Semester 7 [PART 12]: Si KuPer di SMP

Sudah menjadi keinginan semua manusia untuk bisa diterima kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka tinggal, menetap, atau bersosialisasi. Semua orang pasti ingin merasa nyaman dan bisa hidup tenang, tentunya. Siapa sih yang nggak pengen punya banyak temen, kan? Tapi... nggak semua orang bisa kayak gini. Maksudnya, sangat bisa dengan mudah bersosialisasi dan beradaptasi cepat dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu orang itu adalah gue.

Gue dengan bangga menyebut diri gue si kuper, karena pada kenyataannya, gue adalah orang yang sangat kuper. Buat yang belom tau kuper itu apa, bisa lah gue kasi penjelasan dikit ya: KuPer adalah singkatan dari Kurang Pergaulan. Bukan singkatan dari Kumis Perjaka atau Kupu-kupu Perawan, bukan. Kuper ini adalah istilah buat orang yang hmmmm nggak punya banyak temen, canggung ketika menghadapi komunitas dan sosial, dan.... sedikit 'aneh'.

Gue menyebut diri gue kuper karena banyak hal. Yang pertama karena pergaulan gue sangat sempit. Gue pribadi sih sebenarnya bukan orang yang nggak suka bergaul, bukan. Gue seneng banget bergaul. Bergaul itu bisa dibilang adalah salah satu agenda harian yang nggak bisa lepas dari kehidupan gue. Contoh nyata adalah bergaul dengan laptop dan handphone. Kami bertiga adalah sahabat sejati layaknya Coboy Junior dengan tiga member. Kami sangat bahagia sekali ketika sudah bersama. Ini cukuplah membuktikan kalo gue bukan orang yang tidak suka bergaul. Nah, gue orangnya emang agak mager aja. Oke bukan agak, MAGER BANGET.

Alasan kedua kenapa gue menyebut diri gue kuper adalah lebih karena gue agak jarang menemukan orang-orang yang punya hobi, kesukaan, sifat yang sama: sama sama kuper. Hahaha... Sudah jadi bawaan orok gue ini orang yang 'anti-mainstream'. Ketika anak-anak main bola, gue nggak bisa main bola bisanya main bola bekel. Disaat anak-anak main layangan, gue nggak bisa main layangan bisanya main karet. Disaat anak-anak sangat hobi menonton Smack Down, gue hobinya nonton telenovela. Inilah mungkin yang membuat gue jadi kuper.

Waktu SD, gue lupa lupa inget apakah gue punya banyak temen atau nggak. Tapi gue inget gue punya banyak musuh. Nggak tahu kenapa ya, gue juga agak-agak heran sama orang-orang waktu itu, apakah muka imut unyu ulzzang gue ini terlalu membahana sehingga setiap orang yang gue temui pasti aja berusaha untuk menjatuhkan martabat gue di depan umum? Gue nggak ngerti. Tapi gue lumayan kagum dengan bagaimana orang menyebarkan berita dan informasi satu sama lain jaman itu ketika media sosial bahkan belum populer. Salah satu berita dan informasi yang mereka sebarkan itu adalah bahwa Ron adalah anak yang pantas untuk disakiti. Ah sedih. Lebih sedih lagi ketika lo harus menghadapi segala gosip miring tentang diri lo dari SD sampai SMA. Wah bahagia ya hidup dalam bayang-bayang gosip. Gue bakat banget jadi selebriti. Tolong abaikan saja bagian ini.

Terlalu banyak rumor yang mengelilingi hidup gue membuat gue jadi mager. Males gerak buat melakukan satu hal yang disebut dengan bersosialisasi atau mencari teman. Dalam pikiran gue, 'Ah pasti dia juga udah denger gosip gosip murahan itu. Pasti ujung-ujungnya gue di jelek-jelekin juga' Pikiran ini merusak keinginan untuk mencari banyak teman. Tapi, Alhamdulillah Ya Allah~! Takdir itu memang selalu tidak bisa ditebak-tebak. Dalam kondisi gue yang seperti itu, Tuhan selalu memberi kemudahan. Hihihi... 

