The EXhOrizon Saga: PART 3 – The Flight Drama (2)


Jujur di titik ini gue mulai merasa semua drama yang menyertai perjalanan konser, somehow,  termanifestasi oleh keinginan gue untuk punya sesuatu buat diceritain. Agak pick me sih ya, tapi jujur nih, di H-2 ini gue mulai berpikir kalau semua kejadian selama 48 jam terakhir adalah balasan dari dosa dan kesalahan yang gue perbuat sepanjang tahun. Gak tahu harus mulai dari mana tapi mari kita mulai dengan gue hampir ditonjok sama orang Jepang di pesawat, shall we?

Pas ngetik ini gue masih gemeter. Gue masih inget banget perasaan setelah kejadiannya dengan amat sangat jelas. Setiap langkah gue dari setelah turun dari pesawat AirAsia AK352 itu kayak terancam. Kayak orang itu akan tiba-tiba muncul dari sudut yang gak terlihat lalu menyerang. I hate that feeling. It reminds me of those mid-school/high-school years when I got bullied. Sempat ada momen gue membeku sesaat sebelum akhirnya gue lapor ke salah satu pramugara yang bertugas hari itu. Minta tolong dia buat nemenin gue sampai paling nggak gue aman.

Gue gak tahu orang ini siapa dan gue sama sekali gak mau tahu. 

Kamis pagi gue udah dimulai dengan sedikit grasa-grusu karena ada beberapa hal yang harus gue kerjain sebelum berangkat ke bandara. Ini adalah perjalanan ke bandara termepet yang pernah gue lakukan seumur hidup deh. Biasanya gue akan sampai di bandara paling gak 2 jam sebelum boarding. Tapi kemaren gue baru sampai 1 jam sebelumnya. I know it sounds like I’m a crazy person (HONESTLY, I AM CRAZY KWKWKWKWKWKWKWKWKWKWKKW) karena sebenarnya 1 jam pun masih aman. Tapi gue gak suka perasaan terburu-buru, anxious banget; melelahkan, gue juga lebih suka punya banyak waktu luang buat ngapa-ngapain dulu kayak misalnya ke toilet, salat, cari makan, atau hal-hal gak penting kayak window shopping di Periplus yang buku-bukunya gak akan sanggup gue beli.

Udah jadi kebiasaan gue setiap masuk ke tempat baru, gue pasti akan observe semua hal. "Oh ada satu keluarga ini", "Oh ada geng anak-anak muda itu", "Oh lansia dua orang", "Oh Sehun" #krik. 

Gue sedang duduk ngeberesin isi ransel gue ketika satu orang ini masuk ke cakupan penglihatan gue. Posturnya kekar (bukan yang kekar berotot gitu tapi firm), gak terlalu tinggi kayaknya sepantaran gue (ini detail penting untuk sesuatu), rambut manbun, pakai kaus hitam. Dia pakai pouch buat handphone yang digantung di leher. Itu yang paling gue inget sampai setelah kejadian.

Setelah masuk pesawat, gue duduk dia row di belakang dia tapi di section yang berbeda. Gue di kiri, dia di kanan. Sebab bagasi kabin di atas kepala tempat duduk gue penuh, gue taruh koper di penyimpanan di atas kepala dia persis. Sepanjang penerbangan dia main game dengan posisi handphone yang terangkat dengan tubuh condong sedikit ke kiri. Tangan bersandar di armrest, jadi hampir keseluruhan layar handphone-nya kelihatan. Sesekali, ketika gue mengangkat kepala atau membuka mata dari tidur ayam, gue bisa ngeliat tampilan layar handphone-nya. Salah satu teks yang muncul di sana gue kenali sebagai tulisan Jepang.

Pas mendarat, karena gue dan dia duduk di paling pinggir, kami jadi dua di antara banyak orang yang berdiri duluan. Waktu dia ngeluarin barangnya dari atas tempat penyimpanan (yang juga tempat gue naruh koper), tali tasnya nyangkut ke roda koper gue. Di situ dia menggerutu pelan, tapi cukup keras untuk gue dengar, menarik tasnya dengan kasar dan bikin koper gue berpindah dari posisinya semula dengan bunyi gruduk agak kenceng. Gue lihat kejadian itu. 

Gue kesel.

