Dalam Mihrab Cinta--Sebuah Review

Halo halo halo... senang sekali rasanya bisa menulis lagi. Walaupun postingan terakhir gue tercatat adalah semalam, tapi gue sudah rindu dengan blog gue yang bau ini. Hahahaha... Gue masih berusaha melewati rintangan pikiran dan rintangan godaan lain agar bisa menyelesaikan tugas Bisnis Industri Media Televisi nih... Bahkan hari ini gue berniat untuk sejenak amnesia dengan semua masalah tugas, ujian, dan kuliah. Akhirnya, tadi pagi gue mengatur sebuah rencana untuk menghabiskan waktu di luar. Gue akan nonton Film Dalam Mihrab Cinta yang baru perdana tayang di bioskop kemaren. Awalnya sih pengen ngajak si Ryan, soalnya dia kayaknya suka sama film-film dari novelnya Kang Abik (sempat baca di info facebooknya dulu, film favoritnya KCB sama AAC). Tapi yah, kesibukan namja* itu membuatnya tidak bisa menentukan jadwal bahkan untuk bersenang-senang. Oke, biarkan dia sendiri dengan segala pikirannya dalam mengejar karirnya sebagai penyair radio. Gue dukung lo, bro! Hahahaha

Yayaya... Abis sholat jumat tadi, rencana untuk kabur dari kurungan kamar gue terbentuk. Gue akan nonton jam setengah tiga untuk film Dalam Mihrab Cinta, kemudian ngaso-ngaso sampe maghrib, dan setelah sholat maghrib gue akan mengerjakan BIMTV di Dunkin Donuts' seperti waktu ngerjain tugas video waktu itu. Tapi eh tapi, ternyata filmnya berenti lebih cepat dari pikiran gue dan rencana terakhir itu batal. Sedih...

Well, sekarang gue akan memberikan pandangan gue tentang film Dalam Mihrab Cinta ini. FYI, film ini diperankan oleh Dude Harlino sebagai Syamsul Hadi, Asmirandah sebagai Silvy, Meyda Sefira sebagai Zizi, Tsania Marwa (oh cantiknya cewek ini) sebagai Nadia (adik Syamsul), dan Boy Hamzah sebagai Burhan. Nah itu pemeran-pemeran utamanya. Kalau pemeran pembantu ada banyak banget dan semuanya adalah artis-artis SinemArt... Oh well, nanti kita bahas itu. Sebut saja ada Elma Theana, Anwar Fuadi, Iszur Muchtar, terus juga... aduh gue lupa nama-namanya, tapi yang jelas kalau udah sering nonton sinetron SinemArt pasti nggak akan asing sama muka-muka itu. Dan beberapa cameo juga diambil dari pemeran-pemeran di film KCB.

Gue nggak pernah baca bukunya, jadi review gue nggak akan nyebut-nyebut perbedaan film dan buku dan nggak akan ngungkit-ngungkit buku :)

Poster Film Dalam Mihrab Cinta
 Film ini bercerita tentang Syamsul Hadi seorang anak juragan batik (kalau gue nggak salah menyimpulkan, karena di awal ada keliatan adegan bule-bule lagi milih-milih baju batik dan di akhir ada adegan bungkus batik) yang berencana buat mondok di salah satu pesantren (gue lupa namanya, jujur aja, soalnya dari awal adegan film ini ada banyaaak banget masjid dan pesantren). Ketika dalam perjalanan ke Kediri dengan kereta, dia bertemu dengan seorang perempuan berjilbab bernama Zizi dan saat itu mereka harus duduk bersebelahan di kereta. Zizi sedang menangis saat itu karena ayahnya meninggal sementara kedatangan Syamsul dan bicara padanya membuatnya takut karena Syamsul berambut gondrong dan kelihatan seperti preman alih-alih santri. Syamsul duduk di sebelah Zizi yang memilih duduk di dekat jendela. Dan ketika tiba di sebuah stasiun dan kereta mulai kosong karena banyak penumpang turun, Syamsul memutuskan untuk pindah duduk di kursi lain demi kenyamanan Zizi. Nah, nggak sengaja, Syamsul mergokin seorang pencopet yang sedang mencoba mengambil tas Zizi, akhirnya Syamsul berantem sama tuh copet dan tangannya luka kena piso. Zizi merasa sangat diselamatkan oleh Syamsul dan dari situlah tumbuh benih-benih cinta.

