KaosKakiBau ke New York [Part 5]: Madison Square Garden dan Dilema Buang Air Besar

Hati, kepala dan pikiran gue masih dipenuhi dengan perasaan-perasaan tidak percaya ketika gue menjejakkan kaki di Times Square malam itu. Minggu, 27 September 2015. Gue nggak akan lupa sama tanggal itu. Tidak mau mengulangi sebodohan ketika jalan dari hotel ke lokasi makan malam sebelumnya yang hanya pake batik dan tanpa jaket sementara udara lagi dingin-dinginnya, gue malam itu sudah melapisi tubuh kurus ini dengan baju merah Oversode yang gue pake dari Jakarta (JOROK!) dan pake jaket merah bertuliskan huruf R di sebelah kirinya. Jaket ini gue dapatkan dari bos gue yang waktu itu lagi mempromosikan artis baru, namanya Rega. Sementara mbak Laila pake baju tertutup ala mbak-mbak berjilbab Malaysia dan bawa jaket panjang.

Kayaknya kebanyakan orang yang ada di Times Square itu turis. Keliatan soalnya, siapa yang heboh foto-foto dan terlihat alay, dan siapa yang berjalan kasual dan hanya melintas, lalu memilih untuk masuk ke restauran-restauran yang banyak di sekitar Broadway. Gue adalah salah satu yang alay dan tidak bisa menyembunyikan excitement gue berdiri di depan patung George M. Cohan 'Give My Regards to Broadway' dan berada di tengah-tengah Times Square untuk pertama kalinya.

Adegan di 'Glee' ketika mereka pertama kali di 'New York' dan nyanyi-nyanyi di undakan tangga yang ada di Times Square di season 2 itu langsung keputer di kepala gue. Persis seperti ketika Rachel Berry berdiri di tengah-tengah situ, gue juga melakukannya lalu berbisik: "BROADWAY!"
*

LOLOLOL

Berniat untuk meniru adegan lari-lari di undakan tangga yang ada di sana tapi gagal karena rame banget, gue akhirnya cuma bisa menatap dari kejauhan. Memang malam itu setiap anak tangga sudah padat banget sama orang-orang yang kayaknya lagi pacaran atau ngapain deh nggak ngerti dan nggak perhatiin. Mungkin ada salah satu yang ciuman juga nih atau melakukan praktek #LoveWins.

"Gimana mau foto di sana nih mbak?" kata gue ketawa ke mbak Laila.

"Memang ramai kalo malam," jawabnya.

Mbak Laila yang notabenenya adalah fans Super Junior dan Leeteuk ini sudah pernah ke sini sebelumnya, tentu saja dia tidak heran dengan kondisi malam itu. Sementara gue masih saja kagum sekagum-kagumnya sama tempat itu. Senyum aja setiap pindahin sudut pandang. Gedung-gedung tinggi yang ada di sekitarnya, orang-orang yang foto-foto, pengamen, pengemis atau apalah itu mungkin gelandangan juga atau memang aktivis atau apa nggak paham yang angkat papan bertuliskan JESUS IS OUR SAVIOUR, sampai semua orang yang berdandan seperti patung Liberty.

Gue tertarik dengan yang terakhir. Akhirnya gue ngeluarin ponsel dan berniat buat selfie dari jauh aja. Eh tapi dasar ya orang lagi cari uang, merhatiin aja gue lagi mau curi-curi foto. Akhirnya dia mendekat dan memasangkan (tanpa gue minta) mahkota seperti yang ada di kepala patung Liberty. Kemudian gue pun foto selfie beberapa kali dan dia minta bayaran $5.

Buset. Mahal juga ya buat foto sama orang-orang macem ini. Hahahahha. Apalagi kalo itu uang dirupiahin kan makin mahal aja rasanya. Bisa makan Pepper Lunch tuh. Dan itu bisa dibilang pengeluaran pertama gue di New York sejak menginjakkan kaki di sini sore ini. Yaudah gue kebetulan ada pecahan lima dolar dan gue kasih ke dia. Teringat kata sopir yang jemput gue di bandara sore tadi kalo cari kerja di sini susah. Ya daripada dia jadi copet.
*
*

Gue bawa dua kamera hari itu. Satu kamera pocket Canon punya kantor yang ajaib banget hasilnya bisa bagus banget. Yang satu lagi kamera FujiFilm yang biasa gue pake kalo lagi nonton Anonymous perform (TANGGAL 8 NOVEMBER JANGAN LUPA DI BRAGA CITYWALK!) atau nonton konser. Gilir-giliran kameranya gue pake motret malam itu. Tergantung kebutuhan aja. Idealnya sih memang seharusnya motret banyak foto. Tapi kalo gue cuma fokus ke kamera doang, jadinya malah nggak menikmati pemandangan yang ada di sana.

