Kaya itu tidak selalu Uang, tapi Uang selalu bisa bikin Kaya.

Kembali lagi setelah sekian lama... Hahaha... belakangan ini memang kehilangan berbagai macam ide dalam menulis. Capek terus bawaannya. Hidup saya lagi tidak jelas satu bulan ini. Siang jadi malam, malam jadi siang. Beginilah kalau mau mencari uang. Harus ada yang dikorbankan, harus ada resiko. Capek, itu adalah resiko pertama yang didapat dari mencari uang sendiri, karena tidak akan ada pekerjaan yang tidak melelahkan. Bahkan menulis sekalipun bisa bikin capek. Ya capek mata ngeliat layar, capek pikiran nyari ide yang luar biasa, capek jari ngetik, dan kadang-kadang juga bahu jadi pegel kalau posisinya nggak bener. Ya... capek. Itu dia. Belakangan ini memang gue selalu capek kalau pulang kerja. Berangkat jam lima sore, pulang jam dua belas malam. Itu cukup melelahkan mengingat banyak yang dikerjakan di tempat kerja. Ya nganterin pesanan, ya cuci sendok, ya bersihin meja, ya bungkusin nasi orang, ya nyapu, ya ngepel. Itulah... pekerjaan ini memang tidak seberapa, tidak mewah, tidak tinggi, tapi saya sangat menikmatinya. Sungguh... bahkan bisa dibilang ini salah satu dari cita-cita saya yang akhirnya tercapai: Waiter. Cita-cita rendah yang lucu... *Hey! Siapa bilang ini pekerjaan rendah?! NGGAK SAMA SEKALI!* Jadi waiter itu adalah hebat! Bayangin aja, setiap hari harus mengantarkan pesanan semua tamu yang datang ke tempat mereka, membereskan bekas makanan para tamu, terkadang mungkin membersihkan sisa-sisa rokok tamu yang terkadang tidak bertanggung jawab membuang puntung dan abu rokok di piring. Semua itu sangat melelahkan, tahu? Jadi kalau dibandingkan dengan pegawai negeri yang sudah makan uang negara untuk buat baju dan kerjaannya cuma duduk depan komputer, ngetik dikit, ujung-ujungnya pasti Facebookan, masih mending waiter. Kerjanya nyata... Resiko kedua adalah pulang malam. Well, sebenarnya tidak begitu penting juga dipermasalahkan seorang laki-laki yang pulang malam, paling tidak kalau orang tua terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya yang bertubuh kecil, pendek, kurus yang kalau ditendang dari motor langsung jatuh, mungkin patut di jaga dan jadi masalah kalau pulang malam. Tapi pulang malam bisa jadi juga bawa resiko ketiga: gampang sakit. Cuma Alhamdulilah saya tidak pernah sakit belakangan ini. Jauh-jauh deh... Kalau yang dikorbankan... mungkin waktu bersama keluarga. Itu saja... yang lain masih bisa dikendalikan...

Well, back to the main topic, hari ini gue *tadipakesaya,sekaranggue:LABIL* pengen share pendapat gue tentang Uang dan Kekayaan.

Kemaren malem di tempat kerja, bos gue dateng, dua orang, sepasang suami istri. Yang penting untuk diketahui supaya nanti tidak bingung adalah bahwa di tempat kerja gue itu, bisa dibilang posisi gue adalah yang paling bawah. Maksudnya adalah, pemilik tempat kerja gue itu adalah saudara dari hampir semua karyawan di sana. Nah... jadilah, mereka semua kenal sama bos gue itu dan akrab. Sedangkan gue?
Waktu tadi dia dateng, gue udah kalang kabut deh, nggak tahu harus ngapain. Secara gue nggak kenal sama dia dan dia pun nggak kenal sama gue, bahkan mencoba untuk kenal saja tidak, sumpah, ini jujur. Maksud gue, sebagai atasan, paling tidak dia akan berusaha untuk tahu siapa saja yang bekerja di tempat miliknya, kan? Nah ini? Gue duduk di depan dia aja, dia pura-puranya nggak ngeliat gue. Ya udah, gue males... padahal gue udah pasang muka sesopan dan sesantun mungkin, pasang senyum yang paling najong yang gue punya, supaya paling nggak dia terkesan, tapi... nihil. Dia sama sekali tidak tertarik.

Pengen banget gue bilang ke dia waktu itu, “Bu, nggak penting juga sih lo kenal atau nyapa gue, gue juga nggak pengen kenal sama lo.” Cuma resikonya adalah gue dipecat tanpa gaji dari hasil kerja gue yang hampir satu bulan atau paling banter kepala gue digorok.