Nah, si Syamsul akhirnya masuk ke pondok dan bertemu dengan Burhan. Burhan ini ternyata nggak suka sama Syamsul karena waktu di stasiun, Burhan melihat Syamsul mengobrol dengan Zizi. Burhan ternyata menyukai Zizi. Di pondok pesantren, Burhan menjebak Syamsul sehingga Syamsul akhirnya dituduh sebagai pencuri karena dipergoki mengambil dompet Burhan dari dalam lemari Burhan yang padahal Burhan sendiri yang menyuruh Syamsul mengambil dompet tersebut karena Burhan ingin mentraktir Syamsul. Syamsul akhirnya dihakimi massa dan digebugin sana sini. Bonyok sana sini dan dia dipermalukan di depan semua santri. Syamsul dikeluarkan dengan tidak hormat dari pesantren dan rambutnya harus dibotaki. Tidak sampai situ saja, keluarga Syamsul semua menganggapnya sebagai penjahat, maling, tidak tahu aturan. Ayahnya dan dua kakaknya bahkan menghina dia habis-habisan karena telah mempermalukan keluarga. Sementara itu Syamsul hanya mendapat dukungan dari Nadia dan Ibunya. Karena mulai merasa tidak betah di rumah dengan segala tekanan, Syamsul akhirnya kabur meninggalkan rumahnya.

Dalam kaburnya, Syamsul menjalani hidup sebagai sebatang kara. Ketika uangnya sudah habis, akhirnya dalam sebuah kesempatan di metro mini dia mencopet sebuah dompet milik seorang wanita. Sialnya dia ketahuan dan dihakimi massa (lagi) dan akhirnya dibawa ke kantor polisi dan dipenjara. Tapi Syamsul mengaku namanya Burhan, bukan Syamsul. Berita itu akhirnya masuk ke koran dan sampai ke keluarga Syamsul. Ayahnya semakin meradang, sementara ibunya masih tidak percaya bahwa itu Syamsul karena namanya menggunakan nama Burhan. Nadia juga demikian, tidak percaya. Tapi Nadia berinisiatif untuk menemui orang yang mirip Syamsul yang bernama Burhan itu di penjara di Malang.

Di dalam penjara, Syamsul satu sel dengan dua orang penjahat kelas kakap yang sudah profesional. Mereka memberikan ilmu kepada Syamsul bagaimana caranya mencopet yang baik. Saran yang gue ingat adalah: Jangan mencopet lebih dari dua kali dalam sehari karena itu akan melelahkan diri sendiri. Dan yang lucu, ketika penjahat itu bilang apakah Syamsul mau mencopet dan jadi penjahat, Syamsul berkata "Insya Allah" Hahahaha... Nadia akhirnya datang ke penjara dan menemui Syamsul. Nadia sempat tidak percaya bahwa itu adalah kakaknya, tetapi ternyata memang benar kakaknya. Syamsul meminta Nadia untuk menebusnya keluar dari penjara dan akhirnya Syamsul bebas. Dalam perjalanan pulang bersama Nadia, Syamsul buru-buru naik sebuah metro mini dan kabur. Hingga akhirnya dia tiba di Jakarta.

