30 Menit Bersama drg. Chandra [PART 7--END]

Hari ini lumayan cerah. Tapi nggak tahu kenapa kok rasanya males banget buat ngapa-ngapain. Padahal semalem itu udah yakin kalau hari ini pasti semangat tapi pas bangun tadi pagi rasanya kok ya males banget ninggalin kasur. Kalau aja gue tidak mencoba untuk mengingatkan diri gue bahwa hari ini adalah hari Rabu, mungkin gue akan tetap terlelap sampai malam, mengingat hari ini gue berencana untuk bolos kelas jam 11 karena kelas jam 1 nggak ada. Berasa males banget masuk 1 mata kuliah dan itupun mata kuliah gak jelas juntrungannya buat masa depan gue.

Air dingin menyambut sekujur tubuh pagi ini. Mencoba mengingat apa yang harus gue lakukan setelah mandi? Ah ya... pake baju. Hahahah No no, hari ini hari Rabu dan biasanya kalau hari Rabu gue ada jadwal buat ketemuan sama Dokter Gigi. Dan yes... Hari inipun demikian.

Di episode Rabu dua minggu lalu, gue cerita kalau gigi gue di bentuk sedemikian rupa sehingga jadi sangat kecil untuk tempat meletakkan gigi palsunya. Nah satu minggu yang lalu, gue balik lagi ke sana dong karena biasanya kan hari Rabu itu emang jadwal ketemuan gue. Tapi ... entah apa karena ini otak udah di-setting untuk selalu ke PKM hari Rabu kali ya? Sampai di sana minggu lalu gue justru diberikan tatapan bingung sama beliau.

"Kok kamu balik lagi?"

Pertanyaan itu semacem menusuk tulang kering gue. Gue semacem tidak diharapkan oleh dokter ini. Mungkin dia sudah terlanjur jijik dengan semua air liur yang bergelimang dosa itu.
Gue mencoba untuk tenang dan berpikir. Pertanyaan ini sepertinya memiliki makna sesuatu gitu.

"Kan minggu lalu saya udah bilang kalau nanti proses lab sudah selesai saya akan SMS kamu..."

Ah... itu dia yang gue lupa. Alzheimer gue kambuh dan gue lupa kalau gue sama sekali tidak menerima satu SMS-pun dari pak dokter ini.

"Iya ya? Aduh saya lupa dok..."

"Kamu lupa atau pura-pura lupa biar ketemu sama saya?"

"Terserah lo deh dok..."

Padahal hari itu gue nunggu cukup lama loh! Mulai dari jam 9 dan gue baru masuk ke ruang periksa jam 11. Padahal disaat yang sama gue ada kelas jam 11. Okelah... sia-sia sudah dua jam gue menunggu itu. Padahal kalau misalnya gue standby di perpustakaan gue bisa donlot lebih dari tujuh video EXO.

Besoknya, akhirnya gue menerima SMS dari sebuah nomor misterius. SMS itu bilang kalau proses lab gigi palsu gue sudah selesai dan sudah bisa dicoba untuk dipasang. Di SMS itu bilang kalau gue bisa datang hari Jumat pagi atau Senin atau Selasa.

Males.

Itu komentar pertama gue. Jumat ada kuliah dan Senin juga Selasa ada kuliah. Gue emang agak bete karena dua jam sia-sia hari Rabu itu jadinya agak-agak ogah ke PKM dulu untuk menenangkan diri dari segala tekanan batin. Tapi kemudian SMS itu gue balas dan bilang kalau gue akan datang hari Rabu.

Hari ini...

Dan pagi ini gue bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin karena tadi pagi gue mimpi agak-agak panas gitu jadi bangunnya agak lebih cepet. Mimpi panas maksudnya mimpi di sembur api sama Kris atau Chanyeol gitu loh yah bukan porno. Hahahah... Dan sekitar jam delapan lewat lima belas gue berangkat ke PKM dan sampai disana jam delapan tiga puluh-an.

PKM hari ini sepi. Mungkin karena gue datengnya juga lumayan pagi atau memang hari ini semua anak UI sedang sehat sentosa sejahtera tanpa sakit. Mbak-mbak yang ada di loket tanpa gue bilang kalau gue mau ke dokter Chandra, beliau sudah tahu dan langsung memberikan gue nomor antrian 2. Nggak lama setelah duduk gue langsung dipanggil dan masuk ke ruang periksa.

Dokter Chandra hari ini penampilannya baru loh! Rambutnya di potong. Jadi agak-agak mirip Baekhyun gitu. Oke ini bohong. Waktu gue masuk dia langsung menyambut dan memanggil gue dengan nama depan gue--yang mana gue sebenarnya nggak suka dan lebih suka di panggil dengan tiga huruf paling belakang di nama belakang gue--sambil megang-megangin gigi palsu. Gue duduk di kursi yang biasa tempat gue duduk kalau lagi konsultasi.