Gue menarik nafas dalam-dalam dan kemudian berteriak "New York JJAAAAAAANGGGGGG!!!!"

Mbak Laila cuma merhatiin aja, mengawasi dari jauh. Bener-bener kayak emak lagi jagain anaknya yang baru bisa jalan. Umur kami beda jauh banget omong-omong. Dia cerita kalau dia lulus kuliah di tahun 1995. Bayangin aja gue baru 4 tahun di tahun itu dan dia udah lulus kuliah. Beda usia kita mungkin sekitar 15 tahunan. Tapi yang bikin dia mungkin nyaman jalan sama gue karena gue juga muslim dan karena gue terlihat seperti anak-anak yang tidak akan macem-macem sama dia. WAKWAKWAKWAKWAWW Dan karena gue cablak aja bilang gue suka KPop jadi mungkin dia merasa tak sendiri sebagai chingu KPop di negara asing ini.

Sebenarnya gue juga mau lama-lama di Times Square. Karena gue tipikal orang yang suka duduk sendirian dan merhatiin orang-orang lalu lalang di depan gue. Secara tidak sengaja nanti akan ada plot-plot cerita random dan nggak wajar yang terbentuk saat sedang bengong. Lumayan jadi bahan fanfic juga walaupun nggak tahu kapan bakalan ditulis, tapi yang penting dipikirin dan kepikiran dulu. Rencananya malam itu gue juga mau duduk di kursi yang ada di sana dan mengkhayal lagi membahas soal kesejahteraan perempuan sama Emma Watson. Tapi itu tidak terjadi.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Sekitar jam sembilan malam, gue sama Mbak Laila memutuskan untuk pulang. Kita ambil jalur jalan pulang yang beda dengan kedatangan kita sebelumnya. Jalan-jalan di sekitar Broadway it bener-bener deh ya! Ada kesan romantis yang aneh. Pernah nonton MV 'Friday'-nya IU kan? Yang dia sama si model cowok gue lupa namanya siapa ciuman di gang kecil? NAH FEEL-NYA KAYAK GITU BANGET!

Ada nuansa sepi dan remang-remang cahaya dari papan-papan iklan pementasan sangat terasa di sana. Seolah-olah gue dibuat mengerti kenapa banyak orang bermimpi untuk bisa datang ke kota ini dan khususnya ke Broadway. Ya padahal gue baru dateng ke satu spot doang dan di kota itu pasti ada spot lain yang lebih menyenangkan dan oke.

Kita masuk ke jalan di Minskoff Theatre yang bikin gue makin gemeteran. Di sinilah pementasan 'Lion King' dilaksanakan. Seperti yang gue bilang di posting-an sebelumnya, gue juga nggak ngapa-ngapain di sini. Enggak nonton juga karena mahal dan pementasan terakhir hari itu adanya jam setengah tujuh. Pintu-pintu juga sudah mengisyaratkan kalau tempat itu sudah tutup. Hanya saja lorongnya masih buka. Kita masuk karena pengen tahu dan pengen foto-foto.

Nuansanya kuning dan oranye kecoklatan. Setiap kali ngeliat poster bergambar singa yang ada di sana bikin pengen banget nonton langsung pementasannya. Ah mungkin memang harus lain kali bawa duit banyak dan mampir. Ya siapa tahu nanti ada undangan liputan kan nggak pernah tahu juga. Kayak kunjungan kali ini. Sekali lagi, mimpi itu bisa jadi nyata. Marilah bermimpi dari sekarang!

Kemudian tidur.
*
*
Di salah satu teater dalam perjalanan pulang, ada satu pementasan Broadway yang baru selesai. Keliatan ada beberapa orang berkerumun di salah satu pintu keluar. Gue penasaran dan memutuskan untuk mendekat ke sana. Ternyata ada salah satu pemeran teater Broadway yang lagi nyapa penontonnya. Tapi gue nggak kenal siapa jadi gue skip aja. Akhirnya kita berdua melanjutkan perjalanan balik ke hotel.

