatu malam. Gerakan yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah monolog yang harusnya tetap di kepala gue aja tapi ternyata keterusan sampai ke mulut.

“Nggak ada kali yang mau kayak gitu,” kata gue pas lagi cuci tangan. Belakangan ini gue lagi rajin banget cuci tangan pakai sabun karena takut kena virus corona.

Sebagai orang yang sehari-harinya menulis dan mendapatkan uang dari situ, stuck adalah salah satu hal haram yang rasanya amit-amit banget kejadian. Kayak pengin ngetok-ngetok meja berkali-kali, lanjut ngetok-ngetok jidat berkali-kali supaya dijauhkan dari kutukan bernama stuck. Mereka yang menulis menyebutnya Writer’s Block dan itu terjadi pada semua penulis mau dia baru mulai atau dia sudah senior. Bedanya mungkin mereka yang sudah senior bisa lebih tahu bagaimana cara menyikapi hal ini sementara yang penulis pemula akan sangat panik dan merasa diri mereka gagal karena tidak produktif.

Gue adalah yang kedua.


Meski agak enggan untuk mengakuinya karena takut akan terdengar cengeng dan drama, tapi gue harus terus terang kalau beberapa bulan terakhir ini memang hidup rasanya menghantam gue dengan terlalu keras. Tentu saja ini nggak berkaitan dengan kutukan Jaehyun yang waktu itu, walaupun gue masih yakin kalau ya sedikit banyak ada hubungannya sama itu (ya ini mah halu total mohon maaf) (WKWKWKWKWKWKWK), tapi gue harus bilang sekali lagi kalau real life is hard. So damn hard. Apalagi kalau lo sedang sakit. 

Jujur aja gue nggak tahu ada apa dengan tubuh gue selama berbulan-bulan sejak, ya, dikutuk Jaehyun itu. WKWKWKWK. Di satu sisi tahun ini rasanya berjalan sangat cepat sampai tiba-tiba udah pertengahan Desember aja. Di sisi lain juga sangat lambat karena gue menghabiskan sebagian besar paruh kedua 2019 dengan slow-motion. Ya, literally slow-motion. Badan gue sedang tidak sama sekali ada dalam kondisi yang sehat walafiat seperti yang gue harapkan membuat pergerakan gue lamban banget kayak siput jompo. Ini adalah tahun terburuk untuk kesehatan gue. 

Gue sakit. Tapi sayangnya sejak pertama kali gue merasa sakitnya ini sudah terlalu mengganggu, gue nggak tahu dengan persis gue sakit apa. Di blogpost sebelumnya gue bilang kalau gue kena muscle spasm, berdasarkan diagnosa dokter rehab medik yang gue datangi kala itu. Tapi kemudian rasa sakit gue berkembang jadi sakit-sakit yang mulai aneh. Mulai nggak jelas dan mulai random datangnya dari mana. Satu hari gue bisa bangun dengan kondisi punggung yang sangat berat kayak sedang memikul Saturnus. Satu hari gue bisa tidur dengan badan yang supersakit dan nggak bisa menemukan posisi yang nyaman; enggak menghadap ke kiri, enggak menghadap ke kanan, nggak juga terlentang. Semua posisi rasanya salah dan semua posisi rasanya sakit. Pada akhirnya gue nggak pernah bisa tidur. Jangankan nyenyak, tidur pun susah. Satu hari gue bisa merasa demam nggak karuan yang datangnya bener-bener random. Entah karena AC kantor yang terlalu dingin atau karena badan gue yang memang sedang tidak bisa mentoleransi perubahan suhu sekecil apapun. 

Satu hari gue mendadak bangun dengan kondisi badan yang payah. Pundak gue rasanya seperti berat sebelah. Dada gue sakit banget yang bikin gue setiap kali berusaha berdiri tegak seperti sedang menahan beban yang sangat berat. Alhasil selama beberapa hari gue jalan bungkuk. Nggak cuma bungkuk tapi juga miring ke kiri. Gue bisa merasakannya karena memang agak aneh kalau sedang jalan. Orang-orang pun bisa dengan jelas melihatnya. Penegasan juga datang dari beberapa temen kantor yang ngeliat gue dengan postur aneh itu. 

“Kenapa kok badan lo miring?” 

Jawabannya selalu sama. 

“Gue nggak tahu.” 

“Gue lagi sakit. Gue mau pulang biar bisa fokus ke pengobatan dulu.”

Aneh rasanya kalimat itu bisa keluar dari mulut gue. Gue dan sakit adalah sebuah paduan yang nggak masuk akal. Apalagi sakit parah yang sampai harus periksa ke dokter atau bahkan ke fisioterapis gitu. Sejak pertama kali gue meresmikan label “anak rantau” gue jarang banget sakit sampai harus ke dokter. Yang paling parah dan gue rasa itu terakhir deh gue ke dokter buat periksa rutin adalah untuk memeriksakan gigi gue yang udah ancur karena ketakutan gue ke dokter gigi selama bertahun-tahun sampai akhirnya harus diganti pake gigi palsu. Setelah itu kalau gue sakit ya paling sakitnya yang biasa diidap orang sehari-hari. Sakit yang nggak butuh dokter tapi cuma butuh warung terdekat aja beli parasetamol dan ya sudah aku sembuh dan kembali seperti sediakala. Dalam beberapa tahun terakhir ini adalah sakit terparah gue.

Harus mulai dari mana ya?

Gue kembali dalam kondisi sehat setelah pulang dari Seoul awal tahun ini sampai akhirnya gue tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh di dada kanan gue. Sesuatu yang bergerak di bawah rusuk gue. Kalau kata YouTuber yang suka bikin kue yang sering gue tonton ada “air bubble” di dalam situ. Kadang-kadang gue merasakannya meletup tiba-tiba, kadang-kadang ketarik tiba-tiba, kadang-kadang pindah dari atas ke bawah dan seperti merayap di bawah rusuk gue. Sakit? Iya banget. Gue pernah terbangun di satu malam teriak karena itu. Tapi kalau dipencet atau ditekan di bagian rusuk itu, nggak ada apa-apa. Nggak sakit sama sekali.

“Saya bingung dok, ini kayaknya ada monster yang mau keluar dari dalam tubuh saya. Saya juga berdebar tapi kok di kanan?”

Saking gue bingung bagaimana menjelaskannya, gue ngomong aja apa adanya ke dokter di klinik dekat kosan. Klinik yang selalu gue lewati setiap harinya kalau mau ke kantor, klinik yang sepertinya lebih akrab dengan mantan teman kosan gue dulu karena dia emang orangnya sakit-sakitan, klinik yang akhirnya gue datangi juga untuk memeriksakan kondisi gue.

Dokternya bilang gue kelelahan dan stres.


Gue sedang dalam perjalanan menuju BSD naik motor waktu Dita nge-WhatsApp gue sebuah tubir di Twitter yang sedang rame. Gue nggak baca sampai akhirnya gue sampai di tempat makan, pesan es jeruk, nungguin ayam bakar dan sambal bawang gue datang, baru deh akhirnya gue ngumpat kenceng banget. Tapi dalam hati. Gue nggak nyangka ternyata ini fandom se-messed up itu kalau sudah urusan tiket konser.

Semua orang merasa insecure, jelas. Gue juga begitu kok. Nggak cuma soal tiket sebenarnya, kalau udah ngebahas soal insecurity bisa berjam-jam nggak ada abisnya. Saking takutnya nggak dapat tiket, banyak orang akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa penitipan. Beberapa ada yang jujur dengan menunggu pembukaan penjualan di ticket box resmi, ada juga yang memanfaatkan koneksi.

Oh nggak apa-apa. Bagaimanapun cara kalian mendapatkan tiket itu bukan urusan gue. You do you. Your way. Bebas. Hidup kan hidup kalian juga. 

Baca Juga: Insecure, Insecurity, Insecurities

Penginnya sih gue mikir kayak gitu. Tapi nggak bisa. Setelah baca link yang dikirim Dita itu gue akan menyesal. Harusnya gue nggak baca itu. Harusnya gue nggak tahu. Harusnya gue nggak usah lihat sekalian.
EXO mengumumkan konser tunggalnya EXO Planet #5 EXplOration in Jakarta. Tiket dan seatplan konser ini sudah dirilis oleh Dyandra Global. 
Sedikit panduan nih buat kamu yang mau datang ke konser EXO Planet #5 EXplOration in Jakarta, terutama buat yang kali pertama nonton konser. Mungkin posting-an ini bisa membantu kalian buat menentukan harus berdiri di section mana, atau duduk di section mana.

Hidup itu penuh dengan kejutan. Dan seringkali kita nggak siap menghadapinya.

Gue sudah jadi fans Westlife seumur hidup gue dan jadi salah satu orang yang sedih ketika mereka memutuskan buat bubar. Gue pun nggak bisa menyembunyikan excitement gue ketika mereka mengumumkan reuni sekaligus konser perayaan 20 tahun debut mereka dan album baru yang akan dirilis 2019 ini. Wow, rasanya terlalu banyak hal yang harus diproses dalam satu hari. Meski mereka melakukan semuanya secara bertahap, tetap saja informasi yang datang bersamaan itu bikin gue mencak-mencak sendiri. Berasa anak kecil sedang tantrum.