Sebab dia ada di depan gue persis dan tinggi kita sepantaran, di situ tiba-tiba gue mencium aroma yang gue kenal ketika dia ngedumel bersuara. Tapi gue gak mau berspekulasi. Gak dulu, at least.

Posisinya kami udah berdiri, dia udah berhasil narik tasnya yang nyangkut ke koper gue, dan sekarang giliran gue buat ambil koper.

ANJIR PAS NGETIK INI GUE MENDADAK MAU NANGIS KARENA TAKUT. MASIH BERASA BANGET TAKUTNYA.

Waktu gue berusaha buat nurunin koper gue dari atas (gue pendek, gue butuh jinjit buat bisa menggapai kompartemen itu), posisi gue gak persis di bawah penyimpanannya tapi atau atau dua langkah ke belakang. Jadi badan gue butuh condong ke depan sedikit buat menggapai dan menurunkan koper itu dengan aman, tanpa harus ngenain kepala siapa-siapa.

For the record, waktu gue nuruin koper gue kepala si orang ini gak kena sama sekali. Tapi pas gue narik koper gue dengan sedikit tenaga, dia mendadak tersinggung. Gak cuma tersinggung, tapi TERSINGGUNG. PAKAI FONT 10000pt.

Gue sampai sekarang masih mencoba buat mencari alasan jelasnya kenapa dia tersinggung. Gue sama sekali gak ngenain kepalanya sama koper gue ketika gue menurunkan koper itu dari atas sampai ke lantai pesawat, gue sama sekali gak menyentuh badan dia selama proses itu terjadi. To be fair, kalau kesentuh sama bahu gue, ya itu posisinya semua orang lagi berdiri dan lorong pesawat emang sempit. What do you expect?! Tapi manuver gue somehow bikin dia tersinggung. Tiba-tiba dia ngomong bahasa Jepang, yang kebetulan gue tahu artinya.

“Nandayo”

Gue gak tahu mau taruh tanda baca apa. Tapi yang jelas kalau mau menyesuaikan dengan konteks, harusnya tanda tanya diikuti oleh tanda seru. Cuma intonasinya pada saat itu yang masih ke kuping gue gak dramatis, tapi tendensius.

Dia melotot, mengancam buat melakukan gerakan kayak kuda-kuda mau mukul. Pas dia ngomong gitu, aroma yang tadi gue bilang gue kenal makin kecium. Oke, gue gak mau ambil pusing (awalnya) karena “mungkin dia mabuk,” gue ngebatin.

Tapi dia berkali-kali mengulangi kata yang sama sambil melotot ke gue dan mengancam. Setiap kali ada pengalih perhatian, dia teralihkan sebentar sebelum akhirnya balik lagi ke gue. Itu atmosfernya udah gak enak banget. Lebih gak enak lagi adalah respons tubuh gue terhadap situasinya. Nervous system gue langsung menyalakan tanda bahaya dan waspada. Di situ sepersekian detik banyak kejadian gak enak yang tiba-tiba muncul berbarengan. Meski gue berusaha untuk berpikir positif, ya udah ini abis keluar dari sini bakal udahan, lah.

NGGAK.

NGGAK PERNAH KAYAK GITU SKENARIONYA.

SKENARIO YANG DIKASIH BUAT GUE SELALU AJA ADA PLOT TWIST-NYA.

SELALU AJA.

Gue berusaha untuk menjaga jarak saat semua orang berjalan menuju ke ruang kedatangan. Tapi, ini sial banget sih anjirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. 

Ini KLIA Terminal 2 yang ruangannya tuh beneran kayak di film Backrooms. Lorong-lorongnya sempit, setiap belokan gak tahu ujungnya ke mana, udah gitu di lorong sempit itu mereka bikin jalur pejalan kaki sama travelator. Gue bahkan belum sampai ruang kedatangan, beberapa orang masih ada di jalan naik menuju ke sana. Tapi si orang ini masih panas.

DIA NUNGGUIN GUE.

DIA, FUCKING, NUNGGUIN, GUE.

Kita sempat berjarak 2 atau 3 orang di lorong sempit itu ketika dia lagi-lagi mengulang kata yang sama, kali ini ditambah dengan kalimat lain yang gue gak ngerti. Gue tadinya gak mau membalas sama sekali dan ya udah mau jalan terus aja. Tapi dia berdiri di tengah-tengah lorong. Orang yang mau lewat jadi harus ke kiri atau ke kanannya. Kalau gue lewat, gue curiga dia akan nyetop gue, narik tangan gue, nonjok muka gue.

