The EXhOrizon Saga: PART 2 - The Flight Drama
Di tengah kekacauan hati dan pikiran selama beberapa tahun terakhir ini, because, you know… lay off di mana-mana, gue berusaha untuk fokus buat perjalanan EXhOrizon Singapura. Konser ini bukan cuma jadi comeback konser EXO PLANET di Negeri Singa, tapi juga jadi momentum reuni gue bareng mereka as a group (HUHUHUHU BAEKHYUN HUHUHUHUHUHUHUHUHUHUHU). Walaupun agak males nyebutnya tapi pertemuan terakhir gue dengan EXO di konser EXO PLANET adalah tahun 2019.
Iya.
Konser EXplOration yang chaos itu.
Gue benci banget gelaran acara ini (kecuali tentu saja selama hampir 3 jam durasi konser) dan semua kejadian yang mengikutinya. WKWKWKWKKW gue gak mau lagi membalut pengalamannya dengan hal-hal manis, simply benci aja. Kalau ada rasa sakit hati yang ingin gue pelihara sebagai pengingat untuk gak lagi jatuh dalam perangkap promotor yang sama, ya sakit hati atas EXpLoration 2019 itu dia.
Tapi, well, karena itu juga sih akhirnya gue jadi 'habis-habisan' buat EXhOrizon Singapura. Gak masalah, though. Memutuskan untuk nggak engage dengan konten apapun yang dikasih promotor itu buat konser EXhOrizon adalah salah satu hal terbaik yang gue lakukan sepanjang tahun ini. Selain quiet quitting. Hihihihi....
Paham banget kalau perjalanan ke Singapura ini akan sangat, sangat mahal. Bahkan sebelum rupiah melemah dan menyentuh angka kemerdekaan Rp 17.845 per satu dolar Amerika, gue udah tahu bahwa gue akan butuh sedikit lebih bekerja keras buat bisa membiayai perjalanan konser ExhOrizon ini.
Gimana caranya bisa survive dan nyaman di negara termahal nomor #1 di Asia Tenggara buat pelancong ini? Itu pertanyaan yang gak bisa berhenti gue pikirin. Ada kalanya, dulu, gue akan terbang nonton konser di Singapura tanpa harus memikirkan banyak pengeluaran kayak penginapan misalnya. Pergi-pulang adalah jalan ninjaku dan beberapa teman pada masa itu. Gue tipe yang "gak apa-apa tidur di bandara!", berangkat pagi, konser sore, pulang malam atau besok paginya. I was that fighter!
Tapi sekarang udah agak beda nih.
Gue lebih mengutamakan kenyamanan terutama tidur nyenyak. Apalagi setelah beberapa tahun terakhir gue punya masalah sama kualitas tidur, gue jadi gak bisa lagi memaksakan diri untuk ‘bisa tidur di mana aja’. So, penginapan adalah salah satu hal yang benar-benar gue pikirkan untuk perjalanan ini.
Nah, di sinilah hitung-hitungannya dimulai. Di sinilah gue berharap punya Sugar-Siapapun-Itu. Donatur. Berharap tiba-tiba ternyata orang yang gue anterin ke toilet di mal beberapa tahun lalu adalah pewaris keturunan Sultan Brunei dan dia terenyuh sama kebaikan gue lalu dia akan membiayai kehidupan gue sampai gue meninggal.
Udah sampai di situ aja halunya.
Kalau gue tajir melintir, kaya raya tujuh turunan, mungkin ya gue gak akan sepusing itu sama perjalanan ini. Tulisan ini mungkin malah nggak akan ada sih ya. Instead, mungkin gue akan bikin konten di TikTok atau Reels memamerkan betapa banyaknya uang yang bisa gue habiskan buat nonton konser EXO dengan nyaman tanpa harus bekerja terlalu keras. Tinggal minta mami papi aja ngeluarin duitnya, cus, langsung bisa ketemu Baekhyun.
Eh, maksud gue, Sehun.
Lupa kalau….
