Monyong-monyong di Myeongdong


Saya selalu bertanya-tanya kapan saya bisa ke Seoul sejak pertama kali jadi fans KPop. Ketika kesempatan itu datang, saya hanya bisa alay bukan kepalang. Posting-an ini adalah bagian kedua dari 'Finally, Seoul!', catatan perjalanan pertama saya ke Seoul, Korea Selatan. Sebelum melanjutkan baca bagian ini, silakan baca dulu bagian pertama di sini.

Gue nggak sempat menikmati bagaimana mewah dan meriahnya Bandara Incheon ketika gue mendarat di Seoul, Minggu (29/11/2015). Beberapa hal yang mendadak terjadi karena gue kelamaan tidur di pesawat jadi penyebabnya.

Pertama, gue belum isi kartu pendatang yang harus diserahkan di imigrasi. Kedua, gue nggak prepare pulpen untuk mengisi kartu itu jadi gue harus minjem pulpen dari Mbak Dian, PR dari Oh!K Channel yang mengundang gue ke Korea. Ketiga, karena minjem pulpen dan mengambil kartu isian pendatang yang baru itu gue harus memulai antre dari belakang lagi, padahal tadi udah kayak hampir maju ke loket imigrasi-nya. Sial aja ketika gue selesai ngisi, semua orang kayaknya baru mendarat dan udah antre aja di sana. Sebel.

Ternyata proses imigrasi di Korea nggak deg-degan kayak di Amerika. Ini pasti nih Amerika karena efek 'My Name Is Khan'. Jadi kan takut kalo tiba-tiba digrebek cuma karena bawa tolak angin. Alhamdulillah Korea kayaknya gwencana sarangiya.

But anyway, sekeluarnya dari pintu kedatangan bandara dengan alay dan ber "HAH!" "HAH!" ria seperti anak kampung yang nggak tahu kalau nafasnya ternyata bau, gue akhirnya bisa merasakan udara dingin Seoul yang sebelumnya sama sekali nggak kebayang itu.


Perjalanan dari Incheon ke Seoul kami tempuh dengan mobil jemputan pribadi yang ternyata ongkosnya bisa mencapai Rp 1,5 juta! Wah gila. Untung Korea Selatan punya sistem subway yang sangat oke banget. Jadi pas gue balik dari Seoul ke Incheon seminggu kemudian, gue cuma butuh bayar (sekitar) KRW 5000 sampai KRW 7000 aja dengan subway (dengan T-Money).

Gue,  dan tim dari Indonesia (Mas Aryo, Mbak Dian, Mbak Swita dan Mbak Dinda) memutuskan untuk langsung antre sarapan setibanya kami di hotel. Yes. Antre. Kami bisa dibilang sangat beruntung hari itu, karena disaat yang lain (maksudnya jurnalis selain dari Indonesia) nggak dapat voucher sarapan, kita malah dapet. Mungkin keselip kali nggak tahu deh.

Ketika lo dalam perjalanan dinas dan gratisan lalu dikasi tinggal di tempat sekelas Lotte Hotel Seoul, lo kayaknya nggak bakalan ngarep lagi deh dapet tempat yang lebih bagus. Hotel ini bener-bener terbaik! Nggak heran kenapa mahal banget semalam di sini.

Lotte Hotel Seoul terintegrasi dengan pusat perbelanjaan Lotte yang ada di sebelahnya dan bisa diakses langsung dari lower ground lobby hotel. Parahnya lagi, PARAHNYA LAGI, dari lobby hotel juga bisa langsung ke stasiun subway.

Wah sakit kepala. Coba kamar kosan gue bisa langsung nembus stasiun Sudirman. Kan lumayan bisa jualan cangcimen.


Kita semua sama-sama yang bengong waktu berdiri di lobby dan ngeliat petunjuk jalan menuju subway dan pusat perbelanjaan ada di sana dan nggak perlu keluar hotel lagi. "Wah udah sinting nih hotel!" kata gue. Yang nggak pernah tinggal di hotel yang kayak gitu sebelumnya. Faktanya, gue baru nginep di hotel mewah tiga kali aja sepanjang usia hidup. Ya gimana nggak bilang ini sinting.


