Semester 7 [PART 7]: Bumi Gonjang Ganjing

Dunia sedang kacau. Wah belakangan ini hidup saya nggak cuma cetar membahana deh, tapi ini udah dalam taraf cetar-membahana-topan-badai-hurricane venus-taifun-porak poranda kacau parah! Diakhir semester ini semuanya tiba-tiba aja berubah 180 derajat drastis dari perkiraan. Well, yeah emang kita kan nggak pernah tahu akan seperti apa hidup kita satu menit berikutnya (bahkan). Hanya Tuhan dan takdir yang tahu. Tapi ya, kalau mau menye-menye, kalo mau menggerutu (karena saya masih manusia dan saya rasa menggerutu itu manusiawi) semester 7 ini semuanya jadi lebih ribet dari semester-semester sebelumnya. Wow wow wow. Bukan cuma masalah tugas kuliah aja, I mean, tugas kuliah ya emang akan selalu ada (BANYAK BANGET TUHAN YA ALLAH coba sebut ada berapa video yang harus kami buat dalam semester ini? 8? Trus dalam dua minggu terakhir ini harus jadi berapa? 6! We're humans, not miracle worker! PROTES!--gak didengerin juga) tapi masalah ini tuh lebih parah dari tugas-tugas video ini, to be honest. Gue ngerti, kenapa ada orang yang nggak suka dan bete parah sama orang lain yang berkelakuan labil. Akhirnya gue juga merasakan hal itu. Tapi perbedaannya ini yang labil bukan orang, tapi universitas, birokrasi, dan peraturan. Sumpah. Bete. Banget.
*
Gimana perasaan lo ketika di awal semester lo baru jadi mahasiswa baru lo dijanjikan kata-kata manis kemudian di akhir semester semuanya jadi sampah belaka. Kayak gini nih jadinya, kayak gue. Nggak jelas hidup. HAHAHAHAHA.... Masalah personal sih karena lain orang bisa jadi lain cara menanggapi masalah ini. Tapi yang jelas gue bete dengan semua kelabilan ini karena menurut gue, sekarang, saat ini, di dua minggu terakhir kuliah ini, sudah bukan lagi saatnya untuk labil. Oke, ini sebenarnya gue menulis pernyataan bukan cuma buat satu oknum, tapi juga buat gue. Tapi paling nggak, kalo ini oknum nggak labil, berarti kelabilan yang harus gue hadapi kan jadi berkurang.

Gue rasa semua mahasiswa tingkat akhir merasakan ini, eh? Gue mungkin tidak sedang dalam proses penulisan skripsi karena di departemen gue skripsi tidak diwajibkan (tapi pada akhirnya lo harus menghadapi masalah yang lebih parah dari skripsi dan maaf maaf kata aja nih ya, masalah ini seharusnya nggak ada kalo nggak labil) tapi meskipun gue nggak skripsi, gue tetap merasa galau dan stress. Bahkan lo nggak skripsi-pun galau dan stress Ron, apalagi lo skripsi? Gimana itu bentuk otak lo mungkin udah berceceran kayak belatung jatuh dari punggung---ah.

Sekarang ini saya sedang berkutat dengan segala kegalauan dan pertanyaan tentang "mau jadi apa saya nanti?" "apa yang akan saya lakukan setelah lulus?" "dimana saya akan bekerja?" "apakah saya akan bekerja di Jakarta atau pulang kampung?" "kalau saya tetap di Jakarta apa yang akan saya lakukan dengan biaya hidup yang menggila ini?" "kalau saya pulang kampung bagaimana saya bisa datang ke konser EXO dengan biaya PP yang mahal Mataram-Jakarta?" #DOR #YANGTERAKHIR #DORAJA

Wajar kan kalau mahasiswa tingkat akhir bingung memikirkan masa depannya? Wajar dong. Iya-in aja biar cepet kelar. Ya wajar. Dan sekarang masalahnya, kebingungan ini lagi berada di luar batas kewajaran. 

Setiap orang punya mimpi, dan bener kata Isabelle Wright (Vouge.com - Glee Season 4) "Mimpi itu bisa berubah..." Masuk akal. Semua mimpi bisa berubah. Bahkan kalo dipikir-pikir mimpi kita dari kecil kalo diinget-inget sellau berubah. Kita sudah labil dari kecil, men! Hahaha... Kalau dipikir-pikir, labil itu sebenarnya nggak buruk-buruk amat kok karena pada akhirnya ujung dari kelabilan itu lo akan menemukan jawaban kan? Iya kayaknya. Nah balik lagi ke soal mimpi yang berubah, gue jadi inget sama masa kecil gue... ketika gue masih seorang anak kecil yang tidak bisa main layangan dan main kelereng tapi hanya bisa main boneka barbie.