Di Jakarta, Syamsul hidup dari masjid ke masjid. Berusaha untuk memperbaiki dirinya dan mengubur semua kenangan masa lalunya termasuk pernah di penjara. Tetapi itu tidak bertahan lama ketika akhirnya dia menyerah pada keadaan dan uangnya mulai habis. Dia mulai mencopet dan kali ini berhasil dengan sukses! Dia menjadi copet profesional. Setiap dompet yang didapatkannya selalu dicatat identitasnya dan hanya diambil uangnya saja, sisanya (KTP, ATM, dll) dia simpan. Sampai pada suatu hari dia mencopet sebuah dompet milik Silvy. Dalam dompet Silvy ada banyak uang tunai, tetapi yang menarik perhatian Syamsul adalah foto yang ada di dompet itu. Foto Silvy dengan Burhan. Di belakang foto itu tertulis, "Untuk Sayangku Silvy, dari Cintamu Burhan." Kalo nggak salah begitu, tapi kalo salah, ya kurang lebih makna nya begitu. Hahaha... Nah dari foto itu, Syamsul penasaran sama si Silvy, akhirnya dia mencatat alamat Silvy. Dengan modal pinjem motor dari pengurus masjid setempat, dia pergi ke rumah Silvy di daerah Parung Timur. Syamsul sempat tidak bisa masuk ke komplek perumahan Silvy karena terhalang oleh satpam, tetapi dia ingat satu nasehat penjahat dalam penjara, "Jangan pernah memberitahukan siapapun apa rencana kita yang sebenarnya," Akhirnya Syamsul berbohong pada satpam. Dia bilang kalau dia mau ke rumah nomor 17, padahal rumah Silvy sebenarnya nomor 19. Tetapi, kebetulan satpam itu kenal dengan penghuni rumah nomor 17. Satpam mengira kalau Syamsul adalah guru ngaji yang sedang dicari oleh pemilik rumah nomor 17 yang memang sedang mencari guru ngaji dan saat itu Syamsul juga menggunakan kopiah putih dan dikira ustad. Akhirnya Syamsul bisa masuk ke komplek perumahan itu. Dia menuju rumah nomor 19 pada awalnya, tetapi kemudian dia berubah pikiran dan datang ke rumah nomor 17. Pemilik rumah menerimanya dengan sangat baik karena mereka mencari guru ngaji yang seperti Syamsul. Dan Dela, anak yang akan diajar mengaji juga menyukai Syamsul. Nah... disanalah Syamsul bertemu pertama kali dengan Silvy. Ternyata Silvy adalah guru privat matematika Dela.

Sejak mengajar mengaji di rumah Dela, kehidupan Syamsul mulai tertata. Dia mulai tidak mencopet lagi dan mulai bertobat. Bahkan dia menjadi ustad yang sangat disegani di lingkungan tempat tinggal Dela dan Silvy. Beberapa kali dia menjadi Imam secara tidak sengaja di masjid setempat, memberikan ceramah di masjid setempat, dan banyak yang menyukai ceramah dan juga bahasan-bahasan agama Syamsul. Suatu hari seorang produser acara ceramah di TV merekrutnya menjadi ustad di acara ceramah dan mengontrak Syamsul. Hidup Syamsul yang awalnya pencopet, kini menjadi ustad yang disukai. Syamsul bahkan mendapatkan uang dari syuting-syutingnya di TV. Dan dia berpikiran bahwa dia harus mengembalikan dompet dan uang yang telah di copetnya selama ini. Lucunya, dia mengganti uang yang dulu dicopet dari dompet orang-orang dan mengirimnya melalui pos kembali ke orangnya. Dan begitu pula dompet Silvy, kembali ke tangan Silvy dengan sebuah surat. Yang lucu dari surat itu adalah baris ini: "Ini saya kembalikan dompet beserta semua isinya, uang dan segalanya saya kembalikan dengan tidak ada kurang sedikitpun, bahkan SAYA LEBIHKAN LIMA PULUH RIBU." Semua pada ngakak di studio 2 itu.

Yah... alur mulai kayak sinetron, Syamsul ketemu lagi sama keluarganya, keluarganya baik lagi sama Syamsul, sampai akhirnya tiba waktunya Syamsul harus jujur ke Silvy bahwa dia adalah mantan copet dan pernah dipenjara. Ketika itu Syamsul dan Silvy mulai jatuh cinta. Awalnya Silvy nggak terima, tapi akhirnya toh mereka akan menikah juga. Tapi sebelumnya, di awal banget ketika Syamsul ketemu sama keluarga Silvy, Syamsul sempat menceritakan tujuan sebenarnya dia menemui Silvy pada ayah Silvy yaitu untuk memberitahukan bahwa Burhan yang ternyata tunangan SIlvy, adalah seorang playboy. Syamsul menceritakan kasus Burhan ke ayah Silvy dan entah bagaimana, ternyata Burhan ketahuan memfitnah, dan akhirnya dia dipenjara. Nah... ketika masalah Burhan dan Silvy sudah selesai dan hari pernikahan sudah dekat Silvy dan Syamsul sudah dekat, Silvy malah kecelakaan dan meninggal dunia.

Di satu sisi, ketika Syamsul hilang dan tidak memberi kabar, Ibu Syamsul dan Nadia justru dekat dengan Zizi. Akhirnya, yeah, seperti yang sudah bisa gue tebak, karena dari awal Zizi juga suka sama Syamsul, akhirnya mereka berdua menikah... Fin :O

Oke, sekarang kita ke bagian pendapat bau gue. Hahaha...