Ada dua restauran yang bisa dipilih untuk sarapan. Yang satu adalah restauran bergaya Eropa, yang satu lagi bergaya Amerika. Gue lupa kenapa kita akhirnya nggak milih makan di tempat yang bergaya Eropa. Mungkin karena yang di Amerika makannya buffet kali ya. Jadi bisa puas ambil apapun yang kita mau. Walaupun sebenarnya ragu-ragu juga buat makan. Takut ada babinya.

Oh iya, gue lupa bilang kalau Lotte Hotel yang gue tinggalin ini adalah yang cabang deket Myeongdong. Lobby-nya keren banget sih kalo menurut gue. Tipikal hotel, pencahayaannya kuning hangat gitu. Di sebelah kiri kalo lurus dikit dari restauran ada store MCM bag yang bikin nangis karena mahalnya. Untung nggak ada standee EXO di situ. Kalo ada mungkin harga diri gue bisa jatuh di hari pertama bahkan sebelum sempat merasakan empuknya kasur kamar gue di lantai 10.

Sementara restauran Amerika yang kami tuju ada di ujung lorong di kanan (dari pintu masuk). Dan ketika sudah sampai di depan restauran ternyata antrean udah panjang. Waduh baru kali ini mau sarapan aja harus antre kayak antre nyoblos pemilu.

Kita harus buru-buru sarapan karena sekitar jam 11 siang akan ada acara ramah-tamah dengan pihak Oh!K Channel sebagai pihak yang undang, dan juga para wartawan lainnya. Masih nggak tahu di mana, tapi yang jelas untuk makan dan siap-siap hanya tersedia waktu sekitar dua setengah jam. Itu sudah termasuk gosip dan nge-ghibah.

Restauran yang Amerika bagus sih, seperti halnya hotel-hotel mewah. Karena buffet, makanan tersebar di hampir semua sudut. Mulai dari sup sampai steak. Dari omelette sampai kentang tumbuk. Makanan-makanan laut juga ada. Berbagai macam jus pun tersedia. Karena gue pikir kita akan makan siang lagi dan pasti makanannya berat, makanya gue memilih untuk ngemil aja pagi itu. Gue cuma makan beberapa potong kue sama minum teh hangat aja.

Biar kesannya ganteng gitu. Padahal gue tahu banget, efek makan makanan dari tepung dan susu pagi-pagi pasti mules. Sesuai ekspektasi.

A photo posted by RON (@ronzstagram) on


Setelah selesai makan, masing-masing dari kita berangkat ke kamar. Oke, kamar gue di lantai 10 dan koper sudah diangkut semua oleh bellboy ke sana. Gue dulu pernah punya cita-cita jadi bellboy. Menurut gue ini adalah salah satu pekerjaan paling menyenangkan yang pernah ada di muka bumi. Seru aja gitu pake baju yang rapi, sisiran klimis, celana ngepas gitu biar keliatan tegap, muka senyum setiap saat kayak model pasta gigi, terus geret-geret troli koper ke mana-mana. Sayangnya tinggi badan gue nggak cukup buat jadi bellboy. DUNIA PENUH DISKRIMINASI!

Nah, untung aja nih Lotte Hotel Seoul pintu masuk kamarnya nggak ribet kayak pas di Four Points by Sheraton Midway di New York. Kalau pas itu gue harus menghabiskan kayak hampir dua puluh menit buat buka pintu doang saking kampungannya dan nggak tahu harus ngapain. Kalau yang di Lotte Hotel Seoul, tinggal tap doang langsung kebuka.

Dan sekarang,

deg-degan,

Selalu kalau gue mau masuk kamar hotel, gue pasti deg-degan. Gue paling suka ngeliat bagaimana kamar hotel itu sangat rapi ketika gue belum masuk (karena pastinya pas gue udah masuk dan berkelana dari ujung ke ujung akan jadi sangat berantakan). Pas gue buka pintu,

"Assalamualaikum~"

lalu masuk dan WAHHHHH SENENG BANGET KAMARNYA ADA KACA BUAT LANGSUNG NGELIAT KE LUAR!!!!!! Dan betapa bahagianya gue ngeliat kasur sampai-sampai gue naik dan guling-guling di sana selama beberapa kali sebelum akhirnya sadar kalau gue tidak punya waktu lama buat adegan memalukan yang semoga nggak direkam CCTV ini dan harus kembali ke jalan yang benar.


