Do We Have to Miss Kris?

Lebih dari satu bulan sudah sejak 15 Mei 2014. Hari yang, yah, bisa jadi hari yang nggak akan gue lupain sepanjang perjalanan gue sebagai fans EXO. Oh iya... tentu saja... Bagaimana mungkin gue bisa lupa hari libur Hari Raya Waisak 2014 itu....

Gue sedang menikmati alam mimpi berenang bersama Hyorin, tidur lelap di kasur tipis kosan gue hari itu ketika hape gue nggak berhenti bergetar di sebelah kepala. Jagat media sosial sedang heboh. Banyak mention masuk ke gue dan nyebut-nyebut sebuah nama. Sebuah kasus.

Seorang artis dari manajemen superbesar di Korea mengajukan gugatan penghentian kontrak ke manajemen. Yang lebih parah dari semua itu, grupnya adalah grup idola gue.
*

Gue jujur aja sih, dulu memang gampang banget dikomporin dan kemakan sama pemberitaan. Tapi setelah bergaul dengan banyak orang dan berbagi cerita, gue jadi lebih selektif harus percaya atau nggak sama sebuah berita. At least, sebelum manajemen mengkonfirmasi langsung berita itu.

Pagi itu gue bangunnya memang agak siang dan tahunya belakangan soal berita itu. Bahkan ketika gue sudah mulai meracau di Twitter, gue masih menganggap berita itu sebagai bahan becandaan.

"AH INI PASTI PENGALIHAN ISU NIH! BOHONG NIH! BIAR KONSER LAKU NIH!" begitu pikir gue. Gue pun hanya tertawa-tawa sepanjang pagi sampai jelang siang melihat semua tweet orang-orang di timeline.

Berbagai spekulasi bermunculan soal ini. Fanbase-fanbase nge-retweet banyak rumor dari fanbase lain. Banyak juga yang mengeluarkan pendapat pribadi mereka soal kasus ini. Tuduhan-tuduhan yang ditujukan ke SM Entertainment pun meluncur cepat, seperti biasa. Isu-isu soal kontrak, perlakuan tidak adil, dan sebagainya akan selalu mengikuti masalah lawsuit artis-artis SM.

Membaca isi timeline, gue masih memilih untuk nggak percaya. Gue masih menganggap semuanya becandaan doang. Sampai siangnya gue mutusin buat ke kantor buat dapet akses internet yang memadai, gue baca satu per satu isi timeline dengan baik. Dan......... semakin bingung.

Tapi di saat yang sama gue juga sedih. Dan marah.

Terlebih, kamis itu, EXO-K ada jadwal perform di 'M! Countdown'. Gue ke kantor buat streaming juga ngeliat mereka tampil. Mereka pun bahkan jadi juara di episode itu. Cuma... pemandangan aneh terlihat ketika Suho menerima piala sendiri.

SENDIRI. Bengong. Nggak bisa ditutupi bagaimana akward-nya kondisi itu. Dia cuma ngasi jempol terus dan terus. Di akhir bahkan dia bilang, "We are one. We are one," Mukanya bener-bener yang sedih yang bingung yang aneh.

Dari situ gue mulai sadar dan mulai yakin bahwa ini adalah masalah serius. Bukan becandaan. Bukan settingan. Ini serius. SESERIUS ITU.
*
*
Mungkin tulisan ini memang agak berlebihan. Tapi saat itu gue bener-bener ngerasa kayak ditonjok di dada sama Iron Man. Sesek banget. Gue seketika membayangkan diri gue ada di kondisi itu. Ditusuk dari belakang....

Ditusuk dari belakang oleh orang yang paling dekat.

Yang paling dekat....

Gue sempat tertidur sebelum EXO-K perform sore itu dan terdiam sesaat setelah acara selesai.

"Kok bisa Kris giniin para member? Kenapa sejahat itu?"

Oh iya.

Saat itu gue berpikir dia adalah orang yang paling jahat. Dia adalah naga tidur yang tiba-tiba bangun dan nyembur semua orang disekitarnya dengan api. Termasuk orang yang selama ini ngerawat dia selama dia tidur.

Gue, walaupun nggak ada hubungan dan urusannya sama EXO ngerasa kesel banget! Ngerasa dia jahat banget.

Pertama, dia sudah merusak kepercayaan gue sebagai fans. Nggak penting memang, tapi gue selama ini udah berusaha jadi fans loyal mereka dan.... ah..... gue jadi inget adegan-adegan di 'Reply 1994' ketika Yoonjin nangis sejadi-jadinya gegara Seo Taiji bubar.

Kurang lebih.

Kedua, dia sudah merusak kepercayaan para member EXO tentu saja. Wajar pada akhirnya jika malam itu satu per satu member meng-unfollow dia di Instagram. Walaupun feeling gue para member sudah tahu dia memang akan keluar, tapi mereka semua pasti juga nggak nyangka kalo timing keluarnya secepat itu dan saat itu.

