Superbad, Superdad, Superhuman, Superfriends

Good night everyone, the time is 1.46 AM. Haha... Gue baru bangun jam sepuluh malem tadi dan sadar kalau belom makan malem, pantesan dalam mimpi gue makan pizza banyak banget dan makan burger rasa stroberi. Well, yeah, hanya mimpi... Setelah keluar makan dan menuju warteg favorit gue, ya elah, ternyata tutup, sampai akhirnya perjalanan gue berakhir di Chinese Food yang sama dan memesan nasi goreng korned yang ternyata sangat asin dan tidak ada korned nya sama sekali melainkan kebanyakan bumbu mi goreng sedap plus kriuk-kriuknya. PALSU!

Dan akhirnya gue kembali ke kamar tercinta di D5 ini dengan menggenggam tiga buah gorengan. Aish! Sebenarnya gue sudah mau mengurangi kebiasaan makan gorengan ini karena menyadari minyaknya sangat membuat jerawat di jidat gue semakin menjadi-jadi. Tapi oh tapi... Entah kenapa gue nggak bisa mengalihkan pikiran gue dari abang-abang gorengan itu... Entah kenapa setiap kali gue selesai makan dan kembali menuju kosan, abang-abang gorengan selalu menebarkan pesona piscoknya dan membuat gue harus membeli piscok itu... Oh abang gorengan... betapa kejamnya dirimu... untung piscoknya enak dan akhirnya semua itu berakhir di usus besar gue.

Hari ini cukup mengesankan, ujian DDL eh? Yaah... sangat mengesankan. Gue sudah belajar banyak di DDL selama satu semester ini. Belajar untuk tidak memerhatikan dosen, belajar untuk makan di kelas, belajar untuk tertidur di tengah pelajaran, belajar untuk menjadi sesat. Dan hari ini, semua berakhir di tiga halaman lembar jawaban yang gue tulis dengan font super gede dan spasi berlebihan. Yah, semoga bapak Apipudin puas dengan jawaban sesat gue.

Dan, hey, beberapa waktu yang lalu gue mengcopy film dari flashdisk abang Ryan Hasri, judulnya Despicable Me. Awalnya nggak ngeh itu film apa, tapi ternyata gue pernah dapet poster filmnya di sebuah majalah yang gue beli. Dan malam ini, karena nggak jadi nonton film porno (LOL, agennya batal dateng, padahal gue sudah menyandera jaketnya) gue akhirnya nonton Despicable Me dan TIDAK KECEWA! Filmnya bagus dan ngena' banget. Walaupun hanya film animasi semacem Toy Story, tapi ada kesan yang ditinggalkan setelah menonton film ini.

Poster Film Despicable Me
Filmnya bercerita tentang seorang Dr. Gru yang bercita-cita untuk menjadi The Great Villain ever. Dia adalah seorang ilmuwan yang genius. Dia menciptakan banyak robot-robot kecil bermata satu dan dua yang digunakannya untuk mewujudkan keinginan terbesarnya: MENCURI BULAN. Ya... Dr. Gru berniat untuk mencuri bulan karena beberapa waktu belakangan ini muncul seorang penjahat yang tidak diketahui namanya, telah mencuri Piramid di Mesir. Dr. Gru berencana mencuri bulan, tetapi dia butuh uang untuk membuat sebuah roket. Akhirnya dia mendatangi sebuah Bank yang memang khusus untuk para penjahat untuk meminjam uang sebelum melakukan kejahatan. Dia melakukan presentasi mengenai rencananya mencuri bulan dengan menggunakan sebuah alat semacam senter pengecil milik Doraemon. Sayang sekali presentasi mengagumkan Dr. Gru ditolak oleh Perkins si direktur Bank karena Gru belum memiliki alat pengecil itu. Akhirnya Dr. Gru menyusun rencana untuk mencuri alat pengecil itu dari sebuah laboratorium rahasia milik seseorang yang tidak disebutkan namanya. Ketika dia sudah mendapatkan alat pengecil itu, sayang sekali alat itu justru dicuri oleh seseorang bernama Vector yang ternyata adalah orang yang mencuri piramid itu.

Vector juga ingin mencuri bulan, seperti halnya Gru karena dia juga ingin menjadi The Great Villain. Akhirnya mereka berdua menjadi saingan. Gru berusaha untuk mengambil alat pengecil itu dari rumah Vector, hanya saja rumah Vector dilindungi oleh peralatan-peralatan canggih yang dikontrolnya dengan sebuah remote control. Bahkan ruang televisi Vector berlantai kaca dan di bawahnya ada sebuah akuarium berisi ikan Hiu.