Gue bangkit dari kasur dan berjalan ke kaca besar yang langsung mengarah ke jalan raya. Sekarang gue lagi di lantai 10, harusnya pemandangan dari atas bakalan bagus. Tapi pas gue liat.... "Lah ini kok gue kayak lagi ada di Slipi...."

Gagal.

Di sebelah kiri, jauh di seberang jalan sana, ada layar LED gede banget di atas gedung buat iklan. Ah biasa aja. Tapi pas gue lirik ke sebelah kanan, ada layar lain yang juga buat iklan. Tapi di layar itu yang ditayangin cuma satu. Dan disitulah gue merasa jodoh gue sudah gue temukan: IU.

Ya... itu layar iklan yang di sebelah kanan nge-loop iklannya IU terus.

Tapi iklan Soju.

IU belum apa-apa udah ngajak mabok-mabokan.

Apa dia nggak tahu minuman keras itu haram karena eh karena itu bisikan setan. Duh kenapa sih semua yang asik-asik itu diharamkan. Kenapa semua yang enak-enak itu yang dilarang. Ya kenapa jadi nyanyi Rhoma Irama.


Waktu singkat yang tersita karena guling-guling dan berkhayal liar bahwa tidur malam ini akan ditemani oleh LED bergambar IU itu gue manfaatkan dengan bongkar-bongkar lemari kamar hotelnya. Seperti biasa ada teh dan teko buat masak air. Ada air mineral juga dua botol. Di lemarinya ada berbagai jenis gantungan baju dan juga jubah mandi.

EH! KAMAR MANDI BELUM DI CEK!

Lokasi lain yang sangat penting buat sebuah kamar hotel adalah kamar mandinya. Gue berharap sih ada kloset jongkok aja. Karena lo harus baca di sini bagaimana perjuangan gue buat boker di New York untuk pertama kalinya dalam hidup gue. Tapi yah, ngarepin kloset jongkok di hotel mewah mah sama aja kayak ngarepin Taeyeon sama Baekhyun go public untuk kedua kalinya setelah mengumumkan mereka putus.

Pas gue masuk, toiletnya duduk. Nggak sekedar duduk. Ini duduk yang ribet banget banyak tombolnya. Lah ini kloset apa Nokia 3315.


Sementara bagian lain dari kamar mandi itu biasa aja. Tetep yang juara buat gue adalah kamar mandi Crown Plaza Hotel Changi Airport. GILAK ITU HOTEL MAHAL KAMARNYA BAGUS BANGET DAN KAMAR MANDINYA BAHKAN BISA BUAT TIDURAN JUGA DENGAN MENYENANGKAN. APALAGI DI BATHTUB BERDUA SAMA PASANGAN WAH SERU YA TAPI BELOM HALAL GABOLEH YA HM.

Setelah ganti baju dan siap-siap buat makan siang, gue turun ke lobby dan di sana sudah banyak orang yang menunggu. Kita siap berangkat.

"Makannya di mana?" tanya gue ke mbak Swita, yang sejak awal kita tahu kalau kita mau ke Seoul, udah heboh duluan di WhatsApp padahal kita sama sekali belom kenal secara langsung. Pas ketemu udah aja heboh kayak teman SMP baru ketemu lagi setelah terpisah ruang dan waktu.

"Myeongdong." kata dia.

Wah pas banget. Karena di itinerary yang gue buat, pas sampe di hotel gue harusnya memang ke Myeongdong atau ke Cheonggyecheon. Karena makan siangnya di Myeongdong, yaudah sekalian aja kan mencoret apa yang ada di itinerary.

