• Home
  • Explore Blog
    • K-Pop
    • EXO
    • Concert Experience
    • GMMTV's The Shipper Recap
    • Film
    • Self Reflection
    • My Trips!
      • New York Trip
      • Seoul Trip
      • Bangkok Trip
      • London Trip
  • Social Media
    • YouTube
    • Twitter
    • Instagram
    • Facebook
    • Email Me
  • My Podcasts
    • Podcast KEKOREAAN
    • Podcast ngedrakor!
  • NEW SERIES: 30 and Still Struggling
kaoskakibau.com - by ron

Gue nggak menyangka kalau ternyata work-from-home ini mengacaukan waktu tidur gue. Gue pikir, bisa bangun sedikit lebih siang setiap hari sampai entah kapan adalah sebuah berkah yang nggak bisa gue dapatkan di hari-hari biasa. Ya memang berkah sih kalau dipikir-pikir, sebagai budak korporat kan lo harus bangun setiap pagi di waktu yang kurang lebih hampir sama untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Tapi kehidupan yang mendadak berubah selama sebulan terakhir ini ternyata cukup mengacaukan jam bangun. Terlalu nyaman dengan bangun siang membuat gue kadang keterusan sampai siang banget. Lalu ketika gue bangun, gue merasa jadi manusia paling tidak beradab di muka bumi ini karena menyia-nyiakan berjam-jam buat tidur yang berlebihan.

Sekali mungkin nggak masalah. Tapi kalau berkali-kali? Wah gila sih... bener kata Jae di podcast terbarunya. Bangun lewat jam 12 siang tuh berasa kayak... gue bangun dan menjadi orang yang paling gagal. Bangun-bangun kepala isinya penyesalan soal waktu yang sudah terlewat dan nggak bisa kembali lagi. Salah sendiri.

But the beauty of life is that we can always try again tomorrow.

Kecuali ketika besok datang, gue kembali lagi bangun siang lagi. Asli. Gue sekarang selalu ngantuk. Nggak paham. Gue benci kondisi ini. Gue benci efek work-from-home ini. Walaupun gue yakin waktu-waktu ini pasti gue rindukan ketika hidup sudah normal nanti.

Kebiasaan bangun siang belakangan ini membuat gue jadi susah banget tidur malam. Gue kembali jadi night owl seperti masa-masa semester akhir kuliah dulu. Bangun siang, tidur hampir pagi. Begitu terus sampai TBC gue makin parah.

EH NA’DZUBILLAH JANGAN DIAMININ YA HAHAHAHAHAHHAHA.

Gue susah tidur lagi belakangan ini. Ini mungkin sudah hari ketujuh atau kedelapan, gue lupa. Atau mungkin sebenarnya udah lebih dari itu. Seinget gue, sejak work from home ini gue memang susah banget tidur. Kadang malah nggak tidur. Sesuatu sangat mengganggu pikiran gue. Sesuatu seperti kemarahan-kemarahan yang nggak tersalurkan, emosi-emosi yang terpendam, dendam-dendam lama yang sepertinya merongrong dari dalam.

Terdengar sangat serius dan berbahaya, ya?

Gue akhirnya memulai podcast pribadi gue. Hehe... sebenarnya di awal 2019 gue sudah pernah mengunggah podcast dengan nama ‘Gloomy Monday’ ke Soundcloud. Waktu itu gue belum terlalu tahu seluk belum podcasting dan belum mengenal Anchor buat bisa masukin podcast ke Spotify. Ada dua episode yang gue unggah waktu itu tapi akhirnya nggak berlanjut lagi karena berujung gue fokus ke KEKOREAAN. Setelah kurang lebih setahun berkutat di KEKOREAAN, akhirnya gue menemukan kemauan dan semangat untuk membuat podcast pribadi yang gue kasih nama ronzikologi.

Tadinya memang gue mau lanjutin aja ‘Gloomy Monday’ tapi rasanya so last year banget. Haha... lagipula, nama itu sudah lengket dengan label ‘Live Instagram’ karena memang itu adalah live show Instagram yang gue mulai pas gue masih kerja di rumah produksi film dulu. Kemudian nggak berlanjut lagi karena hidup saat itu bener-bener kayak roller coaster. Keputusan untuk mengubah nama ke ronzikologi juga karena selain ini adalah fresh start gue juga ingin menempelkan branding nama ‘ron’ di setiap apa yang gue bikin. Biar sejalan gitu sama ‘ronzzykevin’, ‘ronzstagram’, dan sekarang ‘ronzikologi’.

(maaf ya kaoskakibau, jadi nggak dianggep sejalan)

(tapi kau tetap di hati lah! mau gimana juga!)

Kalau dipikir-pikir ternyata memang gue hanya butuh untuk menjadi sibuk agar lupa dengan hal-hal yang seharusnya nggak gue khawatirkan saat ini. Kenapa ya gue nggak pernah sadar tentang hal ini sebelumnya? Atau sebenarnya sih gue udah tahu tapi karena kekhawatirannya terlalu berlebihan dan kadang diada-adain jadinya malah kalah, gitu ya? Bisa jadi sih.