Suatu hari, Dr. Gru memergoki tiga orang anak perempuan yang tinggal di rumah yatim piatu berjualan kue ke rumah Vector dan ternyata Vector sangat menyukai kue-kue itu. Gru yang sangat kesulitan untuk masuk ke kediaman Vector tercengang melihat anak-anak itu dengan mudahnya masuk ke rumah Vector dan menjual kue. Akhirnya Gru mendapat ide. Dia memutuskan untuk mengadopsi anak-anak itu dengan rencana bahwa mereka akan dimanfaatkan untuk menjual kue ke rumah Vector. Kue itu sendiri adalah kue robot yang dibuat sendiri oleh Gru dan seorang professor sahabatnya. Kue robot itulah yang membantu Gru mendapatkan alat pengecilnya.

Kehadiran anak-anak perempuan itu di rumah Gru membuat suasana berbeda. Gru yang pada masa kecilnya selalu diremehkan oleh ibunya, tidak pernah dihargai karyanya, membuat dia agak kasar dan sedikit jahat ke anak-anak itu. Tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya dia adalah laki-laki yang sensitif, yang selalu sedih jika mengenang masa kecilnya. Gru tidak pernah suka anak-anak itu mengganggu hidupnya, bahkan dia mengadopsi merekapun hanya karena ingin memanfaatkan mereka. Tapi pada hari dimana Gru berhasil mendapatkan alat pengecil itu, anak-anak perempuan yang pada awalnya tidak menyukai Gru karena tidak pernah bertindak sebagai ayah yang baik, mengajak Gru untuk mengunjungi sebuah taman bermain. Di sana, Gru memiliki rencana untuk meninggalkan mereka dan melepas tanggung jawabnya sebagai ayah angkat, tetapi dia gagal. Dan ada satu adegan di mana Gru berjuang mendapatkan sebuah boneka Unicorn untuk anak paling bungsu, dan itu membuat anak-anak itu menyukai Gru dan simpati pada ayah angkatnya.

Ketika Gru sudah mendapatkan alat pengecil itu, dia kembali melakukan presentasi pada Perkins di pemilik Bank Kejahatan untuk mendapatkan pinjaman uang agar bisa membuat roket. Perkins terkejut sekali ketika tahu Gru memiliki alat pengecil itu. Tapi dia tidak mengabulkan permintaan Gru. Perkins yang ternyata adalah ayah Vector, menyuruh Vector mencuri alat pengecil itu dan melanjutkan misi Gru untuk mencuri bulan dan menjadi The Great Villain ever.

Gru tahu dia sudah tidak punya uang lagi, sudah tidak ada lagi biaya untuk membuat roket. Tiba-tiba anak paling bungsu (sumpah gue baru nonton tapi gue lupa namanya) ngasi celengan babi ke Gru dan disana ada uang beberapa dolar berbentuk koin. Akhirnya dengan semangat dari anak-anak itu, robot-robot bermata satu dan dua ciptaan Gru juga menyumbangkan uang-uang mereka, Gru bahkan menjual apapun yang ada di rumahnya agar dia bisa mewujudkan impiannya membuat roket dan mencuri bulan. Sejak saat itu, Gru menjadi lebih perhatian pada anak-anak angkatnya. Dia bahkan membacakan dongeng sebelum tidur untuk mereka yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Gru memasak sarapan dan melakukan apa yang seharusnya seorang ayah lakukan pada anaknya. Itu membuat anak-anaknya merasa sangat bahagia saat itu.

Sampai pada suatu hari, rencana mencuri bulan akan dilaksanakan ternyata bertepatan dengan hari dimana anak-anak angkat Gru mengadakan Recital untuk Balet mereka. Gru merasa bimbang, di satu sisi dia tidak ingin menggagalkan rencana mencuri bulan yang sudah lama disusunnya, tapi di sisi lain dia tidak ingin mengecewakan anak-anaknya. Tapi professor yang menjadi sahabat Gru itu meyakinkannya bahwa perhatiannya tidak boleh teralih dan dia harus fokus. Bahkan professor itu datang ke panti asuhan tempat anak-anak itu dulu ditampung dan meminta pihak panti untuk mengambil mereka kembali. Gru merasa sedih, sebenarnya, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Dan akhirnya rencana mencuri bulan itu dijalankan, bersamaan dengan Recital Balet anak-anak.

