30 Menit (Kali Ini Lebih 15 Menit) Bersama drg. Chandra [PART 5]

Lama terbenam dalam gempita dan gemerlap fana Planet EXO, akhirnya hari ini gue kembali  menghadapi dunia nyata dan kembali harus berhadapan dengan Dokter Gigi untuk kesekian kalinya. Kalau biasanya gue selalu merencanakan hari pemeriksaan dengan matang, seperti misalnya semalam sebelumnya tidur lebih cepat dari biasanya, tapi hari ini nggak. Hari ini berbeda. Gue tetap tidur terlambat karena kebanyakan minum kopi dan tiba di PKM UI dengan perasaan yang biasa-biasa aja, agak ngantuk, leher pegel sedikit, dan seulas senyum yang sudah disiapkan untuk menyambut dokter gigi yang hari ini lagi-lagi harus berhadapan dengan gigi dan mulut penuh air liur jahanam gue. Karena hari ini masih UTS, anak-anak UI yang datang ke PKM nggak terlalu banyak. Biasanya mereka berlomba-lomba pagi-pagi udah antri di PKM UI. Mungkin kalo UTS, sakitnya libur kali ya... Bisa jadi. Cuma seperti biasa, walaupun gue dapet nomor antrian 01 pagi ini, lumayan lama juga gue nunggu. Hmmm... sekitar lima belas atau dua puluh menit. Gue nggak tahu persisnya kenapa gue harus menunggu selama itu padahal dokter gigi yang satu lagi sudah melayani hampir 3 pasien. Hmmm... Yeah, dokter gigi gue yang satu ini memang istimewa dan lain dari yang lain. Termasuk mungkin memanjakan pasiennya dengan menunggu lumayan lama. 

Ngantuk...

Tangan gue tergerak untuk menggenggam wajah dokter cewek yang sedang senyum di cover majalah kesehatan yang disediakan PKM UI. Meskipun nggak pernah update dan wajah itu sudah gue lihat hampir dua bulan terakhir ini, tapi informasi kesehatan yang gue baca tadi (kalo nggak salah tentang Demensia, Kanker Pankreas, Parkinson, dan Ginjal) cukuplah untuk mengupdate ketertinggalan gue dalam segala hal, salah satunya informasi kesehatan. Lima atau sepuluh menit membolak-balik halaman majalah yang pada akhirnya membosankan, akhirnya nama gue dipanggil oleh suster yang biasa menangani gue. Asistennya dokter gigi terkeren sepanjang sejarah: drg. Chandra.


Sampai sekarang gue nggak pernah berani minta fotonya. Jadi kalau misalkan kalian penasaran, mungkin bisa dateng langsung ke PKM UI. Pura-pura aja scaling gitu. Atau ngaku kronis aja giginya kayak gue. Oke abaikan.

Sampai sekarang gue juga nggak tahu nama lengkap dokter keren ini, yang berujung pada ketidaktahuan alamat Facebooknya juga. Oke sekali lagi abaikan.

Dua minggu yang lalu gue menyerahkan foto rontgen setelah perawatan dan dokter Chandra bilang minggu depan (yang artinya adalah minggu ini) akan dilanjutkan dengan penanaman pasak gigi sebelum nanti bisa dibuat dan dipasang mahkota gigi baru.

"Hai, Ron..."

Begitu sapaan beliau waktu gue masuk dengan muka penuh harapan dikasih sarapan dan duduk di kursi empuk bewarna biru di samping meja kerjanya. Well, mungkin nggak seperti itu juga karena pada kenyataannya dia nggak tahu kalau gue dipanggil Ron.

Dokter Chandra membolak-balik file kuning yang dipegangnya. Isinya sudah lumayan banyak karena kunjungan gue hari ini sudah ke enam atau tujuh kalinya dalam dua bulan terakhir ini. Perasaan gue semakin hari semakin tenang. Entah karena emang faktor dokternya atau memang faktor terbiasa. Semoga sih faktor terbiasa. Takutnya nanti kalo kalo kumat (amit amit kumat) trus gue udah nggak di Depok kan kacau kalau misalnya gue ngidam diperiksa dokter Chandra. Bahasa gue ngidam. Lupa jenis kelamin.

"Hari ini proses akan kita lanjutkan penanaman pasak untuk penyangga mahkota gigi buatan nanti ya Ron," beliau membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah model gigi yang kurang lebih kasusnya sama kayak gigi gue. "Jadi nanti akan dibuat sepert ini. Kemarin kan kita sudah melakukan pengisian akar," beliau mengeluarkan hasil rontgen kedua gue. "Nah di bagian ini nantinya akan di keruk sebagian, disisakan kurang lebih lima mili untuk tempat pasaknya..."

Pasak... Pasak... Pasak... Yang kebayang di otak gue adalah paku... Jangan-jangan...

"Jadi nanti kira-kira..." beliau ngeluarin lagi satu benda bewarna keemasan yang besarnya nggak lebih besar dari paki ukuran kecil, cuma bagian badannya bergerigi kayak mur. 