Gue sedang duduk di belakang meja kecil yang gue beli dari warnet yang sudah mau tutup di dekat kosan gue pas di Depok dulu dan baru selesai ngerjain artikel buat naik di portal kantor besok ketika gue memikirkan ini. Beberapa hari terakhir harus work from home membuat ritme kerja gue agak berubah. Termasuk juga keseharian mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan kemudian tiba-tiba saja gue kepikiran tentang hari-hari di mana gue selalu memikirkan hal-hal yang tidak pasti soal hidup. Kecemasan-kecemasan yang mendadak datang padahal sebenarnya nggak penting-penting amat buat dicemaskan.

Beberapa waktu yang lalu gue pernah menulis tentang bagaimana gue anxious mendengarkan pengakuan dua orang berbeda tentang dua hal serius yang ingin mereka bicarakan dengan gue. Yang satu mengaku kalau dia mengidap penyakit serius, yang satu mengaku kalau dia pacaran dengan salah satu teman gue. Gue nggak pernah memikirkan ini sebelumnya tapi gue iri banget sama orang-orang yang bisa mengumpulkan keberanian buat ngomong secara terbuka tentang sesuatu yang mereka anggap penting, ke seseorang yang (mungkin) mereka anggap penting.

Pikiran gue soal dua momen itu kemudian membawa gue ke pertanyaan yang gue ajukan ke diri gue sendiri: apakah reaksi gue saat itu sudah tepat?

Gue tahu sih seharusnya memang masa lalu tuh nggak usah dibahas lagi. Yang lewat ya sudah lewat aja. Tapi tiba-tiba aja gue kepikiran sama hal yang satu ini: reaksi.
https://www.pexels.com/photo/man-in-black-top-sitting-on-bench-beside-of-door-1532775/

Sebagai seorang introvert, satu-satunya alasan untuk menjauh dari keramaian adalah karena bergaul itu bisa jadi sangat melelahkan. Semua orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai seorang introvert pasti merasakan ini. Bersosialisasi itu selain menyenangkan juga membutuhkan banyak energi. Biasanya kami, para introvert, butuh waktu untuk menepi dan menjauh dari segala bentuk interaksi dengan manusia-manusia lain untuk mengisi ulang energi yang hilang itu. Dan itu bisa dengan banyak cara tapi yang pasti kami semua sepakat bahwa momen menjauhi keramaian dan interaksi sosial itu adalah momen menyendiri yang sakral dan perlu dilakukan.

Sekarang mungkin orang-orang menyebutnya dengan social distancing.

Ada yang bilang semakin kita dewasa semakin kita akan mengerti segala sesuatu tentang hidup.

Betul sekali. Kita mungkin nggak pernah benar-benar sadar bahwa setiap hari yang kita lalui membentuk kita jadi sosok diri kita yang sekarang. Diri lo 10 tahun yang lalu mungkin nggak akan pernah menyangka akan jadi lo yang sekarang. Diri lo yang sekarang bahkan mungkin masih nggak percaya dengan bagaimana hidup bisa membawa lo jadi diri lo yang sekarang.

Ada satu sisi dalam diri gue yang takut banget sama dunia luar. Belakangan sisi ini sedang berkecamuk dan menguasai diri gue banget. Kalau sudah begitu, semua hal rasanya salah. Karena sisi ini berisi kekhawatiran-kekhawatiran dan segala skenario yang sebenarnya nggak pernah terjadi dan hanya ada di dalam kepala gue. Nggak jarang sisi ini bikin gue bad mood seharian atau nangis seharian. Atau kalau nggak seharian kadang bisa tiba-tiba nangis pas lagi duduk dengan pikiran yang melayang. Ini semacam Dementor dalam diri lo yang nggak ada faedahnya sama sekali. Tapi susah untuk meng-Expecto Patronum-nya di saat lo sendiri nggak punya cukup energi positif buat melakukannya.
Ada nggak sih orang yang mau hidupnya mentok di satu titik dan nggak bergerak sama sekali? Pertanyaan ini muncul di kepala gue dalam manuver singkat dari tempat tidur menuju ke kamar mandi di suatu malam. Gerakan yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah monolog yang harusnya tetap di kepala gue aja tapi ternyata keterusan sampai ke mulut.

“Nggak ada kali yang mau kayak gitu,” kata gue pas lagi cuci tangan. Belakangan ini gue lagi rajin banget cuci tangan pakai sabun karena takut kena virus corona.

Sebagai orang yang sehari-harinya menulis dan mendapatkan uang dari situ, stuck adalah salah satu hal haram yang rasanya amit-amit banget kejadian. Kayak pengin ngetok-ngetok meja berkali-kali, lanjut ngetok-ngetok jidat berkali-kali supaya dijauhkan dari kutukan bernama stuck. Mereka yang menulis menyebutnya Writer’s Block dan itu terjadi pada semua penulis mau dia baru mulai atau dia sudah senior. Bedanya mungkin mereka yang sudah senior bisa lebih tahu bagaimana cara menyikapi hal ini sementara yang penulis pemula akan sangat panik dan merasa diri mereka gagal karena tidak produktif.

Gue adalah yang kedua.


Meski agak enggan untuk mengakuinya karena takut akan terdengar cengeng dan drama, tapi gue harus terus terang kalau beberapa bulan terakhir ini memang hidup rasanya menghantam gue dengan terlalu keras. Tentu saja ini nggak berkaitan dengan kutukan Jaehyun yang waktu itu, walaupun gue masih yakin kalau ya sedikit banyak ada hubungannya sama itu (ya ini mah halu total mohon maaf) (WKWKWKWKWKWKWK), tapi gue harus bilang sekali lagi kalau real life is hard. So damn hard. Apalagi kalau lo sedang sakit. 

