Berusaha Lari

*
Ada banyak tipe manusia di dunia ini. Ada yang gampang banget tertawa, ada pula yang gampang banget menangis. Ada yang males mencoba sesuatu yang baru atau bergerak mencari kehidupan yang baru hanya karena mereka merasa nyaman dengan apa yang sudah ada sekarang. Ada juga yang sangat menyukai tantangan dan mencari-cari pengalaman baru dengan mengambil kesempatan yang ada di depan mereka.

Gue termasuk yang suka mencari pengalaman baru. Walaupun belum dalam tahap yang berani keluar dari zona nyaman gue sekarang. Ada mimpi-mimpi dan keinginan yang berharap bisa gue capai dalam beberapa tahun ke depan tapi masih stuck dengan satu hal yang menghidupi gue saat ini: KPop.

Selamat datang di lingkaran setan.

Mungkin begini rasanya bekerja di bidang yang sangat lo sukai tapi di saat yang sama lo harus jauh dari orangtua lo. Di satu sisi lo pengen pulang dan berkumpul bersama keluarga setiap akhir pekan, di sisi lain lo harus memikirkan seberapa banyak uang yang harus keluar untuk sekedar berkumpul bersama mereka di akhir pekan.

Lo juga pengen menghabiskan banyak waktu bersama orangtua lo dan mencari pekerjaan yang deket aja sama rumah jadi nggak usah bayar kosan dan memikirkan biaya hidup di Jakarta. Tapi di sisi lain, lo nggak mau meninggalkan salah satu pekerjaan yang sangat lo inginkan sepanjang hidup lo ini.

Yah... hidup memang kan sebuah pilihan. Sekali lo sudah menentukan pilihan maka mau nggak mau lo harus menjalaninya. Itulah salah satu alasan kenapa orang bilang hidup itu berat. Kadang, pilihan yang ada nggak selalu sama seperti yang lo inginkan, tapi lo tetep harus memilih.

Sama seperti ketika salah satu teman menawari gue untuk ikutan event marathon lima kilometer di Bandung baru-baru ini.

Gue bukan orang yang jago olahraga. Sama sekali enggak jago olahraga. Kalau ada olahraga yang gue sangat kuasai di dunia ini mungkin cuma sikap lilin sama jalan cepet kayak Baekhyun di Idol Championship tahun 2013 kemaren. Yang lain? Mending jorokin aja gue ke Ciliwung. Well at least gue masih seneng main air. Kalau Ciliwung masih ada airnya.

Lari bukanlah hal yang sulit memang. Tapi buat sebagian orang, hal ini bisa jadi sangat menyebalkan. Pas SD, gue inget banget gue selalu berusaha untuk bisa lari secepat mungkin dan menjadi pemenang di kompetisi lari 100m di setiap pelajaran Penjaskes. Padahal nggak ada hadiahnya. Pas SMP gue baru sadar bahwa gue tidak diciptakan untuk melakukan olahraga ini. Ketika SMA gue semakin yakin bahwa mungkin di masa depan nanti gue hanya akan jadi orang berkacamata yang kerjaannya cuma ngetik dan nonton video setiap hari.

Dan yang terakhir itu menjadi kenyataan. Coba waktu itu gue mikir gue bakalan jadi member EXO ya mungkin sekarang gue lagi sibuk persiapan buat fansigning. Atau sekedar nge-troll fans di Instagram.

Tawaran buat ikutan lari marathon ini datang secara tiba-tiba dan bertepatan dengan long weekend. Wah, alangkah menarik bukan jika gue tidak menghabiskan akhir pekan yang panjang cuma telentang di kosan dan goler-goleran mesra dengan bantal guling? Asyik! Poin plus lainnya adalah gue bukan cuma akan ikut lari-lariannya, tapi juga ketemu sama beberapa temen lainnya di event yang sama. Beberapa orang-orang keren yang beruntung gue kenal.

Tawaran itu gue terima dengan senang hati. Mindset gue ketika menerima tawaran itu tentu saja karena gue butuh melakukan sesuatu yang baru yang belum pernah gue lakukan selama ini. Ya, marathon adalah hal baru buat gue. Setidaknya ini adalah lari-larian pertama gue dalam enam tahun terakhir.

Kurang lebih?

Enggak tahu deh. Seinget gue, terakhir gue berlari dalam konteks yang berolahraga itu tentu saja ketika SMA. Waktu masuk kuliah gue sangat bersyukur karena enggak ada lagi yang namanya pelajaran olahraga. Tapi kayaknya pas semester awal gue ikutan mata kuliah Badminton 1SKS dan mungkin di situ ada adegan lari-lari. Tapi gue nggak terlalu inget.