Oh Tuhan... ternyata beneran mirip mur...

"Nanti pasak ini akan dimasukkan ke dalam bagian gigi yang berlubang itu. Makanya itu perlu di hilangkan sedikit tambalannya supaya nanti pasak ini bisa pas dan nggak goyang-goyang..."

Oke, itu artinya akan ada proses pengeboran hari ini. Satu-satunya hal yang gue takutkan dari Dokter Gigi adalah BOR GIGI. Tapi hari ini rasanya semua akan fine-fine aja... Well, gue ditangani oleh seorang profesional.

Nah buat yang penasaran sama bentuk pasak-nya, kurang lebih begini:

Mungkin nggak persis seperti ini. Karena menurut keterangan dokter Chandra sendiri, ukurannya tergantung dengan ukuran lubang giginya. Kalo besar ya semakin besar. Tapi kalo misalnya kasus gigi gue, nggak sampai sebesar itu. Ukurannya kurang lebih kayak jarum kasur tapi ambil bagian ujungnya aja begitu. Serem amat kalo segede itu ya? Yah pokoknya begitulah ya... Nah setelah nunjukkin bentuk pasaknya yang lumayan bikin merinding karena nggak bisa ngebayangin seumur hidup akan tumbuh berkembang bersama dengan besi itu di dalem gigi gue, beliau memeragakan bagaimana posisi pasak itu nantinya di dalam gigi gue sambil menempelkan pasak asli ke foto rontgen gigi gue yang kemaren. 

"Jadi kurang lebih seperti itu. Gimana? Sudah siap?"

Tangannya terulur terbuka menuju kursi panas yang sandarannya sudah hampir sejajar dengan dudukannya  yang sudah hampir 180 derajat itu. Gue berusaha memenuhi pikiran gue dengan berbagai macam hal yang menyenangkan. Tapi nggak tahu kenapa ya, setiap kali masuk ke ruangan itu, yang pertama kali muncul di otak masih tetep sama: Goodbye Baby-nya Miss A.

Akhirnya gue berbaring di kursi panas biru cantik unyu-munyu itu. Berasa mau dance gaya lilin-nya Miss A beneran. Suara drum awal lagu Goodbye Baby sudah memenuhi pikiran gue sementara mata gue melirik ke dokter Chandra yang sedang mempersiapkan mesin bor dan mata bor yang kira-kira sesuai dengan yang beliau butuhkan. Gue berusaha untuk nggak panik walaupun pada kenyataannya gue emang sudah nggak panik-panik banget. Tapi ngeliat mata bor itu, jadi inget kejadian traumatis pas SMP. Kejadian yang membuat gue nggak mau lagi ke dokter gigi. Untungnya dokter Chandra nggak kayak yang di film-film. Nggak nge-test bornya di depan mata gue. Jadi gue santai aja sambil mengkhayal jejogetan sama Suzy.

Proses bor pertama...

"Coba saya pasang dulu ya ini pasaknya..."

Pasak pertama (yang dari awal udah bikin shock itu, yang tadi dicontohin ditempelin ke foto rontgen) dicoba masukin ke lubang gigi gue. Di ketok beberapa kali macem masukin paku.

"Hmmm... masih kebesaran ya? Mungkin harus ganti yang lebih kecil? Coba sebentar saya cari dulu..."

Proses bor kedua... Lubang coba diperbesar untuk pasak yang lebih kecil...

Pasak kedua dipasang...

"Hmmm... Kayaknya masih nggak cocok ya? Soalnya ini kok goyang-goyang oglek begini... Takutnya ntar malah kenapa-kenapa lagi di akhir... Coba kita cari yang cocok..."

Pasak ketiga dipasang...

"Lah yang ini pas sih... Cuma kok kayaknya goyang gini sih ya? Oooh... Saya ngerti... ini kayaknya karena giginya karena sudah lama berlubang jadi posisinya udah miring, jadi pasaknya nggak bisa tegak gitu... Susah-susah gampang sih ngakalinnya... Coba ditambal pake semen kali ya biar nggak miring lagi... Sebentar-sebentar..."

Setelah di preteli beberapa kali, di pasang cabut pasang cabut dan akhirnya sudah terpasang sempurna, akhirnya bagian gigi yang berlubang dan sudah di pasak itu ditambal sisi-sisinya. Beberapa kali gue disuruh gigit-gigit dan merasakan apakah ada yang mengganjal. Kalau mengganjal maka akan di bor lagi supaya tambalannya rata dan tidak mengganjal lagi. Kalau dipikir-pikir ini adalah rekor pengeboran gigi paling banyak yang pernah dilakukan dokter gigi ke gigi gue dalam satu kali perawatan. Bangga juga mengingat dulu gue trauma banget sama bor gigi. Cuma ya tetep kasian... sama dokternya... waktu ngebor gigi gue itu kan keluar air-air tuh, nah gue perhatiin tadi, ada satu kesempatan dimana kayaknya dokter Chandra kecipratan air bor itu dan masuk kematanya... Subhanallah... Pahala besar banget pak dokter ini...

