30 Menit Bersama drg. Chandra [Part 1]

Kalian percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini? *memulai postingan dengan drama* Hahaha... mungkin kedengerannya emang sangat drama banget. Bukan karena gue kemaren baru menyelesaikan nonton 49 Days, bukan. Tapi ini memang kenyataan yang terjadi sama gue di usia  yang mau menginjak 21 tahun ini. Bahwa semua yang ada di dunia ini nggak ada yang kebetulan.

Sebelum kita sampai di pokok permasalahan yang tertulis di judul postingan ini, gue akan bercerita sedikit tentang pengalaman masa lalu gue yang pedih :'(

Gue bisa dibilang anak yang agak-agak ajaib. Bukan karena gue punya ilmu sihir, tapi gue merasa hidup gue dari kecil agak abnormal. Seperti misalnya, ketika anak-anak lain main layangan, gue nggak bisa main layangan. Ketika anak-anak lain main bola, gue nggak bisa main bola. Dan ketika anak-anak lain rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, gue nggak pernah mau ke dokter gigi. Alasannya sebenarnya simple: gue nggak mau gigi gue di bor.

Waktu SD gue memang suka banget dengerin lagu dangdutnya Inul dengan goyang ngebor-nya. Tapi bukan berarti gue juga suka di bor di bagian gigi. Alasan inilah yang membuat gue selalu menghindari yang namanya dokter gigi seumur hidup gue. Bahkan beberapa bulan yang lalu pernah bersumpah kalau seumur hidup nggak bakalan yang namanya menyentuh ruang praktek dokter gigi. Mungkin kedengerannya agak berlebihan, tapi buat gue nggak berlebihan sama sekali. Karena ternyata ada alasan yang lebih masuk akal...

Jadi waktu SMP gue merasa ada yang aneh dengan gigi kanan kelima gue. Rasanya jarak antara satu gigi dengan gigi yang lainnya terlalu jarang. Mungkin karena pernah keropos atau kenapa gue juga nggak tahu. Dan waktu itu gue merasa nggak nyaman. Pas SMP, gue coba untuk memberanikan diri ke dokter gigi dengan iming-iming tambal laser permanen itu nggak akan di bor giginya. Tapi demi Tuhan, sesampainya gue di dokter gigi yang juga adalah salah satu temen nyokap gue yang kerja di puskesmas yang sama waktu itu (nyokap gue bidan) gue udah nangis aja. Waktu itu bener-bener nangis dan pengen pulang. Nggak ada keberanian sedikitpun buat berbaring di kursi panas menyeramkan warna biru itu. Mana lagi tempat prakteknya kayaknya udah lama banget nggak dibuka jadi kayak berdebu gitu. Jadi inget adegan di film Rumah Dara waktu ada yang mau di gergaji.

Walaupun gue menangis sejadi-jadinya, nyokap bersikeras gue harus di periksa. Oke kalau cuma sekedar diperiksa aja nggak apa-apa, tapi pada akhirnya mesin bor itu dinyalain juga dan gigi gue harus di bor. Gue nangis dong, bener-bener yang mau kabur dan pengen pulang aja. Tapi nggak bisa. Akhirnya dokter itu (kebetulan waktu itu wanita) menyarankan untuk di bor manual aja dengan di bius terlebih dahulu. Oke, itu pertama kalinya gue merasakan yang namanya dibius lokal. Gusi yang giginya mau di bor di suntik sama obat bius. Gue pikir setelah itu masalah bakalan selesai, tapi nggak juga. Begonya, obat biusnya belom bekerja, tapi gigi gue udah di gerus aja pake bor manualnya yang demi Tuhan lebih sakit dari bor mesin. FYI aja nih, bor manualnya itu semacem baut/mur yang diputer-puter di atas gigi yang mau di bor. Kebayang nggak tuh?

Setelah semua penderitaan itu selesai--atau mungkin belom selesai entahlah--akhirnya gigi gue ditambal. Semuanya kembali normal. Kecuali perasaan gue. Pikiran gue dan otak gue. Sejak saat itulah kenapa gue nggak pernah mau lagi ke dokter gigi. Gue ngerasa setiap dokter gigi bakalan nyakitin gue kayak gitu. Bakalan ngeluarin bor dan gerus gigi gue sampe abis. Perasaan takut itu bener-bener dalem banget sampe-sampe pas SMA mau cek lagi karena ada sakit gue nggak pernah berani. Dan sejak saat itu gue bersumpah nggak akan ke dokter gigi lagi.