Jangan tanya apapun soal apakah gue pernah ikut main sepak bola atau ikutan futsal di kantor. Jawabannya sudah jelas tidak pernah. Suruh aja gue nonton 100 video Korea dalam satu malam dari pada harus main futsal atau sepak bola dan mempermalukan diri gue di hadapan semua orang.

"Lo udah mau setengah abad nggak bisa main bola? Hidup lo selama ini lo habiskan dengan apa sih?"

"Berimajinasi," jawab Ron santai lalu makan Baskin Robbins yang sebenarnya enggak enak tapi karena gratis dimakan juga.

Oke kalau misalnya gue ditakdirkan untuk ikut dalam sebuah event olahraga apapun itu, paling gue berakhir jadi cheerleader. Dan itu adalah bagian yang paling menyenangkan.

Untuk ikutan event lari lima kilometer ini gue sebenarnya takut. Apakah gue akan kuat lari sejauh itu? Oke buat orang lain mungkin enggak jauh tapi buat gue ini sebuah hal yang baru jadi pasti akan ada kekhawatiran tersendiri. Kayaknya jarak terjah yang kuat gue tempuh nggak lebih dari 100 meter. Itupun dalam rangka mengejar MetroMini 75 yang lewat di depan gang kosan untuk berangkat ke kantor karena sudah terlambat.

Dan yang enggak sampai 100 meter itu saja sepertinya paru-paru saya sudah seperti diludahi monster.

Ya tapi karena itu tadi, berbekal mindset bahwa gue butuh melakukan sesuatu yang baru, akhirnya gue meyakinkan diri untuk ikutan. Kapan lagi kan, lari-lari di Bandung lima kilometer dan diakhiri dengan acara musik di malam harinya?

It sounds really fun, man!

Yes it is sounds fun.

But in fact... idk man...


Acara lari yang dikasih judul PARAMESTI ini seharusnya dimulai jam 3 sore di Taman Musik, Bandung. Tapi atas rahmat Allah SWT, Bandung diguyur hujan seja jam 1 siang. Gue sudah ada di Taman Lansia dari jam 11-an. Mampir karena enggak pernah mampir dan kemudian sarapan di situ. Siangnya gue makan pie lucu di sebuah kafe bernama Me Time sebelum akhirnya makan Takoyaki yang enggak jauh dari situ.

Di kedai Takoyaki itulah gue terjebak hujan. Gue janjian sama temen-temen gue yang akan lari itu sekitar jam 2. Sementara jam 2 itu petir menyambar bagaikan kelaparan. Gue tidak bisa bergerak ke manapun karena hujannya beneran yang deres banget. Gue khawatir orang-orang akan menunggu gue. Karena gue nggak suka dibuat menunggu jadi gue juga nggak berani bikin orang nunggu.

Halah.

Tapi ya, sekali lagi kadang keinginan kita enggak sejalan sama mau Tuhan. Hujan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda sampai sekitar jam 3 sore hari itu. Pilihannya kayak ada dua: gue ditinggal lari, atau temen-temen gue sudah bete karena guenya kelamaan.

Gue paling enggak suka bikin orang bete walaupun kenyataannya itu sering terjadi. Karena dibetein balik itu sama sekali enggak seasyik ngejekin Tao di review-review dan teaser 'EXODUS'. Sama sekali enggak asyik.

Hari itu gue ditemani Linda. The one and only bro (no she's actually a sist) yang selalu bisa diandalkan kalau gue main ke Bandung. Berbekal satu jas hujan dan jaket yang sudah pasrah basah kuyup, kita pun menembus hujan ke Taman Musik.

Gue pikir gue ditinggal.

Gue pikir gue terlambat.

Tapi sesampainya di sana...

(insert suara musik horor yang mengejutkan penonton bioskop)

Lapangan di tengah-tengah Taman Musik itu tergenang air sekitar 20 sentimeter. Temen-temen gue sedang menunggu di panggung yang letaknya persis di tengah-tengah area itu. Mereka tidak melakukan apa-apa. Bayangan gue soal mereka yang sudah bete menunggu langsung buyar karena sepertinya mereka baik-baik saja.

Masalah lainnya adalah satu-satunya cara untuk menuju panggung itu adalah dengan menembus lautan kecoklatan dan melangkah dengan percaya diri.

Well, sepatu gue sudah basah sejak tadi dan kalau dibuka dulu baru nyebrang kayak yang yaudahlah ya.... nggak ada gunanya juga. Gue pun memutuskan untuk membelah lautan kecoklatan itu dengan penuh keberanian.

