Maafin... Saya Alay di 'THE EXO'luXion' Singapura [PART 1]

Waktu gue SMA, nggak ketahuan nyontek pas ujian itu adalah keberuntungan. Suatu hari ketika gue masih TK, dikasih uang kembalian setelah beliin tetangga tepung terigu di toko pinggir jalan adalah sebuah keberuntungan. Waktu jadi mahasiswa, lulus dengan nilai C dan nggak harus ngulang mata kuliah yang sama di semester selanjutnya itu adalah keberuntungan. Dan pas kerja sekarang, bisa libur sehari aja nggak mikirin kerjaan juga sebuah keberuntungan.

Sebagai fans KPop, mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan sang idola, apapun itu, besar atau kecil, penting atau sepele, juga adalah sebuah keberuntungan.

Gue nggak sengaja ketemu dengan seseorang yang sangat dermawan di showcase BTOB di Berastagi bulan Desember tahun lalu (cerita soal ini akan ditulis di artikel yang berbeda). Dan ngomong-ngomong soal keberuntungan, mungkin kondisi gue saat itu bisa masuk kategori yang kalo kata orang-orang "dapat durian runtuh". Atau kalau gue lebih suka menyebutnya sebagai "rejeki yang memang sudah jadi jatah gue". Gue dikasih tiket nonton 'The EXO'luXion' di Singapura.

Waktu dia nyebut kata-kata "satu tiket", "buat kamu" sama "nanti aku kasih", gue kayak diem selama beberapa detik. Bengong. Hah ini apa iya kuping gue nggak salah denger? Soalnya beberapa hari belakangan waktu itu suka berdenging karena sedang demam. Setelah lama bengong akhirnya gue disadarkan oleh cipratan air hujan.

"Hah ini serius?"

"Mana sini LINE kamu, nanti aku kabari via LINE ya,"

Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

NIKMAT TUHAN YANG MANAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?????????????????


Gue pernah tulis di beberapa artikel di blog ini, kalau gue bukan tipikal orang yang mau menghabiskan uang buat nonton konser di luar negeri. Gila apa. Itu kan bisa ngabisin minimal Rp 4 sampai Rp 5 juta. Harga tiketnya aja udah mahal, belum lagi masalah akomodasi dan transportasi.

"Jangan belagak deh Ron. Mending lo pikirin modal nikah."

PFTTT.

Tapi ketika kesempatan seperti ini datang dengan sendirinya, apakah iya gue harus menyia-nyiakannya begitu saja?

Gue jadi ingat kalau belakangan ini motto hidup gue adalah take it or leave it. Gue akhirnya menerima tiket gratisan itu. YA IYALAH! LO GILA APA? MASA NOLAK TIKET NONTON KONSER GRATIS?! EXO LOH INI! EX FREAKING O!

Walaupun pada saat itu kondisinya gue masih nggak bisa memberikan kepastian apakah gue bisa berangkat atau nggak, dan gue sudah bilang ke beliau yang ngasih tiket. Mungkin akan gue konfirmasi dalam beberapa hari. Tapi tawaran itu gue terima aja. Rejeki kayak gini apa iya bisa datang dua kali?

Prinsip hidup gue yang lain belakangan ini adalah "Iyain aja dulu apa-apa yang ditawarin kalau memang oke, masalah yang nanti pikirin nanti aja." Dan ya tentu saja ini kemudian berlanjut ke masalah lain: uang untuk terbang ke Singapura. Diikuti dengan uang untuk makan, uang untuk menginap dan uang transportasi lokal di sana.

Oh iya, satu lagi: izin dari kantor.

Gue cukup putar otak untuk mencentang satu per satu daftar persiapan sebelum berangkat ini. Yang paling penting sebenarnya adalah izin dari kantor sih. Karena gue berencana untuk berangkat hari Jumat pagi supaya masih ada waktu untuk istirahat sebelum konser dan masih bisa improvisasi banyak hal di sana. Kalau masalah uang, gue sendiri sempat kebingungan. Ini gimana caranya supaya kehidupan tetap sentausa dan bahagia tapi nggak harus boros.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, tiket pergi-pulang dari Jakarta ke Singapura itu nggak jauh lebih mahal dari tiket pergi-pulang kalau misalnya mudik ke Lombok. Memang di awal tahun ini gue ada rencana untuk mudik. Tapi sepertinya rencana itu harus mundur lagi sampai Lebaran. Ya begitulah, akhirnya gue lebih memilih untuk bertemu EXO ketimbang keluarga sendiri. HAHAHAHAHA AMPUN.

