It's Awkward! But I Love You... [EXO 'Sing For You' MV Review]

Dalam hidup, kita nggak bisa memungkiri kenyataan bahwa memang akan selalu ada yang berubah, meski sekecil apapun.

Ahem. Dapet quote pas lagi boker barusan.

Ya maaf-maaf nih kalau misalnya gue mengawali kalimat pertama di posting-an ini dengan agak serius (dan jorok di bagian bokernya. Udahlah nggak usah munafik kalian juga kan harus boker tiap hari). Belakangan memang kepala gue selalu berisi hal-hal yang serius dan bener-bener real life banget! Nggak paham. Ketika biasanya gue cuma bisa ceplas-ceplos di Twitter, sekarang gue harus berhadapan dengan tagihan cicilan kulkas ke Dito (YANG ALHAMDULILLAH SUDAH LUNAS!) dan beberapa hal serius lainnya yang selalu mengganggu pikiran gue setiap harinya:

1) Mau bangun jam berapa hari ini?
2) Mau ngopi berapa mug hari ini?
3) Gimana caranya supaya nggak ngopi tapi nggak ngantuk hari ini?
4) Harus ngabisin berapa reward point di SM Superstar untuk ngawinin kartu hari ini?

Ya, hal-hal serius semacam itu sangat mengganggu pikiran banget. Kalau nggak diselesaikan satu per satu wah! akan sangat memberikan dampat negatif buat kulit wajah. Selamat datang jerawat!

Kesibukan gue belakangan ini (BERASA CEO SM ENTERTAINMENT YAK) membuat gue teringat ke masa-masa bebas lepas kutinggalkan semua beban dihatiku saat semester-semester akhir di kuliah dulu. 2011 dan 2012 bener-bener masa membahagiakan yang secara aneh bertepatan dengan membludaknya produk SM Entertainment.

'The Boys', 'Twinkle', 'Sherlock' sampai teaser demi teaser debut EXO menjadi makanan sehari-hari saat itu. Termasuk juga mengotori timeline Twitter dengan cuitan-cuitan nggak penting soal KPop juga sudah jadi identitas pribadi yang susah untuk dihapuskan. Bahkan kala itu kayaknya kuliah pun jadi hal yang bener-bener sepele.

"YANG PENTING TWITTER NOMOR SATU KULIAH KAPAN-KAPAN!"

Ya walaupun nggak se-ekstrem itu juga sih. Tapi memang, buat lo yang sudah ada di semester akhir dan tidak perlu memikirkan skripsi mungkin kehidupan lo akan kurang lebih sama kayak gue. Atau bisa jadi enggak kalau misalnya lo adalah calon CEO Apple. Tapi kalau misalnya kampus mengharuskan lo buat bikin skripsi (dan sekarang lo ada di semester akhir ataupun akan menjadi mahasiswa semester akhir) maka nikmatilah teori dan metodologi-nya.

Hihihi. AKU CINTA KAMPUSKU!

12 jam dari 24 jam gue saat itu gue habiskan dengan spazzing. Sia-sia sekali ya rasanya. Tapi nggak apa-apa. Yang penting gue bahagia dan nggak stres. Karena hidup sendiri di kosan yang isinya mas-mas penyuka musik rock yang kalo puter lagu bisa volume-nya 100% pake loudspeaker itu bisa banget bikin lo pengen bunuh diri setiap hari. Spazzing adalah jalan keluar terbaik daripada ngerokok.

Hari-hari gue di semester akhir kuliah gue habiskan di depan laptop, ngedit video, internetan, nge-tweet, bikin giveaway, ke kampus (bukan buat belajar) download video, ngumpulin drama Korea, internetan. Begitu seterusnya selama satu setengah tahun di semester-semester akhir. Wah hidup kayak gini bener-bener indah banget! Berasa jadi anak CEO Garuda Indonesia yang kalo kemana-mana nggak mikirin uang sama sekali. Tapi gue lupa, kalau di saat yang sama hidup terus berjalan dan gue pun harus menghadapi realita bernama wisuda.

Semua orang pengen cepet-cepet wisuda. Padahal sebenarnya wisuda adalah gerbang paling menyebalkan dalam fase kehidupan mahasiswa. Karena setelah itu kita harus kerja dan menghadapi dunia yang sebenarnya. Which is so boring. I hate to admit that I hate that part of my life. But you don't have any other choices. Lo nggak bisa selamanya jadi bayi kalau lo pengen punya bayi juga kan?