Jujur aja gue nggak tahu ada apa dengan tubuh gue selama berbulan-bulan sejak, ya, dikutuk Jaehyun itu. WKWKWKWK. Di satu sisi tahun ini rasanya berjalan sangat cepat sampai tiba-tiba udah pertengahan Desember aja. Di sisi lain juga sangat lambat karena gue menghabiskan sebagian besar paruh kedua 2019 dengan slow-motion. Ya, literally slow-motion. Badan gue sedang tidak sama sekali ada dalam kondisi yang sehat walafiat seperti yang gue harapkan membuat pergerakan gue lamban banget kayak siput jompo. Ini adalah tahun terburuk untuk kesehatan gue. 

Gue sakit. Tapi sayangnya sejak pertama kali gue merasa sakitnya ini sudah terlalu mengganggu, gue nggak tahu dengan persis gue sakit apa. Di blogpost sebelumnya gue bilang kalau gue kena muscle spasm, berdasarkan diagnosa dokter rehab medik yang gue datangi kala itu. Tapi kemudian rasa sakit gue berkembang jadi sakit-sakit yang mulai aneh. Mulai nggak jelas dan mulai random datangnya dari mana. Satu hari gue bisa bangun dengan kondisi punggung yang sangat berat kayak sedang memikul Saturnus. Satu hari gue bisa tidur dengan badan yang supersakit dan nggak bisa menemukan posisi yang nyaman; enggak menghadap ke kiri, enggak menghadap ke kanan, nggak juga terlentang. Semua posisi rasanya salah dan semua posisi rasanya sakit. Pada akhirnya gue nggak pernah bisa tidur. Jangankan nyenyak, tidur pun susah. Satu hari gue bisa merasa demam nggak karuan yang datangnya bener-bener random. Entah karena AC kantor yang terlalu dingin atau karena badan gue yang memang sedang tidak bisa mentoleransi perubahan suhu sekecil apapun. 

Satu hari gue mendadak bangun dengan kondisi badan yang payah. Pundak gue rasanya seperti berat sebelah. Dada gue sakit banget yang bikin gue setiap kali berusaha berdiri tegak seperti sedang menahan beban yang sangat berat. Alhasil selama beberapa hari gue jalan bungkuk. Nggak cuma bungkuk tapi juga miring ke kiri. Gue bisa merasakannya karena memang agak aneh kalau sedang jalan. Orang-orang pun bisa dengan jelas melihatnya. Penegasan juga datang dari beberapa temen kantor yang ngeliat gue dengan postur aneh itu. 

“Kenapa kok badan lo miring?” 

Jawabannya selalu sama. 

“Gue nggak tahu.” 

“Gue lagi sakit. Gue mau pulang biar bisa fokus ke pengobatan dulu.”

Aneh rasanya kalimat itu bisa keluar dari mulut gue. Gue dan sakit adalah sebuah paduan yang nggak masuk akal. Apalagi sakit parah yang sampai harus periksa ke dokter atau bahkan ke fisioterapis gitu. Sejak pertama kali gue meresmikan label “anak rantau” gue jarang banget sakit sampai harus ke dokter. Yang paling parah dan gue rasa itu terakhir deh gue ke dokter buat periksa rutin adalah untuk memeriksakan gigi gue yang udah ancur karena ketakutan gue ke dokter gigi selama bertahun-tahun sampai akhirnya harus diganti pake gigi palsu. Setelah itu kalau gue sakit ya paling sakitnya yang biasa diidap orang sehari-hari. Sakit yang nggak butuh dokter tapi cuma butuh warung terdekat aja beli parasetamol dan ya sudah aku sembuh dan kembali seperti sediakala. Dalam beberapa tahun terakhir ini adalah sakit terparah gue.

Harus mulai dari mana ya?

Gue kembali dalam kondisi sehat setelah pulang dari Seoul awal tahun ini sampai akhirnya gue tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh di dada kanan gue. Sesuatu yang bergerak di bawah rusuk gue. Kalau kata YouTuber yang suka bikin kue yang sering gue tonton ada “air bubble” di dalam situ. Kadang-kadang gue merasakannya meletup tiba-tiba, kadang-kadang ketarik tiba-tiba, kadang-kadang pindah dari atas ke bawah dan seperti merayap di bawah rusuk gue. Sakit? Iya banget. Gue pernah terbangun di satu malam teriak karena itu. Tapi kalau dipencet atau ditekan di bagian rusuk itu, nggak ada apa-apa. Nggak sakit sama sekali.

“Saya bingung dok, ini kayaknya ada monster yang mau keluar dari dalam tubuh saya. Saya juga berdebar tapi kok di kanan?”

Saking gue bingung bagaimana menjelaskannya, gue ngomong aja apa adanya ke dokter di klinik dekat kosan. Klinik yang selalu gue lewati setiap harinya kalau mau ke kantor, klinik yang sepertinya lebih akrab dengan mantan teman kosan gue dulu karena dia emang orangnya sakit-sakitan, klinik yang akhirnya gue datangi juga untuk memeriksakan kondisi gue.

Dokternya bilang gue kelelahan dan stres.