Pagi itu gue sedang ada di kantor, seperti biasa dalam posisi duduk di kursi yang sudah beberapa kali membuat gue terjungkal karena nggak mampu menahan kehebohan gue dalam beberapa situasi, tangan sudah siap di atas keyboard untuk bekerja dan mencari kira-kira apa yang bisa gue tulis hari ini, ketika Westlife merilis video klip comeback mereka ‘Hello My Love’ berbarengan dengan semua pengumuman yang sudah gue sebutkan sebelumnya.

Westlife adalah satu dari sekian banyak grup di industri musik yang gue suka tapi sampai usia gue menginjak 28 tahun di 2019 ini, gue beum pernah sama sekali melihat performance mereka live secara grup.

Apakah gue siap untuk melihat konser mereka?


Gue sedang ada di salah satu McDonald’s di kawasan BSD, Tangerang, waktu gue dapat email undangan ke konser ‘Dekade’ Afgan yang bakalan digelar hari Jumat 9 Agustus 2019 di Istora Senayan. Hari itu gue sedang cuti karena mau nonton Westlife di Indonesia Convention Exhibition, tapi gue nggak bisa nggak membalas email itu dengan singkat, padat, dan jelas “Gue mau!”.

Memang sih, gue nggak bisa dibilang seorang ‘Afganisme’, sebutan buat fans berat Afgan. Tapi gue cukup mengikuti perjalanan karier dia mulai dari ‘Terima Kasih Cinta’ sampai ‘Sadis’ yang tentu saja jadi hits di kalangan pecinta musik Indonesia pada masanya. Afgan adalah salah satu dari sedikit solois cowok dengan segmen remaja yang melejit namanya di tahun 2009. Dengan image ‘boy next door’-nya kala itu, teman-teman cewek gue kayak nggak pernah berhenti ngomongin penyanyi yang satu ini. Tapi memang lagu-lagu dia dan suaranya sangat khas. Beberapa tahun berselang, musik Afgan pun berkembang dari balada-balada galau ke sesuatu yang lebih dancey. Sederet kolaborasi pun dia lakukan bersama beberapa penyanyi muda lainnya seperti Isyana Sarasvati dan Rendy Pandugo. Nah di sini nih gue udah mulai sekip banget sama lagu-lagu dia. Kadang-kadang denger sih kalau nggak sengaja keputer pas lagi di Alfamart gitu. Walaupun gue nggak tahu judul lagu yang dia bawain, tapi gue tahu itu Afgan dari suaranya yang khas.

Jadilah hari Jumat itu gue nggak ada ekspektasi apapun soal penampilan panggung Afgan di konser ‘Dekade’ ini. Gue juga sudah siap pasrah kalau dia cuma nyanyiin lagu-lagu barunya dia doang. Tapi kemudian gue berpikir lagi, ini kan konser ‘Dekade’, perayaan 11 tahun karier dia di industri musik. Pastilah dia bakalan bawain lagu-lagu hits lamanya. Agak mustahil kalau nggak dibawakan. Yakin, pasti paling nggak dia bakalan nyanyi ‘Sadis’ deh. Kalaupun itu satu-satunya lagu yang gue tahu di konser ini, gue nggak akan komplain.

Eh tapi ternyata lebih dari itu. Bahkan satu lagu yang gue suka banget dari dia (yang gue sendiri lupa kalau dia punya lagu itu) juga dibawain!

Minggu siang, 7 Juli 2019, gue sedang goler-goler di kamar sambil kepanasan. Jakarta panas banget hari ini. Kipas angin udah ada di level tertinggi dan kalau lebih tinggi lagi mungkin gue akan meninggal karena masuk angin. Tapi di level tertinggi ini pun gue belum bisa menyelamatkan hawa panas yang masuk dari pori-pori dinding, sela-sela ventilasi, celah di bawah pintu, dan lubang kecil di jendela kamar. Gue nggak ngerti lagi pokoknya hari ini Jakarta panas banget. 

Kondisi kesehatan gue belum membaik. Seminggu terakhir gue sedang mengidap penyakit aneh. Penyakit yang... gue sendiri nggak tahu apakah beneran penyakit atau hanya nyeri otot biasa. Soalnya dada gue sakit banget. Dada kiri. Gue agak parno karena dada kiri kan jantung ya. Jadi pikiran gue tuh suka ke mana-mana. Lagipula, sebelum hari ini, sekitar seminggu yang lalu kurang lebih gue periksa ke dokter dan pada hari gue periksa itu, sakit dada gue tuh kayak berlebihan banget. Dipegang dikit nyeri luar biasa. Bahkan nggak usah dipegang pun udah nyeri bukan kepalang. Tapi dokter meyakinkan gue kalau masalahnya bukan karena sakit jantung atau apapun yang serius. Ini murni karena masalah otot. 

“Iya soalnya saya memang baru mulai olahraga gitu dok,” kata gue. 

“Oh olahraganya apa? Angkat beban?” tanya dokternya. 

“Enggak dok. Hehe. Olahraga saya lari. Hehe,” 

Bagus atau jeleknya sebuah film itu tergantung dari siapa yang nonton dan siapa yang menilai. Gue paling nggak suka banget sekarang ngebaca review-review soal film A jelek atau film B bagus, atau berapa skor yang dimiliki sebuah film di situs-situs rating seperti IMDB dan Rotten Tomatoes. Yang orang bilang jelek kadang-kadang menurut gue bagus-bagus aja (kayak Dark Phoenix misalnya). Tapi yang orang bilang bagus kadang-kadang malah gue anggap jelek. Jadi balik lagi ya penilaian orang kan beda-beda ya.


Belum lama ini gue melihat beberapa orang di Twitter berdebat soal "nonton film sendiri di bioskop". Ada sebagian orang yang merasa nonton sendirian adalah sebuah aib yang seharusnya enggak diumbar-umbar. Apalagi di zaman sekarang ini di mana orang-orang bebas memberikan komentar apa saja buat siapa saja yang mereka temukan di dunia maya. Nggak jarang komentar tersebut menyudutkan, menyalahkan, bahkan memberi kesan kalau mereka yang nonton sendirian itu adalah orang-orang yang kesepian, nggak punya temen, atau seperti yang banyak muncul di kolom komentar Thread KASKUS: jones alias jomblo ngenes.

Pertama-tama gue mau bilang dan mau mengklarifikasi bahwa nggak ada salahnya nonton sendiri. Karena, hey, gue sebagai orang yang mempraktikan kegiatan "nonton film sendiri" sudah merasakannya. Nggak perlu malu atau pun merasa berkecil hati soal itu. Jujur aja, gue nonton sendiri kadang-kadang karena memang gue butuh waktu sendiri. Gue butuh momen menikmati apa yang gue tonton sendiri. Kadang ada waktu-waktu di mana mood-nya lagi nggak mau bersosialisasi dan mau berdiskusi dengan diri sendiri soal apa yang ditonton. Tipikal introvert. Apakah itu membuat gue terlihat kesepian? Ya mungkin aja karena apa yang orang lihat kan cuma berdasarkan penampilan luarnya aja. Hak merekalah buat nge-judge you based on your looks. Tapi deep down inside kan lo nggak kesepian.

Apakah gue nonton sendiri karena gue kesepian? Karena gue nggak punya temen? Karena gue jomblo ngenes?

Jawabannya nggak.

Untuk beberapa genre film kayak animasi atau drama memang lebih seneng kalau nonton sendirian. Gue lebih suka merasakan dan menikmati excitement setiap adegan yang gue tonton sendirian. Karena gue suka banget film drama dan adegan-adegan cheesy, kadang-kadang kalau nonton sama temen gue suka kesel kalau mereka udah mulai komentarin adegan-adegan kayak gitu dengan "Apaan sih!" gitu.

Kalau nonton film horor gue lebih suka sama temen karena rame dan bisa teriak bareng. Kalo nonton horor sendiri gue suka jaim teriaknya. Tapi kalau ada temen jadi ada alasan untuk berteriak lebih kencang. Tapi paling nggak suka nonton horor sama temen yang kebanyakan bahas filmnya daripada nontonnya. Apalagi kalau udah nonton film Indonesia. Setiap adegan dibahas. Kayak nggak ada waktu nanti abis nonton aja gitu. Pernah pas nonton 'Dreadout' temen gue ini bawel banget setiap adegan dikomentarin, dijelek-jelekin, akhirnya karena merasa terganggu gue pindah duduk aja. Dan berujung nonton sendiri di barisan depan yang memang kosong.

Lo memang punya hak buat nge-judge mereka yang nonton sendirian sesuka lo. Tapi lo nggak bisa menyalahkan kalau mereka memang lebih suka nonton sendiri daripada ditemenin sama orang yang nggak satu frekuensi sama mereka. Lo punya hak nge-judge, mereka juga punya hak nonton sendiri. 