(apa?)

Ketika wisuda sudah dekat, otomatis orientasi gue sudah berubah. Gue tahu kalau suatu saat gue akan meninggalkan dunia spazzing ini untuk selamanya. Apalagi kalau misalnya gue sudah masuk kerja nanti. Maka dari itu harus ada rencana yang tersusun rapi supaya semuanya bisa berjalan lancar.

"Oke, pokoknya abis wisuda mau pulang kampung aja dan kerja di rumah!" kata gue saat itu.

Tapi manusia hanya bisa berencana, Tuhan juga yang menentukan segalanya. Dan lucunya, Tuhan pun memilihkan jalan yang ternyata masih aja ada hubungannya dengan KPop dan.... EXO.



Gue lupa persisnya di bulan apa gue ngobrol sama seorang admin dari salah satu fanbase EXO yang cukup besar di Indonesia. Mereka saat itu mau bikin event buat satu tahunan EXO dan gue di-hire jadi MC. Wah gue tertarik karena gue memang suka dunia MC-ing walaupun gue nggak jago-jago banget, tapi gue punya basic penyiar radio jadi okelah gue mungkin bisa handle hal ini karena masih di lingkungan KPop juga.

Rencana gathering itu muncul ketika gue sudah memutuskan untuk pulang kampung. Karena gue sangat tertarik dengan pengalaman MC-ing event KPop, gue pun mengundur kepulangan gue sampai setelah acara ini berakhir. Saat itu rencananya acaranya akan digelar pada April. Sementara gue wisuda sekitar Januari atau Februari. Beberapa bulan menganggur kayaknya sia-sia ya, oke mari kita cari kerja yang bisa resign hanya dalam waktu 6 bulan saja. Pikir gue.

Sembari menunggu April gue pun cari kerja dan dapat di salah satu penerbit buku minor di kawasan Jakarta Timur. Niatnya ini cuma buat mengisi kekosongan sampai acara gathering digelar nanti.

Niatnya.

Tapi....

EXO-nya bahkan nggak comeback sampai Mei.......

Lalu?

Acara itupun nggak ada kabar lagi.

MUAKAKAKAKAKAKAKKAKAKAKAKAAKAKAKA. Ketika gue berniat untuk benar-benar pulang kampung (karena sudah tahu acaranya akan batal) ternyata kesempatan lain datang dan gue pun pindah kerja ke tempat yang sekarang. Dan lagi-lagi, KPop membuka jalan itu. Walaupun acaranya batal, tapi Alhamdulillah sampai sekarang hubungan gue dengan si admin masih (dan makin) berkualitas. WQWQWQ

Perubahan dari mahasiswa ke orang kantoran bukanlah hal yang mudah. Perubahan ini benar-benar drastis. 2 minggu pertama di kantor pertama gue nggak bisa banget betah melek sampai jam 12 siang. Karena selama dua bulan terakhir sebelum masuk kerja gue selalu jadi kalong yang tidur abis subuh dan bangun lagi jelang zuhur. Di meja kantor gue terantuk-antuk sambil ngerjain laporan penjualan buku (YANG NGGAK GUE BANGET).

Perubahan yang paling terasa selain itu adalah berkurangnya waktu untuk spazzing dan juga nulis di blog. Tapi ini baru terjadi ketika gue sudah pindah ke kantor yang baru. But anyway, karena gue adalah blogger, tentu saja gue akan selalu berusaha untuk tetap menulis apapun yang terjadi. Walaupun intensitasnya berkurang sangat drastis.

Dan ternyata dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, bersamaan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup gue, ternyata EXO juga banyak berubah.

BANYAK SEKALI.



Perubahan nggak cuma dari konsep alien ke serigala kemudian terjebak di dalam labirin dan keluar melewati portal dan tersebar ke seluruh dunia saja. Perubahan EXO ini pelik dan menyakitkan. EXO-nya berubah, fansnya juga berubah. Ada yang jadi lebih sensitif, ada yang jadi lebih biasa aja, ada yang pindah ke fandom sebelah, ada yang stay tapi punya bias baru di grup sebelah, ada yang udah nggak peduli lagi sama EXO tapi masih suka intip-intip sedikit, ada yang kepeduliannya jadi sangat berlebihan sampai tidak bisa berpikir jernih dan selalu membenarkan pendapatnya sendiri (gue), ada juga yang merasa statusnya di fandom lebih tinggi dari yang lain just because she/he knows more than any other person on internet.