Gue sedang dalam perjalanan menuju BSD naik motor waktu Dita nge-WhatsApp gue sebuah tubir di Twitter yang sedang rame. Gue nggak baca sampai akhirnya gue sampai di tempat makan, pesan es jeruk, nungguin ayam bakar dan sambal bawang gue datang, baru deh akhirnya gue ngumpat kenceng banget. Tapi dalam hati. Gue nggak nyangka ternyata ini fandom se-messed up itu kalau sudah urusan tiket konser.

Semua orang merasa insecure, jelas. Gue juga begitu kok. Nggak cuma soal tiket sebenarnya, kalau udah ngebahas soal insecurity bisa berjam-jam nggak ada abisnya. Saking takutnya nggak dapat tiket, banyak orang akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa penitipan. Beberapa ada yang jujur dengan menunggu pembukaan penjualan di ticket box resmi, ada juga yang memanfaatkan koneksi.

Oh nggak apa-apa. Bagaimanapun cara kalian mendapatkan tiket itu bukan urusan gue. You do you. Your way. Bebas. Hidup kan hidup kalian juga. 

Baca Juga: Insecure, Insecurity, Insecurities

Penginnya sih gue mikir kayak gitu. Tapi nggak bisa. Setelah baca link yang dikirim Dita itu gue akan menyesal. Harusnya gue nggak baca itu. Harusnya gue nggak tahu. Harusnya gue nggak usah lihat sekalian.
EXO mengumumkan konser tunggalnya EXO Planet #5 EXplOration in Jakarta. Tiket dan seatplan konser ini sudah dirilis oleh Dyandra Global. 
Sedikit panduan nih buat kamu yang mau datang ke konser EXO Planet #5 EXplOration in Jakarta, terutama buat yang kali pertama nonton konser. Mungkin posting-an ini bisa membantu kalian buat menentukan harus berdiri di section mana, atau duduk di section mana.

Hidup itu penuh dengan kejutan. Dan seringkali kita nggak siap menghadapinya.

Gue sudah jadi fans Westlife seumur hidup gue dan jadi salah satu orang yang sedih ketika mereka memutuskan buat bubar. Gue pun nggak bisa menyembunyikan excitement gue ketika mereka mengumumkan reuni sekaligus konser perayaan 20 tahun debut mereka dan album baru yang akan dirilis 2019 ini. Wow, rasanya terlalu banyak hal yang harus diproses dalam satu hari. Meski mereka melakukan semuanya secara bertahap, tetap saja informasi yang datang bersamaan itu bikin gue mencak-mencak sendiri. Berasa anak kecil sedang tantrum.

Pagi itu gue sedang ada di kantor, seperti biasa dalam posisi duduk di kursi yang sudah beberapa kali membuat gue terjungkal karena nggak mampu menahan kehebohan gue dalam beberapa situasi, tangan sudah siap di atas keyboard untuk bekerja dan mencari kira-kira apa yang bisa gue tulis hari ini, ketika Westlife merilis video klip comeback mereka ‘Hello My Love’ berbarengan dengan semua pengumuman yang sudah gue sebutkan sebelumnya.

Westlife adalah satu dari sekian banyak grup di industri musik yang gue suka tapi sampai usia gue menginjak 28 tahun di 2019 ini, gue beum pernah sama sekali melihat performance mereka live secara grup.

Apakah gue siap untuk melihat konser mereka?


Gue sedang ada di salah satu McDonald’s di kawasan BSD, Tangerang, waktu gue dapat email undangan ke konser ‘Dekade’ Afgan yang bakalan digelar hari Jumat 9 Agustus 2019 di Istora Senayan. Hari itu gue sedang cuti karena mau nonton Westlife di Indonesia Convention Exhibition, tapi gue nggak bisa nggak membalas email itu dengan singkat, padat, dan jelas “Gue mau!”.

Memang sih, gue nggak bisa dibilang seorang ‘Afganisme’, sebutan buat fans berat Afgan. Tapi gue cukup mengikuti perjalanan karier dia mulai dari ‘Terima Kasih Cinta’ sampai ‘Sadis’ yang tentu saja jadi hits di kalangan pecinta musik Indonesia pada masanya. Afgan adalah salah satu dari sedikit solois cowok dengan segmen remaja yang melejit namanya di tahun 2009. Dengan image ‘boy next door’-nya kala itu, teman-teman cewek gue kayak nggak pernah berhenti ngomongin penyanyi yang satu ini. Tapi memang lagu-lagu dia dan suaranya sangat khas. Beberapa tahun berselang, musik Afgan pun berkembang dari balada-balada galau ke sesuatu yang lebih dancey. Sederet kolaborasi pun dia lakukan bersama beberapa penyanyi muda lainnya seperti Isyana Sarasvati dan Rendy Pandugo. Nah di sini nih gue udah mulai sekip banget sama lagu-lagu dia. Kadang-kadang denger sih kalau nggak sengaja keputer pas lagi di Alfamart gitu. Walaupun gue nggak tahu judul lagu yang dia bawain, tapi gue tahu itu Afgan dari suaranya yang khas.

Jadilah hari Jumat itu gue nggak ada ekspektasi apapun soal penampilan panggung Afgan di konser ‘Dekade’ ini. Gue juga sudah siap pasrah kalau dia cuma nyanyiin lagu-lagu barunya dia doang. Tapi kemudian gue berpikir lagi, ini kan konser ‘Dekade’, perayaan 11 tahun karier dia di industri musik. Pastilah dia bakalan bawain lagu-lagu hits lamanya. Agak mustahil kalau nggak dibawakan. Yakin, pasti paling nggak dia bakalan nyanyi ‘Sadis’ deh. Kalaupun itu satu-satunya lagu yang gue tahu di konser ini, gue nggak akan komplain.

