Reunion Organizer

Belakangan ini lagi heboh banget temen-temen gue yang mau reuni dan kumpul-kumpul. Mungkin karena lagi moment puasa. Beberapa dari mereka memang ada yang bener-bener kangen karena nggak pernah ketemu dan jarang ketemu, tapi ada beberapa juga yang sepertinya males-malesan dan nggak interest dengan acara macem itu. Sejak lulus SMP, entah kenapa gue adalah orang yang paling menghargai pertemuan dengan orang-orang lama yang berkesan. Termasuk juga temen-temen SMP gue itu. Sejak tahun 2005, baru aja beberapa bulan setelah lulus-lulusan, gue udah minta buat kumpul. Beberapa bulan kemudian, gue minta kumpul lagi pas lebaran, sampai akhirnya sekarang setiap anak-anak mau bikin acara buat kumpul-kumpul, mereka jadi mengandalkan gue sebagai EO-nya.

Sebenarnya kumpul-kumpul dan juga reuni itu nggak boleh terlalu sering diadakan, karena akan membawa dampak kebosanan dan juga kelelahan, terutama gue sebagai orang yang paling heboh di antara semuanya. Gue yang paling heboh ngajak temen-temen kumpul, gue yang paling heboh kirim dan nyebar-nyebarin SMS (dengan bantuan beberapa orang teman tentunya), dan gue yang paling heboh ketika ketemu. Well, setidaknya dulu gue seperti itu. Tapi waktu buka puasa bareng sama anak-anak IXIes kemaren, rasanya kok gue nggak ada heboh-hebohnya ya?

Gue nggak tahu kenapa. Tapi kalau dari sudut pandang gue, kehebohan gue menghilang dikarenakan perubahan drastis dari anak-anak itu. Bukan mata mereka yang dulunya dua berubah jadi tiga plus mirip mata kodok ataupun tangan mereka jadi enam kayak alien, bukan. Bukan dari perubahan fisik yang gue perhatiin (karena dari dulu gue selalu bermasalah dengan fisik alias pendek dan nggak bisa tinggi, kurus dan nggak bisa gemuk) tapi perubahan dari gaya hidup, sikap dan juga pembawaan. Tapi ternyata nggak cuma mereka yang berubah, tapi gue juga...

Gue inget banget, dulu waktu satu tahun setelah kita lulus SMP, gue bikin acara kumpul-kumpul di rumah salah seorang temen gue yang namanya Ela Noviana (Mahasiswi FK UNRAM 09). Waktu itu jarang banget anak-anak pada mau diajak kumpul. Beberapa di antara mereka bahkan beralasan macam-macam. Ini yang bikin gue males banget. Kebanyakan yang dateng cuma temen-temen gue yang cowok yang setiap kali kumpul selalu berpartisipasi. Yang lain? Entahlah...

Temen baik gue, seorang cewek bernama Viya Tris Wardhani berniat buat datang hari itu, tapi dia bilang dia nggak ada kendaraan buat dateng.

"Beneran Ron, saya mau dateng. Tapi saya ndak ada motor."

"Kalau gitu saya jemput aja ya?"

"Beneran?"

"Iya.."

Akhirnya karena gue nggak mau acara itu garing tanpa orang gila seperti Viya, gue jemputlah dia ke rumahnya di daerah Pagutan sana. Sepanjang perjalanan Viya selalu bisa bikin ketawa karena dia seperti MoodMaker buat semua orang. Viya adalah orang yang lucu, apa adanya, konyol, kocak. Gue suka banget sama kepribadian dia. Walaupun selama ini dia nggak pernah bisa memercayakan sesuatu ke gue karena gue memang jarang bergaul sama dia. Atau mungkin kata yang tepat, gue nggak selevel sama dia. *Cuih!* *Kabor!*

Sesampainya gue di rumah Ela, gue nyuruh Viya turun dari motor dengan menendang punggungnya keras-keras... (Bodoh. Mana bisa! Yang ada juga dia yang nendang punggung gue, secara gue yang bawa motor!)

"Saya pergi dulu."