7 tahun berlalu. Gue merasa ada yang aneh lagi di gigi yang sama dengan yang 7 tahun lalu di gerus itu. Gue merasa ada yang sakit. Sebenarnya sudah ada rencana untuk ke dokter gigi liburan Januari kemarin tapi entah kenapa kok ya sibuk terus dan nggak pernah jadi pergi. Tapi percaya nggak percaya, kesibukan gue itu justru membawa gue ke PKM UI dan mempertemukan gue dengan dokter gigi Chandra.

Awalnya memang gue konflik batin, apakah gue akan bisa bertahan dan hidup serta keluar dari ruang praktek dokter itu dengan selamat ketika gue memeriksakan gigi gue ini. Karena gue tahu, gigi ini sudah harus di ganti tambalannya dan itu artinya harus di bor apapun yang terjadi. Dan siang itu, gue inget banget hari Selasa, 21 Februari 2012, pertama kalinya setelah 7 tahun gue ke dokter gigi lagi. Waktu daftar di loket, gue sudah membatin, "Ya Allah, please banget dokternya harus cowok..." Gue udah nggak bisa lagi berhadapan dengan dokter gigi cewek apalagi berjilbab. Trauma gue rasanya tambah parah aja... Dan hari itu, baru masuk ke ruang tunggu PKM UI aja kaki gue udah gemeteran. Percaya atau nggak, pas nunggu dipanggil sama dokternya, kaki gue dingin, tangan gue dingin, jantung gue deg-degan parah. Rasanya persis sama kayak menunggu pengumuman apakah gue lulus SMA atau nggak. Tapi yang ini lebih parah. Badan gue tiba-tiba aja pegel dan kepala gue agak pusing. Kebayang suara bor itu...

Di tangan gue ada kartu nomor panggil dokter, disitu tertulis "02 drg. Chandra". Gue berharap dokter Chandra itu laki-laki. Serius deh. Dan Alhamdulilah waktu gue masuk, ternyata memang dokternya laki-laki.

Sebenarnya mau minta foto dulu sebelum di periksa, tapi apa daya nggak memungkinkan. Akhirnya konsultasi hari itu gue awali dengan curhat kejadian 7 tahun yang lalu dan juga trauma gue dengan bor gigi. Persis waktu gue ngomong, "Saya trauma sama bor gigi," di ruang praktik sebelah sedang menyalakan mesin bor. Gue semakin merinding aja... Mungkin dokter Chandra ini mau ketawa kali ya, masa ada mahasiswa semester 6 masih aja takut sama bor gigi. Tapi ternyata dia benar-benar-benar-benar sangat mengerti bagaimana perasaan gue. Dan jujur aja ini baru pertama kalinya gue bertemu dengan dokter gigi laki-laki dan nggak bikin gue takut sama sekali.

Konsultasi berlanjut pemeriksaan gigi dan disanalah takdir membawa gue ke proses pengeboran gigi untuk pertama kalinya setelah 7 tahun. Dokter Chandra minta supaya gue rileks aja. Sementara dalam otak gue gue sedang berpikir kenapa nggak di bius total aja kayak pas episode Britney Spears di Glee season 2 trus gue mimpi lagi nyanyi lagu Britney? Ah tapi nggak mungkin... karena setiap kali selesai di kulik, gue harus kumur-kumur. Mana mungkin kan dokter Chandra mau repot kumur-kumurin gue. Caranya gimana juga gak kebayang. Tapi toh pada saat itu, gue di bor juga.

For the first time... Suara mesin itu yang jujur aja bikin merinding tapi ketika mata bor nya menyentuh bagian gigi gue gue nggak merasa sakit apapun... Gue sama sekali nggak merasa sakit apapun kecuali merasa air liur gue membendung kayak banjir dan perasaan eneg pengen muntah karena gue termasuk orang yang sensitif yang kalo ada benda apapun di mulut gue pasti langsung yang pengen muntah. Tapi hari itu proses pengeboran berjalan dengan lancar... Bahagianya seperti lagi ngebor bareng Inul... Gue terharu banget. Akhirnya gue berani juga di bor...

Setelah selesai, gigi gue nggak ditambal dulu tapi cuma di sumpel pake kapas. Bagian yang paling menegangkan adalah ketika dokter Chandra mau ngasi penjelasan tentang gigi gue.

Gue sih udah berpikir kalau gigi gue ini pasti sudah parah banget. Bayangin aja keroposnya udah setengah gigi. Trus tambalan yang dari 7 tahun yang lalu nggak pernah di sentuh dan mau lepas (pas dikasi liat bentuknya kayak batu kali lumtan. Demi Tuhan!) Dan pasti akan ada biaya yang sangat mahal untuk ini...

