How Are You Mr. Shane Filan?

*
Waktu tahu Shane Filan mau ke Jakarta, gue cukup excited walaupun nggak pernah berharap bisa ketemu langsung. Shane Filan bisa dibilang adalah salah satu idola masa kecil yang nggak pernah bisa tergantikan. Beruntung gue punya kakak cewek yang dulu freak banget sama Westlife dan gue akhirnya dikenalin sama para member boyband yang bisa dibilang legend itu.

Ngomong-ngomong soal Westlife, grup ini sudah dipastikan adalah boyband luar negeri pertama yang gue idolakan. Bahkan sampai sekarang. Nggak cuma sekedar itu, Westlife adalah salah satu alasan kenapa dulu waktu SD gue pengen bisa lancar ngomong Bahasa Inggris. "Biar kalau ketemu Westlife nanti bisa ngobrol banyak sama mereka," begitu pikir gue. Ditambah lagi waktu itu gue lagi seneng-senengnya sama Sherina (siapa sih yang nggak), dan mereka ada lagu duet (yang padahal cuma nempel suara Sherina doang), gue makin demen lah sama grup ini.

Lagu-lagu Westlife jaman dulu gue hapal semua. Kalau nggak salah itu waktu gue kelas tiga atau empat SD lah awalnya gue kenal sama grup ini dan gue hapal lagu-lagunya. Hapal, tapi sama sekali nggak pernah ngerti maksud tersirat dari lirik lagu itu. Makanya beberapa lagu yang gue dengerin beberapa bulan terakhir bisa jadi sangat menusuk hati karena gue baru sadar dan baru ngerti maksud dari liriknya.

Setelah mutusin buat bubar tahun 2012 lalu, Shane Filan akhirnya mengambil jalur solo (sayang sekali gue nggak berkesempatan nonton konser terakhir Westlife di Jakarta). Baguslah. Karena dia adalah main vocal dan lead vocal di Westlife, sayang banget kalau misalnya di hari tua-nya, doski nggak melanjutkan karier sebagai solois. Sebenarnya sih kalau di Westlife, bias gue itu Nicky. Tapi berhubung suaranya nggak bagus-bagus amat, jadi nggak solo karier juga nggak apa-apa.

Beruntung, si Shane Filan ini cinta banget sama Indonesia. Makanya, waktu tahu dia mau dateng ke Jakarta buat promosi album terbarunya gue semangat. Paling nggak, sekarang gue bisa ngejer dia. Bisa nonton lah paling nggak. Tapi ternyata, keberuntungan itu dikasi lebih. Gue jadi rakus kan.

Alhamdulillah, Allahu Akbar banget, tiba-tiba aja gue ditawarin sebuah pekerjaan yang sangat khusus. Walaupun sebenarnya gue spesialis KPop, tapi berhubung padatnya jadwal di akhir September/awal Oktober lalu membuat gue mendapatkan kesempatan emas ini.

"Ada yang mau liputan Shane Filan gak?" 

Kuping gue langsung berdenging. Kepala gue langsung panas. Jidat gue geter-geter.

"GUE MAS GUE MAU MAS!" 

Nggak pake mikir dua kali.

"Bener lo ya, oke, nanti gue email detailnya,"

Dan hari itu gue bener-bener seneng banget padahal belum tahu bakalan kayak gimana liputannya. Ahahaha.....

Gue termasuk orang yang sangat suka mencoba hal baru. Dalam hal ini sebenarnya gue lebih ingin mengasah kemampuan gue dan menambah pengalaman. Sekaligus mungkin fanboying. Sebelumnya gue nggak pernah liputan artis luar negeri karena gue juga baru bekerja di bidang ini dan sekali lagi spesialisasi gue adalah KPop, jadi gue lebih sering liputannya ya KPop.

Tapi dikasi kesempatan buat ngeliput Shane Filan, kenapa gue harus mikir dua kali?
*
*
Singkat kata, gue akan jalan buat liputan Shane Filan 2 Oktober 2013. Jadi hari itu liputannya akan ada dua bagian. Press conference perilisan album siangnya (plus round table interview) dan showcase malamnya.

Gue sebelumnya pernah berkesempatan liputan di press conference konser Infinite jadi untuk press conference gue rasa gue akan bisa melakukannya dengan baik. Tapi round table interview? Gue sama sekali masih nggak ngerti itu apa.