HUHUHUHUHUHUHUHUH BAEKHYUYUYUYUYUYUYUYUYUYUYUYUN
Ah. Ya itulah.
Proses hitung-hitungannya dimulai dari hari konser. Gue dapat tiket show original date hari Minggu, 26 Juli 2026 (additional date mereka Jumat, 24 Juli 2026). Secara tanggal, ini udah benar-benar sangat membuat rekening jebol banget. Penerbangan akhir pekan pasti akan sangat mahal. Apalagi kalau pulangnya Senin pagi, itu udah pasti gak ketolong lagi kalau soal budget. Dulu gue sering melakukan hal itu, tapi kayaknya pada masa itu harga tiketnya gak sebikin pusing sekarang-sekarang ini.
Memang trik maskapai ke Singapura tuh keliatan sih. Based on some of my previous experiences, mereka akan ngasih lo harga murah berangkat di tengah pekan dan harga mahalnya ketika lo balik ke negara asal di penghujung akhir pekan (meski itu penerbangan terakhir) atau Senin paginya (meski itu penerbangan paling awal).
Perbedaan lain yang paling terasa sekarang sih, tiket PP ke Singapura di era gue nonton konser ElyXiOn atau EXplOration dulu juga masih affordable.
Kayaknya masih ada maskapai yang nawarain harga Rp 1,5-an buat tiket PP. Harga penginapan pun masih bisa negosiasi lah, masih ada tempat-tempat yang menawarkan harga murah untuk bunk bed. Mungkin juga bedanya pada saat itu gue gak punya tanggungan cicilan aktif kali ya, jadi semua uang bisa dipakai buat foya-foya selama masih beradab. Kalau sekarang foya-foya meski beradab ancamannya gak bisa bayar cicilan hunian. Agak takut sih dijegal Bank.
Maka dari itu, gue harus memikirkan suatu cara yang paling gak bisa meringankan beban gue dalam hal pengeluaran. Budget gue gak terlalu banyak, tapi cukup untuk bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Kalau pun parah-parahnya harus pakai kartu kredit dan itu sampai limit, harusnya gue masih tetap bisa mampu bayar bulan depannya.
Sejujurnya pengin banget bisa dapat kerja sampingan. Tapi di tengah proses gue lagi cari kerja full time dan usaha untuk bisa pindah kantor dan ganti jalur karier seperti sekarang ini, mencari dan melakukan pekerjaan sampingannya seperti bukan pilihan yang realistis. So, ya udah yang ada aja.
Kabar baiknya, tahun ini gue dapat ‘cuti besar’. Cuti yang gak dihitung cuti tahunan, gak dipotong cuti bersama, dan jumlahnya sedikit lebih banyak dari cuti tahunan. This is the so-called benefit setelah lo banting tulang kerja selama 6 tahun tanpa bonus dan tanpa kenaikan gaji. Terima aja udah gak usah ngeluh. Sebab gue ada cuti yang bisa dipakai, perjalanan konser EXhOrizon Singapura ini akhirnya berubah jadi sebuah solo traveling plan dengan konser EXO sebagai klimaksnya pada hari Minggu.
So, here’s my plan so far:
Gue akan berangkat hari Kamis (tiga hari sebelum konser), skip penginapan di Singapura karena berdasarkan riset terakhir gue di week konser itu harganya luar biasa gila jadi gue akan nginep di Johor Bahru aja (yang secara harga tetap stabil meski ada konser besar di Singapura). Cari hotel yang paling affordable (atau paling nyaman sesuai budget yang bisa gue kumpulkan in the mean time) dan paling dekat dengan JB Sentral, jadi bisa bolak-balik hotel-lokasi konser gak terlalu ribet. Biaya-biaya lain yang muncul bisa diatur belakangan sesuai kebutuhan.
List kebutuhannya adalah tiket PP Jakarta-Singapura-Jakarta (dengan alternatif Jakarta-Johor Bahru-Jakarta; tergantung mana yang lebih murah), dan hotel di sekitaran JB Sentral.