Ya... ketika kita sudah menentukan pilihan dalam hidup pasti ada yang akan dikorbankan.

Dan lagi-lagi kali ini gue mengorbankan kesempatan untuk mudik dan ketemu keluarga di rumah demi EXO. SEBEL! Tapi nggak apa-apa. Risiko itu mah. Memang sih terdengar berlebihan, tapi kalau dipikir-pikir, apa yang gue lakukan ini sebenarnya kayak balasan dari apa yang terjadi di 2013 dulu. Waktu itu gue udah beli tiket nonton 'Super Show 5' tapi gue jual H-1 karena keinginan gue buat pulang kampung. Anggap aja ini adalah saat yang tempat untuk membuat apa yang gue lakukan tiga tahun yang lalu impas.

(Cari pembenaran)

Keuangan gue nggak se-oke itu, tapi ya bersyukur aja masih bisa makan dan bertahan hidup di belantara bernama Jakarta ini. Dengan sedikit putar otak, mengurangi jatah ini dan itu, akhirnya sekeping dua keping uang ini cukup buat modal selama 3D2N di Singapura.

"Mah, aku mau ke Singapura," kata gue, nelepon nyokap sebelum berangkat. Semacem ritual sih kalo ini. Gue selalu ngasih tahu kalau gue mau ke mana-mana. Bahkan ke Bandung sekalipun.

"Lho, jalan lagi? Jalan terus!" nada bicaranya menyenangkan banget. Bikin kangen. Jadi inget gue terakhir pulang empat bulan yang lalu. "Kapan berangkat?"

"Ini udah di bandara."

"ASTAGA KAMU TUH YA KENAPA SUKA BANGET MENDADAK-MENDADAK NGASIH TAHUNYA! TERUS MAU NGAPAIN DI SANA BERAPA HARI? KAPAN PULANG? KENAPA SIH NGGAK CERITA-CERITA. KEMAREN KATANYA SAKIT, TERUS GIMANA UDAH SEHAT BELUM?"

Menelan ludah.

"Iya ini sebenarnya perginya mendadak juga. Udah mau naik pesawat."

"Yaudah kalau gitu hati-hati. Sukses ya!"

Dan begitulah.


Sebelum berangkat gue sempat dikasih info kalau tiket yang akan gue dapatkan nanti adalah untuk show hari pertama di tanggal 9 Januari. Tapi sampai gue mendarat di Changi Airport, gue masih nggak tahu gue akan dapat tiket apa. Berdirikah? Dudukkah? Jongkokkah di hadapan Kim Junmyeon sambil minum teh herbal? Entahlah... Masih misteri. Tapi jujur, kalau urusan dapat gratisan kayak gini gue sebisa mungkin enggak neko-neko. Dan seharusnya emang nggak neko-neko.

Ya sekarang gini deh, lo udah dikasi tiket nonton gratis konser EXO di Singapura. Itu aja udah salah satu hal yang bener-bener harus lo syukuri. Nggak usah nuntun macem-macem deh. "Masih untung dikasi!" kata gue dalam hati. Ini juga jadi sugesti buat nggak terlalu greedy dan nggak memikirkan posisi nontonnya nanti di mana. Karena sekali lagi, dapat tiket gratis aja adalah sebuah keberuntungan.

Ini adalah pertama kalinya gue akan nonton konser di luar Indonesia. Beberapa hal tentu saja sudah harus dipersiapkan. Yang paling penting adalah tempat menginap. Kalau misalnya gue punya temen di Singapura, gue mungkin akan memilih untuk nebeng aja nginep sama temen gue itu. Karena menurut gue itu akan sangat menghemat uang. Tapi berhubung gue anaknya nggak terlalu gaul, jadi mau nggak mau memang harus tinggal di hostel. Di Singapura banyak kok hostel-hostel yang murah.