Gru berhasil menuju Bulan, menembakkan alat pengecil dan mengecilkan ukuran bulan lalu membawanya kembali ke bumi. Ketika dia kembali ke bumi, dia ingin sekali mengejar waktu Recital Balet anak-anaknya, dan pada saat yang sama, Professor sahabat Gru menemukan sesuatu yang aneh dan berbahaya untuk Gru dan juga Bulan yang sudah mengecil itu. Ternyata, alat pengecil itu tidak mengecilkan benda secara permanen. Hal itu terbukti dari robot ciptaan Gru yang menjadi kelinci percobaan kembali ke ukuran yang semula. Dan ternyata, semakin besar ukuran benda yang dikecilkan oleh alat itu, semakin cepat pula proses pembesarannya. Gru berada dalam masalah, dia harus segera mengembalikan bulan ke tempatnya semula agar tidak terjadi masalah di bumi.

Ketika Gru tiba di tempat Recital dan kabar bahwa alat itu tidak permanen belum sampai padanya, anak-anak sudah selesai denan Recital mereka dan diculik oleh Vector. Gru langsung berangkat ke tempat Vector dan menyelamatkan anak-anaknya. Pada saat itulah Bulan yang mengecil mulai membesar dan membesar. Vector pada awalnya tidak menyadari itu sementara Gru berusaha mengejar Vector yang kabur dengan pesawat. Gru menggelantung di pesawat Vector, tapi tidak lama dia terjatuh persis di dalam pesawat yang professor sahabatnya itu kendarai. Ya, gue inget nama professor itu Dr. Nefario. Dan nama anak-anak itu Margo, Edith dan Agnes yang paling bungsu. Lanjut ke cerita (labil), jadi di pesawat itu Dr. Nefario memberitahu bahwa alat pengecil itu tidak permanen. Itu artinya Margo, Edith dan Agnes berada dalam bahaya karena mereka bersama Vector dan Bulan ada di pesawat Vector. Gru mencoba menyelamatkan Margo, Edith dan Agnes dengan membuka paksa pintu pesawat Vector dan ketiga anak itu berhasil di selamatkan sementara Vector terbawa ke luar angkasa bersama Bulan. Dan semua berakhir, Bulan kembali ke tempatnya semula.

Akhirnya, Gru menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya, dan ini adalah bagian yang paling gue suka. Gru mau membacakan dongeng sebelum tidur dan memberikan kecupan selamat malam. What a real Dad!

Menurut gue, film ini bagus, karena ada nilai kebaikan yang benar-benar nyata dari seorang penjahat. Dia menemukan makna dari keceriaan dan kebahagiaan dan bahwa mendapatkan sebuah BULAN pun, tidak akan bisa menyamai kebahagiaan ketika dia bersama dengan ANAK-ANAKNYA. Wow... agak dalem ya kayaknya... Terlebih lagi buat gue. Hahahaha...

Kemudian, gue berpikir satu hal, bahwa tidak penting sehebat apa kita, tidak penting seberani apa kita, tidak penting sesuper apa kita, semua itu tidak akan ada gunanya, tidak akan ada artinya, ketika kita tidak bahagia, ketika kita tidak bisa tersenyum, ketika kita tidak punya teman...

Dan lalu gue sadar, bahwa arti seorang teman itu sangat penting. Mungkin memang kita tidak bisa berbuat banyak untuknya, sesuatu hal yang nyata untuk dia rasakan misalnya, tetapi dengan dukungan kita, dengan semangat yang kita berikan, setidaknya itu sudah cukup membuat mereka merasa bahwa mereka memiliki seseorang yang memerhatikan mereka, right?

Gue, termasuk orang yang tidak bisa apa-apa. Gue nggak hebat dalam pelajaran, dan gue termasuk orang yang malas untuk begini malas untuk begitu. Tapi ketika teman gue mendapatkan sebuah kesempatan untuk menjadi seorang penyiar radio di radio kampus, gue sebisa mungkin akan memberikan dia semangat, memberikan dukungan semampu  gue, karena buat gue, kalau teman gue bisa meraih mimpinya lebih jauh dari gue, maka gue akan sangat bahagia apalagi kalau dia menerima dukungan gue dengan baik.

Dan satu hal yang gue ambil dari film Despicable Me ini (walaupun curhatan diatas kayaknya nggak nyambung, tapi yaudahlahyaaa) bahwa sejahat apapun seorang ayah buat kita, dia tetap punya hati dan sayang pada kita. Well, mungkin sekarang bokap gue sedang mati, kehilangan akal pikirannya, tapi gue yakin jauh di lubuk hati dia, dia masih sayang sama gue. Sebenarnya gue kangen sama dia dan selalu pengen nangis kalau mengingat bahwa gue nggak pernah punya kenangan manis sama dia, tapi there is nothing I can do about it, right? Semuanya akan berjalan baik dan semuanya akan berakhir suatu saat nanti... Dan suatu saat nanti, gue akan tersenyum bersama dia seperti Margo, Edith dan Agnes tersenyum bersama Gru.

-Gru (belakang), Edith, Agnes, Margo-

Share:

6 komentar