"Jadi nanti setiap media bakalan dikasi waktu buat ngobrol sama dia dan nanya-nanya sama dia. Ya lo tanya-tanya aja yang banyak biar dapet materi yang banyak juga," senior gue memberikan pengarahan. Gue cuma bisa manggut-manggut dan berharap nggak pingsan aja. Berharap bisa menahan keinginan untuk berteriak. Ber-kya kya di hadapan banyak orang. Seperti halnya kayak lagi nonton grup cover dance favorit gue.

Pengalaman pertama biasanya bikin orang jadi sangat sangat sangat sangat hectic dan lebay. Ya gue juga. Pertama kali dikasi kesempatan buat wawancara artis luar bikin gue jadi kayak semacem dikasi pil koplo. Hahahaha Plis gue juga nggak pernah tahu rasanya pil koplo. Tapi beberapa hari jelang wawancara itu gue jadi heboh sendiri. Suka mikir yang belom kejadian. Gimana kalau begini. Gimana kalau begitu. Gimana nanti di sana. Gimana kalo---ah nggak ada abisnya. Selain itu, gue juga harus mikirin, pertanyaan apa yang harus gue ajukan ke Shane?

Akhirnya gue bikin postingan di Path dan minta saran dari beberapa temen yang ada di Path. Dari situ gue dapat ide untuk mengembangkan pertanyaan gue buat Shane. Gue bisa bikin sampai 17 pertanyaan dan rasanya bangga banget kalo bisa nanya semuanya ke dia.

Pertanyaan-pertanyaan yang gue bikin sih sebenarnya simpel dan semuanya berhubungan sama karier solo-nya sekarang, rencana ke depan, album baru, konser, dan reuni bareng Westlife. Yang terakhir adalah yang paling pertama dipikirkan oleh semua orang jadi gue rasa itu adalah pertanyaan paling pokok.

Lokasi press conference dan wawancara hari itu di Hard Rock Cafe, Pacific Place. Gue kalo dateng ke Pacific Place suka inget kenangan buruk 3 Juni 2013. Saat itu salah satu member grup KPop yang sayang sekali adalah salah satu bias gue baru aja selesai konser 1-2 Juni di Jakarta dan ngetweet alamat lengkap mall itu yang membuat hari kerja pertama gue kacau.

Gue jadi parno masuk Pacific Place kalau mengingat kerumunan para peri-peri cantik yang mendorong tubuh gue ke kiri dan ke kanan cuma buat ngeliat mas-mas baju ijo bercelana pendek yang cuma nampak nggak lebih dari 60 detik. Gue jadi inget bagaimana terombang-ambing di antara lautan wanita sampai-sampai sabuk gue copot dan kancing baju gue lepas. Bingung kan? Sama gue juga nggak ngerti kenapa bisa begitu.

Tapi beruntung Hard Rock Cafe lokasinya nggak di dalem Pacific Place tapi di luar. Syukurlah.... Gue langsung ngambil spot duduk yang paling strategis-lah pokoknya hari itu. Karena kondisinya gue sedang bekerja, gue nggak mungkin bisa heboh fanboying kan. Yang penting bisa dapet foto aja itu udah paling bahagia banget.
*
*
Gue duduk di barisan kursi kedua. Biasa. Kalau acara-acara kayak press conference gitu gue emang lebih suka duduk di agak-agak belakang. Karena kamera gue (yang sekarang sudah bukan lagi kamera gue) lensa zoom-nya lumayan panjang, jadi gue masih bisa tetep bisa dapet gambar yang bagus.

Shane Filan muncul dengan kaos hitam dan kemeja batik siang itu. Auranya langsung beda. Walaupun dia udah bisa dibilang nggak muda lagi, tapi kharismanya masih ada. Walaupun dulu mukanya mulus tanpa brewok dan sekarang brewokan, dia tetep keren. Dia tetep mas-mas yang nyanyi "Baby I know the story I've seen the picture its written all over your face," itu.

Kenangan-kenangan manis bersama Westlife langsung muncul di kepala. Gilak. Gue dulu nyanyiin lagu mereka pas gue baru-baru bisa Bahasa Inggris. Jadi inget, di depan rumah gue dulu ada pohon mangga dan gue setiap pulang sekolah suka nongkrong di atas pohon mangga itu berasa kuntilanak siang bolong. Terus dari situ gue suka nyanyi-nyanyi lagu Westlife. Waktu itu lagi suka-sukanya sama lagu 'Soledad' dan itu terus yang dinyanyiin.