Tentu semua merasa dikhianati. Sekedar unfollow Instagram mungkin emang nggak penting. Tapi itu salah satu cara mereka menunjukkan kekecewaan mereka. Ya gimana sih rasanya kalau elo mau nikah, terus calon lo kabur begitu aja sementara lo udah sebarin undangan?

Ketiga, entah kenapa gue ngerasa Kris terlalu egois. Dulu waktu Hangeng keluar dari SuJu, gue juga mikir hal yang sama, walaupun kasusnya nggak sama. Kalau cuma masalah betah dan nggak betah, 'Kalo yang lain bisa kenapa lo nggak?' 'Yang lain bisa bertahan kenapa lo nggak?' Apakah setidak berharga itu kebersamaan kalian selama bertahun-tahun di trainee sampai akhirnya debut sebagai grup? Nggak ada banget gitu yang membekas di hati?
*
*
Malam itu gue bener-bener meledak-ledak. Besoknya juga masih. Sampai temen kantor gue pun senewen sendiri gara-gara gue jadi ngumpat-ngumpat nggak jelas.

"YA KALO MAU KELUAR YA UDAH KELUAR AJA TAPI YA MIKIR KEK KALO LO KELUAR SIAPA YANG KEREPOTAN? SIAPA YANG KENA GETAHNYA?!"

Beberapa hari setelah itu, pemberitaan semakin panas. Semakin banyak spekulasi yang muncul mulai dari masalah kesehatan, honor, kesempatan untuk jadi aktor, aktivitas dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi gue nggak peduli. Saat itu gue nggak mau tahu. Saat itu yang gue tahu adalah dia cuma orang jahat yang udah bikin gue bete dan kesel. Terlebih dia udah ngerusak slogan EXO sendiri.

"We Are One"? PFFFFTTTTT......

Apa coba yang lebih ngenes dari slogan grup yang dirusak sama member grup itu sendiri?

Di saat yang sama juga gue merasa memang ada oknum lain yang ngomporin Kris untuk keluar dari EXO. Sama seperti Hangeng waktu itu. Dan siapapun dia, dia jahat banget. Semua oknum yang berusaha merusak ketenangan dan keharmonisan hubungan orang lain itu jahat banget.

Beberapa hari setelahnya, gue ketemu sama beberapa temen yang juga suka EXO. Semacem keluarga kecil kita. Semua sama-sama sharing soal kasus ini. Soal Kris.

Soal keinginan dia buat jadi aktor. Soal dia yang dari awal emang nggak pengen jadi boyband tapi lebih pengen jadi aktor. Soal gimana gue dulu ngerasa kris adalah orang yang paling nggak cocok banget di EXO. Soal Kris yang dulu terlihat seperti bule Kanada yang terjebak di antara cowok-cowok ber-eyeliner.

Lalu obrolan kami berujung pada masalah-masalah yang lebih rumit. Masalah politik. Masalah dua perusahaan superbesar di China dan di Korea. Semuanya terdengar seperti kisah-kisah dalam drama Korea.

Simpelnya, dua hal yang bisa gue ngerti dari obrolan sore itu dan gue rasa masuk akal:

1. Kasus Kris bukan cuma karena dia mau keluar. Tapi karena ada dukungan dari oknum yang superbesar, yang berani ngelawan SM. Siapa coba yang berani ngelawan SM kecuali dia punya nyali yang superbesar juga?

2. SM sebelumnya sudah join sama Baidu yang bertujuan untuk mengekspansi pasar di China. EXO-M adalah salah satu senjata SM untuk ekspansi itu. Cara termudah untuk setidaknya menghalaunya adalah dengan menghasut salah satu member EXO-M untuk keluar. Siapa yang paling berpengaruh? LEADER.

Dengan segala keinginannya untuk keluar dari manajemen, tentu saja.
*
*
Iya. Menurut gue itu masuk akal. Atau entah karena gue sudah males untuk mikir lagi apakah itu masuk akal atau tidak. Bisa dibilang kondisinya saat itu gue hanya mengiyakan saja. Bener atau nggak gue nggak mau terlalu ambil pusing.

Terlibat terlalu jauh di dalam fandom itu membuat lo nggak sehat. Mungkin memang membuat lo terlihat keren, tapi lo jadi gampang stres dan nggak sehat. Menurut gue sih. Dan gue menjauhi hal itu.

Beberapa minggu berlalu, muncul lagi kabar kalau dia sudah sedang dalam tahap rekrutmen main film. Oh bagus! Akhirnya tercapai kan keinginannya? Gue ikut seneng.

Beberapa minggu lagi berlalu, gue mulai lupa sama kasus ini. Atau mungkin lebih tepatnya gue udah nggak mau peduli lagi.

Sekesel apapun gue sama Kris, toh nantinya dia juga akan menerima penalti dari semua yang dilakukannya itu. Itu aja udah bikin dia cukup ribet, kenapa kita juga harus ribet dengan kesel sama dia gitu.

Gue ngomong sendiri.

Gue nggak tahu siapa Kris luar dalam. Gue juga nggak bisa bilang gue tahu bagaimana kepribadiannya dan sifatnya. Sekali lagi gue cuma sekedar fans yang tahu oh dia begini dia begitu dan itu dari depan kamera doang. Apapun yang ada di depan kamera nggak ada yang bener. Kris membuktikan itu.