Hehe


Siapa yang nggak tahu kegemerlapan daerah Kemang, di Jakarta. Daerah yang punya nama seperti buah Kemang ini jadi salah satu daerah elit di Jakarta yang biasanya jadi tempat favorit buat menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau bisa juga jadi tempat hangout remaja-remaja masa kini bareng sama temen-temen gaul mereka. Ibarat sebuah kota penuh hiburan, lo juga bisa memilih tempat mana yang ingin lo kunjungi di kawasan ini. Ada berbagai macam tempat tongkrongan tersedia di sini, makanya itu Kemang jadi daerah yang banyak disukai. Salah satu tempat yang gue rekomendasikan untuk didatangi adalah The Edge Kemang. The Edge Kemang merupakan sebuah restauran mewah yang ada di Kemang yang menyediakan banyak banget santapan mulai dari makanan khas Asia, Western, dan pilihan grill pun ada.

Kali ini gue akan membahas apa-apa saja yang bisa lo temukan di The Edge Kemang ini. Penasaran? Cek terus sampai bawah!


“Weekend ini Red Velvet nih, Dit!”

Gue misuh-misuh di kantor ke Dita, temen sebelah meja gue. Partner gue di Podcast KEKOREAAN yang hey sekarang sudah ada di Spotify! (Klik di sini untuk mendengarkan) Hehehe. Seperti biasa, Dita nggak menaruh perhatian penuh ke gue karena dia memang anaknya pekerja keras. Matanya nggak berpaling dari laptop dan kupingnya masih disumbat headset. Jelas dia nggak dengar apa yang tadi gue bilang ke dia. Udah biasa. Dita emang anaknya gitu.

Gue nggak bisa bilang gue 100% siap untuk nonton Red Velvet di lapangan somewhere in BSD ini karena gue sama sekali enggak tahu daerah situ kecuali Stasiun Rawa Buntu dan ICE. Sementara acaranya akan dimulai malam hari dan itu berarti kelarnya pasti jelang tengah malam. Sebenarnya sudah ada rencana di kepala gue. Rencana yang tinggal diamalkan saja dengan perbuatan. Niatnya sudah ada dan sudah terasa matang: gue pesan penginapan dekat situ, datang ke penginapan sekitar jam empat atau jam lima sore, kemudian beres-beres sedikit lalu pergi ke lokasi acara mepet-mepet aja supaya nggak terlalu lama menunggu. Gue yakin akan ramai banget. Bukan hanya karena ini Red Velvet, tapi karena ini konser gratisan. Nggak akan ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menonton Red Velvet tampil di atas panggung, menyanyikan lagu-lagu hits mereka, tanpa dipungut biaya.

Tapi Ron adalah Ron. Tingkat kemagerannya melebihi kepercayaan dirinya dan kepastian soal masa depannya.

Gue selalu membayangkan seperti apa nonton konser di Bangkok. Kata temen-temen gue yang sudah sunbaenim untuk urusan konser-konser Kpop di Bangkok, kota ini adalah salah satu yang paling seru dan heboh. Yang gue lihat dari fancam-fancam dari dulu juga kayak gitu. Selalu ada sesuatu yang seru dan kadang bikin iri soal konser Kpop di Bangkok. Gue sendiri nggak pernah nonton EXO di sini. Atau grup apapun. Karena saking serunya konser di Bangkok, seringkali tiketnya juga susah didapatkan kalau dibandingkan dengan tiket di Malaysia dan Singapura. Tapi ini sebenarnya asumsi gue doang karena gue sendiri belum pernah mencoba ticketing online untuk konser di Bangkok. Tapi pas di Malaysia dan Singapura, gue pernah beli tiket EXO dan gue dapat. Makanya gue bilang ticketing di dua negara itu nggak terlalu susah. Malah kata gue lebih convenient daripada sistem ticketing di Indonesia yang servernya selalu lemah. Benci banget sih sama ticketing Westlife kemarin. Sucks abis.

Ketika akhirnya gue dapat kesempatan nonton konser di Thailand, gue pun nggak sabar untuk berada di antara penonton yang katanya seru itu. Penonton yang katanya heboh itu. Gue nggak sabar mau teriak dan seru-seruan sama mereka meski gue nggak kenal mereka. Gue nggak sabar mau menggila dengan baju Pikachu yang sudah gue bawa dari Jakarta ini.

Ya, tapi, itu hanya imajinasi gue. Karena ternyata penonton yang ada di sekitar gue sama sekali nggak seru. Diem semua kayak lagi dengerin ceramah ustad di pengajian. Nggak ada yang nyanyi sama sekali bahkan ketika IU lagi nyanyi lagu paling populer yang pernah dia rilis.

APA APAAN INI?! 

Sebelum lanjut, baca dulu:

Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat
Bangkok Bagian 2: Selamat Datang di Sukhumvit

Bangkok Bagian 3: City Tour Si Pemalas yang Kesepian
 

Walaupun gue anaknya sangat suka menyendiri, tapi gue paling benci dengan perasaan-perasaan kesepian dan seperti nggak punya siapa-siapa di dunia ini.

Ketika menyendiri bukan berarti lo kesepian. Memilih menyendiri biasanya ada alasannya. Mungkin lo ingin berpikir. Dalam kasus gue seringkali karena gue merasa lelah harus berkomunikasi dengan orang-orang atau berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Gue pernah nonton video YouTube soal Introverted Person, hal ini wajar terjadi karena sebenarnya orang introvert itu nggak selalu 100% nggak suka bergaul. Mereka hanya kadang-kadang butuh waktu untuk re-charged tenaga mereka dengan diam dan menyendiri. Karena terlalu banyak berkomunikasi dan berinteraksi bisa melelahkan buat mereka. Itulah yang sering gue rasakan.

Perasaan-perasaan kesepian dan merasa nggak punya siapa-siapa ini totally nggak sehat karena bisa memicu perasaan-perasaan lain seperti merasa tidak berharga atau nggak diinginkan dalam pergaulan misalnya. Perasaan-perasaan seperti ini bisa berujung depresi. Ini adalah tanda-tanda depresi buat yang belum tahu. Begitu yang gue baca di Kompas beberapa minggu yang lalu. Tapi sialnya, gue sering merasa seperti itu. Perjalanan ke Bangkok itu adalah salah satunya.

You see, this should be a fun trip. ONCE AGAIN! Tapi gue terkadang nggak bisa mengatur pikiran gue sendiri. Harusnya sore itu gue menikmati kesendirian di Siam Square dengan memperhatikan orang-orang, melihat interaksi antara anak-anak dengan orangtua mereka, berdiri diam di tengah plaza hanya untuk menjadi saksi pasangan-pasangan yang sedang mabuk asmara. Biasanya gue bisa menikmati kesendirian ini dan menggali banyak sekali inspirasi dari situ. Tapi sore itu gue merasa sangat kesepian. Gue kembali menyalahkan chat itu. Chat terkutuk itu. Chat yang harusnya nggak gue kirim. Obrolan yang seharusnya tidak terjadi.

Sebelum lanjut, baca dulu:

Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat
Bangkok Bagian 2: Selamat Datang di Sukhumvit

Gue lupa naruh sikat gigi dan odol di ransel waktu packing dan malas untuk membongkar koper setelah gue tiba di ruang kedatangan dan menuju imigrasi. Gue paling nggak suka sama rasa di mulut kalau abis terbang dan baru mendarat. Buat lo yang sering atau pernah naik pesawat dan terbang lebih dari sejam atau dua jam pasti ngerti deh maksud gue. Rasanya di mulut tuh lebih nggak enak dari bangun tidur bahkan setelah delapan jam. Biasanya di tas gue ada permen tapi kali ini beneran gue nggak nemu apapun. Mood gue masih belum balik rupanya. Gue masih shock sama mimpi yang tadi. Dengan mata yang masih kriyep-kriyep dan kesadaran masih belum seratus persen, gue berjalan gontai menuju ruang terminal kedatangan. Gue memutuskan untuk ke toilet untuk cuci muka lagi, kumur sedikit supaya mulut agak nyaman, lalu bergegas ke imigrasi yang antreannya sudah mengular. Karena gue tadi ketiduran sampai jelang mendarat, gue nggak kebagian kartu kedatangan yang harus diisi dan diserahkan ke imigrasi sebelum keluar dari Bandara. Gue bengong agak lama memperhatikan orang-orang yang juga sama kayak gue, belum punya kartu, untuk tahu mereka akan menuju ke mana dan minta kartunya ke siapa. Gue lagi nggak mood buat bertanya-tanya sama siapapun soal kartu ini jadi gue hanya bisa mengamati dan memperhatikan saja. Ada satu ibu-ibu yang jalan menghampiri seorang perempuan muda berambut pendek dan berseragam, oh pastilah mbak-mbak ini yang megang kartunya.

Sebelum lanjut baca dulu Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat; klik di sini.

“Can I have two?” kata gue dalam Bahasa Inggris. Mbaknya ngasih dua. Gue sengaja minta dua karena gue tahu pasti yang pertama akan ada kesalahan dalam pengisian. Karena seringkali kejadian kayak gitu jadi gue sudah mengantisipasinya daripada bolak balik minta. Mana lagi gue sedang tidak dalam kondisi mental yang stabil hahahaha dan bener aja, ketika gue melakukan pengisian form pertama ada kesalahan yang gue buat di nama gue sendiri. DI NAMA GUE SENDIRI. Gak paham lagi deh. Setelah mengulang pengisian, gue buru-buru antre dan menuju ke imigrasi. Bersyukur banget keluar imigrasi di negara-negara ASEAN enggak terlalu intimidatif. Beda sama UK atau US. Ngeri banget deh feel-nya beneran kayak tertekan banget. Jarang banget ada petugas imigrasi yang bener-bener ngajakin ngobrol gitu. Tapi terakhir gue ke Korea, gue nemu mbak-mbak petugas imigrasi yang kayaknya suka Kpop juga. Soalnya waktu itu dia nyuruh gue buat ngelepas case paspor gue yang di dalamnya terselip satu tiket konser EXO dan banyak sekali stiker karakter EXO dari album EX’ACT yang gue dapat dari Andi.