Sumber Foto
Gue inget betapa canggung-nya gue pas masuk SMP dulu. Temen-temen akrab gue pas SD nggak ada satupun yang sekelas sama gue di 'kelas sementara' sedangkan yang lain ada. Mereka paling nggak punya temen ngobrol ketika masuk kelas atau ketika berangkat ke sekolah dan upacara ospek. Sementara gue.... SMP adalah sebuah hal baru yang benar-benar baru. Sampai akhirnya ketika upacara ospek hari pertama, gue berdiri di barisan paling depan (YOU KNOW WHAT THE REASON IS LAH YA WHY I ALWAYS STAND IN FRONT ROW--KESEL BANGET) dan gue mendengar salah seorang entah siapa memanggil nama seseorang yang sedang berdiri di tengah lapangan upacara.

'Wait! I know that guy!' dalem hati gue teriak begitu. 

Anak itu sedang berdiri di tengah lapangan upacara bukan karena dia sedang di hukum, bukan, tapi karena dia menjadi pemimpin upacara saat itu. Dalem hati gue 'Gila keren banget sih, baru lulus SD, udah jadi pemimpin upacara di SMP. Coba jelasin ini baru hari keberapa? HARI PERTAMA. Ini anak pasti oke banget pergaulannya!' Gue iri banget sama dia waktu itu. Dari situ gue udah tau dia pasti tipe-tipe anak gaul.

Pujian-pujian ke anak itu terus muncul sementara di sisi lain gue yakin gue kenal anak itu. Gue mencoba untuk berpikir keras, dimana gue pernah liat si anak laki-laki ini ya.... hmmmm... di masa lalu, ya gue inget banget di masa lalu. Tapi dimana? 

Saat itu tiba-tiba aja gue inget telenovela 'Petualangan Amigos' yang bisa kemana-mana pake mesin waktu. Dan entah darimana gue kemudian inget kalau anak laki-laki yang tadi itu, yang keren banget yang jadi pemimpin upacara itu, adalah temen TK gue. Yeah, disaat seperti itu ingatan ajaib gue tiba-tiba saja bekerja. Gue inget anak itu, namanya Aank. Gue nggak inget nama aslinya tapi gue inget nama panggilannya Aank.

Hari pertama ospek SMP tentu saja pembagian kelas dong. Dan inilah yang paling gue khawatirkan sebenarnya. Gue takut. Dikelas nanti gue ketemu sama anak-anak yang mental penjajah. Gue takut gue ketemu sama orang-orang yang nggak bisa menerima gue. Gue takut ketemu sama orang-orang baru. Tapi saat itu gue mikir juga, gue nggak pengen kembali ke masa-masa SD dan ketemu sama orang-orang mental penjajah itu juga.

Jadi gue nggak punya pilihan.

Gue duduk di depan ruang TU SMP gue waktu itu menunggu nama gue dipanggil dan ditempatkan di kelas mana. Lumayan lama sih dipanggilnya karena mungkin gue tidak beruntung untuk ditempatkan di kelas-kelas abjad awal (yang gosipnya biasanya kelas favorit dan berisi anak-anak nilai tinggi ada di kelas abjad awal). Tapi ketika kelas 1-I disebut, gue nggak perlu waktu lama untuk menunggu nama gue dipanggil karena nama depan gue berawal huruf A. Yah... akhirnya masuk kelas. Dan WAH tambah deg-degan. Kira-kira bakalan dapet temen gak ya. Kira-kira ada orang baik nggak ya. Kira-kira gue bakalan diterima gak ya di komunitas baru ini.

Gue masuk ke kelas yang kosong karena memang yang lain namanya belom dipanggil. Dan disanalah gue merasa seperti mendapatkan sebuah keajaiban. WOW WOW WOW. Si pemimpin upacara itu masuk ke kelas gue dan WOW WOW WOW ternyata dia adalah salah satu anak kelas gue juga. Percakapan awkward-pun dimulai.

'Eh kamu Aank ya?' Gue bertanya sangat yakin sekali kalo itu nama dia. Tanpa pernah berpikir dia bisa aja bilang 'Maaf kamu salah orang, coba lagi tahun depan!' atau 'Aank? Siapa tuh? Saya bukan Aank. Saya Tom Cruise.' Tapi hari itu gue yakin nama dia Aank.

