KaosKakiBau ke New York [Part 4]: Broadway!

Waktu kecil, kita pasti punya cita-cita. Gue inget dulu gue sangat mengidolakan om gue yang sekarang sudah bergelar profesor dan dia pernah kuliah di luar negeri dan pindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Bisa dibilang dia adalah role model gue dulu dan dia juga yang membuat gue bercita-cita jadi seorang ahli pertanian. Sebelum akhirnya gue ganti role model ke Harry Potter dan bercita-cita jadi penyihir.

Berat banget buat gue menerima kenyataan bahwa ternyata Hogwarts itu enggak nyata. Patah hatinya sama kayak misalnya pas salah satu orang yang lo anggap temen tapi ternyata lo dikira enggak nyata karena cuma bisa diajak chatting doang. Karena itulah akhirnya gue mengganti cita-cita gue ke sesuatu yang lebih real: jadi pedagang es krim dan burger.

Sayangnya hidup itu enggak selalu tentang apa yang kita mau, tapi seringkali apa yang kita butuhkan. Ketika gue sudah niatkan untuk mengabdi di kampung halaman, merelakan gelar sarjana gue buat jualan burger dan es krim, takdir justru menahan gue di perantauan. Dan di sinilah gue sekarang berada, enam tahun merantau, menikmati naik dan turunnya gejolak kehidupan sebagai Jakartarian. Tapi kalo enggak merantau mungkin gue enggak bisa nulis posting-an yang sedang kalian baca ini.
*


Baca cerita sebelumnya: New York Trip Part 1 | Part 2 | Part 3

Setelah belasan jam di atas udara, Qatar Airways itu akhirnya mendarat di Bandara John F. Kennedy, New York. Gue kembali diliputi perasaan deg-degan yang enggak jelas dan kali ini penyebabnya adalah harus berhadapan dengan petugas imigrasi bandara. Kita kan enggak pernah tahu apa yang akan terjadi nih. Itulah kenapa parno diciptakan. Gue takut kalau-kalau diinterogasi berlebihan pake Bahasa Inggris terus gue nggak jawab. Persis pas mau wawancara Visa waktu itu.

"Kan lo udah pernah wawancara Shane Filan kak. Bisalah!" kata Ajie meyakinkan gue waktu itu. Walaupun gue sendiri sebenarnya enggak begitu yakin dengan Bahasa Inggris gue. Butuh dukungan aja sih sebenarnya hahaha.

Sesampainya gue di terminal kedatangan JFK, gue shock banget. Ternyata penampilannya nggak semenarik Hamad di Doha. JFK ini kayak biasa banget. Super biasa. Enggak akan keliatan kalo itu bandara buat ke New York gitu. Terminal kedatangannya malah kalah bagus sama bandara Lombok. Hahahha. Yang paling menyebalkan sih sebenarnya karena enggak ada WiFi. Soalnya kartu gue enggak berfungsi dengan baik dan enggak bisa nangkep sinyal. Otomatis ini gue enggak bisa ngabarin Gayle, orang Discovery Singapore yang jadi koordinator gue, kalau gue udah sampai di JFK. Selain itu gue juga nggak akan bisa menghubungi sopir yang sudah jemput di depan (mobilnya disiapkan oleh Discovery!).

"Okelah. Urusan itu nanti-nanti dulu." batin gue. Sekarang yang seharusnya dikhawatirkan adalah bagaimana berdoa kepada Allah SWT untuk dipermudah dan lolos dari imigrasi tanpa macem-macem. Karena dari cerita-cerita yang gue denger dari orang-orang kok kayaknya imigrasi ini menyeramkan.

Gue ngebayangin 'My Name Is Khan' nih yang disiksa di imigrasi kan serem.

(Lupa itu di imigrasi atau bukan).

Bermodalkan petunjuk jalan di bandara, gue pun berjalan dengan deg-degan menuju ke pintu keluar. Terminal kedatangan bandara itu benar-benar terasa sempit dan pengap. Padahal ada AC. Pemandangannya suram karena yang bisa dilihat cuma dinding putih aja. Berasa kayak dipenjara. Ini nuansanya intimidatif banget. Lampunya juga nggak terlihat cerah banget dan ngeri aja kalo tiba-tiba ada serangan zombie mendadak.

Gue mengikuti beberapa orang yang gue lihat tadi turun pesawat bareng sama gue. Setidaknya mereka mungkin lebih sering melakukan perjalanan via bandara ini. Sampailah akhirnya gue di tempat pengambilan bagasi dan gue berdiri menunggu koper merah tua yang dulu sempat mau dipake buat pergi haji sama alm. nenek gue tapi batal karena ternyata semua jamaah haji kopernya harus seragam.