Yang terakhir sih yang nyebelin. MUAKAKAKAKAKKAKAKA

Ya itulah hidup. Mengalir. Berubah. Ada masalah. Naik dan turunnya bener-bener harus dinikmati. Dan naik dan turunnya hidup itulah yang ingin digambarkan EXO di MV lagu barunya 'Sing For You' ini.





Entahlah waktu SM ngumumin EXO bakalan rilis album winter lagi, gue kayak yang mikir, "Ah, pasti nggak akan lebih bagus dari 'Miracles In December'!" gitu. Mungkin ini efek dari 'December 2014' yang nggak begitu nendang banget tahun lalu karena single semata tanpa promosi berlebih. Enggak yang terlalu membekas di hati. Bahkan kalau dibandingkan dengan 'Lightsaber', lagu ini kayak gampang banget terlupakan.

Tapi ternyata pemikiran gue soal "NGGAK SEBAGUS 'MIRACLES IN DECEMBER'" itu salah besar.

Faktanya, 'Sing For You' punya daya tarik yang lebih kuat dari sisi emosi. Lupakan dulu liriknya sejenak karena buat orang kayak gue yang nggak ngerti Bahasa Korea langsung ketika mendengarkan lagunya, mungkin nggak akan terlalu terpengaruh sama lirik yang disampaikan saat pertama kali mendengarkan (dan menonton MV-nya). Tapi buat gue, ketika mendengarkan lagu yang bahkan gue nggak ngerti kemudian gue dapet feel aneh yang bikin merinding cuma karena melodi lagunya, gue tahu ini lagu bakalan terkenang dalam hati. Hahahaha terlepas dari bias loh ya.

Melodi lagunya enak banget dan visual dari video musiknya juga sangat emosional. 'Sing For You' memberikan tiga paket spesial lagu galau yang mantap buat gue: feel, melodi dan visual dari MV-nya.

Gue denger-denger lagu ini sempat bocor sebelum dirilis (seperti lagu-lagu EXO sebelumnya). Tapi karena waktu spazzing gue belakangan nggak terlalu intens, jadi gue nggak sempat mendengarkan versi leaked-nya. Jadilah pas MV-nya dirilis pada (9/12) kemarin adalah kali pertama gue mendengarkan lagu ini.

Ada kesan yang sangat berbeda saat mendengarkan 'Sing For You' dan 'Miracles In December'.


Buat gue, daya tarik 'Miracles In December' bener-bener fokus ke lagu dan melodi (dan kemudian lirik setelah lo mengerti apa yang ingin mereka sampaikan). 'Miracles In December' adalah tipikal lagu galau yang sangat mudah diterima di kuping gue yang sangat akrab dan menyukai lagu-lagu patah hatinya Rossa. Jadi kalaupun misalnya gue nggak nonton MV-nya atau nggak ngerti liriknya, gue akan tetap merasa terharu mendengarkan 'Miracles In December' karena memang lagunya se-mellow menyebalkan itu.

Sementara untuk MV-nya sendiri (walaupun dulu gue puji karena bagus--baca review selengkapnya di sini) sebenarnya bisa dikatakan nggak realistis. Terlalu drama Korea. Makanya nggak realistis karena kebanyakan hal di drama korea itu kan klise. Yes sebut saja karena MV-nya menawarkan kisah fiksi mulai dari kekuatan menurunkan salju sampai menghentikan/memutarbalikkan waktu diselipkan di dalamnya. Padahal kalau dipikir-pikir, MV-nya nggak sesedih itu. Tapi karena lagunya mellow, jadi kesannya video klip ini juga sedih.

Peran lagu dalam membuat MV-nya jadi menyakitkan sangat besar. Itulah kenapa pada akhirnya MV-nya jadi don't matter anymore. Buktinya, ketika gue selipkan adegan-adegan 'AADC' versi LINE ke dalam MV-nya, feel sedihnya tetep berasa. Kalau sekarang lo bandingkan dengan 'Sing For You', lo akan merasa bahwa ternyata storyline di 'Miracles In December' itu cetek banget.

Meanwhile, 'Sing For You' menawarkan sesuatu yang lebih emosional dan terasa real. Lebih emosional dari sekedar orang yang lo suka nggak muncul setelah lo menunggu di bawah salju. Lebih emosional dari sekedar jadi korban PHP cewek yang bahkan di MV nggak keliatan wujudnya sama sekali.