Gue punya satu temen orang Korea sekaligus guru bahasa Korea gue dulu pas masih jadi anggota Hangugo Dongari di UI. Namanya Sun Hyeonjee. Secara kebetulan, dia kerja di Lotte Department Store yang letaknya persis di sebelah hotel tempat gue tinggal ini. Tapi karena dia kerja dan gue juga lagi dalam kunjungan kerja, rasanya mustahil buat kita untuk ketemu. Tapi gue sempat chat sama dia di Facebook sebelum gue berangkat dan dia juga yang ngasih tahu ke gue kalo ternyata Myeongdong itu deket banget sama hotel.

Dan gue baru tahu kalo emang sedeket itu.


Keluar dari hotel ke kanan terus ke kanan lagi dan masuk ke underground area. Tempat shopping juga dan pas banget baru buka pintu, langsung disambut sama toko KPop yang bikin mata gue berbinar-binar.

"Gak, Ron. Baru juga sampe. Nanti-nanti aja belanjanya," kata gue dalam hati. Sementara itu poster, photocard dan bantal EXO kayaknya udah manggil-manggil minta disentuh. Tapi gue sudah memasukkan Hottracks di itinerary gue hari terakhir untuk beli CD. Dan memang sebaiknya jangan beli CD di toko CD di Myeongdong Underground, karena terlihat tidak meyakinkan aja. Bukan masalah bajakan, tapi takutnya nggak kehitung di chart atau gimana. Kalau memang lo peduli. Kalo nggak, yaudah cuek aja sih.

Tapi karena memang gue juga baru dateng, jadi gue nggak mau beli macem-macem dulu. Gue cuma bawa duit secukupnya untuk jaga-jaga. Sementara jadwal makan siang ini juga dibayarin kan, jadi yaudah bisa sekalian hemat.

Jalan terus di underground area di Myeongdong, kita keluar pintu di ujung dan belok kanan naik tangga. Wah angin dinginnya bener-bener nih jangnan aniya banget pokoknya. Nae yang pertama kali nih ke Hanguk berasa orang kampung chorom. Gue hari itu belum punya syal, jadi gue hanya mengandalkan kerah coat hitam yang gue pinjem dari Dito aja. Sarungnya gue simpen di tas. Sementara kepala gue terbuka dengan indahnya dan membuat kuping gue dingin. SALAH TINGKAH BANGET ANJIR INI GUE HARUS APA.

Tapi gue berusaha menghangatkan diri dengan tertawa.

Keluar dari kawasan underground, area belanja Myeongdong langsung menyambut. Siang-siang gitu juga lokasi ini rame banget. Dan dari kejauhan, samar-samar terdengar suara musik yang sudah akrab di telinga. Lagu salah satu grup KPop pokoknya gue lupa, tapi pas itu gue inget banget gue reflek nyanyi aja pas keluar dari underground.


Pengalaman pertama di Myeongdong bener-bener awkward. Buat gue, ini adalah adegan paling lucu dan geli sepanjang gue ada di Korea (selain secara nggak sengaja gue lewat lokasi syuting-nya 'Lightsaber' di Itaewon--yang akan gue ceritakan di bagian lain dari pengalaman pertama gue ke Korea).

Lucunya bukan karena lo ketemu sama gag man atau apa. Tapi lucunya karena kemanapun lo pergi, kemanapun lo belok, lo akan diliatin sama semua orang yang selama ini lo liat mukanya di depan laptop.

Baru keluar dari underground area, di bagian atas ada banner album debut iKON gede banget. Bukan bias sih, jadi nggak ketawa. Lirik ke kiri dikit ada muka Taeyeon. PFFFTTTTT YA ALLAH. Lirik ke kanan tiba-tiba ketemu Kim Soo Hyun. PFFFFTTTTTT BAEK SEUNG CHAN ANYEONG! Gue nggak bisa nahan ketawa sampai-sampai ditanya sama jurnalis lain, "Whats wrong?"

Gue masih aja ketawa.

"I don't know but I feel awkward."

"Why?"

"Because everyone in the banners and standees, they're just like looking straight at me." LO AJA YANG KEPEDEAN NYET. "Because usually, I watch them on laptop and computer in drama or MV and now they're just staring at me like a freak," kata gue lalu ngakak.