Eh tapi ternyata lebih dari itu. Bahkan satu lagu yang gue suka banget dari dia (yang gue sendiri lupa kalau dia punya lagu itu) juga dibawain!

Minggu siang, 7 Juli 2019, gue sedang goler-goler di kamar sambil kepanasan. Jakarta panas banget hari ini. Kipas angin udah ada di level tertinggi dan kalau lebih tinggi lagi mungkin gue akan meninggal karena masuk angin. Tapi di level tertinggi ini pun gue belum bisa menyelamatkan hawa panas yang masuk dari pori-pori dinding, sela-sela ventilasi, celah di bawah pintu, dan lubang kecil di jendela kamar. Gue nggak ngerti lagi pokoknya hari ini Jakarta panas banget. 

Kondisi kesehatan gue belum membaik. Seminggu terakhir gue sedang mengidap penyakit aneh. Penyakit yang... gue sendiri nggak tahu apakah beneran penyakit atau hanya nyeri otot biasa. Soalnya dada gue sakit banget. Dada kiri. Gue agak parno karena dada kiri kan jantung ya. Jadi pikiran gue tuh suka ke mana-mana. Lagipula, sebelum hari ini, sekitar seminggu yang lalu kurang lebih gue periksa ke dokter dan pada hari gue periksa itu, sakit dada gue tuh kayak berlebihan banget. Dipegang dikit nyeri luar biasa. Bahkan nggak usah dipegang pun udah nyeri bukan kepalang. Tapi dokter meyakinkan gue kalau masalahnya bukan karena sakit jantung atau apapun yang serius. Ini murni karena masalah otot. 

“Iya soalnya saya memang baru mulai olahraga gitu dok,” kata gue. 

“Oh olahraganya apa? Angkat beban?” tanya dokternya. 

“Enggak dok. Hehe. Olahraga saya lari. Hehe,” 

Bagus atau jeleknya sebuah film itu tergantung dari siapa yang nonton dan siapa yang menilai. Gue paling nggak suka banget sekarang ngebaca review-review soal film A jelek atau film B bagus, atau berapa skor yang dimiliki sebuah film di situs-situs rating seperti IMDB dan Rotten Tomatoes. Yang orang bilang jelek kadang-kadang menurut gue bagus-bagus aja (kayak Dark Phoenix misalnya). Tapi yang orang bilang bagus kadang-kadang malah gue anggap jelek. Jadi balik lagi ya penilaian orang kan beda-beda ya.


Belum lama ini gue melihat beberapa orang di Twitter berdebat soal "nonton film sendiri di bioskop". Ada sebagian orang yang merasa nonton sendirian adalah sebuah aib yang seharusnya enggak diumbar-umbar. Apalagi di zaman sekarang ini di mana orang-orang bebas memberikan komentar apa saja buat siapa saja yang mereka temukan di dunia maya. Nggak jarang komentar tersebut menyudutkan, menyalahkan, bahkan memberi kesan kalau mereka yang nonton sendirian itu adalah orang-orang yang kesepian, nggak punya temen, atau seperti yang banyak muncul di kolom komentar Thread KASKUS: jones alias jomblo ngenes.

Pertama-tama gue mau bilang dan mau mengklarifikasi bahwa nggak ada salahnya nonton sendiri. Karena, hey, gue sebagai orang yang mempraktikan kegiatan "nonton film sendiri" sudah merasakannya. Nggak perlu malu atau pun merasa berkecil hati soal itu. Jujur aja, gue nonton sendiri kadang-kadang karena memang gue butuh waktu sendiri. Gue butuh momen menikmati apa yang gue tonton sendiri. Kadang ada waktu-waktu di mana mood-nya lagi nggak mau bersosialisasi dan mau berdiskusi dengan diri sendiri soal apa yang ditonton. Tipikal introvert. Apakah itu membuat gue terlihat kesepian? Ya mungkin aja karena apa yang orang lihat kan cuma berdasarkan penampilan luarnya aja. Hak merekalah buat nge-judge you based on your looks. Tapi deep down inside kan lo nggak kesepian.

Apakah gue nonton sendiri karena gue kesepian? Karena gue nggak punya temen? Karena gue jomblo ngenes?

Jawabannya nggak.

Untuk beberapa genre film kayak animasi atau drama memang lebih seneng kalau nonton sendirian. Gue lebih suka merasakan dan menikmati excitement setiap adegan yang gue tonton sendirian. Karena gue suka banget film drama dan adegan-adegan cheesy, kadang-kadang kalau nonton sama temen gue suka kesel kalau mereka udah mulai komentarin adegan-adegan kayak gitu dengan "Apaan sih!" gitu.

Kalau nonton film horor gue lebih suka sama temen karena rame dan bisa teriak bareng. Kalo nonton horor sendiri gue suka jaim teriaknya. Tapi kalau ada temen jadi ada alasan untuk berteriak lebih kencang. Tapi paling nggak suka nonton horor sama temen yang kebanyakan bahas filmnya daripada nontonnya. Apalagi kalau udah nonton film Indonesia. Setiap adegan dibahas. Kayak nggak ada waktu nanti abis nonton aja gitu. Pernah pas nonton 'Dreadout' temen gue ini bawel banget setiap adegan dikomentarin, dijelek-jelekin, akhirnya karena merasa terganggu gue pindah duduk aja. Dan berujung nonton sendiri di barisan depan yang memang kosong.