“You like Kpop?” dia nanya kayak gitu dalam proses gue nempelin sidik jari.

“Yes. That sticker is EXO,” gue tembak aja, in case she is wondering.

“You like EXO?” dia nanya lagi.

“A lot,” jawab gue.

Cuti gue 0. Kok bisa?

“Seinget gue tahun ini gue udah spare beberapa hari supaya Februari 2019 gue bisa ambil cuti buat ke Korea lagi. Kok ini sekarang 0?” Gue membatin sambil memandang layar laptop kantor yang sengaja gue nggak kasih nama supaya nggak nyaman dan nggak baper kalau nanti pisah. Semua barang-barang pribadi gue kasih nama. Laptop gue namanya Junmin dan sekarang udah nggak ada gunanya kalau dibawa ke kantor karena nggak akan bisa dipakai kerja. Kantor gue membatasi akses internet buat laptop kantor aja, laptop pribadi nggak akan bisa terhubung ke jaringan. Pernah gue punya laptop di kantor gue yang sebelumnya dan gue kasih nama Leonardo disingkat Leo. Pas kita pisah gue baper. Untung nggak sampai nangis sih.

Layar laptop kantor masih gue pandangin sambil mikir. Apa memang cuti gue sudah habis dan gue salah perhitungan? Sialnya memang gue nggak nge-track sisa cuti gue sendiri sih. Biasanya orang-orang akan mengkopi surat cuti mereka supaya mereka bisa menghitung sendiri berapa sisa yang mereka punya. Sementara gue hanya mengandalkan ingatan gue yang kadang-kadang untuk hal seperti ini nggak ada gunanya.

“Mungkin lo pernah unpaid tapi keitung cuti kali pas dulu lo pulang Lebaran atau apa gitu? Mungkin peraturannya kalau cuti masih sisa, nggak boleh unpaid,” kata salah satu teman gue yang duduknya beberapa kursi di sebelah gue.

Harusnya peraturan itu dijelasin dari awal dong. Gue membatin lagi. Atau sebenarnya mungkin sudah dijelasin tapi gue yang nggak denger? Gue nggak tahu juga.

Gue coba mengingat-ingat kapan saja gue ngambil cuti sepanjang 2018. Yang bisa gue ingat hanya beberapa hari cuti di bulan Mei waktu gue harus pulang untuk memperpanjang SIM dan ngurus pelat motor. Juni pas Lebaran dan Agustus waktu Lombok kena gempa. Tapi di antara beberapa hari cuti itu juga ada yang unpaid. Jadi harusnya masih ada sisa beberapa hari dan nggak mungkin sampai nol gini. Mungkin apa yang dibilang sama temen gue itu bener. Mungkin waktu itu unpaid leave gue keitung cuti juga. Jadinya nggak ada sisa sama sekali sekarag. Hmmm... Kalau Desember ini aja udah nol, itu berarti gue nggak akan punya spare cuti untuk dibawa ke Februari tahun depan. Itu berarti rencana ke Seoul....

Tiba-tiba gue merasa pening. Kepala bagian kanan gue agak nyut-nyutan.

Please, not again!

Gue selalu bilang ke orang untuk melakukan apa yang membuat mereka senang, membuat mereka bahagia, apa yang menurut mereka benar. Pernah beberapa kali ada yang nanya ke gue soal apakah mereka harus beli tiket konser/merchandise Kpop yang mereka inginkan banget udah lama atau uangnya ditabung buat yang lain? Sebagai seorang fans, gue tahu perasaan ingin menyaksikan idola langsung di depan mata dan berada di konser mereka. Gue tahu bagaimana rasanya ingin memiliki perintilan-perintilan tak berfaedah itu. Itu adalah beberapa hal yang memberikan kebahagiaan yang paling nggak harus dirasakan oleh seorang fans seorang musisi atau grup musik atau boyband/girlband. Untuk merchandise ya masih terbilang okelah. Tapi buat nonton konser itu dibutuhkan banyak sekali biaya.

Nggak cuma sekedar uang buat beli tiketnya aja, tapi untuk beberapa orang ada yang harus beli tiket pesawat/kereta, penginapan, dan kebutuhan-kebutuhan lain di hari konser atau beberapa hari sebelum konser. Beberapa dari mereka mungkin nggak mempermasalahkan hal ini, tapi ada yang punya uang sangat pas-pasan sehingga mereka mungkin akan berpikir lagi. Harus nonton nggak ya?

Ngerti banget kalau dalam kondisi seperti ini lo memang butuh orang buat diajak berdiskusi. Gue pun tipe orang yang kayak gitu. Sayangnya gue nggak punya banyak orang buat diajak diskusi. WAKAKAKAKAKAK. Gue takutan kalau mau memulai chat ke seseorang dan nanya soal hal-hal kayak gini. Takut dibilang “APA SIK RON?!?!??!” gitu. Dan seringkali lo juga mungkin nggak bisa ngomong sama orangtua atau kakak lo karena kadang-kadang, aksi menonton konser ini adalah aksi yang sangat ditentang oleh keluarga.

“Buat apa sih buang-buang uang untuk itu?”

Apa yang biasanya lo lakukan setelah bangun tidur?

Gue hampir pasti ngecek handphone. Entah itu ngeliat jam atau hanya sekedar ngeliat notifikasi (yang kemudian bisa jadi berlanjut ke scrolling timeline Instagram dan Twitter dan Facebook bahkan secara tidak sadar gue akan buka semua akun Gmail yang gue punya untuk ngecek email baru walaupun sebenarnya nggak mungkin ada dan saking karena pikirannya masih belum clear karena baru bangun, kadang-kadang gue juga ngecek LindkedIn untuk nyari lowongan kerja). Apa lo juga kayak gitu? Mungkin kalo ngecek notifikasi sih iya, tapi kalo pas baru bangun tidur langsung ngecek lowongan kerja kok kayaknya cuma gue aja ya. Walaupun gue sedang tidak ingin pindah kerja sih, ini tuh cuma jadi alasan biar semakin lama gue bisa berbaring di kasur aja.

Ada masa-masa di mana gue akan memaksa tubuh gue untuk tidur lebih lama meski alarm sudah berbunyi. Biasanya ini terjadi kalau gue sedang mimpi bagus hari itu. Mimpi bagus bukan berarti selalu mimpi indah tentang memiliki seseorang yang nggak bisa lo miliki di dunia nyata, tapi mimpi bagus juga bisa berarti mimpi seru dikejar zombie atau kejar-kejaran dengan polisi dalam sebuah adegan perampokan seru yang melibatkan lo dan bias Kpop lo misalnya. Seringkali gue terlambat ke kantor karena karena gue nggak mau mimpi ini berakhir, jadi gue akan memaksa diri gue untuk tetap tidur dan melanjutkan mimpi itu sampai benar-benar berakhir (entah klimaks entah anti-klimaks). Keterlambatan gue ke kantor juga akan semakin diperparah karena setelah gue bangun dari mimpi itu, gue akan tetap di tempat tidur dengan mata terbuka. Mengingat-ingat lagi apa yang terjadi di dalam mimpi itu untuk kemudian gue tulis di Dream Journal yang ada di handphone gue. Walaupun ada kalanya sih gue malas juga menuliskannya dan cukup dengan mengingatnya saja lalu menceritakannya ke orang lain supaya paling enggak gue bisa lebih mengingat-ingat lagi kejadian dalam mimpi itu.

Yang paling menakjubkan dari mimpi saat tidur adalah semuanya terjadi dalam semalam, terjadi di dalam kepala lo, tapi terasa sangat nyata dan sangat seru.

“Tadi gue males banget bangun karena gue mimpi seru banget. Jadi gue lanjutin aja tidurnya sampe lama,” kata gue ke temen gue di suatu hari sesampainya gue di kantor setelah mimpi seru bertarung dengan zombie.

Sambil baca review singkat ini, gue saranin lo dengerin original soundtrack-nya 'Us' di Spotify deh.


"Nonton yuk!"

Biasanya kalo temen kantor udah mengeluarkan ajakan sakti ini, gue nggak bisa nolak. Apalagi kalau yang ditonton adalah film horor dan thriller, wah favorit gue banget! Pas banget semalam hari Kamis alias Malam Jumat dan temen gue ini ngajakin nonton 'Us'. Salah satu film thriller yang bakalan banyak dibahas tahun ini karena nggak cuma menampilkan Lupita Nyong'o sebagai pemeran utamanya, tetapi juga sutradara Jordan Peele yang sebelumnya sukses menciptakan kengerian dan menyentil isu-isu rasis di film 'Get Out'.