Entah guenya aja yang udah sengklek atau emang kenyataannya seperti itu. Tapi semua banner artis-artis yang ada di situ bener-bener bikin ngakak.

Gimana sih rasanya nih lo selama ini cuma bisa liat mereka di balik layar dan kemudian lo datang ke negara asal mereka dan malah dipertemukan dengan benda-benda matinya alih-alih yang asli.

"Jangan sampai nih gue abis ini ketemu banner Byun Baek-----ALLAHU AKBAR WKWKAKWAKWAKWAKWKAWKAKWAKWAKWAKA," ketawa gue pecah. Beneran pecah kayak "RON LO NGAPAIN SIH ASTAGFIRULLAH ALAY BANGET!" tapi gue nggak bisa nahan ketawa pas gue lewat salah satu store Nature Republic dan gue liat ada standee Baekhyun di sana senyum megang label diskon 50%.

Ya Allah ternyata mereka semurah ini.


Sepanjang perjalanan ke lokasi makan itu gue cuma fokus sama muka-muka para artis yang ada di sana. Kim Woo Bin, Lee Jong Suk, Yeo Jin Goo, Gong Hyo Jin, Taeyeon, SHINee, EXO, semuanya bikin ngakak. Enggak tahu pokoknya ngakak aja. Kayaknya setiap kali liat standee EXO, pengen disentil. Pengen dipatahin lehernya terus disambungin lagi, terus dipatahin lagi, begitu seterusnya sampai Suho pacaran sama Irene. Saking gemesnya.

"Gimana kalo lo ketemu sama orangnya beneran deh Ron," kata gue dalam hati lagi.

"Wah Ron, gila lo, pasti pipis di celana deh kalo lo ketemu sama orangnya yang asli ya," jawab kepribadian gue yang lain.

Pipis di celana ya? Hmm... Gue ada cerita lain soal itu tapi nanti aja deh.

Kita makan di salah satu restauran daging yang kayaknya terkenal banget di situ. Aduh... ini sebenarnya agak was-was juga kalo mau makan daging. Walaupun sudah dikasih tahu itu sapi, tapi kalo misalnya pisau atau alat masaknya bekas babi kan juga ya sama aja. Tapi... Kalo nggak makan...... nanti dikira nggak sopan....

"Ya Allah, kalau ini memang berdosa, maka ceburkanlah aku ke Sungai Han untuk penebusnya,"

Kemudian Ron makan daging kayak orang nggak pernah makan daging sebelumnya.

Kalbi itu...........................................................................rasanya kayak ciuman sama.......................................................daging paling enak di dunia.........................................


Obrolan santai yang terjadi di ruangan hangat di restauran itu lebih banyak soal kerjaan. Ada beberapa yang cerita soal ketidaksukaan mereka sama drama Korea karena ceritanya yang monoton, ada juga yang ngaku bahwa mereka sama sekali nggak ngerti sama drama Korea sama sekali. Ada yang bilang dirinya nggak tahu KPop tapi pas ditanya member SNSD mereka hapal. Yah macem-macemlah pokoknya.

Sementara gue,

"Well, I actually know everything. You can ask me and I can give you the answer. Like I can tell you the name of every celebrities on the store banner and standee outside,"

Gue se-freak itu di antara orang-orang normal ini.

Tapi gue bahagia karena ke-freak-an gue itu akan berguna selama beberapa hari, setidaknya.

+++

Dari buku dan artikel internet yang gue baca, Myeongdong adalah salah satu tempat belanja yang emang paling hits di Seoul. Tapi katanya, kalo dibandingkan dengan Namdaemun atau Dongdaemun, agak lebih mahal. Ah... tapi gue nggak bisa ngeliat bedanya. Pertama karena gue belum ke Namdaemun dan Dongdaemun, jadi harga yang gue liat hanya harga Myeongdong. Kedua karena gue emang ke Korea Selatan bukan buat belanja-belanja. Jadi bodo amat sama perbedaan harga. Ujung-ujungnya paling cuma belanja oleh-oleh doang.

Banyak brand terkenal juga yang ada di Myeongdong. Brand yang sebenarnya klo lo jalan ke mall-mall di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, juga ada. Tapi mungkin harganya beda ya, nggak tahu deh. Sekali lagi, gue ke sini bukan buat belanja.