Kesan pertama gue buat New York dan Broadway juga Times Square sangat luar biasa. Mungkin lebih ke karena gue nggak pernah kebayang bisa ke situ. Bener-bener pengalaman dan kesempatan yang tidak terduga. Akhirnya bahagia selalu dalam hati. Alhamdulillah! Kesan kedua, mungkin aroma kotanya beda sama Jakarta.

Aroma dalam arti kata yang sebenarnya.

Nggak yang bermaksud jahat sama Jakarta dengan membanding-bandingkannya dengan New York. Gue cinta Jakarta karena di sinilah berbagai hal penting dalam hidup gue terjadi. Di sinilah gue bertemu teman-teman gue dan (ehem) yah... itu. Tapi gue ingin memberikan gambaran, seperti apa dua kota ini kalau dideskripsikan dengan indera penciuman, karena sejak tadi kan gue sudah ngasih gambaran kotanya sesuai apa yang gue lihat.

Oke, gue mau pengakuan dosa dikit. Gue memang punya kemampuan, ya sebut saja seperti itu, untuk mengingat detail sesuatu atau seseorang dari aromanya. Salah satu hal yang gue suka dari diri gue sendiri hahahahaha selain alay-ness yang berlebihan. Kalau gue bilang sebelumnya gue susah menghapal nama orang tapi gampang inget muka, jadi mengingat aroma khas orang (atau tempat) juga adalah salah satu yang gue kuasai.

Contohnya gue masih inget aroma parfum bokap gue walaupun sekarang dia nggak ada di sebelah gue. Gue inget bagaimana aroma rambut nyokap gue walaupun dia ada di rumah lagi masak-masak di dapur. Gue inget aroma kamar kakak cowok gue yang ketika SMP selalu gue masuki secara diam-diam. Gue juga masih inget aroma parfum salah satu temen SMA yang sempat deket sama gue dulu dan baru-baru ini dia menikah.

Dan kalau gue disuruh mendeskripsikan aroma kota Jakarta, gue akan membaginya jadi dua bagian: Aroma Pagi/Siang dan Aroma Malam.

Di daerah tempat tinggal dan kantor gue, aroma paginya adalah aroma debu campur air, kadang-kadang juga aroma nasi uduk dan bubur ayam, tapi seringkali sih aroma tahi ayam dan air berkarat. Kalau Siang lo bisa menyimpulkan semua aroma yang ada di jalanan sebagai aroma matahari. Kayak misalnya kepala lo dimasukin ke dalem boks yang isinya adalah kegerahan dunia. Malam di Jakarta Selatan aromanya ada di antara kesepian dan kebahagiaan. Aroma tahi ayam dengan sentuhan kesegaran embun pagi. Hahahahha

Ketika malam itu gue berjalan-jalan di New York dan Times Square, gue mencium beberapa aroma khas yang sampai beberapa hari setelahnya masih tercium sama: pizza dan toilet umum.

Ada jalan yang isinya kebanyakan tempat makan di salah satu sisi kota tapi nggak semuanya punya dapur yang keliatan dari jalan. Yang paling keliatan adalah $1 Pizza yang sayangnya nggak sempat gue coba karena takut itu babi atau semacamnya. Tapi aromanya dari jauh enak banget dan masih kecium meski sudah lewat satu kali lampu merah.

Kan katanya kalo makanan yang aromanya enak sih biasanya babi ya. MUAHAHAHAHAHA

Gak deng.

Sementara bau toilet umum itu mungkin datang dari panas yang tercipta karena gesekan ban mobil dan aspal dan juga asap knalpot dan asap-asap random yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah. ANJIR! GUE SEMPET SEREM PAS JALAN TIBA-TIBA "CCCCSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS" gitu terus gorong-gorong di bawah tanahnya berasep. Ya kan gue pikir ada kebakaran atau apa gitu. Dan itu baunya kayak toilet umum campur knalpot.
*
*
Sesampainya di hotel, gue masih excited dan mbak Laila masih heran kenapa gue nggak merasakan jet-lag setelah 20 jam penerbangan. Sementara dia mungkin sudah agak lelah karena perjalanannya hari ini melelahkan seperti yang dia ceritakan sepanjang jalan pulang tadi. Gue sama dia berusaha untuk ngobrol dengan bahasa Ibu masing-masing. Gue pake bahasa Indonesia yang gaul tapi masih agak formal dan untungnya dia nggak terlalu roaming. Sementara dia pake bahasa Melayu yang untungnya gue juga masih nggak terlalu roaming.