Agak sedikit khawatir sama koper ini. Karena di Doha gue nggak ketemu dia. Rasanya udah berhari-hari sejak gue berangkat dari Jakarta dan mempercayakan Qatar Airways meng-handle urusan koper ini. Baca selengkapnya di Part 1.

Ya gue takut aja kalo ini koper beneran nyasar ke Alaska. Seperti yang sudah gue katakan sebelumnya, gue orang yang superparno. Takut kalo itu koper nggak sampe di New York dan gue akhirnya harus menggunakan baju Overdose merah ini selama tiga hari dua malam. Beberapa benda penting juga ada di koper itu termasuk kamera. Tapi keparnoan berakhir ketika koper tua itu muncul di "ban berjalan" di pengambilan bagasi. Lega banget.

Jalur antrean di imigrasi cukup panjang walaupun ada beberapa loket yang disediakan. Ada loket buat citizen ada juga buat pendatang. Ada yang tutup ada yang buka. Yang buka keliatan dijaga oleh petugas yang mukanya intimidatif banget. Bener-bener bikin takut.

Pas giliran gue maju, ditanyain gue mau ngapain ke New York. Gue sama siapa. Apa ada keluarga gak. Kayak pas wawancara Visa aja. Gue kemudian menjelaskan kalau gue jurnalis dan mau liputan selama beberapa hari. Si mbak-mbak yang wawancara gue ini agak tua dan auranya horor. Bikin takut. Tapi Alhamdulillah sudah distempel paspornya akhirnya tinggal melewati dua mas-mas berpostur raksasa yang ada di ujung line sebelum keluar.

Orang yang sebelum gue agak lama ditahan si mas-mas ini. Gue pun jadi takut. DUH KENAPA SIH PARNOAN! Konsentrasi gue buyar nih jadinya. Gue berusaha lagi menghapalkan skenario yang sudah sejak di Qatar gue rapalkan kayak mantra: "Hi I'm journalist and I come here for work." udah itu aja yang berulang-ulang di kepala.

Pas giliran gue maju ke mas-mas itu, dia minta form yang sebelumnya diisi di pesawat dan paspor gue. Gue kasi tunjuk dan langsung, "Welcome to New York and enjoy your stay!"

"Wah makasih mas!" kata gue langsung aja keluar walaupun ada niatan untuk cium pipi kiri kanan tapi takut dikira macem-macem yaudah mending kabur aja sesegera mungkin. Kesimpulannya: ternyata imigrasi di bandara JFK tidak semenyeramkan itu walaupun nuansanya memang rada-rada suram.

Handphone gue sama sekali nggak bisa digunakan! Gue nggak bisa ngapa-ngapain dan separuh jiwa gue rasanya pergi. PR-nya sekarang adalah fokus nyari sopir yang bawa tulisan nama gue di pintu kedatangan. Gue lirik kiri kanan tapi nggak ada tuh yang bawa nama KIM JUNMYEON. Yaudah akhirnya gue melipir ke mesin kartu telepon buat nyari kartu SIM untuk hape gue nih biar berfungsi.

Karena ada beberapa pilihan yang ditawarkan mesin bisu yang mirip telepon umum jadul itu, gue jadi galau dan berdiri lama banget di sana. Untung enggak ada yang antre mau beli juga. Yang gue butuhin sebenarnya SIM buat internetan untuk kebutuhan ngirim kerjaan dan juga buat eksistensi di media sosial. Ternyata kartu SIM lokal di sini mahal banget udah kayak kartu SIM jaman handphone nyokap masih 3315 yang dia beli sampe Rp 350 ribuan apa kalo nggak salah. Di sini harga satu kartunya ada di kisaran $40 sampai $60. Itu juga paket internetnya dibawah 3 giga. Setelah gue mutusin mau beli yang mana, pandangan gue teralih ke pojok kanan bawah yang ada tulisan "Bayar dengan uang pas. Mesin tidak memberikan kembalian."

"Bangke."

Gue menghabiskan setengah jam berdiri di situ buat galau malah akhirnya enggak jadi beli karena uang yang gue bawa pecahannya $100 doang. Kesel. Yaudah akhirnya berbalik buat nyari papan bertuliskan nama gue yang sudah di-hire buat ngejemput. PAS banget ketika gue berbalik ternyata dia ada di belakang gue.

HAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

"Hi sir, I'm Mr. Ronzzy," kata gue ketika nyamperin dia. "I'm looking for KIM JUNMYEON's name but there is nothing ya jadi yaudah ni aku samperin aja bapak yang keliatannya sendu sendiri," lanjut gue.

Gak deng yang terakhir ngarang.


"Oh! I'm waiting for you. Ayo ayo lewat sini. Biar saya bawain kopernya," kata dia dengan bahasa Inggris dan aksen timur tengah (entah ada atau enggak tapi terdengarnya seperti itu). Perawakan bapak ini tinggi banget dan penampilannya rapi dengan jas gitu. Berwibawa deh keliatannya. Kalo misalnya sekilas diliat dari jauh mungkin nggak akan nyangka kalo dia driver yang disewa buat ngejemput tamu.