Gue mau bikin pengakuan dulu: gue nonton 'Get Out' enggak di bioskop, tapi download dari forum sebelah. WKWKWKW.

Soalnya waktu itu pas lagi di bioskop nggak sempat buat nontonnya, eh udah turun aja. Walaupun gue melakukan hal yang ilegal, tapi gue nggak nyesel nontonnya di laptop. Soalnya... Wow... WOW... Kalau gue nonton di bioskop, mungkin gue akan meledak-ledak di bioskop. Akan teriak ketakutan dan minta tolong untuk filmnya disudahi saja. Yah, waktu nonton di laptop juga kurang lebih sih gitu. Mau banget gue matiin dan udah nggak usah dilanjutin aja. Tapi di saat yang sama gue nggak bisa dibikin penasaran. 'Get Out' ini gila sih, nggak tanggung-tanggung gitu lho mempermainkan mental dan perasaan gue yang suka film horor dan thriller tapi sangat lemah dan gampang teriak kalau dikagetin sama jump scare (atau tidak jump scare sekalipun). Dan perasaan yang sama kembali ketika gue nonton 'Us' semalam.


Mungkin beberapa di antara kalian yang sejak lama mengikuti tulisan gue di blog ini sudah tahu kalau gue berasal dari Lombok. Buat yang belum tahu dan merasa butuh tahu, ya itu sekarang kalian sudah tahu. Hehehe. 

Gue mulai menjadi anak rantau di tahun 2009, di tahun yang sama juga nama gue dipanggil oleh wali kelas di SMA dan diberitahu kalau gue diterima di Universitas Indonesia lewat jalur PPKB waktu itu. Gue ingat hari itu hari Kamis dan gue sedang ada di kelas Geografi ketika wali kelas gue (yang beberapa tahun lalu meninggal dunia) menyerahkan surat dari UI dalam amplop putih. Buat orang lain mungkin ini adalah kabar yang ditunggu-tunggu. Tapi buat gue saat itu rasanya gue nggak mau surat ini datang. Gue sudah diterima di Universitas Mataram di jalur yang sepertinya akan menyenangkan, Pendidikan Bahasa Inggris, dan gue akan tetap berada di Lombok dengan teman-teman dekat gue di SMA. Selama beberapa minggu gue sudah lupa kalau gue pernah diam-diam mengirim aplikasi pendaftaran ke UI, pakai pas foto yang gue edit di photoshop pakai badan Daniel Radcliffe (ini beneran, gue gak bercanda gais lmao), membayar uang pendaftaran dengan uang bulanan gue yang waktu itu hanya Rp 100 ribu per bulan. Gue nggak ngasih tahu nyokap gue, gue nggak ngasih tahu bokap gue. Mereka tahunya di hari yang sama dengan gue menerima surat itu. Sempat terjadi perdebatan di antara kami bertiga sampai akhirnya diambil sebuah keputusan: gue berangkat ke UI. 

Yang namanya anak rantau, di awal-awal pasti berat banget dong. Apalagi itu pertama kalinya gue harus tinggal jauh dari orangtua. Dari nyokap. Harus melakukan semuanya sendiri dan untuk pertama kalinya juga gue nggak pulang saat hari Lebaran karena masalah tiket yang sangat mahal pada saat itu. Butuh satu tahun untuk bisa membiasakan diri dengan ritme kehidupan yang baru. Bangun pagi tanpa suara nyokap dan makan makanan warteg setiap hari karena hanya itu makanan paling affordable yang mengenyangkan yang bisa gue makan saat itu. Ya sesekali makan di Mall kalau ada uang lebih. Seiring waktu berjalan gue akhirnya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, walaupun, yah, gue akan tetap jadi gue. 

Alien. 

Yang diketawain karena wallpaper laptopnya artis Korea. 

Ugh. 

Salah satu resolusi gue di tahun 2019 ini selain menjauhkan diri dari orang-orang toxic sekaligus selalu berusaha untuk tidak jadi makhluk toxic di muka bumi ini adalah memperluas khazanah permusikan gue. Soalnya gue tuh termasuk orang yang paling susah untuk mencoba mendengarkan sesuatu yang baru dan cenderung stuck di satu lagu atau artis yang sama.

Sebagai contoh, gue bisa mendengarkan satu lagu seharian tanpa diganti-ganti sama sekali. Di kondisi yang sudah parah, itu bisa berlanjut sampai berhari-hari. Pernah di suatu masa gue mendengarkan lagunya Taeyeon yang ‘Rain’ sampai tiga hari berturut-turut nggak diganti lagu yang lain sama sekali. Makanya temen kantor gue, namanya Dita yang juga suka Kpop, selalu berusaha untuk memberikan rekomendasi lagu-lagu Kpop baru ke gue. Dia nggak terlalu mendengarkan EXO jadi gue juga kadang-kadang memberikan rekomendasi lagu EXO ke dia. Mostly sih dia maksain gue buat dengerin Monsta X (yang mana gue lakukan dan pada akhirnya gue tahu beberapa lagu Monsta X yang enak dan gue suka), tapi di banyak kesempatan gue juga jadi dengerin lagu-lagu dari penyanyi kayak Minseo atau grup-grup kayak fromis_9 gitu yang normalnya gak akan gue sentuh.

Ya gue memang sepemalas itu. Atau mungkin gue lebih suka disebut sebagai orang yang susah move on. Nah kalau yang ini nggak cuma soal lagu aja deh, soal banyak hal termasuk soal perasaan. Hihihi...

Inget nggak gimana rasanya ketemu sama orang yang lo taksir? Ketika pertama kali kalian berdua ngobrol dan akhirnya merasa nyambung. Ketika awalnya lo biasa aja, nggak ada perasaan apa-apa karena itu bukan cinta pada pandangan pertama kayak yang biasa ada di serial-serial drama televisi Korea. Lalu kalian ngobrol karena punya satu topik yang suka dibahas. Entah buku, entah film, entah musik, entah Kpop. Dari obrolan yang cuma beberapa menit itu kok rasanya nyaman ya? Kok rasanya enak nih kalau misalnya kita ketemu lagi dan ngobrol lagi. Akhirnya kalian mulai tukar-tukaran nomor ponsel dan mulai ngobrol di chat. Masih nggak ada rasa apa-apa. Murni karena kalian cuma ingin memperluas pertemanan aja. Nggak ada salahnya dong punya teman baru. Tapi pelan-pelan dari obrolan-obrolan soal buku, film, musik, dan Kpop itu berubah jadi obrolan-obrolan yang serius. Tiba-tiba di suatu hari dia chat dan nanya hal penting ke lo. Rupanya ada masalah keluarga. Lo mulai mendengarkan curhatan-curhatan dia. Lo mulai khawatir. Lo mulai menjadikan diri lo selalu available untuk dia kalau memang dia lagi butuh cerita. Lalu rasa biasa-biasa aja dalam diri lo itu berubah jadi perhatian. Lo jadi sering nanya dia lagi ngapain, kapan bisa ketemu, mau nonton ini nggak, gue ada tiket konser nih mau pergi bareng nggak. Dan lo sampai di satu titik kalau lo ternyata suka sama dia. Dia nggak tahu. Lo sendiri sebenarnya juga masih ragu sama perasaan lo. Tapi lo tetap memberikan perhatian itu. Dia tetap menerima perhatian itu. Kemudian lo masuk ke fase cinta diam-diam karena lo nggak mau hubungan kalian jadi renggang setelah lo ngungkapin perasaan lo ke dia. Inget nggak gimana rasa berbunga-bunga setiap kali dia balas chat lo?

Happy, kan? Meski diam-diam lo curi-curi pandang ketika dia nggak memerhatikan, tapi lo happy, kan?

Tapi perasaan happy itu nggak cuma akan terjadi hanya karena dan ketika lo ketemu sama orang yang lo taksir. Ketemu sama orang yang nyambung pada obrolan pertama juga buat gue memberikan efek happy yang sama. Gue punya temen namanya Ais, gue lupa sebenarnya awalnya kita bisa kenal kayak gimana tapi kayaknya sih gara-gara dia admin salah satu fanbase EXO dulu dan pada masa-masa itu gue lagi gila-gilanya nge-tweet soal EXO. Kita kenal di Twitter dan kemudian ketemu beberapa kali karena fanbase yang bersangkutan ada event dan gue dateng. Tapi momen ketemu kita yang paling gue ingat adalah di satu hari di akhir bulan Maret 2013 ketika ada event cover dance di Gandaria City. Setelah itu kita akhirnya jadi sering ketemuan dan jalan bareng. Sampai sekarang, dia jadi temen jalan-jalan gue kalau di Bandung.


