Saya si 'Fans Jalang'

*
Untuk beberapa orang di dunia Kpop ini, bias dan fandom adalah sebuah hal yang sangat serius. Saking seriusnya, nggak jarang mereka bahkan bisa adu bacot sama temen sendiri soal ‘cara mereka memandang idolanya’.

Seserius itu sampai-sampai mungkin ada yang berantem karena “Gue nggak suka banget deh sama si X karena dia kayaknya kok centil banget deket-deket sama Y. Kayak ngarep banget buat dijodohin gitu,” sementara yang diajak ngomong kayak “Lah, menurut gue malah mereka cocok.”

Kemudian mereka nggak pernah ngomong lagi setelah itu.

Entah kapan persisnya beberapa orang di dunia Kpop ini mulai memandang serius masalah fandom. Sampai-sampai isu ini jadi sangat sensitif. Kalau dulu ada era di mana Super Junior mungkin jadi satu-satunya topik sensitif di dunia fana ini, sekarang bisa jadi semuanya sensitif. Serba gampang baper kalau terjadi perbedaan pendapat.

Gue sendiri sebenarnya cukup mengerti bagaimana rasanya jadi fans yang kayak gitu. Gimana ya nyebutnya? Overprotektif? Bisalah kita sebut kayak gitu. Soalnya, dulu gue juga kayak gitu banget.

Waktu zaman-zaman gue lagi gandrung banget sama Harry Potter, gue sama temen sekelas gue pas SMA—dia fans Kurt Cobain—pernah yang sampe berantem parah cuma karena dia ngatain Harry Potter itu kayak semacem cerita nggak penting.

"Ih apaan sih Harry Potter puter-puter tongkat terus jadi. Kayak mustahil banget!"

YAELAH NYET NAMANYA JUGA KISAH FANTASI. YA GIMANA SIH.

Pengen gue bales dengan, "Daripada idola lo, bunuh diri kayak nggak mendidik sama sekali buat siapapun yang ada di dunia ini,"

Tapi nggak berani. Takut gue dijorokin ke rawa-rawa.

Karena masalah ini, kita sampe nggak ngomong sama sekali selama beberapa bulan. Sampai kita berdua sadar bahwa betapa bodohnya kita mengorbankan apa yang disebut hubungan silaturahmi cuma karena tersinggung soal hal yang bahkan nggak bikin kita jadi ranking 1 saat itu. Nggak bikin kita lulus UN dan masuk universitas ternama.

Ketika gue mulai suka Kpop, gue sering mendapat kayak semacem komentar “apa sih Kpop” dari orang-orang di sekitar gue. Mati-matian saat itu gue membela idola-idola gue ini (baca: Super Junior). Bahkan ada di barisan terdepan waktu SM*SH dibilang plagiat Super Junior (padahal bagian mananya deh yang di plagiat kayak nggak ada mirip-miripnya sama sekali).

Kalau diingat-ingat sekarang sih malu. Karena pada kenyataannya ngebelain Super Junior saat itu nggak bikin gue kaya raya juga. Nggak menjamin gue dapat kerjaan juga. Nggak bikin IP gue jadi tinggi juga.

Saking seriusnya masalah fandom ini sampai-sampai ada juga orang yang mempermasalahkan si A karena dia menganut aliran multi-fandom (darah-lumpur). Sementara dia, sebut saja B, adalah darah-murni, orang suci yang hanya mengidolakan satu grup saja. Atau mungkin satu member dalam satu grup saja.

Ketika beberapa waktu lalu gue bacot soal Tao keluar dari EXO di Twitter, ada banyak sekali komentar pedes dari para fans Tao ke gue. Sebenernya nggak pedes sih karena mereka nggak nyebut “Cabe!” atau “Sambel ijo!” atau “CABE BARBADOS!” dan semacemnya. Mungkin lebih ke arah yang seksual.