'Iya, kok tahu?!'

EUREKA! Rasanya bangga gitu gue bisa tahu nama orang padahal ini pertama kalinya kita ketemu setelah lama berpisah. Bangga gitu akhirnya punya temen anak gaul. Rasanya bangga gitu gue saat itu bisa kenal sama orang baru walaupun nggak sepenuhnya baru sih karena dia salah satu list temen lama. Tapi seneng aja.

'Tahu lah!' jawaban ini terkesan bahwa Aank ini mungkin adalah mantan penyanyi cilik seangkatan Tina Toon. 'Kamu nggak inget saya?!' (notice: di Mataram-Lombok, bahasa sehari-harinya adalah Saya-Kamu, bukan Lo-Gue. Orang yang pake Lo-Gue di Mataram-Lombok pada saat itu--bahkan sekarang--adalah orang alay dan dianggap sok Jakarta. Kenapa gue sekarang ngomongnya Lo-Gue? Ya salahkan saja Jakarta-Depok.)

Aank diem sebentar. Agak lama sebenernya.

'Kamu nggak inget saya?!' gue mengulangi dengan nada bicara yang sama. Gue bertanya seakan-akan gue ini lebih terkenal dari Tina Toon. Ngapain juga Aank harus inget sama gue. Pernah berjasa apa gue ke dia sampai dia harus inget gue? Mungkin begitu pikir Aank.

'Siapa ya?'

SEDIH. Yah... apa sih yang orang inget dari Ron yang jadi bahan omongan hampir satu sekolah. Omongan jelek. Pikir gue saat itu.

'Kamu Aank kan?' kata gue lagi. Dia manggut-manggut. 'Masa nggak inget saya?' Dia geleng-geleng. Udah kayak boneka anjing di dashboard mobil. 'Saya temen TK kamu loh!'

Gue nggak yakin ada orang yang masih inget jaman TK ya sementara itu sudah seperti berjuta-juta tahun yang lalu. Tapi gue jujur aja nih sampai sekarang justru masih sangat inget sama temen-temen TK gue. Beberapa dari kami bahkan dipertemukan lagi di SMA.

'Temen TK ya? Aduh saya lupa.' jawab Aank. Itulah pertama kalinya Ron merasakan patah hati...

'Yaudah kenalan lagi, saya Yusron. Well, oke, dulu saya dipanggil Yus. Macem penyanyi dangdut Yus Yunus yang nyanyi Sapu Tangan Merah, tapi sekarang saya akan sangat senang kalo kamu mau manggil saya Ron aja.' gue memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Iyalah kalo mengulurkan lidah disangka gue maniak baru ketemu udah minta french kiss. Ke cowok. Dan, itu menjulurkan, Ron, bukan mengulurkan.

Gue dan Aank langsung ciuman. Eh salah, salaman. Jangan berpikir terjadi getaran-getaran listrik ketika tangan kami berjabatan tangan, kami bukan X-Men yang tiba-tiba berasa sama sama mutant jadi ada tanda tanda aneh gitu. Gue langsung menjelaskan ke Aank bagaimana gue bisa inget sama dia, bagaimana kita bisa kenal, siapa gue, siapa orang tua gue, siapa kakek dan nenek gue, siapa sebenarnya Pangeran Diponegoro itu dan kenapa Harry Potter punya bekas luka di dahi.

'Masa sih kita TK bareng?' tanya Aank ketika gue berhasil mempengaruhi dia buat duduk bareng gue di bangku paling depan (ANOTHER SHORT GUY PROBLEM IS THEY CAN'T SIT IN THE BACK SIDE OF THE CLASS BECAUSE THEY CAN'T SEE ANYTHING BESIDE PUNGGUNG).

'Iya Ank, dulu kita sekelas pas TK. YPRU kan? Inget gak?'

'Kalo YPRU inget. Emang dulu saya TK disitu.'

'Nah saya juga! Saya inget loh waktu itu saya pernah iri sama kamu karena kamu dianterin sama bapak kamu ke sekolah pake jas ujan karena waktu itu ujan dan saya nggak punya jas ujan kayak kamu.'

'Masa sih?'