Yang menurut gue seru dari Myeongdong adalah keramaiannya. Orang-orang yang lo temui juga sangat memanjakan mata. Bukan karena mereka pake baju seksi atau gimana. Tapi pakaian-pakaian mereka bener-bener stylish dan bikin lo jadi kayak pengen banget gitu loh berpakaian seperti orang-orang ini. Kayaknya apa-apa keliatan keren aja gitu.

Tapi kalo lo pake coat di Jakarta mah dikira sinting.


Ngeliatin muka-muka familiar juga jadi salah satu hal bodoh yang bisa lo lakukan di Myeongdong. Kayak gue misalnya motoin banner dan standee artis-artis yang ada di sana tanpa tujuan yang jelas. Ketawa pas berkali-kali ngelewatin store Nature Republic karena otomatis lo akan ngeliat tampang-tampang member EXO ada di sana.

Suatu malam gue ke Myeongdong lagi dan di salah satu store Nature Republik yang besar (kayaknya paling besar di sana, lokasinya agak tengah) puter EXO di album 'EXODUS' sealbum. Gue berdiri di sana lamaan dikit aja udah nggak bisa kontrol. Bawaannya pengen karokean.

"Wait, I know this song!" kata gue ke Lainey, salah satu jurnalis dari Malaysia.

"Really?"

"Yes. This one is EXO's song." kata gue. "But actually, Nature Republic dari tadi kayaknya muter lagu EXO semua sih. EXO kan brand ambassador mereka," kata gue. Lainey sendiri kayaknya nggak peduli.

Lo pasti pernah kan nih, random lagi ada di tempat makan, terus tiba-tiba musiknya ke-play KPop lalu lo sama temen-temen lo heboh? Ya begitulah yang terjadi. Karena di Jakarta, KPop tuh bukanlah lagu-lagu yang bisa lo dengerin di tempat-tempat umum seperti angkot misalnya, jadi ketika ada yang puter KPop di tempat-tempat tertentu lo pasti nggak bisa nahan diri buat nggak nyanyi atau sekedar bersenandung.

Lah lalu apa kabar Myeongdong yang dari ujung sampai ujung muter KPop semua? Makanya gue jadi nggak kontrol sama sekali setiap ada lagu langsung "LOH LAGU INI HAHAHAHA!" "EH KOK YANG INI YANG DIPUTER WKWKWKK!" "EH GUE TAHU NIH YANG INI KIWKIWKIWKIW!" "ASTAGA YANG INI KESUKAAN GUE HWHWHWHWHHW!" sementara yang lain sama sekali nggak peduli kayaknya.
*

Maafin.

Tapi nggak ada sih, momen yang paling bikin ketawa lebar ketika lo lagi jalan di Myeongdong terus secara random mbak-mbak Nature Republic-nya meletakkan standee Sehun dan Luhan bersebelahan. Mbak-mbak ini bener-bener tahu gimana bikin baper dunia akhirat. Mana diskon lagi 50% masing-masing.


Selain keramaiannya yang bener-bener menyenangkan, Myeongdong juga punya toko-toko kosmetik yang eksteriornya lucu banget. Toko-toko sepatu sama bajunya sih mahal gila. Mungkin kalo gue kentut duit baru deh gue akan balik ke sini dan belanja banyak. Jadi selama kere, mending gausah ngarep buat beli macem-macem.

Gue memutuskan untuk beli syal sama topi anti-dingin di penjual yang ada di pinggir jalan di Myeongdong, alih-alih di toko. Walaupun sebenarnya kalo lo jeli lo bisa nemu harga yang murah di toko karena banyak diskon, tapi gue tipikal orang yang cari simpelnya aja. Syal abu-abu (YANG BANYAK DIKATA SARUNG SAMA ORANG-ORANG PLEASE ITU SYAL YA GENGS) gue beli dengan harga KRW 10 ribu (rata-rata harganya segituan). Sementara topi anti-dingin bulu-bulu yang kata mbak Dinda membuat gue terlihat seperti orang Tibet harganya KRW 8000 di toko souvenir dan itu udah diobral dan tinggal satu-satunya.