Jadi inget juga setiap jam-jam gue nongkrong di atas pohon, suka ada jual bakso mangkal depan rumah gue. Setiap kali dia denger gue nyanyi, dia selalu request. Mungkin dia pikir gue radio Prambors kali. Tapi toh gue mau aja nerima request nyanyi dari si abang-abang bakso.

Tentu saja, ketika gue masih SD gue nggak pernah ngebayangin sebelumnya kalau gue bakalan ngeliat salah satu membernya di depan mata gue nggak lebih dari dua meter. Satu member aja udah lemes gimana kalau semua member yak.

"Halo semuanya," Shane menyapa para hadirin yang sudah siap dengan kamera mereka hari itu. "Senang bisa kembali ke Indonesia," katanya lagi.

Speed ngomongnya Shane cepeeeeeeeet banget. Untung logatnya nggak terlalu British gitu. Jadi gue masih bisa nangkep dia ngomong apa. Denger dia ngomong berasa denger Daniel Radcliffe. Dan anehnya hari itu dari beberapa angle, dia emang mirip sama mas Daniel.

"Wah hari ini pake batik ya?" tanya MC-nya. "Gue jadi malu. Gue yang Indonesia aja nggak pake batik lo malah pake batik," tambahnya.

"Iya gue denger hari ini hari batik Nasional ya? Yaudah gue tadi buru-buru beli aja di Mall sebelah," dia ketawa. 

Dia kalo ketawa lucu. Matanya hilang.
*
Hari itu doski ngasi-ngasi sedikit cerita soal album barunya. Soal rencana tur-nya. Soal perjalanannya ke negara lain sebelum akhirnya ke Indonesia. Soal kedatangannya ke Indonesia kali ini mau ngapain aja. Selain showcase malemnya, doski bakalan tampil di Java Soulnation Festival 2013 di hari Jumat. Ya kurang lebih kayak gitu.

Hari itu ternyata nggak cuma wartawan doang nih yang dateng tapi fans juga ternyata banyak yang nyamperin dia ke lokasi press conference. Beruntung ini Shane Filan. Bukan artis KPop sebut saja misalnya EXO gitu ya. Beruntung juga Shane Filan orangnya baik hati banget dan sayang banget sama Indonesia. Beruntung dia cuma sendiri (sebagai artis). Beruntung dia cuma berdua sama manajernya. Beruntung dia punya banyak kenangan indah bersama para fans di Jakarta.

Waktu dia mau tampil ngebawain lagu promosi buat album solonya, dia dengan tulus hati bilang ke panitia, "Itu fans gue yang lagi ada di luar bisa tolong disuruh masuk aja? Biar mereka bisa liat gue nyanyi. Coba tolong suruh masuk,"

Gue yang hari itu sibuk jeprat-jepret langsung cengok. Gila aja. Besok-besok kalo dia ke Jakarta lagi sudah bisa dipastikan kalau misalnya gue nggak sedang bertugas gue akan datang dan ngeliatin dari luar pasang tampang gembel mengemis memohon masuk menatap langsung mata Shane kayak Shinchan lagi memohon-mohon sama Misae. Ini orang baik banget.

Kalo misalnya gue lagi nggak kerja, wih gue langsung ambil posisi terdepan dan berteriak paling kenceng. Tapi, mode alay dan kampungannya lagi mati. Lagi mode profesional hari itu. Padahal dalam hati sudah bergejolak. Tapi apa daya harus jaga image. Walaupun sebenarnya nggak ada image lagi yang bisa dijaga.

Adalah sekitar sepuluh sampai lima belas fans langsung masuk ke dalam cafe hari itu. Langsung duduk rapih di depan panggung sementara gue terduduk iri. Mereka bisa di depan banget.... pikir gue. Yah sekali lagi sedang tidak dalam mode alay.

Waktu Shane nyanyi lagu 'Everything To Me', fanservice-nya udah yang paling mantap lah. Semua fans yang ada di kasi high-five. Berasa akrab banget pokoknya. Udah dikasi masuk pas acara preskon, dikasi high-five pula. Kurang bijaksana apa lagi ayah tiga anak ini.

Mau nggak mau gue ngebayangin kalau seandainya itu adalah EXO.....

"Coba itu fans-fans kita yang diluar disuruh masuk aja biar bisa liat kita nyanyi,"

Panitia langsung mikir sejuta kali mau masukin itu para fans di luar kafe. Pilihannya ada 2, menjaga perasaan artisnya yang pengen deket sama fans, atau menjaga keselamatan dan kemaslahatan umat yang ada di dalam cafe termasuk keberlangsungan bisnis pemilik kafe.