"Udah nunggu berapa lama pak? Lama ya?"

"Ya ada kali satu setengah jam," kata dia.

"Astaga maaf banget ya pak saya agak katrok jadi agak lama tadi di dalemnya. Saya tadi lama di mesin kartu telepon itu," kata gue merasa bersalah. Kita berjalan keluar dari pintu kedatangan menuju parkiran.

YA ALLAH UDARA NEW YORK NIH PERTAMA KALI. HIRUP BANYAK BANYAK. BENYEK. TERBERKATILAH PORI PORI KULIT GUE.

AROMA HUJAN!! SUKA!!

Sore itu agak berawan. Langit agak gelap dan matahari bersembunyi di balik abu-abu di angkasa. Udara sore itu adem. Rasanya kayak di Bandung. Walaupun di sekitar bandara udaranya enggak terlalu beraroma enak karena bau asap knalpot tetap terasa sih. Walaupun aroma hujan masih bisa kecium karena beberapa bagian dari jalan ada yang basah.

"Ah enggak apa-apa pak. Memang udah tugas dan kerjaan saya nunggu. Sebelum ini saya juga nungguin orang sampe hampir tiga jam kok. Udah biasa," katanya. Gue cuma bisa tersenyum enggak enak.

Mobil jemputannya ternyata besar banget. Kayak Range Rover gitu dan mewah banget keliatannya. Enggak nyangka aja. Tadinya gue pikir kayak bakalan sedan biasa gitu. Kayak taksilah. Wah ini pasti mahal banget nih nyewanya juga. Orang bapaknya aja rela nunggu lama gitu.

"Maybe I should move the car first before you get in. Because its too narrow aku takut ngegores itu mobil di sebelah," kata dia.

"Oh oke fine," jawab gue. Pas mobilnya udah agak majuan, dia kemudian ngebukain pintu belakang lewat sebelah kiri. Gue lupa kalo di Amerika setir mobilnya di kiri bukan di kanan. Tapi hampir aja gue mau masuk ke kursi pengemudi karena gue pikir itu kursi penumpang yang di depan.

HAHAHAHAAHHAHA DOH . Goblog.
*
*
"Perjalanan ke hotel ini mungkin agak lama ya pak. Soalnya pasti macet kalau jam segini," kata dia.

HAHAHAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHHAHAHAAH gue ketawa dalam hati. Kita lihat macetnya New York ini seperti apa soalnya saya sudah makan asam garam macet Jakarta selama dua tahun nih pak.

"Its oke pak. Bapak belum liat aja macetnya Jakarta. Saya juga mau liat-liat kotanya nih, jadi kalopun lama di jalan its okay its love,"

"Oh ini sebenarnya kita belum di kota juga sih. Ini masih di pinggiran gitu nama daerahnya Queens. Kotanya masih agak jauh. Hotel tempat bapak tinggal itu di daerah barat dan kita sekarang di timur jadi kayak ujung ke ujung gitu," jelas dia.

"Gapapa pak santai aja," jawab gue.

Gue lupa banget nama bapak ini siapa. Tapi gue sempat kasih dia kartu nama gue karena pas gue bilang gue dari Indonesia, dia seneng banget gitu. "Tempat tujuan impian sama keluarga tuh pak. Soalnya saya denger di sana kita nggak perlu khawatir soal makanan halal. Jadi aman kalo mau makan-makan," kata dia.

Di situlah gue baru sadar kalo bapak ini muslim. Iya kan tadi dia ngomong pake aksen timur tengah ya. Gue lupa.

Ada kesamaan antara driver di Amerika dan driver di Indonesia. Kalau diajak ngobrol mereka ujung-ujungnya curhat panjang lebar soal kehidupan. Bapak inipun demikian. Dia cerita dari awal bagaimana dia akhirnya bisa tinggal di New York udah 20 tahunan yang lalu. Dia imigran dan sekarang udah resmi jadi warga negara Amerika. Segala susah senang dia ceritain. Wah panjang kalo disinetronin mungkin Cinta Fitri kalah. Dia juga curhat soal kerjaan dia dan bagaimana susahnya nyari kerja di Amerika.

"Ya sebenarnya kerjaan saya ini juga buang-buang waktu. Sehari paling banter saya cuma nganterin dua sampai tiga orang. Waktu yang diabisin buat nunggu mereka sama jalan ke tujuan mereka bisa enam sampai delapan jam. Coba kalo saya kerjain hal lain yang berguna kan bisa produktif banget. Tapi sampai rumah saya udah kecapekan. Ya tapi gitu, daripada enggak ada kerjaan," katanya.