Untuk bisa afford tiket PP dan penginapan, gue butuh jarak masing-masing satu bulan dari hari pembayaran kartu kredit tiket konser. Jadi ini beneran proyek yang masih on going bahkan di hari ketika gue menulis kalimat yang sedang lo baca ini. Gue cicil satu demi satu, coret list kebutuhannya satu demi satu (ya eSIM, ya travel socket, ya ongkos selama di sana, ya biaya gak terduga, etc)
“Kalau tiket bolak-balik udah dapet, hotel udah dapet, yang lain bisa nyusul!”
Keterbatasan ini somehow melatih kesabaran dan nervous system gue untuk gak buru-buru dalam melakukan apapun, untuk nggak impulsif karena gue tahu gue punya kecenderungan itu. Walaupun gue merasa agak terlalu selow, tapi mungkin ini yang terbaik.
Kalau dibandingkan dengan plan perjalanan ke luar negeri buat konseran sebelumnya, dulu gue pasti kayak “oh harus cepet tuker duit biar kursnya murah!” atau “ini kalau gak tag hotel keburu naik harganya!” atau “nanti takutnya gak dapet tiket pulang!” Shock juga sih pas sadar ternyata sekarang gue udah gak se-dar-der-dor itu. Somehow seneng karena pikiran gak dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan soal harga tiket fluktuatif. Mungkin gini kali ya rasanya jadi orang kaya yang gak pernah mikirin price tag? HAHAHAHAHAHAHA.
Gue orangnya sangat percaya timing semesta sih.
Ketika gue lagi random di kantor, temen gue bahas soal rencana dia buat pergi ke luar negeri, barulah gue sadar kalau gue sampai saat itu belum punya tiket pesawat buat trip konser ini. Pas gue buka situs AirAsia, ternyata tiket terbang ke Singapura di tanggal sesuai itinerary gue ada yang murah di bawah Rp 600 ribu. No bagasi no problem. 7 kilo bagasi kabin itu cukup kok buat gue yang sekarang-sekarang ini kalau jalan udah gak serempong dulu. Berangkat jam 2 siang, sampai sana sekitaran maghrib. Perfect deh buat moving dari Singapura ke Johor Baru masih ada waktu sampai tengah malam.
Obrolan itu berujung check out tiket berangkat.
Tiket pulang nanti aja dipikirin belakangan.
Next step-nya adalah pengajuan cuti.
Udah sejak lama ada peraturan gak tertulis di tim gue kalau cuti gak boleh lebih dari tiga hari berturut-turut, dan gak boleh bentrok dengan personel lain. Maklum, tim ini kecil dengan beban kerja yang besar, jadi harus giliran. Sebab tiket yang gue check out juga berangkatnya hari Kamis, so gue berencana buat cutiin aja itu seharian sama Jumat. Sabtu-Minggu sayangnya gue masih harus tetap kerja, tapi bisa remote sambil makan Nasi Lemak di Johor jadi harusnya gak masalah. Dan gue udah berencana balik paling lambat Senin (gak apa-apa agak mahal karena kalau digas terus cuti sampai selasa tetep kalah juga di penginapan), jadi gue juga akan cuti di hari itu.
“This sounds perfect sih, Ron,” gue ngebatin. “Sekarang tinggal hotel ya?”
Kepala gue agak sedikit sakit nih, terpecah apakah beli tiket balik dulu atau booking hotel dulu. Waktu konser Taylor Swift, gue menghabiskan hari terakhir perjalanan itu di Johor Bahru dengan menginap di salah satu hotel murah di sana. Jaraknya agak jauh sih memang dari JB Sentral, tapi secara harga bersaing banget.
Beda banget sama harga hotel di Singapura di week konser The Eras Tour itu. Kamar dengan bunk bed semalamnya bisa tembus Rp 4 juta! Jujur gak berani cek harga hotel di sana di week konser EXO sih. Meski gue menduga gak akan semahal itu, tapi kayaknya gue akan stick to my plan dengan PP JB-SG di hari konser aja.
