Empat Perbedaan

Bagaimana rasanya jadi orang yang berbeda dengan orang lain? Jawabannya ada dua: (1) Asik, (2) Menakutkan. Dan kalau pertanyaan itu ditanyakan ke gue, maka jawabannya ada pilihan nomor 2. Buat gue pribadi, yang namanya perbedaan itu sebenarnya ada sesuatu yang bisa membuat dunia semakin banyak ragam dan berwarna. Nggak kebayang kalau di dunia ini semua orang sama. Mukanya sama, cara hidupnya sama, status sosialnya sama, waaah... ribet kali ya urusannya. Kalau penduduk dunia semua mukanya sama, maka gue nggak akan kenal siapa nyokap gue, kalau semua penduduk di dunia cara hidupnya sama pasti bakalan ngebosenin banget ketemu sama orang yang kepribadiannya sama persis dengan kita, dan kalau semua orang di dunia ini status sosialnya sama (bisa kaya semua atau miskin semua) maka nggak akan ada pasar, nggak akan ada transaksi karena nggak ada yang mau jualan, semua bakalan berebut jadi raja dan presiden. Hancur... Tapi pada kenyataannya, perbedaan itu menakutkan buat gue karena gue memiliki begitu banyak perbedaan dibandingkan dengan orang-orang (atau lebih tepatnya laki-laki) kebanyakan.

Oke, udah bukan saatnya buat malu untuk memberitahukan seluruh dunia deh...

Yang pertama yang paling terlihat adalah bahwa gue nggak suka nonton sepak bola seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Gue suka nonton bola pas piala dunia doang, tapi kalau pertandingan-pertandingan rutin yang tayang enggak empat tahun sekali jangan harap gue mau nonton. Giliran di ajak ngomong soal bola, gue manggut-manggut aja sok ngerti, padahal otak gue kosong melompong!

Berkaitan dengan bola, perbedaan kedua adalah bahwa gue tidak bisa main bola. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa gue juga nggak suka bola kali ya? Sebenarnya alasan gue nggak suka bola itu simpel, karena waktu kecil bokap gue nggak pernah ngajarin bagaimana caranya jadinya sampai sekarang gue nggak bisa yang namanya melakukan permainan yang sangat dicintai seluruh kaum adam itu *sedikit menyesal, hanya sedikit*. Gue jadi inget waktu jaman-jamannya gue SD dulu, kalau nggak salah waktu itu kelas dua SD. Di pelajaran olahraga pak guru olahraga gue yang namanya Pak Gupran (atau Gufron? Gue juga nggak tahu, gara-garanya orang-orang Lombok kalau nyebut huruf 'f'' kayak 'p' sih, jadi nggak yakin deh namanya siapa) selesai ngajar dan dia memberikan kesempatan buat anak-anak cowok buat main bola. Terkatunglah gue sendirian secara nggak bisa maen bola kan, tapi gue pengen gabung sama temen-temen yang main bola itu... Akhirnya gue mendekati salah seorang temen gue yang sudah tergabung dalam satu tim dan menawarkan diri untuk menjadi seorang penjaga gawang.

"Boleh ya gue jadi kiper aja. Gue nggak bisa kalau harus main di tengah lapangan," kata gue ke dia bergaya jadi orang yang sudah pengalaman main bola.

"Enak aja lo! Jangan deh! Ntar malah kebobolan lagi!" kata dia marah-marah.

Buset dah... sombong bener sih nih anak, pikir gue. Udah kayak main di piala dunia aja sampe takut kalah begitu. Sadar woy! Masih SD juga lo belagu! Gue gerutu sendiri dalam hati. Nama anak itu gue masih inget karena kita bareng lagi pas SMA: Deni Eka Putra Suhendar. Well, dia masih hidup sekarang dan kemaren dia mampi ke warung tempat gue kerja. Mukanya masih sama kayak dulu. Nyebelin dan pengen gue bakar! *kabur*

Setelah kejadian itulah gue jadi males yang namanya ikutan main bola karena udah kecewa ditolak sejak pertama kali pengen main.