"Nah ini gigi palsu kamu sudah selesai di proses Lab. Kita akan coba pasang dulu. Kalau misalnya nggak pas nanti bisa di balikin ke lab lagi buat di perbaiki. Tapi saya sih berharapnya pas aja ya, karena pasti akan lama kalau misalnya harus di proses lagi..."

Entah kenapa hari itu gue bener-bener nggak pengen ngomong sama sekali. Maybe karena gue lagi badmood? Atau gue lagi datang bulan? Ah masa iya sih gue datang bulan. Perasaan... tsk.

Dokter Chandra langsung menyuruh gue buat berbaring lagi di kursi panas. Hari ini mbak-mbak suster juga ada. Setelah berkumur dan diberikan tisu gue langsung membuka mulut lebar-lebar.

Gigi kecil yang kemaren di bor berkali-kali itu dipersiapkan untuk dipasangkan gigi palsunya. Diperbaiki sedikit dengan sesuatu semacem bor tapi bukan bor dan setelah itu, dokter Chandra memasangkan gigi palsu itu.

Deg-degan. Rasanya kok kayak lagi mau ciuman pertama gitu ya masang gigi palsu buat pertama kalinya... LOL

Setelah itu gigi masuk ke tempat yang seharusnya, gue ngerasa aneh banget ada ganjelan disitu karena biasanya kosong melompong dan hanya gigil kecil mungil rapuh yang ada.

"Pas gak? Ngeganjel gak?"

"Ngeganjel banget dok... ini kayak lagi gigitin batu akik,"

Pak Dokter melepas lagi gigi palsu itu dan mencoba untuk memberikan ruang lebih di gigi gue. Di bor lagi sedikit-sedikit kemudian di pasang lagi.

"Masih ngeganjel?"

"Masih dok..."

"Saya pikir gini aja, kita pasang trus kita usahain supaya nggak ngeganjel tanpa harus di ganti di lab lagi gimana? Kita coba buat supaya pas... Abis ini saya mau semen permanen aja dulu, tahen 2-3 menit ya..."

Gue nggak perhatian sama ucapan itu karena gue sedang dalam posisi menganga dan gue cuma bisa menerima apa adanya perlakuan beliau ke gue. Yang jelas, gigi yang akan dipasangkan gigi palsu itu sebisa mungkin dihaluskan bagian dasarnya supaya waktu giginya dipasang bisa pas gitu. Beberapa kali di bor sana bor sini. Beberapa kali di semprot sana semprot sini pake angin.

"Coba gigit gigit... Masih ganjel gak?"

Gue diem. Mencoba untuk merasakan perbedaan yang ini dengan yang sebelumnya.

"Masih sama kayak yang tadi?"

Gue diem. Masih gigit-gigit.

"Masih ngeganjel?"

Masih diem.

"Atau kamu bingung?"

Buset, itu rasanya gue pengen ngakak tapi takut nyembur liur ke muka pak Dokternya. Akhirnya gue cuma bisa berekspresi nahen ketawa. Gue yakin banget itu muka gue pasti mirip SUHO pas lagi perform.

"Saya bingung dok nggak ada bedanya sih kayaknya..."

Akhirnya di coba untuk di bor lagi dan lagi kemudian di pasang lagi. Beberapa kali juga gue disuruh menggigit kertas warna hitam. Semacem kertas karbon gitu kali ya. Gue sih nggak ngeliat bagaimana bentuk kertas itu ketika gue gigit tapi kayaknya dari kertas itu di gigi gue yang baru dipasang semacem ada tanda gitu sebagai indikator pas atau tidak pas-nya ini gigi.

Ketika gue mingkem sudah terasa enak. Tapi pas geser ke kanan masih ngerasa ngeganjel. Akhirnya di bor lagi lagi lagi supaya bisa pas.

Dan akhirnya yeah... walaupun sekarang gigi ini masih agak aneh ada di mulut gue, tapi dari sudut pandang dokter Chandra ini sudah yang paling pas dan nggak terlalu mengganjal. Tapi kalau di mulut emang rasanya kayak lagi ngisep permen tapi nggak abis-abis gitu loh. Mungkin karena belum terbiasa aja kali ya... Belum terbiasa punya gigi dari metal dan keramik. Belum terbiasa ngisep keramik yang harganya satu juta. Buset dah... ini kalau misalnya besok gue nggak sanggup bayar kosan, gue bakalan cabut ini gigi dan kasi ke bapak kosan gue buat bayar kosan dua bulan.