Ada sesuatu yang memang masih berkutat di area dan kawah cinta (MUNTAH KARENA BAHASA SENDIRI) tapi bukan cinta-cintaan yang cuma sekedar cinta anak muda dimabuk asmara kayak 'Miracles In December'. Balik lagi ke yang gue bilang sebelumnya, kali ini rasanya lebih real.

Gue bingung menjelaskannya entah kenapa wkwkwkwk dan berkali-kali ketika memikirkan cara terbaik untuk menuliskan kalimat ini gue mengepal-ngepalkan tangan dengan random. Mungkin simpelnya (atau justru membuatnya terasa lebih nggak jelas) 'Sing For You' mencoba memberikan sebuah kisah cinta yang lebih mengikat, menjerat, intens, dekat, dalam dan menusuk (AWH!) tapi dekat dengan kita.


Gue merasa 'Sing For You' ingin memberitahukan sebuah perasaan cinta yang nggak cuma sekedar buat cowok/cewek yang lo taksir. Tapi justru sama orang-orang terdekat lo yang mungkin selama ini kerap lo abaikan keberadaannya. 'Sing For You' menawarkan sebuah "kisah cinta" yang lebih universal. Bisa buat kakak perempuan lo, kakak laki-laki lo, adik perempuan lo, adik laki-laki lo, saudara lo, keponakan lo, sepupu terdekat lo, sahabat lo, orangtua lo, temen yang lo kenal di Twitter, dan orang-orang di sekitar lo yang mungkin lebih penting dari sekedar orang yang lo taksir.

"Kemesraan" antara lo dengan significant others lo adalah hal utama yang gue rasa ingin ditampilkan di MV 'Sing For You'. Dan ketika gue menyebut kata "kemesraan", bukan berarti itu selalu hal-hal yang bahagia. Semua hal yang terjadi di dalam hubungan lo dengan significant others lo adalah kemesraan dalam caranya sendiri. Ya berantem-berantemnya, ya marah-marahnya, ya segala hal yang bikin lo nggak ngomong sama mereka selama beberapa hari karena tersinggung dengan satu chat mereka di LINE misalnya. Yang mana sebenarnya bukan membuat hubungan kalian semakin jauh, tapi justru semakin dekat dan mengikat.

Jijik banget gak pembahasan gue kali ini.

Gue rasa itu adalah salah satu faktor yang membuat MV 'Sing For You' lebih emosional, walaupun lagunya mungkin tidak semeraung-raung 'Miracles In December'. Dan itulah kenapa ketika mendengarkan lagu ini, lo juga perlu menonton MV-nya. Karena balik lagi ke kalimat gue di awal, lagu ini punya paket yang nggak bisa dipisahkan: feel, melodi, visual di MV. Feel dari melodi lagunya akan lebih berasa ketika lo melihat MV-nya meski lo nggak ngerti liriknya (lagi-lagi).


MV-nya sendiri nggak susah dimengerti sebenarnya. Secara sederhana MV-nya pengen bilang kalau hidup itu selalu berubah dan pasti akan ada masalah. Seperti pembahasan kita di awal posting-an ini. Dan karena ini EXO, topik soal perubahan dan masalah ini tentu saja jadi sensitif dan sangat ngena di hati.

Ketika kita membahas 'Miracles In December' maka kita nggak boleh melupakan bahwa di MV itu formasi mereka masih 12 orang. Tapi sekarang mereka sudah eksis dengan 9 orang yang gue harap sih untuk waktu yang sangat lama walaupun nggak ada jaminan buat itu.

Semua hal yang terjadi pada EXO selama beberapa tahun terakhir ini seolah tergambar secara emosional di MV. Okelah walaupun mungkin ada teori yang bilang kalau lagu ini menggambarkan hubungan fans dan EXO, tapi apa yang gue lihat justru unsur fans sangat tipis di sini. Bener-bener tipis.

WKWKWKWKKW maaf.

Sebagai sebuah grup yang paling penuh drama, gue masih menangkap bahwa SM masih mencoba untuk mengimplementasikan(????????) apa yang terjadi pada grup ini di dunia nyata ke dalam konsep-konsep videonya. Ketika SM bisa membuat teaser 'EXODUS' dengan sangat kreatif dan mengemas lawsuit menjadi sebuah konsep comeback, kenapa nggak mereka mengulang lagi hal yang sama untuk 'Sing For You'?

"Ya kan yang EXODUS buat Kris dan Luhan. Yang ini buat Tao lah kasian kalo nggak dimasukkin ke dalem konsep. Supaya adil merata," Kim Young Min menyuap nasi uduknya di sela-sela rapat.