Gue cuma bisa berkomentar simpati sambil melihat-lihat bangunan rumah lucu di sekitar jalan di Queens. Ada beberapa rumah yang kecil di pinggir jalan dan keliatan gemesin banget. Kayak di film-film.

Gue merasa beruntung gue tidak mengalami jetlag hari itu. Badan gue terasa lebih segar dari biasanya dan penerbangan 20 jam itu nggak membuat gue merasakan aneh karena perbedaan waktu atau gimana. Si bapak ini juga sempat shock ketika gue bilang gue terbang 20 jam dari Indonesia ke JFK.

"Must be tired ya kamu pak,"

"Ya tapi saya terlalu excited nih jadi saya biasa-biasa aja malahan seneng banget." kata gue.

Perjalanan dari JFK ke New York memakan waktu sekitar satu setengah jam karena traffic. Sepanjang perjalanan yang terasa kayak lagi di jalan tol bandara Soekarno-Hatta menuju Semanggi itu si bapak nunjukkin gedung-gedung pencakar langit yang terkenal di sana. Salah satunya ya Empire State Building yang terlihat dari kejauhan.
*
*
Entah kenapa nuansa luar negeri itu emang beda banget ya sama Jakarta. Ada sesuatu yang bikin kita ngerasa ini tempat enak aja gitu. Sepanjang perjalanan gue cuma motret-motret random aja. Setiap ada yang lucu gue potret. Setiap tikungan gue potret. Pas bapaknya berhenti di pom bensin gue potret. Kayak enggak pengen ada satu momen yang terlewat. Padahal itu juga baru mendarat.

Ketika masuk ke kawasan New York, nuansa kotanya langsung terasa. Taksi-taksi kuning yang seliweran itu rasanya kayak lagi nonton film aja. Gedung-gedung yang banyak jendelanya dan ada tangga di luarnya juga berasa kayak di film sesuatu gitu. Ah... tapi enggak ada yang lebih bikin deg-degan dan langsung senyum-senyum gak jelas selain lewatin jalan yang di lampu merahnya ada tulisan Broadway.

"Finally."
*
*
Ada banyak sisi kota New York yang gue lewatin sore itu sedang dalam tahap renovasi. Tapi enggak mengurangi kekerenannya kok. Sebelah hotel gue juga lagi ada gedung yang direnovasi ternyata. Dan ketika gue sampai di hotel, gue agak kecewa nih karena hotelnya kurang wah daripada ketika media trip ke Singapore. WAKWAKWAKWAKKA UDAH GRATISAN GAK BOLEH KOMPLAIN YA DASAR ANAK KAMPUNG!

Gue nginep di Four Points Hotel Midtown by Sheraton. Lokasinya sangat menyenangkan dan strategis karena deket dari mana-mana. Dan ini termasuk hotel mewah juga sih kalo rate-nya dirupiahkan hahaha mahal banget semalemnya.

Sopir baik hati itu pamit dan gue pun menggeret koper masuk ke hotel. Pintu hotel itu ada dua lapor. Dua-duanya pintu otomatis. Tapi karena gue nggak tahu kalo itu pintu otomatis, jadinya gue udah niat aja mau julurin tangan buat dorong. Keliatan deh begonya pas tangan kanan gue udah terjulur ke depan mau dorong eh pintunya kebuka ke samping.

Anak kampung.

"Halo selamat sore. Saya salah satu anggota press junket dari Discovery," kata gue ke resepsionis yang lagi ngunyah permen karet. Rambutnya pirang panjang dan terlihat santai tapi juga agak sengak.

"Paspornya mas?"

"Oh iya ini," gue kasih langsung. Dia kemudian menghilang di balik layar komputer dan ngetik-ngetik sesuatu sampai akhirnya kembali lagi muncul ke depan gue dan ngasih dua kartu kunci kamar.

"Lift-nya ada di belakang. Wifi di sini gratis di semua lokasi di hotel dan enggak perlu pake password tinggal connect langsung aja," katanya. Setelah itu gue buru-buru naik ke kamar dan harus beres-beres karena setengah enam udah harus kumpul lagi di lobby buat welcome dinner di salah satu restauran di New York.

Dan sekarang sudah jam lima. HEOL.

Karena pernah nginep di hotel mewah juga pas di Singapore, gue jadi agak lebih percaya diri dan yakin tidak akan ada kebodohan yang terjadi dalam perjalanan dari resepsionis ke kamar. Gue ngerti deh kalo masuk lift harus tap kartu dulu baru bisa pencet lantai tujuan. Dan itu juga berlaku di lift di hotel ini. Gue suka banget lift-nya. Luas dan ada kesan vintage gitu. Kalo di film-film horor mungkin ini kayak lift di 'Annabelle' ya. Tapi nggak seklasik itu. Gue pun berjalan dengan penuh gaya menggeret koper ke depan kamar. Dan sesampainya di sana...