"Loh? Kamu mau kemana lagi?"

"Sebenernya saya sudah janji mau jemput Jamil. Tapi saya ndak mau kamu ndak dateng, jadinya saya jemput kamu dulu."

"Ya Allah Ron... Kamu mau ke Batu Dawe sekarang? Kejauhnya dari sini!"

"Arooo... biarin dah. Biar rame temen-temen kita. Saya pergi dulu."

Ya...
Itulah gue. Dari dulu nggak pernah sekalipun kepikiran buat keberatan kalau masalah membantu teman. Rumah Viya dan rumah Ela itu jaraknya sekitar sepuluh sampai lima belas kilometer, sedangkan rumah Ela ke rumah Jamil kira-kira tujuh belas kilometer lah. Dan maafin gue kalau perhitungan gue ini salah karena jujur ini cuma asal. Yang jelas, jarak rumah Viya ke rumah Ela lebih pendek sedikit daripada jarak rumah Jamil ke rumah Ela. So thats...

Berangkatlah gue menjemput Jamil. Sebisa mungkin gue usahakan dia datang supaya acara kumpul-kumpul jadi rame. Setelah menjemput Jamil, kembalilah ke rumah Ela dan acara berjalan sebagaimana biasa. Ketawa-ketawa, becanda-becanda, lucu-lucuan... Viya dengan sifatnya yang nggak peduli, diapain aja boleh, Jamil yang sebenarnya pendiam tapi kalau becanda jahatnya keluar, dan anak-anak yang lain yang saling menimpali becandaan satu sama lain.

Dulu... itu sekitar tiga tahun atau empat tahun yang lalu...

Kumpul-kumpul pas buka puasa kemarin, sekali lagi gue yang jadi EO-nya. Gue yang mengatur bagaimana teknisnya (dibantu sama Aank dan Ryo juga siih :p) dan gue yang menyebarkan SMS ke semua temen-temen SMP. Hampir 38 orang nama di absen itu ada di ponsel gue. Dan hampir semuanya gue SMS. Cuma yang dateng sedikit. Jauh dari harapan. Banyak yang nggak bisa... banyak yang nggak ada kabar. Tapi toh makan-makan buka puasa kita jalan juga...

Ada hal yang sangat berbeda yang gue rasakan malam itu. Anak-anak sudah berubah banyak. Ada banyak topik pembicaraan yang mereka bicarakan yang gue coba cerna, tapi gue nggak ngerti. Gue nggak bisa nangkep dan nggak masuk ke otak. Masalah musik misalnya, terus masalah cewek, dan beberapa becandaan yang gue coba buat ikutan ketawa cuma jadi kaku dan garing... Kok bisa ya? Nggak ngerti juga... Tapi mereka benar-benar sudah banyak berubah. Nggak sama dengan waktu kita SMP dulu. Mereka lebih dewasa, terbuka, berbeda.

Hmmm...

Kalau bisa memilih sih, gue lebih suka berada di antara mereka yang dulu aja. Lebih nyaman dan ngangenin. Mereka yang sekarang kok kayaknya gue ngerasa jadi ALIEN kalau diantara mereka ya? Atau itu cuma perasaan gue aja? Hmmm... Kayaknya begitu... Cuma perasaan gue aja.

Minggu 5 September nanti gue sekali lagi membuat acara reuni makan buka puasa bareng sama temen-temen SD. Semoga semua bisa dateng (walaupun nggak mungkin). Iya nggak bakalan semua. Beberapa anak ada yang lagi di luar kota, ada yang punya acara lain, ada yang kerja... Hmmm... Kenapa kok rasanya cuma gue yang bisa dateng di setiap moment dan event ya? *YAIYALAH! LO YANG BIKIN ACARA!*

Gue emang nggak pernah ikut sebuah organisasi besar dan menyusun acara yang besar. Tapi acara pribadi dan lokal kayak gini aja udah kewalahan... Tapi setidaknya bisa gue jadikan pengalaman untuk suatu saat nanti KALAU KALAU gue ikut organisasi (masih kalau-kalau yaaaa)....

Share:

1 komentar