Kafe kapasitasnya 100 orang, fans yang mau masuk 1000 orang. Yang ada dehidrasi mendadak. Belom lagi yang naik-naik kursi buat dapetin foto. Belom lagi yang cakar sana cakar sini. Bisa-bisa kalo EXO ngasi high-five, nggak di bales high-five, tapi tangannya di copot buat souvenir.

Untung bukan EXO. (Untung) SM manajemennya strict banget. (Untung) SM tukang jual mahal. Di Korea aja mereka nggak selamat dari sasaeng, apalagi di Indonesia (dan gratisan). Gue jadi inget muka bete Leo 'VIXX' waktu di Lotte Shopping Avenue. Nggak pengen deh ngeliat Suho atau siapapun masang tampang kayak gitu. Apalagi di depan fans Indonesia.

Dan ya.... setelah penampilan satu lagu itu, fans dipersilahkan keluar lagi. Dan karena emang jumlahnya nggak terlalu banyak, ya nggak terlalu ribet lah menggiring mereka keluar dengan tertib. Setelah nyanyi itu waktu buat interview.
*

*
Deg-degan banget. Berasa kayak pas lagi wawancara kerja pertama kali di tempat gue kerja sekarang. Rasanya kayak telapak kaki gue lagi nginjek batu-batu es. Terus mendadak di dalam otak gue kayak lagi ada yang pasang piringan hitam lagu-lagu dangdut koplo gitu. Gue jadi takut sendiri.

Jujur aja nih gue sebenarnya orang yang sangat pemalu. Serius deh. Kalo dalam kondisi yang seperti ini ya maksud gue bukan kondisi yang kita lagi bersenang-senang. Terlebih lagi itu kan pengalaman pertama dan di antara para senior yang mungkin sebelumnya sudah pernah wawancara bareng Oprah Winfrey (seumpama). Sementara gue, wawancara terakhir yang gue lakukan adalah nanya-nanya random ke Arthur 'S4': "Kapan comeback?" dan dia bales dengan "Iya jadi ini lagi syuting Mission X, acara yang kayak Running Man gitu."

Bingung kan? Yang salah gue apa Arthur sebenarnya?

Gue duduk di sebelah kanan Shane Filan. Cuma ada waktu 15 menit buat wawancara dan itupun harus dibagi-bagi dengan teman-teman yang lain (oh jadi begini toh yang disebut dengan round table interview hahahahahaha sumpah alay banget gue rasanya). Waktu masuk ke tempat wawancara, gue langsung ngidupin recorder di handphone dan disapa Shane.

"Hello!"

"Hi Shane. I'm your fans...." kata gue sambil gemeteran. Selalu gitu. Setiap kali pengalaman pertama gue selalu gemeteran. Jangankan Shane, minta foto sama Acha aja pas premiere Lupus gemeteran. Jangan Acha deh, sama Aby Anonymous aja gemeteran. Padahal sama yang lain akrab.

Kita jabatan tangan pas itu terus duduk semua. Abis itu mulai deh pada mengajukan pertanyaan-pertanyaan bergiliran. Pertanyaan pertama yang gue ajukan adalah yang paling umum: "Ada rencana nggak mau reuni atau kolaborasi sama Westlife lagi di proyek berikutnya?"

"Sampai saat ini sih nggak ada ya. Karena kita juga baru bubar kan. Yang lain juga lagi enjoy sama pekerjaan mereka yang sekarang. Kian jadi juri The Voice di Irlandia, Nicky lagi heboh-hebohnya jadi MC, Mark lagi seneng bikin lagu dan bentar lagi kayaknya mau rilis solo album juga. Jadi ya sampai sekarang nggak ada rencana, nggak tahu nanti-nanti. Tapi kalo kolaborasi mungkin maunya sama artis internasional atau lokal di negara yang gue kunjungi aja,"

Telan itu pil pahit telat. Westlife nggak akan reuni dulu. Iyalah. Baru juga setahun bubar. HAHAHAHAH

Dan waktu berjalan cukup cepat ya. Dari 17 pertanyaan yang gue siapkan hanya 2 yang berhasil gue ajukan. Pertanyaan kedua gue adalah, "Apa yang membedakan lagu-lagu di album ini dengan lagu-lagu Westlife sebelumnya?"

Beruntung, saking baiknya Shane, dia diajukan satu pertanyaan, jawabannya bisa panjang lebar kesana kemari tapi di akhir dia selalu kembali ke topik pembahasan dan kembali fokus. Jadi walaupun cuma dua pertanyaan dari gue dan masing-masing satu dari yang lain, informasinya udah banyak banget.