"Awalnya juga tadi aku nggak mau jalan nih Ron. Tapi karena ada kamu makanya aku akhirnya mau jalan," katanya.

"Iya? Wah! Berarti memang kita sudah diharuskan bersama nih mbak!" kata gue. Seneng aja karena kalo misalnya gue jalan-jalan sendiri malam itu gue akan mengalay sendiri dan itu tidak akan baik untuk kesehatan mental.

Tapi itu terjadi juga di pagi harinya.

Gue nggak bisa tidur nyenyak setelah pulang dari Times Square. Alasan pertama adalah karena masih excited dan nggak mau menyia-nyiakan waktu untuk tidur karena New York terlalu menggoda. Alasan kedua sebenarnya karena takut bangun kesiangan. Bodoh sih sebenarnya.

(AGAR TIDAK BANGUN KESIANGAN JADI MENDING GAUSAH TIDUR).

(Ya kan goblok)

Sementara Senin gue harus kerja jam 8 dan perjalanan pertama adalah ke New Jersey.

Oke malam itu setelah update beberapa kali di Path dan Instagram (KAOSKAKIBAU DI NEW YORK! LOL) gue akhirnya memutuskan untuk tidur. Alarm gue set jam 3, jam 4 dan jam 5 pagi. Selalu seperti itu di Jakarta pun demikian. Gue bukanlah tipe orang yang akan bangun langsung ketika alarm berbunyi. Bangun sih, tapi pasti abis itu di matiin terus tidur lagi. Tapi malam itu di hotel yang nyaman dan AC-nya gue matiin, gue ternyata bisa tidur pulas dan bangun ketika alarm pertama berdering.

Nada alarm gue "Lala lalala lalalala~"-nya Ice Cream Cake, anyway. HAHAHAHAHAHA

Pas gue liat jam, itu masih jam tiga pagi. Fiuh. Tapi ada hikmahnya juga. Karena malam itu katanya ada superblood moon, gue memanfaatkan momen itu untuk naik ke rooftop hotel dan berniat untuk melihat bulan dari atas. Mengendap-endap naik tangga darurat setelah sampai di puncak lift. Ternyata di rooftop hotel itu ada bar dan emang bagus banget pemandangannya dari sana. Cuma karena udah tutup jadi sepi aja dan gue takut dikira maling. Karena superblood moon-nya juga sudah nggak ada (hanya full moon biasa) gue turun lagi ke kamar.
*
*
Gue memutuskan untuk mandi dan.... ah.... gue harus boker nih.

Masalah besar.

"Lo bawa botol akua deh Ron," Begitu pesan mas Fakhmi, salah satu temen gue di kantor satu malam sebelum gue berangkat.

Gunanya? Sudah jelas buat cebok. Karena di Amerika nggak ada istilah rear-washing ataupun toilet dengan semprotan seperti di Indonesia. Oke setidaknya gue tidak menemukan itu di hotel tempat gue nginep.

Masalahnya adalah, gue adalah anak kampung yang hanya terbiasa menggunakan kloset jongkok. Kalau perlu jongkok di kali lebih enak karena langsung mengalir. Ketika gue dihadapkan dengan kloset duduk, itu akan jadi masalah besar. Sama aja kayak lo terbiasa makan pake tangan terus masuk restauran Jepang ada sumpit ya bingung. Sama juga kayak misalnya lo sudah terbiasa dengan orang ini yang baik banget tiba-tiba dia berubah. #EA #PERGILO

Oke gue bersyukur bangun terlalu pagi hari itu karena setidaknya gue bisa bereksperimen, gimana caranya gue akan cebok di toilet duduk ini. Dulu... dulu banget, waktu SMA, gue juga pernah mengalami masalah yang sama. Waktu itu gue ada kayak program student exchange gitu ke Australia. Enggak lama sih tapi cukup lama untuk tidak boker sama sekali di toilet duduk yang ada di rumah host brother gue.