Sam, kalau lo masih inget salah satu temen gue yang 24 jam hidupnya didedikasikan buat EXO, juga nonton. Dua hari. Ya kalau dia sih levelnya udah beda sama gue. Gue masih receh banget ni. Kalau dia udah superior banget. Sam merekomendasikan satu nama hostel di daerah Kallang. Kalau kata dia sih, "Deket banget kak sama lokasi konsernya. Kayak belakang-belakangan gitu!"

Gue nggak tahu apakah itu benar atau hanya imajinasi dia semata. Karena gue juga nggak begitu paham Singapura akhirnya gue percaya aja sama dia. Buru-buru gue nge-tag hostel itu lewat aplikasi bernama booking.com yang benar-benar berguna. Gue nggak ngecek kebenaran apakah memang hostel itu dekat banget sama lokasi konser apa gimana. Mungkin gue terlalu percaya Sam. Gue mendapatkan kamar dormitory campur (cowok-cewek) dengan harga sekitar SGD 43 untuk dua malam (dengan tambahan SGD 20 untuk deposit yang bisa diambil setelah check out). Sebenarnya ini bukanlah harga yang paling murah yang bisa gue dapatkan. Tapi karena gue lagi tidak dalam kondisi yang mau repot, jadi gue percaya aja sama Sam.

Nama hostel ini Coziee Lodge. Lokasinya deket banget sama stasiun MRT Kallang. Kayak tinggal keluar dari pintu sebelah kanan setelah lo tap kartu, terus belok kiri sampai lampu merah, nyebrang jalan ke kanan, terus nyebrang lagi ke kiri, terus belok kanan lurus aja sampai pengkolan terus belok kiri. Lokasinya ada di sebelah kiri. Kalau dihitung-hitung jalan sih bisa cuma 5 menit maksimal kalau lo jalannya sambil mikirin masa depan yang belom jelas. Nah, dari hostel ini juga sebenarnya National Stadium-nya Singapura tuh keliatan. Singapore Indoor Stadium itu nggak jauh lokasinya dari si National Stadium.


Kalau yang gue cek di Google Map, jarak dari hostel ini ke Singapore Indoor Stadium sekitar 1,7 kilometer (BELAKANG-BELAKANGAN KEPALA LO PEYANG SAM!). Kalau jalan kaki bisa 25 sampai 30 menit (BELAKANG-BELAKANGAN KEPALA LO KEPENTOK GIGI CHANYEOL, SAM!). Nah, di stasiun MRT Kallang itu ada papan gitu yang ngasih arah kalau mau ke National Stadium dan Singapore Indoor Stadium tuh lewat mana. Ada juga jalan (ada atapnya) yang kalau diikuti akan mengantarkan lo ke lokasi ini.

Gue sampai di Singapura Jumat sekitar lewat tengah hari. Setelah solat Zuhur di Changi, gue langsung ke hostel. Sebelumnya gue menyempatkan diri untuk beli SIM Card lokal buat internet dari Singtel. Harganya SGD 15 dan gue beruntung dapet paket promo sampe Februari jadi dapet internet 100 GB (dan bonus nelepon juga). Bermodalkan itu, gue nanya ke hostel gimana caranya dari bandara ke sana dan cus, langsung jalan naik MRT dengan membayar tiket SGD 1,6.

Singapura panas banget Ya Allah. KAYAK DI DEPOK! Langitnya bener-bener cerah dan matahari kayaknya berkuasa sekali. Sesampainya di Coziee Lodge gue udah keringetan parah. Tapi beruntung tempatnya cukup nyaman, walaupun tempat tidurnya nggak terlalu private. Beda dengan hostel yang gue tempati waktu di Seoul (cerita menyusul heheh) yang tempat tidurnya ditutupi kelambu gitu. Jadi kalau pas tidur kita mangap atau ngangkang nggak akan keliatan. Tapi ya, namanya juga hostel murah, kalau mau private mah kan ke hotel aja.