FYI, yang unik dari pak dokter yang satu ini adalah bahwa beliau suka mengutarakan kesulitan yang terjadi ketika sedang melakukan perawatan ke gigi gue (kayak yang gue tulis di atas itu loh). Walaupun rasanya sakit di dada ketika suatu kali ada hal yang sensitif seperti misalnya air liur yang mengalir deras atau misalnya gigi yang miring itu di komentarin, tapi tetep aja, kesannya lucu gitu... Beberapa kali malah (di postingan part yang kemaren-kemaren) pak dokter dan mbak suster malah ngegosip tentang pengalaman pribadi mereka. Kayak hari ini, dokter Chandra curhat tentang hujan dan berteduh di primagama Depok dan terpaksa harus mengikuti kelas seseorang bernama mbak Ayu dengan alasan berteduh...

Salah emang mereka ngobrol depan gue. Kalau mereka tau gue cablak banjir becek kayak gini mungkin perawatan berikutnya mereka akan melakukan aksi diam atau mungkin jahit mulut.

Kalau diitung-itung, pertemuan hari ini lebih dari 30 menit. Setiap lima menit sekali gue ngelirik jam dan mentotal lamanya gue membuka mulut adalah sekitar empat puluh lima sampai lima puluh menit. Kebayang nggak tuh gimana pegelnya rahang? Tapi sebenarnya kalo cuma buka mulut aja nggak masalah. Yang paling bermasalah itu adalah air liur gue yang nggak tertahan dan membendung bagaikan aliran sungai nil itu. HARI INI BENER-BENER NGALIR !!! Sumpah yah itu kalo misalnya gue yang jadi dokter sama susternya kayaknya bakalan langsung muntah deh... Mana tadi sempat ada adegan pak dokternya ngelap-in iler gue yang netes ke dagu pake tangan kanannya... =____="

Proses perawatan hari ini berharga banget karena sudah detik-detik menuju pemasangan mahkota gigi palsu... Mungkin buat kalian yang juga sedang mengalami hal yang sama, gue kasi gambaran biayanya ya... Kalau misalnya di PKM UI, semua perawatan seperti tambal gigi, atau cabut gigi itu gratis. Begitu juga dengan perawatan akar yang gue lakukan selama ini itu gratis. Bagian yang bayarnya adalah pemasangan pasaknya ini... FYI aja harga pasaknya adalah Rp 200.000,-. Nggak sampe situ aja, selain pasak, harus dipasangin mahkota gigi palsu dan pembuatan mahkota dari porselen ini termasuk pemasangan dan lain-lain adalah Rp 800.000,-. Gue nggak tahu apakah itu termasuk harga yang normal dan wajar atau tidak karena gue belom cek di tempat lain... Semoga aja sih ini memang normal yah :) Mengingat dokter Chandra selama ini sudah sangat sangat sangat ramah dan baik banget.

"Pembayaran sudah bisa mulai kamu lakukan minggu depan. Mau kasih DP dulu boleh. Mau lunas langsung boleh. Fleksibel aja. Kalau kamu mau cicil juga nggak apa-apa. Fleksibel ajalah pokoknya... Nah minggu depan, atau pertemuan berikutnya, kamu dateng lagi, kita udah bisa pasang mahkotanya... Bisa datang lagi kan minggu depan? Hari Rabu?"

"UTS sih dok... bentar saya liat jadwal saya dulu..." begaya gitu gue buka jadwal di BB. "Oh saya free dok kalau pagi.. jadi kita bisa ketemu deh paginya soalnya saya UTS-nya siang..."

"Yaudah kalau gitu, kita ketemu minggu depan yah! Jangan lupa uangnya..."

"Iya dok iya.. makasi ya dok... salam sama keluarga di rumah..."

Kalimat terakhir itu ngarang. Serius. Dua kalimat terakhir tepatnya...

Jadi? Apa yang ditunggu untuk minggu depan? Hahaha Yang jelas gigi palsu gue. DAN DEBUT EXO!!!! :D

***
Buat yang sakit gigi dan pengen ke Dokter Gigi Chandra di Pusat Kesehatan Mahasiswa Universitas Indonesia Depok (PKM UI DEPOK), ini gue kasi Jadwal Praktek Dokter Chandra:

SENIN/SELASA Jam 10.00 pagi sampai jam 16.00 sore.
RABU Jam 8.00 pagi sampai jam 14.00 siang.
KAMIS Jam 10.00 pagi sampai jam 16.00 sore.
JUMAT Jam 8.00 pagi sampai jam 14.00 siang.

Semoga lekas sembuh!

@ronzzykevin

Episode lalu

| drg. Chandra PART 1 | drg. Chandra PART 2 | drg. Chandra PART 3 | drg. Chandra PART 4 |

Share:

3 komentar