Secara keseluruhan, nggak ada sesuatu yang membuat sinetron ini WOW banget. Nggak ada promosi berlebihan kayak KCB dan AAC. Film ini bisa dibilang kayak sekedar proyek SinemArt untuk mengembalikan kerinduan penonton akan film religi karya Kang Abik. Kenapa gue bilang gitu? Ya karena nggak ada yang spesial di film ini. Nggak kayak AAC yang fenomenal banget. Ceritanya juga menurut gue biasa aja terlepas dari bukunya yang best seller. Ceritanya sinetron banget, entah apa karena gue memang terlalu sering melihat Asmirandah dan Dude Harlino dan semacemnya, tetapi memang ya... sinetron banget.

Alurnya nggak ngebosenin, karena cepet dan mengalir, mungkin juaranya disini nggak kayak KCB 2 yang kayaknya lebih sinetron daripada DMC ini. Gue suka jadi nggak terlalu bikin nunggu-nunggu moment pentingnya ada dimana. Ceritanya ringan dan menghibur dan jelas kalau Kang Abik mah, masalah agama pastinya jadi urutan paling atas. Tapi ceritanya sebenarnya universal banget kok, nggak begitu kayak KCB yang banyak sekali nuansa Islamnya. Bahkan kalau gue bilang, Syamsul Hadi adalah tokoh karangan Kang Abik yang paling realistis. Kenapa? Karena :

1. Dia memperlihatkan bahwa dia adalah manusia biasa yang bisa benci sama manusia lain. Kelihatan dari penggunaan kata "Bajingan" waktu dia di fitnah sama Burhan.

2. Dia punya dendam pribadi sama Burhan terlihat dari dia menggunakan nama Burhan ketika dia ditangkap polisi, dia berusaha menggagalkan pernikahan Burhan dengan Silvy. Yang kedua mungkin wajar karena dia tahu Burhan orang jahat, tapi kalau dia nggak ada dendam sama Burhan, nggak penting juga kali ya ngasih tahu Silvy kalo Burhan orang jahat, toh pada awalnya Syamsul dan Silvy juga nggak saling kenal.

3. Dia selalu melakukan kontak mata dengan Silvy. Manusiawi banget kan? Kalau Azzam kan selalu menghindari kontak mata dengan Anna sebelum akhirnya menikah, bahkan dengan Eliana sekalipun Azzam selalu istigfar.

4. Syamsul yakin dengan pilihannya ke Silvy tanpa bingung-bingung mikirin perasaan Zizi. Nggak kayak Fahri yang heboh mikirin perasaan Maria dan Aisha. Syamsul lebih to the point.

5. Syamsul adalah copet karena butuh uang. Ini deh yang kayaknya manusiawi banget dari tokoh seorang ustad. Gue suka banget sama yang ini. Bukan karena mencopetnya, tapi hal ini lebih menunjukkan bahwa sebenarnya ustad juga manusia. Bukan orang suci.

Kalau dibandingin sama AAC, KCB 1 dan KCB 2, gue akan menempatkan DMC di urutan ketiga setelah KCB 1 dan AAC sementara KCB 2 di urutan terakhir. Kenapa? Pertama, dari segi cerita DMC kalah jauh sama AAC yang lebih tajam karena menyangkut antara hubungan percintaan Kristen dan Islam, terus pemain-pemain AAC juga lebih menggebrak karena sebelumnya Fedi Nuril memang nggak terlalu gimana-gimana kecuali di Garasi, begitu pula dengan Rianti dan Carissa Puteri, pengemasan juga gue lebih suka AAC walaupun mungkin adegan Mesir nya palsu. Nah kalau dibandingkan dengan KCB 1, DMC kalah di promosi dan pemain. KCB 1 pemain-pemainnya baru, walaupun aktingnya mungkin belum sebagus Dude dan Asmirandah di DMC, tapi kehebohan pemain baru inilah yang membuat KCB justru laku. Memang sih DMC juga di casting terbuka, tapi tetep aja menurut gue, karena ini produksi SinemArt, jadi artis-artisnya juga harus dari SinemArt. Dan gue nggak ngeliat ada pemain baru yang masuk lewat jalur casting terbuka di DMC. Jujur... apa gue nggak begitu perhatiin? Tapi memang nggak ada sih. Siapa coba? Dude? Andah? Meyda? Marwah? Semuanya artis SinemArt dan semua rata-rata sudah terkenal. Jadi jelas ini sudah diatur sama om Leo Sutanto selaku produser. Terus... KCB 1 lebih kaya shot deh kayaknya karena di Mesir dan kayaknya WOW aja gitu ada film yang syuting di luar negeri. Mungkin KCB 1 menang disitu. Kalau dari akting pemain sih gue kira DMC lebih baguslah karena lebih senior.