Lo memang punya hak buat nge-judge mereka yang nonton sendirian sesuka lo. Tapi lo nggak bisa menyalahkan kalau mereka memang lebih suka nonton sendiri daripada ditemenin sama orang yang nggak satu frekuensi sama mereka. Lo punya hak nge-judge, mereka juga punya hak nonton sendiri. 

Hehe


Siapa yang nggak tahu kegemerlapan daerah Kemang, di Jakarta. Daerah yang punya nama seperti buah Kemang ini jadi salah satu daerah elit di Jakarta yang biasanya jadi tempat favorit buat menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau bisa juga jadi tempat hangout remaja-remaja masa kini bareng sama temen-temen gaul mereka. Ibarat sebuah kota penuh hiburan, lo juga bisa memilih tempat mana yang ingin lo kunjungi di kawasan ini. Ada berbagai macam tempat tongkrongan tersedia di sini, makanya itu Kemang jadi daerah yang banyak disukai. Salah satu tempat yang gue rekomendasikan untuk didatangi adalah The Edge Kemang. The Edge Kemang merupakan sebuah restauran mewah yang ada di Kemang yang menyediakan banyak banget santapan mulai dari makanan khas Asia, Western, dan pilihan grill pun ada.

Kali ini gue akan membahas apa-apa saja yang bisa lo temukan di The Edge Kemang ini. Penasaran? Cek terus sampai bawah!


“Weekend ini Red Velvet nih, Dit!”

Gue misuh-misuh di kantor ke Dita, temen sebelah meja gue. Partner gue di Podcast KEKOREAAN yang hey sekarang sudah ada di Spotify! (Klik di sini untuk mendengarkan) Hehehe. Seperti biasa, Dita nggak menaruh perhatian penuh ke gue karena dia memang anaknya pekerja keras. Matanya nggak berpaling dari laptop dan kupingnya masih disumbat headset. Jelas dia nggak dengar apa yang tadi gue bilang ke dia. Udah biasa. Dita emang anaknya gitu.

Gue nggak bisa bilang gue 100% siap untuk nonton Red Velvet di lapangan somewhere in BSD ini karena gue sama sekali enggak tahu daerah situ kecuali Stasiun Rawa Buntu dan ICE. Sementara acaranya akan dimulai malam hari dan itu berarti kelarnya pasti jelang tengah malam. Sebenarnya sudah ada rencana di kepala gue. Rencana yang tinggal diamalkan saja dengan perbuatan. Niatnya sudah ada dan sudah terasa matang: gue pesan penginapan dekat situ, datang ke penginapan sekitar jam empat atau jam lima sore, kemudian beres-beres sedikit lalu pergi ke lokasi acara mepet-mepet aja supaya nggak terlalu lama menunggu. Gue yakin akan ramai banget. Bukan hanya karena ini Red Velvet, tapi karena ini konser gratisan. Nggak akan ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menonton Red Velvet tampil di atas panggung, menyanyikan lagu-lagu hits mereka, tanpa dipungut biaya.

Tapi Ron adalah Ron. Tingkat kemagerannya melebihi kepercayaan dirinya dan kepastian soal masa depannya.

Gue selalu membayangkan seperti apa nonton konser di Bangkok. Kata temen-temen gue yang sudah sunbaenim untuk urusan konser-konser Kpop di Bangkok, kota ini adalah salah satu yang paling seru dan heboh. Yang gue lihat dari fancam-fancam dari dulu juga kayak gitu. Selalu ada sesuatu yang seru dan kadang bikin iri soal konser Kpop di Bangkok. Gue sendiri nggak pernah nonton EXO di sini. Atau grup apapun. Karena saking serunya konser di Bangkok, seringkali tiketnya juga susah didapatkan kalau dibandingkan dengan tiket di Malaysia dan Singapura. Tapi ini sebenarnya asumsi gue doang karena gue sendiri belum pernah mencoba ticketing online untuk konser di Bangkok. Tapi pas di Malaysia dan Singapura, gue pernah beli tiket EXO dan gue dapat. Makanya gue bilang ticketing di dua negara itu nggak terlalu susah. Malah kata gue lebih convenient daripada sistem ticketing di Indonesia yang servernya selalu lemah. Benci banget sih sama ticketing Westlife kemarin. Sucks abis.

Ketika akhirnya gue dapat kesempatan nonton konser di Thailand, gue pun nggak sabar untuk berada di antara penonton yang katanya seru itu. Penonton yang katanya heboh itu. Gue nggak sabar mau teriak dan seru-seruan sama mereka meski gue nggak kenal mereka. Gue nggak sabar mau menggila dengan baju Pikachu yang sudah gue bawa dari Jakarta ini.

Ya, tapi, itu hanya imajinasi gue. Karena ternyata penonton yang ada di sekitar gue sama sekali nggak seru. Diem semua kayak lagi dengerin ceramah ustad di pengajian. Nggak ada yang nyanyi sama sekali bahkan ketika IU lagi nyanyi lagu paling populer yang pernah dia rilis.