Ya itu mungkin kali pertama gue mengalami masalah di toilet. Gue menghabiskan satu rol tisu cuma buat ngelapin lantai karena air yang gue pake buat cebok berceceran di lantai. Jangan ngebayangin joroknya kayak gimana. JANGAN BACA INI KARENA INI TIDAK ENAK BUAT DIBACA. NAJIS MUGALADOH.

Untung Aunt Lee, orang Tiongkok-Singapore, nggak nanya-nanya soal itu. LOL

Yang paling kampungan sih ketika gue lagi di Grand Indonesia dan mules banget karena abis makan nasi uduk terus gue masuk toilet dan bengong. Gue lupa kalo itu mall bagus dan nggak mungkin ada toilet jongkok di WC-nya. Kecuali....

"Mbak!" gue keluar dari toilet dan menghampiri mbak-mbak cleaning service. "WC buat karyawan yang bisa jongkok di sebelah mana?"

HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA AKHIRNYA NEMU WC DI PARKIRAN YA ALLAH SENANGNYA BISA JONGKOK DENGAN PUAS.

Tapi gue nggak akan menemukan WC jongkok di New York. Gue yakin. Dan itu jam tiga subuh. Enggak mungkin juga ada orang yang mau membantu gue mencarikan WC jongkok. Siapa gue? Emang gue anaknya Obama? Anaknya Obama juga nggak boker di WC jongkok kali. Akhirnya gue berusaha meneguhkan hati dan meyakinkan diri bahwa gue bisa melakukan ini.

"Iya Ron, lo bisa! Lo pasti bisa! Lo bisa gak jet-lag masa nggak bisa boker di toilet duduk kayak orang-orang modern di luar sana!"

Berbekal satu botol air mineral yang isinya gue kosongin dan pindahin ke gelas yang ada di kamar itu, gue masuk toilet dan melakukan ritual.

Ceplak. Ceplok.

BREETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT. Plung.

FLUSH.

Splash splash splash.

Hehe.

Berhasil di percobaan pertama.

RAYAKAN DAN BERITAHU SELURUH DUNIA!!!!! UNTUK PERTAMA KALINYA BOKER DI NEW YORK!!!!

Setelah itu gue mandi dan sholat subuh.

Karena hari ini kerjanya mulai jam 8 pagi, jadi gue sudah niatin buat keliling kota di pagi harinya sebelum jam 8. Karena berbagai persiapan di pagi hari yang agak ribet di kamar hotel, guepun baru keluar dari sana sekitar jam 6 kurang 15 menit. Tujuan gue hari ini adalah Empire State Building dan sekitarnya.

"Ke Korea Town juga kak!" kata Cel di LINE malam sebelum tidur, kita sempat chat sebentar. Dan ternyata emang lokasinya dekat dengan Empire State Building jadi yaudah sekalian aja.

Gue cuma punya satu setengah jam untuk jalan dari hotel ke kawasan sana dan kembali lagi ke hotel. Berbekal Google Maps yang gue capture karena WiFi nggak ada di sepanjang jalan, gue dengan percaya diri dan antisipasi copet keluar dari hotel dan menyusuri jalan ke bagian Barat New York.

Udara pagi ini ternyata berbeda dengan udara yang tercium semalam. Pagi ini lebih segar dan ada nuansa basah yang sejuk. Mungkin itu aroma embun pagi? Enggak tahu deh. Gue pake celana panjang dan baju hangat pagi itu. Kebanyakan toko-toko yang semalam buka ternyata nggak ada yang 24 jam kecuali mungkin kedai-kedai kopi kayak Starbucks sama Dunkin Donut gitu. SETIAP BELOKAN PASTI ADA STARBUCKS! Di jalan menuju Empire State Building bahkan toko-toko yang buka lebih sedikit lagi karena kebanyakan toko baju.

Gue jujur aja sama sekali enggak ada bayangan soal jalan ke sana tapi gue yakin gue nggak akan kesasar. Mengingat jalan di New York ini pejalan-kaki-friendly banget. Yang penting inget aja posisi hotel di mana, belok kiri belok kanan pasti nyampe. Iya sih sebenarnya di mana-mana juga kayak gitu. Tapi tata kota di New York ini bikin enak gitu loh buat jalan kaki. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, di setiap belokan itu ada aja yang bikin "WHOOOOAAAAA." gitu.