'Trus kamu inget nggak dulu kita pernah rekaman bareng di RRI pas itu kita rekaman baca puisi di acara siaran buat anak-anak TK gitu! Puisinya tentang Tuhan Tuhan gitu.'

'Masa sih?'

'Trus kamu inget gak episode Betty La Fea yang waktu itu Armando terpaksa harus menyerahkan Ecomoda ke tangan Betty?'

Si Aank tambah bingung.

'Nggak inget sama sekali. Tapi dari cerita kamu sih saya yakin kamu nggak bohong.'

Dan sejak itulah gue akhirnya punya temen baru.

Gue jadi inget, karena buruknya pergaulan dan buruknya cara orang memperlakukan gue ketika gue SD membuat gue selalu ingin mencari dan mencari kehidupan yang lebih baik dan layak bagi kemanusiaan. Gue selalu pengen keluar dari jeratan lubang hitam itu dan masuk ke dunia dimana orang nggak kenal sama gue dan gue bisa kenalan dengan mereka dari 0. Dan ketika gue kenalan (lagi) sama Aank waktu itu, gue merasa keinginan gue itu terkabul.

Beberapa anak masuk ke kelas waktu itu dan semua saling kenalan satu sama lain. Aank ternyata orang yang sangat populer. Dia berasal dari sebuah SD negeri yang nggak jauh dari SMP ini dan jadi SD favorit seluruh Mataram. Gue nggak ngerti kenapa SD itu bisa favorit sih, tapi ya begitulah. Dia sekolah di SD 7 dan gue sekolah di SD 8 (sebelum SD 7, SD itu bernama SD 4 dan SD gue SD 5).

'Jadi sebenarnya SD kita ini kakak adek, Ank...' kata gue dan Aank langsung pergi nyari temennya buat ngobrol.

Beberapa orang di kelas itu sudah saling kenal dan Aank adalah salah satu dari sedikit orang yang mengenal banyak orang di sana. Ada banyak temen SD-nya yang masuk kelas yang sama dengan gue di kelas I itu. Dan diantara banyak orang itu, hanya gue yang kayaknya benar-benar asing dengan dunia.

Gue berusaha buat survive disana, di kelas itu. Apapun yang terjadi gue harus survive. Pikir gue. Walaupun dunia menghalangi, yang jelas gue harus survive! Gue mulai berkenalan dengan beberapa orang. Yang terdekat adalah mereka yang duduk di belakang gue. Yang satu namanya Ipung (dan dulu dia mengeja namanya dengan IPOENK nggak tahu deh sekarang masih atau nggak karena biasanya hal-hal yang WOW di masa lalu sekarang jadi ALAY. Gue jadi inget salah seorang senior di SMP gue namanya ARI dan dia menulis 41213 di baju kelasnya. See? Setiap orang punya masa-masa alay sendiri sendiri). Di sebelah Ipung ada Ari (bukan Ari yang gue jelaskan sebelumnya) dan sejak saat itulah kami selalu berempat. Kemana-mana berempat. Kelompok apa berempat. Ke kantin berempat. Tapi kami nggak pernah nyoba masuk toilet yang sama berempat sih. Selain sempit, jijik juga.

Satu persatu gue mengenal anak-anak di kelas itu dengan baik. Banyak dari kami kemudian menjadi dekat walaupun tidakdi tahun pertama. Gue nggak bilang kalau gue populer di kelas itu dan nggak bilang kalau gue cukup pintar di kelas itu, tapi apalah artinya kepintaran kalo nggak punya temen juag kan. Dan dengan kemampuan yang biasa-biasa inilah gue kemudian mengenal satu per satu dari mereka. 

Satu hal sampai sekarang yang sangat gue syukuri ketika takdir menempatkan gue di kelas itu adalah bahwa (semoga) semua anak-anak itu menerima gue dengan segala hal yang ada di diri gue. Berikut segala rumor yang mengikutinya. Ya, gue sih yakin, pasti mereka pernah membicarakan soal itu satu atau dua kali, tetapi, yah... hidup tanpa gosip dan ngomongin orang apa enaknya sih? Gue juga sering ngomongin orang bahkan ngomongin orang yang ada di sebelah kiri gue gue dengan orang yang duduk di sebelah kanan gue. Wajar. Itulah hidup. Tapi kemudian gue sadar, dan sekarang gue sadar, apa yang orang katakan tentang gue sejelek apapun itu, ketika gue nggak peduli sedikitpun maka itu jadi nggak berarti. Dan secara nggak langsung pikiran seperti ini membuat gue jadi lebih berani dan lebih kuat.