Soalnya kan gue pernah punya pengalaman melakukan itu, dan pernah juga browsing harga hotel-hotel bintang dua atau tiga di kawasan ini, yang ternyata gak jauh beda sama harga OYO di Jakarta. Gue pun bukan tipe orang yang terlalu picky soal kamar atau bangunan reyot atau lorong gelap dan sebagainya. Aturan gue cuma dua: air bersih dan AC-nya berfungsi dengan baik. As for the WiFi dan other amenities, bisa kompromi lah. Kalau gue beli paket data buat seminggu juga itu gue yakin sampai Jakarta masih akan bersisa. Dan dalam perjalanan kayak gini, gue gak terlalu seingin itu buat nonton video panjang di YouTube. Jadi, paket data literally dibutuhkan emang pas lagi di jalan, dan buat kerja di Sabtu-Minggu aja. Dan itu pun gue bisa turun ke lobby kalau memang WiFi hotelnya cuma ada di sana.
Entah kenapa gue excited banget lo, buat nyari-nyari hotel ini. Jadi inget pas dulu solo traveling ke Bangkok dan Phuket, yang sungguh merupakan masa-masa muda yang luar biasa gak akan terlupakan. Jadi inget waktu nemenin beberapa temen pertama kali jalan di Singapura dan Seoul. Keinget juga waktu perjalanan dinas singkat ke New York dan London. Meski hanya punya waktu gak lebih dari sehari, tapi sangat bisa dimaksimalkan dalam itinerary. Itu adalah masa-masa gue masih suka banget planning perjalanan yang terstruktur. Jam segini bangun, abis itu ke sini, lalu ke sana, kemudian naik ini ke situ.
Kayaknya kalau gue mau pindah jalur karier, kerja di travel agent adalah salah satu pilihan. Eh, malah gue dapetnya tawaran jadi host live TikTok jualan bulu mata palsu. Apakah gue bisa...?
Sampai di sini rasanya perjalanan gue buat EXhOrizon Singapura fine-fine aja, ya?
NGGAK.
Perkara lay off sangat mengganggu ketenangan batin gue sih, gak bisa bohong. Ya bayangin aja, ketika lo udah punya plan buat jalan di bulan Juli (yang mana perjalanan ini butuh banyak uang) kemudian lo terancam kehilangan pekerjaan di bulan Mei.
Ada apa ya dengan bulan kelahiran gue ini? Kenapa setiap tahun, selama beberapa tahun terakhir, semua kejadian buruk terpusatnya di bulan itu terus?
(ehem)
(gue di somasi Mejimakcorom juga di bulan yang sama tuh tahun lalu)
(ehem)
(eh itu uang refund udah kelar belum)
(ehem)
Sepanjang bulan Mei itu pikiran gue teralih seratus persen ke cari kerja dan menghadapi kemungkinan terburuk soal lay off. Gue bahkan mulai punya rutinitas bangun tidur yang baru: buka email, lihat lowongan kerja di Jobstreet, apply, lalu lanjut tidur lagi sampai waktunya mandi dan berangkat kerja.
Tempat kerja gue juga udah gak senyaman dulu.
“Gue suka kerjaannya, tapi tempatnya…”
Gue selalu bilang gitu setiap kali ada yang tanya kenapa gue memutusan untuk cari kerjaan lain setelah gue stay di sini bertahun-tahun. Cari kerja sekarang emang nggak mudah, meski lowongan kerja dibuka banyak banget tapi nggak semuanya sesuai dengan apa yang gue cari, begitu juga sebaliknya, gak semua perusahaan nyari orang yang kualifikasinya kayak gue.
Stres karena mikirin kondisi yang gak pasti ini bener-bener ngaruh ke kesehatan deh, jujur. Badan jadi lebih cepet capek, rambut jadi lebih banyak yang rontok, jerawat jadi lebih sering muncul, ingatan soal mantan jadi lebih sering muncul (yha).
Buat orang yang selalu ngejer closure kayak gue, dibiarkan di kawasan abu-abu oleh atasan kayak gini beneran gak membantu membuat perasaan gue lebih baik. Setiap kali gue berusaha untuk mencari kejelasan, jawaban yang dikasih malah makin gak jelas.