Salah satu mereka menulis:

“Ya, bencong! Lo enak multi-fandom. Lo nggak akan ngerti bagaimana rasanya punya satu idola doang!” (mungkin emang nggak persis kayak gini, tapi silakan kalo mau kepo search aja username gue. Kayaknya Top Search-nya bakalan itu deh isinya wakakakaka tapi ngapain juga gitu lo kepo kayak gue ini anak Jokowi)

Saat itu gue merasa.... Wow. Orang ini kayaknya sudah hidup 100 tahun di dunia dan dia yang paling mengerti segala sesuatu soal ngefans dan seluk-beluk fandom. Mention ini sampai di kepala gue dengan penafsiran yang beragam.

1) Kalau Tao keluar dari EXO berarti mereka udah nggak punya bias lagi di dunia Kpop ini karena mereka cuma ngefans Tao seorang

2) Berarti selama ini mereka cuma ngefans Tao doang, nggak ngefans EXO

Ada benernya mungkin gue emang nggak tahu bagaimana rasanya punya satu idola doang. Mungkin juga itu yang bikin gue nggak relate sama permasalahan mereka yang darah-murni ini.

Tapi... kalau gue boleh berpendapat—BOLEH DONG YA GUE BERPENDAPAT—ketika lo dihadapkan dengan dua pilihan yaitu (1) Bahagia dan (2) Sakit Hati, ya kenapa lo harus milih sakit hati? Apalagi sakit hati untuk urusan yang bahkan nggak ada sangkut pautnya sama kehidupan lo di masa depan.

Biar gue utarakan maksudnya.

Pilihan (1) Bahagia; multi-fandom. Atau janganlah menyebutnya multi-fandom (karena fandom berarti sudah sangat serius dan mencakup ranah kepercayaan dan keyakinan lo sebagai fans fanatik sejati nggak ada obat nggak ada yang bisa ngalahin). Mungkin orang yang punya banyak bias kayak gue ini lebih tepat disebut ‘Fans Jalang’.

Kenapa kemudian ‘Fans Jalang’ masuk ke dalam kategori Bahagia? Karena biasanya, orang-orang yang memilih suka kepada banyak idola nggak akan terlalu baper kalau salah satu idola mereka dilanda masalah kayak skandal dan semacamnya. Apalagi lawsuit. Mungkin ada waktunya baper. Down. Dan semacamnya. Tapi abis itu, yaudah. Kan masih ada bahan spazzing yang lain.

Kasarnya kayak, “Kalau Kris keluar dari EXO, yaudah gue masih punya Luhan.”

Dan ketika Luhan juga keluar EXO, “Oh yaudah, kan masih ada Tao,”

Dan ketika Tao juga dikabarkan keluar EXO, “BANGSAT! GRUP KUDA MELATA INI KENAPA LAGI SIH?!?!! Yaudah deh gue ngefans sama Lee Soo Man aja,”

'Fans Jalang' akan selalu punya cadangan. Selalu punya ban serep. Ban serep dan cadangan yang akan selalu bisa di-spazzing-in. Memang kesannya tidak setia sama sekali. Lah namanya juga ‘Fans Jalang’. Bisa suka sama siapa aja. Pindah-pindah ke mana aja. Bebas. Nggak ada yang baper. Semua bahagia. Karena nggak ada yang diseriusin.

Namanya juga dunia hiburan. Ya tujuannya untuk hiburan. Kalau pada akhirnya dunia hiburan yang cuma lo pantau dari depan layar laptop ini jauh lebih serius daripada kehidupan lo di dunia nyata, itu berarti ada dua kemungkinan: lo adalah Lee Soo Man (yang mana sehari-hari lo sibuk mikirin bagaimana caranya supaya boyband sama girlband gue jadi nomor satu di dunia), atau lo belom siuman dari pingsan karena nonton oppa lagi pamer perutnya yang kotak-kotak di fancam konser.

Sementara Pilihan (2) Sakit Hati ini berarti kesetiaan. Orang-orang yang ada di kategori ini berarti orang-orang darah-murni yang kuat sekali mental dan batinnya. Mereka hanya mengidolakan satu grup (atau member dalam grup) saja dan menahan godaan setan untuk tidak melihat atau sekedar melirik grup lain. Saking setianya, kalau ada masalah yang terjadi sama idola mereka, berarti mereka juga akan ikut tenggelam dalam masalah itu. Terlibat dalam semua problematikanya dan semuanya.