"Eh bentar..."

Gue cek lagi apa yang dikasi sama si resepsionis.

"Dia enggak ngasi kunci kan?" gue ngomong sendiri pake bahasa Indonesia.

"Iya deh kayaknya dia nggak ngasi kunci." gue belum liat ke bagian pintunya. Loh ternyata nggak ada lobang kunci. Lah terus gimana cara buka pintunya?

"Oh di tap!" gue ngeluarin salah satu kartu yang dikasi sama mbak tadi dan gue tap ke pintunya. Nggak ada apa-apa yang terjadi. "Oh mungkin harus di tap dua-duanya giliran," kata gue lagi dan gue melakukan itu tapi enggak ada apa-apa yang terjadi.

Yak mulai panik. Ini udah jam lima dan belom sholat ashar dan harus buru-buru ke bawah lagi buat ketemu sama Gayle dan media lain buat welcome dinner dan nggak boleh telat karena ketahuan banget ngaret ni orang Indonesia kampungan.

"Nyet ini gimana!" gue tap-tap itu kartu lagi di pintu tapi tetep aja nggak bisa. Oke gue nggak boleh panik. Gue tarik napas dulu. Sesekali memperhatikan ke belakang dan meyakinkan kalo nggak ada orang yang ngeliat kebodohan gue ini. Gue perhatiin lagi gagang pintu itu. Memang sih enggak ada perintah untuk nge-tap. Tapi.....

Ah si goblok. Ternyata ada lobang garis gitu di bawah dua lampu indikator tempat masukin kartunya. Ternyata pintunya dibuka bukan di tap tapi dimasukin kartunya.

"Tolol." umpat gue lalu tertawa. Ya akhirnya dengan bahagia gue masukin aja kartunya. Terus nunggu agak lama. Tiba-tiba lampu merah nyala.

"Apa maksudnya tuh lampu merah?"

Gue "patahin" gagang pintu dengan posisi kartu masih masuk ke lobang dan lampu masih nyala. Nggak bisa dibuka juga. MAMPUS INI APA LAGI NIH! AAAAAAAAAAAARRRRGGGGGGHHH!!!

"Oh mungkin masukinnya harus dua-duanya bergiliran?"

Gue copot lagi kartu yang itu dan masukin lagi kartu yang lain. Lampu merahnya nyala lagi dan pintunya tetep enggak bisa dibuka. Gue keluarin lagi dan gue masukin yang lain lagi. Tetep enggak bisa kebuka.

Ya inimah alamat harus balik lagi ke resepsionis dan bilang "Mbak maaf saya bodoh dan kampungan banget ini gak bisa buka pintu bisa tolongin enggak?" Tapi sebelum itu gue harus coba sekali lagi siapa tahu kali ini beruntung.

Gue masukin kartunya lagi dan enggak berapa lama langsung gue copotin karena berniat masukin kartu yang kedua. Eh tapi sebelum gue masukin kartu yang kedua, kali ini yang nyala lampu hijau dan ada bunyi "tring tring!" gitu. Gue "patahin" lagi gagang pintunya dan ALLAHU AKBAR AKHIRNYA KEBUKA JUGA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

(Emotikon kembang api) (Emotikon menangis sambil tertawa) (Emotikon goblog)
*

*
Kamar hotel itu ternyata enggak terlalu wah dan enggak terlalu besar. Tapi cukup besar buat ditempati berdua dan bersenang-senang semalaman dengan pasangan atau sekedar selingkuh dengan pejabat yang berduit. Sayangnya gue nggak punya pasangat ataupun jadi simpanan pejabat. Tapi ya memang ruangan itu terlihat sangat pas untuk mesum dan juga cozy untuk sendirian.

Gue nggak bisa lama-lama berkhayal soal selingkuh sama pejabat karena harus buru-buru ganti baju untuk pergi ke welcome dinner. Baju Overdose merah itu masih melekat di badan dan gue rencananya mau ke welcome dinner pake batik.

"Lo pake batik aja pas nanti ada acara kumpul-kumpul. Biasanya cepet di-notice dan nanti banyak yang nanya-nanya sama lo," kata bos gue sebelum gue berangkat beberapa hari lalu.

Oke gue memang cuma punya satu baju batik yang gue beli dengan harga murah sekitar tahun 2010 dulu. Dan itu satu-satunya baju batik yang gue punya sampai sekarang dan masih gue pake buat ke berbagai acara formal seperti kawinan dan semacamnya. Mengingat kantor gue bukan kantor yang harus pake pakaian resmi, jadi itu batik hanya dipakai ketika diperlukan saja.