Acara yang rencananya akan dimulai jam 3 sore diundur ke jam 4 sore. Dari jam 4 sore mundur lagi ke jam 5 sore. Hujan sama sekali nggak berhenti. Gue duduk diam dan akward di antara anak-anak cover dance kece yang sudah hampir dua tahun gue kenal tapi enggak sering main sama semuanya itu. Duduk diam memperhatikan panitia yang sedang berusaha mengosongkan lapangan yang tergenang.

The show must go on sih harusnya. Acara ini sudah di-sounding dan direncanakan jauh-jauh hari, nggak mungkin cuma karena hujan batal kan. Dan karena the show must go on, konsep marathon-nya pun diganti. Dari Fun Run ke Rain Run.

Running under the rain....

Terdengar seperti sebuah adegan film India.

Tapi pada kenyataannya, justru ini yang membuat gue jadi sedikit punya semangat lebih. Gue memang enggak suka lari tapi gue suka banget mandi hujan. Dan seketika itu juga muncul keyakinan bahwa gue akan sangat menikmati event ini, meski gue tidak akan menyukai lari sejauh lima kilometernya. Gue akan sangat menyukai berlari di bawah guyuran hujan di kota Bandung meskipun gue tidak akan menyukai efek setelahnya.

"Kapan lagi bisa mandi hujan dengan leluasa di usia yang sudah harusnya punya calon istri ini?" bisik kepribadian gue yang lain.

"Oke. Challenge accepted!"

Gue dan temen-temen gue yang sudah nungguin tadi--sebut saja Adam, Idris, Nuh, Hud, dan Soleh--mengganti baju dengan T-Shirt yang diberikan panitia. Warnanya putih. Tipis. Kalo nggak pake baju dalem terus basah-basahan mungkin otot-otot perut (kalau punya) akan nampak dengan sempurna dan membuat nafsu banyak orang. Setelah itu kamipun berkumpul di salah satu ruas jalan dekat Taman Musik. Pemanasan seadanya sebelum akhirnya mulai berlari.

Ya.

Gue

Akhirnya....

Lari juga....

Dan...

Kayaknya...

Ini....

Baru...

200 meter....

YA ALLAH TOLONG SELAMATKAN HAMBA DARI DERITA DUNIA YANG TIADA HENTINYA INI.

Buat orang yang tidak pernah olahraga macem gue, kaki gue rasanya kayak ditendang Hulk. Otot-otot di sekitar kaki belum apa-apa udah kenceng aja. Kepala sih diusahakan tetap dingin karena kalo emosi nggak akan bisa menyelesaikan apapun. Gue berusaha untuk menstabilkan kecepatan karena kalau buru-buru akan lebih cepat capek. Tapi yang mengkhawatirkan adalah, kecepatan stabil gue tidak lebih cepat dari kucing yang lagi lari ngejer kadal.

Kaki gue sudah sakit ketika kita sudah lari sekitar 500 meter. Tapi sakitnya itu kalo misalnya berhenti lari makin menjadi-jadi. Jadi emang harus tetep lari supaya enggak berasa. Masalahnya adalah tenaga yang dibutuhkan untuk berlari terus-terusan itu sudah semakin menipis.

BARU 500 METER!

Dua orang temen gue sudah menghilang di barisan terdepan. Kami berempat berlari pelan-pelan. Keliatan tiga di antara mereka mencoba mengimbangi speed lari gue yang menjijikkan itu. Terima kasih banyak karena tidak meninggalkan saya.

Tidak lama setelah itu satu orang mulai menyusul pergi dan menghilang. Gue tertinggal di belakang bersama dua orang yang lain. Yang kali ini bener-bener mencoba untuk terus bersama gue. Mungkin salah satu dari mereka takut kalau gue tiba-tiba pingsan dan jatuh dan tersungkur masuk got. Tapi gue tahu sampai batas mana kekuatan gue.

"Kalo udah nggak kuat, bilang aja kak gausah dipaksain," kata salah satu dari mereka.

"Nggak. Kok. Santai. Gue. Pasti. Kuat," kata gue terengah-tengah. "Ini memang pertama kalinya gue lari dalam beberapa tahun tapi ya gue tahu sampai batas mana kekuatan gue,"

Dan tepat ketika gue mengakhiri kalimat itu, ingin rasanya gue duduk selonjoran terus minum jus duren. Tapi enggak ada jus duren, adanya Pocari Sweat. Lumayan daripada minum air hujan.

Di setiap pengkolan, panita berdiri dan meneriakkan semangat buat para peserta.