APA APAAN INI?! 

Sebelum lanjut, baca dulu:

Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat
Bangkok Bagian 2: Selamat Datang di Sukhumvit

Bangkok Bagian 3: City Tour Si Pemalas yang Kesepian
 

Walaupun gue anaknya sangat suka menyendiri, tapi gue paling benci dengan perasaan-perasaan kesepian dan seperti nggak punya siapa-siapa di dunia ini.

Ketika menyendiri bukan berarti lo kesepian. Memilih menyendiri biasanya ada alasannya. Mungkin lo ingin berpikir. Dalam kasus gue seringkali karena gue merasa lelah harus berkomunikasi dengan orang-orang atau berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Gue pernah nonton video YouTube soal Introverted Person, hal ini wajar terjadi karena sebenarnya orang introvert itu nggak selalu 100% nggak suka bergaul. Mereka hanya kadang-kadang butuh waktu untuk re-charged tenaga mereka dengan diam dan menyendiri. Karena terlalu banyak berkomunikasi dan berinteraksi bisa melelahkan buat mereka. Itulah yang sering gue rasakan.

Perasaan-perasaan kesepian dan merasa nggak punya siapa-siapa ini totally nggak sehat karena bisa memicu perasaan-perasaan lain seperti merasa tidak berharga atau nggak diinginkan dalam pergaulan misalnya. Perasaan-perasaan seperti ini bisa berujung depresi. Ini adalah tanda-tanda depresi buat yang belum tahu. Begitu yang gue baca di Kompas beberapa minggu yang lalu. Tapi sialnya, gue sering merasa seperti itu. Perjalanan ke Bangkok itu adalah salah satunya.

You see, this should be a fun trip. ONCE AGAIN! Tapi gue terkadang nggak bisa mengatur pikiran gue sendiri. Harusnya sore itu gue menikmati kesendirian di Siam Square dengan memperhatikan orang-orang, melihat interaksi antara anak-anak dengan orangtua mereka, berdiri diam di tengah plaza hanya untuk menjadi saksi pasangan-pasangan yang sedang mabuk asmara. Biasanya gue bisa menikmati kesendirian ini dan menggali banyak sekali inspirasi dari situ. Tapi sore itu gue merasa sangat kesepian. Gue kembali menyalahkan chat itu. Chat terkutuk itu. Chat yang harusnya nggak gue kirim. Obrolan yang seharusnya tidak terjadi.

Sebelum lanjut, baca dulu:

Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat
Bangkok Bagian 2: Selamat Datang di Sukhumvit

Gue lupa naruh sikat gigi dan odol di ransel waktu packing dan malas untuk membongkar koper setelah gue tiba di ruang kedatangan dan menuju imigrasi. Gue paling nggak suka sama rasa di mulut kalau abis terbang dan baru mendarat. Buat lo yang sering atau pernah naik pesawat dan terbang lebih dari sejam atau dua jam pasti ngerti deh maksud gue. Rasanya di mulut tuh lebih nggak enak dari bangun tidur bahkan setelah delapan jam. Biasanya di tas gue ada permen tapi kali ini beneran gue nggak nemu apapun. Mood gue masih belum balik rupanya. Gue masih shock sama mimpi yang tadi. Dengan mata yang masih kriyep-kriyep dan kesadaran masih belum seratus persen, gue berjalan gontai menuju ruang terminal kedatangan. Gue memutuskan untuk ke toilet untuk cuci muka lagi, kumur sedikit supaya mulut agak nyaman, lalu bergegas ke imigrasi yang antreannya sudah mengular. Karena gue tadi ketiduran sampai jelang mendarat, gue nggak kebagian kartu kedatangan yang harus diisi dan diserahkan ke imigrasi sebelum keluar dari Bandara. Gue bengong agak lama memperhatikan orang-orang yang juga sama kayak gue, belum punya kartu, untuk tahu mereka akan menuju ke mana dan minta kartunya ke siapa. Gue lagi nggak mood buat bertanya-tanya sama siapapun soal kartu ini jadi gue hanya bisa mengamati dan memperhatikan saja. Ada satu ibu-ibu yang jalan menghampiri seorang perempuan muda berambut pendek dan berseragam, oh pastilah mbak-mbak ini yang megang kartunya.

Sebelum lanjut baca dulu Bangkok Bagian 1: Mimpi Buruk di Pesawat; klik di sini.

“Can I have two?” kata gue dalam Bahasa Inggris. Mbaknya ngasih dua. Gue sengaja minta dua karena gue tahu pasti yang pertama akan ada kesalahan dalam pengisian. Karena seringkali kejadian kayak gitu jadi gue sudah mengantisipasinya daripada bolak balik minta. Mana lagi gue sedang tidak dalam kondisi mental yang stabil hahahaha dan bener aja, ketika gue melakukan pengisian form pertama ada kesalahan yang gue buat di nama gue sendiri. DI NAMA GUE SENDIRI. Gak paham lagi deh. Setelah mengulang pengisian, gue buru-buru antre dan menuju ke imigrasi. Bersyukur banget keluar imigrasi di negara-negara ASEAN enggak terlalu intimidatif. Beda sama UK atau US. Ngeri banget deh feel-nya beneran kayak tertekan banget. Jarang banget ada petugas imigrasi yang bener-bener ngajakin ngobrol gitu. Tapi terakhir gue ke Korea, gue nemu mbak-mbak petugas imigrasi yang kayaknya suka Kpop juga. Soalnya waktu itu dia nyuruh gue buat ngelepas case paspor gue yang di dalamnya terselip satu tiket konser EXO dan banyak sekali stiker karakter EXO dari album EX’ACT yang gue dapat dari Andi.