Selanjutnya dari segi Twist cerita yang KANG ABIK BANGET kalau menurut gue. Coba deh perhatikan AAC, KCB dan DMC. Satu cowok, disukai sama dua atau lebih cewek. Ketika ada satu cewek yang benar-benar mencintai cowok itu tapi si cowok menjatuhkan pilihannya pada yang lain setelah melalui proses istikharah atau karena memang cewek yang suka ke cowok itu sudah ada pasangan, pasti pada akhirnya si cewek tetap akan mendapatkan cowok itu. Konsep jodoh di tangan Tuhan inilah yang selalu di berikan Kang Abik di setiap filmnya. Kita lihat Ayat-Ayat Cinta, Aisha sangat mencintai Fahri tetapi Fahri tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada Maria sampai akhirnya dia menikahi Maria juga. Pada akhirnya Maria meninggal dan Fahri hanya untuk Aisha. Aisha memang jodoh untuk Fahri dari Tuhan. Sekarang ke KCB, Azzam sangat menyukai Anna dan begitu pula Anna, tetapi Anna sudah lebih dahulu di lamar oleh Furqon dan Azzam merasa tidak pantas untuk Anna karena Anna lebih tinggi gelarnya daripada Azzam. Pada akhirnya, Furqon dan Anna menikah lalu bercerai. Kemudian Azzam berusaha untuk mencari jodohnya, tetapi gagal. Sampai akhirnya ayah Anna menjodohkan Azzam dengan Anna. Anna memang jodoh untuk Azzam. DMC juga mengulang cerita yang sama, ketika Zizi mencintai Syamsul dan Syamsul memilih Silvy, kemudian Silvy meninggal dan akhirnya Zizi menikah dengan Syamsul. Zizi memang jodoh untuk Syamsul. Kan? Semuanya satu tipe dan tipe itu adalah JODOH DI TANGAN TUHAN.

Kalau dari shot dan adegan sih, nggak ada yang istimewa di DMC, semuanya sinetron dan seperti film kebanyakan. Shot yang paling bagus menurut gue adalah adegan kecelakaan Silvy. Modal besar SinemArt merusak mobil bagus gitu. Hahaha... Jadi Silvy itu kecelakaan, dan mobilnya terbang nabrak kios gubuk pinggir jalan dan terbalik. Cuma yang gue heran, kenapa mobilnya bisa terbang begitu? Nggak ada shot yang ngasih liat mobil itu nabrak batu atau apa sampai akhirnya melayang. Padahal Silvy cuma menghindar dari tukang ojek yang lewat naik Mio doang, banting setir, nah kok bisa terbang? Hahaha... Lucunya disitu kali ya... ada miss aja kayaknya. Tapi adegan ini tetep juara buat gue.

Well, overall memang sangat sinetron sekali, tapi setidaknya Dalam Mihrab Cinta adalah film yang dari segi moral, cerita, pesan, sangat sarat dengan makna dibandingkan lo harus nonton Cin, Tetangga Gue Ternyata Kuntilanak, atau film-film horor esek-esek sejenis.

Good Job buat SinemArt, mungkin untuk film Kang Abik selanjutnya bisa lebih keren lagi. Bumi Cinta harus bener-bener syuting di RUSIA!

Buat yang belom nonton, nontonlah Dalam Mihrab Cinta. Lumayan buat akhir tahun... Soundtrack nya bagus loh, sayang yang nyanyi Afgan, gue nggak suka, tapi lirik sama melodinya bagus.


Oke, waktunya ngerjain tugas lagi,
Salam SCTV! (Gaya Jeremi Teti)


Catatan kaki:
Namja = cowok (Korea)

Share:

4 komentar