Setelah ganti baju dan sholat ashar gue buru-buru turun karena Gayle sudah Whatsapp dan dia bilang semua sudah nunggu di bawah. Wifi hotel itu kenceng banget parah. Pindah-pindah tempat kayak enggak berubah sinyalnya. Kayak bolt kalo udah nempel sama hape gitu full terus. Gue mengemas beberapa barang ke tas hitam selempang buat dibawa ke lokasi welcome dinner: kamera, dompet, paspor buat jaga-jaga kalo dikira teroris.

Pas gue sampai di lobby memang udah rame banget sama jurnalis dari berbagai negara. Tapi mata gue langsung tertuju ke mbak-mbak berjilbab yang berdiri di dekat dinding. Langsung aja gue curiga dia dari Malaysia karena jurnalis Indonesia kan cuma gue. Akhirnya gue kenalan dan awalnya sok-sokan sih ngomong pake Bahasa Inggris. Tapi akhirnya kami mutusin bicara dengan bahasa Melayu ala-ala aja. Dan gue pun berusaha buat bicara seformal mungkin dalam Bahasa Indonesia walaupun pada akhirnya tetap aja bahasa gaul Jakarta-nya keluar.

Gue bersyukur bisa ketemu sama wartawan Malaysia ini. Namanya mbak Laila. Karena sudah jelas nanti gue bisa ada teman buat diajak sholat dan juga ngeles kalo kita nggak boleh makan babi. Ya setidaknya malam ini yang makan salad nggak cuma gue lah. Hahaha. Gayle kemudian memperkenalkan gue ke dua jurnalis dari Asia lainnya. Yang satu dari Filipina namanya Scott (perawakannya tinggi dan posturnya bapak-bapak banget. Dia asli Amerika tapi sekarang tinggal di Filipina karena menikah dengan orang Filipina), dan yang satu lagi Becky dari Taiwan (mbak-mbak yang gayanya gaul banget, rambutnya ombak dan pake lipstik merah tebel). Setelah sesi kenalan singkat dan tukeran kartu nama, kitapun akhirnya jalan kaki ke restauran tempat welcome dinner diadakan.

Gue masih ingat gimana excited-nya saat itu. Ini pertama kalinya gue akan jalan kaki di New York seperti kebanyakan NewYork-er yang kayak di film-film! Gue juga masih inget gimana gue nggak berenti senyum sore itu saking excited-nya. Walaupun kemudian melakukan kebodohan yang gue baru sadar ketika sudah keluar dari hotel.

(Insert suara angin)

DINGIN BANGET!!!!!!!!! DAN GUE NGGAK BAWA JAKET!!!!!

Gue perhatiin orang-orang yang jalan sama gue mereka semua pake mantel dan pake jaket. Bahkan ada yang dari Prancis (cowok, tingginya sepantaran gue) dandan banget yang bener-bener prepare mau jalan di New York, stylish dengan baju hangat dan syal. Meanwhile gue hanya pake batik tipis dan lengan pendek.

"Siap-siap masuk angin ya nanti di restauran kita pesen wedang jahe aja ya, Ron. Selamat akhirnya Anda minum wedang jahe di New York."

Mari lupakan kebodohan itu dan kita nikmati saja suasana kota di Minggu sore yang cerah itu. Jelang maghrib tapi langitnya masih terang benderang. Wajah gue berseri-seri setiap ngeliat orang lewat dan setiap belok di tikungan. Seneng banget setiap ngeliat tulisan petunjuk jalan di lampu merah ataupun ketika lagi nyebrang jalan. Duh! Seneng banget deh pokoknya!

"Pertama kali nih jadinya kayak agak kampungan gitu ya," kata gue ke Scott ketika dia nanya gue dari mana dan kerja di media apa.

"Wajar kok." jawab Scott singkat dan itupun dia ngomongnya kayak bisik-bisik.

"Hehe," entah gue harus tersinggung atau bangga.

Jarak dari hotel ke restauran sebenarnya enggak terlalu jauh. Tapi karena gue terlalu lama melihat-lihat sekitar jadi kesannya jalannya nggak kelar-kelar. Gue pun harus masukin tangan ke kantong celana jins sepanjang jalan karena udaranya emang agak dingin gitu di bulan Oktober ini. Sekitar 15 sampai 17 derajat celcius kayaknya waktu itu seinget gue. Tapi kalo kata sopir tadi sih ini adalah udara terbaik buat liburan karena enggak panas banget dan enggak dingin banget.

Bener sih udaranya kayak lagi di kawasan Setiabudi, Bandung. Ya tapi jangan bego aja nggak bawa jaket pas hari lagi berangin begini. Tetep aja butuh masalahnya.
*
*
Restauran yang kita tuju konsepnya kayak bar bernuansa klasik. Tapi lokasi makan kita private di lantai basement dan di situ agak over klasik jadi kesannya kayak lagi pesta remang-remang Halloween gitu. Satu per satu dari para jurnalis saling memperkenalkan diri. Tapi masalahnya gue adalah tipikal orang yang cepet lupa nama tapi gampang inget wajah. Apalagi nama-nama orang Eropa-nya rada susah-susah. Sedih.