Saking panasnya Singapura, kepala gue jadi agak pusing. Begini deh derita orang yang pake kacamata. Kalau terekspos cahaya matahari berlebihan suka puyeng. Separo emang gue sakit kepala karena bete, separu karena capek. Setelah check in akhirnya gue tidur dan membatalkan rencana gue untuk ke Marina Bay Sands. Pas malamnya mau jalan-jalan, malah diajakin makan malam sama bule yang tinggal di kamar yang sama. Yaudah gue pun setuju. Daripada galau?

Padahal kita belom kenalan.

Pas jalan keluar dari hostel baru deh kita saling sebut nama. Satu bule cewek berambut pirang yang mukanya kayak pemain telenovela namanya Pricilla dari Swiss. Cowok yang ngajakin makan malem tadi namanya Giorgio. Pricilla baru sampai di hostel beberapa jam setelah gue, sementara Giorgio kayaknya sudah beberapa hari menghabiskan waktu di sana. Usia gue dan Pricilla sepantaran sementara Giorgio jauh lebih tua. Tapi ternyata mereka berdua udah keliling dunia. SEBEL. Gue pun cuma bisa mingkem pas mereka cerita.

"Ya gue ke Singapur aja mikir berapa kali. Ini si Giorgio abis dari Australia, Filipina, Singapura, abis ini mau ke Vietnam sama Bangkok. Punya kebon duit?" kata gue sambil makan nasi goreng yang nggak enak di salah satu restauran halal dekat hostel.

"Jadi lo ke sini ngapain, Ron?" tanya Giorgio di sela-sela obrolan kami.

"Oh, gue mau nonton konser grup Korea gitu." jawab gue ringan.

"Bener? Mereka terkenal?" tanya Pricilla.

"Iya... lumayan lah kalo di Indonesia popularitasnya kayak Sule. 11 - 12 gitu," jawab gue makin ringan. "Gue sebenarnya ke sini kerja. Gue jurnalis. Tapi gue suka sama grupnya jadi sekalian aja." tambah gue.

Sesaat gue lupa kalau tiket nontonnya aja belum gue pegang.

"Sabar. Yang sabar disayang Allah."

Sebelum tidur malamnya gue sudah merancang rencana buat besok pagi. Gue akan jalan ke Merlion Park, terus ke Marina Bay Sands, abis itu akan cek lokasi ke Singapore Indoor Stadium. Dulu, waktu konser Super Junior pertama di MEIS gue juga menyempatkan diri jauh-jauh hari buat cek lokasi. Karena gue belum pernah dan belum tahu kayak gimana kondisi lokasinya, jadi gue butuh informasi lebih. At least kalau misalnya gue nginep di venue, gue tahu toilet di mana, colokan ada di sebelah mana, dan sebagainya. Rencananya setelah dari Marina Bay Sands, gue akan kembali ke Kallang Station dan mengikuti petunjuk jalan yang ada di sana buat ke Singapore Sports Hub.

Kunjungan ke Merlion gue anggap sebagai mandatory. Sekedar lepas kangen karena sudah lama kita nggak ketemu. HAHAHAHA KESANNYA KAYAK KAMPUNG HALAMAN BANGET PADAHAL JUGA INI BARU KUNJUNGAN KEDUA. Pertama kali gue ke Merlion pas liputan HBO dan cukup berkesan. Target gue pagi itu adalah menunggu matahari terbit karena ternyata di Singapura, matahari terbitnya sekitar jam 7:20 waktu setempat. Terbangun superpagi karena alarm gue masih waktu Jakarta, gue pun berangkat ke Merlion sekitar jam setengah tujuh.

Gue mungkin bukan orang yang gampang hapal materi pelajaran di sekolah ataupun teori-teori yang ada di buku. Tapi kalau urusan mengingat jalan dan detail bentuk sebuah bangunan atau peristiwa gitu, gue bisa diandalkan. Waktu tahun lalu gue ke Merlion, gue cuma ngekor sama Kak Andra (salah satu wartawan media besar di Indonesia). Tapi meski ngekor, gue masih inget banget detail harus belok ke mana, lewatin apa dan patokannya apa kalau menuju ke Merlion. Alhasil ketika gue naik MRT dari Kallang dan turun di Raffless Place, gue bisa menemukan arah ke Merlion dengan mudah.