"Semangat kak!"

"Jangan menyerah kak!"

"Dikit lagi kok kak!" kata salah satu dari mereka padahal kita baru aja lari 700 meter. Ingin rasanya saya memeluknya lalu mengajaknya adu gulat. Walaupun saya tahu saya akan kalah.

Obrolan-obrolan kecil terjadi di antara kita bertiga. Di antara hembusan nafas yang sudah semakin pendek. Tangan kiri gue menggenggam ponsel dan kamera yang dibungkus plastik. Pindah ke tangan kanan kalo pegel. Niat gue buat foto-foto pas lari nggak bisa terlaksana. Boro-boro kepikiran buat foto, nafas aja susah.

Sekitaran kota Bandung kala hujan terkesan makin romantis. Maghrib menjelang dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Lima kilometer sialan ini pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Salah satu temen gue yang masih setia menemani fanboy lelet gak bisa olahraga ini ngajakin ngobrol sepanjang perjalanan itu. Sempat mijit-mijitin pundah gue sebagai usahanya untuk memberikan semangat. Gue sangat menghargai itu karena sebelumnya, jangankan mijit-mijit, ngobrol santai aja kita jarang.

Ingin rasanya sekalian nyodorin kaki buat dipijit. Tapi nggak mungkin.

Gue udah nggak bisa merasakan kaki gue sendiri. Kalo enggak fokus dikit udah kecengklak terus jatuh kali itu. Betis gue udah mengencang. Lebih kencang dari dada yang baru disuntik silikon. Bersyukur pengelihatan gue masih jelas. Kepala juga masih dingin enggak ada tanda-tanda akan pingsan atau sejenisnya.

Berbagai macam pikiran terlintas saat lari itu. Secara random semuanya muncul satu per satu. Bagaimana kemaren pagi sebelum lari gue harus ngejer travel yang di mana-mana penuh karena kebodohan gue tidak nge-booking duluan padahal udah tahu long weekend. Bagaimana travel yang gue naikin ban-nya tiba-tiba bocor dan berhenti di kilometer 28 dan itu belum juga sampe mana-mana. Bagaimana gue berangkat dari kosan jam setengah enam dan baru naik travel jam 10 pagi lalu sampai Bandung jam setengah empat sore.

Semuanya seakan-akan melayang-layang di kepala. Kemudian seiring dengan datangnya malam gue inget kalau tadi gue belom sholat Ashar. Astagfirullah. Ini kalau misalnya gue beneran kecengklak terus masuk got dan mati, gue kayaknya fix bakalan masuk neraka.

Guemasih berusaha untuk berlari sekuat tenaga. Berusaha untuk tidak mempedulikan bahwa saat itu mungkin gue adalah orang yang paling lemah di dunia ini. Di belakang kita kayak udah enggak ada orang lagi. Entah apakah kita yang terlalu jauh dari mereka atau memang kita sudah tertinggal jauh dari yang lain.

Kaki gue kadang berasa sakit kadang enggak. Kadang rasanya kayak diinjek sapi hamil anak kembar sepuluh, kadang kayak enggak punya kaki. Tulang kering gue makin senut-senut. Saat itulah gue ingat satu hal dengan tololnya.

Gue belom copot insoles yang ada di sepatu itu.

YAH INI MAH SAMA AJA LARI-LARIAN PAKE SEPATU HAK TINGGI, BEGOK.

Selamat datang nyeri otot.

"Masih tahan?" salah satu temen gue kembali bertanya dengan sopan. Tapi entah kenapa itu terasa seperti tusukan tombak beracun.

"Masih. Lanjut-lanjut." Kata gue semakin terengah-engah.

Nafas gue semakin habis. Oksigen rasanya semakin langka. Pas SMP dulu guru olahraga gue selalu bilang berusahalah terus bernafas lewat hidung ketika berlari. Jangan bernafas lewat mulut. Pesan itu masih menempel di kepala dan gue amalkan juga hari itu. Tapi bernafas lewat hidung ketika berlari ternyata nggak mudah yah.

Dalam hati gue berdoa. "Ya Allah, kalau hamba mati ketika berlari ini karena kehabisan nafas atau semacamnya, buatlah hamba mati dengan keren. Walaupun hamba akan masuk neraka karena belum solah Ashar,"

Pikiran random muncul lagi. Gue tiba-tiba aja teringat ceramah guru agama gue pas SMA. Waktu itu topiknya soal kematian. Soal bagaimana rasanya mati. Yang paling gue inget dari apa yang beliau katakan saat itu adalah bahwa ketika nyawa manusia dicabut dari tubuhnya, rasanya seperti menarik keluar buah durian dari kerongkongan.