Gue pribadi berpikir kalau hubungan emosional antara fans dan idola itu klise. Kalau buat gue, mereka sebagai idol itu kerja dan kita sebagai fans adalah penikmat pekerjaan mereka. Hubungan kita sama mereka ya cuma sebatas itu. Nggak ada kedekatan yang berlebihan. Kalau masalah dikasi eye contact pas konser atau apa, ya itu bagian dari fan service. Namanya aja udah "fan service". Ya dilakukan untuk membuat lo merasa istimewa tanpa maksud berlebih. WKWKWKWKKW

Nggak apa-apa "jatuh" ke dalam fan service. Karena tujuannya memang begitu. Nggak salah kok.


Memang kita pasti merasa ada hubungan emosi dengan mereka. Tapi kalau dipikir-pikir hubungan emosi ini sendiri muncul dari efek kitanya yang emang terlalu banyak "menikmati" mereka. Coba sekarang apakah lo punya hubungan emosional dengan Aliando? Pasti enggak. Karena lo sendiri bahkan mungkin nggak nonton 'GGS' atau jijik mendengar kata itu. Ya sama kayak fans Aliando nggak ada ngerasa kedekatan dengan EXO.

Gue rasa EXO juga sangat profesional melihat hubungan idola dan fans. Mereka juga tahu betul kalau ketika mereka di EXO ya mereka bekerja. Mereka butuh fans. Karena mereka butuh fans, jadilah fans selalu disebut-sebut dalam "naskah" di setiap perjalanan karier mereka.

Ya apalah arti EXO kalau nggak punya fans kan?

Sampai di sini maafin kalau gue merusak imajinasi lo soal EXO yang sangat memperhatikan fans-nya nih. Karena pada akhirnya semuanya hanyalah pencitraan belaka. WKWKWKKWKW

Nah, itu sebenarnya penjelasan kenapa gue bilang unsur fans dan EXO di MV ini sangat tipis. MV ini semuanya soal EXO. Dari awal sampai akhir. Gue nggak ngeliat ada "kita" (dalam artian fans) di dalam MV-nya. Ya gue nggak mau dong jadi Paus sementara mereka jadi orang-orang dengan wajah yang layak dipajang di majalah. Kalau disuruh milih ya gue mau jadi Suho lah. Masa jadi Paus atau radio yang dibanting Kai.

Kan gitu.


45 detik pertama di MV 'Sing For You' menggambarkan kebahagiaan dan kebersamaan. Adegan di 45 detik pertama ini adalah bagaimana EXO di depan kamera. Apa yang kita lihat. Kebersamaan dan kekompakan mereka.

Sementara selanjutnya adalah (mungkin) apa yang sebenarnya terjadi di dalam grup itu. Apa yang tidak kita lihat secara langsung, tapi mereka rasakan. Bukan berarti sebenarnya mereka nggak kompak, tapi ya kan nggak mungkin tidak pernah terjadi masalah (serius) di antara 9 orang ini. Bahkan mungkin ketika mereka ber-12 yang jumlah kepalanya lebih banyak. Pasti ada banyak masalah yang terjadi.

Perubahan adegan-adegan dari bersenang-senang ke yang tiba-tiba menghilang satu per satu itu juga sebagai metafora bahwa nggak ada yang abadi. Baekhyun yang biasanya selalu terlihat ceria di satu masa ketika hubungannya sama Taeyeon jadi konsumsi publik bisa terlihat sangat bete dan jadi lebih diam. Sebagai manusia biasa, mereka juga merasakan perubahan yang wajar terjadi dalam kehidupan. Mereka juga pernah merasakan bagaimana berada di titik terendah dalam hidup.


Makanya kemudian Kai merasa sangat marah karena kesabarannya mungkin sudah habis. Alhasil dibanting-bantinglah itu semua meja dan radio vintage (HUHUHUHU SAYANG BANGET ITU KAN PASTI KALO DIJUAL MAHAL KARENA SUDAH LANGKA). Tapi gue setuju sih dengan caranya Kai ini. Walaupun sangat sinetron 90-an banget ya, tapi ini lebih membuat lega gitu. Sekarang kan kalo marah, kita seringnya malah update status Facebook atau Twitter atau Path atau BBM atau LINE atau apapun yang bisa kita temukan untuk menyalurkan isi kepala. Menyelesaikan masalah setelah update status? Bisa jadi nggak. Bahkan yang ada bikin orang males bacanya.