Ketika sesi foto (Shane-nya yang difoto bukan kita yang minta foto maksudnya), dia bilang, "Biar nggak rebutan, gue ngeliat ke masing-masing kamera kalian aja ya. Gue mulai dari sebelah kanan,"

Jadi di sebelah kanan Shane (kiri gue) ada satu senior dan pertama difoto sama dia, terus ke gue, lama di gue, terus ke sebelah gue dan seterusnya. Walaupun dia nggak ngeliat ke kamera gue, gue tetep foto juga sih by the way. Dan dia komen, "Lah ini gue juga lagi nggak liat ke kamera kalian, kalian tetep foto," HAHAHAHA ya gimana dong mas. Situ kan artis. Gue kan alaynya. Jadi ya gitu.

Kayak yang tadi gue bilang, gue kan orangnya pemalu. Gue tuh pengen banget minta foto dan bisa foto bareng sama Shane-nya. Tapi gue nggak berani ngomong di situasi hectic kayak gitu. Untungnyaaaaaa yang di sebelah gue minta foto duluan dan, "Shane can I take a picture with you too?"

Kalo artis sebaik Shane Filan ya, dan gue rasa artis yang baik lainnya, kalo fans udah minta, mereka pasti nggak akan nolak. Dan ya. Akhirnya. Gue. Bisa. Foto. Bareng. Juga.

Sekali lagi baju EXO eksis di acara apapun. Kali ini bukan yang item melainkan yang BWCW.
*
*
***

Malamnya showcase dimulai sekitar jam 10-an. Gue hari itu janjian sama kak Dianne sama kak Heppy. Mereka adalah member genggils. Ahaha mungkin nggak semua tahu kalau dulu waktu jaman-jaman Kak Korban belum ke Amrik, kita bertiga (sama Arrum) sering bikin gathering fans EXO di Jakarta. Dan secara rutin sebulan sekali kumpul sampai akhirnya terciptalah keluarga kecil bernama genggils.

Oke, singkat cerita kita bertiga janjian di showcase itu dan nonton penampilan Shane bersama dengan sekitar tujuh puluh sampai seratus fans malam itu. Karena cuma showcase, lagu yang ditampilkan tentu nggak banyak. Tapi karena ini Shane, nggak banyakpun akan bikin orang heboh.

Dia nyanyi empat lagu dari album solo-nya dan satu lagu lagunya Westlife. Saat itulah gue nggak bisa nahan untuk nggak teriak. Lagunya 'What About Now' dan..... Ah............. kerenlah pokoknya.
*
*









*
Shane juga bilang malam itu kalau tahun depan dia udah mulai tur konser solo. Indonesia sudah pasti jadi salah satu tujuan yang akan didatangi Shane. Dia juga bilang kalau sebagian besar followers-nya di Twitter adalah orang Indonesia. Duh... gimana nggak sayang. Hahahaha

Malam itu gue cuma dapet satu fancam 'What About Now' doang sementara kak Dianne dapet fancam empat lagu. Gue emang lagi suka foto-foto sih dan sepulang dari sana gue langsut upload-upload ke Twitter. Luckily, Shane selalu notice setiap mention yang masuk ke Twitter-nya dan salah satu foto gue sempat di upload sama dia ke Instagram. Seneng banget!
*

*
Setelah malam itu lewat, gue mikir satu hal, "Mimpi itu bener-bener bisa jadi kenyataan,". Kalau gue inget gimana gue belajar Bahasa Inggris pas SD dengan alasan supaya bisa ngobrol sama Westlife, dan walaupun nggak bener-bener Westlife, pada akhirnya gue bisa ngobrol sama Shane.

Gue jadi ngerti kenapa banyak orang selalu membesar-besarkan perkara mimpi. Bermimpi. Mimpi. Bermimpi. Kenapa 'Glee' konsep dasarnya adalah meraih mimpi. Karena pada hakikatnya (buset) nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Hehe.

Jadi inget, waktu kuliah gue pernah wawancara salah satu murid berprestasi Indonesia namanya Iman Usman, dan yang paling gue inget dari wawancara itu adalah, "Kalo lo udah nemuin pathway lo, jalan kedepan udah lebih mudah karena lo tahu lo mau kemana,"

Mungkin ini pathway gue.

Jadi wartawan?

Bukan.

Jadi alay.


Share:

11 komentar