Berubah

Semua orang berubah. Jelas.

Dua semester ini sudah banyak menjelaskan banyak perubahan yang terjadi dengan orang-orang di sekitar gue. Banyak yang berubah menjadi lebih baik, ada juga yang berubah menjadi lebih---how to say? Jahat? Terlalu berlebihan kayaknya. Tapi ya, banyak dari mereka berubah secara tidak disengaja maupun secara di sengaja.



Gue bukannya tidak menyukai perubahan, tapi kadang-kadang perubahan bikin nggak nyaman di hati aja. Terlebih lagi kalau misalnya perubahan tersebut ke arah yang negatif. Tambah bikin nggak enak. Walaupun gue bukan orang yang bersih tanpa dosa dan jelas banyak kesalahan tapi melihat semua perubahan yang terjadi ini jadi agak kesel juga. 

Dulu di SMA punya temen baik empat orang. Yang satu awalnya kuliah di luar Mataram tapi sekarang karena berubah pikiran dan mungkin juga atas pertimbangan lain (entah kesehatan atau keuangan) balik lagi ke Mataram dan kuliah di kampung halaman. Yang satu kuliah di universitas negeri di Mataram tapi sekarang dia juga berubah pikiran dan kabarnya lagi cuti dan bekerja (entah dimana gue juga nggak tahu). Yang satu tetep kerja di sebuah instansi pemerintahan walaupun gue nggak tahu persisnya di instansi pemerintahan bagian mana. Yang satu masih eksis kuliah di jurusan Bahasa Inggris.

Labelnya sih temen baik. Tapi pada kenyataannya itu hanya dalam pikiran gue doang. Kalau misalnya kita emang teman baik, mungkin gue nggak akan menebak-nebak alasan-alasan kecil yang menyebabkan perubahan mereka itu. Mungkin gue bisa tahu jawaban yang pasti. Tapi karena mereka juga mengalami yang namanya perubahan, mungkin mereka juga mengubah definisi teman-baik itu. Hahaha... agak-agak berlebihan, tapi it's true. Hal ini kurang lebih mengajarkan bahwa komunikasi dan jarak itu sangat bisa menjadikan sebuah hubungan renggang dan bahkan putus. Kalau tidak dijaga dan di manage dengan baik. Waktu jaman-jaman awal kuliah di UI masih sering kontek-kontekan, sekarang bahkan Facebook-pun udah nggak membantu. SMS apalagi... Perubahan memang menyebalkan ya?

Belakangan ini gue merasa berubah dari orang yang baik-baik menjadi orang yang tidak terlalu baik-baik. Hehehe... kadang-kadang bahkan merasa sangat binal sekali terhadap diri sendiri. Kadang-kadang bisa sangat jahat sama badan dan kesehatan jiwa. Sama mata, sama telinga, sama hati. Ada perasaan yang sangat jauh berbeda di hati yang sekarang sama di hati pas semester tiga dulu. Ini kayaknya emang karena banyak dosa. Jadi sering bolong sholat, jadi jarang ngaji... Ah... perubahan yang satu ini juga menyebalkan. Kemaren pas lagi ada kumpul di gedung PASIAD sempat membahas soal ketajaman pikiran, kekuatan menghapal dan dosa. Katanya, semakin banyak dosa yang kita buat, semakin tumpul dan lemah otak dalam menghapal. It's happening to me... Dua semester ini bahkan rasanya kayak Alzheimer mendadak. Astagfirullah... Sekali lagi perubahan ini menyebalkan.

Walaupun mungkin rasanya terlalu sok kalau gue bilang gue nggak berubah dan masih sama seperti yang dulu, tapi pada kenyataannya gue memang berubah. Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk tetap menjadi diri kita yang dulu. Ada temen yang berubah kelakuan ke kita otomatis kita juga merubah kelakukan kita ke dia. Bahkan ini sempat kepikiran dua hari dua malam dan bikin gue jadi nggak niat ngapa-ngapain. Sedih aja kalau misalnya temen baik tiba-tiba menjauh karena satu hal yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik... Pada akhirnya kita sama-sama diam dan masalah tidak selesai. Karena terlalu lama diam jarak jadi semakin menjadi. Karena jarak semakin jauh, jadi awkward. Nggak enak :( Gue nggak suka. Perubahan yang ini juga sangat menyebalkan.