Dulu, role model gue adalah om gue sendiri--dia adiknya mom. Orangnya cerdas banget sampe kuliah di luar negeri gitu dapet beasiswa sana sini dan sekarang jadi dosen senior gitu di salah satu universitas di kampung halaman gue. Gue pengen bisa jadi kayak dia, dulu. Pengen bisa jadi orang pinter yang bisa kuliah di luar negeri. Trus tercetuslah ide gue pengen jadi insinyur pertanian. Nggak tahu kenapa, mungkin dulu karena gue suka banget nonton Petualangan Sherina dan ayahnya Sherina disitu kan insinyur pertanian gitu. Nggak tahu deh. Ini kira-kira cita-cita gue waktu SD kelas 2 sampe kelas 4 SD apa ya? Iya kayaknya umur-umur segitu. Awalnya gue pikir ini akan bertahan selamanya, tapi ternyata nggak. Ternyata pas kelas 5 SD mimpi itu berubah....

Masuk kelas 5 SD, gue mulai kenal sama Harry Potter dan mulai suka baca buku, mulai suka nonton film. Mulai terobsesi sama yang namanya Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint. Mulai jadi fanboy Harry Potter yang setiap kali ada artikel related to Potter di majalah, koran atau apapun diguntingin, di masukin ke map, dijadiin satu file folder utuh. Dan sejak itulah mimpi gue berubah. Dari insinyur pertanian, gue pengen jadi penyihir. 

Gue mencoba untuk merapalkan mantera-mantera sesuai dengan mantera yang ada di buku Harry Potter. Mulai dari Wingardium Leviosa sampai Alohomora. Gue mulai bikin tongkat sihir pake bambu dan mengayun-ayunkah tongkat sesuka hati. Tapi gagal. Nggak ada yang berhasil. Nggak ada mantera yang berhasil gue lakukan. Gue gagal jadi penyihir. Rasanya sesek banget. Waktu itu. Sampai akhirnya gue sadar kalau ternyata penyihir itu nggak ada dan kemudian gue sadar dari kesukaan gue membaca novel itu mimpi gue bukanlah jadi penyihir, tapi jadi penulis. Ya. I really wanna be a writer. Bahkan sampai sekarang sih, walaupun sudah pernah nerbitin satu novel (yang totally failed) tapi ya, pada akhirnya mimpi ini satu-satunya yang jadi kenyataan sejauh ini.

Mimpi untuk jadi penulis bertahan sampai SMP. Sampai SMA. Sampai sekarang. Tapi bukan berarti nggak ada mimpi lain yang tercetus selama waktu berjalan itu. Waktu SMP, gue mulai kenal sama yang namanya kehidupan anak band. CIYE gue aja kalo inget sama hal ini bisa ngakak sampai kiamat. Ya dulu gue sempat jadi drummer di band sama temen-temen gue walaupun pada akhirnya gue nggak dipake lagi karena konflik waktu itu (CIYE~~~). Sempat kepikiran buat bermimpi jadi anak band waktu itu. Awalnya sih bakalan jadi vokalis soalnya dulu pas SD-SMP suara gue bening banget, serius deh, mungkin kalo dulu SM ketemu sama gue, gue udah debut kali sekarang. Tapi itu dulu, belom akil baligh. Semuanya hancur setelah akil baligh dan suara gue jadi kayak kentut kuda. Dan saat itu mimpi gue berubah lagi, pengen jadi anak band dan penyanyi. Walaupun perubahan ini nggak bertahan lama.

Lulus SMP, masuk SMA, mimpi baru datang lagi. Wah, gue pengen jadi penyiar radio. Kayaknya seru aja gitu ya, duduk di belakang meja di depan mixer dan komputer, bacain request dari orang-orang yang dengan setia mendengarkan suara kentut kuda ini, muterin lagu-lagu yang orang-orang suka. Kayaknya asik aja gitu. Dan mimpi itu pun berubah lagi. Dan kemudian mimpi itu jadi kenyataan. Gue berhasil diterima di Fresh Radio dan masih jadi DJ sampai sekarang. Lalu ketika mimpi ini berhasil diraih, mimpi yang lain muncul lagi.

Waktu SMA, hasrat tulis menulis gue semakin membuncah. Ada beberapa cerita yang sempat gue print dan gue bagi ke temen-temen di sekolah buat di baca pas SMA. Beberapa appreciate, beberapa lagi biasa aja. Tapi gue seneng karena kemudian gue menyadari bahwa sebenarnya ketika lo menulis sesuatu, lo nggak perlu memikirkan apakah ada yang mau baca atau nggak, yang penting dulu adalah proses menulisnya. Dan ketika itu mimpi gue menjadi penulis muncul lagi.