Di momen makan malam itu juga kita semua bertukar cerita soal penerbangan, jam berapa sampai dan sebagainya. Kemudian ada momen juga pas Gayle nanya ke gue soal kebakaran hutan di Indonesia yang sama sekali gue nggak update beritanya kecuali hujatan orang terhadap Jokowi atas insiden itu yang gue sendiri juga nggak tahu salah Jokowi di mana. Dan ketika gue bilang Jakarta enggak kena asap, Gayle agak terkejut.

"Jakarta sama lokasi kebakarannya jauh soalnya," kata gue.

Sebenarnya welcome dinner itu berjalan alot karena masing-masing sibuk dengan diri masing-masing dan obrolan dengan teman di sebelahnya. Jadi kayak enggak ada acara resminya gitu sih. Agak disayangkan juga padahal kalo misalnya agak resmi kan jadi makin memorable. Tapi paling enggak beberapa dari jurnalis itu WOW banget ketika gue bilang perjalanan gue dari Jakarta ke New York memakan waktu 20 jam.

"MAMPUS ITU LOH PASTI JETLAG BANGET!" kata salah satu dari mereka.

"Harusnya. Tapi gue fine nih gak tahu kenapa mungkin bawaan alay gak pernah ke New York," kata gue.

Salah satu hal yang menarik sore itu adalah ketika gue menguping pembicaraan mbak Laila dan Katherine, salah satu jurnalis dari Serbia. Katherine terdengar sangat tertarik mendengar cerita mbak Laila soal "Kenapa saya berjilbab" dan "kenapa ada wanita muslim yang berjilbab dan ada yang enggak". Gue senyum-senyum sendiri karena jawaban mbak Laila bener-bener diusahakan sesimpel mungkin supaya Katherine juga enggak terlalu ribet buat menangkap maksudnya.

"Ron juga muslim." kata mbak Laila tiba-tiba menunjuk ke gue yang duduk di sebelahnya. Gue senyum sambil ngaduk-ngaduk pasta (yang setelah berdiskusi dengan mbak Laila sepertinya ini aman untuk di makan dan terasa Halal walaupun enggak tahu deh itu panci atau penggorengannya mungkin aja bekas babi).

"Jadi kalian berdua muslim. Laila kamu dari Malaysia dan Ron kamu dari Indonesia. Apakah kalian berdua sama-sama melakukan ritual yang sama? Apa bedanya Islam di Indonesia, Malaysia dan di negara lain?" tanya Katherine.

"Oh enggak ada bedanya. Semuanya sama." jawab mbak Laila.

Hening sejenak dan gue kembali menikmati pasta enggak enak yang dihidangkan di restauran itu (GRATIS GAK BOLEH KOMPLAIN HEH!). Sampai akhirnya,

"Laila kamu suka dengerin musik apa?" tanya Katherine.

"Aku suka denger musik yang agak-agak enggak mainstream." jawab mbak Laila.

"Oh iya? Apa itu?" tanya Katherine lagi.

Gue menyesap sparkling water (ini pertama kalinya gue nyobain) yang ada di meja. Rasanya enggak enak. Lebih enak Ekstra Joss.

"Aku suka KPop."

TERSEDAK.

UNTUNG GELASNYA ENGGAK KETELEN ATAU LONCAT LALU PECAH DENGAN HEBOH.

Gue langsung noleh ke Mbak Laila dengan dramatis.

"MBAK LO SERIUS SUKA KPOP HAH DEMI APA?!"

"Iya."

"MBAK LO SUKA SIAPA?"

"Super Junior."

Gue mau ketawa.

KETAWA DALAM HATI KENCENG-KENCENG.

"MBAK AKU JUGA SUKA KPOP. DI KANTOR AKU YANG MEGANG DESK KPOP! AKU SUKA EXO TAPI JUGA SUKA SUPER JUNIOR SIH!"

"OH IYA? ASTAGA AKU JUGA SUKA BANGET UDAH DARI MEREKA AWAL-AWAL ALAY GITU!" kata mbak Laila. Ya dan akhirnya sepanjang sisa makan malam itu kitapun ngebahas Super Junior dan pengalaman mbak Laila ke Korea dan betapa sedihnya Malaysia nggak pernah dikunjungi langsung oleh Super Junior dan keluhan-keluhan ala fans yang komplain soal harga tiket yang mahal.

Ya gitu. Udah jauh-jauh ke New York tetep aja bahasannya KPop. Tapi gue bersyukur karena setelah obrolan itu, gue sama mbak Laila jadi cair. KPOP MAKES ONE! Kalo kata Mnet. Akhirnya kitapun janjian malam ini buat jalan-jalan ke Times Square. Karena ini adalah pengalaman pertama gue dan dia sudah pernah, jadi gue minta dia buat jadi guide.