Aank () adalah awal dari segala hubungan pertemanan di kelas itu. Gue kemudian kenal dengan beberapa anak lainnya dan jadi dekat satu sama lain. Sampai saat ini, teman-teman SMP gue adalah teman-teman yang paling istimewa. Bahkan sampai saat ini, gue merasa lebih dekat dengan mereka ketimbang dengan alumni kelas gue di SMA. Pengecualian terhadap mereka yang baik-baik di SMA ya. Kalo yang bangke yaudah kelaut aja. Tapi emang, sampai sekarang temen-temen SMP ini tetap jadi yang terbaik.

Abang gue pernah bilang, 'Jaman SMA adalah masa-masa dimana kamu nggak akan lupa sepanjang hidup kamu, teman-teman itu jadi temen selamanya'. Gue setuju, dan juga tidak setuju. Kalo mau membandingkan masa-masa indah, gue lebih prefer SMP. Ya gimana lo mau anggep jaman SMA itu masa indah kalo day by day lo hanya menerima caci maki dan apa itu namanya kalo di infotainment, duh gue kok lupa sih, pencorengan nama baik? Ya itulah. Tapi ya biarlah itu jadi bagian hidup yang memberikan banyak pelajaran. Poin gue adalah, bahwa setiap orang punya pilihan dan pendapat sendiri terhadap satu hal, dalam hal ini adalah 'masa-masa terindah sepanjang sekolah yang pernah kamu alami'. Gue nggak meminta untuk semua orang mengerti dan memaklumi dan mungkin menghargai pilihan gue, tapi apa salah kalau ketika kita sudah berbuat baik ke orang dan kita berharap timbal balik?

Gue inget ketika kami berada di akhir tahun kelas 3 dan gue memberi nama kelas itu dengan sebutan ixies (berasal dari IX romawi huruf i dan imbuhan es) gue pernah menulis sebuah--apa ya nyebutnya? surat cengeng? hahaha--di tiga lembar kertas binder yang gue dapatkan dari majalah BoBo. Isinya semacem curhatan pribadi dan harapan agar semoga 40 orang yang ada di kelas itu (walaupun hanya 38 yang tersisa di kelas 3 karena 2 orang harus pindah) tetap inget satu sama lain sampai kapanpun. Gue emang menyenye dari jaman dulu kayaknya. SOK DRAMA. Gue inget bagaimana gue sangat kagum dengan masing-masing dari mereka dan berterima kasih atas segala hal yang kita lalui bersama. #batuk

Gak tahu kenapa gue yakin temen-temen SMP gue itu di masa depan nanti akan jadi orang hebat. Salah satunya mungkin bisa jadi presiden. Aank misalnya. Satu dari banyak orang keren yang pernah gue temui dalam hidup gue. Satu dari sedikit temen yang pernah gue punya. Ketua OSIS SMP, Ketua OSIS SMA, dan terakhir Ketua BEM FK-Universitas Mataram. Gue sedang mengerjakan sebuah proyek buku tentang blog orang sukses dan ketika melihat deretan jabatan di masa lalunya gue langsung kepikiran Aank. Anak ini akan jadi salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia nantinya. Gue jadi iri.

Sekarang kami sudah lama nggak ketemu. Gue khususnya karena yah.... kesibukan? Hahaha... Setiap tahun sebenarnya kami selalu berusaha buat mengadakan acara kumpul bersama. Biasanya setiap lebaran dan bulan puasa. Tapi tahun lalu nggak sempat karena banyak dari mereka yang lagi KKN. Next time, harus bisa lah ketemu lagi.

Setiap orang pasti ingin bisa diterima di sebuah komunitas, dan gue bersyukur 40 orang yang ada di kelas itu selalu bisa menerima gue. Semoga sih hehe.



Share:

16 komentar