"Jadi paling nanti kita lihat satu minggu kalau ada keluhan kamu kontrol lagi. Kemarin kan kamu sudah bayar tuh lima ratus..."

Oke gue sudah tahu ini akan dibahas. Tapi gue beneran bokek bulan ini nggak bawa uang sama sekali. Tadinya gue mai ngeles ngasi tau kalau gue dalam kondisi keuangan yang sangat parah sampai harus kerja jadi laki-laki penghibur. Tapi gue mengurungkan niat gue untuk mengarang cerita itu.

"Oh udah tujuh ratus ya? Jadi sisa tiga ratus lagi... Kamu mau bayar sekarang?"

"Kalau nggak sekarang bisa gak dok?"

"Hmmm... harusnya sih sekarang ya... soalnya ini kuitansi sudah harus di serahkan gitu..."

"Tapi dok saya beneran nggak bawa uang dok! Saya beneran nggak punya uang! Tolong lah dok.. kasihani saya dok... Emang harus banget ya hari ini?"

Beliau keliatan seperti sedang berpikir atau justru sedang menyusun rencana untuk membantai gue karena nggak bisa bayar.

"Atau nggak saya balik ke sini siang deh gimana dok?"

"Sebentar..." beliau melirik kalender. "Yaudah gini aja deh, besok gak apa-apa deh. Kamu bali ke sini besok lagi aja... Saya tunggu besok, gimana?"

"Oke dok! Makasi ya dok!" gue berhamburan air mata.

"Oke. Itu aja untuk hari ini...."

Deg.

Gue langsung cengok. Bukan karena ngeliat hantu. Bukan... Tapi gue baru sadar kalau ini adalah kunjungan terakhir gue untuk perawatan dan penggantian gigi ini... Kalau hari ini adalah hari yang gue tunggu-tunggu dimana gue akan punya gigi palsu... Di mana hari ini adalah hari puncak dari segala penantian panjang selama hampir tiga bulan belakangan ini. Hari ini akhirnya datang... dan hari ini gue harus mengucapkan selama tinggal PKM dan ruang Poli Giginya... Juga selamat tinggal pak Dokter Chandra yang baik hati itu...
Gue menatap lantai dengan gusar. Akankah ini semua berakhir seperti ini?

*muntah*

Yah... semua kisah kan pasti ada akhir. Dan mungkin inilah akhir dari perjalanan panjang gue dengan Dokter Chandra dan segala peralatan-peralatan dokter gigi yang dulu gue anti banget.

Tiga bulan adalah perjalanan kasih sayang yang cukup berarti loh sama ruang poli gigi ini. Gue jadi akrab sama bor gigi, gue jadi akrab sama bau-bau ruang dokter, gue jadi akrab sama kursi pasien yang selalu gue tiduri tanpa komplain, dan gue jadi akrab sama rasa takut gue akan dokter gigi.

Wah...

Gue sih nggak berharap akan kembali ke sana dengan kondisi yang sama tapi justru berharap suatu saat kalau gue kembali nanti ya buat silaturahmi aja. Buat kangen-kangenan sama kursi dan bor itu. Tapi nggak lagi-lagi gue mau diperkosa sama mereka. CUKUP SUDAH TIGA BULAN SAJA!

PART 7 adalah ending dari kisah ini. Macem Harry Potter aja ya! Hehehe... Terima kasih buat semua perjalanan panjang dan buat semua yang membaca kisah ini dari PART 1. Semoga aja pengalaman gue ini bisa jadi pelajaran bahwa sikat gigi secara teratur itu penting sekali hukumnya.

Semoga yang lagi sakit gigi bisa cepet sembuh dan kalau ada anak UI yang sakit gigi, silahkan datengin Dokter Gigi Chandra di PKM UI Depok.

Have a bless Wednesday!

Salam dari--errr I should think about my new teeth name--Gigi Baru Gue!


***
Buat yang sakit gigi dan pengen ke Dokter Gigi Chandra di Pusat Kesehatan Mahasiswa Universitas Indonesia Depok (PKM UI DEPOK), ini gue kasi Jadwal Praktek Dokter Chandra:

SENIN/SELASA Jam 10.00 pagi sampai jam 16.00 sore.
RABU Jam 8.00 pagi sampai jam 14.00 siang.
KAMIS Jam 10.00 pagi sampai jam 16.00 sore.
JUMAT Jam 8.00 pagi sampai jam 14.00 siang.

Semoga lekas sembuh!

@ronzzykevin

Episode lalu :

| drg. Chandra PART 1 | drg. Chandra PART 2 | drg. Chandra PART 3 | drg. Chandra PART 4 |
| drg. Chandra PART 5 | drg. Chandra PART 6 |

one click! Tumblr | Facebook Fanpage | Kompasiana

Share:

5 komentar