BROADWAY, HERE I COME!

Kita mutusin buat balik ke hotel untuk ganti baju dulu dan ambil jaket (HAHAHA) dan juga mempersiapkan beberapa hal. Yang paling penting sih sebenarnya sebelum jalan ke Times Square kita mau maghriban dulu di kamar masing-masing. Kira-kira setengah jam kita ketemu di lobi hotel dan jalan ke Times Square.

Sekali lagi gue bener-bener berasa sangat alay tetapi di saat yang sama juga sangat beruntung bisa ada di perjalanan ini. Setiap belokan menuju Broadway bener-bener bikin deg-degan dan gue beberapa kali merinding. Enggak bisa berhenti bersyukur dan masih enggak percaya sama apa yang terjadi ni. Apa bener ini gue lagi di New York atau ini hanya mimpi anak kampung aja yang bentar lagi subuh terus gue dibangunin nyokap karena telat sembahyang.

Tapi ternyata perjalanan itu nyata. Ketika tiba di Times Square gue speechless banget.
*
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Ini loh, lokasi yang disebut-sebut Rachel Berry di 'Glee' yang selama ini gue tonton. Ini loh tempat di mana para aktor dan aktris teater berusaha untuk eksis dan menjaga eksistensi mereka. Ini loh lokasi yang billboard digitalnya besar-besar banget dan lampu-lampu gedung di sekitarnya kalo malem enggak pernah mati. Ini adalah tempat yang nggak pernah ada dalam daftar lokasi yang ingin gue kunjungi, tapi "secara tidak sengaja" akhirnya gue kunjungi.

Inilah Broadway!
*
*
Poster-poster musikal yang sudah familiar di telinga kayak 'Chicago', 'Wicked', 'Phantom of the Opera' ada di sana. Beberapa judul baru yang gue liat kayak 'Mathilda' juga sangat menawan untuk diperhatikan. Tapi enggak ada yang paling bikin merinding selain ngeliat poster promonya 'Lion King'.

"YA ALLAH."

Gue sempat cek harga tiket buat nontonnya dan kebetulan malam itu ada jadwal perform tapi ternyata mahal banget akhirnya yaudah enggak muluk-muluk. Bisa ada di lokasi teaternya aja udah Alhamdulillah banget bisa foto sama poster Broadway-nya. Rejeki nggak akan ke mana kan. Mungkin kalo kembali ke sana lagi nanti Insya Allah harus nabung buat nonton deh walaupun angkanya WOW FANTASTIC BABY DANCE OHOOOWWW I WANNA DANCE DANCE DANCE DANCE DANCE banget.
*
Pertama kali ke Broadway. Ya siapa sangka takdir membawa saya untuk melihat langsung lokasi yang selalu disebut-sebut Rachel Berry di #glee. . Udah dari 2009 nonton #glee dan baru tau yang namanya Broadway tuh kayak gimana. Memang siih, saya gapernah tahu banyak soal dunia teater karena mungkin gak begitu menggeluti dunia itu. Tapi saya tahu kalo 'Lion King' adalah salah satu pertunjukkan Broadway yang paling AAAAAAARRRRRGGGGGGHHHH dan saya juga hanya bisa AAAAAARRRRGGGGGHHHHHH karena cuma bisa lewat di depan teater-nya doang. . Gapapa. Takdir akan mempertemukan kita dengan apa yang seharusnya jadi milik kita, atau siapapun yang nantinya berpengaruh besar dalam hidup kita. Positif atau negatif. . 'Lion King'-nya next visit kalo rejeki. Sekarang yang gratisan aja dulu, 'Lion Heart'. . πŸ’‹πŸ§
A photo posted by RON (@ronzstagram) on
*
Yang paling berkesan dari hari pertama di New York adalah ketika gue berdiri di tengah-tengah Times Square dan berada di antara ratusan orang yang juga sepertinya baru pertama kali ada di sana. Sambil was-was karena takut dicopet, gue sempat-sempatin selfie. Kapan lagi! KAPAN LAGI!!!!!! GAUSAH TAKUT DIBILANG ALAY KARENA INILAH SAATNYA ALAY YANG SEBENARNYA!!!

Gue sampai enggak kepikiran buat jetlag sama sekali hari itu. Ketika jalan kembali ke hotel, gue baru sadar kalau malam itu juga purnama. Pantesan tadi pas jalan pulang dari restauran banyak orang yang foto-foto bulan yang baru naik.
*
*
Momennya pas banget! Alasan lain untuk mengucap syukur lagi.

Setelah ngalay, waktunya fokus ke kerja. Dua hari ke depan kerjaan bener-bener padat banget. Semoga nggak ada yang keteteran dan semoga bisa bangun pagi buat ngejer jalan-jalan pagi besok!
*

Share:

13 komentar