Lagi banyak banget yang resign dari kantor gue beberapa bulan terakhir. Beberapa adalah orang yang gue sendiri nggak tahu mereka ternyata sekantor sama gue (hahaha maaf anaknya memang tidak tahu sopan santun), beberapa adalah orang yang gue tahu dan pernah koordinasi kerjaan. Selama periode kerja di beberapa kantor gue biasanya nggak pernah terlalu mikirin siapa yang datang dan siapa yang resign. Karena memang kan fase kerja di perusahaan swasta kayak gitu. Kalau orangnya nyaman sama kerjaannya mungkin mereka bisa bertahan dua atau tiga tahun. Tapi kalau mereka merasa tidak berkembang secara personal atau tidak nyaman secara pribadi, ya nggak bisa disalahkan juga kalau enam bulan udah cabut. Tapi yang kemaren resign sih rata-rata memang orang-orang yang sudah ada bahkan sebelum gue masuk ke situ. Kenapa ya? Karena sudah pindah kantor tiga kali sejak lulus kuliah, adegan orang-orang pamit buat resign kayak gini seharusnya udah jadi hal yang biasalah. Toh gue sendiri sudah pernah resign juga kan dari tiga kantor sebelumnya. Tapi kemaren tuh aneh aja gitu, ada sesuatu yang ganjal di dadaku. HAHAHAHAHAH. Gue nggak bisa bohong kalau gue kepikiran. Like, why people? Why?! Alasannya apa?!

Well, sebenarnya ini jawabannya simpel aja: mencari yang terbaik. Karena kalau yang sekarang nggak memberikan apa yang kita cari dan yang kita butuhkan ya kita kan sebenarnya memang harus pindah. Daripada terpenjara terus dan terjebak di kubangan yang sama kan? Gue jadi ingat obrolan sama Rizka dan Ais dalam kunjungan main-main pertama gue ke Bekasi akhir pekan lalu. Topikya soal resign ini juga dan soal gimana salah satu temen mereka memutuskan untuk cabut padahal baru tiga bulan kerja. “Ya soalnya kondisinya nggak lebih baik dari kantor sebelumnya. Jadi buat apa lama-lama?”

Waktu gue resign dari kantor gue yang sebelumnya, ada banyak yang nanya “Kok bisa sih lo mengambil keputusan secepat itu?” Dan sekarang ketika orang-orang pada resign, kok gue malah jadi bingung ya? Hahahahaha. Ya mungkin jawaban lainnya: mereka sedang dalam proses mengejar mimpi.

Hmmm... mimpi...

SHIT! SHIT! SHIT! SEJAK KAPAN KATA INI JADI SANGAT MEMBUAT GUE BAPER?!
Guys, di balik ingar bingar Kota Jakarta, lo tahu nggak sih ternyata masih ada tempat wisata alam di sini? Nah, ini beberapa rekomendasi terbaik buat lo.
Kota Tua Jakarta (foto: ronzstagram)

Kata siapa, di Kota Jakarta hanya ada mal dan gedung tinggi? Berarti lo belum menelusuri Jakarta lebih jauh lagi, padahal lo akan menemukan deretan tempat wisata bernuansa alam. Meskipun ada di tengah perkotaan, panoramanya tetap hijau dan diselimuti hawa sejuk, lho!

Buat lo yang berencana liburan ke Kota Jakarta (atau lo lagi di Jakarta dan belum pernah ke mana-mana nih di sekitaran kota selain Monas), berikut ini rekomendasi tempat wisatanya.

1. Kampung Main Cipulir

Foto: bisnisrumahan2012
Lo pengin berlibur bareng keluarga? Kampung Main Cipulir adalah pilihan wisata Jakarta yang pas untuk santai dan main-main. Suasana Kampung Main Cipulir hijau dan asri karena dikelilingi pepohonan, rumput, serta perairan.

Kampung Main Cipulir menyediakan berbagai wahana permainan juga buat anak-anak dan dewasa. Semisal, flying fox, trampolin, paint ball, ATV, dan permainan lumpur. Lo juga bisa ngajak anak-anak (ponakan misalnya) main tangkap ikan dan berkuda. Selain itu, ada kolam renang dengan segala fasilitasnya, seperti seluncuran dan ember tumpah.

2. Hutan Kota Srengseng

Foto: jurnalbumi

Aroma hutan dan hijaunya dedaunan bisa lo dapatkan dan nikmati dengan berkunjung ke Hutan Kota Srengseng. Lokasinya di Jakarta Barat, tepat di area perkotaan. Makanya itu, Hutan Kota Srengseng disebut paru-paru kota.

Trus, apa yang menarik dari Hutan Srengseng? Pertama, hutan ini punya 4.000 pohon dari 60 varietas. Semua pohon berdaun lebat dan rindang jadi cocok buat santai-santai bareng keluarga.

Selain itu, Hutan Kota Srengseng menawarkan kawasan bermain anak, danau yang menyegarkan, dan juga trek jogging. Di sini juga ada pujasera sederhana sebagai tempat menyantap kuliner khas Kota Jakarta. Soal fasilitas umum, Hutan Srengseng dilengkapi tempat parkir, musala, dan toilet.

3. Wisata Alam Angke Kapuk

Foto: backpackerjakarta

Dekat dengan lautan, Jakarta punya kawasan hutan mangrove yang cukup luas. Salah satunya dijadikan tempat wisata, yaitu Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Luasan taman ini mencapai hampir 100 hektare.

Konsep wisatanya juga terbilang unik; Taman Wisata Alam Angke Kapuk menyuguhkan panorama hutan bakau dan pantai dari jembatan gantung. Selain itu ada juga pondok kemah yang berderet di sisi jembatan kayu. Lo juga bisa foto-foto di spot payung aneka warna.

Jelajahi juga perairan di sekitar mangrove dengan perahu. Biaya sewa satu perahu hanya Rp 350 sampai Rp 450 ribu dengan kapasitas 6 hingga 8 orang. Patungan biar murah gais!

4. Cibubur Garden Dairy

Foto: jejakpiknik

Cibubur Garden Dairy merupakan kawasan agrowisata yang terletak di sekitar Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Area wisata Jakarta ini punya peternakan sapi perah, kebun, taman, dan beberapa saung di atas kolam ikan arwana.

Karena termasuk lokasi wisata edukatif, Cibubur Garden Dairy sering dikunjungi rombongan anak sekolah dan mahasiswa. Objek rekreasi terpadu ini menyediakan fasilitas program pengenal dunia peternakan sapi, proses pemerahan susu, serta entrepreneurship. Gak cuma itu, pengunjung juga bisa mencicipi yoghurt dan susu segar di stan yang tersedia.

5. Taman Suropati

Foto: backpackerjakarta

Liburan akhir pekan lo akan lengkap dengan mengunjungi Taman Suropati di kawasan perumahan elite Menteng. Taman ini punya desain yang unik, rapi dan hijau. Lantainya sudah dilapisi paving block sehingga nyaman buat berpijak.

Gak cuma punya penorama yang menyegarkan, Taman Suropati juga menawarkan keindahan karya seni patung. Pembuat patung berasal dari negara anggota PBB di Asia Tenggara. Selain itu, bisa juga lo mencicipi aneka kuliner khas Jakarta.

Nah, itu beberapa tempat wisata di Kota Jakarta yang bisa lo kunjungi di akhir pekan ini. Di samping kawasan itu, Jakarta juga masih menyimpan objek rekreasi menarik lainnya. Cek deh daftarnya di situs pemesanan tiket online, seperti Traveloka.

Kita nggak bisa selalu jadi orang yang menyenangkan setiap hari. Kadang-kadang kita juga melakukan kesalahan. Sadar atau tidak sadar. Atau kadang-kadang kita berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan yang pada akhirnya bikin satu atau dua orang merasa tersinggung. Dalam konteks pertemanan yang sudah sangat dekat, saling singgung-menyinggung ini sebenarnya nggak akan jadi sebuah masalah besar karena biasanya masing-masing partisipan dalam lingkaran pertemanan itu punya level kabaperan yang sudah bisa dikatakan sangat minimal. Tapi dalam konteks pertemanan yang lain nggak bisa disamakan dan dipukul rata. Apalagi misalnya sama teman kerja atau teman sekelompok di kampus yang sebenarnya deket juga enggak (atau mungkin keinginan untuk dekat pun sebenarnya nggak ada) tapi dipaksa keadaan untuk berinteraksi rutin setiap hari. Well, you cannot faking your smile everyday, right? Hihihi. Ketika dihadapkan dengan orang-orang yang demikian, ada kalanya kita yang sudah berusaha untuk selalu terlihat bahagia dan selalu positif dalam hal apapun ini mendadak bermuka masam. Mendadak tidak mau senyum sama sekali. Mendadak tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun di dunia kecuali dengan diri sendiri dan Tuhan.

Suatu hari mantan teman sekamar gue pernah update status di LINE yang gue nggak inget persisnya tulisannya gimana tapi intinya bahwa “nggak mudah untuk jadi orang yang selalu ceria setiap hari”. Meski kita seringkali punya pendapat yang berbeda tentang sesuatu, but I totally agree with what he wrote at that time.

“Kenapa kok belum ada posting-an baru di KaosKakiBau?” 