Semakin berjalan hari gue semakin mendapat pencerahan, oh ternyata penulis itu bukanlah pekerjaan utama karena ternyata kita masih bisa menulis ketika kita bekerja di tempat lain juga. Dan saat itulah gue mengubah mimpi gue lagi. Gue mencari-cari, kira-kira apa ya yang cocok buat anak kayak gue? Kemudian gue berdiri di depan cermin, memerhatikan jerawat-jerawat yang mulai bermunculan, memerhatikan rambut yang sering gue catok dulu pas SMA. Dan gue menemukannya.... gue akan jadi psikolog! Dulu dipikiran gue, pasti seru kalau misalnya kita bisa membantu orang, memberikan saran tentang permasalahan mereka, memberikan konseling, jadi temen ngobrol orang, ngasi masukan tentang apa yang mereka sedang bingungin. Persis seperti apa yang gue butuhkan di semester 7 ini anyway. Gue pengen jadi psikolog buat bantu orang yang mungkin aja butuh gitu kan. Dulu mikirnya gitu. Tapi di tengah-tengah tahun kedua SMA, mimpi itu berubah lagi. Itu setelah gue kembali dari Perth, Australia, gue mengubah mimpi gue itu jadi "Pengen kerja di kedutaan besar di luar negeri..." Saat itulah gue berhasrat pengen masuk HI-UI. HAHAHAHA KETAWA AJA KALO INGET ITU. Ya Allah.... kuliah HI kayak gimana ribetnya sekarang gue nggak bisa bayangin.

Sampai sekarang gue masih pengen kerja di luar negeri. Masih pengen. Tapi setelah (waktu itu) gue sadar kalau ternyata jadi pegawai kedutaan besar itu tidaklah semudah mengucapkannya, kemudian mimpi gue berubah lagi. Gue kembali ke basic, gue pengen jadi penulis kan? Kenapa gue nggak coba belajar sastra? Wah.... kemudian gue berpikir, kira-kira sastra apa yang seru ya? Kemudian gue mikir lagi, gue suka banget sama pelajaran bahasa Inggris waktu SMA, oh oke, gue akan masuk sastra inggris aja! (Andai gue sudah tahu Korea pas SMA, mungkin gue masuk sastra Korea). Akhirnya gue sempat daftar sastra Inggris tapi eh tapi, nggak keterima. Dan saat itulah mimpi gue berubah lagi. Saat itu gue pikir kerja di TV pasti enak, pasti seru, kayaknya kalo tiap hari ketemu artis pasti menyenangkan. Okelah gue pengen kerja di TV!

Dan disinilah gue sekarang, di jurusan yang terakhir terpikir dan diyakini setelah lulus SMA dengan masa depan (seharusnya dan idealnya) bekerja di stasiun TV. Tapi kemudian.............. Ah. Ya, labil. Mimpi itu berubah lagi. Dan sekarang perubahannya bahkan belum jelas. Belum ada bentuk nyatanya. Belum bisa diungkapkan. BELUM TAHU APA SELANJUTNYA DAN MAU NGAPAIN SELANJUTNYA. 

Semua orang pasti pengen kerja yang menghasilkan banyak uang. Pengen karir yang mapan. Pengen bisa membantu membiayai kalo bisa nggak cuma orang tua tapi semua keluarga yang membutuhkan. Pasti semua orang pengen begitu. Ya gue juga. Gue juga pengen kali jadi orang kaya. Banyak uang. Bisa bantu keluarga yang susah. Paling nggak ketika gue udah kerja, gue bisa berguna bagi masyarakat gitu. Pengen banget. Tapi ya.......... sekarang, pertanyaannya, harus kerja apa? Gue aja masih bingung.... Ya Tuhan.... HAHAHAHAHAHA Ketawa aja. Baru sadar kalo hidup ini nggak gampang men. Baru sadar kalo hidup ini nggak cuma sekedar bangun pagi trus tidur malem, kalo laper makan kalo minum haus. Baru sadar....

Bumi lagi gonjang ganjing banget. Belum kepikiran kerja dimana? OH ASTAGA. Bahkan departemen aja belom tau mau gimana sama proses kelulusan mahasiswa mereka. Life is so beautiful... Serius. Indah banget. 

Bumi lagi gonjang ganjing banget.

Bahkan sampai sekarang gue masih belum tahu, sebenarnya kapan EXO Comeback..... Sedih.








PS: EH ADA GIVEAWAY LAGI LOH! NAH SILAHKAN CEK fb.me/1KNq5pyL2 :D :D :D
*

Share:

14 komentar