Tears Run Dry (Or Not?)

"Kapan terakhir kali lo nangis?"

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di jam yang tidak tepat pagi dini hari ini. Di saat insomnia parah menyerang entah karena memang benar-benar insomnia atau karena kebanyakan minum kopi  (yang membawa gue pada kesimpulan bahwa kadar toleransi kopi gue sekarang benar-benar sensitif. Sedikit saja sudah bikin tidak bisa tidur).

Agak random memang mengingat pertanyaan itu gue curigai muncul dan terucap dari salah satu Alter-Ego yang tiba-tiba saja menemani gue malam ini disela-sela menonton 49 Days episode 12. Tapi serius. Pertanyaan itu sepertinya memang serius.

"Kapan terakhir kali gue menangis?"
*


Lo bisa bilang ini karena efek wanita bodoh bernama Ji-Hyun yang susah banget nyari air mata tulus. Tapi kalau dipikir-pikir, bener juga kata si Scheduller itu. Bahwa orang akan menangis dengan tulus bahkan hanya jika dia teringat akan sesuatu yang dicintainya. Hanya ingat saja sudah membuat menangis, bagaimana dengan memikirkannya sepanjang hari selama beberapa bulan terakhir? Haha... Cukup membuat stress.

Buat sebagian orang mungkin menangis adalah cara terbaik untuk melepaskan emosi. Buat sebagian yang lain mungkin justru ini adalah cara yang sama sekali dihindari. Kalimat pertama mungkin memang buat para wanita dan kalimat kedua bisa jadi buat laki-laki. Terlalu banyak orang beranggapan bahwa laki-laki itu pantang menangis. Bahkan dengan sebuah lagu dari anak-anak Ahmad Dhani, para anak-anak yang mendengarkannya diajarkan untuk tidak realistis. Terlebih lagi di lirik, "Kata Ayah slalu, air mata itu adalah tanda kelemahan..." Ah, basi. Menurut gue justru orang yang nggak bisa nangis lebih lemah daripada orang yang mengeluarkan emosinya dengan menangis. Menurut gue anak-anak yang mendengarkan lagu ini justru diajarkan untuk tidak realistis. Menanamkan pola pikir bahwa laki-laki tidak boleh menangis yang pada akhirnya ketika mereka dewasa mereka akan menganggap semua laki-laki yang menangis itu lemah sehingga sangat mudah bagi mereka mengatai laki-laki lain (entah mungkin teman atau siapapun itu) yang menangis sebagai orang yang lemah, tidak jantan, bahkan mungkin banci. Sakit.  Lantas menurut lo (wahai para  anak yang mendengarkan kata ayah bahwa air mata adalah tanda kelemahan) Tuhan menciptakan air mata hanya agar seorang laki-laki bisa dikatai banci? Bego...

Tapi ya, untuk sebagian orang (terutama laki-laki) menangis bukanlah sebuah cara yang bisa diumbar ketika mereka ingin melepaskan emosi mereka. Artinya... bahwa laki-laki juga menangis, tetapi tidak terlalu mengekspos air matanya. Gampangnya, kalau misalnya di film, laki-laki akan menangis sambil memunggungi objek yang baru saja dilihatnya. Atau kayak misalnya si Rancho di 3 Idiots bakalan sembunyi di belakang tembok lalu mengeluarkan air mata. Beda konteks dengan cowok-cowok di drama Korea yang mungkin bisa menangis di depan umum. Yah berbagai macam cara lah. Kesimpulannya tetap bahwa mau wanita atau pria mereka bisa menangis untuk menyalurkan emosi mereka.

Lah? Trus pertanyaan, "Kapan terakhir kali gue menangis?" ini kapan terjawabnya?

Let me think...

Jujur aja gue adalah orang yang cengeng dan benar-benar mudah menangis. Kalau diibaratkan lagi syuting, gue bakalan bisa mengeluarkan air mata hanya dengan sekali menguap. Hahahaha... Bego. Nggak kali ini serius. Kalau dibilang cengeng, yes I am a cry-baby. Sangat gampang menangis. Nonton drama nangis, nonton sinetron nangis, nonton telenovela nangis (apalagi pas nonton Betty La Fea ini seriusan nangis nggak berenti-berenti. Pas tamat apalagi, bener-bener nggak rela). Selain nonton yang sering bikin nangis adalah dengerin lagu galau.

Lah? Masih nggak menjawab... Jadi kapan terakhir kali gue nangis?