Dari jauh.

Dari balik keyboard.

Dari belakang layar ponsel.

Kenapa lalu mereka yang darah-murni ini rentan sakit hati? Mungkin karena sudah ada kedekatan emosional antara dia dan idolanya. Karena sudah diseriusin banget. Karena sudah merasa memiliki banget. Sedekat itu sampai-sampai siapapun yang menghina idola mereka, maka mereka juga akan tersinggung sampai yang ke relung hati yang terdalam.

"Menghina idola gue berarti menghina gue. Orang yang ngemusuhin idola gue berarti musuh gue!"

Udah kayak geng Cinta di AADC.

Ya tapi bukan berarti mereka yang multi-fandom juga nggak punya kedekatan emosional dengan idola mereka. Bahkan beberapa multi-fandom yang gue kenal bahkan sampai yang rela menghabiskan banyak uang untuk idola mereka yang banyak itu. Dan mereka nggak baper-baper banget atau mudah tersinggung dan semacamnya.

Mungkin ada, multi-fandom yang kadang-kadang ngerasa tersentil. Tapi yaudah, dalam kadar yang pas-pasan. Tidak meledak-ledak. Dan semacamnya. Karena selama ini gue menemukan orang-orang multi-fandom itu ya santai aja. Kalo kalian mungkin punya pengalaman yang beda.

Tapi kalau kembali ke tweet salah satu fans Tao ke gue waktu itu:

“Ya, bencong! Lo enak multi-fandom. Lo nggak akan ngerti bagaimana rasanya punya satu idola doang!”

Apakah ini berarti mereka emang nggak punya ban serep? Nggak ada cadangan idola? BENER-BENER SATU BANGET NIH!? HANA BAKKE OPSO?! NEO BAKKE MOLLA?!

Lalu gue bingung.

Bukankah seharusnya kalau Tao keluar dari EXO dia akan tetap ada di dunia ini dan nggak kemana-mana kan? Masih bisa diidolakan kan anaknya? Dia masih Huang Zi Tao kan?

Lalu? Kenapa kalimat “Lo nggak akan ngerti bagaimana rasanya punya satu idola doang!” rasanya seperti kalau Tao sudah nggak di EXO berarti dia sudah tidak akan lagi eksis sebagai selebriti ya?

(kemudian terbang naik Nada dan bertapa di Gunung Merbabu dan berpikir keras)

Jadi ‘Fans Jalang’ atau ‘Fans Setia’ itu pilihan. Tapi kalau pilihannya antara

‘Bahagia, karena gue nggak terlalu mikirin hal-hal yang terjadi di dalam fandom dan yaudah cuma sekedar ngefans aja. Toh nggak dapet uang juga dari ngefans sama mereka atau spazzing soal mereka’

atau

‘Nggak, gue harus setia sama orang ini. Apapun yang terjadi gue akan tetep sama dia! Gue akan bantai semua orang yang menghalangi jalan gue! GUE SELAMANYA BUAT DIA! WALAUPUN GUE NGGAK DIGAJI GAK APA-APA GUE AKAN TETAP ADA DI SAMPING DIA! DIA ADALAH SATU-SATUNYA CINTA DALAM HIDUPKU OPPPAAAAA SARANGHAE HUAA HUAAAA’

Ya gue sih mending multi-fandom tapi bahagia. Daripada stick to one fandom tapi kok kayaknya terbebani sama masalah yang bukan masalah gue dan hal seharusnya jadi hiburan...

Well, semua ini tergantung konteksnya juga sih. Karena ada kok, orang yang stick to one fandom tapi nggak terlalu menunjukkan kesensian mereka di media sosial.

(Ditunjukkan tapi lewat akun lain yang digembok)

(Oh oke sama aja)
Dan beberapa hari yang lalu, Michelle mengunggah foto ini ke Path:
*
*
Jadi, lo yang mana nih gengs?
*

Share:

35 komentar