Liat gedung bagus dikit "WHOAAAAAA"

Liat billboard Victoria Secret "WHOOOAAAA BEHAAAAAAA"

Ya gue sih alay. Mungkin yang lain enggak.

Kayak misalnya ketika gue baru keluar dari hotel, ada banyak sekali homeless yang gue temukan di pinggir jalan. Tidur gitu aja di depan gedung dengan berbantalkan ransel. Bahkan ada yang bener-bener telungkup dengan baju kotor di pinggir jalan. Bagian ini, New York nggak jauh beda sama Jakarta.

Pagi itu jalan-jalan basah semua. Ternyata setiap pagi sebelum aktivitas dimulai, ada petugas yang nyiramin trotoar sampai bersih. Beberapa orang lainnya sudah ada di jalan berolahraga pagi. Beberapa yang lain ada yang lagi ngegeret koper kemana-mana. Beberapa yang lain ada yang sudah siap dengan jas dan tas kerja. Sementara ada satu orang yang di setiap belokan, senyum lebar banget karena itu pengalaman pertamanya jalan-jalan sendirian di negara orang.

Awan kayaknya rendah banget di kota itu. Beberapa gedung tinggi jarak pandang gue ke atasnya cuma beberapa lantai aja karena ketutupan awan. Entah mata gue yang salah atau kacamata gue yang kotor apa gimana tapi penampilannya kayak gitu. Beberapa bagian kota New York juga sedang dibangun jadi pagi itu beberapa rute pejalan kaki dialihkan.

Tapi akhirnya gue sampai juga di Herald Square dan itu bener-bener nggak lebih 15 menit dari gue ninggalin hotel. Gue jalan kaki cepet juga padahal hanya berbekal kepedean doang. Di persimpangan di Herald Square itu view kotanya mantap banget deh buat ngalay di subuh hari yang sepi seperti ini. Nggak ada yang ngeliatin jadi bisa foto selfie banyak-banyak. Walaupun nggak ada selfie gue yang bagus dan hasilnya memuaskan. Damn kamera depan ASUS Zenfone 6. Jelek banget.

Apa karena emang wajah gue yang nggak camera-face. Yah. Sudahlah. Yang penting di New York.
*
*
Belok kiri berarti ke Empire State Building. Lurus dikit setelah belok kiri berarti sampai di Korea Town. Kalo belok kanan gue nggak tahu. Dan gue nggak kepikiran buat belok kanan karena emang tujuannya pagi itu adalah Empire State Building. Enggak bener-bener naik sih, cuma lewat depannya doang dan foto aja dari kejauhan.

Mungkin kalo agak siangan gue ke sini akan sangat rame banget karena banyak pemberhentian bus. Gue pengen banget sebenarnya city tour pake bus tapi waktunya nggak memungkinkan. Dan kata beberapa orang, macetnya parah jadi ya mending aja jalan kaki.

Dari kejauhan gue udah motret puncak Empire State Building yang puncaknya masih ditutupi awan. Ketika gue berjalan mendekat, cuma bisa senyum dan menghela napas aja lalu bersumpah lain kali akan ke sini lagi dan naik ke gedungnya.

Walaupun ada kenikmatan tersendiri, jalan-jalan pagi sendirian itu bener-bener mati gaya sebenarnya. Lo nggak ada temen ngomong, nggak ada yang bisa dimintain foto, nggak ada yang bisa lo lakukan selain jalan dan mengagumi setiap belokan dan gedung tinggi yang ada. Yah, beruntung gue punya kemampuan bicara dengan diri sendiri yah, akhirnya gue pun hanya bermonolog di sepanjang jalan.
*
*
"Belok kiri apa kanan nih, Ron?"

"Kiri kayaknya seru. Eh bukannya kita mau ke Korea Town ya Ron?"

Kita. Seolah-olah ada dua orang yang sedang bicara. Gue sudah sinting.

"Oh iya. Itu belok kiri apa kanan?"

"Kayaknya kanan deh?"

"Yaudah ayo Ron ke kanan aja."

"Hati-hati nyebrangnya ntar mati!"

"Iya bawel,"

"Nah gitu ayo buruan gausah lelet!"

"SUMPAH YA BAWEL BANGET SIH!"

Dan sakit jiwa gue pun kumat.