"Ya gak cuma elo kali yang punya masalah, orang lain juga punya kali, jangan lebay lah," seringkali mungkin berakhir seperti itu di pikiran orang.

WKWKWKWKW

Walaupun apa yang dilakukan Kai juga tidak menyelesaikan masalah, tapi emosinya tersalurkan dan nggak bikin repot orang lain. Karena dia yang akan membereskan yang sudah dia bikin berantakan. Tapi pada akhirnya dia akan belajar bahwa melakukan sesuatu ataupun mengambil keputusan saat sedang emosi itu adalah hal yang "haram".

#pakepeci

Kai adalah penggambaran titik terendah EXO dalam perjalanan karier mereka di MV ini. Emosi Kai yang sejenak menghancurkan barang-barang itu kemudian terlewati dan dia kembali menari. Menggambarkan bahwa apapun yang terjadi, EXO ya EXO. Gue masih bisa melanjutkan mimpi gue untuk jadi superstar. Gue akan tetap menari meski member kami makin berkurang.

"Gue care, tapi kalo cuma gue doang yang care tapi yang di-care-in malah nggak care ya buat apa?" katanya sambil meliuk-liuk seperti Nagini.

(Ceritanya Ron sangat tenggelam dalam fiksi buatan SM Entertainment soal EXO).

(Dan fiksi buatannya sendiri soal EXO)

(Dan Ron pun forever baper)


Yang lucu (sekaligus favorit) adalah adegan berkelahi Chanyeol dan Suho. Kenapa gue bilang lucu? Bukan karena Suho-nya awkward se-awkward ekspresi nangis dia pas menang 'Wolf' tahun 2013 lalu (yang sekarang gue curigai adalah hanya naskah belaka #EH #MAAF #ANAKNYAGAKMAULAGIBAPER #COBABACAKALIMATSEBELUMNYA #IYADEHMAAF), tapi karena obrolan gue dengan Sam beberapa waktu lalu.

Jadi waktu itu Sam lagi di kosan gue dan kita ngobrol soal EXO karena kalo udah ketemu Sam pasti obrolannya soal EXO nggak ada yang lain.

"Nonton deh kak yang wawancara Chanyeol sama Suho di 'Second Box'. Itu aneh banget. Awkward banget!" kata Sam sambil ketawa.

"Masa?" gue saat itu sama sekali nggak tahu gimana isi 'Second Box' karena 'First Box' aja gue nonton sampe adegan bongkar koper terus bosen. "Awkward yang gimana nih?"

"Ya keliatan kayak nggak deket gitu kak!"

"Masa sih?" dalam hati gue, "Masa sih masih nggak deket udah bertahun-tahun?" Terus kemudian gue ikut ketawa.

"Mungkin mereka lagi berantem kali Sam pas sebelum syuting itu," kata gue lagi.

"Iya bisa jadi sih kak." kata Sam.

Gue emang nggak terlalu yang nontonin semua video EXO sekarang. Tapi kalo itu keluar dari mulut seorang Sam, berarti ada yang gak beres beneran. Walaupun saat itu kondisinya gue belom nonton adegan yang dimaksud sama Sam, tapi gue kayak semacem ada keyakinan kalau ini Suho sama Chanyeol sedang berantem gitu. Soalnya Sam yang ngomong. Lo harus tahu si Sam ini menghabiskan 24 jam waktunya cuma buat EXO sampai-sampai dia lupa sama hidupnya sendiri.

Itu adalah alasan yang cukup kuat untuk percaya kalo memang adegan Suho dan Chanyeol di 'Second Box' itu memang awkward. Akhirnya ketika menulis bagian ini, gue pun menonton videonya dan "WAH PARAH LAH KOK BISA GINI HAHAHAHAHAHAHA," ternyata memang beneran awkward. Bandingin sama Suho dan Sehun yang lebih menyenangkan.


Oke, gue gak tahu apa yang terjadi di belakang layar karena hidup gue nggak sepenuhnya buat ngurusin kehidupan orang lain. Mungkin ada orang yang lebih tahu soal itu dan gue nggak peduli. Tapi di video itu emang keliatan banget kalo ada masalah di antara dua orang ini.

Adegannya persis kayak lo lagi ketemu sama orang yang selama ini lo hindari karena lo tahu dia fake terus kemudian kalian berhadapan dan saling memasang topeng masing-masing. WAKAKAKAK KOCAK.