YA SEBENARNYA SIH KARENA EMANG GAK SUSAH SIH. Orang tinggal keluar stasiun, nyebrang, lurus, belok kanan, lurus, belok kiri, lurus, nyebrang, turun tangga, belok kanan, lurus, dan sampai.

Ingatan perjalanan berbulan-bulan yang lalu itu bisa gue recall dengan sangat sempurna. Gue sampai di Merlion yang masih sepi. Hanya ada kakek-kakek dengan kamera DSLR-nya siap menangkap matahari terbit, dan pasangan dari Jepang yang bermesraan sambil selfie-selfie. Sementara gue... hanya bisa duduk di pinggiran deket pagar sambil makan roti yang gue beli di Seven Eleven dan meneguk susu pisang yang enak banget itu.

Di situlah gue mendadak ingat kalau di tas gue, di bagian tempat naruh laptop, gue menyelipkan dua fanboard yang niatnya mau gue bawa ke konser malam ini.


I'm so ready!
Posted by A. Ahsani Yusron on Friday, January 8, 2016


Ya, walaupun belum tahu bakalan dapat tiket nonton di posisi yang mana, tapi gue jaga-jaga aja nih bawa fanboard. Kalau dapatnya standing ya bersyukur, setidaknya fanboard-nya bisa berguna dan lebih mudah dilihat sama artisnya. Kalau dapatnya duduk, yaudah lumayan fanboard-nya buat alas duduk pas antre.

Satu hari sebelum berangkat, gue begadang di kantor ngedit dua foto buat fanboard ini. Gue berencana untuk bikin fanboard untuk Suho dan Baekhyun. Sebenarnya ide gue sendiri udah mentok: ngedit muka mereka di badan cewek. Dan untuk ceweknya sendiri gue pun mentok dengan couple favorit gue: Suho - Irene, Baekhyun - IU. Sekitar jam 12 malam gue mengerjakan fanboard itu sambil terkantuk-kantuk. Muka Suho gue tempel di muka teaser 'Dumb Dumb'-nya Irene. Sementara muka Baekhyun gue tempel di atas foto teaser 'CHAT-SHIRE'-nya IU. Sesimpel itu. Males mikir macem-macem. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi ketika fanboard itu gue print di tempat print 24 jam depan kantor. Balik ke kosan gue guntingin, tempel di map agak tebel, terus diisolasi hitam. Udah kelar. Gak usah ribet-ribet pokoknya. Yang penting beda dari yang lain aja.

Sebelum balik ke kosan gue juga membongkar-bongkar laci kerja gue di kantor untuk menemukan fanboard Suho - Irene & Yixing - Lee Soo Man yang gue bawa ke 'The Lost Planet' tahun 2014 kemaren. Udah lecek sih tapi masih bisa keliatan. Jadi gue bawa aja. Kalau nanti dapet standing, bisa kasi lihat Suho. Siapa tahu dia masih inget dan ngasih ekspresi yang sama kayak waktu itu. Tapi gue nggak yakin juga dia inget. Emang yang bawa fanboard selama ini cuma satu orang aja apa. Apa iya lo sepenting itu buat diinget? KHAYALAN BABU LO!

Belajar dari pengalaman yang dulu-dulu, sebelum konser, fanboard ini harus di foto. Tapi gue bukan tipe orang yang pengen gembar-gembor dulu soal fanboard sebelum konser. Karena takutnya malah zonk. Mana lagi gue nggak tahu dapat tiketnya di mana kan. Tapi hari itu karena kebetulan sudah ada di Merlion, gue pun memutuskan untuk memotret dua editan foto Suho itu bersama dengan Merlion dan mem-posting-nya di Facebook.

"Yah siapa tahu nanti beruntung. Kan kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi. Anggep aja barang bukti," kata gue.

Eh, ternyata bener....

Di tengah ketidaktahuan gue soal tiket, gue sama sekali nggak ada perasaan-perasaan deg-degan soal konsernya. Mungkin belum. Bahkan ketika gue datang ke Singapore Indoor Stadium di jam 10 pagi (konsernya jam 6 sore), feel dan excitement-nya itu masih belum ada.