Gue belok kanan dan lurus aja tanpa tahu mau kemana. Tapi ketika gue lihat ada banyak gedung yang ada tulisan hangeul-nya, gue yakin kalo gue udah sampe di Korea Town. Bener aja, di ujung jalan gue menemukan penunjuk jalannya di salah satu lampu merah. Yaudah, satu lokasi lagi terkunjungi. Walaupun cuma jalannya doang karena toko-toko nggak akan buka sebelum jam 9 atau 10 pagi kan.
*
*
"Dari situ deket loh kak ke Madison Square Garden!" kata Cel juga di chat LINE semalam.

OH MY GOD!!! IYA KENAPA GUE BARU INGET!

"RON KITA HARUS KE MADISON SQUARE GARDEN!" teriak gue.

Ke diri gue sendiri.

"Oh iya bener! Yaudah ayo tapi itu di sebelah mana?"

"Yah gatau. Maps-nya gak bisa idup sih ini nggak ada internet. Yaudah tanya orang aja apa?"

Ya bener. Kalo kata Dito, "Selama ada CPS, gak terlalu butuhlah GPS."

GPS (Global Positioning System) - CPS (Congor Positioning System). Manfaatkan congor aja.

Akhirnya itu pagi gue bener-bener melakukan komunikasi dengan orang lain selain diri gue sendiri untuk pertama kalinya. YA ALLAH AKU MERASA SEMPURNA SEBAGAI MANUSIA. Ada salah satu penjaga gedung yang baru dibangun di sana dan gue langsung nanya arah ke Madison Square Garden ke mana.

Gue nggak tahu dia ngasih petunjuknya bener atau salah karena emang kan gue juga nggak tahu itu tanah suci SMTOWN ada di sebelah mana. Tapi gue ikutin aja walaupun gue nggak menemukannya juga setelah sekitar sepuluh menit berjalan. Sampai akhirnya gue udah kayak menyerah, "Yaudah yuk balik ke hotel aja." dan memutuskan untuk randomly belok kiri di salah satu blok, kemudian..............

WAH WAH WAH WAH!!!!!

*
Matahari sudah terbit dan warna fajar sudah menghiasi gedung-gedung tinggi di sana. Taksi-taksi sudah sibuk keluar dari pangkalan mereka. Gue berdiri di ujung salah satu zebra cross menuju Madison Square Garden dengan perasaan campur aduk. Di kepala gue langsung keputer adegan di film 'I AM'-nya SMTOWN ketika BoA di awal debut Amerika-nya berdiri di depan gedung itu dan sesumbar bilang kalau suatu hari dia akan konser di sana (dan adegan berikutnya adalah SMTOWN LIVE IN MADISON SQUARE GARDEN!)

Baca Juga Nih Review Lengkap 'I AM'

Anjir ini ketika gue ngetik ini gue merinding lagi.

Gue menunggu lampu tanda boleh menyebrang menyala sebelum akhirnya gue lari-lari mendekat ke depan Madison Square Garden dengan perasaan yang masih nggak jelas. Antara happy dan juga terharu dan nggak menentu deh. Padahal ya masuk juga enggak gitu. Cuma ada di depannya doang. Tapi dengan berada di situ aja gue sudah merasa dekat dengan para artis SMTOWN ini walaupun konsernya sudah bertahun-tahun yang lalu.

Gue nggak kebayang gimana rasanya ketika gue berdiri di depan gedung SM Entertainment untuk pertama kalinya suatu saat nanti.

Mungkin gue beneran akan nangis. (KARENA DIINJAK-INJAK FANS LAIN)

Enggak banyak yang gue lakukan di sana selain selfie-selfie dan foto sekitar. Pengen banget sebenarnya guling-gulingan atau memeluk salah satu dindingnya. Mungkin goler-golerin rambut atau pipis sekalian sebagai penanda bahwa itu daerah kekuasaan gue. Atau kalau gaya pelajar alay nulis pake Tipe-X di temboknya "RON WAS HERE."

Tapi karena masih belum menikah dan gak mau ditangkap NYPD jadi mending gausah aja deh. Setelah adegan terharu sendiri di sana gue pun memutuskan untuk kembali ke hotel karena jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Gue punya waktu setengah jam untuk kembali ke hotel, sarapan, dan siap-siap liputan.

Gayle dan para jurnalis sudah menunggu dan kita siap naik bus ke New Jersey buat kerja!
*

Share:

15 komentar