Makanya pas adegan berantem Suho-Chanyeol di 'Sing For You' gue mendadak ketawa karena inget obrolan gue sama Sam tempo hari. Wah bener nih jangan-jangan memang selama ini dua orang ini bermasalah.

"Yaudah nih bagus kebetulan konsep kita lagi mau menonjolkan soal masalah hidup EXO jadi kita masukin aja ya adegan berantem kalian terinspirasi dari kisah nyata," kata Kim Young Min lagi sambil menyeruput Luwak White Coffee ketika rapat produksi dengan EXO.

Suho dan Chanyeol hanya bisa menerima pasrah.

Tapi apapunlah yang melatarbelakangi adegan itu, gue suka banget. Emosinya dapet banget di situ. Entah karena emang aktingnya Chanyeol yang semakin membaik berkat jam terbang yang semakin tinggi, atau karena memang penempatan adegannya yang pas dan suasana lagunya yang mendukung. Semuanya positif deh buat adegan ini.


Di satu sisi gue juga yakin sih pasti di antara 9 orang ini pernah ada adegan tonjok-tonjok in real life. Ya gimana sih cowok kalo menyelesaikan masalah. #tsah Di film-film kan biasanya gitu. Kalo cowok ya saling tonjok. Kalo cewek ya jambak-jambakan (atau saling colok pake high heels).

Kembali lagi ke obrolan kita soal "isi dalemnya EXO kayak gimana" beberapa paragraf sebelum ini, bahwa konflik di dalam grup pasti terjadi. Marah-marahan antar member pun pasti ada. Mungkin bahkan ada yang sampai saling tonjok kayak gini.

"Ayo kita selesaikan secara jantan!" kata Chanyeol kepada Suho. Dan mereka pun berkelahi di bawah badai salju dengan pakaian tipis yang kayaknya kalo dipikir-pikir, boro-boro bisa nonjok, yang ada tangan udah mati rasa karena beku.

Yang gue suka lagi dari MV ini adalah cut-cut adegan perkelahian Chanyeol dan Suho ke adegan menari-nya Kai. Seolah-olah ingin menegaskan kalau apapun gonjang-ganjing yang terjadi di EXO, bodo amat, kerja harus tetep jalan, gue akan tetap menari meski sakit hati ini.

#MeliukSepertiNagini


Beberapa masalah dikemas dalam sebuah video menyentuh yang berakhir dengan memberikan harapan bahwa semuanya akan selesai dan semuanya akan baik-baik saja. Keceriaan yang hilang akan kembali. Tawa-tawa yang sudah menguap akan terasa lagi. Bahwa hidup itu berputar seperti roda. Nggak selamanya lo akan di bawah tapi pasti lo juga akan kembali ke atas lagi dan bahagia lagi.

Dan punya masalah dengan significant others yang lo cintai ini justru akan membuat hubungan kalian lebih kuat (lagi). Makanya di akhir video setelah Chanyeol berantem sama Suho lalu Suho sempat menghilang (yang menggambarkan bahwa hubungan orang setelah bertengkar pasti akan merenggang) tapi kemudian muncul lagi dan berbaring di sebelah Chanyeol sambil sedikit tersenyum (dan masalah pun selesai).


Alasan kenapa gue suka MV ini ya karena ngena dan punya makna mendalam gitu. Adegan-adegannya bermakna dan entah bagaimana related ke kehidupan kita. Ya hidup siapa sih yang nggak ada masalah, kan? Dan kembali lagi ke masalah cinta yang universal itu. Kalau misalnya lo nggak ada perasaan cinta dan kasih sayang ke significant others lo ini, lo nggak bakalan bisa tetep balik lagi ke mereka after that big war between you guys, right?

Am I right?

Adegan-adegan Baekhyun juga oke banget sih. Uri Asoka-nim neomu jalhae! Joha joha!

Dan kemudian sampailah kita ke adegan yang paling penting dalam video ini: Sehun dan Paus.


Sebenarnya apa sih hubungannya?

Gue nggak akan menjelaskan banyak soal itu karena teori dari fans di media sosial sana mungkin lebih detail daripada penjelasan gue. Tapi yang gue tangkap dari adegan itu adalah bahwa Sehun pada akhirnya jadi orang yang menyaksikan semua yang terjadi di dalam grup ini dengan sudut pandang dia sebagai maknae (bagaimana dia menyaksikan semuanya digambarkan dengan dia menjadi astronaut yang bisa melihat bumi secara utuh dari luar angkasa).