“What is your problem? I didn’t do anything wrong!” gue akhirnya ngomong. Pengin nyelipin motherfucker di tengah-tengah tapi bukan waktunya bercanda, Ron. Gak tahu deh dia ngerti atau nggak dan gak peduli juga. Gegara ditanggepin, dia makin panas. Emang dari tadi, selama gue diem gak komentar itu, dia nunggu ditanggepin sih, gue rasa. Jadi dia ada alasan konfrontasi. Tapi gue sama sekali gak ada tenaga buat beginian.

Tubuh gue makin merasa gak aman. Gue tarik koper gue jalan balik ke pesawat dengan langkah cepat, melawan arus orang-orang yang keluar dari pesawat. Gue khawatir dia akan ngikutin, tapi ya bodo amat kalau diikutin, paling nggak gue ada di tempat ramai. Paling nggak kalau dia ikut, gue bisa langsung tunjuk muka dia dan lapor ke pihak maskapai.

Gue berdiri di depan pintu pesawat ketika salah satu pramugara melihat gue dan langsung nanya ada masalah apa. Gue langsung jelasin duduk perkaranya.

“I don’t feel safe. Can you please accompany me, at least until I get out of this area? I have connecting flight in about an hour. I can’t stay here for too long,” kata gue ke dia.

Fuck. I suddenly remember, one time, I was bullied, and I couldn't get out from the school's toilet. 

Dia mencoba buat mengkomunikasikan itu ke rekannya sebelum akhirnya bawa koper keluar dari pesawat dan menemani gue buat jalan keluar dari area itu. Dia sempat nanya, apakah gue tahu kenapa orang itu mendadak tantrum. Gue jelasin gue gak paham.

“I just saw his bag was tangled to my luggage and he was furious about that,” itu satu-satunya alasan yang bisa kepala gue berikan saat itu.

Si pramugara nemenin gue jalan sampai ke kawasan area kedatangan. Gue paham banget kalau dalam agenda dia hari itu, gak ada tuh nemenin orang asing jalan buat jaga-jaga kalau dia diserang sama orang Jepang rambut disanggul. Jadi gue udah expect kalau dia gak akan nganterin gue terlalu jauh.

Kami berhenti di lorong yang ada travelator itu. Gue sama sekali masih belum tenang. Gue sebenernya kebelet pipis banget, tapi toilet bukan tempat yang bisa gue datangi tanpa ditemenin orang lain yang tahu kejadian yang barusan gue alami. Di ujung lorong itu ada toilet di sebelah kanan dan gue harus melewati toilet itu untuk masuk ke area transit. Di kepala gue waktu itu cuma satu: si orang Jepang ini tiba-tiba muncul dan habislah gue, nanti nonton EXO dengan wajah lebam.

“At least ada yang bisa ditulis sih.”

Ada lagi pikiran kayak gitu lewat di kepala gue. Jujur sungguh sangat tidak masuk akal, yet sungguh sangat gue. Lo sedang berurusan sama orang depresi yang suka yapping, jadi mohon dimaklumi.

“What is your next flight number again?”

“AK… wait,” gue keluarin hape dari kantong jaket. “AK719.”

“Just go straight and turn right. The transfer counter will be on your left,” kata dia.

“Thank you so much, Mister… what’s your name?”

“Ilham,”

“Thank you so much, Ilham. Have a good day!”

Lorong itu kayaknya gak sampai 200 meter deh tapi rasanya kayak gak selesai-selesai. Setiap langkah kaki gue, meski cepat, rasanya kayak lama banget sampai ke ujung sana. Belum lagi ketika langkah gue harus melambat karena ada beberapa orang di depan yang jalannya gak secepat itu, rasa frustrasinya makin gila. Waktu lewat di depan toilet, gue gak berani nengok langsung langkah seribu menuju belokan. Setiap belokan gue takut banget anjir, gue beneran takut si orang Jepang nungguin gue cuma buat nuntasin emosinya.