Jleb. Pertanyaan itu langsung menusuk ke jantung dan langsung bikin gue baper waktu Nisa nanyain langsung ke gue di kopi darat kita pas gue ke Jogja akhir pekan lalu. Selama beberapa hari gue memang sedang ada di Jogja untuk urusan pekerjaan. Lalu gue sempat update di Twitter dan Instagram dan dihubungi oleh Bondan, salah satu chingu yang ngakunya juga sudah lama baca blog gue dan kita officially kenalan beberapa tahun yang lalu karena sama-sama jadi responden skripsinya Niki, mahasiswa Komunikasi UGM. Gue, Bondan (dan salah satu temannya), dan Nisa ketemuan di satu tempat di Jogja namanya Estuary. Nisa juga adalah salah satu pembaca blog gue. Dan malam itu dia melakukan tugasnya sebagai seorang pembaca yang baik: nanyain kapan ada posting-an baru lagi. Sementara gue, bukan blogger yang baik karena sudah meninggalkan blog kesayangan gue itu selama berbulan-bulan, hanya bisa senyum malu dan merangkai kata secepat mungkin sebagai alasan ke Nisa. Gue bilang, 

“Gue lagi mengalami kebuntuan yang gue sendiri enggak tahu kenapa bisa kayak gitu. Gue agak capek kayaknya,” kata gue yang terdengar sangat nggak meyakinkan sebenarnya. Lalu gue melanjutkan alasan itu dengan menceritakan bagaimana Sabtu dua minggu lalu gue berusaha untuk menulis dan menyelesaikan posting-an terbaru blog gue di sebuah tempat yang sebelumnya nggak pernah gue kunjungi. 


21 September 2018 lalu, gue mendapat tugas untuk terbang ke Banyuwangi. Kota Kabupaten yang selama ini hanya gue dengar saja namanya tapi tidak pernah membayangkan seperti apa kondisi kotanya. Pernah mendengar soal Blue Fire Ijen tapi belum sama sekali menyaksikannya dengan mata telanjang. Tapi tujuan kali ini bukan mendaki ke Puncak Ijen. Tujuan kali ini adalah menghadiri sebuah event bertajuk Indonesia Writers Festival 2018 yang dihadiri oleh beberapa pembicara yang akan memberikan materi-materi (yang sepertinya) seru tentang menulis. Salah satunya adalah Fira Basuki, seorang novelis Indonesia yang namanya sudah sangat populer di kalangan para pecinta buku. Karena kebetulan gue juga sedang (berharap bisa dan sangat ingin sekali) menulis novel, jadi gue tertarik untuk tahu lebih banyak. Bagaimana Fira Basuki bisa menulis dan menghasilkan 33 buku sepanjang kariernya sebagai novelis ya? Bagaimana caranya mendapatkan ide untuk dikembangkan menjadi sebuah buku atau sebuah tulisan? Bagaimana caranya bisa konsisten menulis? Bagaimana begini dan bagaimana begitu? Well, semua pertanyaan gue mungkin tidak akan terjawab karena waktu yang diberikan buat Mbak Fira Basuki untuk menyampaikan materi sangat singkat. Tapi paling enggak ada sesuatu yang bisa dipetik dari waktu yang singkat itu.

Indonesia Writers Festival 2018 bertempat di sebuah resort bernama Jiwa Jawa Ijen. Lokasi ini sudah populer selama beberapa tahun terakhir karena menjadi lokasi untuk acara Jazz Gunung. Gue bukan penikmat Jazz dan hanya tahu Jazz karena Ryan Gosling selalu ngomongin Jazz ke Emma Stone di 'La La Land' yang sudah gue tonton lebih dari dua puluh kali mungkin dan masih suka gue tontonin juga sebelum tidur atau kalau lagi iseng di kosan dan tidak ada kerjaan sama sekali. Jadi gue juga tidak pernah ngeh dengan event Jazz Gunung ini sesungguhnya. Sampai akhirnya gue tiba di Banyuwangi sore itu. Tapi, gue enggak nginep di hotel Jiwa Jawa ini. Soalnya mahal. Muahahahaha. Walaupun perjalanan ini bukan gue yang bayar sendiri, tapi tetap saja, hemat pangkal kaya, kan?


Ssamziegil, Insadong, Seoul, Korea Selatan

Desember 2017

Gue nggak heran kalau tempat ini jadi favorit semua orang, terutama mereka yang sudah punya pasangan, karena gue sendiri sebagai turis yang baru tiga kali berkunjung ke Seoul merasa tempat ini adalah lokasi yang harus dikunjungi. Entah ketika lo jalan-jalan sendiri atau sedang sama pasangan. Atau yah, sama temen deh paling enggak. Gue bukan orang yang against the idea of traveling alone. Not at all. Hahah. Gimana bisa orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sendirian kayak gue against that idea? Kocak. Ketika nggak ada orang yang bisa lo ajak buat jalan ke sebuah tempat yang belum pernah lo eksplor sebelumnya, atau sesimpel misalnya nggak ada orang yang mau ketika lo ngajak mereka buat nonton satu film yang sangat ingin lo saksikan sejak sekian lama, ya pergilah sendiri. Lakukan sendiri. Buat kebahagiaan lo sendiri. Untuk beberapa hal lo nggak perlu bergantung sama orang lain. In fact, lo nggak (selalu) perlu orang lain untuk membuat diri lo bahagia. Happiness is a state of mind. Gue memang belum expert untuk hal yang satu itu tapi setidaknya gue mencoba. Well, ketika lo sudah terbiasa tidak bergantung dengan orang lain, lo akan lebih berani untuk do something by yourself. Bahkan sesuatu yang awalnya mengerikan kayak jalan-jalan sendiri.

Sebentar, tempat yang gue maksud di awal paragraf di atas adalah Ssamziegil. Oke, mungkin realitanya, tempat ini adalah lokasi membosankan buat para Seoul citizen. Mungkin juga buat lo yang sudah sering ke Korea (yang ke Korea-nya udah kayak ke Bandung gitu ya bisa tiap akhir bulan), lo juga akan bilang “Hah, apa serunya sih ke situ?” Ya, tidak apa-apa. Namanya beda orang kan beda kepala. Beda pendapat tentang sesuatu.


Pertama kali gue ke Ssamziegil adalah musim gugur 2015. Gue ke situ sama kenalan gue orang Filipina bernama Ched dan temannya orang Korea bernama Suzy. Gue ketemu Ched di hostel di kawasan Hongdae/Hapjeong, kebetulan kita sekamar dan kasur kita sebelah-sebelahan. Ched nggak keberatan gue ngekor dia dan Suzy keliling ke beberapa tempat di Seoul hari itu. Cerita lengkapnya lo bisa baca di series ‘Finally, Seoul!’ di blog ini. Link-nya di sini silakan tinggal di klik.

Gue bukan Blink.

Oh ya, gue bahkan bukan fans artis-artis dari YG Entertainment in general. Maksudnya secara manajemen gitu. Biasanya kan anak-anak Kpop kalau udah bias sama satu grup dari manajemen tertentu, mereka juga akan bias sama grup lain dari manajemen yang sama. Gue contohnya, yang lo sendiri mungkin sudah tahu karena sudah sering main ke blog ini dan baca-baca tulisan gue tentang Kpop yang lain, adalah fans artis-artis SM Entertainment. Berawal dari kesukaan gue pada SHINee yang kemudian membawa gue jadi seorang ELF dan kemudian malah suka banget sama SNSD lalu jadi ngefans Krystal dan ngikutin f(x) kemudian sekarang mendeklarasikan diri sebagai EXO-L (bukan Eros ya soalnya jijik sama nama itu) yang juga menjabat sebagai fans berat Irene dan Red Velvet dan teman curhat Kun dan WinWin (tapi ini rahasia aja) di NCT. Oh gue juga diam-diam ngebias Doyoung. Kecuali kalau dia sudah mulai ke-Jaehyun-Jaehyun-an atau ke Chanyeol-Chanyeol-an, gue istirahat dulu ngebiasnya, biasanya sih geser dikit ke Mark atau Yuta meskipun belakangan ini gue lagi suka nyanyiin ‘Havana’-nya Camilla Cabello dan liriknya diganti jadi “Na Jaemin oh Nana...”. Gue juga suka beberapa artis JYP Entertainment but never been a big fan. Cuma sekedar-sekedar doang. Tapi dibandingkan dengan yang lain. Mungkin artis-artis YG Entertainment adalah yang paling gue hindari. Jangan tanya kenapa, mungkin ini cuma masalah selera. Seperti semisal lo ditanya kenapa lo suka sama artis-artis YG, lo pasti punya jawaban yang beda sama yang lain. Pasti punya alasan sendiri. Begitu juga gue. Punya alasan kenapa gue not really into YG’s artists sejak pertama kali gue suka Kpop ratusan juta tahun cahaya yang lalu.
My ruined plan and my luck.
Salah satu hal yang paling menyebalkan di dunia ini selain diem-dieman dan tebak-menebak perasaan adalah rencana yang nggak berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Gue meninggalkan kantor lebih awal hari itu, 2 Mei 2018, untuk mengejar pesawat pulang ke Lombok yang seharusnya berangkat 20:00 WIB. Tapi yah, maskapai sampah ini memang nggak pernah beres. Padahal gue sudah berencana, kalau landing di Lombok tepat waktu, gue masih punya waktu untuk woro-woro di rumah menunggu pergantian hari. Besok gue ulang tahun dan beberapa jam sebelum tengah malam gue masih duduk di bandara, scrolling Instagram sampai baterai ponsel gue nyaris habis. Kondisi ruang tunggu bandara itu udah luar biasa sumpek. Dan kondisinya sekarang diperparah karena gue kelaperan. Gue duduk di bangku yang salah malam itu, di samping satu keluarga yang juga akan terbang ke Lombok bareng gue (gue tahu mereka orang Lombok karena logatnya), yang buka bekal dari rumah. ASTAGFIRULLAH. Aromanya luar biasa menyiksa. Gue cuma bisa mengunyah roti berminyak yang gue beli setelah check in tadi dan menelan sebanyak mungkin air putih supaya gue bisa merasa kenyang. Yang akan gue lakukan setelah naik pesawat nanti adalah tidur jadi gue nggak perlu merasa lapar berlebihan. Gue mendarat di Lombok sekitar jam setengah satu pagi dan sampai di rumah sekitar jam dua subuh.