Kadang-kadang, si bungsu hanya bisa memperhatikan tanpa bisa melakukan apa-apa dan kadang-kadang dia yang paling tersakiti daripada yang lain (entah karena kondisi dia yang tidak bisa melakukan apa-apa atau karena memang tidak tahu harus apa).

#TSAAHHHH #AKUANAKBUNGSU #HIDUPANAKBUNGSU


Dan menyambung teori fans soal Sehun dan Paus yang kemudian membawa kita pada sosok manusia paling kesepian di dunia. Dia adalah Michael Collins yang merasakan 48 menit tanpa kontak dengan siapapun karena sedang mengorbit bulan sampai titik terjauh dari bumi.

Lalu apa hubungannya dengan Paus?

Identik dengan kondisi si Michael Collins, ada seekor paus yang juga sangat kesepian karena tidak punya pasangan dan tidak punya teman karena punya frekuensi suara yang berbeda dari paus yang lain, sehingga tidak ada yang mendengar panggilannya. Dia adalah Paus paling kesepian di dunia.

Lalu apa hubungannya dengan adegan Sehun di MV?

Simpel: kalau lo merasa lo orang yang paling kesepian di dunia, lo salah, karena di luar sana juga ada kok yang lebih kesepian dari lo. Maka berbahagialah karena lo nggak sendiri.


Dan untuk pertama kalinya malam ini gue membaca terjemahan lirik 'Sing For You' dan kemudian senyum-senyum sendiri (dengan mata berkaca-kaca mengenang masa-masa indah bersama para significant others di masa lalu dan masa kini wkwkw).

Ya, lagu ini soal cinta. Tapi bukan cinta yang melulu seperti apa yang digambarkan di drama Korea. Cinta yang lebih universal. Yang awkward ketika terlalu sering diumbar. Yang akan terdengar aneh jika diutarakan. Dan satu-satunya cara terbaik untuk mengatakannya adalah lewat lagu.

Picking up my old guitar,
The confession that I couldn’t make
Pretending I made one song, I’m about to tell
Just listen, I’ll sing for you

I love you a lot but I don’t say the words,
It’s awkward that pride doesn’t allow me
Today I will take courage and tell you, but just
Listen to it carelessly, I’ll sing for you

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me
The words I want to say, but missed the chance
I will confess but just listen,
I’ll sing for you, sing for you
Just listen once and smile

It’s a bit funny to me, although you’re everything
To me, sometimes I am no better than a stranger
Actually I want to rub my hair
And be hugged in your arms

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me
The words that I regretted when I looked back
I will appologize but just listen,
I will sing for you, sing for you
Just act casually

Everyday I am thankful that you are with me
My gift that God gave to me
After today, I might act awkward again
But today I really want to say today
So listen

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me.
The words I want to say, but missed the chance
I will confess and it’s a bit awkward, but
Just listen I will sing for you, sing for you
Just listen, I will sing for you

(Eng: Teddybear Lover @ YouTube)

Kita hidup di masyarakat yang tidak terbiasa dengan kata-kata "I love you" yang diucapkan secara verbal antar teman, saudara, bahkan orangtua. Dan entah bagaimana gue merasa EXO berusaha untuk mengemas rasa awkward itu lewat lagu ini. Bahkan liriknya bener-bener kayak yang terasa awkward tapi manis.

Ini bukan lagu sedih kayak 'Miracles In December' yang merengek minta diberi kesempatan untuk memutarbalikan waktu supaya dia yang sudah pergi bisa kembali lagi ke pelukan. Lagu ini lebih menyentuh. Tipe lagu yang warm your heart. Kayak ketika lo ngeliat dua anak kecil lagi makan es krim, terus es krim anak yang satu jatuh dan anak yang lain memberikan es krim miliknya untuk dibagi dan di makan bersama. Atau ketika lo nggak sengaja melihat foto seekor anak kucing yang dibesarkan oleh ibu anjing. Atau bagaimana seekor singa sangat menyayangi orang yang menyelamatkannya dari perangkap pemburu di tengah hutan.

Lihat kan betapa universal-nya lagu ini sampai binatang pun bisa dihubung-hubungkan. WAAKWAKWKAKWAKWKAKWAKW

Ah... pokoknya SUKA!


Terpikir untuk sering-sering bilang I love you gak? WKWKWKWKWKWKWKWK lewat chat aja ya. Banyak orang yang suuzon kalo denger kita bilang gitu ke orang lain. Hati-hati aja. Dunia sekejam itu.


Share:

14 komentar