Pengajuan lawsuit Kris ke SM nggak beberapa saat setelah mereka ketawa ketiwi di depan kamera. Nggak beberapa saat setelah mereka seneng-seneng di panggung comeback. Masih juga mau percaya apa yang di depan kamera itu bener?

Gue jadi ketawa sendiri. Sekaligus kagum sih sama dia.
(http://duragonfurai.livejournal.com/11510.html)
*
Bagaimana bisa dia menyimpan begitu banyak rencana di balik senyumannya itu. Di balik hal-hal bego yang dia lakukan di 'Showtime'. Di balik kata-kata lucu yang dia ucapkan. Keren ya dia? Pantes emang jadi aktor kalau kayak gitu kan.

Semua orang berhak mengambil keputusan sendiri jika mereka mau bahagia. Kris juga mengambil keputusan ini mungkin supaya dia jadi lebih bahagia. Walaupun kebahagiaannya mungkin akan membuat banyak orang sakit hati. Tapi, kenapa dia harus mikirin banyak orang dan terjebak dalam kepalsuan dan ketidakbahagiaan?

Mau sekesel apapun gue sama dia, dia tetap punya hidup sendiri. Bener kan? Dia nggak selamanya bisa hidup buat memuaskan orang lain. Dan kalau kita hidup cuma buat memuaskan orang lain, pada akhirnya kita nggak punya kehidupan.

Walaupun tujuan jadi idola emang gitu sih. Tapi kalau nggak sejalan sama kemauan dia, kenapa juga dia harus bertahan?

Keluarnya Kris dari EXO pada akhirnya akan membuat EXO jadi lebih kuat dan solid. Tentu, SM akan banyak belajar dari situ. SEHARUSNYA MEMANG BELAJAR DARI SITU. SM harusnya akan lebih berhati-hati lagi dengan 11 member yang tersisa. Dirawat baik-baik. Disayang.

SM juga akan lebih hati-hati lagi sama member asal China, bukan bermaksud gimana-gimana, tapi lebih diperhatian kesejahteraannya supaya nggak ada lagi muncul yang begini-begini. Setidaknya hati-hati dalam hal yang baik, bukan justru membuat peraturan-peraturan yang membawa mudarat buat semuanya.

Keluarnya Kris dari EXO akan membuat EXO lebih kuat dan kuat. Lay sendiri yang bilang kayak gitu ketika konferensi pers konser mereka di Seoul. Kata orang, kita nggak pernah tahu sebatas apa kemampuan kita sebelum kita dikasi cobaan kan? Cobaan terberat buat EXO mungkin adalah yang ini.

Mungkin beberapa dari kalian ngerasa agak aneh jika EXO berdiri dengan 11 member. Iya gue juga. Ya gimana nggak gitu kita selama ini sudah dicekokin (atau lebih tepatnya mencekoki diri sendiri) dengan 12 orang yang selalu dipuja-puja kemudian yang satu hilang tiba-tiba dan meninggalkan luka.

Pada akhirnya kita memang harus terbiasa. Mau ada Kris atau nggak ada Kris, EXO ya tetap EXO. Walaupun slogan 'We Are One' itu jadi terdengar menggelikan, tapi EXO tetap EXO. Mereka akan tetap jadi EXO yang membuat kita semua kenal sama banyak orang dan setidaknya memberikan motivasi untuk melakukan sesuatu.

Mereka tetep EXO yang bikin gue jadi sering nulis review. Jadi lebih kreatif untuk berpikir kalau bikin pertanyaan giveaway. Mereka tetap EXO yang menyita banyak waktu gue untuk spazzing. Mereka tetep EXO yang bikin gue jadi punya banyak ide buat bikin fanfiction.

Mereka tetep EXO yang bikin gue merinding setiap kali dengerin 'MAMA'. Mereka tetap EXO, yang datang dari exoplanet dan punya kekuatan-kekuatan gaib. Mereka tetap EXO si bocah-bocah penjaga pohon kehidupan. Mereka tetap EXO, para kambing gunung lucu kesayangan.

Ada atau nggak ada Kris, EXO tetap EXO. Dan gue tetap jadi fans EXO.

Tapi nggak tahu deh kalau slogannya masih ngena di hati atau nggak. Gue sih sekarang fifty-fifty.

Tergantung kondisi aja.

Karena kasus Kris ini gue jadi males menyelesaikan review 'Overdose' gue. Gue jadi males nulis belakangan. Tapi mau sampai kapan kita terjebak dalam keterpurukan?

Nggak selamanya kita akan ada di bawah. Kita pasti akan naik lagi dan berada di puncak.

Semoga sejak saat ini semuanya jadi lebih baik. Semoga EXO memang lebih baik tanpa Kris dan Kris bisa hidup lebih baik di luar EXO.

So, do we have to miss Kris?

Yes.

We miss Kris. Kita kangen Kris.

We (also) miss Kris. Kita (juga) kehilangan Kris.
*

Share:

90 komentar