Kenapa susah banget ingetnya ya? Apakah karena sudah terlalu lama? Ataukah karena sudah tidak ingin mengingat lagi kenangan buruk yang membuat menangis itu karena takut akan menangis lagi? Nggak kok... Tiba-tiba saja sekarang gue ingat. Terakhir kali gue nangis itu adalah sekitar empat atau lima bulan yang lalu. Yang jelas semester 5 ini. Bukan karena gue tidak sanggup menjalaninya waktu itu, bukan, tapi karena waktu itu bokap gue menelpon untuk pertama kalinya sejak hampir dua tahun menghilang. Gue nggak ngerti kenapa gue harus menangis waktu itu. Apa karena kangen? Bisa jadi. Apa karena kesal? Bisa jadi. Apa karena ada perasaan yang begajulan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata? Bisa jadi juga.

Tapi itu terakhir... benar-benar terakhir. Setelah itu, rasanya sulit untuk mengeluarkan air mata hanya untuk hal-hal kecil. Sulit merasa terharu hanya karena drama atau sinetron atau film atau lagu galau. Sulit untuk bisa menangis karena hal-hal yang mungkin saja dianggap otak gue tidak begitu penting. 

Atau ternyata bukan cuma hal-hal kecil aja tapi hal-hal besar juga?

Gue takut sensitivitas gue terhadap hal-hal yang patut ditangisi sudah hilang karena hal itu. Ah masa sih? Emang bisa?

Secara tidak langsung, semua itu terjawab.

Bahkan terakhir, nggak lebih dari sembilan hari yang lalu, nenek gue, ibu dari ayah gue, meninggal dalam usia yang cukup tua, lebih dari 100 tahun, meninggal dunia.

Dan air mata ini tidak keluar sama sekali...

Mungkin rasanya jahat. Kenapa harus menangis untuk hal-hal kecil seperti telenovela tetapi ketika cerita telenovela itu terjadi di kehidupan nyata air mata justru tidak bisa keluar dan seakan kering?

Pertanyaan besar...

Bahkan saat ini, gue mulai takut, kalau-kalau, ketika sesuatu yang besar, yang pantas untuk ditangisi selama empat puluh hari penuh, terjadi, dan air mata ini sudah tidak bisa lagi membasahi pelupuk mata dan pipi karena sudah kering kerontang dan habis sama sekali.

Mustahil sebenarnya. Air mata nggak bisa kering. Itu hanya perumpamaan untuk sebuah kekuatan yang amat besar.

Tapi kalau itu benar-benar bisa, gue nggak mau itu terjadi. 

Gue masih pengen bisa nangis. Terserah orang mau bilang apa. Terserah mau ada lagu mengejek dari anak-anak mohawk. Saat ini sudah bukan saatnya untuk peduli (dengan perkataan orang).
(Gue membaca ulang tulisan ini dan mikir, "WHAT KIND OF S--- IS THIS?!" Hahaha... So random. Tapi ternyata benar. Terlalu sering menangis membuat lo akan sangat kebal terhadap berita seburuk apapun dan kejadian seburuk apapun).

Akhir kata, satu lagu dari Brian Joo, Tears Run Dry, mungkin bisa menginspirasi... (gue nggak pernah benar-benar dengerin sih lagu ini, tapi tadi pas mau bikin postingan ini dengan judul yang ini, inget judul lagunya Brian Joo. Jadi kayaknya nggak afdol aja gitu make judulnya nggak ngasi liriknya sekalian...)

 TEARS RUN DRY
Song by: Brian Joo

Caught in a moment that won't let go
Trying to find my way out
When movin' on is a dead end road
Might as well turn back around

And I'm in the dark
I'm completely numb
Like a shadow that's turned to stone
Trying to figure out
How did two become one
Then end up so alone

I'm broken, wide open
You've shattered all we had
And I'm through with hoping
Somehow I'm gonna put the pieces back
I've cried me an ocean
Now there's nothing left inside
I'm done here not knowing
Where do you go when the tears run dry ?

I close my eyes and I breathe you in
It's always and never the same
How do we end up strangers again
When I'm still dreaming your name

And I'm calling out
Are you hearing me ?
I don't know where I belong
Now it's so unclear
Why do I wish you here
When I'm already gone

I'm broken, wide open
You've shattered all we had
And I'm through with hoping
Somehow I'm gonna put the pieces back
I've cried me an ocean
Now there's nothing left inside
I'm done here not knowing
Where do you go when the tears run dry ?

Maybe I should runaway
Maybe I should disappear
Maybe I should find a place
Where no one knows I'm there
Anywhere but here

I'm broken, wide open
You've shattered all we had (all we had)
And I'm through with hoping
Somehow I'm gonna put the pieces back
I've cried me an ocean
Now there's nothing left inside
I'm done here not knowing
Where do you go when the tears run dry ? 


@ronzzykevin

one click! Tumblr | Facebook Fanpage | Kompasiana

Share:

2 komentar