“You like Kpop?” dia nanya kayak gitu dalam proses gue nempelin sidik jari.

“Yes. That sticker is EXO,” gue tembak aja, in case she is wondering.

“You like EXO?” dia nanya lagi.

“A lot,” jawab gue.

Cuti gue 0. Kok bisa?

“Seinget gue tahun ini gue udah spare beberapa hari supaya Februari 2019 gue bisa ambil cuti buat ke Korea lagi. Kok ini sekarang 0?” Gue membatin sambil memandang layar laptop kantor yang sengaja gue nggak kasih nama supaya nggak nyaman dan nggak baper kalau nanti pisah. Semua barang-barang pribadi gue kasih nama. Laptop gue namanya Junmin dan sekarang udah nggak ada gunanya kalau dibawa ke kantor karena nggak akan bisa dipakai kerja. Kantor gue membatasi akses internet buat laptop kantor aja, laptop pribadi nggak akan bisa terhubung ke jaringan. Pernah gue punya laptop di kantor gue yang sebelumnya dan gue kasih nama Leonardo disingkat Leo. Pas kita pisah gue baper. Untung nggak sampai nangis sih.

Layar laptop kantor masih gue pandangin sambil mikir. Apa memang cuti gue sudah habis dan gue salah perhitungan? Sialnya memang gue nggak nge-track sisa cuti gue sendiri sih. Biasanya orang-orang akan mengkopi surat cuti mereka supaya mereka bisa menghitung sendiri berapa sisa yang mereka punya. Sementara gue hanya mengandalkan ingatan gue yang kadang-kadang untuk hal seperti ini nggak ada gunanya.

“Mungkin lo pernah unpaid tapi keitung cuti kali pas dulu lo pulang Lebaran atau apa gitu? Mungkin peraturannya kalau cuti masih sisa, nggak boleh unpaid,” kata salah satu teman gue yang duduknya beberapa kursi di sebelah gue.

Harusnya peraturan itu dijelasin dari awal dong. Gue membatin lagi. Atau sebenarnya mungkin sudah dijelasin tapi gue yang nggak denger? Gue nggak tahu juga.

Gue coba mengingat-ingat kapan saja gue ngambil cuti sepanjang 2018. Yang bisa gue ingat hanya beberapa hari cuti di bulan Mei waktu gue harus pulang untuk memperpanjang SIM dan ngurus pelat motor. Juni pas Lebaran dan Agustus waktu Lombok kena gempa. Tapi di antara beberapa hari cuti itu juga ada yang unpaid. Jadi harusnya masih ada sisa beberapa hari dan nggak mungkin sampai nol gini. Mungkin apa yang dibilang sama temen gue itu bener. Mungkin waktu itu unpaid leave gue keitung cuti juga. Jadinya nggak ada sisa sama sekali sekarag. Hmmm... Kalau Desember ini aja udah nol, itu berarti gue nggak akan punya spare cuti untuk dibawa ke Februari tahun depan. Itu berarti rencana ke Seoul....

Tiba-tiba gue merasa pening. Kepala bagian kanan gue agak nyut-nyutan.

Please, not again!
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Hey, It's Me!



kpop blogger, kpop podcaster, social media enthusiast, himself


Author's Pick

Bucin Usia 30

Satu hal yang gue sadari belakangan ini seiring dengan pertambahan usia adalah kenyataan bahwa gue mulai merasakan perasaan-perasaan yang ng...

More from My Life Stories

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • The EXhOrizon Saga: PART 1 - Ticketmaster
  • ►  2025 (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2024 (5)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (4)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2022 (12)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (2)
  • ►  2021 (16)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2020 (49)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (20)
    • ►  Juni (4)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2019 (22)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2018 (23)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (20)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (36)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (5)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (9)
  • ►  2015 (44)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (6)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (9)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2014 (34)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2013 (48)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (6)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (8)
    • ►  April (4)
    • ►  Maret (4)
    • ►  Februari (5)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2012 (98)
    • ►  Desember (7)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (10)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (19)
    • ►  Februari (12)
    • ►  Januari (9)
  • ►  2011 (101)
    • ►  Desember (6)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (10)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (7)
    • ►  April (9)
    • ►  Maret (25)
    • ►  Februari (13)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2010 (53)
    • ►  Desember (14)
    • ►  November (17)
    • ►  Oktober (5)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (7)

Podcast ngedrakor!

Podcast KEKOREAAN

#ISTANEXO

My Readers Love These

  • EXO MAMA MV: Review Saya! [PART 2]
  • Do We Have to Miss Kris?
  • Are You Ready for Your SM Global Audition Jakarta?
  • Girls' Generation: "I Got A Boy" Music Video Review Saya!
  • EXO: 'Call Me Baby' Music Video Review
@ronzzyyy | EXO-L banner background courtesy of NASA. Diberdayakan oleh Blogger.

Smellker

Instagram

ronisnowhere

Black-and-White-Minimalist-Coming-Soon-Instagram-Post-2

I Support IU!

Copyright © 2015 kaoskakibau.com - by ron. Designed by OddThemes