Look, gue kalo bisa berantem adu jotos, gue tanggepin deh. Again, that would be a very great story for my blog, TikTok, or Reels. Tapi gue sama tukang parkir aja gak bisa berdebat. Gue lebih memilih cari tempat parkir lain ketika tempat parkir yang biasa gue pakai jasanya dulu gak mau nerima uang logam rupiah. Ini lagi sama orang yang bahasanya gak gue paham, berat badannya mungkin dua kali lebih dari gue, udah gitu allegedly mabuk pula. Satu-satunya hal bisa gue lakukan hanyalah lari cari pertolongan satpam YANG MANA SEPANJANG LORONG ITU SAMPAI DI MUSALA SEBELUM TURUN KE GATE KEBERANGKATAN GAK ADA SAMA SEKALI, DONG.

Konsentrasi gue nihil. Kepala gue dipenuhi kabut ketakutan. Waktu gue sampai di konter transit, gue ngomong belepotan. Gue belum punya boarding pass, si abangnya minta gue cetak dulu boarding pass-nya. Cetak di mana bang? Kan gue tanya gitu. Padahal mesinnya persis ada di samping gue.

Gue pernah ada di konter transit itu sebelumnya. Beberapa tahun lalu, ketika gue solo traveling juga. Gue tahu prosedurnya. Tapi hari itu kepala gue gak berfungsi. Pas gue coba buat cetak boarding pass, mesinnya menolak. Dia bilang dia gak bisa bantu, hubungi petugas. Gue coba lagi, dia tolak lagi. Gue coba buka aplikasi Traveloka gue (YANG GUE BARU SADAR, GUE HARUSNYA NYALAHIN MASKAPAI AJA YA SOALNYA KARENA MEREKA NIH GUE JADI NGALAMIN INI. KALAU PENERBANGAN GUE GAK DIPINDAHIN, GUE KAN GAK HARUS KETEMU SAMA ORANG ITU DAN MENGALAMI KEJADIAN TRAUMATIS INI) (MASIH GEMETER ANJIR MASIH TAKUT KALO NOLEH TIBA-TIBA DIA ADA DI BELAKANG GUE PAS GUE LAGI NGETIK INI) dan di aplikasi tulisannya udah gak bisa check in karena udah mepet ke penerbangan.

“Bang…” gue jelasin ke dia semua yang terjadi di atas. Sejujurnya, gue mau komplen sih sama cara dia melayani pelanggan. Sebab sebelum dia ngomong sama gue, posisinya lagi makan piscok menghadap ke Barat dengan posisi badan agak miring ke Barat-Laut; gue ada di sebelah Utara.

Akhirnya dia bantu buat cetakin boarding pass. Gue akhirnya bisa proceed ke ruang keberangkatan, salat asar dulu sekalian zuhur di musala bandara, sebelum akhirnya turun menuju ke lorong boarding gate. LAGI-LAGI YA INI, KLIA 2, YA ALLAH. Itu lorong konsepnya beneran kek penjara. Banyak celah-celah yang bikin gue parno. Gue baca-baca semua ayat yang gue inget. Gue berdoa.

“Ya Allah, kalau memang aku harus mati di tangan orang Jepang ini, pertemukan aku dengan EXO di alam baka.”

Alhamdulillah Allah Maha Baik. 

Nggak. Bukan gue mati lalu dipertemukan EXO di alam baka. 

BELOM.

Orang itu gak ada di sepanjang lorong boarding gate KLIA 2 yang menyeramkan itu. Alhamdulillah orang itu gak terbang ke Singapura juga. Alhamdulillah gak ketemu dia sampai gue mendarat di Changi.

Kejadian itu masih bikin gue nervous dan anxious bahkan sampai sekarang. Semua orang yang perawakannya kayak gitu mendadak bikin tubuh gue bereaksi. Gak suka banget sama perasaan kayak gini karena THIS IS SUPPOSED TO BE MY FUCKING VACATION! Tapi cerita gue gak berhenti sampai di situ. Tadinya gue kira gue akan sampai di hotel sekitar jam 10 atau jam 11 malam. Tapi gue baru sampai di hotel jam 12 malam teng.

Itu pun diawali dengan naik bus yang gak berhenti-berhenti padahal gue udah pencet tombol setop.

Asli.

Ini Suho harus tahu sih, cerita ini.

*

Share:

0 comments