Gue balik dari Marina Bay Sands sekitar jam sembilan pagi dan kembali ke stasiun MRT Kallang. Seperti rencana semalam, gue akan ngikutin petunjuk jalan menuju Singapore Sports Hub. Berbekal Google Maps (yang menginformasikan bahwa jarak dari Stasiun MRT Kallang ke Singapore Indoor Stadium adalah sekitar 1,7 kilometer atau sekitar 25 menit jalan kaki) gue pun memulai langkah bersemangat. 1,7 kilometer itu nggak ada artinyalah. Gue pernah jalan dari Lawang Wangi ke Dago Atas yang jaraknya 2,4 kilometer aja sanggup.

"Lo pasti bisa!" kata gue dalam hati.


Setelah lima belas menit jalan, gue lupa kalau ternyata energi gue sudah habis setengahnya ketika jalan ke Marina Bay Sands. Ditambah lagi udara Singapura siang itu yang bener-bener panas kayak Depok dan Jalan Margonda membuat semangat gue kendor parah. Tapi toh akhirnya gue sampai juga di Singapore Indoor Stadium.

"Eh? Ini beneran lokasi konsernya?" gue bertanya dalam hati.

Gue takut kalau gue salah lokasi. Soalnya serius deh itu lokasi sama sekali nggak ada nuansa-nuansa konser sama sekali. Nggak ada poster EXO, nggak ada umbul-umbul konser, nggak ada apa-apa. GINI DOANG NIH? WAH LEBIH MERIAH JAKARTA YA TERNYATA. Gue mengelilingi lokasi itu dan ternyata emang nggak terlalu gede. Berniat buat nyari wall of fame malah nemu kontainer konsernya. Setelah merasa mengerti lokasinya, gue pun memutuskan untuk pulang naik MRT. Dan secara kebetulan ketemu sama Sam yang megang tiket gue.

Dan akhirnya momen itu datang juga. Informasi soal tiket udah keluar. Sekitar jelang sore dan gue sempat tidur siang dulu, kita udah siap-siap mau berangkat ke lokasi konser ketika gue dikasih tahu dapet tiket apa. Kaki gue rasanya lemes banget. Apakah ini hasil dari tidak terlalu banyak berharap dan memegang prinsip "yaudahlah yang penting gratis, nggak usah banyak menuntut"?

"Tiketnya Standing Pen C. Nomor antrean 001."


YA ALLAH.

ALLAHU AKBAR.

LA HAWLAWALA QUWATA ILA BILLAH.

APAKAH DOSA-DOSA GUE SELAMA INI PANTAS DIBALAS DENGAN HAL SEINDAH INI?!?!?!?!?!

Kaki gue udah lemes karena jalan seharian sebelum konser ini. Ditambah lagi berita menyenangkan kayak gini ya gimana nggak makin meliuk seperti nagini. Tapi excitement itu mendadak terkubur karena satu hal: nomor antrean pertama berarti orang pertama yang tasnya diperiksa.

OH DAMN. GUE LUPA MASALAH KAMERA-KAMERAAN INI!

Kalau lagi kerja, tentu saja kita boleh bawa kamera ke lokasi konser. Tapi biasanya dikasih motret cuma tiga lagu pertama aja. Sisanya ya berarti bandel. Tapi kalau sedang nonton sebagai fans, gue tentu saja tetap membawa kamera. Buat jaga-jaga siapa tahu bisa motret kan lumayan. Masalahnya ini EXO. Ini urusan antara hidup dan mati. Nggak deng lebay.

Informasi yang gue dapatkan, konser di Singapura nggak ada body checking sama sekali. Berarti kalau misalnya gue mau nyembunyiin kamera di selangkangan kayak fansite-fansite itu bisa banget. Tapi masalahnya, kamera gue bukan kamera yang lensa sama body-nya bisa dicopot. Kalau gue taruh di selangkangan, bisa-bisa gue disangka tumor pantat. Lagipula gimana bisa mau naruh kamera di selangkangan orang celananya aja jins agak ketat.

Kondisi ini sudah gue perkirakan sebelumnya. Jadi gue dari rumah bawa sweater sama coat hitam punya Dito yang gue bawa ke Seoul kemaren. Kalau misalnya itu kamera gue selempangin dan gue pake sweater terus dibalut lagi sama coat, itu nggak keliatan sama sekali. Masalahnya adalah Singapura lagi 30 derajat. Orang tolol mana yang di udara sepanas ini pake sweater dan coat tebel? Masalahnya lagi adalah tampang gue sangat mencurigakan. Bisa-bisa beneran dikira lagi bawa bom.