Perbedaan ketiga adalah bahwa gue bukan tipe orang yang suka bergaul. Hmmm... yang ini amat gue sesalkan karena membuat diri gue sendiri jadi seorang yang dork. Sebenarnya gue nggak ada masalah sama yang namanya pergaulan, tapi nggak tahu juga ya? Kok setiap kali gue kumpul sama orang-orang baru yang baru gue kenal gue suka ngerasa nggak nyaman. Mungkin karena mereka juga nganggep gue kayak pengganggu kali ya makanya gue juga jadi nggak nyaman di deket mereka? Keseringan kayak gitu sih... dan karena itu juga gue menarik diri dari pergaulan. Waktu di SMP misalnya (gue dulu sekolah di SMP 2 Mataram), gue adalah orang yang paling cupu di antara semuanya gara-gara penampilan gue nggak banget. Kacamata gue masih gede, dengan baju dimasukin semua ke dalem celana dan kaos kaki panjang selutut. Tampang gue udah kayak pipis kuda di berak-in sama anjing. Karena nggak ada yang mau deket-deket sama gue, gue jadi menarik diri dari pergaulan mereka. Walaupun akhirnya gue bisa berubah jadi lebih stylish *haek!* dan secara tiba-tiba juga anak-anak lain pada mau mengajak gue bergabung dengan mereka *padahal cuma temen-temen sekelas doang, kalau kelas laen mana mau mereka*. Kebiasaan ini masih kebawa sampai sekarang, bahkan di kampus pun pergaulan gue cuma itu-itu aja. Agak susah buat gue untuk menumbuhkan percaya diri bergaul dengan orang baru, kayak misalnya ikut organisasi. Kalau gue nggak ada temen yang deket ikut organisasi yang sama, maka gue nggak akan ikut organisasi itu. Kenapa? Karena gue berpikiran nggak ada yang gue kenal dan gue akan sendirian. Padahal banyak banget orang-orang baru yang nantinya juga akan jadi temen gue, kan? Tapi itulah gue... selalu berpikiran sempit seperti itu. Dan berpikiran sempit juga bisa jadi salah satu ciri khas gue yang membuat gue berbeda dari orang lain.

Keempat adalah gue suka nulis. Percaya nggak percaya, diantara semua anak laki-laki di kelas gue pas SD dulu, yang suka nulis (dalam arti cerpen, atau bahkan diary) hanya gue. See? Dua puluhan anak laki-laki di kelas gue lebih memilih main sepak bola, main benteng, main smack down-smack down-an, sementara gue lebih suka menulis. Dan ini masih berlanjut sampai sekarang... tentu saja. Gue suka banget nulis cerpen dan belakangan ini lagi getol-getolnya bikin Fanfiction. Buat gue, menulis itu seperti dunia kedua yang hanya punya kita. Dengan menulis gue bisa mengatur apa saja seperti apa keinginan gue. Dengan menulis gue bisa bikin diri gue jadi lebih ganteng dari aslinya, bisa bikin mata gue lebih lebar dari aslinya, bisa bikin badan gue lebih tinggi dari aslinya, dan bisa memalsukan semua yang pengen gue palsukan. Menulis adalah jiwa gue walaupun suka males-malesan juga sih. Buktinya sampai sekarang beberapa proyek yang awalnya semangat gue kerjain jadi keteteran. Hmmppphhh... Tapi gue tetep aja suka nulis. Kalau nggak, blog ini juga nggak akan ada :D

Dan kalau gue harus menyebutkan semuanya, akan membutuhkan banyak waktu dan space di postingan ini. Tapi gue mulai sadar bahwa perbedaan itulah tempat kekuatan gue. Sejak gue bisa berpikiran dewasa, gue mulai berpikir bahwa kekurangan kita itu adalah sebenarnya kekuatan dan kelebihan kita. Jadi walaupun gue nggak suka bola, nggak bisa main bola, nggak suka bergaul, paling tidak gue masih bisa menikmati hidup gue sebagai penulis dan menikmatinya. Dengan tidak suka nonton bola gue jadi nggak suka begadang, dengan tidak bisa bermain bola gue bisa meluangkan waktu buat main bekel, dengan tidak suka bergaul gue bisa menghabiskan waktu buat ngasi makan kucing gue, dan dengan suka menulis gue bisa menyelesaikan postingan pertama di blog ini :D

Tags:

Share:

2 komentar