Myeongdong juga punya banyak jualan pinggir jalan yang lucu-lucu, kayak kaos kaki (nggak bau) bergambar muka-muka karakter lucu. Sampai street food yang bakalan bikin superkenyang banget kalo dibeli dari sudut satu ke sudut yang lain.

Di hari yang berbeda dari makan siang bareng tim Oh!K Channel, gue mencoba salah satu makanan pinggir jalan yang kayaknya enak. Banyak pilihan dan gue makan yang sweet potato karena gue suka banget. Di sanalah gue menemukan bahwa BARBEQUE SAUCE di Korea itu punya nama lain: FUCK YOU SAUCE.

Masya Allah. Aku merasa ternoda.


Ada banyak juga cafe di Myeongdong yang lucu buat dicobain. Apalagi kalo masuk ke gang-gang kecil di antara satu toko dan toko yang lain. Walaupun gue hanya bisa nyobain Dunkin Donut aja yang notabene-nya di Jakarta juga banyak, tapi gue puas banget sih. Seharian jalan-jalan di Myeongdong menyenangkan. Tapi juga bikin pusing dan makan hati kalo nggak punya uang. Tapi nggak perlu takut kelaperan karena makanan banyak banget. Dari yang babi sampai yang nggak babi ada di sini.

Banyak pedagang di Myeongdong juga bisa Bahasa Inggris jadi nggak perlu khawatir. Walaupun sih nggak sebagus kalian-kalian yang udah S2 atau S3 dan sedang baca blog gue ini (WKWKWKWK). Tapi lumayanlah daripada nggak ada sama sekali yang ngerti lo ngomong apa.

Selain syal, topi Tibet, street food dan masker Nature Republik Buy 10 Get 10, di Myeongdong gue juga menyempatkan beli Olleh WiFi voucher. Gue tahu zaman sekarang ini yang namanya update di media sosial adalah hal yang paling penting. Jadi lo kemana-mana di Korea juga pasti butuh WiFi. Walaupun ada banyak WiFi gratis di taman-taman (katanya), tapi ya, namanya gratis, gak bisa protes. WiFi Olleh adalah pilihan yang sangat murah dan menyenangkan kalo gue pikir.

Jaringan Olleh sangat kuat di Seoul. Terutama di subway WKWKWKWK Di spot-spot terkenal dan lokasi kayak Mall gitu juga jaringan kuat banget. Bahkan ketika gue ke Gangneung, ke rumah kelahiran Shin Saimdang (yang akan gue ceritakan di part selanjutnya) gue masih dapet sinyal WiFi juga.

Olleh WiFi voucher ini harganya murah. Yang paket satu hari sepuasnya cuma KRW 3300 sementara yang paket empat hari full sepuasnya KRW 9900. Gue beli yang empat hari karena YES PULSA DITANGGUNG SAMA KANTOR YES YES. Dan memang sangat berguna sekali. Kalo lo nggak mampu nyewa Olleh Egg yang harus ngasih uang jaminan KRW 100,000 selama lo tinggal di Korea, yaudah beli yang murah aja.

Olleh WiFi voucher ini ada di Seven Eleven yang akan dengan mudah lo temui di setiap sudut jalan. Atau G25 juga. Atau toko kelontong lain deh pokoknya pasti ada. Kalo lo ke Myeongdong, yang jaga Sevel-nya ngerti bahasa Inggris jadi ngomongnya juga enak. Walaupun ya..... "Olleh WiFi, one ya, four days," ya kayak gitu. Ngertilah.

Nah perjalanan kedua setelah makan siang adalah ke MBC World di Digital Media City. WK. Seharusnya part ini gue ceritain yang itu, tapi kenapa gue malah ngalor ngidul monyong-monyong ngakak di Myeongdong dah. Yaudah, tunggu part selanjutnya aja. HAHAHAHAHAHAHA

[jangan lupa juga nih add LINE@ KaosKakiBau buat rame-ramein aja hihihi @ecd6150l (di search pake @ jangan lupa)]

Share:

15 komentar