Tidak selamanya uang bisa bikin bahagia. Kenapa? Lihat aja bos gue itu. Kalau dia memang bahagia dengan segala uang yang dia punya, dia tidak akan segan untuk menyapa orang lain, dia tidak akan segan untuk selalu tersenyum bahkan hanya untuk bawahannya. Kalau dia bahagia, maka dia tidak akan jadi orang sombong. Jadi gue berkesimpulan bahwa tidak semua orang kaya itu baik. Bener... Nggak semua... contohnya ya, bos gue itu. Mungkin dia baik hati, memang... tapi selama dia tidak menunjukkan kebaikannya itu di depan gue, gue nggak akan tahu dia baik atau nggak dan sampai saat itu gue akan tetap menganggap dia orang kaya yang sombong.

Kita semua memang pengen jadi orang kaya karena kita semua butuh uang. Taruhan, siapa yang nggak mau uang dan nggak mau jadi kaya? Pasti nggak ada. Tentu saja... uang adalah kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan ini. Apapun yang ingin kita lakukan, akan berkaitan langsung dengan uang. Mulai dari yang paling dekat dengan kita misalnya, pakaian. Kita butuh uang untuk membeli pakaian. Kalaupun kita dapet dari orang, tapi tetap aja orang itu butuh uang untuk beli pakaian yang kita pakai, kan? Dan gue baru tahu kalau cari uang itu susah... Bener-bener susah. Seperti yang gue bilang di atas, ada yang dikorbankan, ada resikonya.

Bos gue itu punya empat rumah makan untuk mendapatkan uang, mama gue kerja di Puskesmas buat cari uang, papa gue kerja juga buat cari uang. Semuanya bekerja untuk mencari uang, termasuk gue yang bekerja sebagai waiter supaya bisa dapet uang sendiri. Tapi... sebanyak apapun uang yang ada di dompet kita, seharusnya tidak membuat kita lupa pada orang lain, pada dunia, pada Tuhan. Karena uang bukan segalanya...

Buat gue pribadi, gue memang butuh uang. Tentu saja... gue butuh uang untuk makan, gue butuh uang untuk beli pulsa, gue butuh uang untuk hal-hal yang bernilai ekonomis lainnya. Dan uang itu gue dapetin dari papa dan mama gue. Tapi apakah hanya itu saja yang gue butuhkan? Tentu saja tidak... gue juga butuh kasih sayang dari papa dan mama gue. Gue butuh mereka selalu ada dan mensupport setiap apa yang gue kerjakan. Tidak hanya uang yang mereka berikan, tapi gue lebih butuh mereka secara pribadi.

Kalau diinget-inget, nggak pernah ada waktu lebih dari 3 jam di rumah yang bisa gue habiskan penuh bersama dengan papa gue. Nggak pernah sama sekali. Kenapa? Karena dia sibuk cari uang dan sibuk mikirin bagaimana memberikan uangnya ke anak-anaknya supaya mereka semua tercukupi. Tapi bodohnya, dia malah membuang-buang uang itu secara tidak penting. Bodoh... Gue rasa dia nggak pernah mikir kalau selama ini yang gue butuhkan itu adalah dia, bukan uangnya. Karena sekarang gue udah bisa cari uang sendiri dengan segala kemampuan gue yang pas-pasan ini, paling nggak sekedar untuk jajan. Tapi sekali lagi, bodoh... dia tidak pernah memikirkan hal itu.

Uang sudah bikin gue gila. Karena uang ini pula gue bahkan mikir untuk berhenti kuliah. Uang sudah bikin bokap gue terlilit hutang, uang sudah bikin dia gila dan menikah lagi untuk ketiga kalinya, uang sudah membutakan matanya, uang sudah mengancurkan hidupnya, hidup kami, hidup gue... Terima kasih.

Lalu? Apakah masih penting untuk jadi orang kaya? Apakah masih penting untuk jadi orang yang punya banyak uang?

Jawabannya tentu tidak.

Karena uang itulah, bokap gue menghancurkan hidup banyak orang di keluarganya. Gue memang butuh uang, tapi gue lebih butuh lagi kasih sayang dia. Hmmm... Ribet. Kalau mungkin tulisan kali ini agak tidak nyambung, maklumi saja.

Semoga nggak akan ada salah satu dari kalian yang hidupnya hancur karena ambisi mengejar uang. Kayak bokap gue ...

Share:

1 komentar