“So… let’s just skip all of these thoughts altogether and move on?”
“Okay, but after one final question to the boss, alright?”
“Sure.”
Dan jawabannya masih gak jelas juga.
*tarik napas*
*buang lewat pantat*
Setelah gue dan kepribadian gue yang lain memutuskan untuk gak lagi memikirkan soal nasib kami di perusahaan ini, pasrahkan semuanya kepada Allah SWT, gue pikir perjalanan kami akan berlanjut tanpa drama.
Bener-bener ya, hidup lo, Ron.
So, bulan Mei udah berlalu (bye, May, you’re not so fun thanks) dan sekarang masuk Juni. Setelah tagihan pesawat yang sebelumnya udah terbayar, udah waktunya gue memikirkan untuk book hotel dengan limit kartu kredit yang udah pulih dan utuh lagi. Dalam proses drama sepanjang bulan Mei itu gue udah nandain hotel mana aja yang jadi target gue, jadiiii sekarang tinggal mutusin aja mau pilih yang mana.
Prosesnya gak terlalu lama. Soalnya mungkin karena gue udah punya visi yang jelas soal perjalanan ini. Intinya gue gak mau menghabiskan perjalanan transit terlalu lama di JB Sentral, gue pengin cepet sampai hotel. So, pilihannya adalah hotel yang paling nggak kalau gue jalan kaki gue bisa sampai dalam waktu 5 sampai 10 menit.
Hotel done. It was that easy.
Di saat gue pikir gue udah tinggal beli tiket pulang, ternyata masih ada lagi nih gonjang-ganjing kehidupan: PESAWAT BERANGKAT GUE DI-CANCEL PIHAK MASKAPAI DAN DI-RESCHEDULE.
ASTAGFIRULLAH YA ALLAH.
HASBUNALLAH WANIKMAL WAQIL.
NIKMAL MAULA WANIKMAN NASIR.
Itu posisi gue masih di atas kasur, posisi kepala di Barat, posisi kaki di Timur.
Itu sekitar jam 7 pagi Waktu Indonesia Barat. Sayup-sayup terdengar suara satuan sekuriti lagi lari pagi dan teriak yel-yel seperti biasa. Nyawa gue belum ngumpul sepenuhnya. Mata gue kebuka mungkin cuma 15% dari total 100%.
Gue buka handphone dan liat WhatsApp yang isinya pemberitahuan kalau penerbangan gue dari Jakarta ke Singapura di tanggal yang udah gue pilih itu dipindah ke satu hari setelahnya.
ASTAGFIRULLAH YA ALLAH.
HASBUNALLAH WANIKMAL WAQIL.
NIKMAL MAULA WANIKMAN NASIR.
Biasanya gue butuh waktu sekitar 30 menit dari awal buka mata sampai seratus persen bangun dan sadar lalu siap mandi setiap pagi. Tapi pas liat WhatsApp itu, nervous system gue langsung menyalakan sirine PANIK PANIK PANIK PANIK PANIK PANIK PANIK PANIK dan gue langsung pindah posisi dari tidur ke duduk.
Sekarang kepala menghadap ke Selatan, punggung hadap Utara.
Gue genggam handphone sambil mengumpat halus.
“Kambing kudisan!”
Gue cek aplikasi Traveloka (tidak disponsori) dan statusnya beneran udah berubah. Ada keterangan penerbangan gue di-reschedule ke satu hari dari tanggal keberangkatan gue yang original, lalu ada pilihan untuk melakukan reschedule lagi kalau-kalau gue gak setuju dengan tanggal pilihan mereka.
Oke, gue berusaha buat tenang.
“Gak ada masalah yang gak bisa diselesaikan, Ron. Yang gak bisa diselesaikan cuma korupsi di negara ini. Tenang. Ini cuma perkara jadwal penerbangan.”
Ngomong sendiri adalah jalan ninjaku untuk menenangkan diri.