"Jadi, gigi kamu sudah masuk tahap yang kronis banget, Ron. Udah kena ke bagian syaraf giginya. Tadi aku masukin jarum loh ke gigi kamu, tapi kamu nggak ngerasa kan?"

Gue geleng-geleng.

"Iya, jadi syaraf gigi kamu sudah mengalami gangguan... Jadi mungkin harus dilakukan perawatan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk melakukan apa. Saya buatkan surat pengantar untuk rontgen dan setelah rontgen kamu balik lagi supaya kita bisa lihat bagaimana kondisi gigi kamu..."

Oke, gue resmi divonis Gigi Kronis.

Hari periksa pertama dengan hari rontgen dan periksa kedua lumayan jauh jaraknya. Dari Selasa ke Jumat. Dan hari ini, Jumat 24 Februari 2012, pertama kalinya gue rontgen dental untuk tahap pemeriksaan selanjutnya. Ternyata setelah masuk ke ruangan dokter Chandra tadi pagi, gue tidak hanya harus mendengar dia bilang kalau gue menderita Gigi Kronis, tapi katanya...

"Ini bagian gigi kamu yang normal," Sambil nunjuk hasil rontgen gigi normal. "Bedain deh sama yang disebelahnya," Nunjuk hasil rontgen gigi yang kronis. "Keroposnya sudah kena ke akar giginya. Makanya kemarin sakit. Jadi kalau saya sarankan sih kamu harus melakukan perawatan akar gigi dan kita akan mengganti crown atau mahkota gigi kamu dengan crown tiruan..."

Dokter Chandra ngasi liat bagaimana bentuk crown tiruan itu dari sebuah gigi palsu.

"Biayanya mungkin agak mahal, untuk tambalan akar tiruannya aja bisa 200 ribu dan untuk crown nya bisa 800 ribu. Jadi totalnya kira-kira satu juta rupiah..."

Oke, pikiran ini juga sudah kebayang sama gue sejak kemaren kalau gue harus baya satu juta untuk perawatan satu gigi ini.

"Jadi bagaimana?"
"Saya ikut kata dokter aja deh..."

Dan akhirnya tadi gue mulai melakukan perawatan. Percaya nggak percaya, gigi gue berkali-kali di masukin jarum, di semprot pembersih, di masukin jarum lagi, disemprot lagi, dimasukin jarum lagi. Gue pikir sih itu kayak semacem akar pengganti gitu. Abis itu ditambal sementara dan minggu depan harus balik lagi buat pengisian tambalan permanen.

Gue masih deh-degan... jelas... baru kali ini gue mengidap penyakit yang sangat parah. Gigi Kronis. Ternyata memang benar, merawat gigi sejak kecil itu perlu. Mom juga selalu ingetin buat merawat gigi sebelum menyesal. Dan sekarang penyesalan itu datang setelah gue males gosok gigi dan merawat gigi. Semua kata-kata Mom jelas terbukti... Ah tapi nggak ada gunanya menyesal...

Selama satu setengah bulan kedepan gue akan menjalani perawatan gigi kronis ini dengan pengisian tambalan permanen dan penggantian crown gigi. Ah paling nggak walaupun gue nggak pernah pake mahkota kayak raja, gigi gue pake mahkota yang harganya satu juta. Kalo suatu saat gue bokek, gue gadein aja mahkota gigi gue. Lumayan buat beli pulsa duitnya...

Selama satu setengah bulan kedepan gue akan rutin bertemu dengan Dokter Chandra. Gue besok upload fotonya deh kalo ada supaya kalian bisa liat. Pokoknya dokter ini tipe-tipe dokter ganteng pesantren alim bijaksana kaya raya dan tipe suami idaman banget. Hahahahh...

Buat para mahasiswi UI yang pengen periksa gigi, pilih dokter Chandra aja... Selain baik dan ramah, konsultasinya juga nyaman... 

***

Gue tetep nggak percaya sama kebetulan... Semua itu sebenarnya takdir. Kalau saja dulu tidak begitu, mungkin sekarang tidak begini. Kurang lebih kayak gitu... Kalo nggak ngerti, gak apa-apa. Gue nggak maksa kok.

Sayang gue gak ada foto rontgennya juga jadi nggak bisa ngasi gambaran kondisi gigi gue. Tapi mungkin kalo perawatan sudah selesai gue bisa kasi tunjuk ke kalian.

Pesan gue: Jagalah Gigi, jangan kau Kronisi.

@ronzzykevin

Next Story :

| drg. Chandra PART 2 | drg. Chandra PART 3 | drg. Chandra PART 4 | drg. Chandra PART 5 |

Share:

1 komentar