Berubah menuju ke arah yang positif itu butuh kemauan dan komitmen. Kalau setengah-setengah, nggak akan bertahan lebih dari tiga hari. Tapi kalau berubah ke negatif nggak butuh komitmen, tinggal tunggu aja setan membisiki maka sedetik kemudian kita akan menjadi negatif. Nah, PR nya sekarang adalah bagaimana caranya membangun kemauan dan komitmen itu serta membunuh semua setan yang menggerayangi hati. PR berat banget terutama buat gue...

Semua orang berubah. Jelas.

Tapi gue nggak suka kalau misalnya hubungan gue sama temen-temen yang sejak awal bareng gue ini berubah jadi awkward.

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika bicara sudah tidak membantu? 


@ronzzykevin

Share:

2 komentar

  1. smua orang pasti bakal berubah.

    ReplyDelete
  2. wuaahh, gue komen panjang nih..
    gue juga punya temen baik, 22 orang (geng ya namanya?). tapi kita semua tergabung di Paskibra SMA 13. dulu, angkatan paskib gue, mungkin bisa dibilang eksklusif. kita ber 23, ditempa yang...yaahh macam anak paskib, dan entah miracle apa yang ngebuat kita bahkan ngerasa kaya sodara. dulu bisa dibilang sekumpulan anak bebek. 1 kemana, 22 lain ikut. 1 bawa makanan, di share sama 22 orang. gaada ceritanya kalo ga ada kita ga rame+diliatin orang-orang. waktu itu rasanya, kaya pengen nge stop waktu dan ngebiarin ini aja terus ga ilang-ilang. yaahh..mungkin karena kita semua terkungkung sama 'kotak nyamannya' kita dengan segala kegilaan dan gaya 'apa sih yang ga bisa kita lakuin'. tapi toh lagi-lagi...kaya kata lo, BERUBAH.
    dulu kita saling nge share mimpi...mimpi gila mungkin...banyak bangettt...dan intinya pokoknya kita harus baren-bareng lagi dan jadi orang sukses!!
    apa yang kita lakuin sekarang, mudah-mudahan sedang melangkah di jalan yang bener yang makin deket ke impian itu...
    tapi toh siapa yang tau? orang-orang yang gampangnya 'a-z nya lo kita tau deh', toh sekarang...ketika pisah...yaa rasanya BERUBAH memang. masing-masng sibuk sama dunia yang baru, temen baru, kegiatan baru, dan mungkin mimpi baru. terus bisa apa? nyalah-nyalahin keadaan ampe bego juga keadaan ga akan berubah kalo bukan kita yang rubah. nyesek memang perubahan itu. jangankan temen SMA, temen kuliah pun, sekarang rasanya udah sibuk sendiri-sendiri. tapi lagi-lagi, keadaabn emang kadang ga selalu sesuai sama yang kita inginkan.
    yang gue pernah baca di buku, kita ini pilot dan hidup yang kita jalanin ini pesawatnya. jadi, mau ke arah mana ini pesawat, yaa tergantung kita. kalo pesawat kita ngehadepin badai, ga mungkin kan nyalah-nyalahin itu badai kenapa dari sekian banyak pesawat, kok nyamperinnya pesawat kita?
    intinya mah...kita memang dituntut untuk damai sama keadaan. benahin pikiran, berpikir positif, dan arahin pesawat ke arah tujuan dengan selamat.
    gue suka kalimat, everything will be okay in the end. if it's not okay, it's not the end! klise parah emang. tapi kalo orang bilang omongan itu doa, apa yang kita pikirin dan kita ucapin, kalo baik-baik terus, mudah-mudahan beneran jadi baik.
    kalo kata Mario Teguh, ada 3 mantra untuk jalanin hidup...
    untuk kejadian dulu, katakan SUDAH BERLALU.
    untuk kejadian di masa datang, katakan BELUM TERJADI.
    dan untuk masa kini, katakan PASTI BERLALU.

    #Fitri

    ReplyDelete