“Happy birthday, ya!” kata kakak perempuan gue sambil memberikan sebuah kotak kado yang dibungkus sederhana dengan kertas koran. Gue udah nggak punya semangat untuk senyum malam itu tapi tulisan di depannya bikin senyum gue merekah juga. Ada ucapan dari dia, suaminya, dan dua keponakan gue Nada dan Salman. Tulisan Salman hanya berupa garis-garis berantakan mirip cacing. “Dibuka sekarang atau nanti?” katanya. Makanan sudah tersedia di depan gue sekarang. Nasi hangat dengan beberapa lauk buatan nyokap dan kakak gue yang nggak bisa lagi gue tunda untuk dilahap.

“Nanti aja,” kata gue karena sibuk memikirkan bagaimana nasi dan lauk-lauk itu akan masuk ke mulut, dikunyah, lalu masuk ke perut. “Makan dulu.”

“Kamu tuh belum lahir. Masih beberapa jam lagi,” nyokap nimbrung ketika dia ingat hari ini tanggal berapa. “Sekarang sih belum,” katanya.
About me and my introverted mind.
Gue nggak komplain terlahir dan kemudian tumbuh besar (meski belum berkembang biak) menjadi seorang introvert. Justru gue bersyukur. Masing-masing orang tentu saja punya pribadi yang berbeda-beda dan gue yakin banyak orang juga nyaman dengan kondisi mereka yang ekstrovert misalnya. Gue sendiri selalu kagum dengan mereka yang ekstrovert. Karena mereka tahu bagaimana memposisikan diri mereka di tengah kerumunan orang. Mereka tahu bagaimana bersikap dan bergaul dengan banyak orang, entah apakah mereka baru ketemu di lokasi atau sudah berteman lama. Mereka bisa masuk ke celah-celah pergaulan yang gue bahkan nggak menyadari bahwa itu ada. Kalaupun gue sadar akan keberadaan celah itu, jiwa introvert gue mungkin akan berbisik kalau gue pasti nggak akan pernah bisa masuk ke sana sekeras apapun gue mencoba. Menjadi orang yang sibuk dengan dunianya sendiri memang nggak gampang, karena ketika mereka dihadapkan dengan dunia nyata kadang-kadang panik. “Gue harus gimana ya?” itu adalah pertanyaan yang sering muncul di kepala gue. Bagaimana orang-orang di sekitar gue bergaul kadang-kadang membuat gue sangat terpukau gitu. “Bisa ya ada orang supel kayak gini?” Meanwhile gue sadar kalau gue hanyalah seonggok daging yang nggak akan memulai pembicaraan kalau nggak perlu dan kalau nggak diajak ngomong duluan. But wait until I feel comfort around you, I’ll be that crazy guy you’ve never met before.

About the past, present, and future.
Mungkin kalian akan sangat lelah mendengarkan gue mengeluh soal penyesalan demi penyesalan. Gue pun begitu. Dalam hidup kita sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang seringkali nggak mudah. Walaupun kondisi “nggak mudah” itu sendiri sebenarnya datang dari keribetan kita sendiri. Contoh sederhana di pagi hari misalnya, ketika lo bingung harus pakai baju yang mana ke kantor. Padahal kondisinya kantor lo sangat membebaskan dalam hal pakaian asal sopan dan rapi. Peraturan yang seharusnya bisa mempermudah lo dalam mencari outfit of the day. Gue selalu bilang ke diri gue, “Selama lo bukan selebgram yang setiap hari hidupnya harus punya foto OOTD, gue nggak melihat alasan buat lo untuk bingung milih baju.” Toh orang-orang juga nggak ada yang pernah mengomentari baju yang lo pakai. Itulah yang gue sukai dari Jakarta. In some condition, people don’t give a shit with what you are wearing. They don’t give a shit with your life even. Karena mungkin deep down inside mereka juga punya masalah yang lebih penting untuk dipikirkan. Tapi sekali lagi, kecuali lo adalah selebgram yang harus posting foto OOTD setiap hari, mungkin people do give a shit about your damn looks. Tapi setiap kali gue misalnya, entah mungkin sekali dalam setahun, merasa sangat kepikiran soal baju yang harus gue pakai ke kantor itu dan lama memutuskan untuk memilih yang mana, gue akan ingat satu hal: bahwa ada orang yang mungkin selalu pakai baju yang sama karena mereka nggak terlalu punya banyak baju untuk dibingungin.

Sama halnya dengan pertanyaan “hari ini mau makan apa?”

Kalau lo udah ngekos selama bertahun-tahun dan bertahun-tahun juga bekerja dengan penghasilan pas-pasan mungkin lo nggak akan terlalu ribet soal makanan. Kalau sedang di kosan gitu ya, gue jarang banget mikirin hari ini mau makan apa. Karena gue adalah tipe orang yang setia pada satu menu sampai gue merasa gue harus menggantinya atau sampai menu itu nggak available lagi di warteg langganan gue. Dari zaman kuliah, menu gue selalu hanya 1 jenis lauk dan 1 jenis sayur. Pernah selama enam bulan penuh gue hanya makan telur dadar dan tumis kacang panjang. Pernah juga selama enam bulan berturut-turut menu gue ikan tongkol/ikan cuwek (yang gue sendiri tidak yakin penulisannya benar atau bahkan tahu apa bahasa Indonesia yang benar untuk jenis ikan itu) dan sayur sop. Setelah masuk ke dunia kerja, gado-gado jadi forever favorite gue. Karena apa sih yang bisa mengalahkan aroma khas bumbu kacang dan campuran sayur-sayuran murah meriah itu? Gue bisa makan gado-gado dua bulan penuh karena sangat affordable dan mengenyangkan. Belakangan ini gue lagi suka ketoprak. Bumbu kacang is my life.


Ada nggak sih di antara kalian yang setiap ulang tahun ngomong ke diri sendiri, “Wow, I’m one year older now. Do I look different? Do I feel different? Do I need to feel different just because now I’m one year older?”

Gue sedang duduk di kamar yang dibuat nyokap setahun yang lalu untuk gue di rumah. Membagi dua ruang keluarga yang sudah jadi terlalu luas buat keluarga kami yang sebenarnya udah jarang ngumpul-ngumpul lagi. Meja belajar gue ada sebelah Selatan ruangan yang menghadap Barat itu, nempel ke tembok yang di sampingnya ada jendela yang nggak pernah dibuka. Jendela yang juga nggak punya tirai sama sekali. Pemandangan di balik jendela itu nggak menarik. Hanya lahan sempit antara rumah gue dengan rumah tetangga yang akhirnya dijadikan tempat menumpuk material-material bekas bangunan. Beberapa kali gue mencoba meyakinkan nyokap untuk membuat kolam kecil di sana atau sekalian kolam renang aja buat main-main air tapi ditolak sama dia. “Nanti lembab ke rumah tetangga, kita yang kena masalah.” Katanya. Padahal di belakang, posisi salah satu kamar di rumah ini nempel juga sama kamar mandi tetangga yang lain, menyebabkan kamar itu dindingnya jadi lembab banget dan kami nggak pernah komplain sama sekali. Jadi kenapa kita harus takut tetangga komplain ke kita? Sebel.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Hey, It's Me!



kpop blogger, kpop podcaster, social media enthusiast, himself


Author's Pick

Bucin Usia 30

Satu hal yang gue sadari belakangan ini seiring dengan pertambahan usia adalah kenyataan bahwa gue mulai merasakan perasaan-perasaan yang ng...

More from My Life Stories

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • So... Where Am I Now?
  • ►  2024 (5)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2022 (12)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
  • ►  2021 (16)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2020 (49)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (20)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2019 (22)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (23)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (9)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (34)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2013 (48)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (98)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (19)
    • ►  Februari (12)
    • ►  Januari (9)
  • ►  2011 (101)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (53)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (17)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (7)

Podcast ngedrakor!

Podcast KEKOREAAN

#ISTANEXO

My Readers Love These

  • Tutorial dan Cara Main Game Superstar SMTOWN
  • Mr. Simple Yang Katanya Pemuja Setan
  • Pertanyaan & Jawaban Seputar SM Global Audition di Jakarta
  • 'Sexy, Free & Single' Music Video: Review Saya!
  • EXO 'WOLF' Teaser MV_2: Review Saya!
@ronzzyyy | EXO-L banner background courtesy of NASA. Diberdayakan oleh Blogger.

Smellker

Instagram

ronisnowhere

Black-and-White-Minimalist-Coming-Soon-Instagram-Post-2

I Support IU!

Copyright © 2015 kaoskakibau.com - by ron. Designed by OddThemes