Tapi ketika gue sedang berlari itu, pikiran gue sama sekali enggak tertuju ke buah durian. Tapi kasur. Kalau bisa tarik gue ke kasur. Gue butuh kasur.

Mati dikasur mungkin lebih enak daripada mati kehabisan nafas di tengah jalan. Walaupun rasa sakit karena dicabut nyawanya juga sama aja.

Obrolan gue sama dua temen gue yang lain tidak berlanjut setelah salah satu dari mereka yang dari tadi kebelet pipis akhirnya memutuskan untuk pipis di salah satu pohon yang ada di sana. Sementara pikiran gue sama sekali nggak tertuju pada metabolisme tubuh gue yang tidak sempurna ini. Kayaknya gue terakhir pipis dua hari yang lalu.

Nggak deng. Semalem.

Dan ketika pikiran soal pipis itu sedang menyelimuti benak gue, ternyata kita sudah sampai di garis finish.

ALLAHU AKBAR!!!!

Kita disambut oleh drum band dan teriakan-teriakan meriah dari panitia. Sesampainya di garis finish, kita dikasih medali yang langsung dikalungkan satu per satu. Dan berakhirlah sudah marathon lima kilometer di acara PARAMESTI ini. Rasanya lega banget karena akhirnya bisa duduk, lurusin kaki dan abis ini pulang.

Enggak sampai dua jam tapi adegan berlari itu membuat gue banyak berpikir soal kemauan keras. Gue belajar bahwa lari enggak cuma soal tenaga, tapi soal niat. Niat gue adalah tidak mempermalukan diri sendiri dengan berlari 200 meter dan collapse membawa gue ke garis finish.

Yang namanya niat, mau dipatahkan apapun sama seluruh dunia kalo emang sudah yakin pastinya akan tetap berjalan. Tentu saja niat juga harus diikuti dengan aksi dan kerja keras. Lari juga kayak gitu. Kalo cuma niat mau olahraga tapi aksinya malah nempel sama kasur setiap pagi di hari Minggu ya mau gimana juga nggak bakalan kejadian.

Diawali dengan niat, diikuti aksi kemudian dilanjutkan dengan kerja keras. Gue belajar itu dari event lari PARAMESTI ini. Buat gue yang sama sekali enggak pernah olahraga, bisa lari lima kilometer ini adalah sebuah pencapaian tersendiri. Gue bangga bisa mengalahkan rasa mager gue. Bangga sekali.

Hidup kita kan secara keseluruhan terdiri dari tiga hal:

1. Hal yang tidak bisa kita lakukan.
2. Hal yang ingin kita lakukan.
3. Hal yang bisa kita lakukan.

Selama ini gue pikir lari itu masuk dalam kategori nomor satu. Tapi setelah ikutan event ini gue menemukan bahwa ada 'niat untuk mencoba' dan 'aksi' di antara nomor satu dan nomor dua. Yang sebenarnya kalau dilakukan, akan membawa kita ke poin nomor tiga.

Kita enggak akan pernah tahu apakah kita bisa move on dari orang kalau kita enggak pernah mau nyoba. Kita enggak pernah tahu tentang seseorang kalau kita enggak pernah punya keinginan untuk mencari tahu. Kita enggak akan pernah tahu apakah orang yang kita taksir suka juga sama kita kalau kita cuma diam dan menebak-nebak.

Kita enggak pernah tahu kalau enggak pernah mencoba. Kita enggak pernah tahu kalau enggak pernah punya keinginan untuk mencari tahu. Kita enggak pernah tahu kalau cuma diam dan menebak-nebak.

Gue menemukan hikmah yang mendalam dari event lari ini: sekarang gue tahu kalau mandi hujan di usia 24 tahun ini ternyata menyenangkan. Terima kasih PARAMESTI.

Dan gue juga jadi semakin tahu... Seolah semakin diyakinkan...

Bahwasanya hari itu mungkin saja gue bisa lari dan berhasil mengalahkan semua rasa ketidakyakinan apakah gue sanggup atau tidak. Tapi gue nggak bisa lari dari kenyataan bahwa di akhir hidup gue nanti, akan ada akhirat yang menunggu.

ASTAGFIRULLAH TADI BELOM SOLAT ASHAR.

MASUK NERAKA KAU!

ASTAGFIRULLAH.

In the end, this event was fun. Because you do it wholeheartedly, and with people who means a lot to you: friends. Because all you have when you away from home are friends.

*

Share:

7 komentar