Pas gue buka tab reschedule, UNTUNGNYA ada penerbangan di TANGGAL ASLI keberangkatan gue. Gue gak sempat memproses apa pun karena (1) gue baru bangun, (2) gue udah pesen hotel yang check in-nya di tanggal itu juga; jadi gue langsung proses reschedule balik ke tanggal asli dan gak sampai ganti presiden statusnya berubah dan berhasil.
FIUH.
Di situ barulah gue berpikir.
"WHY?!"
Kenapa mereka memutuskan untuk melempar gue ke penerbangan di hari berikutnya padahal ada penerbangan lain di hari yang sama?
Gue gak punya pengalaman baik sama customer service perusahaan manapun di negara ini. Gue punya anger issue dan gue lagi berusaha untuk menyelesaikan itu dengan terapi (udah jalan 5 tahun BTW tapi kadang tetep aja ke-trigger) (ASTAGFIRULLAH YA ALLAH AMPUNI HAMBA). So, ngobrol sama customer service bukanlah jalan terbaik untuk mencari solusi dari permasalahan ini pada saat itu karena (1) gue baru bangun, (2) gue udah pesen hotel yang check in-nya di tanggal penerbangan original gue dan itu udah dibayar. DAN GUE BAYAR TUNAI.
“Oh, oke gue paham,” gue bicara ke diri sendiri.
“Jadi rupanya, penerbangan yang sudah gue beli waktu itu adalah penerbangan terakhir di hari itu. Sistemnya adalah, kalau ada perubahan jadwal, otomatis akan dilempar ke penerbangan paling awal di hari berikutnya, meskipun pada hari itu masih ada penerbangan lain yang jadwalnya lebih awal,” gue menjelaskan ke diri sendiri dari hasil pemikiran otak gue yang (1) baru bangun, (2) udah pesen hotel yang dibayar tunai.
“Oh, gitu. Make sense sih. Ya sudah yang penting aman lah ya sekarang?”
NGGAK.
NGGAK SAMA SEKALI.
AIRASIA GAK NGASIH GUE NAPAS TENANG DEH BENERAN ASTAGFIRULLAH.
19 Juni tiba-tiba gue dapat WhatsApp lagi kalau penerbangan gue sekarang dibatalkan karena “kondisi geopolitik”.
ANJIR GUE KETINGGALAN BERITA APA YA?! APA YANG TERJADI DI SINGAPURA?!?!?!?!?!?!?
Itu kejadiannya kurang lebih sama lagi, kayak pas gue baca WhatsApp yang pertama, gue lagi tiduran dengan posisi kepala di Barat dan kaki di Timur. Tapi kabar baiknya adalah (FIUH) penerbangan gue dialihkan, masih pada hari yang sama, tapi rutenya jadi Jakarta ke Kuala Lumpur, baru nanti lanjut lagi dari Kuala Lumpur ke Singapura.
Jam keberangkatannya gak jauh beda dari jam yang terakhir gue reschedule, tapi rute penerbangannya aja yang berubah. Gak ada additional cost, cuma waktu perjalanannya jadi lebih panjang beberapa jam karena ada jarak satu sampai dua jam transit di KLIA.
Setelah gue baca pengumuman itu, buka aplikasi Traveloka, baca email, dan approve perubahannya (bukan approve manual sih, maksudnya ini gue terima kenyataan tanpa harus melakukan perubahan lanjutan), gue beneran gak bisa berkata-kata lagi. Capek, jujur.
“Udahan, please?”
“Iya, please?”
“PLEASE BANGET???”
Tiga kepribadian gue muncul di saat yang sama, memohon pada Allah SWT untuk memberikan pengampunan pada kami semua atas dosa-dosa yang kami perbuat, dan melancarkan perjalanan ini sampai kembali lagi ke Jakarta pada tanggal 27 Juli mendatang.
Melihat sejarah perencanaan perjalanan ini, gue jadi curiga apa yang akan terjadi selanjutnya.
“UDAHAN PLEASE? PLEASE BANGET.”
*












0 comments