Akhirnya gue pasrah. Gue mengakalinya dengan memasukkan kamera gue ke dalam coat, lalu melipatnya dan gue sampirkan di lengan dengan kasual. Sementara kamera kecil ada di bawah tumpukkan dompet, botol air minum dan brosur MRT di dalam tas. Kalau misalnya kamera kecil itu ketahuan, yaudahlah, kalo yang besar ketahuan, ya pasrah aja.

Tapi ternyata ketika sampai di antrean dan siap masuk ke lokasi konser, tas kita nggak dibongkar dan digerogoti kayak kalo konser di Jakarta. Pas gue tanya kenapa? Jawabannya bikin bahagia banget: "Kami tidak punya hak untuk menyentuh tas Anda. Kami hanya akan melihat isinya dari jauh."

SENENG BANGET GAK SIH. Soalnya yang gue denger dari promotor yang sedang hits saat ini, selain menggunakan metal detector untuk mengantisipasi fans yang bawa bom ke lokasi konser, security juga bongkar tas sampai ke dalam-dalam. Nggak cuma itu, body checking-nya juga sampai belahan dada dipegang-pegang (sama security cewek). Itu atas pengakuan temen gue pas salah satu konser di Januari kemaren.

Pertanyaan gue satu aja sih: apakah ini benar-benar diperlukan? Apakah fans KPop ada yang masuk jaringan teroris?

Eh itu jadi dua ya pertanyaannya.

Jadi pas gue mau masuk ke venue, gue kasih tas gue dan petugasnya nyuruh gue buka lalu dia cuma nyolok-nyolok pake tongkat terus udah. Sementara coat yang gue bawa tadi (yang ada kameranya) nggak dicek sama sekali. LOLOS! Tapi pada akhirnya nggak berguna juga hahahahaha

Gue adalah orang pertama atau kedua yang masuk ke venue karena nomor antreannya juga udah yang paling depan (SEKALI LAGI INI BENER-BENER YA YA ALLAH GAK NYANGKA!). Jadi ketika gue masuk, gue lagi-lagi nempel pager. Deja vu! Bedanya nggak ada drama-drama ngangkang di depan pager sambil teriak-teriak nyariin temen nonton supaya tempatnya nggak diambil sama fans yang lari-larian. Gue memastikan semua barang-barang gue aman dulu. Tiga temen gue yang lain termasuk Sam juga sudah ada di posisi mereka masing-masing. Setelah itu, biar takdir yang bicara.


Coat punya Dito yang gue bawa itu ternyata sangat berguna. Karena ada dua kantong di bagian depannya, jadi gue bentang itu coat di pagar dengan posisi kantong di bagian depannya mengarah ke panggung. Fungsinya buat naruh hape sama power bank jadi kalau pas nonton mau motret pake hape (karena boleh) nggak repot. Juga sebagai antisipasi jatoh juga. Gue belajar banyak deh dari 'The Lost Planet' pokoknya.

Kamera gue akhirnya gue simpen di dalam tas. Karena posisi di depan pager gitu nggak bakalan ada chance buat motret. Security-nya ketat banget! Dan berdirinya di depan gue banget. Yaudah gue pasrah aja. Hari ini memang rejekinya cuma nonton. Udah dapet tiket gratis, udah dapet antrean nomor awal, udah dapet depan panggung, masa iya gue mau greedy dengan dapet motret juga. Yaudah, nggak usah berharap kamera bisa dipake. Berharap aja fansite yang berdiri di belakang gue ini nggak resek dengan kamera basokanya. Berharap juga kaki gue masih betah berdiri selama tiga jam ke depan. Berharap juga bisa ada momen sama salah satu bias.

Ketika konser dimulai...........

Apalah arti harga diri.......................................

Suho :"""""""""

[jangan lupa juga nih add LINE@ KaosKakiBau buat rame-ramein aja hihihi @ecd6150l (di search pake @ jangan lupa)]

Share:

10 komentar